Arabesque

الأحد، 20 ذو القعدة، 1430 هـ

Pada layar dari sebuah kamar di sepanjang atap presentasi menyoroti kemegahan peradaban Arab Islam, dan di kamar sebelahnya menampilkan produk-produk populer, buku dan karya seni yang menggambarkan bakat para penulis, senima dan produsen Arab. Di tempat lain sejumlah penulis Arab dan peneliti dari berbagai bidang berpartisipasi dalam seminar untuk membicarakan fenomena budaya kontemporer Arab dan menyoroti aspek produktif lainnya dalam percaturan era kekinian.

Itulah cara utama gelar budaya oleh Kennedy Center di Washington DC, selama hampir satu bulan di bawah judul "Arabesque" (seni Arab) sebagaimana di tulis oleh Sa’ad Albazighi dalam koran Alriyadh 18-03-2009. Acara tersebut melibatkan beberapa nama-nama penting dari perkumpulan penulis dan peneliti, baik mereka dari orang Arab yang hidup di negara asal atau ekspatriat seperti: Bennis Mohammed (Maroko), Gamal Al-Ghitani, Shunillah Ibrahim (Mesir), Qassim Haddad (Bahrain), Soueif (Mesir / Inggris), Feryal Ghazul (Irak / Mesir), Dhiyauddin al-Azzawi (Irak / Jerman), Khaled Al-Mutawa (Libiya/ USA). Tokoh-tokoh tersebut hanya beberapa nama yang datang memenuhi undangan dari Kennedy untuk Pusat Seni dan Budaya di Washington, dan kemudian menyadari bahwa jumlah total tamu -termasuk anggota band dan tim lainnya- adalah mencapai 800 undangan.


Semua kegiatan ini berlangsung didepan publik Amerika yang mana tanggapan mereka secara diam-diam menyatakan senang dan kadang-kadang berinteraksi dengan apa yang dia lihat dengan memberikan komentar ataupun pertanyaan. Di pintu masuk yang besar terpampang nama penyangga dana yang mendukung kegiatan yaitu dari negara Teluk Arab secara khusus. Bila dikaji lebih lanjut sangat mengjutkan karena para penyangga dana tersebut tidak lebih melibatkan tiga negara saja yang tidak memiliki kekuatan dalam tingkat foklor dan fashion.

Pada event itu tidak ada seorangpun yang datang dari Kuwait sebagai salah satu yang mendukung dan penyandang dana kegiatan tersebut. Padahal Kuwait telah malang melintang dan terlibat dalam berbagai event besar lainya di berbagai tingkatan. Alasan lainya yang mengejutkan adalah kurangnya totalitas dukungan, khususnya Arab Saudi, serta kurangnya dukungan dari Mesir yang mana sebagian besar peserta berasal darinya (Mesir). Hal tersbut dapat dengan mudah dimengerti bahwa Amerika yang meminta dukungan diselenggarakan acara tersebut ke negara-negara teluk, tetapi mereka menolak untuk menentukan kemasan jenis kegiatan, tema, dan para pesertanya.

Jelaslah titik persoalan yang paling penting ialah The Kennedy Center dan pusat-pusat budaya lainnya dari Amerika, seperti Lincoln Center di New York merupakan pusat kebudayaan unggulan dari sisi kemegahan bangunannya. Adapun dari sisi manajerial, kemasan kegiatan dan produknya sangat mengandung unsur politis yang populis. The Kennedy Center dibangun untuk memperingati memori Presiden John F. Kennedy yang diselenggarakan oleh sebuah dewan yang berpengalaman dan kompeten dan memiliki otonomi penuh dalam kegiatan mereka. Dengan demikian mereka dapat membiayai kegiatannya melalui sumber pendapatan otonomi dari para aktivis yang menyelengarakan event-event intrnasional ditempat itu yang memiliki nilai komersial tinggi. Sangat menarik bahwa kegiatan komersial yang digelar dalam kesempatan "Arabesque" adalah nama sebuah kebudayaan Arab yang diperkenalkan melalui kemasan media internasional.
Dari sini Arab dan budaya Islam dipamerkan dan dikenalkan keseluruh dunia dari media barat yang notabene sekular.

Tata kelola organisasi Amerika tersebut sangatlah komersialistik dan konsumeristik dalam memperkenalkan ”Arabesque” bahkan melebihi dari peran pusat kebudayaan Raja Fahd di Riyadh. Organisasi barat tersebut sebagai “pusat peradaban” telah memberikan andil universal dalam menggerakan multi budaya kehidupan sebagaimana pusat-pusat peradaban lainya di Amerika dan Eropa pada umumnya. Sikap obyektif dan proaktif dalam menyiarkan budaya semitis bukan alergi dan bahkan ancaman bagi peradaban mereka yang mana ciri-ciri seperti ini belum dimiliki oleh pusat organisasi Islam itu sendiri di ibukota kelahiran Islam sekalipun. Pusat peradaban Islam di ibukota kelahiran Islam ini sendiri bahkan tidak lebih dari bangunan mercusuar yang artistik tetapi apatis dan sunyi dari kegiatan fenomenal dan spektakuler dalam mengenalkan budaya Islam kedalam dunia internasional secara proaktif.

Merujuk ke Pusat Kebudayaan Raja Fahd dalam konteks pasokan aktivitas tidaklah membanggakan bila dibandingkan dengan pusat kebudayaan Barat. Dalam hal ini setidaknya corak pusat kebudayaan Amerika –sebagaimana diuraikan di atas- dapat memberikan inspirasi tata kelola organisasi, kinerja dan manajemen bagi pusat peradaban Islam dimana saja, khususnya di Saudi Arabia sebagai corong budaya Islam. Dalam kontek budaya dan akademik Amerika masih menjunjung nilai-nilai universal dan menghargai logika serta produk ilmiah lainya. Meskipun demikian perlu diwaspadai bias-bias politik sebagai ekses atas propaganda “Arabesque”.

0 komentar:

إرسال تعليق

Comment here

  © Blogger template The Professional Template II by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP