Amanah kepemimpinan

الخميس، 13 ربيع الآخر، 1430 هـ

Dalam memotori sejarah kebangsaan di nusantara, agama Islam dan umat Islam punya saham besar sebagai umat mayoritas, mulai dari Sabang sampai meraoke. Dalam era reformasi, sebagai episode ketiga sejarah bangsa setelah orla dan orba, agama muncul sebagai etika kebangsaan. Pada saat yang sama, dalam kehidupan masyarakat Indonesia, umat beragama mengharapkan nilai-nilai agama akan muncul kembali dengan format gerakan baru keagamaan sebagai panduan etika bangsa. Fokusnya mengarah pada pembentukan masyarakat madani ( civil society), dengan gambaran manusia-manusianya dan rakyatnya ber-Tuhan dan beradab, sejahtera, adil dan makmur dalam kemajuan kemanusiaan dan Iptek. Untuk itu, maka suatu kelaziman diperlukan pemimpin yang bermoral, amanah dan visioner.
Dalam kerangka ini, maka pemimpin agama (ulama) dalam kontek demokrasi Indonesia memiliki daya tawar yang tinggi untuk ikut ambil bagian dalam rangka mengisi kepemimpinan tertinggi negara ataupun sekedar menjadi dewan. Maka kehadiran pemimpin agama semakin meramaikan pesta demokrasi melalui ajang pemilu langsung yang pertama kali di bumi pertiwi ini. Seleksi kepemimpinan melalui ajang pemilu langsung seperti ini semakin meningkatkan daya saing yang sangat kompetitip antara berbagai kalangan nasionalis,agamis, reformis dll.
Dalam pandangan modern pada hakikatnya pemerintahan dibentuk untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat. Pemerintah tidaklah diadakan untuk melayani dirinya sendiri, tetapi untuk melayani masyarakat, menciptakan iklim yang kondusif bagi setiap anggota masyarakat dalam mengembangkan kemampuan dan kreativitasnya.
Pemerintahan modern yang demokratis yaitu suatu bentuk pemerintahan yang oleh dari dan untuk rakyat. Artinya, pemerintahan demokratis merupakan suatu pemerintahan yang masyarakatnya memiliki hak dan kesempatan untuk berpartisipasi. Masyarakatlah sesungguhnya yang memiliki otoritas atau kewenangan suatu pemerintahan.
Mayoritas pemeluk suatu agama dalam suatu daerah bukan jaminan dalam menciptakan iklim kondusif dalam pelaksanaan pembangunan. Maka Pendekatan yang dilakukan perlu menekankan pada hubungan antara manusia dan alam atau hubungan manusia dengan sesamanya, bukan hubungan antara penakluk dan yang ditaklukan atau antara tuan dengan hambanya, tetapi hubungan kebersamaan dalam ketundukan kepada Allah SWT. Kemampuan manusia dalam mengelola bukanlah akibat kekuatan yang dimilikinya, melainkan akibat anugerah Allah SWT.
Fokus garapan pemerintah nanti adalah membangun sistem pemerintahan yang amanah dalam kepemimpinan visioner.Membangun pemerintahan yang amanah dengan kepemimpinan visioner dimaksud, diharapkan seluruh aparat pemerintah, lembaga-lembaga sosial, organisasi politik, dan seluruh lapisan masyarakat (stakeholders) dapat berperan serta dalam membangun kotanya dengan dilandasi nilai-nilai religi sesuai perilaku Rasulullah saw. yaitu, siddiq yang artinya jujur atau benar, amanah artinya dapat dipercaya, tabligh, artinya komunikatif, dan fathanah artinya cerdas, berpengetahuan.
Oleh karena itu, konsep pembangunan dengan nuansa religi yang diimplementasikan dalam manajemen pemerintahan, diharapkan agar masyarakat dapat menikmati hasil-hasil pembangunan secara merata, dengan mendapat ridha dari Allah SWT. Dengan demikian, tidak ada kelompok masyarakat yang menikmati hasil pembangunan secara berlebihan dan di sisi lain tidak ada suatu kelompok masyarakat yang merasa kekurangan. Dengan kata lain dapat menekan terjadinya kesenjangan sosial dan ekonomi.
Tentu, pemerintahan yang amanah dengan konsep kepemimpinan visioner diimplementasikan melalui strategi bidang pemerintahan dengan penyelenggaraan pemerintahan yang responsif terhadap tuntutan masyarakat dan taat pada asas pertanggungjawaban publik. Kemudian di bidang ekonomi, membuka peluang untuk mengembangkan dan mengoptimalkan pendayagunaan potensi ekonomi, serta bidang sosial budaya dengan menciptakan dan memelihara harmonisasi sosial, nilai-nilai budaya yang dapat merespons dinamika kehidupan yang humanistis dan di bidang keagamaan melalui menumbuhkembangkan keyakinan, pelayanan, dan toleransi umat beragama.
Pemerintahan yang amanah, mengandung makna membawa pemerintahan yang dapat dipercaya untuk mengatasi krisis multi dimensi yang sedang dihadapi bangsa ini. Kata "amanah" berasal dari bahasa Alquran dan Alhadis, pada tataran implementasi syariah bobot paling besar terletak pada aspek muamalah, yaitu pengaturan tata hubungan manusia dengan manusia, menyangkut kepercayaan atau memercayakan sesuatu kepada yang lain.
Kemudian, konsep amanah memiliki pengertian setiap hal yang berkaitan dengan masalah tugas dan tanggung jawab atau hak dan kewajiban dapat dirujukkan kepada prinsip amanah sebagai nilai dasarnya. Amanah juga bisa dipakai prinsip kepemimpinan, dalam sejarah Nabi Muhammad saw. antara lain bahwa Rasulullah saw. memiliki empat ciri kepemimpinan sidiq, amanah, tabligh, dan fathanah.
Makna amanah yang akan menjadi konsep dasar dalam pemerintahan bisa disebutkan sebagai pertanggungjawaban dari seorang pemimimpin. Karena seorang yang diberi amanah (kepercayaan), pada dasarnya orang yang dapat dan mampu mempertanggungjawabkan tindakan atau perbuatannya.
Dengan demikian, pemerintahan yang amanah adalah pemerintahan yang dapat dipercaya dan bertanggung jawab atas masyarakatnya. Pada tataran implementasinya, diharapkan seluruh unsur pemimpin, aparat, lembaga sosial, organisasi politik, dan masyarakat senantiasa dapat mengamalkan nilai-nilai amanah dalam kehidupannya.
Memimpin bukan hanya mepengaruhi agar orang lain mengikuti apa yang diinginkannya, tetapi bagi seorang Muslim memimpin berarti meberikan arah dan pandangan jauh ke depan (visioner). Kepemimpinan visioner menampilkan diri sebagai teladan sesuai dengan amanah yang diterimanya.
Kepemimpinan visioner mampu melihat sesuatu di balik yang tampak, seakan-akan memiliki kacamata batin yang mampu melihat gambaran dirinya dan organisasi yang dipimpinnya ke masa depan, penuh dengan daya imajinasi, bertindak atas dasar nilai-nilai (value), dan terus membakar semangat dirinya (vitality), mencari informasi lebih banyak tentang orang lain atau stafnya untuk mengetahui nilai-nilai dan norma yang menjadi pegangan mereka. Pemimpin visioner akan memiliki kepribadian (character).
Membangun citra diri sebagai seorang yang dapat dipercaya (credible), sebagaimana Rasulullah saw. sebelum menerima amanah kerasulan-Nya, terlebih dahulu menempatkan dirinya dalam masyarakat sebagai seorang yang dapat dipercaya (Al-Amin). Tanpa kepercayaan atau credibility, niscaya seseorang tidak akan mampu memainkan perannya sebagai seorang pemimipin yang visioner.
Falsafah kepemimpinan
Doktrin agama mempercayai bahwa eksistensi suatu pemerintah / bangasa disangga oleh empat level komunitas mayarakat, dimana harus terjalin hubungan yang harmonis dalam rangka menjalankan fungsi, tugas dan tanggung jawabnya.
1. Ilmu agama islam (ilmuululama)
Ilmu terbukti memajukan peradaban manusia, memudahkan kehidupan dan menjadi cirri moderenisasi suatu bangsa. Namun kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi harus diberi ruh kekuatan ilmu agama sebagai kode etik moral agar kemajuan itu tidak lepas dari agama. Maka ilmu agama harus dijadikan motor / penggerak kemajuan bangsa dan menjadi tulang punggung moderenisasi.
2. Pemimpin yang adil (adlulumara)
Keadilan pemimpin yang dalam hal ini pemerintah adalah kunci kesejahteraan masyarakat. Pemerintah yang diskriminatip dalam menerapkan kebijakan dan keadilan, apalagi menerapkan KKN atau minimal terindikasi melakukan praktek KKN pasti mengakibatkan kesenjangan dengan masyarakat. Masyarakat telah dewasa, sehingga sangat peka dengan prilaku pemerintah yang menindas, mendholimi, mengingkari janji, membodohi dll, sehingga keadilan pemerintah ini perlu dicari melalui format pemilu yang jurdil dan pemimpin dengan karakteristik integritas islam dan berwawasan kebangsaan yang kuat sebagai solusinya.
3. Hartawan yang dermawan (sakhowatul aghniya)
perlunya jiwa sosialis yang tinggi bagi para hartawan, orang kaya, orang bermodal, dll. Jiwa sosial itu ditunjukkan dengan memberikan perhatian yang tinggi terhadap nasip para rakyat jelata atau kaum miskin. Betapa banyak masyarakta ini yang masih hidup dibawah kemiskinan yang perlu mendapat santunan ataupun prioritas pembangunan sosial ekonominya.
4. Dukungan masyarakat bawah (du’aul fuqoro)
hubungan pemeritah dan masyarakat harus menggambarkan mitra keseimbangan. Artinya mayoritas masyarakat yang tergolong masyarakat bawah ( miskin, pinggiran) memberikan dukungan sepenuhnya terhadap program pemerintah.
Menimbang Karakteristik Pemimpin
Selama ini masyarakat dalam konsep demokrasi memegang otoritas tertinggi sehingga tidak berlebihan muncul ungkapan suara rakyat suara tuhan, kekuasaan rakyat kekuasaan tuhan. Masyarakat dengan criteria ini memiliki sifat dasar diantaranya taat (loyal) dan dinamis. Seorang pengikut (masyarakat) haruslah patuh kepada pimpinannya. Setelah pemimpin dipilih lewat jalan pemilu maka wajiblah bagi pengikutnya (yang menang dan yang kalah untuk taat kepadanya, kecuali sang pemimpin telah melanggar ketentuan Allah dan membuat kerusakan). Dinami; seorang pengikut haruslah dinamis dan kritis dalam mengikuti kepemimpinan seseorang. Islam tidak mengajarkan suatu ketertundukan buta atau ikut-ikutan.
1. Jujur. Pemimpin haruslah jujur kepada dirinya sendiri dan pengikutnya. Seorang pemimpin yang jujur akan menjadi contoh terbaik (sejalan perkataan dengan perbuatan).
2. Amanah. Seorang pemimpin yang menjadikan otoritas kepemimpinan sebagai amanat maysarakat dan bukan atas kemenangan atau hadiah politik semata, sehingga berusaha menjadikan pemerintahannya dapat diperacaya dan terbukti membawa kemajuan bangsa.
3. Komunikatip. Pemimpin menjunjung tradisi dialogis terhadap masyarakat dan menghindari sikap elitis dengan mengembangkan budaya berkomunikasi dan mendengarkan aspirasi rakyat.
4. Cerdas, secara intelektual dan emosional. Ada pikiran-pikiran brilian untuk modal memerintah dan sekaligus kepekaan rasa dalam menghadapi kebutuhan masyarakat.
5. Kompeten. Seorang pemimpin haruslah orang yang memiliki kompetensi dalam bidangnya. Orang akan mengikuti seseorang jika ia benar-benar meyakini bahwa orang yang diikutinya benar-benar tahu apa yang sedang diperbuatnya.
6. Inspiratif. Seorang pengikut akan merasakan ‘aman’ jika pemimpinnya membawanya pada rasa nyaman dan menimbulkan rasa optismis seburuk apapun situasi yang sedang dihadapi.
7. Sabar. Seorang pemimpin haruslah sabar dalam menghadapi segala macam persoalan dan keterbatasan dan tidak bertindak tergesa-gesa dalam mengambil keputusan.
8. Rendah hati. Seorang pemimpin haruslah memiliki sikap rendah hati. Tidak suka menampakkan kelebihannya (riya) dan menjaga agar tidak merendahkan orang lain.
9. Musyawarah. Seorang pemimpin haruslah mencari jalan musyawarah untuk setiap persoalan.

0 komentar:

إرسال تعليق

Comment here

  © Blogger template The Professional Template II by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP