Photobucket
‏إظهار الرسائل ذات التسميات Tafsir Tematik. إظهار كافة الرسائل
‏إظهار الرسائل ذات التسميات Tafsir Tematik. إظهار كافة الرسائل

MUTIARA HIKMAH LUQMANUL HAKIM

الأربعاء، ١٥ أبريل ٢٠٠٩

MUTIARA HIKMAH LUQMANUL HAKIM
Oleh : Miftahul Huda

1. Paparan kata-kata mutiara hikmah


Penulis berusaha mengumpulkan kata-kata mutiara Hikmah Luqmanul hakim yang memiliki nilai pendidikan luhur bagi anak ini dari berbagai kitab tafsir klasik maupun moderen sebagaimana berikut:

1. Al-Thobari, Jami’ul Bayan ‘an Ta’wil ayillquran, Juz 8,Darul Fikr, halaman 44
2. Al-Mawardi, An-Nukat Wal ‘uyun, Juz 4, Darul Kutub Ilmiyah, Libanon, halaman 331
3. At-Thusi, At-Thibyan fitafsirilqu’ran, jilid 3, Daru ihyaituros ‘arobi, halaman 44
4. Az-Zamakhsyari, Al-Kasyaf an Haqoiquttanzil wa uyunil aqawil fi wujuhittawil, juz 3, Darul Fikr, Libanon, halaman 231
5. Al-Baghowi, Maalimuttanzil fi Tafsir,watta’wil, juz, 7 Darul Fikr, Libanon, halaman 409
6. Al-Jauzi, Zadul Masir fi ilmittafsir, juz 6, halaman 161
7. An-Nasafi, Madarikuttanzil Wahaqoiquttawil, juz 3, Darul Fikr, Libanon, halaman 280
8. Ar-Rozi, Mafatihul Ghoib, Juz 7, halaman 71
9. Al-Khozin, Lubabuttawil fi Ma’anittanzil, juz 3, Darul Fikr, Libanon, halaman 440
10. Abi Hayyan, Bahrul Muhid fittafsir, juz 8,halaman 412
11. Al-Baidlowi, Anwaruttanzil Waasrorittawil, juz 2, halaman 228
12. Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir, Juz 3, halaman 444
13. Abi Suud, Irsyadul aqlissalim ila Mazayalkitab Al-Karim, juz4, halaman 376
14. As-Satuthi, A-Durulmantsur fitafsirilmatsur, juz 7, Darul Fikr, Libanon, halaman 512
15. Ismail Hakqi Brusi, Ruhul Bayan, Jilid, 7, Darul Fikir, Libanon, halaman74
16. Al-Alusi, Ruhul Ma’ani fitafsirilquranil adzim wa Sabul Matsani, juz 17, Darul Fikr, Libanon, hal. 83
17. Alqosimi, Mahasinutta’wil, Juz 13, halaman 4795
18. Muhammad Abduh. Tafsir Al-Manar, juz 3 Maktabah Qohiroh, halaman 75
19. Al-Farid, Tafsir Al-farid, juz 3, halaman 473
20. As-Showi, Tafsir Asshowi, juz 3, Darul Ihyailkutub, Libanon, halaman 211
21. Sayyid Quthub, Attafsir Fi Dzilalilquran, juz 18, Daruihyaitturos, halaman 2450
22. Al-Maroghi, Tafsir Al-Maroghi, juz 19, halaman 80
23. As-Shobuni, Shofwatuttafasir, Jilid 2, Darul Fikr, Libanon, halaman 490
24. Al-Fairuzzabadi, Tanwirulmiqbas Min Tafsiri Ibni Abbas, Darul Fikr, Libanon, halaman 255
25. Said Hawa, Al-Asas fittafsir, jilid 8, Darussalam, halaman4331
26. As-Syaukani, Fathulqodir, juz 7, Darul Fikr, Libanon, halaman 237
27. Ibnul Arobi, Ahkamulquran, jilid 3, halaman 1483
28. Thonthowi Jauhari, Al-Jawahir fitafsiril quranil Karim, juz 15, Darul Fikr, Libanon, halaman 124
29. Al-Qoisi, Muskilat Irobilquran, juz 2, halaman 226
30. Alqurthubi, Aljami Al-Ahkam, Juz 13, halaman 61

Dalam pemaparan data kata-kata mutiara hikmah Luqmanul Hakim ini jika ada perowinya penulis menunjukkan di catatan kaki, lalu menerjemahkan kata-kata mutiara tersebut, menganalisa dan akhirnya menyimpulkan materi pesan pendidikannya kedalam tiga katagori; yaitu pendidikan aqidah [iman], syari’ah [islam] atau akhlak [ihsan].

1. Nabi bersabda: sesungguhnya Luqman pernah berkata kepada anaknya, wahai anakku, setialah pada ulama’ dan dengarlah fatwa para ahli hikmah, sebab Alloh menghidupkan hati dengan hikmah, seperti menghidupkan tanah yang tandus dengan siraman air hujan
2. Luqman meletakkan biji sawi pada sebuah kantong yang ditaruh dilambungnya, lalu dengannya ia menasehati anaknya kemudian luqman berkata, wahai anakku: aku sungguh telah menasehatimu dengan sebuah nasehat yang seandainya saya berikan kepada gunung niscaya akan hancur, lalu mendengar ucapan tersebut anaknya langsung tidak sadarkan diri.
3. Nabi bersabda: sesungguhnya Luqman pernah berkata kepada anaknya seraya menasehatinya,wahai anakku, jauhilah sikap berharap yang berlebihan [tanpa diimbangi bekerja], karena sifat itu membawa kesengsaraan diwaktu malam dan siang.
4. Luqman berkata kepada anaknya, wahai anakku, berharaplah kepada Alloh dengan harapan yang membuat kamu takut berbuat maksiat dan takutlah kepada Alloh dengan takut dimana kamu tidak putus asa terhadap rahmat-Nya.
5. Luqman berkata kepada anaknya, wahai anakku, biasakanlah mulutmu mengucapkan Allohummaghfir- li, sebab Alloh mempunyai waktu –waktu yang do’a seseorang tidak ditolak dalam waktu tersebut.
6. Wahai anakku datangilah upacara kematian dan jangan mendatangi pesta pengantin, karena jenazah mengingatkan akan akherat, sedangkan pengantin membiusmu untuk menyenangi dunia
7. Wahai anakku, janganlah yang manis langsung kamu telan, dan janganlah yang pahit langsung kamu muntahkan.
8. Datang kepadaku sebuah khabar, bahwasanya Luqma berkata kepada anaknya: saya pernah membawa batu dan besi yang berat, bahkan sesuatu yang lebih berat dari itu semua, namun saya belum pernah merasakan yang lebih berat daripada memiliki tetangga yang jelek budi pekertinya. Wahai anakku, saya telah rasakan semua makanan yang paihit dan tidak ada yang melebihi daripada fakir.
9. Luqman berkata kepada anaknya: wahai anakku, sesungguhnya amal itu tidak bermakna tanpa dilandasi dengan keyakinan, dan barang siapa lemah keyakinannya, maka lemah pula amalnya. Wahai anakku, jika syetan datang padamu dengan membawa keraguan, maka kalahkanlah dengan keyakinan dan nasehat, dan jika datang membawa kemalasan dan putus asa, maka kalahkanlah dengan ingat kubur dan hari kiamat, dan jika datang dengan membiusmu untuk mencintai dunia, maka kalahkanlah dengan satu keyakinan bahwa dunia ini akan ditinggalkan.
10. Luqman berkata kepada anaknya: wahai anakku jadikanlah takwa sebagai harta perdanganmu, niscaya kamu akan beruntung dalam daganganmu tanpa modal.
11. Luqman berkata kepada anaknya, wahai anakku, sesungguhnya manusia dubagi tiga, sepertiga untuk Alloh, sepertiga untuk dirinya sendiri, dan sepertiga untuk ulat. Adapun yang untuk Alloh adalah ruhnya, untuk manusia adalah amalanya, dan untuk ulat adalah jasadnya.
12. Sesungguhnya ketika Lukman menaseharti anakknya, ia berkata: sesungguhnya jika ada sebuah amal hanya sebesar biji sawipun….lalu Luqman mengambil sebutir biji sawi dan membawanya kenegeri yarmuk lalu membuangnya, kemudian selang beberapa waktu ia ingat akan perbuatannya tersebut, lalu ia membentangkan tangannya dan ketika itu pula datangalah seekorlalat hinggap di tangannya dengan membawa biji sawi tersebut.
13. Datang kepadaku sebuah kabar, bahwa Lukman berkata kepada anakknya: kesehatan itu tidak seperti kekayaan, dan kenikmatan itu tidak seperti ketenangan.
14. Luqman berkata kepada anaknya, barang siapa berkata dusta maka ia kehilangan muka dan barang siapa yang jelek budi pekertinya maka banyak susahnya. Mengangkat batu besar dari tempatnya itu lebih mudah daripada mengajar orang yang tidak mau diberi pengertian.
15. Sesungguhnya Luqman berkata kepada anaknya: wahai anakku aku pernah membawa kayu dan besi yang berat dan barang apapun yang paling berat, namun tidak melebihi beratnya memiliki tetangga yang jahat, saya juga pernah merasakan semua kepahitan, namun tidak ada yang melebihi fakir. Wahai anakku jika kamu tidak menemukan pesuruh yang bijak, maka janganlah kamu mengutus seseorang yang bodoh, bahkan lebih baik kamu berangkat sendiri mengutus dirimu.
16. Sesungguhnya Luqman pernah berkata kepada anaknya, wahai anakku janganlah ayam itu menjadi lebih arif daripadamu, ia bangun berkokok diwaktu sahur, sedangkan engkau masih tidur mendengkur.
17. Luqman pernah berkata kepada anaknya, wahai anakku janganlah kamu menunda-nunda taubat, sebab mati itu datangnya mendadak.
18. Luqman berkata kepada anaknya, wahai anakku janganlah kamu menyenangi orang bodoh, sebab ia berpendapat bahwa engkau senang terhadap perbuatannya, dan janganlah engkau meremehkan peringatan orang bijak, sebab ia dapat membencimu.
19. Luqman berkata kepada anaknya, wahai anakku, bertaqwalah kepada Alloh dan janganlah memamerkan diri [riya’] dihadapan orang lain bahwa engkau takut kepada Alloh agar mereka memulyakan engkau, padahal hatimu jahat.
20. Luqman berkata kepada anaknya, wahai anakku, tidaklah engkau akan menyesal selama engkau diam, sebab perkataan itu bagaikan perak, sedangkan diam itu bagaikan emas.
21. Luqman berkata kepada anaknya, wahai anakku, hindarilah keburukan sebagaimana keburukan itu menghindari engkau, sebab keburukan itu bagi orang lain dapat beranak pinak.
22. Tertulis dalam hikmah Luqman, wahai anakku jauhilah olehmu sifat benci, karena kebencian itu akan menjauhkan kedekatan seseorang kepadamu dan menghilangkan sikap bijaksana bagaikan kekeringan. Wahai anakku, jauhilah olehmu sifat pemarah, karena akan menjadikanmu bodoh dan kehilangan sikap bijak.
23. Luqman berkata kepada anaknya, wahai anakku, pilihlah pertemuan-pertemuan yang baik, apabila kamu melihat mereka yang berada dalam pertemuan itu menyebut asama Alloh, maka duduklah engkau bersamanya, sebab jika kamu seorang yang berilmu, maka ilmumu itu bermanfaat kepadamu, dan jika kamu seorang yang bodoh niscaya mereka mengajarmu serta apabila Alloh menganugerahkan rahmat kepada Alloh menganugerahkan rahmat kepada mereka niscaya engkau akan mendapatkan bersama mereka.
24. Sesungguhnya Luqman berkata kepada anaknya; wahai anakku, dunia ini ibarat sebuah lautan yang dalam, telah banyak orang yang hanyut kedalamnya, maka jadikanlah iman sebagai kapalmu didunia ini, taqwa sebagai isinya, dan tawakkal sebagai layarnya. Mudah-mudahan dengan demikian engkau selamat dan saya khawatir engakau tidak selamat.
25. Luqman berkata kepada anaknya, wahai anakku, jadilah engkau seperti orang yang tidak mengharap-harap bantuan orang lain meskipun kamu membutuhkannya, wahai anakku, janganlah kamu mencari pujian orang dan mencari-cari cercaan mereka, dengan demikian kamu akan merasa tentram.
26. saya baca dalam hikmah: barang siapa memiliki penasehat dari dirinya sendiri maka ia mempunyai penjaga dari Alloh , dan barang siapa yang berlaku adil terhadap orang lain yang menyangkut dirinya sendiri maka Alloh menambah kemuliaannya karena keadilannya itu. Merendahkan diri dalam rangka taat kekpada Alloh itu lebih hak daripada berbanga-bangga dengan kemaksiatan.
27. Luqman berkata kepada anaknya, wahai anakku, sesungguhnya hikmah itu mendudukkan orang –orang miskin ditempat para raja.
28. Luqman berkata kepada anaknya, wahai anakku, bergaulah dengan para orang sholeh sehingga kamu akan mendapat barokah dan rohmat bersamanya, wahai anakku, janganlah kamu bergaul dengan orang yang jahat, karena dikhawatirkan kamu akan tertimpa bencana bersama dengan mereka.
29. Luqman berkata kepada anaknya, wahai anakku, jika kamu menghendaki untuk duduk bersama dengan kaum, maka berkanlah salam sebelumnua, dan jika mereka ternyata dalam majlis tersbut disebut nama Alloh, maka duduklah bersamanya, dan jika tidakm maka tinggalkanlah majlis tersebut.
30. Luqman berkata kepada anaknya, wahai anakku, janganlah engkau belajar apa yang engkau belum ketahui, sebelum engkau mengamalkan apa yang engkau ketahui.
31. Apabila engkau bermaksud menjadikan seseorang menjadi saudara, maka buatlah ia marah. Apabila ia berlaku adil kepadamu ketika ia marah, maka jadikanlah ia saudara, dan apabila tidak demikian maka jauhilah.
32. Telah datang kepadaku bahwasannya Luqman berkata kepada anaknya, wahai anakku sesungguhnya sejak emgkau dilahirkan didunia berarti engkau telah membelakanginya dan engkau telah menghadapi akherat, sebab ditempat yang engkau tuju dalam perjalananmu itu lebih dekat daripada tempat yang engkau tinggalkan.
33. Luqman berkata kepada anaknya, wahai anakku, jauhilah olehmu hutang, karena akan menyengsarakanmu disiang dan malam hari.
34. Luqman berkata kepada anaknya, wahai anakku, berharaplah kamu kepada Alloh dengan pengharapan yang benar, sehingga kamu tidak berani untuk berbuat maksiyat kekpadanya, dan takutlah kamu kepada Alloh dengan takut yang sesungguhnya sehingga tidak membuatmu putus asa.
35. Bertemulah seseorang dengan Luqman dihadapan orang banyak, lalu orang tersebut berkata kepadanya: wahai luqman, bukankah kamu adalah hamba fulan? Ia menjawab, betul. Bukabkah kamu penggembala kambing di bukit ini? Tanyanya lagi. Betul, jawabnya. Lalu orang tersebut bertanya: apa yang menyebabkanmu memiliki derajat luhur seperti hang saya lihat sekarang ini? Ia menjawab: yaitu Takwa kepada Alloh, jujur, dapat dipercaya dan tidak berbicara kecualai yang bermanfaat.
36. Sesungguhnya Luqman berkata, jika Alloh menitipkan sesuatu, maka Ia akan menjaganya sendiri.
37. Diberitakan orang bahwa Luqman bergaul dengan nabi Daud as selama satu tahun, pada saat itu Daud membuat pakaian perang dan Luqman tiak tahu apa yang ia lakukan dan juga tidak mau menanyakannya. Setelah sampai satu tahun Daud memakai pakaian perang itu dan berkata :” baju perang yang kokoh untuk masa peperangan dan sebaiknya kamu memiliki alat peperangan”. Lalu Luqman menjawab:” Diam itu hikmah, tetapi sedikit orang yang melakukannya, saya sebenarnya ingin bertanya kepadamu, tetapi kamu telah menjawabnya sendiri”.
38. Ditanyakan kepada Luqman, apa pesan hikamahmu? Ia berkata, aku tidak bertanya sesuatu yang sudah jelas, dan tidak berbuat kecuali yang bermanfaat padaku.
39. Kholid Arrubai’I berkata " luqman itu adalah seorang hamba sahaya dari negeri habsyi yang pekerjaannya sebagai tukang kayu, lalu tuannya menyerahkan kepadanya seekor kambing dan berkata, " sembelihlah kambing ini dan berikanlah untukku dua potong daging yang paling baik! Lalu Luqman memberikan kepada tuannya itu daging lidah dan daging hati. Kemudian tuannya itu menyerahkan lagi seekor kambing lain dan menyuruh memnyembelihnya dan memberikan kepadanya dua potong daging yang paling buruk. Lalu Luqman memberikan kepadanya daging lidah dan daging hati. Lalu tuannya bertanya kepadanya tentang rahasia lidah dan hati itu, seraya dijawab, " tidak ada sesuatu yang lebih baik daripada keduanya apabila keduanya baik dan tidak ada yang lebih buruk melebihi keduanya apabila keduanya buruk.
40. Sesungguhnya Luqman berkata, janganlah kamu menikahi wanita budak yang bukan milikmu, agar keturunanmu tidak mewarisi kesusahan yang berkepanjangan.
41. Sahabat Urwah bin Zubair berkata: Tertulis dalam sebuah kitab –hikmah Luqman- berbunyi: wahai anakku jadikanlah ucapanmu itu ucapan yang baik dan jadikanlah wajahmu itu wajah yang cerah, niscaya engkau lebih dicintai orang daripada engkau memberinya dengan sebuah pemberian. Sahabat Urwah bin Zubair berkata: tertulis dalam kitab taurat; sebagaimana kamu menyayangi kamuakan disayangi. Sahabat Urwah bin Zubair berkata:sebagaimana kamu menanam, kamu akan menuai. Dan katanya lagi; cintailah saudaramu dan saudara orang tuamu.
42. Ditanyakan kepada Luqman, mana manusia yang paling sabar? Ia berkata, yaitu sabar yang tidak disertai dengan penganiayaan. Ditanyakan kepada Luqman pula, mana manusia yang paling pandai? Yaitu orang yang mau belajar kekurangannya dari orang lain, jawabnya. Ditanyakan kepada Luqman pula, mana manusia yang paling baik? Yaitu orang kaya, jawabnya. Ditanyakan lagi, orang kaya harta? Ia menjawab ,bukan, tetapi orang kaya yang dimaksud adalah orang yang dapat berpijak pada kebenaran dan menegakkannya, dan jika tidak mampu melakukan hal ini, maka ia tidak meminta-minta kepada orang lain.
43. Saya dapati sebagian hikmah, bahwa Alloh tidak suka terhadap orang yang membicarakan kejelekan orang lain. Dan saya dapati pula hikmah: tidak patut bagimu untuk mempelajari sesuatu yang tidak kamu lakukan, perumpamaannya seperti orang yang mencari kayu bakar yang tidak mampu membawanya, namun ia malah berusaha menambahnya.
44. Luqman pernah berkata: saya membatasi bergurau, saya tidak berkata yang tidak berguna, saya tidak tertawa tanpa sebab, dan tidak berjalan tanpa tujuan.
45. Saya baca pada sebuah hikmah: barang siapa yang mampu menasehati dirinya sendiri, maka Alloh akan menjaganya, dan barang siapa berlaku adil terhadap orang lain, maka Alloh akan menambahkan kemulyaan padanya, dan menjadi hina akibat mempertahankan ketaatan itu lebih mulia daripada berbangga-bengga dengan kemaksiatan.
46. Luqman berkata, diam itu sebagian daripada hikmah dan sedikit orang yang melakukannya, sedangkan Thowus [yakni Aba Najih] berkata:barang siapa mengaku bertaqwa itu lebih baik daripada diam dan juga bertaqwa.
47. Datang kepadaku kabar bahwa Luqman berkata kepada anakknya ,” tiga orang hendaknya engkau jadikan teman, 1] orang yang dapat mengendalikan diri ketika marah, 2] orang yang berani ketika berperang, 3] dan saudara yang dibutuhkan bantuannya.
48. Luqman berkata kepada anaknya, jangan sampai makan makananmu kecuali orang-orang yang bertaqwa , dan bermusayawarahlah kamu dalam segala urusan dengan para ahli ilmu.
49. Luqman berkata kepada anaknya, wahai anakku, akan tiba suatu masa menimpa umat manusia yang tidak membuat tenang hati orang yang bijaksana.
50. Luqman pernah berkata: saya mengabdi pada empat ribu nabi dan saya pilih delapan pelajaran darinya, yaitu 1] apabila kamu sedang melakukan sholat, peliharalah hatimu, 2] apabila kamu sedang berada ditengah-tengah pesta makan, maka peliharalah orang-orang yang ada disekitarmu, 3] apabila kamu sedang berada dalam rumah orang lain, maka peliharalah matamu, 4] jika kamu berada ditengah orang banyak, maka peliharalah mulutmu, 5] ingatlah dua hal dan lupakan dua hal. Yang harus kamu ingat adalah 1] Alloh 2] mati, dan yang harus kamu lupakan adalah 1] kebaikanmu kepada orang lain, dan 2] kejelekan orang lain kepadamu.
51. Luqman berkata kepada anaknya, wahai anakku, sesungguhnya manusia telah panjang angan-angannya, padahal mereka bergerak menuju akherat dengan cepat, kamu setelah lahir didunia sebenarnya telah mulai membelakanginya dan akan berjalan menuju akheraat, dan alam yang kamu tuju itu lebih dekat darimu daripada alam yang kamu sekarang sedang berada.
52. Luqman berkata kepada anakknya: wahai anakku temanilah ulama dan setialah padanya, jika mereka mendapat rahmat semoga kamu merasakannya, ia juga berkata: janganlah kamu bergaul dengan orang jahat, dan jangan berjalan dengan mereka, karena jika mereka mendapat siksa dari langit dikawatirkan kamu akan tertimpa bersamanya.
53. Wahai anakku, bergaul dan taatlah kepada ulama’ dan jangan membantahnya. Ambillah dunia menurut kebutuhanmu dan jangan kamu menolak dunia dengan sepenuhnya, sebab akan menjadikanmu menjadi beban dan tanggungan orang lain, dan jangan pula kamu terlalu masuk dengan urusan duniawi yang hanya akan membahayakan akheratmu. Berpuasalah dengan puasa yang dapat mencegah syahwat dan janganlah berpuasa dengan puasa itu mencegahmu dari sholat, sebab sholat itu lebih utama disisi Alloh dari pada puasa.
54. Wahai anakku jika kamu membiasakan bertatakrama sejak kecil, maka kamu akan mendapatkan manfaatnya diwaktu dewasa. Dan barang siapa memperhatikan adap sejak kecil, maka akan tumbuh dengan akhlak tersebut, dan ia akan mencari pengetahuan tentangnya, dan barang siapa ingin mengetahuinya, maka ia akan giat mencarinya, dengn demikian ia akan mendapatkan manfaatnya, maka jadikanlah akhlak itu sebagai kebiasaanmu, karena kamu akan menjadikan pengganti generasi tuamu dan kamu akan dianut oleh generasi berikutnya, kamu menjadi tumpuannya, dan akan ditakuti oleh rahib [pastur]. Jauhilah olehmu sifat malas, jika kamu terbius oleh dunia, maka jangan sampai mengalahkan akherat, dan jika kamu terlambat menggapai sebuah pengetahuan, maka kamu akan merugi diakherat, maka jadikanlah hari, malam dan setiap saatmu untuk mencari ilmu, karena kamu tidak akan mendapatkan bagian berharga melebihi bagian ilmu, oleh sebab itu janganlah kamu melawan seorang fakih, jangan memberontak penguasa, dan jangan menebar kedoliman, jangan mengambil teman orang yang fasik, jangan menemani orang yang berburuk sangka, dan simpanlah ilmumu seperti kamu menyimpan uangmu.
55. Luqman berkata kepada anaknya, takutlah kamu kepada Alloh dengan sebenarnya, sehingga jika kamu mendatangi kiamat dengan membawa dua gunung kebaikan niscaya kamu akan meminta ampun lagi kepada Alloh.
56. Anaknya bertanya wahai bapakku, bagaimana saya dapat melakukan hal itu [takut dan berharap pada waktu yang bersamaan], maka luqman menjawab: wahai anakku, ketahuilah,sesungguhnya jika hati orang mukmin dikeluarkan, niscaya terdapat dua cahaya, satu cahaya ketakutan dan satu lagi pengharapan, dan jika keduanya ditimbang niscaya ada yang lebih unggul salah satunya walaupun hanya selisih sebiji sawi, maka barang siapa iman kepada alloh, ia membenarkan firman-Nya, jika ia membenarkannya, lalu ia menjalankan perintahnya. Barang siapa tidak mau menjalankan perintah-Nya, maka pastilah ia tidak membenarkan firman-Nya, maka ketahuilah bahwa iman dan amal ini saling berkaitan. Barang siapa iman kepada alloh dengan benar, maka ia beramal juga dengan ikhlas, maka hanya orang yang beramal dengan ikhlas inilah orang yang imannya sejati, barang siapa taat kepada alloh, maka ia takut kepadanya dimanapun berada, barang siapa takut seperti ini, niscaya alloh mencintainya. Barang siapa disukainya maka ia menuti perintah-Nya. Barang siapa taat pada-Nya maka ia berhak memasuki sorgan atas seizin-Nya. Barang siapa yang tidak mendapatkan restu izin-Nya, maka ia berarti dibenci-Nya, semoga kita dijauhkan dari amarah dan benci Alloh.
57. Luqman berkata kepada anaknya, janganlah kemau condong kepada dunia sehingga hatimu terperdaya olehnya, karena Alloh tidak menciptakan makhluk yang lebih hina daripada dunia, dan Alloh tidak menjadikan kenikmatan dunia itu sebagai pahala bagi orang yang taat, dan tidak menjadikan bala’ [malapetaka] di dunia itu sebagai siksaan bagi orang yang durhaka.
58. Diantara nasehat yang diberikan Luqman kepada anaknya adalah, waha anakku: jikalau kamu ragu dari kematian maka bangunlah kamu dari tidur dan kamu tidak akan dapat melakukannya. Dan jika kamu ragu terhadap hari dibangkitkan dari kubur, maka angkatlah dirimu dari terjaga dan kamu tidak akan dapat melakukannya, maka jika kamu berfikir tentang kejadian ini maka senenarnya kekuatanmu itu ada ditangan kekuasaan tuhan, tidur merupakan latihan mati dan bangun dari tidur bagaikan bangkit dari kubur setelah mati [ba’ats].

59. Luqman berkata kepada anaknya: wahi ankku, janganlah kamu terlalu mendekat pada seseorang, sehingga ia malah menjauh darimu, dan jangan terlalu menjauh, karena kamu akan ditinggalkannya, setiap makhluk menghendaki kedekatan sesamanya, janganlah kemu melepaskan tembakan senjatamu, jika kamu tidak membutuhkannya, sesungguhnya seperti halnya tidak ada persaudaraan antara kambing dan harimau, demikian halnya tidak ada persaudaraan antara orang baik dan orang jahat, barang siapa mendekati minyak aspal, maka ia akan berbau minyak. Barang siapa bergaul dengan orang jahar, maka ia akan terpengaruh prilakunya. Barang siapa mencintai seseorang maka ia tidak mencacinya. Barang siapa jatuh pada kejahatan maka menjadi perhatian banyak orang. Barang siapa bergaul denga orang jahat tidak akan selamat. Barang siapa tidak dapat mengendalikan lisannya, maka ia akan menyesal.
60. wahai anakku: ambilah seratus sahabat dan jangan mencari musuh walau hanya satu, wahai anakku:sesungguhnya temanmu itu adalah sesama makhluk tuhan , dan tema pergaulanmu itu menunjukkan kwalitas agamamu, maka janganlah kamu membencinya dan pelajarilah tata pergaulan yang baik.
61. wahai anakku: jadilah kamu seorang hamba yang baik , dan jangan menjadi anak yang jahat. wahai anakku: tuanaikan amanat, nicaya kamu akan selamat didunia dan akherat, dan jadilah orang yang amanah karena sesungguhnya Alloh tidak menyukai orang yang berkhiyanat, wahai anakku: janganlah kamu merasa riya’ dihadapan manusia dengan mengaku takut terhadap Alloh, sedangkan hatimu jahat.
62. Diantara wasiyat Luqman hakim kepada anaknya, wahai anakku: sesungguhnya manusia itu telah menghimpun pendapatmu untuk anak-anaknya, sesungguhnya kamu hanya seorang hamba yang disewakan, kamu diperintah untuk bekerja, dan akan diberi upah, maka lakukan pekerjaanmu, dan kamu akan berhak mendapatkan upah, dan didunia ini kamu jangan sampai seperti kambing yang digembala pada padang rumput yang hijau lalu memakannya sehingga gemuk, maka nilainya ketika ia gemuk, tetapi jadikanlah dunia bagaikan jembatan diatas sungai yang kamu lalui kemudian kamu tinggalkan selamanya, maka jangan kamu membangun jembatan itu karena kamu tidak diperintah untuknya. Dan ketahuilah sesungguhnya kamu akan ditanya besok dihadapan tuhan tentang empat hal: masa mudamu untuk apa kamu gunakan, umurmu untuk apa kamu habiskan, hartamu darimana kamu perolehnya dan untuk apa kamu belanjakan, maka ingatlah akan hal ini dan persiapkanlah jawabannya, dan janganlah putus asa atas sesuatu dunia yang kamu terlepas menggapainya, karena dunia yang sedikit ini tidak dapat membuat orang kekal ,dan banyaknya dunia tidak menjamin datangnya bencana, maka ingatlah! Dan bersungguh sungguhlah dalam beramal, jadikan wajahmu ceria, berambisilah untuk mengetahui tuhanmu, perbaharuilah taubatmu dengan sepenuh hati, bersiplah untuk perpisahan abadi sebelum tiba, maka turutilah kebutuhanmu sekedarnya sebelum mati tiba.
63. Luqman berkata pada anaknya: wahai anakku, jauhilah olehmu sifat bosan dan perbuatan jelek, karena tidak akan membuatmu tenang. Berkeyakinanlah dalam setiap perbuatanmu. Bersabarlah atas hutang saudaramu, bergaulah dengan baik kepada siapa saja. Wahai anakku, sesungguhnya keberadaanmu akhlakm dan keceriaanmu sangat berarti bagi saudaramu, karena orang yang baik akhlaknya disuka banyak orang, berqona’ahlah [terimalah] atas pembagian rizki dari alloh seraya hidupmu tentram. Jika kamu ingin menperbanyak dunia, maka putuslah rasa rakusmu [toma’] terhadap dunia yang berada ditangan orang lain, karena sesungguhnya nabi dan para orang jujur memperoleh derajat yang agung [disisi Alloh] sebab mereka dapat memutus sifar toma’ terhadap milik orang lain.
64. Wahai anakku; hendaknya perkataanmu manis, dan mukamu cerah sehingga dengan demmikian kamu akan disukai manusia daripada kamu memberinya dengan pemberian, wahai anakku jadilah kamu orang yang tidak butuh pujian orang lain, dan janganlah kamu mencari hinaan mereka, karenanya manusia dalam bahagia. Wahai anakku tahanlah perkatataan yang keluar dari mulutmu, karena kamu selama diam akan selamat, maka berkatalah yang bermanfaat saja.
65. Luqman berkata: hikmah itu menjadikan orang yang mulia bertambah mulia dan menjadikan hamba pada posisi raja.
66. Luqman berkata kepada anaknya, wahai anakku, hikmah itu tercapai manakala kamu melakukan sepuluh hal, yaitu jika kamu menghidupkan hati yang mati, menolong orang miskin, menghormati penguasa, memulyakan orang yang tawadlu’, membebaskan hamba, menunjuki orang yang tersesat, menolong orang fakir, dan menghormati orang yang mulia.
67. Luqma berkata kepada anaknya: wahai anakku, janganlah kamu melakukan satu pekerjaan yang kamu suka maupun tidak kecuali kamu berkeyakinan akan manfaatnya, lalu anaknya bertanya; kalau saya tidak dapat melakukannya karena tidak saya pahami perkataanmu? Maka ayahnya menjawab: wahai anakku, sesungguhnya alloh telah mengutus nabi, maka datangilah dan benarkan ajarannya, lalu ia menjawab; mari pergi wahai bapak. Lalu keduanya keluar dengan membawa keledai, dan anaknya menaikinya. Dengan bekal yang cukup akhirnya mereka berangkat dengan perjalanan beberapa hari dan malam, sehingga mereka mendapatkan tempat beristirahat kemudian memasukinya. Selanjutnya mereka mengadakan perjalanan lagi ditengah teriknya siang dan dinginnya malam. Lalu mereka kehabisan air dan perbekalannya yang lain sehingga khimarnyapun menjadi lemah dalam berjalan. Lalu tiba-tiba dihadapannya ada fatamorgana hitam dan kabut. Lalu Luqman begumam: fatamorgana itu semoga pepohonan dan kabut itu adalah bangunan dan manusia….

Read More.. Read more...

Tafsir Tematik: (2) interaksi Luqmanul Hakim

Lanjutan
Tafsir Tematik: (2) interaksi Luqmanul Hakim
Oleh : Miftahul Huda


4. Sabab nuzul ayat

Mengenai dua ayat 14 dan 15 menurut al-Ma>wardi merupakan penyela dari wasiat Luqm>an. Menurut satu pendapat lainya, kedua ayat ini termasuk wasiat Luqm>an kepada anaknya yang dikabarkan oleh Allah. Pemaknaan ayat tersebut menurut pendapat kedua ini –sebagaimana dikutip al-Ma>wardi> :
Seakan Luqm>an berkata pada anaknya; janganlah mensekutukan Allah dan jangan menuruti perintah syirik kepadanya dari orang tuamu, karena Allah memerintahkan hanya mentaati orang tua dalam hal selain syirik dan maksiyat kepada Allah. Menurut satu pendapat lainya, yakni ketika Luqm>an berkata kepada anaknya, maka apa yang dikatakan Luqm>an itu termasuk dari h}ikmah yang aku (Allah ) berikan berisi perintah berbuat baik kepada kedua orang tua. Yakni saya (Allah ) katakan padanya; bersukurlah kepada Allah , dan kami perintahkan kepadanya untuk berwasiat kepada manusia berbuat baik kepada orang tuanya. Dan menurut satu pendapat; ketika Luqm>an berkata kepada anaknya “janganlah mensekutukan Allah“, maka kami perintahkan kepada manusia untuk berbuat baik kepada kedua orang tuanya, lalu Luqm>anpun juga memrintahkan kepada anaknya akan perintahku ini (pendapat Qushairi>). Sedangkan pendapat yang sahih, kedua ayat ini turun berkenaan dengan masalah Sa'ad bin Abi Waqa>s, dan pendapat ini didukung oleh mayoritas ulama.

Penjelasan ini semakna dengan pendapat al-T{abattaba’i. Menurutnya dua ayat ini merupakan ayat penyela di antara wasiat Luqm>an yang berfungsi sebagai penguat isi wasiat Luqm>an yang berupa larangan syirik. Ayat ini adalah firman Allah, bukan termasuk wasiat Luqm>an. Dikatakann pula, ayat ini kalam Allah kepada Luqm>an, seakan Allah berkata kepada Luqm>an “bersukurlah” dan “kami perintahkan manusia untuk berbuat baik kepada kedua orang tuanya”
Perbedaan pandangan ulama tentang kedua ayat tersebut apakah termasuk firman Allah atau perkataan Luqm>an, maka yang lebih kuat adalah termasuk firman Allah, bukan perkataan Luqm>an. Kedua ayat tersebut dari sisi asba>b wuru>d-nya terdapat dua pengertian. Pertama; bahwa satu di antara ayat itu bersifat umum, meskipun menggunakan lafat khusus. Kedua: berkenaan dengan Sa'ad Bin Abi Waqa>s} dengan kedua orang tuanya Malik dan H}aminah Bint Abi Sufya>n Umaiyah.
Asbab al-Nuzuwardi> berkenaan dengan Sa’ad bin Abi Waqas. “Yaitu ketika ia masuk Islam, ibunya bersumpah tidak akan makan dan minum, lalu ia merayunya agar meninggalkan hal itu, tetapi menolaknya. Demikian nasehat itu dilakukan pada hari kedua. Dan pada hari ketiga ia merayu ibunya lagi, dan ibunya tetap menolaknya, lalu Sa’ad berkata; seandainya ibu memiliki seratus nyawa, niscaya akan habis sebelum aku mau meninggalkan agamaku. Setelah melihat hal itu, maka ibunya lalu mau makan“.
al-T}abari>> menambahkan, dengan berdasarkan riwayat dari Hanad bin Sari menyebutkan bahwa;“Diceritakan oleh Abu Ahwas dari Samak bin Harb dari Mus’ab bin Sa’ad berkata; Ibu Sa’ad bersumpah tidak akan makan dan minum sehingga Sa’ad mau meninggalkan agamanya, lalu Sa’ad menolaknya. Kondisi ibunya ini berjalan terus sehingga sampai pingsan, lalu ditolong oleh anak-anaknya dan diberi minum. Maka ketika ibunya sadar, ia menerima keadaan Sa’ad itu, lalu turunlah ayat ini“.


5. Kandungan ayat
Kandungan ayat 12 sampai 19 surat Luqma>n tersebut di atas secara garis besar sebagai berikut:
a) Luqma>n diberi h}ikmah oleh Allah.
b) Sikap h}ikmah (bijak) Luqma>n ditunjukkan dengan menerapkan sukur.
c) Sukur Luqma>n dilakukan dengan menasehati anaknya.
d) Nasehat (maw’iz}ah) dilakukan dengan penuh kasih sayang.
e) Nasehat Luqma>n memuat materi pendidikan akidah, syaria’ah dan akhlak.
6. Analisa
a) Tujuan pendidikan untuk membentuk insan ka>mil (manusia paripurna).
(i) Pendidikan aqi>dah
Pendidikan aqidah merupakan pendidikan yang pertama dan utama dilakukan Luqma>n kepada anaknya. Pendidikan ini bertujuan untuk liberasi (membebaskan) manusia dari ketergantungan kepada selain Allah. Pendidikan liberasi diupayakan melalui usaha menanamkan keimanan kepada Allah dan melarang syirik. Menurut penjelasan al-Qurt}ubi> larangan berbuat syirik ini sekaligus diikuti dengan alasannya, yaitu syirik termasuk dosa yang amat besar. Larangan ini dikuatkan melalui dua pernyataan, pertama dimulai dengan melarang untuk syirik itu sendiri. Kedua, menjelaskan bahaya syirik termasuk dosa besar.
Mengenai ungkapan “sesungguhnya syirik termasuk dosa besar” pada ayat 12, menurut sebagaian ulama bukan perkataan Luqma>n, tetapi hanya merupakan pemberitaan dari Allah (seperti pendapat al-Qurt}ubi>). Meskipun demikian menurut al-Alu>si> pada pokoknya ayat tersebut merupakan ucapan Luqm>an (berdasarkan hadith Muslim) yang berfungsi menjelaskan alasan pelarangan syirik .
Mengikuti pendapat al-Alu>si> ini, berarti Luqm>an menjelaskan kepada anaknya bahaya syirik termasuk perbuatan zalim yang besar. Termasuk zalim -menurut al-Mara>ghi>- karena menempatkan sesuatu tidak proporsional (yaitu menyetarakan sesuatu dengan Allah). Hal ini termasuk dosa besar karena menyetarakan antara sesuatu yang tidak memberi nikmat (patung dan berhala) dengan dzat Allah sang pemberi nikmat.
Menurut al-S}abu>ni>- karena bahaya syirik tersebut, Luqm>an berpesan, menasehati dan membimbing anaknya agar selalu menggunakan akalnya dalam memahami tuhan dan jangan mensekutukan-Nya dengan manusia, atau patung ataupun lainnya. Barang siapa menyamakan antara pencipta dan ciptaan-Nya, antara tuhan dan berhala, pastilah ia termasuk manusia terbodoh karena tidak mampu menggunakan logika dan sikap bijaksananya. Patutlah kemudian disebut kezaliman yang besar karenanya tergolong dengan binatang.
Sementara itu -menurut Qutb- perbuatan syirik merupakan induk kelupaan dan malapetaka, sekaligus perbuatan zalim terbesar. Tiada kezaliman melebihi ingkar kepada nikmat dan kebaikan Allah, sehingga menyekutukan-Nya dengan yang lain dalam hal pengabdian.
Sebab lain Luqm>an melarang anaknya syirik karena anaknya telah Islam dan mengingatkan bahaya syirik yang dapat merusak ke-Islamannya. Menurut al-Shauka>ni>, Luqm>an melarang syirik anakya karena anaknya telah kafir. Luqm>an memulai wasiatnya dengan larangan syririk karena ini merupakan hal prinsip. Menurut al-Ma>wardi>, ia melarang syirik pada anaknya disebabkan anaknya telah musyrik.
Larangan syirik ini –menurut al-Baghda>di>- juga disebabkan oleh dua hal; pertama karena anak Luqm>an bertanya kepadanya tentang apakah Allah mengetahui sebuah biji yang dibuang didasar laut. Lalu Luqm>an menjawab dengan ayat ini (pendapat al-Sa’di>). Kedua,bagaimana pendapat Luqm>an tentang kejelekan yang dilakukan anaknya dan tidak diketahui siapapun, apakah Allah mengetahuinya? Lalu ia menjawab dengan ayat ini (pendapat Muqa>til).
Bertolak pada uraian di atas, maka jelaslah akan pentingnya permasalahan tauhid yang diprofilkan melalui pesan Luqm>an kepada anaknya, dan sekaligus memerintahkanya. Pesan mulia orang tua kepada anak ini terjadi karena sikap tulus orang tua yang bijaksana terhadap nasip masa depan anaknya. Inilah pesan secara emosional yang sangat menonjol sehingga perlu dilakukan.
(ii) Pendidikan ibadah
Termasuk dalam pendidikan ibadah ialah perintah melakukan salat (ayat 17). Menurut Qutb Luqm>an memerintahkan anaknya untuk melakukan salat dengan benar karena salat merupakan tiang agama.
Perintah salat Luqma>n kepada anaknya –menurut al-Baid}awi>- untuk menyempurnakan dirinya secara personal, dan perintah amar ma’ru>f nahi munkar untuk menyempurnakan masyarakatnya, dan perintah bersabar atas apa yang menimpa sebagai konsekwensi salat seta dakwah yang dilakukan.
(iii) Pendidikan akhlak
Pendidikan akhlak personal kepada kedua orang tua (ayat 14-15). Tujuan pendidikan akhlak kepada kedua orang tua ini sebagai realisasi sukur nikmat atas pendidikan yang sudah diberikan. Sukur kepada kedua orang tua ini disejajarkan dengan sukur kepada Allah. Tentang hukum disejajarkannya kewajiban sukur kepada kedua orang tua dan dengan sukur kepada Allah karena pada dasarnya kedua orang tua yang melahirkan manusia secara majazi, sedangkan secara hakiki wujud manusia dikarenakan anugerah dan kemuliaan dari Allah. Oleh karena itu, maka hakekat bersukur dilakukan kepada Allah atas segala nikmat dan sukur kepada manusia dilakukan secara majazi.
Bagaimana tata cara bersukur kepada Allah dan kedua orang tua sebagaimana dimaksud pada ayat 14 di atas? Ulama memberikan berbagai penjelasan, di antara nya dengan cara taat terhadap Allah, melakukan perbuatan yang diridlai seperti shalat, puasa dan sebagainya. Sedangkan sukur kepada kedua orang tua dengan cara silaturahim dan berbuat baik kepadanya.
Diriwayatkan dari Ibn Uyainah: barang siapa salat wajib lima waktu, maka telah bersukur kepada Allah, dan siapa yang berdo’a untuk kedua orang tuanya setelah salat tersebut, maka telah bersukur kepadanya. Juga dikatakan: sukur yang sebenarnya kepada Allah dengan mengagungkan dan bertakbir, sedangkan sukur kepada kedua orang tua dengan belas kasihan dan menghormati. Ringkasnya, bahwa hukum wajib bersukur kepada kedua orang tua sama dengan wajib bersukur kepada Allah. Bahkan sukur kepada orang tua termasuk sukur kepada Allah sebagaimana dimaksud pada ayat ini. Bersukur kepada kedua orang tua merupakan ibadah kepada Allah, dan ibadah kepada Allah termasuk bersukur kepada-Nya.
Taat kepada Allah hukumnya wajib, demikian pula taat kepada kedua orang tua, hanya saja taat kepada Allah itu mutlak dan taat kepada kedua orang tua hukumnya sangat dianjurkan. Ketika taat kepada Allah dalam semua perintahnya hukumnya wajib, maka taat kepada kedua orang tua dalam setiap perintahnya selain syirik dan dosa hukumnya juga wajib. Jika kedua orang tua memerintahkan berbuat syirik , maka tidak wajib ditaati. Ayat 15 di atas juga menunjukkan wajibnya menyambung silaturahim kepada kedua orang tua (meskipun kafir), memberi harta jika fakir, berkata halus, dan diajak kepada Islam secara bersahaja.
Nasehat Luqm>an pada ayat 15 di atas memfokuskan ketaatan kepada Allah, dan mengingatkan bahwa taat kepada kedua orang tua bagian dari taat kepada Allah dan sekaligus merupakan cerminan dari sifat ih}sa>n (berbuat baik kepada sesama). Ih}sa>n juga harus diterapkan kepada kedua orang tua yang musrik, yang memerintahkan untuk berpaling dari agama. Hanya saja perintah seperti ini tidak wahib ditaati, karena tidak ada ketaatan pada makhluk untuk berbuat ma’siat kepada kha>liq. Namun, hal ini tidak meyebabkan anak durhaka kepada kedua orang tua, dan tetap diwajibkan berbuat baik kepadanya. Perbedan pandangan keagamaan antara anak dan orang tua, dalam Islam tidak menghalangi untuk tetap berbakti kepadanya, inilah toleransi Islam.
Adapun pendidikan akhlak sosial berhubungan dengan dakwah (amar ma’ru>f nahi munkar), sabar, tidak memalingkan muka, tidak sombong dalam berjalan, berjalan dengan sederhana dan berkata-kata dengan sederhana. Tujuan pendidikan sosial ini untuk membangun humanisasi personal dalam kontek sosial. Hal ini ditunjukkan dengan sikap memanusiakan manusia dengan etika luhur yang diterima di masyarakat.
Amar ma’ru>f -menurut al-Mara>ghi>- terkait dengan perintah kepada masyarakat untuk melakukan kebaikan secara optimal, sebagai kunci menuju kesuksesan hidup. Sedangkan nahi munkar yakni larangan kepada masyarakat berbuat maksiat terhadap Allah yang menyebabkan bencana kehidupan dan siksa yang amat pedih di neraka. Konsekwensi dakwah ini harus didasari dengan kesabaran. Yakni bersabar atas sikap keras dan ujian yang menimpa para da’i, karena dakwah pasti rentan terhadap kekerasan dari masayarakat, sehingga menuntut sikap sabar.
Akhlak sosial berikutnya ialah meninggalkan prilaku sombong dengan memalingkan muka dari orang lain. Memalingkan muka ini memiliki arti larangan sombong, kecondongan pada manusia atau berbicara dengan mencibirkan mulut. Juga berarti banyak bicara tanpa teliti, mencibirkan mulut ketika membicarakan orang lain dengan maksud menghina, atau berpaling dan meninggalkan orang disekitarnya.
Akhlak berjalan juga menjadi pelajaran penting pada pendidikan Luqma>n (ayat 19). Ajaran berjalan dengan sederhana dalam ayat tersebut memiliki pengertian merendahkan diri, ketika berjalan memandang kejalan, bersegera dalam berjalan, tidak bergegas dalam berjalan dan tidak sombong dalam berjalan. Dalam bertutur kata, Luqma>n memeritahkan anaknya untuk melunakkan suara. Yakni merendahkan suara dan menghindari bersuara seperti khimar. Karena suara khimar pada ayat tersebut digambarakan sebagai perumpamaan suara yang paling buruk dan yang paling keras.
Uraian di atas menunjukkan bahwa pendidikan yang dilakukan Luqma>n kepada anaknya bertujuan untuk menciptakan manusia paripurna (insa>n ka>mil) dengan kompetensi dasar pada kesalehan personal dan kesalehan sosial. Kesalehan personal dimulai dengan memiliki landasan keimanan yang kuat sehingga melahirkan totalitas pengabdian kepada Allah. Totalitas ibadah yang tinggi itu tidak bermakna jika mengabaikan akhlak kepada kedua orang tua. Oleh karenanya, kewajiban berbakti kepada kedua orang tua sejajar dengan kewajiban beribadah kepada Allah.
Tidaklah cukup kwalitas kesalehan personal sebagaimana digambarkan di atas, jika tidak diimbangi dengan kesalehan sosial. Kesalehan sosial sebagai cerminan kesalehan personal muncul dalam bentuk sensitifitas untuk mewujudkan masyarakat berperadaban luhur. Untuk tujuan ini dilakukan dengan melakukan dakwah, dan sabar dalam berdakwah. Interaksi sosial juga ditunjukkan dengan budaya tinggi dalam pergaulan, berjalan dan bertutur kata.
b) Materi pendidikan akidah, shari>‘ah, dan akhlak
Materi pendidikan yang diterapkan oleh Luqma>n H{aki>m kepada anaknya meliputi tiga hal:
(i) Pendidikan keimanan (akidah). Pendidikan ini pertama kali dilakukan Luqma>n kepada anaknya. Luqma>n menanamkan keyakinan bahwa Allah sebagai Dzat Yang Maha Esa yang harus disembah dan sekaligus melarang perbuatan syirik (QS. Luqma>n ayat 13).
(ii) Pendidikan ibadah (shari>’ah). Ruang lingkup shari>‘ah meliputi interaksi vertikal seorang hamba dengan Allah yang direalisasikan melalui ibadah, dan interaksi horizontal yang dilakukan dengan sesama manusia (mu’a>malah). Dalam hal ibadah ini Luqma>n mengajarakan salat kepada anaknya (ayat 17).
(iii) Pendidikan akhlak. Dalam bidang akhlak terbagi menjadi dua, yaitu akhlak personal dan akhlak sosial. Pendidikan akhlak personal dilakukan Luqma>n kepada anaknya dengan memperkenalkan etika baik terhadap kedua orang tua (ayat 14). Prinsip berbakti ini dengan cara melakukan segala yang diperintahnya, dan menjauhi segala larangannya selama dalam batas tidak melanggar syari’at Islam (ayat 15).
Setelah anak dikenalkan konsep akhlak kepada tuhannya melalui jalan ibadah, dan berbakti kepada kedua orang tuanya, berikutnya diajarkan padanya akhlak dalam kontek kemasyarakatan (akhlak sosial) mencakup; pendidikan dakwah /amar ma’ru>f nahi munkar dan bersabar (ayat 17). Juga pendidikan etika (ayat 18-19), menckup etika pergaulan (bertemu), berbicara dan berjalan. Empat prinsip dasar pendidikan Luqma>n H{aki>m kepada anaknya tersebut memenuhi target untuk membentuk insan kamil yang terdiri dari kesempurnaan aqidah, syariah dan akhlak (Iman, Islam dan Ih{san).
c) Sikap bijak (h}ikmah) dan kasih sayang Luqma>n sebagai kompetensi dasar pendidik.
Yang dikehendaki dengan kompetensi dasar pendidik menurut pendidikan Luqma>n ini adalah sikap yang dilakukan oleh Luqma>n dalam mendidik anaknya. Sikap yang dimaksudkan adalah bijaksana dan penuh kasih sayang. Kebijaksanaan Luqma>n ini disimpulkan dari cara pengajaran yang menekankan ungsur kebijakan, karena Ia telah diberi h}ikmah (kebijakan) oleh Allah sebagaimana dalam ayat QS. Luqma>n ayat 12.
H}ikmah yang dimiliki Luqma>n mencakup benar pada pengetahuan, pemahaman, perkataan, perbuatan. konsekwensinya menjadikan Luqma>n seorang yang dapat mengendalikan dirinya dari perbuatan jahat, seraya menempatkan sesuatu pada tempatnya. H}ikmah pada diri Luqma>n tidak bermakna kenabian –sebagaimana ditafsirkan oleh sebagian ulama- sehingg Luqm>an bukan seorang nabi, namun hanyalah seorang yang saleh dan bijaksana yang diberi h}ikmah oleh Allah.
Keutamaan h}ikmah Luqm>an menurut al-S}abu>ni> ada pada sikap bersukur kepada Allah. Dapat dikatakan pula bahwa sikap sukurnya itulah keutamaan h}ikmahnya. Maka sukur itu menjadi wajib dilakukan setelah mendapatkan h}ikmah. Adapun wujud sukurnya itu berupa ungkapan terima kasih kepada Allah atas nikmat-nikmatnya, dan taat atas segala perintahnya. Sukur juga merupakan kata kunci untuk memperoleh kebahagiaan di dunia dan akherat, karena hamba mempergunakan semua nikmat Allah itu untuk mengabdi kepadanya.
Sejalan dengan keterangan itu, Ibn Katsi>r menegaskan, Allah memerintahkan kepada Luqm>an untuk bersukur atas pemberian-Nya yang agung, dan hanya khusus diberikan kepadanya di zamannya, bahkan tidak kepada nabi yang lain. Semakna dengan ini bahwa sukur itu diperintahkan kepadanya karena h}ikmah yang telah dianugerahkan khusus pada dirinya.
Sedangkan sifat kasih sayang dari pendidikan Luqma>n ini dapat dilihat dari cara memanggil anaknya. Dalam hal ini Luqma>n memanggil anaknya dengan menggunakan ungkapan “wahai anakku sayang” (ya> bunayy). Ungkapan ini menurut al-Qurt}ubi> sesungguhnya meskipun mengunakan s}ighat tasghi>r, namun bukanlah menunjukkan pada hakekat arti mengecilkan atau meremehkan, tetapi sebaliknya menunjukkan makna tarfi>q, yaitu makna kasih sayang.
d) Kepatuhan anak Luqma>n
Tidak ditemukannya reaksi jawaban dari anak Luqma>n pada ayat 12 sampai 19 tersebut menunjukkan sikap anak didik yang patuh. Alur interaksi pendidikan terjadi searah, yaitu dari pendidik kepada anak didik. Hal ini berarti Luqma>n memposisikan anaknya bagaikan tempat kosong yang harus diisi dengan materi pendidikan. Konsep pendidikan yang dikembangkan cenderung menempatkan posisi pendidik berbeda dari anak didik dalam hal pengetahuan.
Unsur demokratis dan dialogis tidak ditemukan pada interaksi pendidikannya. Padahal keterbukaan dalam mendialogkan ilmu merupakan salah satu cara untuk pengembangan ilmu. Tampaknya Luqma>n meyakini bahwa keilmuan pendidikannya sangat valid dan tidak terbantahkan. Akibatnya, nuansa pendidikan terlihat secara otoritatif-dogmatis.
e) Metode maw’iz}ah (nasehat).
Metode maw’iz}ah ini dipahami dari ayat 13 (وهو يعظه ). Menurut al-Qurt>ubi>, ayat tersebut menekankan pentingnya maw’id}ah yang harus selalu dilakukan oleh orang tua untuk kebaikan anaknya. Kenapa maw’iz}ah itu dilakukan oleh Luqma>n? Menurut Imam Qushairi>, Luqm>an memiliki istri dan anak yang keduanya kafir, oleh karena itu Luqma>n selalu menasehatinya sehingga mereka masuk Islam.
Sedangkan fungsi educatif metode maw’iz}ah ini secara kejiwaan menurut al-Nah}lawi> berpengaruh terhadap: 1) Membangkitkan semangat spiritual untuk beribadah kepada Allah dengan khusuk, membangkitkan rasa takut terhadap siksa dan tertarik untuk masuk surga. 2) Membangkitkan kemampuan berfikir untuk mengambil ‘ibrah (pelajaran) tentang kehidupan dunia dan akherat. 3) Menyadarkan seseorang untuk membersihkan jiwa dari perbuatan mungkar dan jahat.
Luqma>n dengan gelar al-haki>m menunjukkan pribadi yang sangat bijak. Allah telah menganugrahkan hikmah kepadanya (ayat 12). Menurut Bru>si ayat tersebut menetapkan bahwa h}ikmah adalah pemberian Allah tanpa ada usaha dari manusia, karenanya h}ikmah ini termasuk jenis perkataan (aqwa>l) dan bukan kondisi permanent (maqa>ma>t). H}ikmah merupakan keutamaan dari Allah yang diberikan kepada siapa yang dikehendaki, dan bukan hasil jerih payah fikiran manusia”.
Berdasarkan uraian di atas, berarti sumber pengetahuan pendidikan yang dimiliki Luqma>n diperoleh dari Allah dengan pendekatan intuitif. Yakni pengetahuan pendidikan yang teranugerahkan. Atas pengetahuan pendidikan yang telah dimiliki, Luqma>n bersukur dan mengajarkannya kepada anaknya. Hal ini dipahami dari uraian Jauha>ri>: “tidaklah sikap bersyukur Luqm>an itu satu-satunya indikasi dia memiliki h}ikmah. Tetapi disana masih banyak h}ikmah-h}ikmah lainnya, yaitu upaya dalam rangka sukur terhadap nikmat h}ikmah yang diberikan Allah kepadanya, sebagai realisasi h}ikmah tersebut, maka ia bersukur secara lisan dengan menasehati anak.
Luqma>n memulai pendidikan anaknya dengan mengokohkan aspek keimanan, yaitu mengesakan Allah dan menjauhi perbuatan syirik (ayat 13). Pendidikan keimanan bersumber pada kebenaran wahyu Allah yang bersifat dogmatis dan doktriner. Masalah keimanan lebih mengedepankan daya penerimaan melalui hati dari pada rasional. Pada tahap ini, metode pendidikan iman tidak menggunakan pendekatan rasional karena wilayah iman bukan wilayah empirik.
Secara normatif, kebenaran wahyu tidak dapat ditolak sebagai sumber pendidikan keimanan dan ibadah. Hal ini terjadi karena masalah keimanan (konsep tuhan) dan ibadah (sholat) –sebagaimana diajarkan Luqma>n- bukan hasil rekayasa pemikiran manusia. Perintah-perintah tersebut muncul dari tuhan (top down) kepada manusia melalui kitab suci agama. Hanya saja untuk ajaran pendidikan yang diperoleh secara normative-intuitif tersebut masih menyertakan uraian-uraian yang menggunakan pendekatan rasional.Pendekatan rasional diperlukan untuk menguraikan konsep keimanan agar diyakini dan diterima secara logis. Yakni, Luqma>n melarang syirik disertai alasan karena syirik merupakan perbuatan zalim yang amat besar. Dari sini terlihat bahwa rasio tidak mampu membuat konsep tentang tuhan, sehingga tuhan sendiri yang memperkenalkannya. Posisi rasio dipergunakan untuk mengawal kebenaran konsep ketuhanan, dan bukan dalam kapasitasnya untuk mengkonsep tuhan.
Ibadah (shalat) merupakan kepatuhan yang muncul sebagai realitas atas keimanan. Tatacara ibadah sama halnya dengan masalah keimanan termasuk dalam wilayah dogmatis. Tidak ada ruang gerak bagi rasio untuk memperdebatkan keabsahan ibadah, kecuali hanya menerimanya. Hal ini disebabkan karena ibadah dan iman tidak dalam jangkauan wilayah rasional-empirik, melainkan dalam wilayah abstrak-suprarasional.
Selain pendidikan keimanan dan ibadah bersumber dari kitab suci, secara empirik-rasional Luqma>n juga mengajarkan pendidikan yang bersumber dari alam. Artinya, materi-materi pendidikan yang diajarkan memiliki keterkaitan langsung dengan sesama manusia. Logika rasional dapat menerima kebenaran dan manfaat pendidikan tersebut secara kongkrit. Dalam hal ini, Luqma>n mengajarkan akhlak kepada kedua orang tua terutama kepada ibu, budaya amar ma’ru>f nahi munkar, sabar atas musibah, budaya sopan dalam pergaulan, dan perkataan.
Ajaran etika moral tersebut lebih menekankan kesalehan pribadi secara horizontal ketimbang vertikal. Secara manusiawi, ukuran kebaikan dilihat pada aspek moralitas yang ditunjukkan dengan hubungan baik kepada sesama manusia. Dari sini dipahami bahwa pendidikan anak memperhatikan alam semesta sebagai obyek kehidupan yang harus dipelajari. Signifikansinya, kurikulum pendidikan anak tidak membatasi pada aspek ‘ubudiyah dan ima>niyah, melainkan juga menerima kehadiran ilmu sosial

Read More.. Read more...

Tafsir Tematik: (1) interaksi Luqmanul Hakim

Tafsir Tematik: (1) interaksi Luqmanul Hakim
Oleh : Miftahul Huda


Nama Luqm>an disebut dalam al-Qur’a>n hanya dua kali dalam juz 21 dan sekaligus terabadikan menjadi nama surat ke 31. Surat Luqma>n ini terdiri dari 34 ayat, termasuk golongan surat Makkiyyah, diturunkan sesudah surat al-S}a>ff>at.
Dinamakan Luqma>n karena pada ayat 12 disebutkan bahwa Luqma>n telah diberi oleh Allah hikmah berupa ilmu pengetahuan. Oleh sebab itu, Luqma>n bersyukur kepada-Nya atas nikmat yang diberikan. Pada ayat 13 sampai 19 terdapat nasihat Luqma>n kepada anaknya. Hal ini sarat dengan pelajaran bagi orangtua agar dapat mendidik anaknya seperti prinsip-prinsip pendidikan yang telah dilakukan Luqma>n.
1. Pendidikan Luqm>an H}aki>m terhadap Tha>ra>n
Pendidikan Luqma>n kepada anaknya menggambarkan penekanan materi dan metode pendidikan anak. Materi pendidikan yang diajarkan meliputi pendidikan akidah, syari’ah, dan akhlak.
Adapun metode yang digunakan adalah dengan maw’id}ah (nasehat). Metode nasehat menunjukkan pola interaksi pendidikan lebih terfokus pada pendidik yang senantiasa menasehati anak didik. Anak didik diposisikan sebagai obyek yang harus menerima pesan pendidikan tanpa ada kesempatan untuk mendialogkan.
2. Ayat-ayat yang berhubungan dengan pendidikan Luqm>an terhadap Tha>ra>n
Ayat-ayat dimaksud adalah dalam surat Luqma>n mulai ayat 12-19. Kisah Luqma>n dalam ayat tersebut bermula dari karakter h}ikmah yang diberikan Allah kepadanya ditandai dengan kwalitas bersyukur atas nikmat-Nya. Di antara sikap syukurnya dilakukan dengan mendidik anak dengan menggunakan metode yang mengembangkan rasa kasih sayang.
3. Penafsiran ayat
12. Dan Sesungguhnya Telah kami berikan hikmat kepada Luqma>n, yaitu: "Bersyukurlah kepada Allah. dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), Maka Sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, Maka Sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji".

Penafsiran:
a) Siapakah Luqm>an yang dimaksud dalam ayat ini?
Secara etimologi menurut Makki> Bin T{a>lib al-Qaisi>: "Luqm>an Adalah nama kongkrit (isim ma’rifah) dengan dua tambahan (alif dan nu>n) sehingga tidak dapat menerima tanwin seperti kata “Uthman>” di mana Luqm>an ini bisa jadi berasal dari kata non-arab (‘ajam)". Menurut penjelasan Muh}ammad Bin ‘Ali> Bin Muh}ammad al-Shauka>ni>: "ada ulama berpendapat bahwa ia adalah nama non-Arab karena tidak menerima ta’ri>f. Sedangkan yang mengatakan nama Arab, maka tidak dapat dima’rifatkan dan tidak dapat ditambah alif dan nun". Adapun menurut Ibn Ba>'ura>’ yang dinukil oleh Abi al-Fad}l Shiha>b al-Di>n Mah}musi> dalam kitab tafsirnya menjelaskan: "Luqm>an nama ‘ajam (bukan Arab) yang diambil dari kata al-Laqam".
Dalam kajian terminologi, para ulama berbeda penafsiran tentang siapa yang dikehendaki dengan Luqm>an pada ayat tersebut. Di antaranya penjelasan Abi al-Qa>sim Ja>r Allah Mah}mu>d bin ‘Umar al-Khawa>rizmi> al-Zamakhshari> dalam kitab tafsirnya:
1. Menurut Muh}ammad Isha>q ialah Luqm>an Bin Ba>'ura>’ Bin Nahu>r Bin Ta>rikh, yaitu Azar anaknya bapak Ibrahim. 2. Menurut al-Suhaili: Luqm>an bin ‘Anqa’ bin Sarwan dari bangsa Naubi penduduk Ilih. 3. Menurut Imam Wahab: Luqm>an Bin Ukht Ayyub. 4. Menurut Imam Muqatil: Luqm>an Bin Khalat Ayyub. 5. Menurut al-Zamakhshari>: Luqm>an Bin Ba>'ura>’ Ayyub atau Bin Ibn Kha>latuh. 6. Dikatakan pula: Luqm>an salah satu anak dari Azar yang hidup seribu tahun dan menemui nabi Daud as. dan berguru kepadanya.

Adapun tentang pekerjaannya adalah sebagai berikut:
1. Luqm>an adalah seorang penjahit baju (pendapat Sa'id bin Musayyab). 2. Luqm>an adalah seorang penggembala (pendapat Ibn zaid). 3 Luqm>an adalah tukang kayu (pendapat Khalid al-Rabi’). 4. Luqm>an adalah seorang H}aki>m dizaman bani Israil (pendapat al-Wakidi>).

Mengenai sifatnya, ada beberapa penjelasan sebagaimana berikut:
1.Luqm>an adalah seorang budak Habshi> (pendapat Ibn Abba>s). 2. Luqm>an adalah seorang hamba Habshi>, bibir dan telapak kakinya tebal, H}aki>m dimasa bani Israil (pendapat Muja>hid). 3. Luqm>an adalah seorang berkulit hitam dari Sudan, atau dalam satu riwayat lainnya ia adalah berkulit hitam dari negeri Naubi.

Lalu apakah dia seorang nabi atau bukan? Ada beberapa pendapat ulama sebagai berikut:
1. Luqm>an adalah seorang nabi (pendapat al-Sa’bi>, ‘Ikrimah dan Sa'adi>). 2. Luqm>an adalah seorang H}aki>m bukan nabi (menurut Sa'id bin Musayyab, Muja>hid dan Qata>dah). 3. Luqm>an adalah seorang wali dan bukan nabi (jumhu>r ahl ta’wi>l). 4. Luqm>an adalah seorang yang setingkat lebih tinggi dari derajat radiy Allah 'Anh dan bukan seorang nabi (pendapat al-Nawawi>).

Di samping pendapat tersebut, juga terdapat banyak penjelasan h}adith tentang Luqma>n Haki>m yang dinukil oleh para ahli tafsir di antara nya al-Qurt}u>bi> sebagaimana berikut:
Artinya: Diriwayatkan dari Ibn Umar, Ia berkata: saya mendengar nabi bersabda: sesungguhnya Luqm>an bukan seorang nabi, tetapi hanya seorang hamba yang banyak berfikir, kuat pendirian, mencintai Allah dan Allah mencintainya, Allah memberinya h}ikmah, memilihnya sebagai khalifah yang menghukumi dengan kebenaran. Kita diberitahu oleh Ibn Mutsanna, kita diberitahu oleh Muh}ammad bin ja’far, kita diberitahu oleh Syu’bah dari H}aki>m dari Mujahid, sesungguhnya ia berkata: Luqm>an seorang laki-laki saleh dan bukan nabi.

Kita diberitahu oleh Bashar, ia berkata saya diberitahu oleh Yazi>d, ia berkata saya diberitahu oleh Sa’i>d dari Qata>dah: firman Allah” dan sungguh kami telah beri Luqm>an H}ikmah” maksudnya adalah pemahaman tentang Islam dan bukan seorang nabi, juga tidak diberi wahyu.

Di samping berbagai pendapat di atas, menurut pendapat lainya "Luqm>an adalah seorang H}aki>m (orang yang arif) dan bukan nabi". "Adapun yang mengatakan Luqm>an seorang nabi karena mereka menafsiri kata ”H}ikmah” pada ayat QS. Luqm>an 12 dengan “kenabian”, dan pendapat ini lemah. Sedangkan yang jelas ia seorang laki-laki saleh, perasa, jujur dan banyak kebaikannya".
Ulama yang berpendapat ia seorang nabi ini berpegang pada riwayat yang dikeluarkan oleh 1) Ibn Abi> Ha>tim dari ‘‘Ikrimah ra, ia berkata: H}ikmah Luqm>an adalah kenabian, 2) Ibn Jarir dan Ibn Abi Hatim dari ‘Ikrimah ra berkata: Luqm>an seorang Nabi, 3) Ibn Faryabi> dan Ahmad dalam kitab Zuhud, Ibn Jari>r, Ibn Mundhir dan Ibn Abi Ha>tim dari Muja>hid ra menafsirkan kata “H}ikmah” dengan akal, pemahaman agama dan kenabian.
Adapun masa hidupnya, menurut ulama berkisar di antara masa nabi Isa dan nabi Muh}ammad. Pendapat lainya; Ia anak Kuisy bin Syam bin Nuh dilahirkan 20 tahun di zaman kerajaan Dawud, dan hidup sampai zaman nabi Yunus.
Menurut tarikh tentang umat-umat dan agamanya, maka bani Israil mengakui bahwa Luqm>an termasuk dari golongannya. Ia hidup dimasa nabi Daud as dan memilih diberi h}ikmah daripada kenabian. Sedangkan orang Yunani mengaku ia dari golongannya dan memanggilnya Isyub dari desa Amartum yang dilahirkan sesudah berdirinya kota Roma selang 200 tahun.
Adapun daerah asalnya menurut h}adith yang mu’tamad berasal dari Sudan. H}adith tersebut diriwayatkan oleh Ibn H}ibba>n dalam kitab D{u’afa>', dan Ibn ‘Asa>kir dari Ibn Aba>s ra berkata, nabi bersabda:
Ambillah dari sudan tiga hal di antara mereka adalah ahli surga yaitu Luqm>an H}aki>m, Naja>shi> dan Bila>l (muadzin).

H}adith diriwayatkan oleh Ibn Asa>kir dari Abd al-Rahma>n Bin Yazi>d dari Ja>bir ra berkata: nabi bersabda: pembesar sudan ada empat orang yaitu Luqm>an al-Habshi>, Raja Najashi>, Bila>l dan Muhaja’.

Mengenai makam Luqm>an menurut keterangan al-S{uyu>ti> berada di tanah Ramalah, yaitu nama tempat antara masjid Ramalah dan pasarnya, di mana terdapat makam tuju puluh nabi setelah Luqm>an. Dikatakan dalam kitab Fath} al-Rahma>n bahwa kuburan Luqm>an berada di daerah S}arfandi, yaitu daerah di luar kota Palestina yang terletak di antara Syam dan Mesir.
b) Apakah h}ikmah yang diberikan Allah kepada Luqm>an itu?
Secara etimologi, kata h}ikmah adalah bentuk mas}dar dari h}akam-yah}kum-h}ikmah. Menurut Ibn Manz}u>r Jama>l al-Di>n Muh}ammad Bin Mukrim al-Ans}ari bahwa: “al-H}aki>m adalah orang yang memiliki h}ikmah, sedangkan h}ikmah itu sendiri merupakan pengetahuan terdetail tentang sesuatu, dan dikatakan juga dengan istilah al-Haki>m bagi orang yang mengetahui secara detail tentang ciptaan dan diyakininya”.
Menurut Muhib al-Di>n Abi Faid} al-Sayyid Muh}ammad Murtad}a al-Ans}a>ri> dalam Ta>j al-‘Arush:
“al-H}ikmah semakna dengan adil dalam menghukumi sesuatu. Juga bermakna mengetahui secara yakin atas hakekat sesuatu, dan menerapkannya. Dengan demikian h}ikmah terbagi dua yaitu teoritis dan praktis. Dikatakan juga H}ikmah adalah potensi kekuatan akal dalam bidang keilmuan. Juga merupakan kesatuan kebenaran antara perkataan dan perbuatan, Maka h}ikmah dari Allah itu adalah mengetahui sesuatu dan mewujudkannya dalam realitas perbuatan (hukum), sehingga dimungkinkan manusia mengetahui hal ini dan melakukannya. H}ikmah juga bermakna bijaksana yaitu kontrol jiwa terhadap penguasaan emosional. Dan juga bermakna taat kepada Allah, pemahaman terhadap agama, menjalankan agama, takut, perwira, benar, berfikir tetang perintah Allah dan menjalankan perintahnya” .

Menurut Ah}mad bin Muh}ammad al-Muqri> al-Fayu>mi>,
“al-H}ikmah bermakna kendali hewan, dinamakan demikian karena pengendalinya dapat mengendalikannya dari keliaran dan sejenisnya, dan kata “pemilik h}ikmah” artinya h}ikmah itu mencegah pemiliknya dari akhlak jelek”.

Melihat beberapa pengertian di atas, sebenarnya makna h}ikmah dari sisi bahasa memiliki kedekatan arti yaitu berdasar pada makna mengekang, karena orang yang memiliki h}ikmah mengekang dirinya dari perbuatan-perbuatan tercela sehingga menjadi kekasih Tuhan.
Secara terminologi, para ulama memiliki beberapa penafsiran tentang h}ikmah. Di antara nya pengertian h}ikmah yang diberikan oleh Muqa>til yang dinukil oleh Muh}ammad Fakhr al-Di>n Ibn al-‘Alla>mah D{iya’ al-Di>n al-Ra>zi>. Menurutnya “secara umum kata h}ikmah yang tertera dalam Al-Qur’a>n memiliki empat makna yaitu: nasehat-nasehat Al-Qur’a>n (al-Nisa>’: 114), pemahaman dan pengetahuan (Luqma>n: 12), kenabian (al-Nisa>’: 57) dan rahasia-rahasia al-Qur’a>n (al-Nah}l: 29)”.
Ibn Qayyim al-Jawziyah membagi h}ikmah dalam katagori teoritis (naz}ariyah) dan praktis (‘amaliyah).
Pertama:: h}ikmah teoritis ('ilmiyah atau naz}ariyah ).
“H}ikmah 'ilmiah atau Naz}ariyah adalah mengetahui hakekat sesuatu beserta hubungannya dengan sebab-sebab penciptaannya, dari sisi kadar dan syari’at. Kedua: H}ikmah praktis (‘amaliyah).Maksudnya adalah menempatkan sesuatu pada tempatnya, di mana bagian ini memiliki tiga tingkatan yaitu: memberikan sesuatu sesuai kebutuhannya dan tidak melampaui batas, tidak mendahului dan tidak mengakhirkan dari waktunya, jadi h}ikmah itu menjaga tiga hal di atas dari segala aspeknya”.

Muh}ammad ‘Abduh Menjelaskan;
“Ketika h}ikmah itu terbagi dalam teoritis dan praktis, untuk mencapainya –menurut Abduh- akal sebagai alatnya, karena akal dapat menimbang secara jujur terhadap fenomena yang tampak, sehingga dapat membedakan mana yang benar dan salah, maka ketika cakupan kebenaran muncul dengan jelas, hilanglah keragu-raguan. Jadi makna h}ikmah yang dikehendaki adalah pengetahuan yang benar, yang terpatri dalam jiwa, sehingga menguasai kehendak hati untuk bertindak dengan benar, dan jika perbuatan itu keluar dari pengetahuan yang benar, maka itulah amal saleh yang bermanfaat dan membawa kebahagiaan”.

Memperhatikan uraian Abduh tersebut, maka h}ikmah ada dalam obyek perkataan dan perbuatan. Jika manusia dengan akalnya dapat mencapai h}ikmah, maka artinya h}ikmah itu dapat diusahakan, dan bukan hanya pemberian dari Allah saja.
Lebih lanjut Abduh menjelaskan bahwa h}ikmah itu dalam katagori maqa>m yang dapat diusahakan hamba dengan alasan:
“Karena sesungguhnya Allah menjadikan kebaikan yang banyak dialam raya ini beserta h}ikmahnya, maka h}ikmah dan kebaikan itu tidak dapat terpisahkan sebagaimana tidak terpisahkannya antara akibat dan sebab. Maka h}ikmah itu adalah sangat ditunjang dengan akal yang sehat yang mandiri dalam menetapkan permasalahan keilmuan, dimana akal ini mendasarkan pada dalil (indikasi logis). Maka ketika akal menghukumi, lalu dimantapkan dalam hati, jadilah pengetahuan yang eksis (bertahan), dan setiap yang bijaksana pasti alim dan sealalu memancarkan kebaikan”.

Adapun penafsiran kata “h}ikmah” yang terkandung dalam QS. Luqm>an 12 menurut para mufassir adalah sebagai berikut:
Pemahaman, akal, benar dalam perkataan dari bukan kenabian (menurut Muja>hid), Akal, pengetahuan dan aplikasinya, dan benar dalam perbuatan, Pemahaman, dan akal, (menurut pendapat banyak ulama, dan juga bermakna kenabian), Benar dalam perkataan dan perbuatan, Pengetahuan, dan benar dalam perkara, dikatakan juga:Allah menjadikan sesuatu dalam hati menusia, lalu Allah menyinarinya sebagaimana menyinari penglihatan, maka ia dapat melihat yang memmberikan penglihatan, Perkataan yang dijadikan nasehat, diingdt-ingat dan difikirkan oleh manusia, Pemahaman, pengetahuan dan pengungkapan, Kesempurnaan jiwa manusia dengan mengambil ilmu teoritis sebagai landasan gerak menuju kesempurnaan perbuatan sesuai dengan kemampuannya [menurut definisi ulama], Akal, pemahaman dan kecerdasan dan bukan kenabian.

Demikian pula hikmah juga bermakna kesatuan kebenaran dalam lisan, pikiran dan perbuatan.Jika berkata dengan bijak, berfikir dengan bijak dan bertindak dengan bijak , oleh sebab itu, maka al-Ra>ghib berkata: h}ikmah adalah kebenaran dalam pengetahuan dan perbuatan, Upaya mengetahui hakekat sesuatu dengan benar penafsiran ulama, kumpulan keutamaan yang menjadikan pemiliknya menempatkan segala sesuatu pada tempatnya, Pengetahuan, amanat, juga bermakna cahaya dalam hati yang dapat melihat seperti mata, pengetahuan, pemahaman dan benar dalam perkataan dan prilaku, dan benar dalam perkataan, pemikiran dan perbuatan.
Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pengertian H}ikmah mencakup benar pada pengetahuan, pemahaman, perkataan, dan perbuatan sehingga menjadikan seseorang dapat mengendalikan dirinya dari perbuatan jahat, seraya menempatkan sesuatu pada tempatnya. H}ikmah tidak bermakna kenabian –sebagaimana ditafsirkan oleh sebagian ulama- sehingg Luqm>an bukan seorang nabi, namun seorang yang saleh dan bijaksana yang diberi h}ikmah oleh Allah.
Di samping h}ikmah terjadi karena pemberian Allah seperti pada diri Luqm>an, juga ada h}ikmah yang dapat diusahakan sendiri. Oleh karenanya h}ikmah dari sisi sumbernya ada dua macam; yaitu h}ikmah yang datang dari Allah dan h}ikmah yang diusahakan oleh manusia sendiri. Hal ini sejalan dengan penjelasan Bru>si>, menggolongkan h}ikmah dalam ha>l atau maqa>l.
“H}ikmah merupakan suatu keadaan [hal] atau ucapan [maqa>l] yang diberikan oleh Allah pada hambanya tanpa melalui usaha. Maka h}ikmah –menurutnya- pemberian dari Allah kepada para wali, seperti halnya wahyu hanya diberikan kepada nabi. Juga derajat kenabian tidak dapat diusahakan melainkan pemberian keutamaan dari Allah yang diberikan kepada hambanya yang dipilihnya. Demikian halnya h}ikmah tidak bisa diusahakan oleh manusia”.

Menurutnya, “firman Allah QS. Luqm>an 12 menetapkan bahwa h}ikmah adalah pemberian Allah tanpa ada usaha dari manusia, karenanya h}ikmah ini termasuk jenis perkataan (aqwa>l) dan bukan kondisi permanent (maqa>ma>t). Maka tegasnya h}ikmah merupakan keutamaan dari Allah yang diberikan kepada siapa yang dikehendaki, dan bukan hasil jerih payah fikiran manusia”.
Menurut al-S}abu>ni<;
“Keutamaan h}ikmah Luqm>an ada pada sikap bersukur kepada Allah jika أن dimaknakan dengan tafsiriyah (penjelasan). Dapat dikatakan pula bahwa sikap sukurnya itulah keutamaan h}ikmahnya. Maka sukur itu menjadi wajib dilakukan setelah mendapatkan h}ikmah. Jadi makna sukur dalam ayat tersebut adalah berarti “bersukurlah kepada Allah atas nikmat dan keutamaan h}ikmah yang diberikan kepadamu, sehingga kamu mengucapkan dengannya”.

Adapun wujud sukurnya itu –menurut al-S}auka>ni- berupa "ungkapan terima kasih kepada Allah atas nikmat-nikmatnya, dan taat atas segala perintahnya". Sukur –menurut al-Qa>simi>- juga "merupakan kata kunci untuk memperoleh kebahagiaan di dunia dan akherat, karena hamba mempergunakan semua nikmat Allah itu untuk mengabdi kepadanya."
Sejalan dengan keterangan itu, Ibn Katsi>r menegaskan: “Allah memerintahkan kepada Luqm>an untuk bersukur kepadanya atas pemberian-Nya yang agung, dan hanya khusus diberikan kepadanya di zamannya, bahkan tidak kepada nabi yang lain”. Semakna dengan ini –al-Baghda>di menambahkan- “bahwa sukur itu diperintahkan kepadanya karena h}ikmah yang telah dianugerahkan khusus pada dirinya”.
Tentang h}ikmah Luqm>an ini apakah hanya berupa sikap bersukur saja, atau mungkin dalam bentuk yang lain, maka Jauha>ri> dalam tafsirnya menjelaskan: “tidaklah sikap bersyukur Luqm>an itu satu-satunya indikasi dia memiliki h}ikmah. Tetapi disana masih banyak h}ikmah-h}ikmah lainnya, yaitu upaya dalam rangka sukur terhadap nikmat h}ikmah yang diberikan Allah kepadanya, sebagai realisasi h}ikmah tersebut, maka ia bersukur secara lisan dengan menasehati anak”.
Aplikasi sukur ini menurut al-Ma>wardi> meliputi empat hal; yaitu “pertama memuji/ mengucapkan sukur atas nikmat tersebut. Kedua tidak mendurhakai nikmat. Ketiga mengakui nikmat pada hakekatnya datang dari Allah. Keempat taat atas perintah”.
al-Nasafi> menegaskan: “sukurnya hati adalah jika ia mampu mencapai ma’rifah, sukurnya lisan dengan berterima kasih, sukurnya anggota badan dengan taat atas perintah, menyadari atas keterbatasan diri berarti telah ma’rifah terhadap diri sendiri”. Hal ini dikuatkan oleh pendapt al –Mara>ghi>, yang menegaskan bahwa “sukur adalah memuji Allah, benar dalam bertindak, cinta kebaikan, mengarahkan semua anggota badan dan menggunakan nikmat untuk kemanfaatan”.
Dari uraian di atas, maka pendapat yang mengatakan bahwa Luqma>n nabi tidak benar karena nabi dipilih dari kelompok yang terbaik dari kaumnya, padahal disebutkan Luqm>an berasal dari Sudan yang berkulit hitam. Jumhur ulama memperdebatkan bahwa ia bukan nabi, dan hanya ‘Ikrimah yang menyatakan ia seorang nabi, itupun kalau sanad ‘Ikrimah ini benar.
Perbedaan ulama tentang siapa sebenarnya Luqm>an ini menurut Jauha>ri> menunjukkan bahwa “h}ikmah itu ternyata tidak memihak tempat pada seseorang tertentu. Allah memerintahkan kepada kita untuk mengambil h}ikmah dari mana saja mendapatkannya, baik dari seorang budak ataupun merdeka, jelas nasabnya ataupun tidak, dahulu atau sekarang”. Jadi kesimpulannya –sependapat dengan al-Qa>simi- bahwa Luqm>an adalah seorang yang saleh, bijaksana, selalu menasehati anaknya yang kafir dengan mendidikkan materi akidah, shari>‘ah dan akhlak sehingga ia beriman.
13. Dan (Ingatlah) ketika Luqma>n Berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar".

Penafsiran:
a) Siapakah nama anaknya?
Sebagaimana diketahui dari ayat di atas, Luqm>an memiliki anak yang selalu dinasehati. Mengenai nama anaknya tersebut para mufassiri>n berbeda penafsiran seperti berikut:
"1. Masykam (pendapat al-Kalbi>). 2. An’am (pendapat al-Naqash).3. Ba>ba>n. 4. Ashkam. 5. Sala>m. 6. Sara>n. 7. Ashkar atau Shakir. 8. Tha>ra>n. 9. Ma>tha>n".

Melihat pendapat di atas, maka Luqm>an memiliki anak yang didik dengan baik. Menurut penulis dengan berpedoman pada pendapat yang lebih awal yakni al-Qurt}u>bi anak tersebut bernama Thara>n. Pada satu riwayat –sebagaimana dinukil al-Qurt}}u>bi>- dijelaskan pula bahwa Luqm>an menikah, lalu memiliki beberapa anak dan mereka mati, tetapi Luqm>an tidak menangisinya. Menurut Imam Qushairi>, “Luqm>an memiliki istri dan anak yang keduanya kafir, lalu ia selalu menasehatinya sehingga mereka masuk Islam”.
Mengenai urgensi kisah Luqma>n ini Sa’i>d Ha}wa menjelaskan,
“Kisah Luqm>an termuat dalam al-Qur’a>n dan sekaligus merupakan petunjuk dan rahmat bagi orang yang berbuat baik. Kisah ini menceritakan contoh ideal dari wasiat mutiara h}ikmah orang bijak. Hal ini merupakan bukti kuat bahwa qur’an sangat bijaksana karena menerangkan tentang mutiara h}ikmah, dan menjelaskan perintah serta larangan dengan metode wasiat dari orang bijaksana”.

Lebih lanjut H}awa menegaskan:
“Jika diperhatikan wasiat Luqm>an terhadap anaknya, menggambarkan idealitas kebijaksanaan Luqma>n dalam bentuk perintah dan larangan yang memuat ajaran berbuat baik terhadap manusia, berbuat baik terhadap kedua orang tua dan ajaran mengikuti jalan hidup orang mukmin. Demikian pula ayat-ayat itu menjelaskan bahwa berbuat baik yang termasuk ibadah ialah seperti berbuat baik kepada kedua orang tua, interaksi bersama ahli iman, mura>qabah dalam salat, amar ma’ru>f nahi mungkar, sabar, tawadlu’, tidak memalingkan pandangan dari manusia, dan meninggalkan berjalan dengan congkak. Demikian pula berjalan dengan bersahaja dan menahan suara keras dalam berbicara ini semua termasuk fenomena berbuat baik pada sesama. Ini semua termasuk inti dalam cerita Luqm>an”.

al-Qurt}ubi> menambahkan:
“Jika diperhatikan, ayat tersebut menekankan pentingnya nasehat (mauid}ah) terutama yang harus selalu dilakukan oleh orang tua untuk kebaikan anaknya. Nasehat ini dilakukan oleh Luqm>an terhadap anaknya berisi larangan berbuat syirik . Sekaligus ia menjelaskan karena syirik merupakan dosa yang teramat besar. Larangan ini dapat dikuatkan melalui dua pernyataan, pertama dimulai dengan melarang untuk syirik itu sendiri. Kedua, menjelaskan bahaya syirik termasuk dosa besar ‘’.

Pada pokoknya –menurut al-Alu>si- ”ayat tersebut merupakan ucapan Luqm>an (berdasarkan hadith Muslim) berfungsi menjelaskan alasan pelarangan syirik ”. Meskipun pada prinsipnya dimulai dari orang terdekat dalam keluarga; yaitu anaknya, -menurut al-Baghdadi-> namun ayat ini juga berimplikasi larangan syirik kepada masyarakat. Luqm>an juga menjelaskan bahaya syirik termasuk perbuatan zalim yang besar. Zalim karena menempatkan sesuatu tidak proporsional (yaitu menyetarakan sesuatu dengan Allah). Hal ini termasuk dosa besar karena menyetarakan antara sesuatu yang tidak memberi nikmat (patung dan berhala) dengan dzat Allah sang pemberi nikmat.
Oleh karenanya, Luqm>an berpesan, menasehati dan membimbing anaknya agar selalu menggunakan akalnya dalam memahami tuhan dan jangan mensekutukan-Nya dengan manusia, atau patung ataupun lainnya. Maka barang siapa menyamakan antara pencipta dan ciptaan-Nya, antara tuhan dan berhala, pastilah ia termasuk manusia terbodoh karena tidak mampu menggunakan logika dan sikap bijaksananya. Patutlah kemudian disebut kezaliman yang besar karenanya tergolong dengan binatang.
Ayat ini juga mewajibkan orang tua untuk selalu menasehati anaknya agar memperoleh kebaikan dan kemanfaatan, dan itulah tugas yang sangat mulia. Hal ini dilakukan Luqm>an kepada anaknya, yaitu dengan berpesan untuk melakukan kebaikan, menunjukan jalan yang benar dan berguna. Sementara Ia juga melarang perbuatan syirik merupakan induk kelupaan dan malapetaka, sekaligus perbuatan zalim terbesar. Tiada kezaliman melebihi ingkar kepada nikmat dan kebaikan Allah, sehingga mau menyekutukan-Nya dengan yang lain dalam hal pengabdian.
Sebab lain Luqm>an melarang anaknya syirik karena mengingatkan bahaya syirik yang dapat merusak ke-Islamannya. endapat lain mengatakan, Luqm>an melarang syirik anakya karena anaknya telah kafir. Luqm>an memulai wasiatnya dengan larangan syirik karena ini merupakan hal prinsip. enurut pendapat lainya, ia melarang syirik pada anaknya disebabkan anaknya telah musyrik. arangan syirik ini juga disebabkan oleh dua hal; pertama karena anaknya Luqm>an bertanya kepadanya tentang apakah Allah mengetahui sebuah biji yang dibuang didasar laut. Lalu Luqm>an menjawab dengan ayat ini ( pendapat al-Sa’di> ). Kedua,bagaimana pendapat Luqm>an tentang kejelekan yang dilakukan anaknya dan tidak diketahui siapapun, apakah Allah mengetahuinya? Lalu ia menjawab dengan ayat ini (pendapat Muqa>til).
Bertolak pada uraian di atas, maka jelaslah akan pentingnya permasalahan tauhid yang diprofilkan melalui pesan Luqm>an kepada anaknya, dan sekaligus memerintahkanya. Pesan mulia orang tua kepada anak ini terjadi karena sikap tulus orang tua yang bijaksana terhadap nasip masa depan anaknya. Inilah pesan secara emosional yang sangat menonjol, sehingga perlu dilakukan. Dalam nasehat itu terdapat hubungan kasih sayang antara orang tua dan anak. Atas dasar ini, maka pendidikan akidah lebih ditekankan melalui hubungan yang harmonis ini. Anak sangat memerlukan pesan secara kontinyu untuk menghadapi masa depannya. Generasi masa depan inilah yang perlu diberi arahan oleh orang tua dan generasi itu tidaklah dapat membalas kebaikannya.

14. Dan kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya Telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun, bersukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu, Hanya kepada-Kulah kembalimu.

Penafsiran:
a) “DanKami telah perintahkan kepada manusia (untuk berbuat baik) terhadap kedua orang tuanya”. Ayat ini menurut al-Ma>wardi> turun berkenaan dengan Sa’ad bin Abi Waqas. Dipermasalahkan pula, apakah dua ayat ini termasuk perkataan Luqm>an atau bukan, sebagaimana penjelasan dalam ayat sebelumnya.
b) “Ibunya yang Yang telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah lemah”. Menurut al-Ma>wardi> pada ayat ini terdapat tiga makna:
pertama; mengandungnya dalam keadaan berat bertambah berat (pendapat Ibn Abba>s). Kedua; semakin payah (pendapat Qata>dah). Ketiga; semakin lemah (pendapat H{asan dan Atha’). Penafsirannya berarti: pertama; lemahnya anak menambah lemahnya ibu (pendapat Mujahid). Kedua; lemahnya sperma ayah menambah lemahnya ovum ibu (pendapat Ibn Hajar). Ketiga; takberdayanya (proses kejadian) anak pada beberapa fase, yaitu ketika dalam keadaan sperma, segumpal darah, segumpal daging, bayi, menyusui dan disapih ( pendapat Abu Ka>mil). Keempat; lemahnya jasad untuk berkeinginan.
c) “serta menyapihnya (menyusuinya) Selama dua tahun”, yakni menyapih dari minum susu pada usia bayi dua tahun. al-Baghda>di> menambahkan, “ayat ini mengingatkan betapa beratnya penderitaan ibu ketika hamil sampai menyusui”. Di antara penderitaan ibu -menurut Muh}ammad Husein al-Taba>taba>i- disebutkan mulai ketika hamil, dan mendidiknya agar mau bersukur kepada kedua orang tua khususnya ibu.
d) “Maka bersukurlah kamu kepada-Ku dan kedua orang tuamu”, menurut al-S}abu>ni> yakni, “saya (Allah) perintahkan kepadanya (Luqm>an): bersukurlah pada tuhanmu atas nikmat iman dan ih}sa>n, dan bersukurlah kepada kedua orang tuamu atas nikmat pendidikan”. sukur kepada Allah –menurut al-Ma>wardi- “dilakukan dengan memuji (baca hamdalah), dan bersukur kepda kedua orang tua dengan berbuat baik dan silaturrahim. Qata>dah berkata: Allah memisahkan antara kewajiban anak terhadap Allah dan terhadap orang tuanya, seraya Allah berfirman; bersukurlah padaku dan pada orang tuamu”.
e) “hanya kepadakulah kembalimu”, yakni kepadakulah (Allah) kembali, maka orang yang berbuat baik pasti dibalas atas kebaikannya dan orang berbuat jelek atas kejelekannya. al-S}abu>ni menjelaskan, “Kewajiban bersukur dimulai kepada Allah, kemudian kepada kedua orang tua. yakni bersukurlah pada tuhanmu atas nikmat iman dan ih}sa>n, dan bersukurlah kepada kedua orang tuamu karena dengan nikmatku ia telah mendidikmu”.
Tentang hukum disejajarkannya kewajiban sukur kepada kedua orang tua dan kepada Allah –menurut Brusi>- “karena pada dasarnya kedua orang tua yang melahirkan manusia secara majazi, sedangkan secara hakiki wujud manusia dikarenakan anugerah dan kemuliaan dari Allah, maka bagi Allahlah hakekat bersukur atas segala nikmat, adapun bagi manusia bersukur dilakukan secara majazi”.
Bagaimana tata cara bersukur kepada Allah dan kedua orang tua sebagaimana dimaksud pada ayat 14 di atas? Brusi> menukil pendapat beberapa Ulama, “di antara nya dengan cara taat terhadap Allah, melakukan perbuatan yang diridlai seperti shalat, puasa dan sebagainya. Sedangkan sukur kepada kedua orang tua dengan cara silarahim dan berbuat baik kepadanya”.
Brusi juga mengutip Hadith yang diriwayatkan dari Ibn Uyainah: " Barang siapa salat wajib lima waktu, maka telah bersukur kepada Allah, dan siapa yang berdo’a untuk kedua orang tuanya setelah salat tersebut, maka telah bersukur kepadanya. Juga dikatakan: sukur yang sebenarnya kepada Allah dengan mengagungkan dan bertakbir, sedangkan sukur kepada kedua orang tua dengan belas kasihan dan menghormati”.
Secara umum kaedah sukur –menurut al-Qa>simi>- memiliki lima kaedah: “Patuhnya orang yang bersukur kepada yang disukuri, mencintainya, mengakui nikmatnya, memuji nikmatnya dan tidak menggunakan nikmat itu untuk hal yang dibencinya. Inilah lima prinsip bersukur, jika salah satunya tidak ada, maka belum sempurna sukurnya. Dan setiap orang yang membicarakan (melakukan) sukur, maka akan mendapat kemuliaannya”.
Al-T}abat}abai memberi ringkasan:“Bahwa wajib bersukur kepada kedua orang tua sama dengan wajibnya bersukur kepada Allah bahkan sukur kepada orang tua termasuk sukur kepada Allah sebagaimana dimaksud pada ayat ini. Bersukur kepada kedua orang tua merupakan ibadah kepada Allah, dan ibadah kepada Allah termasuk bersukur kepada-Nya”.
15. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, Maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, Kemudian Hanya kepada-Kulah kembalimu, Maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.

Penafsiran:
a) “Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku, sesungguhya tidak ada pengetahuan tentang itu, maka janganlah kamu turuti keduanya”.

Menurut al-Taba>tabai> ayat ini bermakna: “Jika mereka memaksamu terhadap apa yang kamu tidak ketahui hakekatnya yaitu berbuat syirik kepada-Ku, maka janganlah kamu taati dan jangan kamu mensekutukan-Ku. Maksudnya; karena hal yang harus disekutukan itu perkara tidak benar, tidak ada, tidak diketahui secara mutlak. Maka hal ini berarti; janganlah kamu sedikitpun mensekutukan-Ku atas apa yang kamu tidak ketahui”.

b) “dan bergaulah dengan keduanya selama di dunia ini dengan baik”.

Menurutnya yakni: “Wajib atas manusia memperlakukan kedua orang tua dengan baik dalam segala urusan dunia, dan bukan urusan agama atau sabi>l li Allah. Pergaulan ini harus dilakukan dengan baik, pergaulan yang umum, semisal menjaganya dengan kasih sayang, tidak keras dan kasar, meringankan tanggung jawabnya, karena menyadari, tidaklah hidup didunia ini kecuali hanya beberapa saat”. “dan bergaulah dengan keduanya selama di dunia ini dengan baik”, al-Suyu>t}i> memaknai dengan “jenguklah ketika sakit, antarkan jenazahnya, sedekahilah dari sebagian rizki yang diberikan oleh Allah kepadamu”.

c) dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, Kemudian Hanya kepada-Kulah kembalimu, Maka Kuberitakan kepadamu apa yang Telah kamu kerjakan.

Menurut al-Baghda>di>: “Pada ayat ini yang berbicara adalah Sa’ad bin Abi Waqa>s. Sedangkan yang dimaksud dengan “orang yang kembali kepada-Ku” pada ayat ini ialah Abu Bakar, dan rasulullah, serta orang yang mengikuti jalan rasul dan para sahabat”.
Taat kepada Allah hukumnya wajib, demikian pula taat kepada kedua orang tua, hanya saja menurut al-Mara>ghi> taat kepada Allah itu mutlak dan taat kepada kedua orang tua hukumnya sangat dianjurkan. Menurutnya:
Ketika taat kepada Allah itu dalam semua perintahnya hukumnya wajib, maka taat kepada kedua orang tua dalam setiap perintahnya selain syirik dan dosa hukumnya juga wajib. Hal ini makna firman Allah ”dan jika mereka memaksamu untuk mensekutukanku terhadap hal yang tidak kamu ketahui maka janganlah diikuti, dan pergaulilah dengan baik di dunia”. Hal ini juga berarti kamu wajib taat terhadap perintah kedua orang tua, sekalipun diperintah untuk berperang”. l-Baid}a>wi> memberi catatan bahwa ketaatan kepada kedua orang tua itu wajib, selain menuntut berbuat syirik.

Termasuk dalam pengertian yang dikemukakan al-Bayd}awi di atas, al-Qurt}ubi> menguraikan:
Ketaatan kepada kedua orang tua wajib selama tidak termasuk pada perintah dosa besar, dan melanggar kewajiban secara individu (fardlu ain). Ketaatan kepadanya berlaku untuk hal-hal yang diperbolehkan (mubah), dan tidak patut ditaati jika perintahnya bertentangan dengan hukum kesunahan, misalnya perintah jihad fardlu kifayah. Demikian halnya dengan kewajiban menjawab panggilan ibu ketika melakukan salat, padahal salat ini nanti masih mungkin untuk diulangi, namun sebab khawatir salatnya rusak, dan contoh lainya yang memperbolehkan memutus salat, tidak ada sebab lebih kuat daripada sebab ketaatan pada hal yang lebih dari hukum sunah. Dalam hal ini Imam Hasan memberi penjelasan: jika seseorang dilarang ibunya menghadiri makan malam karena merasa belas kasihan, maka perintah seperti ini tidak patut ditaati.

Al-Qurt}u>bi> menambahkan: ”Dan jika kedua orang tua memerintahkan berbuat syirik, maka tidak wajib ditaati. Ayat ini menunjukkan wajibnya menyambung silaturahim kepada kedua orang tua meskipun kafir dengan memberi harta jika fakir, berkata halus, dan mengajak kepada Islam secara lembut”.
Menurut al-T{abattaba’i ayat ini juga menunjukkan bahwa:
Manusia wajib bergaul dengan baik terhadap kedua orang tua dalam urusan duniawi, bukan urusan ukhrawi yang menyebabkan kafir. Bergaul itu ditunjukkan dengan sikap lemah lembut, menghindari kekerasan prilaku dan tutur kata, ikut meringankan beban/ tanggungan orang tua. Maka dapatlah dikatakan, pertama; inilah kewajiban bergaul dengan baik terhadap urusan dunia, bukan urusan yang mengarah pada kemungkaran agama. Kedua; dapat mengabaikan bergaul dengan baik untuk beberapa hari, jika mendapat kesulitan dalam berbakti kepadanya..

Menurut Qutb jika dicermati ayat ini dicermati maka mengandung perngertian bahwa:
wasiat Luqm>an ini memfokuskan ketaatan kepada Allah, dan mengingatkan bahwa taat kepada kedua orang tua bagian dari taat kepada Allah dan cerminan dari sifat ih}sa>n (berbuat baik kepada sesama). Ih}sa>n juga terlihat pada usaha kedua orang tua yang musrik, yang memerintahkan untuk berpaling dari agama, maka perintah ini tidak wahib ditaati, karena tidak ada ketaatan pada makhluk untuk berbuat ma’siat kepada kha>liq. Namun, hal ini tidak meyebabkan anak durhaka kepada kedua orang tua, namun tetap diwajibkan berbuat baik. Perbedan pandangan keagamaan antara anak dan orang tua, dalam Islam tidak menghalangi untuk tetap berbakti kepadanya, inilah toleransi Islam.

16. (Luqm>an berkata): "Hai anakku, Sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui.

Penafsiran:

Ayat ini menurut satu riwayat sebagaimana dinukil al-Bagda>di> merupakan akhir wasiat yang diucapkan oleh Luqm>an, lalu wafat. Lebih lanjut menurut al-Baghda>di>:
Sebab Luqm>an menasehati anaknya pada ayat ini ada dua alasan. “Pertama; anaknya Luqm>an bertanya kepadanya, bagaimana pendapatmu seandainya ada sebuah biji terletak di dasar laut, apakah Allah mengetahuinya? Lalu Luqm>an menjawab dengan ayat ini (pendapat Assa’di>). Kedua; anaknya bertanya kepadanya, wahai ayah, apakah Allah mengetahui kejelakan yang tidak diketahui oleh siapapun? Lalu ia menjawab dengan ayat ini (pendapat Muqa>til)”.

17. Hai anakku, Dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan Bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).

Penafsiran:
a) (Hai anakku, dirikanlah salat) untuk menyempurnakan dirimu, (dan perintahkanlah yang baik dan larangalah yang mungkar) untuk menyempurnakan masyarakatmu, (dan bersabarlah atas apa yang menimpamu) sebagai konsekwensi salat dan dakwahmu (yang demikian itu ) termasuk perintah yang kokoh dari Allah. (dan perintahkanlah yang baik) yakni perintahkanlah masyarakatmu untuk membersihkan dirinya secara optimal, sebagai kunci menuju kesuksesan hidup, (dan laranglah yang mungkar) yakni laranglah manusia dari berbuat maksiat terhadap Allah yang menyebabkan bencana dan siksa yang amat pedih di neraka jahanam, tempat terburuk untuk kembali, (dan bersabarlah atas apa yang menimpamu) semisal siksaan manusia terhadapmu karena kamu memerintahkan mereka untuk berbuat baik dan melarangnya berbuat mungkar.
Menurut hadith riwayat Abi Ha>tim dari Sa’i>d bin Ja>bir ra. tentang arti ayat (dan pertintahkanlah yang baik) yakni perintah tauhid, (dan laranglah yang mungkar) yakni syirik, (dan bersabarlah atas apa yang menimpamu) terhadap permasalahan mereka, misalanya jika kamu memerintah mereka berbuat kebaikan dan melarangnya dari kemungkaran, akibatnya kamu disakiti mereka , maka bersabarlah, (yang demikian) yakni kesabaran atas perilaku keras mereka terhadap amar ma’ru>f munkar yang kamu lakukan, (termasuk hal-hal yang diwajibkan oleh Allah). Yakni termasuk perkara yang benar dari perintah Allah.
Menurut Ibn Jari>r tentang ayat: “dan bersabarlah atas apa yang menimpamu dari amar ma’ru>f nahi mungkar” ia berkata:

b) Penafsiran “dan bersabarlah atas apa yang menimpamu dari amar ma’ru>f nahi mungkar” yakni bersabarlah atas sikap keras mereka jika kamu amar ma’ru>f munkar dan atas ujian yang menimpamu sehingga merisaukanmu, dari sini diketahui bahwa amar ma’ru>f munkar pasti rentan terhadap kekerasan dari masayarakat, sehingga menuntut sikap sabar.
Firman Allah ini mengandung dua pengertian, pertama; tentang kekerasan yang menimpamu akibat dari amar ma’ru>f nahi mungkar. Kedua; tentang musibah yang menimpa dirimu atau hartamu. (termasuk hal-hal yang diwajibkan oleh Allah), memiliki tiga pengertian, pertama; peritah-perintah Allah. Kedua; perkara pokok, dan ketiga; perkara nyata..

Menurut penjelasan Qutub:
Ayat ini memberi pemahaman bahwa Luqm>an memerintahkan anaknya untuk melakukan salat dengan benar karena salat merupakan tiang agama. Demikian juga memerintahkan amar ma’ru>f munkar yaitu dengan memerintahkan orang lain sekuat tenaga melakukan kebaikan dan meninggalkan kemungkaran dan berbuat dosa. Demikian pula memerintahkan anaknya untuk bersabar dan tahan uji dalam berdakwah, karena setiap da’i pasti menghadapi rintangan dan tantangan. Semua wasiat Luqm>an ini termasuk perintah wajib dalam upaya untuk mewujutkan kebaikan individu dan masyarakat.

18. Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.

Penafsiran:
a) “Janganlah engkau palingkan pipi (muka)mu terhadap manusia (karena kesombongan)”.

Menurut al-Ma>wardi> ada tiga dimensi tentang penafsiran ayat ini :
Pertama; berarti larangan sombong (Pendapat Ibn Abba>s). Kedua; kecondongan (pada manusia) (pendapat Mufad}al). Ketiga; berbicara dengan mencibirkan mulut (pendapat al-Yazi>di>). Kata “palingkan” mengandung arti sangat (muba>laghah). Ayat ini memiliki lima makna di antara nya; pertama, memalingkan wajah dari manusia karena takabbur (pendapat Ibn Jabir). Kedua; banyak bicara tanpa teliti (pendapat Ibrahim al-Nakha’i>). Ketiga; mencibirkan mulut ketika membicarakan orang lain dengan maksud menghina (pendapat Abu al-Jauza’). Keempat; berpaling dan meninggalkan dari orang disekitarnya (pendapat al-Rabi>’ Bin Anas).

b) “dan jangan berjalan di muka bumi, dengan sangat gembira”.
al-Ma>wardi memberi tiga pemaknaan, “Pertama; yakni larangan berjalan untuk maksiat, (pendapat al-D{aha>k). Kedua; larangan berjalan dengan congkak dan bangga (pendapat Ibn Jabir). Ketiga; larangan berjalan terlalu riang menampakkan telah mendapat nikmat (pendapat Ibn Shajarah)”.

c) “Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi bermegah-megahan”.

Menurut al-T}abat}abai> ayat ini berisi tiga pemahaman;
Pertama Allah tidak menyukai orang yang menyebut-nyebut kebaikannya (pendapat Abu Dharr). Kedua; orang yang sombong (pendapat Muja>hid). Ketiga; orang yang berjalan terlalu riang (pendapat Ibn Jabi>r). Kata “ sangat gembira” memiliki tiga dimensi; pertama; congkak. Kedua ; orang yang menyombongkan kedudukanya pada manusia. Ketiga ; orang yang menghitung-hitung apa yang telah diberikan, dan tidak bersukur terhadap apa yang diterima. Ayat ini artinya; janganlah memalingkan wajahmu dari manusia karena menyombongkan diri, dan janganlah berjalan dimuka bumi dengan menampakkan kesenangan yang berlebihan, karena Allah tidak menyukai orang yang sombong. Termasuk sombong ialah memamerkan kelebihnnya, melebih-lebihkan keagungannya..

19. Dan sederhanalah kamu dalam berjalandan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.

Penafsiran:

a) “Dan sederhanalah dalam perjalananmu”. Menurut al-Ma>wardi ayat ini memiliki lima pengertian, “Pertama; berarti merendahkan diri (pendapat Muja>hid). Kedua; ketika berjalan pandanglah kejalan (pendapat Ad}aha>k). Ketiga; bersegeralah dalam berjalan (pendapat Yazi>d bin Abi Habi>b). Keempat; jangan bergegas dalam berjalan (pendapat al-Nuqa>s). Kelima; jangan sombong dalam berjalan (pendapat Ibn Jabi>r)”.
b) “dan lunakkanlah suaramu”, yakni rendahkanlah suaramu. Kata “ suara” itu lebih keras dari kata “pembicaraan/khutbah”.
c) “sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara khimar)”, yakni seburuk-buruk suara (pendapat ‘Ikrimah). Menurut al-Ma>wardi> terdapat lima pengertian.“Pertama; suara terjelek (pendapat Ibn Jabi>r). Kedua: sejelek-jelek suara (pendapat ‘‘Ikrimah). Ketiga; suara yang terkeras (pendapat al-H{asan). Keempat; suara terjauh (pendapat al-Mubarrad)”.
Lebih lanjut al-Ma>wardi menjelaskan:
Suara khimar ini mewakili hewan yang disebutkan dengan maksud pertama; karena khimar paling jelek tubuh dan suaranya, dan bagi tradisi arab khimar digunakan untuk perumpamaan (jelek). Qata>dah menjelaskan; karena awal suaranya teriakan dan akhirnya rintihan. Kedua; karena ringkikan setiap binatang itu mengucapkan tasbih kecuali ringkikan khimar karena melihat syetan (pendapat Sufyan al-Tsauri>). Diriwayatkan oleh Basyar bin Haris bahwa ringkikan khimar lebih baik dari orang musyrik, karena orang musyrik pada zaman jahiliyah bersuara keras dan berbangga diri dengan suaranya itu, karena yang paling lantang bersuara dialah yang paling mulia, dan siapa yang lemah suaranya maka paling hina. Maka Allah berfirman; sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara khimar”.

Read More.. Read more...

Tafsir Tematik: Interaksi Ya’qub as dan saudara Yusuf as

الثلاثاء، ١٤ أبريل ٢٠٠٩

Tafsir Tematik: Interaksi Ya’qub as dan saudara Yusuf ast
Oleh : Miftahul Huda


Interaksi pendidikan yang dilakukan Ya’qu>b kepada saudara-saudara Yu>suf banyak sekali. Hal ini terjadi karena “konspirasi” saudara-saudara Yu>suf agar memperoleh perhatian Ya’qu>b melebihi perhatiannya kepada Yu>suf. Rasa iri hati kepada Yu>suf menyebabkan saudara-saudaranya bersekongkol untuk membunuhnya. Siasatpun dilakukan, mulai dari merayu Ya’qu>b agar mengizinkan Yu>suf diajak bermain, menipu ayahnya bukti baju yang berlumuran darah yang menandakan Yu>suf telah dimakan binatang buas sampai pada akhirnya Yu>suf dibuang ke sumur.
Interaksi Ya’qu>b dengan saudara Yu>suf ini sangat dialogis di mana masing-masing terlihat menggunakan pendekatan yang logis dengan bukti-bukti empiris. Pada akhirnya, Yu>suf menjadi solusi atas segala permasalahan keluarganya. Saudara-saudara Yu>suf menjadi sadar akan kesalahan yang dilakukannya dan orang tua Yu>sufpun menjadi kembali penglihatannya. Mereka semua bertemu dan berkumpul di kerajaan Yu>suf dan inilah bagian dari kebenaran ta’wil mimpi Yu>suf yang sudah terjadi di awal kisahnya.

1. Pendidikan Nabi Ya’qu>b terhadap saudara-sarudara Nabi Yu>suf
Pendidikan Ya’qu>b terhadap saudara-saudara Yu>suf ditemui dalam surat Yu>suf. Surat ini dinamakan surat Yu>suf karena titik berat dari isinya mengenai riwayat Nabi Yu>suf a.s. Riwayat tersebut salah satu di antara cerita-cerita ghaib yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad s.a.w. sebagai mukjizat bagi beliau, sedang beliau sebelum diturunkan surat ini tidak mengetahuinya. Bahkan dari cerita Yu>suf a.s. ini, Nabi Muhammad s.a.w. mengambil pelajaran-pelajaran yang banyak dan merupakan penghibur terhadap beliau dalam menjalankan tugasnya.
Pendidikan Ya’qu>b terhadap saudara Yu>suf pada dasarnya menekankan pentingnya kerukunan hidup antara sesama saudara dalam lingkungan rumah tanngga. Begitu pula keteladanan kepala rumah tangga untuk membagi perhatian dan kasih sayang kepada semua anggota kelurga secara adil merupakan kunci persatuan dan kebahagiaan dalam rumah tangga. Munculnya serangkaian kegiatan makar saudara-saudara Yu>suf diantaranya disebabkan oleh kesan Ya’qu>b yang mungkin “diskriminatif” dalam menerapkan kasih sayang. Setidaknya itulah yang dipahami oleh saudara Yu>suf sehingga menimbulkan konflik rumah tangga.
2. Ayat-ayat yang berhubungan dengan pendidikan Nabi Ya’qu>b terhadap saudara-saudara Nabi Yu>suf
Hampir seluruh surat Yu>suf bercerita tentang keluarga Ya’qu>b. Surat Yu>suf ini termasuk memuat cerita yang bernilai pendidikan luhur (ahsan al-qas}as}). Disebut demikian karena alur ceritanya sangat runtut dengan latar belakang permasalahan dan karakter pelaku yang jelas. Demikian pula diakhiri dengan pesan pelajaran yang bersifat solusi atas konflik yang muncul. Adapun interaksi pendidikan Ya’qu>b terhadap saudara-saudara Yu>suf ini tertera dalam surat Yu>suf ayat 12-14,17-18, 63-67, 81-87.

3. Penafsiran ayat
a) Interaksi pertama pada surat Yu>suf ayat 11-14
Aksi saudara-saudara Yu>suf merayu Ya’qu>b agar mengizinkan Yu>suf pergi bermain bersama mereka.
11. Mereka berkata: "Wahai ayah kami, apa sebabnya kamu tidak mempercayai kami terhadap Yu>suf, padahal Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang mengingini kebaikan baginya. 12. Biarkanlah dia pergi bersama kami besok pagi, agar dia (dapat) bersenang-senang dan (dapat) bermain-main, dan Sesungguhnya kami pasti menjaganya."

Dalam kisah pada ayat ini Allah mengingatkan beberapa bukti, hikmah, dalil dan nasehat. Diantaranya ayat ini mengingatkan rasa iri saudara-saudara Yu>suf terhadap kecintaan Ya’qu>b yang lebih banyak dicurahkan kepada Yu>suf dan saudara kandungnya Bunyamin. Sementara mereka tidak mendapatkannya, padahal mereka merasa lebih berhak mendapatka kasih sayang itu daripada Yu>suf dan Bunyamin karena jumlah mereka lebih banyak. Sampai suatu ketika mereka meminta kepada Ya’qu>b agar mengizinkan Yu>suf ikut bepergian bersama mereka menggembala dan bermain. Inilah siasat mereka untuk memperdayai Yu>suf yang tidak diketahui oleh Ya’qu>b.

Menurut para ahli tafsir, saudara-saudara Yu>suf berkata kepada Yu>suf; apakah kamu ingin keluar bersama kami untuk bermain dan berburu? Yu>suf menjawab, ya. Mereka berkata: mintalah izin kepada Ya’qu>b. Ia menjawab: ya, saya akan minta izin. Lalu mereka semua menghadap Ya’qu>b dan berkata: wahai ayahku, Yu>suf ingin ikut bersama kami. Ya’qu>b menjawab, wahai Yu>suf, apakah benar? Ya, jawab Yu>suf. Wahai ayahku, -kata Yu>suf- saya yakin saudara-saudaraku menyayangiku, maka izinkanlah saya pergi bersama mereka. Maka ketika sudah sampai di hutan mereka melaksanakan aksi makarnya dengan bersikap kasar dan memusuhi Yu>suf, bahkan memukulinya. Setelah itu, baru sadarlah Yu>suf akan kebengisan saudara-saudaranya sehingga Yu>suf merintih dan berkata: wahai Ya’qu>b, seandainya kamu mengerti perlakuan kasar saudara-saudaraku, niscaya pasti susah dan menangis. Wahai ayahku, alangkah cepatnya mereka lupa janjinya padamu untuk menjagaku. Lalu Yu>suf menangis denan keras.

Ya’qu>b mengkhawatirkan keselamatan Yu>suf jika pergi bersama saudara-saudaranya. Hal ini sebagai reaksi yang sifatnya menolak atas permohonan saudara-saudara Yu>suf.
13. Berkata Ya’qu>b: "Sesungguhnya kepergian kamu bersama Yu>suf amat menyedihkanku dan Aku khawatir kalau-kalau dia dimakan serigala, sedang kamu lengah dari padanya."

Atas rayuan saudara-saudara Yu>suf itu, Ya’qu>b menjawab: wahai anakku, berat sekali saya melepaskan Yu>suf walau hanya sesaat siang ini saja. Karena saya khawatir kamu asik bermain sementara itau datang serigala menerkam Yu>suf dan Yu>suf tidak mampu membela diri karena masih kecil, sementara kamu tidak menyadari kejadian itu.

Yakni, Ya’qu>b khawatir kalau misalnya nanti Yu>suf dimakan serigala, sementara mereka tidak menyadari. Bahkan kekhwatiran Ya’qu>b ini sungguh-sungguh, tidak saja perumpamaan. Karena tempat bermainnya adalah banyak binatang buasnya semisal serigala. Ketakutan Ya’qu>b terhadap serigala, bukan terhadap rencana pembunuhan Yu>suf, karena Ya’qu>b tidak mengetahui rencana itu. Seandainya Ya’qu>b mengetahui rencana itu, pastilah mengirim bersamanya orang yang dapat menjaganya.

Saudara-saudara Yu>suf balik mereaksi atas jawaban Ya’qu>b yang menolak permintaan mereka. Kali ini reaksi juga disertai dengan alasan yang logis.

14. Mereka berkata: "Jika ia benar-benar dimakan serigala, sedang kami golongan (yang kuat), Sesungguhnya kami kalau demikian adalah orang-orang yang merugi."
Mereka meyakinkan Ya’qu>b, seandainya dimakan serigala, kami dapat menolongnya, karena jumlah kami besar 10 orang. Jika benar hal itu terjadi (dimakan serigala dan kami tidak menyelamatkannya) pastilah kami termasuk orang yang merugi (pengecut, lemah, bodoh).

Firman Allah ” Jika ia benar-benar dimakan serigala, sedang kami golongan (yang kuat)”, yakni, kelompok yang besar pasti dapat menghalau serigala jika akan memangsa Yu>suf. Jika kami tidak dapat melakukan demikian, pastilah kami termasuk orang yang lemah. Dalam ayat ini disebutkan “dimakan serigala”, karena tiga alasan: pertama; karena Ya’qu>b bermimpi bahwa serigala menerkam Yu>suf (pendapat Abu S{a>lih} bin ‘Abba>s). Kedua; karena tempat mereka bermain banyak serigalanya (pendapat Muqa>til).Ketiga; Ya’qu>b menakut-nakuti saudara Yu>suf dengan serigala agar tidak jadi mengajaknya (pendapat al-Ma>wardi>).

b) Interaksi kedua pada surat Yu>suf ayat 17-18
Aksi saudara-saudara Yu>suf menipu Ya’qu>b, dengan mengatakan bahwa Yu>suf diterkam serigala disertai dengan bukti bajunya yang berlumuran darah.

17. Mereka berkata: "Wahai ayah kami, Sesungguhnya kami pergi berlomba-lomba dan kami tinggalkan Yu>suf di dekat barang-barang kami, lalu dia dimakan serigala; dan kamu sekali-kali tidak akan percaya kepada kami, sekalipun kami adalah orang-orang yang benar." 18. Mereka datang membawa baju gamisnya (yang berlumuran) dengan darah palsu.

Menurut penjelasan mufassir, mereka pulang ke rumah pada waktu tengah malam agar disangka alasannya logis (tidak terkesan bohong). Ketika Ya’qu>b mendengar mereka datang langsung menemuinya dan bertanya; wahai anakku apa yang terjadi pada waktu kamu menggembala. Mereka menjawab: tidak ada. Ya’qu>b bertanya: lalu apa yang terjadi, di mana Yu>suf? Mereka menjawab: wahai ayah kami, kami pergi berlomba-lombalalu kami meninggalkan Yu>suf didekat barang-barang kami. lalu dia dimakan serigala; Makna “berlomba-lomba” memiliki tiga arti; pertama: lomba memanah (pendapat Ibn ‘Abba>s dan Ibn Qutaybah), kedua: lomba lari (pendapat al-Sadi>), ketiga: lomba berburu binatang (pendapat Muqa>til). Firman Allah “dan kamu sekali-kali tidak akan percaya kepada kami, sekalipun kami adalah orang-orang yang benar”, memiliki dua makna; petama: jika kami memang berkata benar (pendapat Ibn Ish}a>q), kedua: meskipun kami benar, tetapi kamu tetap akan menuduh berbohong karena kecintaannmu terhadap Yu>suf (pendapat al-Zaja>j). Firman Allah “Mereka datang membawa baju gamisnya (yang berlumuran) dengan darah palsu”, menurut Ibn ‘Abba>s, mereka mengambil anak kambing (menurut riwayat Qata>dah biawak), kemudian disembelih dan membasahi baju Yu>suf dengan darahnya untuk selanjutnya membawa baju itu sebagai bukti kepada ayahnya, namun mereka lupa mengoyaknya. Kemudian Ya’qu>b berkata: kamu semua berbohong! Jika benar Yu>suf dimakan serigala pastilah bajunya terkoyak.

Sebagai reaksi atas tipuan saudara-saudara Yu>suf, Ya’qu>b sama sekali tidak mempercayainya apa yang diceritakan beserta buktinya.


18. Ya’qu>b berkata: "Sebenarnya dirimu sendirilah yang memandang baik perbuatan (yang buruk) itu; Maka kesabaran yang baik Itulah (kesabaranku). dan Allah sajalah yang dimohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan."

Menurut riwayat Ibn Abi> H{a>tim dan Abu al-Shaykh dari Qata>dah berkata: mereka menyembelih biawak, kemudian melumuri baju Yu>suf dengan darahnya. Kemudian Ya’qu>b mencurigai hal itu dan berkata: saya tidak melihat bekas taring dan kuku binatang buas pada baju ini. Alangkah jinaknya serigala yang memangsanya. Pada riwayat lainya disebutkan: Ya’qu>b meraih baju Yu>suf dan ditaruh dimukanya sambil menangisinya, sehingga mukanya berlumuran darah seraya berkata: sungguh! Saya tidak pernah melihat serigala yang lunak seperti hari ini yang dapt memangsa anakku tanpa dengan mengoyak bajunya. Kemudian Ya’qu>b terus menangis dan menjerit dan akhirnya pingsan. Melihat hal itu, saudara-saudara Yu>suf memanggilnya lalu menyiramnya dengan air, tetapi tetap diam. Pada saat itu Yahuza memegang tenggorokan Ya’qu>b, juga tidak ada tanda bernafas, seraya berkata: celaka kita! Kita sudah menelantarkan Yu>suf dan membunuh ayah kita. Kemudian setelah sadar Ya’qu>b berkata: "Sebenarnya dirimu sendirilah yang memandang baik perbuatan (yang buruk) itu...

c) Interaksi ketiga pada surat Yu>suf ayat 63-64
Aksi saudara-saudara Yu>suf untuk merayu Ya’qu>b agar mengizinkan saudara Yu>suf (Bunyamin) untuk jaminan mendapatkan gandum.
63. Maka tatkala mereka Telah kembali kepada ayah mereka (Ya’qu>b) mereka berkata: "Wahai ayah kami, kami tidak akan mendapat sukatan (gandum) lagi, (jika tidak membawa saudara kami), sebab itu biarkanlah saudara kami pergi bersama-sama kami supaya kami mendapat sukatan, dan Sesungguhnya kami benar benar akan menjaganya".

Diceritakan bahwa ketika mereka kembali kerumah lalu mereka memberi salam kepada Ya’qu>b dengan suara perlahan. Reaksi Ya’qu>b balik bertanya, wahai anakku, kenapa kamu mengucapkan salam dengan suara pelan? Di mana Sham’u>n, saya tidak mendengar suaranya? Mereka menjawab: wahai bapak kami, kami kembali dari raja agung yang tiada taranya ilmu, hikmah, ketengan, dan wibawanya. Seandainya ada kemiripan, raja itu justru mirip denganmu, tetapi justru raja itu tidak mempercayai kita lagi sehingga bapak mengirim bersama kami Bunyamin. Benyamin dapat membawa pesan surat darimu yang mengabarkan kesusahanmu, rambutmu yang sudah beruban dan penglihatanmu yang menjadi buta. Jika kami tidak membawa Bunyamin, maka kami tidak akan mendapatkan jatah makanan gandum lagi. Oleh karena itu kirimkan bersama kami Bunyamin, kami pasti menjaganya sampai nanti kembali lagi kepadamu.

Sebagai reaksi atas permohonan saudara-saudara Yu>suf, Ya’qu>b tidak mempercayainya untuk yang kedua kali.
64. Berkata Ya’qu>b: "Bagaimana Aku akan mempercayakannya (Bunyamin) kepadamu, kecuali seperti Aku Telah mempercayakan saudaranya (Yu>suf) kepada kamu dahulu?". Maka Allah adalah sebaik-baik Penjaga dan dia adalah Maha Penyanyang diantara para penyanyang.


Firman Allah “Berkata Ya’qu>b: "Bagaimana Aku akan mempercayakannya (Bunyamin) kepadamu” adalah berupa pertanyaan menyangkal dari Ya’qu>b. Artinya bahwa Ya’qu>b tidak mempercayainya sebagaimana dulu kejadiannya seperti Yu>suf. Kamu lagi-lagi mengatakan hal itu kedua kalinya, maka saya tidak mempercayaimu kamu dapat menjaganya. Aku hanya menyerahkan permasalahan ini kepada Allah karena Allahlah sebaik-baik penjaga dan di adalah Maha Penyayang di antara para penyayang. Saya berharap kepada Allah menjaga Bunyamin dan agar menghindarkan dari musibah kedua kali.

d) Interaksi keempat pada surat Yu>suf ayat 65-67
Aksi saudara-saudara Yu>suf agar Ya’qu>b mengizinkan Bunyamin pergi bersama mereka. Kali ini mereka meberi alasan yang logis, bahwa usahanya meminta gandum berhasil, bahkan ditambah lebih banyak.
65. Tatkala mereka membuka barang-barangnya, mereka menemukan kembali barang-barang (penukaran) mereka, dikembalikan kepada mereka. mereka berkata: "Wahai ayah kami apa lagi yang kita inginkan. Ini barang-barang kita dikembalikan kepada kita, dan kami akan dapat memberi makan keluarga kami, dan kami akan dapat memelihara saudara kami, dan kami akan mendapat tambahan sukatan (gandum) seberat beban seekor unta. itu adalah sukatan yang mudah (bagi raja Mesir)".

Menurut riwayat Abu Ja’far: ketika saudara-saudara Yu>suf membuka barang-barangnya yang dibawa dari Yu>suf di Mesir, mereka menemukan kembali barang-barang (penukaran) mereka seharga barang yang ditukarkannya. Mereka berkata: “wahai ayah kami apa lagi yang kita inginkan. Ini barang-barang kita dikembalikan kepada kita”. Yakni apa lagi yang kita inginkan? Barang-barang kami dikembalikan karena kebaikan mereka terhadap apa yang kita perbuat.

Firman Allah “itu sukatan yang mudah (bagi raja Mesir)” yakni sukatan yang sedikit tidak cukup bagi kami. Mereka menganggap sedikit sukatan itu, dan mengharapkan agar diperbolehkan kembali lagi sehingga mendapat sukatan yang lebih banyak dari raja Yu>suf. Ayat ini juga berarti menunjukkan pada sukatan yang dibawa oleh untunya yang menurut Ya’qu>b juga sedikit dan tidak cukup untuk keluarganya.


Reaksi Ya’qu>b menjadi kooperatif atas permohonan saudara-saudara Yu>suf yang telah mengemukakan alasannya itu. Hanya saja Ya’qu>b memberikan prasarat agar memberi jaminan dapat mengembalikan Bunyamin dengan selamat.
66. Ya’qu>b berkata: "Aku sekali-kali tidak akan melepaskannya (pergi) bersama-sama kamu, sebelum kamu memberikan kepadaku janji yang teguh atas nama Allah, bahwa kamu pasti akan membawanya kepadaku kembali, kecuali jika kamu dikepung musuh". tatkala mereka memberikan janji mereka, Maka Ya’qu>b berkata: "Allah adalah saksi terhadap apa yang kita ucapkan (ini)". 67. Dan Ya’qu>b berkata: "Hai anak-anakku janganlah kamu (bersama-sama) masuk dari satu pintu gerbang, dan masuklah dari pintu-pintu gerbang yang berlain-lain; namun demikian Aku tiada dapat melepaskan kamu barang sedikitpun dari pada (takdir) Allah. Keputusan menetapkan (sesuatu) hanyalah hak Allah; kepada-Nya-lah Aku bertawakkal dan hendaklah kepada-Nya saja orang-orang yang bertawakkal berserah diri".



Menurut Abu Ja’far firman Allah ini bermakna: Ya’qu>b berkata pada anak-anaknya; saya tidak akan mengirimkan Benyamin bersamamu ke raja Mesir (sebelum kamu memberikan kapadaku janji yang teguh atas nama Allah). Janji yang teguh ini maksudnya janji atau sumpah yang dapat dipercaya bahwa pasti akan membawanya kepadaku kembali (kecuali jika kamu dikepung musuh) sehingga kamu semua tidak berdaya membawanya kembali.


e) Interaksi kelima pada surat Yu>suf ayat 81-87
Aksi saudara-saudara Yu>suf menipu Ya’qu>b dengan mengatakan bahwa Bunyamin mencuri, sehingga ditahan oleh pihak Kerajaan Mesir. Hal ini disertai bukti agar bertanya kepada rombongan yang kebetulan bersama mereka.
81. Kembalilah kepada ayahmu dan Katakanlah: "Wahai ayah kami! Sesungguhnya anakmu Telah mencuri, dan kami Hanya menyaksikan apa yang kami ketahui, dan sekali-kali kami tidak dapat menjaga (mengetahui) barang yang ghaib. 82. Dan tanyalah (penduduk) negeri yang kami berada disitu, dan kafilah yang kami datang bersamanya, dan Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang benar".
Abu Ja’far meriwayatkan: ayat ini menjelaskan perkataan Robel kepada saudara-saudaranya ketika Yu>suf menahan Bunyamin karena pada karungnya terdapat piala raja yang sedang dicari-cari. Robel berkata: wahai saudara-saudaraku, pulanglanglah dan katakana pada Ya’qu>b bahwa Bunyamin telah mencuri (sehingga ditahan Yu>suf). Para ahli ta’wil berbeda pendapata tentang hal ini. Menurut Ibn H{umayd dari Salamah dari Ish}aq berpendapat: Benyamin mengatakan sesuai fakta yang dilihatnya bahwa telah terdapat piala raja pada karungnya. Benyamin menyatakan tidak akan pulang sebelum permasalahannya jelas sehingga memerintahkan saudaranya pulang dan menjelaskan permasalahan ini pada ayahnya. Bunyamin juga menyuruh mengatakan padanya bahwa “sekali-kali kami tidak dapat menjaga (mengetahui) barang yang ghaib”.

Pada ayat 82 tersebut ada dua permasalahan. Pertama: firman Allah “Dan tanyalah (penduduk) negeri yang kami berada disitu”, maksudnya mereka saudara-saudara Yu>suf memperkuat kesaksiannya terhadap apa yang terjadi pada Bunyamin, sehingga tidak dicurigai berkata bohong. Perkataan: “dan (tanyakan pada) kafilah yang kami datang bersamanya”, yakni kafilah dari penduduk Mesir yang bersama mereka pada saat itu. Firman Allah “dan Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang benar" menurut hukum fikih bahwa orang yang yakin akan kebenarannya akan selalu membelanya dan berusaha membuang jauh tuduhan-tudahan dari pihak lain yang tidak benar.


Sebagai reaksi atas tipuan itu, Ya’qu>b kembali tidak mempercayainya, bahkan semakin yakin Allah akan mengembalikan Bunyamin dan Yu>suf kepadanya. Hanyasaja kondisi Ya’qu>b semakin meprihatinkan karena sangat tertekan atas musibah itu, dan bahkan menjadi buta.
83. Ya’qu>b berkata: "Hanya dirimu sendirilah yang memandang baik perbuatan (yang buruk) itu. Maka kesabaran yang baik Itulah (kesabaranku). Mudah-mudahan Allah mendatangkan mereka semuanya kepadaku; Sesungguhnya Dia-lah yang Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana".84. Dan Ya’qu>b berpaling dari mereka (anak-anaknya) seraya berkata: "Aduhai duka citaku terhadap Yu>suf", dan kedua matanya menjadi putih Karena kesedihan dan dia adalah seorang yang menahan amarahnya (terhadap anak-anaknya).
Ya’qu>b berkata kepda saudara-saudara Yu>suf ketika datang membawa baju Yu>suf yang berlumuran darah “Hanya dirimu sendirilah yang memandang baik perbuatan (yang buruk) itu, Maka kesabaran yang baik Itulah (kesabaranku)”. Menurut riwayat Muhammad bin Ishaq kata-kata itu diucapkan Ya’qu>b untuk menolak membenarkan kata-kata saudara Yu>suf. Menurut penjelasan lainya perkataan itu diucapkan untuk memperkuat keraguan sebagimana ketika pertama kali ingin mengajak Yu>suf pergi. Atas kejadian ini Ya’qu>b mengharap kepada Allah jika memungkinkan agar mengembalikan ketiga anaknya yaitu: Yu>suf, bunyamin dan Robel yang berada di Mesir. Oleh karenanya Ya’qu>b berkata: “Mudah-mudahan Allah mendatangkan mereka semuanya kepadaku; Sesungguhnya Dia-lah yang Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana".

Ayat 84 mengandung tiga permsalahan: pertama; perkataan “Dan Ya’qu>b berpaling dari mereka (anak-anaknya)” yakni Ya’qu>b bertambah susah lagi dan berpaling dari mereka ketika mendengar kabar yang menimpa Bunyamin. Ya’qu>b juga merasa kasihan karean musibah baru yang menimpa Yu>suf seraya berkata: "Aduhai duka citaku terhadap Yu>suf" dan ketika itu hampir saja melupakan musibah yang menimpa bunyamin. Perkataan “dan kedua matanya menjadi putih Karena kesedihan” yakni Ya’qu>b tidak dapat melihat (buta) selama enam tahun (pendapat Muqa>til). Kedua: perkataan pada ayat ini menunjukkan bahwa tidak meskipun berpaling (iltifa>t) ketika dalam salat tidak batal, tetapi menunjukkan kurang sempurna. Ketiga: makna “ kesedihan Ya’qu>b yang mendalam” artinya ada tiga; pertama: Ya’qu>b ketika mengetahui Yu>suf masih hidup, maka sangat menkhawatirkan agamanya sehingga bertambah susah. Kedua: Ya’qu>b teringat, menyesali dan bertambah susah ketika membiarkan Yu>suf kecil pergi bersama saudara-saudaranya. Ketiga: Ya’qu>b bertambah susah karena saudara-saudara Yu>suf menelantarkannya. Kesusahan Ya’qu>b ini tidak sampai ditunjukkan berlebihan sehingga merobek-robek bajunya. Ayat Allah “dan dia adalah seorang yang menahan amarahnya (terhadap anak-anaknya)” maksudnya sangat mengendalikan diri mesipun memuncak amarahnya.

f) Interaksi keenam pada surat Yu>suf ayat 94-95
Aksi Ya’qu>b secara demonstratif meyakini bahwa Yu>suf masih hidup.
94. Tatkala kafilah itu Telah ke luar (dari negeri Mesir) Berkata ayah mereka: "Sesungguhnya Aku mencium bau Yu>suf, sekiranya kamu tidak menuduhku lemah akal (tentu kamu membenarkan aku)".
Perkataan “ Tatkala kafilah itu Telah ke luar (dari negeri Mesir)” yakni keluar dari singgasana Mesir menuju nergeri Kan’a>n maka “Berkata ayah mereka” yakni Ya’qu>b berkata kepada cucunya: "Sesungguhnya Aku mencium bau Yu>suf”. Dicertikan bahwa bau baju Yu>suf atas izin Allah sampai pada Ya’qu>b sebelum kafilah itu sendiri datang kepadanya. Menurut Muja>hid bahwa Ya’qu>b mencium bau Yu>suf tiga hari atau delapan hari (riwayat Ibn ‘Abba>s) sebelum datangnya kafilah. Padahal (menurut al-H{asan) jaraknya mencapai delapan farsakh. “Sekiranya kamu tidak menuduhku lemah akal (tentu kamu membenarkan aku)" yakni: jika kamu tidak menuduhku bodoh (riwayat Ibn ‘Abba>s), pikun (pendapat al-D{ah}a>k), sesat (pendapat Abu ‘Ubaydah) dan asal kata al-fanad adalah rusak.

Reaksi kontroversi muncul dari saudara-saudara Yu>suf atas keyakinan Ya’qu>b yang masih menyayangi dan meyakini Yu>suf masih hidup.
95. Keluarganya berkata: "Demi Allah, Sesungguhnya kamu masih dalam kekeliruanmu yang dahulu ".
“Keluarganya berkata” yakni cucu-cucnya “"Demi Allah, Sesungguhnya kamu masih dalam kekeliruanmu yang dahulu " yakni kekeliruanmu masih seperti dulu tidak logis kenapa mencintai dan mengingat-ingat Yu>suf terus, kerena menurut mereka Yu>suf telah mati.


g) Interaksi ketuju pada surat Yu>suf ayat 96
Aksi sebagian saudara Yu>suf mengusapkan baju Yu>suf di wajah Ya’qu>b sehingga dapat melihat kembali.
96. Tatkala Telah tiba pembawa kabar gembira itu, Maka diletakkannya baju gamis itu ke wajah Ya’qu>b, lalu kembalilah dia dapat Melihat.
Menurut riwayat Muja>hid yang membawa kabar gembira ini adalah Yahu>dha. Dia berkata pada saudara-saudaranya: saya dulu membawa berita yang menyusahkan (Yu>suf diterkam sertigala) kepada Ya’qu>b, maka biarkan aku sekarang membawa baju Yu>suf kepadanya sebagai berita yang menyenangkan. Menurut riwayat Ibn ‘Abba>s: yang membawa berita ini adalah Ma>lik bin Dha’r bersama-sama rombongan kafilah beronta untuk kemudian disampaikan pada Ya’qu>b, lalu bajunya diberikan padanya. Riwayat ini juga didasarkan pada sahabat Farqad berkata dimana Ya’qu>b mengambil baju itu kemudian menciuminya dan mengusapkan pada mukanya dan seketika itu Ya’qu>b kembali dapat melihat. Hal ini menunjukkan bahwa sudah menjadi tradisi jika manusia meyakini sesuatu ada barakahnya, maka mengusapkannya pada mukanya. Dikatakan pula: kenapa mengusapkan pada wajahnya, karena disitulah terdapat kedua mata. Dengan demikian maka kembalilah penglihatan Ya’qu>b seperti semula.

Sebagai reaksi atas kesangsian saudara-saudara Yu>suf, maka Ya’qu>b menegaskan bahwa pengetahuannya lebih luas daripada apa yang diketahuinya.
Berkata Ya’qu>b: "Tidakkah Aku katakan kepadamu, bahwa Aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tidak mengetahuinya".

“Berkata Ya’qu>b: Tidakkah Aku katakan kepadamu” yakni ketika berkata: saya mendapati bau Yu>suf dimana pembicaraan ini ditujukan kepada keluarganya dari Kan’a>n. Atau perkataannya kepada anak-anaknya yang berbunyi “ dan janganlah kamu putus asa dari rahmat Allah” dimana penafsirian yang teakhir inilah yang lebih tepat maknanya dengan ayat ini.

h) Interaksi kedelapan pada surat Yu>suf ayat 97-98
Aksi saudara-saudara Yu>suf untuk merayu Ya’qu>b agar memaafkan atas segala kesalahannya yang telah diperbuat.
97. Mereka berkata: "Wahai ayah kami, mohonkanlah ampun bagi kami terhadap dosa-dosa kami, Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa)".

Pada ayat ini dijelaskan bahwa saudara-saudara Yu>suf meminta maaf kepada Ya’qu>b atas kesalahannya, dengan nada yang lembut dan rasa kasih sayang seraya berkata: "Wahai ayah kami, mohonkanlah ampun bagi kami terhadap dosa-dosa kami”. Disinilah dipahami bahwa mereka mengakui kesalahannya dan meminta maaf. Mereka seakan merasa yakin akan diampuni oleh Ya’qu>b, sehingga perlu meminta maaf. Mereka meminta kerendahan hati Ya’qu>b agar memaafkan, jika tidak memafkan pastilah mereka termasuk orang yang merugi karena menanggung dosanya, sehingga kepada siapa harus meminta maaf.

Ya’qu>b menerima permintan maaf saudara-saudara Yu>suf.
98. Ya’qu>b berkata: "Aku akan memohonkan ampun bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha penyayang".

Atas permintan maaf saudara-saudara Yu>suf itu maka Ya’qu>b menjawabnya “"Aku akan memohonkan ampun bagimu kepada Tuhanku, Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha penyayang". Ibn ‘Abba>s meriwayatkan hadith marfu>’: bahwa Ya’qu>b menangguhkan pemberian maafnya samapi waktu sahur, karena doa pada waktu itu dikabulkan. Dalam riwayat T{urmuzi> disebutkan bahwa Ya’qu>b menangguhkan sampai malam jum’at. Bahkan menurut Ibn Jabi>r ditangguhkan sampai waktu hari tanggal 13-15 bulan purnama karena doa pada saat itu dikabulkan. Menurut al-Sha’bi>, sampai Ya’qu>b meminta izin pada Yu>suf untuk memaafkan. Waktu pengampunan itu ditangguhkan untuk mengetahui kesungguhan mereka bertaubat.

4. Sabab nuzul ayat
Tidak dijumpai sabab nuzul yang menjelaskan interaksi pendidikan Ya’qu>b terhadap saudara-saudara Yu>suf. Sabab nuzul pada surat Yu>suf hanya terdapat dalam ayat 3 yang mana surat Yu>suf ini merupakan jawaban bagi permintaan sahabat kepada nabi agar nabi memberi cerita kepada mereka.
5. Kandungan ayat
Kandungan ayat 12-14,17-18, 63-67, 81-87 surat Yu>suf tersebut secara garis besar sebagai berikut:
f) Saudar-saudara Yu>suf iri terhadap perlakuan istimewa Ya’qu>b terhadap Yu>suf, sehingga mereka merasa diabaikan.
g) Saudara-saudara Yu>suf bersekongkol untuk membinasakan Yu>suf sehingga mereka menyusun serangkaian tipu daya.
h) Tipu daya dilakukan terhadap Ya’qu>b meliputi: membujuk agar Yu>suf boleh diajak berburu, membohonginya bahwa Yu>suf diterkam serigala, memasukkan dalam sumur, meminta Bunyamin ikut sebagai jaminan mendapat makanan, memaki perilaku Ya’qu>b yang masih meyakini Yu>suf hidup dan menyadari kesalahannya sehingga meminta ampun pada Ya’qu>b.
i) Ya’qu>b menuruti apa saja yang dimintakan saudara-saudara Yu>suf, mulai dari mengizinkan Yu>suf bersama mereka dan mengizinkan Bunyamin.
j) Ya’qu>b mempercayakan kepada Allah bahwa semua permasalahannya akan ada penyelesaiannya.
6. Analisa
a) Tujuan pendidikan
Interaksi intensif antara Ya’qu>b dengan saudara-saudara Yu>suf terjadi akibat penilaian mereka bahwa Ya’qu>b telah menginstimewakan Yu>suf dan Bunyamin. Sementara mereka merasa sebagai anggota keluarga yang lebih tua dan jumlahnya lebih banyak, namun tidak mendapatkan kasih sayang yang memadai. Akhirnya mereka merasa iri dan selanjutnya melahirkan serangkaian rencana untuk mencelakai Yu>suf, mulai dari diajak bermain hingga pada akhirnya dibuang ke sumur. Untuk menjalankan aksinya itu, mereka harus membujuk Ya’qu>b, bahkan tidak jarang melakukan kebohongan-kebohongann dengan disertai alasan-alasan yang logis dan bukti-bukti empiris.
Interaksi pendidikan Ya’qu>b terhadap saudara-saudara Yu>suf pada akhrinya bertujuan untuk menunjukkan bahwa tidak ada tindakan diskriminasi terhadap anak-anaknya (sebgaimana diasumsikan oleh saudara-saudara Yu>suf) dan utamanya untuk menghilangkan rasa iri hati saudara-saudara Yu>suf. Kalaulah Ya’qu>b lebih memperhatikan Yu>suf lebih disebabkan oleh tanggung jawab seorang ayah untuk melindunginya, karena ia masih kecil di antara anggota keluarganya. Disamping itu, karena Yu>suf telah menceritakan mimpinya, sehingga menambah kewaspadaan terhadap gangguan dari saudaranya. Ya’qu>b berkewajiban mengamankan kehidupan Yu>suf dari seluruh gangguan yang mengancam kehidupannya, karena kelak Yu>suf akan menjadi rasul Allah.
Berdasarkan data kajian di atas, setidaknya terjadi tuju kali proses interaksi antara Ya’qu>b dan saudara-saudara Yu>suf. Interaksi itu diawali dari aksi dan akhirnya menimbulkan reaksi baik dari pihak Ya’qu>b maupun saudara-saudara Yu>suf. Aksi yang datang dari saudara-saudara Yu>suf terhadap Ya’qu>b lebih dominan (terhitung tuju kali) daripada aksi yang didahului oleh Ya’qu>b. Dari masing-masing interaksi tersebut dapat disimpulkan tujuan sebagai berikut:
Interaksi pertama: dimulai dengan aksi saudara-saudara Yu>suf merayu Ya’qu>b agar mengizinkan Yu>suf pergi bermain bersama mereka. Sementara itu, Ya’qu>b mengkhawatirkan keselamatan Yu>suf bersama mereka. Oleh karenanya, kekhawatiran Ya’qu>b ini mengandung tujuan agar saudara-saudara Yu>suf belajar mengasuh dan bertanggung jawab terhadap keselamatan saudaranya Yu>suf. Interaksi kedua: Aksi saudara-saudara Yu>suf menipu Ya’qu>b, dengan mengatakan bahwa Yu>suf diterkam serigala disertai dengan bukti bajunya yang berlumuran darah. Sebagai reaksi atas tipuan saudara-saudara Yu>suf, Ya’qu>b sama sekali tidak mempercayainya apa yang diceritakan beserta buktinya. Reaksi Ya’qu>b ini bertujuan menyangkal kebenaran yang didakwakan saudara-saudara Yu>suf dan untuk menanamkan sifat kejujuran pada diri mereka. Interaksi ketiga: Aksi saudara-saudara Yu>suf untuk merayu Ya’qu>b agar mengizinkan saudara Yu>suf (Bunyamin) untuk jaminan mendapatkan gandum. Sebagai reaksi atas permohonan saudara-saudara Yu>suf, Ya’qu>b tidak mempercayainya untuk yang kedua kali. Tindakan Ya’qu>b ini bertujuan untuk menanamkan rasa amanah terhadap transaksi yang sudah dijanjikan. Interaksi keempat: Aksi saudara-saudara Yu>suf agar Ya’qu>b mengizinkan Bunyamin pergi bersama mereka. Kali ini mereka meberi alasan yang logis, bahwa usahanya meminta gandum berhasil, bahkan ditambah lebih banyak sehingga layak diberi kepercayaan membawa pergi Bunyamin. Reaksi Ya’qu>b menjadi kooperatif atas permohonan saudara-saudara Yu>suf yang telah mengemukakan alasannya itu. Hanya saja Ya’qu>b memberikan prasarat agar memberi jaminan dapat mengembalikan Bunyamin dengan selamat. Hal ini memberikan arti pendidikan loyalitas terhadap amanat yang telah diberikan.
Interaksi kelima: Aksi saudara-saudara Yu>suf menipu Ya’qu>b dengan mengatakan bahwa Bunyamin mencuri, sehingga ditahan oleh pihak Kerajaan Mesir. Sebagai reaksi atas tipuan itu, Ya’qu>b kembali tidak mempercayainya, bahkan semakin yakin Allah akan mengembalikan Bunyamin dan Yu>suf kepadanya. Hal ini menekankan pendidikan berlaku sabar. Interaksi keenam: Aksi Ya’qu>b secara demonstratif meyakini bahwa Yu>suf masih hidup. Reaksi kontroversi muncul dari saudara-saudara Yu>suf atas keyakinan Ya’qu>b yang masih menyayangi dan meyakini Yu>suf masih hidup. Aksi Ya’qu>b itu dimaksudkan untuk menanamkan nilai keimanan kepada Allah dimana orang yang benar pasti akan diselamatkan Allah. Interaksi ketuju: Aksi sebagian saudara Yu>suf mengusapkan baju Yu>suf di wajah Ya’qu>b, sehingga dapat melihat kembali. Sebagai reaksi atas kesangsian saudara-saudara Yu>suf, maka Ya’qu>b menegaskan bahwa pengetahuannya lebih luas daripada apa yang diketahuinya. Hal ini berarti menunjukkan bahwa pendidikan bertujuan untuk melatih pribadi berpegang teguh pada idealitas kebenaran. Interaksi kedelapan: Aksi saudara-saudara Yu>suf untuk merayu Ya’qu>b agar memaafkan atas segala kesalahannya yang telah diperbuat. Ya’qu>bpun menerima permintan maaf saudara-saudara Yu>suf. Pada interaksi terakhir ini jelaslah bahwa Ya’qu>b menekankan pentingnya pendidikan bertaubat atas segala kesalahan.
b) Materi pendidikan
Dalam perspektif materi pendidikan, maka interaksi pendidikan yang dilakukan Ya’qu>b terhadap saudara-saudar Yu>suf ini memiliki penekanan materi pendidikan sebagai berikut: 1) Pendidikan bertanggung jawab. Hal ini sebagaimana ditunjukkan dalam kisah di atas, bagaimana saudara-saudara Yu>suf harus bertanggung jawab atas keselamatan Yu>suf ketika mereka bermain dengannya. 2) Pendidikan kejujuran. Ya’qu>b tidak mempercayai sedikitpun tindakan bodoh saudara-saudara Yu>suf yang mengatakan bahwa Yu>suf telah diterkam serigala. Ya’qu>b menuntut kejujuran prilaku yang muncul dari hati nurani, bukan dari ambisi dan rasa iri. 3) Pendidikan amanat. Ya’qu>b menekankan kembali kepada saudara-saudara Yu>suf bagaimana seharusnya mengemban amanat dapat menjaga Bunyamin dengan selamat agar tidak terulang kasus seperti Yu>suf. 4) Pendidikan loyalitas. Ya’qu>b melatihkan bagaimana caranya memeliki kesetiaan terhadap janji yang sudah disepakati, berupa dapat memeberi jaminan atas keselamatan Bunyamin. Walupun pada akhirnya mereka juga melanggar loyalitas itu.
Meteri berikutnya, 5) Tentang pendidikan kesabaran. Ya’qu>b menujukkan bagaimana berlaku sabar atas musibah yang bertubi-tubi. Setelah kehilangan Yu>suf yang dicintai kemudian disusul dengan kehilangan Bunyamin. Meskipun secara fisik menderita, bahkan sampai buta, akan tetapi tetap memiliki ketabahan yang kokoh. 6) Pendidikan keimanan. Ya’qu>b meyakini sepenuhnya bahwa Allah akan menyelamatkan orang-orang yang berbuat benar. Hal ini ditunjukkan dengan meyakini bahwa Yu>suf masih hidup, sementara hal itu dibantah oleh saudara-saudara Yu>suf. 7) Pendidikan memperjuangkan idealitas kebenaran. Ya’qu>b berdiri kokoh pada prinsipnya bahwa pengetahuannya yang tidak dipahami oleh saudara-saudara Yu>suf lambat laun akan dipahaminya. Materi terakhir adalah 8) Pendidikan bertaubat. Hal ini sebagaimana ditunjukkan, bahwa saudara-sauara Yu>suf akhirnya meminta ampun pada Ya’qu>b dan Ya’qu>b ternyata mengampuni semua kesalahan-kesalahan yang diperbuat oleh saudara-saudara Yu>suf itu.
c) Karakter pendidik
Dalam interaksinya dengan saudara-saudara Yu>suf, Ya’qu>b memiliki beberapa karakter yang disesuaikan dengan kontek interaksi itu sendiri. Sejauh data yang diperoleh di atas, interaksi Ya’qu>b terhadap saudara-saudara Yu>suf terjadi selama delapan kali. Oleh karenanya, karakter Ya’qu>b dapat dipahami dari interaksi tersebut. Karakter interaksi itu sendiri lebih didominasi dengan bentuk dissasosiatif, yakni interaksi yang terjadi dilatar belakangi oleh faktor persaingan ataupun bahkan pertikaian. Baru dimensi assosiatif terlihat pada akhir kisah, yaitu ketika mereka merasa bersalah dan harus meminta maaf. Disinilah terlihat interaksi yang dilandasi atas kerjasama sehingga lebih bersifat akomodatif.
Pada intinya karakter Ya’qu>b disimpulkan sebagai berikut: 1) memberikan pengalaman belajar secara riil kepada anak didik. Anak didik diberi kesempatan untuk belajar nilai-nilai kehidupan meliputi sikap bertanggung jawab, jujur, amanah, loyal terhadap kebenaran, sabar, meningkatkan iman, semangat berjuang dan membangun kesadaran pribadi. 2) Akomodatif terhadap alasan anak didik. Meskipun interaksi Ya’qu>b dengan saudara Yu>suf banyak bersifat dissasosiatif, namun Ya’qu>b tetap menghormati alasan-alasan mereka, sehingga pada akhirnya tetap memenuhi permintaannya. 3) Berfikir logis dan menggunakan kepekaan hati nurani. Ya’qu>b tidak saja menerima semua alasan yang diajukan oleh saudara Yu>suf, namun tetap memiliki logika tersendiri dalam menyikapi berbagai masalah tersebut. Alur logika Ya’qu>b itu dipadu dengan kepekaan hati nuraninya yang tentunya memiliki keterkaitan dengan mu’jizat sebagai bentuk keistimewaan dari Allah atas rasulnya.
Karakter berikutnya, 4) Menerapkan sistem dialog sebagai saluran pendidikan. Hal ini sebagaimana diungkapkan di atas, dialog terjadi selama delapan kali dimana masing-masing menggunakan alasan-alasan empiris dan logis. 5) Memberlakukan anak didik sesuai dengan potensinya. Pada akhirnya, kecintaan terhadap Yu>suf dimaksudkan adalah untuk memberikan tindakan interaktif yang proporsional sesuai dengan tingkat potensi dan urgensi anak didik dalam kehidupan.

d) Etika anak didik
Sebagaimana karakter Ya’qu>b sebagai pendidik tergambar dari interaksinya dengan saudara-saudara Yu>suf, demikian pula etika anak didik dapat dipahami dari proses tersebut. Lebih tepatnya adalah menggambarkan karakter anak didik, karena tidak semua yang dilakukan saudara Yu>suf bersifat etis. Karakter-karakter saudara Yu>suf terbangun sedemikian rupa secara komunal akibat dari sikap Dissasosiatif yang berupa persaingan memperoleh kasih sayang Ya’qu>b. Rasa persaingan ini terjadi sebagai akumulasi dari rasa iri yang berujung pada serangkaian tindak kebohongan yang dilakukan kepada Ya’qu>b dimana ia menjadi pelindung utama Yu>suf dalam keluarga. Kebohongan itu dilakukan untuk mencelakai Yu>suf, sehingga kalau Yu>suf sudah tersingkir tidak ada lagi yang menjadi saingan untuk memperoleh kasih sayang Ya’qu>b.
Karakter iri hati yang melahirkan persaingan atau bahkan pertikaian itu dilakukan atas pertimbangan yang logis dan empiris. Karakter logis dan empiris ini terlihat pada mayoritas tindakan kebohongan yang dilancarkan terhadap Ya’qu>b. Mereka merayu Ya’qu>b agar mengizinkan Yu>suf pergi bersamanya dengan alasan bermain. Giliranya pulang kepada Ya’qu>b, mereka memperdayainya dengan mengatakan bahwa Yu>suf diterkam serigala disertai bukti bajunya yang dilumuri darah. Berikutnya, mereka meminta Bunyamin pergi bersamanya sebagai jaminan mendapatkan gandum. Lagi-lagi waktu pulang, Ya’qu>b dikejutkan dengan berita bohongnya yang mengatakan bahwa Bunyamin telah mencuri sehingga harus ditahan oleh pihak kerajaan Mesir.
Dari uraian tersebut terlihat bahwa karakter saudara-saudara yusuf dilandasi atas rasa iri, melahirkan persaingan dan akhirnya memaksakan pada tindakan kebohongan yang dibangun atas pertimbangan yang logis dan menyertakan data empiris. Karakter-karakter ini tentunya tidak ada unsur positifnya dalam perspektif anak didik. Hanya saja, ada satu etika yang perlu ditiru adalah munculnya sikap sadar diri atas segala tindak kebohongan yang telah dilakukan terhadap Ya’qu>b. Kesadaran akan keterbatasan diri tersebut muncul setelah mereka memperoleh sejumlah pengalaman belajar yang ternyata tindakan yang dilakukan selama itu tidaklah terpuji. Logika dan bukti empiris yang digunakan untuk mengelabuhi Ya’qu>b ternyata tidak mampu mematahkan kebenaran transendensi yang hakiki.

e) Metode pendidikan
Metode pendidikan Ya’qu>b atas saudara-saudara Yu>suf ini lebih bersifat dialogis-problematis dengan pendekatan logis dan empiris. Pengetahuan pendidikan dikomunikasikan melalui pemberian pengalaman langsung kepada anak didik. Pengetahuan tidak dipaksakan dari pendidik kepada anak didik secara otoriter, tetapi anak didik diberi kesempatan untuk memperoleh pengetahuan itu melalui dialog dengan realitas kehidupan. Dialogi pengetahuan pendidikan secara realistis ini berimbas pada muncul problem-problem krusial pada kasus saudara-saudara Yu>suf. Problem iri hati saudara-saudara Yu>suf atas perlakuan istimewa Ya’qu>b kepada Yu>suf mewakili inti permasalahan keluarga Ya’qu>b.
Kontek interaksi antara pendidik dan anak didik dalam rangka ingin mempengarui satu dengan lainya sama-sama menggunakan bangunan aksi yang logis dan empiris. Ya’qu>b berulang kali menggunakan logikanya untuk menyangkal bukti empiris yang diajukan saudara-saudara Yu>suf. Ketika mereka merayu Ya’qu>b agar Yu>suf diizinkan bermain dengan mereka dan mereka dapat menjaganya dengan alasan mereka adalah kelompok besar yang kuat, maka Ya’qu>bpun menyangkalnya. Alasan Ya’qu>b karena tempat yang dituju itu merupakan tempat yang banyak serigalanya (pendapat Muqa>til). Demikian pula Ya’qu>b menakut-nakuti saudara Yu>suf dengan serigala agar tidak jadi mengajaknya (pendapat al-Ma>wardi>).
Logika lainya ditunjukkan ketika mereka membawa baju Yu>suf yang berlumuran darah, Ya’qu>b mengkritiknya dengan alasan tidak ada bekas cabikan binatang buas. Kecurigaan Ya’qu>b ini sebagaimana diriwayatkan oleh Ibn Abi> H{a>tim dan Abu al-Shaykh dari Qata>dah berkata: mereka menyembelih biawak, kemudian melumuri baju Yu>suf dengan darahnya. Kemudian Ya’qu>b mencurigai perkataan mereka seraya berkata: saya tidak melihat bekas taring dan kuku binatang buas pada baju ini. Alangkah jinaknya serigala yang memangsanya. Demikian pula interaksi dialogis Ya’qu>b digunakan untuk menyerang permintaan mereka agar ia mengizinkan Bunyamin bersamanya. Ya’qu>b membangun alasannya atas fakta kecurangan mereka ketika dipercayakan mengajak Yu>suf. Bagaimana mungkin mempercayainya untuk yang kedua kalinya dengan melepaskan Bunyamin bersamanya.

Read More.. Read more...

  © Blogger template The Professional Template II by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP