Bank data Artikel 5

الأربعاء، 26 ربيع الآخر، 1430 هـ

Struktur Insan dalam Al-Qur'an, Apa yang Tersentuh Oleh Psikologi Analitik, dan Status Kecerdasan Spiritual (SQ)

Zamzam A. Jamaluddin T. & Tri Boedi Hermawan

Paramartha International Center for Tashawwuf Studies (PICTS)

Abstrak

Terbatasnya pengetahuan para teoritikus kepribadian Barat tentang struktur internal manusia telah melahirkan banyak mazhab kepribadian. Kerangka keilmiahan telah membatasi mereka dalam proses analisis dan sintesis konsepsi kepribadian manusia seutuhnya. Carl Gustav Jung melakukan terobosan dalam membangun psikologi analitiknya, ia melibatkan data-data mitologi dan simbol-simbol agama ke dalam kerangka analisis ilmiahnya. Dalam alur ini, Kecerdasan Spiritual (SQ) dalam proses perumusannya tidak sekadar meninjau keparalelan antara produk saintifik Barat dengan fenomena mistik Timur, tapi tampak memaksakan melakukan interpretasi atas fenomena metafisik spiritual secara fisika dan sains neural, dan ini melahirkan sejumlah paradoks. Paper ini membahas tentang struktur internal manusia berdasarkan kerangka acuan Al-Qur'an, kemudian akan dilihat persoalan apa yang tersentuh oleh konsepsi individuasi Jung dan status SQ dalam peta ini.

1. Pendahuluan

Terumuskannya sejumlah teori kepribadian merupakan cermin dari upaya ilmiah manusia untuk memahami dirinya sendiri secara menyeluruh. Dewasa ini dikenal tiga teori utama yang satu dengan yang lainnya berbeda, yakni teori kepribadian Psikoanalisa (Freud), teori kepribadian Behaviorisme (Skinner), dan teori kepribadian Humanistik (Maslow)[1]. Istilah kepribadian (personality) memiliki banyak arti, ini disebabkan oleh adanya perbedaan dalam penyusunan teori, penelitian, dan pengukurannya. Di antara para psikolog belum ada kesepakatan tentang arti dan definisi "kepribadian", sehingga banyaknya definisi kepribadian sebanyak ahli yang mencoba merumuskannya. Melihat asal katanya, personality itu sendiri berasal dari kata latin persona yang berarti topeng.

Setiap penggagas kepribadian mengajukan asumsi-asumsi dasar tertentu tentang manusia, yang kemudian hipotesis-hipotesis tersebut mempengaruhi konstruksi dan isi dari teori kepribadian yang disusunnya. Abraham Harold Maslow (1908-1970) memperlihatkan komitmen yang tinggi terhadap anggapan dasar tentang manusia sebagai makhluk bebas, sementara Sigmund Freud (1856-1939) dan Burrhus Frederic Skinner (1904-1990) sebagai penganut determinisme berlawanan dengan Maslow, mereka berasumsi bahwa manusia bukanlah makhluk yang bebas melainkan organisme yang tingkah lakunya dideterminasi oleh sejumlah determinan.

Freud menyatakan bahwa determinan manusia berasal dari dalam diri manusia itu sendiri (faktor internal), sementara Skinner menyatakan bahwa faktor-faktor penentu tersebut berasal dari stimulus-stimulus eksternal. Maslow berpendapat bahwa manusia itu makhluk rasional, sementara Freud berpegang pada anggapan dasar bahwa manusia merupakan makhluk yang cenderung irasional, dimana sebagian besar dari tingkah laku manusia didorong oleh kekuatan-kekuatan irasional yang tidak disadari; Skinner dalam hal ini tidak begitu terikat pada hipotesis rasional-irasional.

Tentang motivasi, rumusan Freud bertumpu pada konsep homeostatis, yaitu suatu konsep yang diilhami oleh gagasan kesetimbangan (equilibrium) fisis Leibniz, ia menerangkan bahwa tingkah laku manusia terutama dimotivasi oleh upaya pengurangan tegangan-tegangan internal (memuncaknya energi naluri/insting dari id) yang terjadi akibat ketidakseimbangan fisis. Dalam hal ini Skinner berpendapat bahwa tingkah laku manusia tidak digerakkan oleh agen-agen internal yang disebut naluri, melainkan ditentukan oleh kekuatan-kekuatan eksternal. Freud dengan psikoanalisanya percaya bahwa misteri manusia akan bisa diungkap seluruhnya melalui upaya-upaya ilmiah, karena pada dasarnya tubuh manusia mengikuti hukum-hukum fisika; Skinner dan segenap behavioris memiliki anggapan yang sama dengan Freud. Berlawanan dengan pandangan di atas, Maslow sepaham dengan William James (1842-1910), seorang filsuf dan tokoh psikologi terkemuka Amerika, bahwa manusia tidak akan bisa diungkap sepenuhnya hanya melalui upaya-upaya ilmiah.

Pelibatan aspek ketaksadaran (unconsciousness) dalam psikoanalisa telah menarik minat Carl Gustav Jung (1875-1961) untuk bergabung dengan Freud. Mengikuti alur Freud, konstruksi dasar psikologi Jung juga sangat dipengaruhi oleh perkembangan sains dan filsafat Abad ke-19, seperti teori Evolusi Darwin, temuan-temuan arkeologis, dan studi komparatif tentang masyarakat dari budaya-budaya yang berbeda. Tetapi kemudian terjadi pertentangan mendasar antara kedua tokoh besar tersebut. Jung menolak penekanan Freud yang meletakkan dorongan seksual manusia di atas kebutuhannya terhadap makanan, kehidupan spiritual, atau pengalaman-pengalaman religius tertentu. Dia juga tidak sependapat dengan pandangan mekanistik Freud tentang dunia; bagi Jung, karekter manusia tidak hanya dikondisikan oleh apa-apa yang telah terjadi di masa lampau, tapi juga dipengaruhi oleh visi-visi masa depan. Adapun Freud tidak setuju dengan konsepsi Jung tentang collective unconscious, teori ini bertumpu pada pandangan phylogenetic tentang pengalaman-pengalaman masa lampau dari ras manusia yang diwariskan secara individual melalui memory traces.

Teori kepribadian Freud dan Jung mencakup seluruh aspek sadar dan tak sadar dalam diri manusia, untuk membedakan teorinya dengan psikoanalisa Freud, maka Jung menamai teori kepribadiannya dengan istilah psikologi analitik. Individuasi (realisasi diri) merupakan inti ajaran Jung, berkaitan dengan pergeseran titik pusat kesadaran dari ego ke self, dimana gagasan ini dibangun Jung secara transpersonal berdasarkan studi atas simbol-simbol mitologis dan simbol-simbol religius agama Barat maupun Timur. Dengan data-data tersebut, Jung berupaya mencari hubungan antara isi ketaksadaran dalam diri manusia di Barat dengan mite-mite dan ritus-ritus manusia primitif.

Dalam teori Jung, ketika konstruk ego yang terbangun mulai menyadari eksisnya sesuatu selain dirinya yang bersifat irasional, terjadilah konflik batin. Meningkatnya "entropi" psikis di ruang sadar akan direspon oleh permukaan subconscious, dan terjadilah aliran energi psikis (libido), yang arahnya ditentukan oleh prinsip ekivalensi "termodinamika". Respon dari 'lautan' ketaksadaran akan menampakkan diri di level sadar umumnya berbentuk simbol-simbol mandala, yang pada prinsipnya membawa pesan tentang arah dari tertib diri. Dalam praktek klinisnya, Jung melihat bahwa bagian tak-sadar bukan saja bersifat komplementasi (saling melengkapi), tetapi juga kompensasi (saling mengimbangi). Menurut Jung, proses individuasi ini disebabkan oleh potensi-potensi asli yang mengarah pada tujuan tertentu, menuju ke suatu keutuhan psikis yang lebih kokoh. Energi psikis yang terarah pada suatu tujuan tertentu yang bersifat "final" ini mirip dengan pandangan teleologi Aristoteles (384-322 SM), dimana ia menggunakan istilah entelecheia (en=dalam diri manusia; telos=tujuan; echein=memiliki) yang berarti: di dalam diri sendiri terdapat sesuatu yang harus dicapai[2].

Dalam proses individuasi Jung, yang dititikberatkan bukanlah ego melainkan self. Jika Jung menggunakan data-data kejiwaan dalam banyak agama, maka apa hakikat sebenarnya dari ego dan self ini dipandang dari konsepsi batiniah agama seutuhnya? Apa status menjadi pribadi seutuhnya atau menjadi diri sendiri tersebut dipandang dari kerangka agama itu sendiri?

2. Struktur Insan Dalam Pandangan Qur'aniyah

Peta kejiwaan dan mekanisme interaksi antar modus-modus jiwa, dalam kerangka psikologi yang dibangun secara ilmiah, tampak tidak jelas dan banyak menyisakan lubang-lubang di sana sini. Dalam literatur barat sendiri penggunaan istilah-istilah seperti soul, spirit, heart, mind, dan intellect sering campur aduk ketika mengidentifikasi persoalan-persoalan yang bersentuhan dengan konsepsi kejiwaan.

Istilah psycho sendiri yang dipakai dalam konstruk kata psikologi (psychology) berasal dari kata Yunani psyché (Ynch) yang artinya "nafas kehidupan", dalam mitologi Yunani digambarkan sebagai kupu-kupu. Dalam hal ini, kupu-kupu merupakan perlambang jiwa yang bebas terbang setelah menempa diri dengan "puasa", keluar dari bungkus kepompongnya. Dua sayap kupu-kupu yang membawa dirinya terbang meninggalkan "bumi" melambangkan dua akal, akal jiwa dan akal raga; dua akal tersebut eksis secara potensial di dalam tubuhnya saat ia sebagai "ulat", persoalan yang sama dalam representasi yang berbeda bisa dikaji dalam "Alegori Gua" Plato (428-347 SM)[3].

Dalam konsepsi pramodern, manusia dibagi atas tiga entitas, corpus, animus, dan spiritus[3]. Animus berasal dari bahasa Yunani anemos yang bermakna sesuatu yang hidup (bernafas) yang ditiupkan ke dalam corpus (wadah atau bungkus). Maka corpus adalah body (raga/jasad); dan spiritus adalah spirit (ruh); dan animus identik dengan psyche yang bermakna soul (jiwa/nafs). Dewasa ini istilah jiwa yang dipakai dalam psikologi telah mengalami penyempitan makna. Jiwa dalam terminologi psikologi modern lebih ke aspek psikis, dimana aspek psikis ini lebih merupakan riak gelombang permukaan di atas lautan dalam yang disebut jiwa. Fungsi ruh terhadap jiwa dan fungsi ruh terhadap jasad bisa dilihat dalam referensi[4].

Dalam terminologi Qur'aniyah, struktur manusia dirancang sesuai dengan tujuan penciptaan itu sendiri, dimana jiwa (soul) yang dalam istilah Al-Quran disebut nafs menjadi target pendidikan Ilahi. Istilah nafs didalam Islam sering dikacaukan dengan apa yang dalam bahasa Indonesia disebut hawa nafsu, padahal istilah hawa dalam konteks Qur'ani memiliki wujud dan hakekat tersendiri. Aspek hawa dalam diri manusia berpasangan dengan apa yang disebut sebagai syahwat. Sedangkan apa yang dimaksud dengan an-nafs amara bissu' dalam surat (Yusuf [12]: 53) adalah nafs (jiwa) yang belum dirahmati Allah SWT:

"Dan aku tidak membebaskan nafsku, sesungguhnya nafs itu cenderung mengarah kepada kejahatan, kecuali yang dirahmati oleh Rabb-ku."

Hawa merupakan kecenderungan kepada yang lebih bersifat non-material, yang berkaitan dengan eksistensi dan harga diri, persoalan-persoalan yang wujudnya lebih abstrak. Hawa merupakan entitas, produk persentuhan antara nafs dan jasad. Sedangkan syahwat merupakan kecenderungan manusia pada aspek-aspek material (AliImran [3]: 14), dan ini bersumber pada jasad insan yang wujudnya memang disusun berdasarkan unsur-unsur material bumi (air, tanah, udara, api).

Nafs manusia diuji bolak-balik di antara dua kutub, kutub jasmaniah yang berpusat di jasad dan kutub ruhaniyah yang berpusat di Ruh al-Quds. Ar-Ruh ini beserta tiupan dayanya (nafakh ruh) merupakan wujud yang nisbatnya ke Martabat Ilahi dan mengikuti hukum-hukum alam Jabarut. Aspek ruh ini (jamak arwah) tetap suci dan tidak tersentuh oleh kelemahan-kelemahan material dan dosa, spektrum ruh merupakan sumber dari segala yang maujud di alam syahadah ini—maka tak ada istilah tazkiyyatur-ruhiyyah atau mi'raj ruhani.

Al-Ghazali dalam Kitab Ajaaibul Qulub[5] jelas membedakan istilah-istilah seperti qalb (rasa jiwa, bukan rasa jasadiah/psikis), nafs, ruh, dan 'aql; dimana istilah-istilah ini dalam konsepsi psikologi modern tak terpetakan dengan tegas karena berada pada tataran jiwa yang bersifat malakut, atau secara psikologi analitik berada di ruang ketaksadaran.

Prinsipnya, apa yang disebut sebagai manusia sempurna (insan kamil) dalam terminologi Al-Qur'an, minimal manusia yang sudah memiliki struktur seperti tercantum dalam An-Nur [24]: 35, seorang Insan Ilahi. Manusia dikatakan sebagai khalifatullah (wakil Allah) di bumi jika ia telah mencapai state tersebut, ia membawa kuasa Allah dan bercitra Ar-Rahman.

"Allah cahaya petala langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya bagaikan sebuah misykat yang didalamnya terdapat pelita terang. Pelita tersebut di dalam kaca, kaca itu seolah kaukab yang berkilau dinyalakan oleh (minyak) dari pohon yang banyak berkahnya, pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur dan tidak pula di sebelah barat, yang minyaknya saja hampir-hampir menerangi walau tanpa disentuh api. Cahaya di atas cahaya, Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa-siapa yang Dia kehendaki, dan Allah membuat perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu".

Ayat tersebut mengisyaratkan tentang manusia, dimana di dalam jasad (misykat)-nya terdapat nafs (jiwa) yang qalb (zujajah)-nya bercahaya seperti bintang karena telah dinyalakan dari dalam dengan api Ruh al-Quds (misbah). Adapun misykat sifatnya kusam dan tak tembus pandang, sebagai perlambang jasad yang berasal dari alam mulk (ardhiyah), merupakan manifestasi terendah dari kehadiran Al-Haq dalam alam syahadah.

Bola kaca zujajah yang jernih tembus pandang melambangkan qalb, merupakan aspek rasa dari si nafs yang berasal dari alam malakut. Si nafs melakukan serangkaian proses tazkiyyatun-nafs (pensucian jiwa) sehingga jernihlah qalbnya dan tampaklah titik-apinya menyala di inti jiwa. Jika insan dapat mencapai state seperti digambarkan An-Nur [24]: 35, maka insan tersebut dinamai syuhada (saksi Allah sejati) karena telah berperan sebagai cahaya yang menampakkan khazanah Ilahi sebagai Harta Terpendam (Kanzun Makhfiyan)[6]. Ayat di atas menyatakan struktur target yang harus manusia capai walau sulit.

Rasulullah SAW menyinggung tentang eksistensi jiwa (nafs) yang qalbnya telah diperkuat oleh api Ruh al-Quds, sebagai berikut: Qalb itu ada empat macam, pertama, qalb yang bersih, di dalamnya terdapat pelita yang bersinar cemerlang, itulah qalb al-mu'min; kedua, qalb yang hitam terbalik, itulah qalb orang kafir; ketiga, qalb yang terbungkus dan terikat pada bungkusnya, itulah qalb orang yang munafik; dan keempat, qalb yang tercampur, di dalamnya terdapat iman dan nifaq.

Ruh al-Quds yang dilambangkan oleh pelita yang menyala di dalam qalb, merupakan utusan-Nya di dalam diri, yang membawa ketetapan-ketetapan hidup (amr) si nafs di dunia ini. Pengutusan rasul yang batin ke dalam inti dari nafs ini lebih dari sekedar simbol bahwa pengabdiannya diterima (diridhai). Ruh al-Quds merupakan juru nasehat si nafs dari dalam qalb, dan nafs yang telah diperkuat dengan ruh ini, selain disebut sebagai an-nafs an-natiqah (jiwa yang berkata-kata disebabkan adanya juru nasehat dari dalam qalbnya), juga disebut sebagai an-nafs al-muthmainah. Disebut muthmainnah karena si nafs tersebut telah stabil dalam orbit dirinya (qudrah diri/swadharma), di sini ruh tadi disebut pula sebagai sakinah (syekinah dalam bahasa Ibrani) yang diturunkan ke qalb yang memperoleh kemenangan (al-fath) amr.

"Dialah yang telah menurunkan as-sakinah ke dalam qalb orang-orang al-mu'min, agar keimanan mereka bertambah di samping keimanan yang telah ada" (Al-Fath [48]: 4).

"Apabila Allah menghendaki kebaikan (khairan) atas seorang hamba, maka diadakannya pemberi pelajaran dari qalb-nya" (Rasulullah SAW).

"Barang siapa memiliki juru-nasehat dari dalam qalbnya, berarti Allah telah memberi seorang penjaga (hafidh) atasnya" (Rasulullah SAW).

"Seandainya syaithan-syaithan tidak mengelilingi qalb anak Adam, niscaya mereka dapat melihat ke malakut langit" (Rasulullah SAW).

Qalb menjadi hitam dan terbalik jika ia mempertuhankan hawa nafsu, mengingkari dan mendustakan kebenaran (al-haq). Hati yang seperti ini akan memandang bagus atas segala yang mereka kerjakan, karena tertutup ilusi dan waham syaithan. Adapun qalb si munafik terikat pada bungkus jasadiyah, merupakan qalb yang terlalu mencintai dunia (terikat kepada syahwat jasmaniah); pandangan batinnya tertipu oleh nilai-nilai estetik fisik dengan tanpa melihat hakikatnya, maka ia bisa 'menjual' agamanya demi kesenangan sesaat.

Seperti telah diulas tadi, bahwa si nafslah yang menjadi fokus pendidikan Ilahi. Alam dunia ini bagi nafs sebenarnya hanya sebuah jenjang 'sekolah dasar', Rasulullah SAW berkata bahwa alam dunia ini hanyalah sebuah jembatan kecil yang menghubungkan dua alam besar, dan si nafs diuji dalam pengembaraannya di 'oase' ini; sementara ia harus menyelesaikan sejumlah jenjang 'sekolah lanjutan' lagi. Di alam dunia, jasad atau raga insan berperan sebagai kendaraan bagi si nafs untuk menemukan al-haq di bumi jagat ini sebagai pelajaran pertamanya. Si nafs harus mengembara di muka bumi hingga terbuka kepadanya malakut langit, atau hakikat dari segala yang wujud (khalq) di alam syahadah, dan hakikat dari setiap khalq adalah al-haq.

"Akan Kami perlihatkan ayat-ayat Kami di ufuk (semesta) dan di dalam nafs masing-masing, hingga jelaslah bagi mereka itu bahwa itu adalah al-haq" (Al-Fushshilat [41]: 53).

"Tiap segala sesuatu pasti binasa, kecuali Wajah-Nya" (Al-Qashash [28]: 88).

Sebelum memahami bahwa Dia ada di mana-mana dan Dia lebih dekat dari urat leher, maka si nafs harus melihat kepada aspek wajah-Nya berupa Al-Haq; ia harus melihat bahwa hakikat dari segala sesuatu di alam semesta, berupa ayat-ayat Kauniyyah, adalah al-haq; juga hakikat dari apa yang ada di dalam nafs-nya tak lain adalah al-haq yang mengalir dari Martabat Ilahi. Sebelum si nafs dimasukkan ke dalam kurungan jasad (corpus) janin di dalam rahim ibu, maka si nafs dipanggil terlebih dulu ke hadapan Allah SWT, katakanlah ini adalah status nafs ketika di alam Nur atau alam Alastu.

"Dan ketika Rabb-mu hendak mengeluarkan keturunan bani Adam dari sulbi mereka, dan Allah telah mengambil kesaksian atas nafs-nafs mereka, 'Bukankah Aku ini Rabb-mu?' mereka menjawab 'Benar! Kami menyaksikan' Agar di hari kiamat kamu tidak berkata: 'Sesungguhnya kami lengah (atas kesaksian) ini'" (Al-Araf [7]: 172).

Sebelum nafs diturunkan di alam dunia, maka dalam kesaksian ini qadha dan qadarnya ditetapkan terlebih dahulu: "amal-amal insan dikalungkan pada 'leher'nya" (Q.S Al-Isra' [17]:13). Ketetapan-ketetapan ini berupa misi hidup (swadharma) yang harus dimanifestasikan di muka bumi, ini merupakan amanah Allah yang telah digariskan sesuai dengan bakat langit si nafs (swabhawa), misi hidup setiap insan bersifat unik tidak ada yang sama satu dengan lainnya. Misi (dharma) si nafs harus ditemukan dan dijalankan di bumi ini, tidak ada perubahan dalam dharma si nafs, karena bakat langit (swabhawa) si nafs merupakan fitrah yang tidak berubah, dan sebagian besar manusia tidak mengetahui ketetapan dirinya karena qalb-nya terpendam dosa.

"Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada ad-Din. Fitrah Allah, yang Dia telah menciptakan manusia menurut fitrah ini, tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. Inilah ad-Diin yang teguh, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui" (Ar-Ruum [30]: 30).

Jika tanpa Rahmat Allah SWT, ketetapan-ketetapan Allah yang tertulis di dada si nafs tidak akan terbuka, dan ini merupakan rizqi batin manusia yang kuncinya ada di dalam nafs. Sementara untuk mencapai ini sulit karena harus menggeser pusat kesadaran dari ego ke nafs (self).

Dari alam Nuur, setelah 120 hari penyusunan janin bayi, maka nafs yang telah diamanahi qudratullah beserta ruh yang akan mengisi jasad si bayi diturunkan. Di sini si nafs berada dalam tiga kegelapan.

"Kemudian Dia menyempurnakan (janin), dan meniupkan kedalamnya ruh-Nya, dan Dia menjadikan bagimu, pendengaran, penglihatan, dan fu'ad, tapi sedikit di antara kamu yang bersyukur" (As-Sajdah [32]: 9).

"Dia menjadikan kamu dalam perut ibumu tahap demi tahap dalam tiga kegelapan" (Az-Zumar [39]: 6).

Bagi si nafs sewaktu masih di dalam rahim, kegelapan pertama adalah wadah jasadnya sendiri, lapis kegelapan kedua adalah jasad ibunya, dan kegelapan ketiga adalah penjara alam dunia yang bersifat material.

Maka ketika nafs dilahirkan via jasmani raganya ke alam dunia, nafs yang sudah terpenjara oleh tabiat-tabiat jasadnya kemudian harus bertumbukan pula dengan cakrawala dunia 'bawah'. Maka nafs yang berasal dari cahaya Ilahi (bersifat metafisika) fu'ad-nya menjadi cenderung senang untuk di-rule dan diracuni oleh tabiat-tabiat dan implikasi-implikasi hukum fisis.

Merujuk ke Al-Ghazali[5], dimana beliau menggunakan terminologi qalb sebagai modus nafs, bahwa nafs memiliki dua jenis tentara, tentara lahir dan tentara batin. Tentara lahir adalah jasad, khususnya indera-indera yang secara langsung mencerap alam syahadah. Perangkat jasadiyah ini merupakan delapan pasang aspek 'ternak' yang harus digembalakan; ingat bahwa jasad merupakan 'kuda' tunggangan bagi nafs yang terlebih dulu harus ditundukkan dan digembalakan.

"Dia menciptakan dari nafs wahidah, kemudian mengadakan darinya pasangannya, dan menurunkan bagimu delapan ternak yang berpasang-pasangan." (Az-Zumar [39]: 6).

Kedelapan aspek 'ternak' yang harus dikendalikan si nafs meliputi :

1. sepasang mata untuk penglihatan

2. sepasang telinga untuk pendengaran

3. sepasang lubang hidung untuk penciuman

4. sepasang tangan untuk memegang

5. sepasang kaki untuk berjalan

6. indera pengecap pada lidah yang dipasangkan dengan perut untuk syahwat makan dan minum.

7. pasangan fungsi mulut dan laring untuk bersuara dan berkata-kata

8. pasangan farji dan indera peraba untuk reproduksi

Setiap ternak (an'aam) pada prinsipnya memiliki delapan aspek di atas sebagaimana dimiliki manusia, yang difungsikan oleh aspek 'otak' yang secara fisis dibuat berpasangan pula. Hewan ini memiliki daya (nafas Ruh) yang menghidupkan tubuhnya, tapi mereka tidak memiliki nafs yang harus mempertanggungjawabkan perbuatan dirinya. Karena nafs manusia membawa fu'ad (mind, aspek akal jiwa), maka bagi manusia sepasang otaknya (yang wujud fisiknya tak berbeda dengan ternak) selain menjadi pusat syaraf untuk mengkoordinasi tubuh, juga menjadi pusat pikiran yang ini justru sering menjadi faktor utama yang membawa 'kejatuhan' manusia. Faktor pikiran ini (yang merupakan aspek permukaan dari fu'ad) yang akan secara efektif mengkonstruk apa yang secara psikologis disebut ego.

Apa yang disebut ego ini merupakan 'kepala', bagi apa yang disebut oleh Al-Ghazali sebagai tentara batin. Apa yang disebut dalam Al-Qur'an sebagai hawa (hawa nafsu) adalah keluar dari tentara batin ini; karena sifatnya plural, bersifat non-material, melekat pada nafs (seperti minyak di atas permukaan air), dan mengeluarkan hawa (kecenderungan-kecenderungan yang tidak sejalan dengan orbit jiwa), maka diberi istilah nufusul-hawiyyah.

Jika si nafs lumpuh karena dosa-dosa yang dimasukkan jasad lewat pintu-pintu indera dan pikiran, maka kepribadian insan dipegang oleh 'kepala' dari tentara batin: ego. Ego ini jika dikendalikan nafs sebenarnya merupakan perangkat yang sangat penting bagi nafs untuk menjalankan kodrat dirinya. Jika nafs disembuhkan dengan Rahmat Allah Ta'ala, maka pusat kesadaran dan kepribadian secara bertahap akan bergeser dari ego ke nafs; konstruk ego yang salah-bentuk akan segera diruntuhkan nafs untuk dikonstruk ulang menjadi bentuk baru yang lebih sesuai dengan kepentingan dharma si nafs. Karena entitas nufusul-hawiyyah ini berasal dari kekuatan amr yang dibawa si nafs yang menemukan padanannya di hissiyah jasadiyyah secara unik, maka rekonstruksi ego dari setiap manusia akan berbeda satu sama lain.

Ego dibentuk dan ditumbuhkan melalui fikiran oleh dua kekuatan, pertama persepsi inderawi yang bersifat syahwati, dan kedua oleh hawa nafs. Interaksi timbal balik dua kekuatan ini melalui link ego menjadi cenderung memperkuat satu sama lain dan membangun kompleks-kompleks sayyiah jiwa. Manusia digelapkan qalb-nya dan dilumpuhkan nafs-nya oleh dua perkara yaitu cinta dunia dan mempertuhankan hawa.

"Berkata ia,'Ya Rabbi, mengapa Engkau kumpulkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dulu (di dunia) adalah seorang yang melihat?'" (Thaha [20]: 125).

"Karena sesungguhnya bukanlah matanya yang buta tetapi qalb yang di dalam dada" (Al-Hajj [22]: 46).

"Yang demikian itu disebabkan oleh karena mereka mencintai kehidupan dunia di atas akhirat… Mereka itulah yang qalb, pendengaran, dan penglihatannya telah dikunci mati oleh Allah, dan mereka adalah orang-orang yang lalai" (An-Nahl [16]: 107-108).

"Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawanya sebagai tuhannya, maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya? Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami? Mereka itu tidak lain bagaikan ternak bahkan lebih tersesat jalannya" (Al-Furqaan [25]: 43-44).

"Dan barang siapa buta di dunia ini, maka di akhirat akan buta pula dan lebih tersesat jalannya" (Al-Isra [17]: 72).

Bila nafs dirahmati Allah Ta'ala, maka secara bertahap indera-indera batinnya mulai bangun dan menguat, karena hijab-hijab dosa di qalb-nya mulai tanggal. Si nafs yang telah tumbuh kuat akan segera melakukan proses penggembalaan dan pendidikan atas tentara lahir dan tentara batinnya.

"Dan adapun mereka yang takut akan maqam Rabb-nya dan menahan nafsnya dari hawa" (An-Naazi'at [79]: 40).

Jika ego tidak dikonstruksi-baru oleh nafs, maka akan menjadi pabrik penghasil sayyiah, dimana 'racun' hati ini secara efektif dapat mematikan qalb. Kesadaran, secara psikologis, berpusat di ego, sementara qalb dan nafs berada di bawah level kesadaran atau di ketaksadaran (unconsciousness).

Jika hijab kompleks dan sayyiah lenyap, maka ego akan mengorbit ke nafs dan memperluas bidang kesadaran. Ketika ego di bawah kontrol nafs maka kekuatan syahwat dan hawa akan berada di bawah kendali amr si nafs, dan ketika pusat kesadaran berpindah ke nafs maka nafs menjadi pusat kepribadian yang bersifat utuh mencakup baik level sadar maupun level tak sadar. Dengan berkiblatnya ego ke nafs maka seluruh indera jasad berada di bawah kontrol nafs dan qalb, disini inderawi dan pikiran memperoleh kekuatan tambahan berupa aspek ruhani yang berpusat di qalb, manusia menjadi berfikir dan ber-'aql dengan qalb-nya.

"Qalb bagaikan raja, jika shalih rajanya maka shalih pula tentara-tentaranya, dan jika jahat rajanya maka jahat pula tentara-tentaranya." (Rasulullah SAW)

Jika cahaya qalb tidak menyentuh ego dan pikiran, maka pada hakikatnya manusia belum mengenal qalb-nya apalagi memfungsikannya. Karena qalb tak berfungsi, maka manusia tersebut dikatakan belum memiliki qalb (buta hati) kecuali hati jasmaniahnya saja, dan hanya memiliki satu akal yaitu pikirannya saja.

"Mereka memiliki qalb tetapi tidak digunakan untuk memahami, mereka memiliki mata tetapi tidak digunakannya untuk melihat, dan mereka mempunyai telinga tetapi tidak digunakannya untuk mendengar, mereka seperti ternak bahkan lebih tersesat" (Al-A'raf [7]: 179).

Dengan transformasi akal dari ego ke lubb, maka kesadaran seseorang ditransformasi terus-menerus hingga menyentuh Lathifah Ilahiyah, sehingga qalb-nya "melihat" al-haq dimana-mana (Al-Fushshilat [41]: 53). Dalam dunia tashawwuf, hirarki 'uruj kesadaran batin mencakup tujuh proses

Jasad > Nafs > Qalb > 'Aql > Sirr > Ruh > Khafa > Akhfa

Dalam proses ini, tahapan insan untuk memenuhi struktur yang dituntut oleh An-Nuur [24]: 35 menjadi terlampaui. Ini adalah proses manusia untuk mengenal Rabb-nya, yang harus diawali dengan kesadaran atas keberadaan nafs dalam jasadnya sebagai jati diri yang sebenarnya.

"Barangsiapa mengenal nafsnya maka akan mengenal Rabb-nya."
(Rasulullah SAW)

Dengan bermujahadah pada proses tazkiyyatun-nafs maka instrumen mata dan telinga batin (nafs) akan mulai bangun secara bertahap. Seperti bangunnya akal jasadi pada bayi oleh tumbukan terus menerus citra alam dunia melalui indera mata dan telinganya, maka pengendalian mata dan telinga jasmani dari hal-hal yang diharamkan Allah Ta'ala akan mencergaskan kembali penglihatan dan pendengaran si nafs, dan dengan sehatnya dua indera batin tersebut akan mulai mengaktivasi akal jiwa (lubb). Manusia yang lubb-nya hidup dinamai sebagai Ulul-Albaab, dan hanya Ulul-Albaab yang bisa memahami kalimah Ilahiyah di alam semesta.

"Allah memberikan hikmah kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa diberi hikmah, sungguh ia telah diberi kebaikan yang banyak. Dan tidak ada yang dapat mengambil pelajarankecualiUlul-Albaab" (Al Baqarah [2]: 269).

Proses 'uruj tadi merupakan proses taubat, dimana makna taubat adalah perjalanan kembali menuju Allah, merupakan proses ditariknya si hamba mendekat kepada-Nya, dan ini akan melampaui semesta alam-alam, karena jarak antara si hamba dengan Dia adalah tak hingga. Dan tidak ada alam yang ia lampaui, kecuali lubb-nya akan menguasai urusan-urusan di alam tersebut. Siapa yang bertaubat (kembali kepada Allah) maka itu baru awal dari hidayah (pemberian petunjuk), dan siapa yang tidak mencari Allah (tidak bertaubat) maka mendzalimi dirinya sendiri.

"Dialah yang memperlihatkan kepadamu ayat-ayat-Nya dan menurunkan kepadamu rizki dari langit (jiwa). Dan tidak ada yang bisa mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang bertaubat(kembali)." (Al-Mu'min [40]: 13)

"Dan sesungguhnya Aku menjadi Maha Pengampun bagi mereka yang bertaubat, beriman, dan beramal shalih, kemudian atasnya petunjuk" (Thaha [20]: 82).

"Siapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang dzalim" (Al-Hujurat [49]: 11).

3. Apa Yang Tersentuh Oleh Psikologi Analitik

Seperti yang telah diulas tadi bahwa yang menarik dari psikologi analitik C.G. Jung terutama konsep individuasinya, suatu proses menjadi diri sendiri atau realisasi diri. Konsepsi ini dibangun Jung secara transpersonal dengan melibatkan khususnya simbol-simbol religius dari mitologi-mitologi kuno dan terutama agama-agama Timur.

Wajar Jung memperoleh inspirasi individuasi ini dari simbol-simbol agama karena tidak ada satu agama besar pun yang meluputkan aspek spiritual penemuan-diri. Aspek batin dari setiap agama dalam upaya mencari kebenaran sejati dan kedekatan dengan Sang Pencipta selalu melalui proses transformasi diri. Tidak ada satu kaum atau suatu peradaban pun, baik besar maupun kecil, kecuali diturunkan di situ rasul-rasul-Nya (Ibrahim [14]: 4), meski representasi ritualnya berbeda-beda tapi esensi dan tujuan sejati dari setiap agama yang diturunkan Dia selalu sama. Proses pengenalan kepada Tuhan selalu diawali dengan proses pengenalan-diri, bahkan tujuan pengetahuan itu sendiri adalah untuk mengenal-diri.

Beberapa agama (terutama Hindu dan Buddha) terkadang sangat menonjolkan proses transformasi kejiwaan ini, agama Kristen lebih menonjolkan oknum spiritualnya (Ruh al-Quds), dan agama Islam menonjol dalam implementasi dharma; singkatnya tidak ada satu agamapun (sepanjang berasal dari Sang Pencipta) kecuali membawa ajaran terpenting, yaitu amr penemuan-diri[7]. Agama-agama itu berhubungan satu dengan lainnya, dalam hal ini kitab-kitabnya, masing-masing memiliki peran yang berbeda dan saling berkompelemen satu sama lain dan membentuk suatu bangunan utuh; seperti diisyaratkan Nabi Muhammad SAW bahwa beliau merupakan batu-bata terakhir yang melengkapi dan menggenapi Ka'bah, sementara batu-bata yang lain dalam bangunan melambangkan Nabi-Nabi bagi umat-umat yang lain, agama telah tertutup dan Islam adalah agama terakhir sebagai penyempurna.

"Dan mereka yang beriman kepada (Kitab) yang telah diturunkan kepadamu dan kepada (kitab-kitab) yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan akhirat." (Al-Baqarah[2]:4)

Bagi Jung, kepribadian (personality) itu harus mencakup keseluruhan aspek sadar (consciousness) dan tak sadar (unconsciousness) yang ada di dalam diri manusia, maka jelas ego bukanlah perwakilan dari kepribadian total yang ia sebut sebagai psyche. Dalam psikologinya, ego merupakan pusat bidang kesadaran sekaligus subjek bidang kesadaran. Sebagai subjek, maka ia berfungsi aktif dalam menghubungkan isi-isi psikis sehingga dapat disadari. Seluruh pengalaman kita menyangkut dunia luar maupun dalam harus melalui ego agar disadari. Ego tidaklah mencakup seluruh bidang kesadaran, ego hanyalah 'titik referensi' bagi ruang tersebut. Jadi, ego merupakan bagian dari kepribadian dan bukan seluruh kepribadian.

Menurut Jung, manusia dilahirkan dengan membawa ketotalan (wholeness), atau dengan membawa potensi untuk menjadi total, dan tujuan akhir dari hidup setiap manusia adalah untuk mencapai kondisi optimal dari ketotalan:

Personality is the supreme realization of the innate idiosyncrasy of a living being, it is an act of high courage flung in the face of live, the absolute affirmation of all that constitutes the individual, the most successful adaptation to the universal conditions of existence coupled with the greatest possible freedom for self-determination.[8]

Jung mendefinisikan bahwa di dalam ruang ketaksadaran itu sendiri terdapat dua jenis ketaksadaran, pertama ketaksadaran pribadi (personal unconscious), dan kedua adalah ketaksadaran kolektif (collective unconscious).

Pengalaman-pengalaman yang ditekan (suppressed) atau berusaha dilupakan akan mengendap di personal unconscious. Di dalam personal unconscious, segala apa yang diendapkan tadi saling berinteraksi membentuk ide-ide baru, grup dari beberapa ide bisa meng-cluster bersama membentuk apa yang oleh Jung disebut kompleks (complex). Secara umum kompleks ini bersifat unconscious walaupun elemen-elemennya dapat menjadi conscious sewaktu-waktu.

Adapun collective unconscious merupakan konsepsi yang kontroversial. Ini merupakan cetak biru yang diwariskan bukan saja secara fisik (genetik) tapi juga secara psikis.

The collective unconscious is composed of primordial images (thought-forms or memory traces from our ancestral past) not only our human past but also our pre-human, animal ancestry. [8]

Apa yang diwariskan bukan berupa memori-memori atau ide-ide spesifik, tapi lebih ke prediposisi atau potensial-potensial dari ide-ide tertentu. Collective unconscious mengandung hampir sejumlah tak terbatas citra-citra (images), atau bentuk-bentuk pemikiran. Isi dari collective unconscious ini disebut Jung sebagai arketipe-arketipe (archetypes). Jung mengidentifikasi dan mendeskripsikan banyak arketipe, misalkan: ide kelahiran, ide kematian, ide kepahlawanan, ide iblis, ide Tuhan, ide orang bijak, ide binatang, dan sebagainya. Di antara banyak arketipe, yang terpenting dalam membentuk kepribadian dan tingkah laku adalah persona, anima dan animus (syzygy), shadow, dan self.

Kondisi fisik seseorang yang tidak sesuai dengan harapan syahwatnya sering mempengaruhi watak dan tingkah lakunya, sehingga membentuk kompleks baru yang secara bawah sadar men-drive ego-nya semakin menjauhi self. Psikoanalisa Freud banyak menganalisis dampak psikis dari persoalan ini. Bentuk fisik diturunkan secara genetik dan problem psikis yang sama bisa terulang kembali, dan seterusnya. Tampak terjadi interaksi dan konflik antara struktur internal yang masih gelap dalam psikologi dengan faktor eksternal yang terukur, perwatakan dan tingkah laku manusia yang terlihat lebih mencerminkan sisa-sisa perang di interface psikis atau di ego. Secara psikologis, minimal ada tiga faktor yang berinteraksi yang produknya tampak di aspek psikis, pertama faktor yang terkait fisik, kedua kondisi atau warna lingkungan eksternal, dan ketiga faktor internal. Meski dampak psikisnya terukur, oknum dari aspek psikis ini tampak lebih terletak di personal unconsious dan di batas antara sadar dan tak sadar.

Sebagai catatan, menurut Jung terdapat dua aspek penting kepribadian yang bekerja di level sadar (consiousness), attitudes dan functions. Attitudes, atau orientasi, secara umum terbagi dua, yaitu ekstraversi (extaversion) dan introversi (introversion). Orang yang bertipe ekstravert lebih dipengaruhi oleh dunia objektif, dunia di luar dirinya. Orientasinya tertuju ke luar, ditentukan oleh lingkungannya, baik lingkungan sosial maupun non-sosial. Sebaliknya, orang introvert lebih dipengaruhi oleh dunia subjektif, yaitu dunia di dalam dirinya sendiri. Orientasinya ditentukan oleh faktor-faktor subjektif. Menurut Jung, antara ekstraversi dan introversi terdapat hubungan yang saling mengimbangi (kompensatoris). Tentang functions ("fungsi jiwa"), Jung membagi empat, yaitu: thinking, feeling, sensing, dan intuiting.

Jika aspek genetik fisik itu diwariskan, apakah aspek psikis juga diwariskan? Apakah aspek psikis seseorang beresonansi atau mempengaruhi struktur genetik sehingga terwariskan? Secara fenomenologis karakter dan perwatakan seseorang bisa diprediksi dari bentuk fisiknya. Dalam lingkup metafisika Timur, misalnya dalam konsepsi I Ching (Kitab Perubahan) Taoisme dan Hindu, kepribadian seseorang bukan hanya berinteraksi dengan bentuk fisiknya tetapi juga berhubungan dengan ruang dan waktu tempat ia dilahirkan. Sekali lagi, yang menjadi kuncinya adalah pengetahuan tentang struktur internal.

Gelapnya pengetahuan manusia tentang struktur internal dan lemahnya metode ilmiah untuk melakukan pemetaan aspek ini memunculkan berbagai madzhab psikologi kepribadian. Freud dan Jung menempatkan faktor internal ini sebagai 'lautan' ketaksadaran. Freud membuat hipotesis tentang id, dan ego lebih merupakan alat id untuk menyalurkan hasrat-hasrat internal yang tak jelas bentuk dan sumbernya, ego juga mengambil nilai-nilai eksternal untuk membangun superego agar kepribadian totalnya bisa 'survive' tanpa konflik. Meski gelap bagi Freud, tetapi ia sangat melihat betapa besarnya pengaruh dari faktor internal ini.

Jung berani untuk melakukan pemetaan faktor internal ini dengan mengajukan gagasan kontroversial collective unconscious. Dengan data fenomenologis yang lebih 'terbuka', Jung membangun hipotesis ini dengan mencoba menyulam data-data produk saintifik dengan aspek-aspek metafisik. Maka seperti halnya Freud, tentang naluri-naluri (insting) hewani, arketipe shadow-nya Jung sangat mencerminkan masuknya gagasan evolusi Darwin dan informasi-informasi ilmiah dari sains zamannya, terutama fisika. Arketipe Jung sepintas mirip dengan pengetahuan recollection dari alam idea-nya Plato[3], atau ilmu tashawwur-nya Ibnu 'Arabi (1165-1240) yang berkaitan dengan alam 'khayal' dari nafs. Tetapi konstruksi Jung tidak menyentuh aspek nafs (soul) dalam arti yang sebenarnya, selain meletakkan data-data fenomena spiritual dalam kerangka psikologi psikis.

Dalam paradigma tashawwuf, karena subjek pendidikan Ilahi adalah si nafs dan konstruk jasad insan hanyalah perpanjangan atau bayangan terbatas dari nafs ini, maka kepribadian si nafs tidak boleh terberangus oleh aspek jasadiah (tentara dzahir qalb), juga oleh aspek psikis yang bertautan dengan tentara batin qalb. Kepribadian nafs adalah kepribadian insan yang sebenarnya yang menjadi cermin bagi khazanah Ilahi, maka ia harus bisa lepas dari kurungan syahwat dan hawa. Dalam terminologi Al-Qur'an, nafs bukanlah "kertas putih" yang diturunkan, tapi dalam dadanya telah membawa catatan amr yang mesti ia ejawantahkan, dan catatan ini berkaitan dengan persoalan alam idea-nya Plato atau alam khayal-nya Ibnu 'Arabi. Yang pasti terdapat hubungan antara pengetahuan bawaan si nafs dengan alam tempat ia menjalankan dharma-nya. Fungsi alam syahadah adalah untuk memancing amr yang 'tertulis' dalam dada nafs itu keluar dan termanifestasi di tingkat amaliah jasad, dan yang ia manifestasikan pada dasarnya 'perkara besar' karena merupakan Harta Terpendam Ilahi. Ini adalah amanah Ilahi yang sesungguhnya, dan proses menjadi saksi Allah dalam arti yang haq. Dan apa yang disebut bakat atau kemampuan seseorang secara psikologis hanyalah gaung dari urusan spesifik yang si nafs bawa. Indra tubuh, ego dan aspek psikisnya, juga fikiran hanyalah alat bagi si nafs untuk menjalankan urusannya. Apa yang Jung lihat secara fenomenologis dan ia definisikan sebagai syzygy, atau aspek anima dan animus dalam pribadi manusia, juga berkaitan dengan konsepsi ummul-kitab dan kitabul-mubin dari persoalan nafs dengan 'aql-nya.

Arketipe (archetype) yang terlibat langsung dalam proses individuasi atau realisasi diri adalah self, dimana arketipe ini dengan aksi jarak jauhnya (fungsi transenden) memotivasi ego untuk menjadi pribadi yang utuh, yang meliputi sisi sadar dan sisi tak sadar. Fungsi transenden adalah fungsi kunci dalam proses individuasi dan merupakan cara khas bagaimana arketipe self mulai mewujudkan diri. Fungsi transenden bekerja lewat lambang-lambang, dimana lambang merupakan unsur paling pokok dalam psikologi analitik, dan dengan cara seperti ini manusia mulai kontak dengan ketaksadarannya (unconsciousness)[2]. Maka fenomenologi tentang self adalah fenomenologi tentang lambang-lambang dari self. Menurut Jung, fungsi pokok dari lambang adalah bahwa lambang menggabungkan yang sadar dan tak sadar sebagai conjunxio oppositorum (perpaduan unsur-unsur yang berlawanan). Lambang adalah sarana untuk mencapai "tepi laut seberang" (pantai yang lain). Lambang menunjuk ke sesuatu yang belum dikenal yang untuk sementara tidak dapat diungkapkan kecuali lewat lambang. Yang dititikberatkan Jung adalah bahwa lambang itu mengandung arah waktu, menunjuk kepada proses-proses yang masih tersembunyi dan yang ingin menjadi tampak dan terwujud.

Lambang paling istimewa bagi self adalah apa yang dalam bahasa Sanskerta disebut mandala. Jung meneliti lambang-lambang ini selama hampir empat belas tahun, sebelum ia memberanikan diri menafsirkannya. Jung melakukan penelitian-penelitian ekstensif tentang mandala yang ia temukan di dalam semua kebudayaan, dalam agama-agama Barat dan Timur, juga pada pasien-pasiennya, khususnya lambang-lambang mandala ini muncul pada pasien-pasiennya yang berusia 40 tahun. Konstruk mandala merupakan susunan konsentris dari bangun-bangun geometris, bisa berupa bangun lingkaran-lingkaran konsentris, atau segiempat-segiempat konsentris, atau perpaduannya.

Banyak kebudayaan arkais menunjukkan struktur mandala dalam tarian-tariannya, upacara-upacara, bangunan-bangunan rumah, dan tempat-tempat religiusnya. Mandala yang paling indah dan paling sempurna terdapat pada kebudayaan Timur, khususnya dalam Buddhisme Tibet, juga pada candi-candi Hindu dan Buddha. Pada umumnya pada pusat mandala terdapat tokoh-tokoh agama tertentu, seperti Siwa, Buddha, dan Kristus. Jung berpendapat bahwa mandala mempunyai arti 'metafisis' dan merupakan simbol transformasi atau jendela menuju Keabadian. Karena mandala melambangkan self, maka self, kata Jung, merupakan Imago Dei (Citra Tuhan).

Dalam dunia tashawwuf, konstruk mandala telah lazim dikenal oleh para Shufi, bentuknya bisa berupa tujuh lingkaran konsentris, empat lingkaran konsentris atau empat bujur sangkar konsentris, atau bisa lebih rumit dari itu. Tujuh lingkaran melambangkan tujuh langit jiwa dengan titik pusatnya melambangkan Ruh al-Quds. Empat lingkaran konsentris melambangkan tingkatan jiwa jasmaniah, jiwa ruhaniah, jiwa rahmaniah, dan jiwa rabbaniah yang duduk di lantai keempat[12]. Makna Rabbaniyah identik dengan makna Brahmana pada agama Hindu yang telah mengalami pergeseran makna dari kasta (maqamat) kejiwaan menjadi kasta sosial. Dalam dunia suluk, hanya tingkat Rabbaniyah yang bisa bertemu Ruh al-Quds tanpa termusnahkan oleh kuat cahayanya[4].

Intinya, pusat mandala merupakan kutub alam semesta zamannya, seseorang yang telah diperkuat dengan Ruh al-Quds di tingkat Rabbani dan memegang jabatan Quthb. Sebagai contoh Buddha Syakyamuni (Sidharta Gautama) adalah seorang Nabi dan seorang Quthb (kutub) zaman di walayahnya, maka ia lazim ditempatkan di pusat mandala. Dan seperti telah kita bahas bahwa manusia yang memenuhi struktur An-Nuur [24]: 35, artinya yang telah diperkuat dengan Ruh al-Quds, merupakan Citra Ar-Rahman.

Dari sini bisa ditarik kesimpulan bahwa self yang didefinisikan Jung tak lain adalah nafs (jiwa, soul), ini berarti tidak semua self menyandang pangkat Imago Dei, kecuali self yang sudah duduk di pusat mandala. Dan dengan terputusnya data agama, konsepsi Jung tentang self berhenti di Imago Dei.

Konsepsi transformasi kejiwaan dalam khazanah Islam sebagai agama penyempurna, bisa membantu membuka kembali arah dari persoalan ini dalam khazanah batin agama-agama pra-Islam. Bagi Jung, gagasan individuasi bisa membantu memberi arah pada terapi pasien-pasiennya, tapi simbol-simbol mandala yang dilihat dalam ruang kesadaran (consious) pasien sebagai isyarat dari nafs atau self di ruang bawah sadar (unconscious), menjanjikan suatu kesadaran dan kebahagiaan yang jauh lebih tinggi dari apa yang Jung dan si pasien sadari. Metode terapi Jung tidak memadai untuk memenuhi apa yang diseru dan dituntut oleh self, juga tidak memiliki perangkat ukur untuk melihat tahapan-tahapan pengorbitan ego menuju self (nafs). Tetapi Jung berpendapat benar bahwa kepribadian yang utuh terletak di self atau jiwa (nafs), dan bukan di ego. Dan pengenalan atas nafs adalah awal pengenalan kepada Tuhan.

Bagian 2 dari 3 halaman Part 1Part 2Part 3

4. Status Kecerdasan Spiritual SQ

Seperti halnya dalam kasus psikologi analitik, SQ merupakan salah satu produk yang mencerminkan samarnya pengetahuan manusia Barat tentang aspek internal manusia yang terfokus di self atau nafs, dan SQ sendiri tampak dipengaruhi kuat konstruksi-konstruksi C.G.Jung yang dibangun secara transpersonal. Seperti telah dibahas tadi bahwa urusan yang dibawa setiap nafs berbeda satu dengan lainnya, maka potensi-potensi yang Sang Pencipta berikan kepada tiap-tiap manusia yang meliputi seluruh aspek lahir dan batinnya tidak pernah ada yang sama. Ada kaitan erat memang antara bakat fisik manusia dengan amr jiwanya, karena memang si jasad tak lain merupakan perpanjangan jiwanya, maka urusan si jiwa akan memanjang ke jasad.

"Manusia itu dimudahkan atas suatu yang untuk itu ia dicipta."(RasulullahSAW)

"Carilah pekerjaan yang kamu tidak bekerja." (Confucius)

Manusia dimudahkan dalam jalannya masing-masing dan tidak diberi beban melainkan apa yang mampu ia pikul, tapi ego manusia cenderung memilih jalan yang justru ia menjadi bekerja keras di situ, tidak berjalan dengan energi minimalnya. Bukankah alam semesta itu hadir/wujud dalam energi minimalnya? Dharma atau misi hidup setiap manusia itu bekerja dalam energi minimalnya, dimudahkan untuk apa ia dicipta. Gagasan Lao Tzu tentang jalan Tao adalah bicara tentang ini; dan alam semesta hidup mengalir mengikuti sungai Tao, ini adalah tasbih, dan setiap insan diwajibkan bertasbih. Hal yang sama demikian kentara dalam ajaran Zen (ordo Buddha) dan Baghavad Gita (Veda Hindu) misalnya, demikian pula apa yang diseru dalam setiap agama yang lain termasuk Islam.

Kalimah aslama konstruk dasar dari al-islam bermakna berserah-diri mengikuti kehendak-Nya; kalimah sabaha konstruk dasar dari tasbih bermakna mengalirkan diri atau menghanyutkan diri dalam sungai Kuasa-Nya. Jika manusia mengerjakan dharma-nya, maka segala sesuatu yang menyangkut urusannya akan dimudahkan di tangannya, dimana itu sulit bagi selain dirinya. Seperti sabda Rasulullah saw.: "Bila urusan diserahkan bukan pada ahlinya, maka tunggulah kehancurannya".

Swadharma setiap insan itu terkait dengan shirathal-mustaqiim-nya masing-masing. Rabb yang dicari berada di atas jalan itu (Hud [11]: 56), dan yang menjadi kuncinya ada dalam diri nafs-nya sendiri. Setiap manusia akan menemukan Tuhannya lewat pintu jiwanya masing-masing, karena di dalam nafs terdapat Kuasa-Nya, Qudrah-Nya; man 'arafa nafsahu fa qad 'arafa rabbahu. Jika manusia bertemu dharma-nya atau kodrat-dirinya, maka kehidupannya dimudahkan. Ini adalah aqabah, jalan mendaki lagi sukar, karena ia harus membebaskan diri dari perbudakan syahwat dan hawa nafsunya. Jika ego manusia tunduk kepada kehendak Allah maka terbuka pintu pengenalan ke nafs (self) nya, dan jika Ruh al-Quds telah Allah nyalakan di dalam qalb si nafs maka terang apinya akan menampakkan amr si nafs yang tertulis dalam dadanya.

Apa yang terdeteksi secara fisik berupa gelombang otak, cahaya aura, atau akumulasi energi di cakra-cakra tubuh, berasal dari cahaya jasadi dan psikis, belum sampai menyentuh ke cahaya jiwa (nafs). Fisik manusia dibangun dari material alam mulk, nafs berasal dari alam malakut, dan aspek psikis manusia berasal dari entitas barzakh antara kedua alam tadi. Cahaya dan energi psikis di atas merupakan permukaan dari esensi cahaya nafs. Karena itu kesehatan yang bersifat fisik dan psikis semata akan cukup tercermin di aura, cakra-cakra dan gelombang-gelombang otak tertentu. Penyakit fisik datang dari pikiran yang tidak jernih. Dalam ajaran Buddha, pikiran tidak akan jernih jika ada kekhawatiran, dan kekhawatiran itu datang dari hawa nafsu dan syahwat. Pikiran itu terkait mind (fu'ad), dan Plato mengatakan bahwa hal pertama yang harus dilakukan dalam terapi medis adalah memperbaiki mind-nya dan cara berpikirnya lebih dahulu.

Pikiran yang tak jernih bisa mematikan qalb, dan jika qalb mati berarti qalb kehilangan Cahaya Jabarut-nya dan ini berdampak lumpuhnya si nafs dalam diri manusia. Jika nafs dalam diri manusia lumpuh maka lumpuh pula kekuatan amr dalam dirinya, sehingga aksi fungsi transenden ke ruang kesadaran tidak terjadi. Orang yang sehat qalb-nya dari dosa-dosa dan penyakit hati akan sehat pula nafs-nya, dan jika si nafs sehat ia akan membimbing raga untuk menemukan obat bagi penyakit fisiknya, dan ini perlu waktu: "Barang siapa sehat qalb-nya maka akan sehat jasmaninya" (Rasulullah SAW).

Arah dari setiap agama itu pada hakikatnya adalah demi transformasi aspek batin. Demikian pula dengan dharma insan yang bermakna mengerjakan urusan-urusan dunia yang cocok dengan jiwanya agar tak terjadi konflik batin, dan kebersihan batin yang jernih tanpa distorsi nafsu itu akan sangat berguna dalam melihat kebenaran Ilahiah dan sekaligus membuka jalan. Berdharma artinya menyelamatkan qalb: jika seseorang telah bekerja pada dharma-nya (pada orbitnya) maka di situ tidak ada pertentangan antara mana urusan dunia dan mana urusan akhirat; semua menjadi bermakna akhirat dan menyenangkan bathinnya. Orang yang menjalankan dharma-nya, kebahagiaannya tidak bisa dinilai dari luar dirinya, apalagi diukur oleh kacamata syahwat dan pikiran yang telah terbius oleh waham kelezatan duniawi. Orang bisa memandang bahwa ia tengah bekerja keras dan menderita, padahal bagi dirinya merupakan berkah dan kebahagiaan, bagi ia penderitaan hidup itu pada hakikatnya tidak ada.

Dengan mengerjakan misi hidupnya atau qudrah dirinya (dharma yoga) maka qalb orang itu terselamatkan dari penyakit fikiran, dan jika qalb selamat (qalbun salim) ia akan 'melihat' Tuhannya. Kata Al-Ghazali, satu-satunya perangkat dalam diri manusia untuk ber-ma'rifatullah adalah qalb-nya. Qalb adalah rasa si jiwa (nafs) dan bukan rasa psikis (emosi) yang dapat tersentuh oleh observasi psikologis, ia adalah makhluk ruhani. Lebih jauh Al-Ghazali berkata bahwa jika seseorang tidak mengenal qalb-nya maka tidak akan mengenal nafs-nya; jika nafs tidak dikenal maka dharma tak dikenal; jika dharma tak dijalankan maka terputus jalan untuk menuju Sang Pencipta; dan jika ia terputus jalan maka kesadarannya tidak akan melampaui alam-alam, sehingga kebijakan-kebijakan Ilahi dalam kehidupan semesta tak terpahami (oleh akal bawahnya). Maka dikatakan Allah SWT bahwa hanya Ulul-Albaab (orang yang memiliki akal jiwa/lubb) yang bisa memahami ayat-ayat-Nya, dan lubb itu tidak menyala jika cahaya qalb padam.

Inteligensia atau kecerdasan fisik kekuatannya hanya menyentuh sejauh alam fisik. Jika kita mencoba menggunakan kecerdasan fisik untuk menggeneralisasi atau menginduksi imajinasi ke alam malakut, maka hal ini seperti nasib elemen-elemen vektor yang jika dioperasikan bagaimanapun dengan hukum-hukum ruang vektor, tidak akan melompat keluar dari ruang vektornya. Akibatnya "pantai yang lain" selalu tak diketemukan. Kecerdasan 'bawah' hanyalah bayangan dari kecerdasan jiwa (kecerdasan 'atas') yang mestinya bisa dilahirkan dengan jalan mujahadah dalam tazkiyyatun-nafs.

Lantas apa sebenarnya kecerdasan itu? Apa makna dari IQ, EQ, dan sekarang SQ? Dan jika melihat struktur dasar manusia yang terdiri dari jasad, jiwa, dan Ruh al-Quds, apakah seseorang bisa langsung mengklasifikasi adanya kecerdasan jasadi, kecerdasan jiwa, dan kecerdasan Ruh al-Quds?

Menurut Ibnu 'Arabi dan beberapa shufi yang lainnya, bahwa alam semesta itu "mengenal" Allah SWT, alam memahami status dirinya di depan Tuhan. Maka kita melihat bahwa apa pun yang mewujud di alam syahadah ini memandang kepada Sang Pewujud, ini sebuah "kesadaran" dan sebuah "kecerdasan".

Sebenarnya yang membuat materi itu memiliki kecerdasan karena di dalam dirinya hadir Kuasa Tuhan, sentuhan 'jari'-Nya terhadap 'ain segala sesuatu itulah yang membuat segala sesuatu menjadi memiliki wujud, baik di alam mulk ini, terlebih wujud-wujud yang eksis di alam malakut. Maka semua yang Dia wujudkan akan memiliki kecerdasan karena di dalam dirinya ada al-haq, bukankah hakikat segala sesuatu itu al-haq? Secara fisis saja sebuah batu itu mati tampaknya, padahal jika diteropong secara sub atomik maka tampak penuh dinamika, penuh kehidupan, masing-masing partikel bergerak pada orbitnya, memiliki energi, mereka hidup dalam dharma-nya masing-masing, mereka melihat kepada Penciptanya dan mereka mengerjakan itu demi ridha-Nya. Secara fisika, hanya dalam suhu nol mutlak (0 Kelvin = -273 C) maka semua aktivitas terhenti, tapi adakah dimensi di situ? Otak kita adalah materi yang secara intrinsik memiliki "kecerdasan", tapi pada orang yang mati (hilang ruh dan nafs-nya) apakah otaknya memiliki kecerdasan insani? Seperti halnya pada binatang, yang membuat menjadi memiliki kecerdasan karena adanya ruh hewani, tapi apakah seekor ternak memiliki kecerdasan insani yang kita maksud?

Kecerdasan jasadiah sendiri pada dasarnya berasal dari cahaya nafs dalam tubuh jasad yang bertemu dengan aspek ruh yang menghidupkan jasad. Pertemuan nafs yang hidup dengan potensi kecerdasan lubb-nya dengan potensi kecerdasan lubb-nya dengan tubuh yang memiliki ruh, selain melahirkan "akal bawah" juga melahirkan sejumlah entitas yang lain dengan modus kecerdasan yang berbeda-beda.

Kecerdasan jiwa berkait erat dengan akal-jiwa (lubb) sebagai kecerdasan 'atas' atau akal 'atas'. Apa yang terukur dengan IQ tidaklah berkaitan dengan akal ini melainkan kecerdasan 'bawah' belaka. Artinya jika jiwa atau nafs seseorang lumpuh karena dosa-dosa menutup qalb, maka ia masih memiliki akal 'bawah'. Adapun jika jiwa 'hidup' dan akalnya (lubb) sudah tumbuh, maka dikatakan orang tersebut hidup dengan 'dua akal', sebagaimana psyche yang diberi lambang kupu-kupu bersayap dua, atau makna dua sayap pada gambaran malaikat. Ilustrasi tentang dua akal ini juga bisa dikenali dalam "Suara Sayap Jibril", Suhrawardi Al-Maqtul[10].

Adapun makna kecerdasan Ruh al-Quds adalah di luar jangkauan makhluk karena nisbatnya ke Martabat Ilahi. Antara Ruh al-Quds dengan ruh yang menghidupkan jasad insan, perumpamaannya seperti perbandingan antara api dengan terangnya (nyala api), atau ruh yang menghidupkan jasad bagaikan hanya hembusan nafas Ruh al-Quds. Nabi Isa a.s. adalah seorang yang di dalam tubuhnya selain memiliki nafs juga memiliki Ruh al-Quds, maka ketika ia membuat bentuk burung dari tanah liat dengan tangannya, kemudian ia tiupkan melalui mulutnya nafas dari Ruh al-Quds, maka jadilah burung itu hidup dan terbang. Hakikat dari spiritus ini bersifat metafisik dan tak terukur, sementara dayanya tampil di dunia fenomena dalam bentuk-bentuk yang tak terbatas.

Status spirit (ruh) yang samar dalam struktur manusia membawa dampak penyempitan bahkan penyimpangan makna dari arti yang sesungguhnya. Ruh Al-Quds merupakan oknum rahasia (sirr) Ilahi dalam diri manusia, yang tinggal di inti jiwa (nafs, soul), al-insaanu sirriy wa Anaa sirruhu (Al-Hadits). Daya atau nafas dari Ruh Al-Quds yang berdampak menghidupkan jasad (body) manusia kerap menimbulkan kebingungan dalam mengidentifikasi yang mana jiwa dan yang mana ruh. Istilah nyawa dalam literal masyarakat tidak lain adalah nafas dari suksma (ruh), dan kata arwah (ruh-ruh) sering secara keliru dimaknai sebagai nafs (jiwa) yang akan diadili di alam Barzakh. Ruh Al-Quds adalah ruh al-arwaah, yang nafasnya merupakan al-kimia (alkemis) yang menghidupkan jasad insan, suatu entitas yang pada prinsipnya sama dengan entitas yang menghidupkan tubuh seekor kambing atau burung tanah Isa Al-Masih a.s. Sementara istilah jiwa sering menyempit maknanya menjadi sekadar gejala-gejala psikis.

Konsep Ruh Al-Quds dalam Al-Quran identik dengan konsep Holy Spirit (Holy Ghost) dalam Bible, sebagai entitas yang hadir dari Alam Jabarut, dan ini sering dipertukarkan dengan entitas yang hadir dari alam malakut tertinggi yaitu Jibril a.s. sebagai Ruh Al-Amin (Asy-Syu'araa [26]: 193) yang membawa anugrah-anugrah tertinggi bagi manusia.

Makna api sebagai pelita dalam An-Nuur [24]: 35 sama dengan makna kehadiran lidah-lidah api di Hari Pentakosta dalam Perjanjian Baru (Kisah Para Rasul 2: 1-13) yang membaptis dua-belas sahabat Isa Al-Masih a.s. sebagai para utusan bagi kenabiannya, sesuai dengan yang beliau alaihis-salam janjikan (Yohanes 14: 15-17). Apa yang dinisbatkan kepada martabat insan adalah aspek nafs dan jasadnya, adapun sekali lagi, aspek Ar-Ruh bernisbat ke martabat Ilahi. Trilogi Tuhan, Ruh-Al-Quds, dan an-nafs, menggambarkan turunnya (tanazzul) urusan Ilahi atas manusia-manusia terpilih, dimana urusan (amr dharma) tersebut oleh Ruh Al-Quds dibawa dan diletakkan di inti jiwa, bukan di aspek psikis terlebih di pikiran jasadiyyah.

Penggunaan istilah spiritual pada konstruksi SQ (Spiritual Quotient) sebagai suatu ratio atau ukuran yang brain-based tampak menjadi paradoks, karena entitas spiritual yang bersifat immaterial dan tak terbatas diukur oleh kecerdasan yang bersifat material (neurological basis) dan terbatas.

Konsepsi self Jung berbeda dengan konsepsi self SQ. Jung meletakan self sebagai sub ordinat manusia yang harus direalisasi, merupakan arketipe terpenting di kedalaman unconsiousness yang harus disadari agar kepribadian total (psychê) sebagai "kepribadian target" menjadi terwujud. Adapun SQ meletakan self sebagai psychê yang hadir sejak awal dan terus-menerus melakukan penyempurnaan diri. SQ melihat adanya paradoks dalam konsep individuasi Jung:

Jung after thought the Self only become accessible to people after the mid-life crisis. At that point, in conjunction with his 'transcedent function', the self archetype synthesized opposites in the personality, such as thinking and feeling. The Self archetype and the transcendent function were the symbol and process of self-transformation. But Jung thought self-transformation most appropriate to later life, whereas associate it with spiritual intelligence and think it potentially active throughout life. In terms very similar to what I have been saying about SQ, Jung felt the Self archetype could not be dissociated from the psychologically integrating role played by the pursuit of meaning and purpose in life.

Konsep self dan proses individuasi dalam psikologi analitik Jung secara umum sejalan dengan proses realisasi-nafs (jiwa) dalam terminologi quraniyyah. Adalah wajar terjadi kesesuaian karena Jung melakukan studi 14 tahun atas simbol mandala berdasarkan literatur-literatur dimensi batin banyak agama, dimana faktanya Jung menemukan bahwa simbol-simbol mandala ini sering muncul pada pasien-pasien yang mengalami konflik batin (konflik jati-diri) pada usia 40-tahunan. Al-Quran menyinggung ihwal pertumbuhan pribadi insan hingga baligh-nya dan ihwal usia 40-tahunan, dimana manusia sudah harus melakukan proses taubat (Al-Ahqaaf [46]: 15). Dengan proses taubat maka fitrah insani dalam arti yang haqiqi akan terbuka (Ar-Ruum [30]: 30-31), dimana fitrah ini terkait dengan persoalan swabhawa-swadharma dan qadha-qadar, dan ini terletak di nafs manusia yang harus direalisasi. Jika manusia melupakan Allah SWT, atau menomorduakan urusan Tuhannya, maka Dia akan membuat si manusia tersebut lupa akan nafsnya (Al-Hasyr [59]: 18-19), dan lumpuhlah si nafs itu dari berkata-kata (nathiqah) ihwal fitrah dirinya padahal kesaksian tentang perkara "misi hidup" ini telah diambil si nafs sebelum ia dimasukkan ke rahim ibu (Al-'Araaf [7]: 172).

Ibnu 'Arabi rahimahullah menyinggung ihwal usia 40 tahun ini ketika beliau menafsirkan makna dari "sapi betina" yang tidak terlalu tua dan tidak terlalu muda, dan yang berwarna kuning tua (Al-Baqarah [2]: 68-71):

Kuning tua adalah warna insan (Bani Israil, pada waktu itu). Yang dimaksud dengan tidak terlalu tua artinya tidak melewati "umur kesiapan" (istidaad), karena si nafs telah terpadati oleh waham-waham, kebiasaan-kebiasaan, dan keyakinan-keyakinan lama yang melekat kuat, sebagaimana dikatakan bahwa seorang shufi di atas 40 tahun telah "dingin". Juga tidak terlalu muda, artinya masih belum matang dan belum memiliki "kesiapan", masih sulit untuk mendapatkan didikan yang ada dalam riyadhah karena tabiat keanakan masih melekat kuat dalam dirinya.[11]

Seperti telah dibahas, bahwa Jung tidak berani melakukan identifikasi psikologis lebih lanjut atas selfnya kecuali menyematkan pangkat paripurna terhadap self sebagai Imago Dei. Jung kehilangan elemen penghubung yang mengkaitkan antara self sebagai makhluk dengan Dei (Tuhan) sebagai pencipta self. Meskipun Jung menunjuk figur Kristus dan Buddha sebagai contoh dari Imago Dei, ia tidak menemukan konsepsi yang menghubungkan status holy Spirit dengan self dan Tuhan. Di titik ini proses-proses rekonstruksi tentang "hakikat manusia" menjadi terhenti ketika data-data agama yang digunakannya dalam proses analisis-sintesis, terbatas. Jika struktur insan sebagai Cahaya Ilahi, atau "struktur status" yang menampakkan rahasia Ilahi tidak dipahami, maka persoalan hubungan spirit-self dan psikis-self menjadi tidak jelas. Samarnya persoalan ini pada konstruksi SQ menimbulkan paradoks seperti kalimat "spiritual intelligence is the soul's intelligence" sementara pengukuran-pengukuran dilakukan di tingkat psikis bukan di fundamennya.

Zohar dan Marshall menggunakan mandala teratai atau lotus sebagai model bagi self, di mana dalam filsafat Timur lotus merupakan lambang integrasi, simbol tertinggi dari ketotalan (wholeness). Mereka mengklaim bahwa esensi dari SQ yang mereka konstruk merupakan kecerdasan tertinggi (the ultimate intelligence) yang merepresentasikan suatu dinamika pencapaian ketotalan self. Konsepsi SQ membagi self kedalam tiga bagian (tiga lapis) mandala lotus :

(1) Lapis terluar dari self (outer petals) mereka identifikasi berdasarkan pemahaman barat modern, yaitu dalam persepektif ego sadar (conscious ego). Cara pandang ego yang bersifat rasional dikaitkan dengan tract-tract neural otak dan program-program yang bersifat serial. Pada prinsipnya, lapis terluar ini mereka identifikasi dengan attitudes dan functions psikologi analitik Jung, dan enam tipe kepribadian dari psikolog Amerika J.L.Holland.

(2) Lapis menengah lotus (lapis transisi) merupakan associative unconscious yang dihubungkan dengan konsepsi Jung tentang personal dan collective unconscious. Mereka menghubungkan aspek ini dengan geometri paralel dari jaringan neural otak, suatu proses pemahaman yang tidak berfikir secara rasional. Adapun faktor penghubung antara lapis terluar self (conscious ego) dengan associative middle (unconsciousness) adalah motivasi. Ego tidak bisa memperbaiki dan mentransformasi dirinya sendiri, ego merupakan sumber daya bagi lapis terdalam ketaksadaran. Bagi mereka, proses transformasi ego terjadi melalui energi psikis, dimana energi ini terkait dengan konsentrasi energi di cakra-cakra tubuh dalam konsepsi Yoga Kundalini Hindu. Energi psikis ini merespons motivasi-motivasi personal. Maka motif-motif menjadi elemen penting dalam membangkitkan kecerdasan spiritual SQ. Cakra-cakra energi ini juga menghubungkan lapisan unconscious dengan pusat (centre) terdalam dari self. Lapis menengah ini merupakan kolam motif-motif, energi-energi, citra-citra, asosiasi-asosiasi, dan arketipe-arketipe yang mempengaruhi pola pikir, kepribadian, dan tingkah laku, dari arah "dalam". Bagi mereka , lingkup ego berkaitan dengan IQ dan bagaimana cara kita mengidentifikasi sesuatu. Adapun lingkup associative middle berkaitan dengan EQ dan bagaimana cara kita merasakan sesuatu.

(3) Bagian pusat dari lotus disebut 'bud'. Pusat dari self ini merupakan fokus utama dari konstruksi SQ, karena berkaitan dengan pengalaman-pengalaman tentang penyatuan realitas-realitas. Pengalaman-pengalaman tersebut, menurut Zohar dan Marshall, berkaitan dengan hadirnya osilasi simultan 40 Hz yang melintas di neural-neural otak, dimana osilasi pada frekuensi ini berfungsi menyatukan pikiran-pikiran, emosi-emosi, simbol-simbol, asosiasi-asosiasi, dan persepsi-persepsi, sehingga self dalam kondisi terintegrasi. Menurut mereka, berdasarkan seluruh tradisi-tradisi mistik Timur dan Barat, bahwa ada aspek self yang berada diluar lingkup bentuk-bentuk, ini disebut sebagai sumber (source), atau Tuhan. Segala apa yang manifest di self-SQ, baik itu berwujud fisik maupun psikis yang tak disadari, berasal dari suatu sumber yang berada di balik semua yang manifest. Sumber ini dalam kerangka sains abad duapuluh dikaitkan dengan Quantum Vacuum yang merupakan ground state dari energi alam semesta. Secara fisika kuantum, self merupakan ko-sumber dari segala yang manifes di realitas fisik.

Apa yang Zohar dan Marshall sebut sebagai kecerdasan spiritual (SQ) adalah suatu status kecerdasan manusia ketika ketiga aspek dari self tersebut (ego, unconsciousness, dan centre) mengalami integrasi dan menyatu secara psikis. Bagi mereka, pengetahuan tentang pusat self merupakan kunci untuk membangkitkan dan menggunakan SQ, sebaliknya ketidakmengenalan ihwal pusat ini merupakan sebab utama dari ketumpulan spiritual. Dan, proses individuasi Jung yang bernuansa spiritual merupakan tujuan dari SQ. Energi psikis terdalam dari pusat lotus berkaitan dengan Cakra Hindu ke-tujuh, cakra mahkota:

The Crown Chakra, located outside the body, above the head, it is often depicted in religious paintings of the Western tradition as halo. It is pure, luminous energy, sheer light, one light, beyond names and forms, beyond thought and experience, beyond even concepts of "being" and "non-being". Represented by a thousand-petalled lotus shedding rays of lunar light, the crown chakra realizes the pure union of the human soul with whatever we call 'God'.

Thought the energies of the crown chakra can create new symbols and forms, this chakra itself is beyond all existing symbol and form. We can experience this pure energy in spontaneous mystical experience of Unity, and it is very commonly reported in near death experiences. Dante describes such an experience in his Paradiso.( [9], p.158 )

Sebenarnya yang terobservasi secara fisik berupa cakra mahkota dan aura tubuh masih terkait sirkulasi chi (Qi) tubuh yang sangat dipengaruhi dan dikendalikan oleh jalan pikiran jasadiah. Aura masih dalam lingkup cahaya material jasad yang teramplifikasi, karena itu wajar jika konsentrasi energi cakra-cakra tubuh akan terintensifikasi oleh emosi-emosi. Jadi cakra mahkota belum menyentuh cahaya jiwa (nafs) yang sebenarnya, yang bersifat malakut. Dalam ajaran Budhisme Zen, bahwa pusat terdalam dari lotus merupakan suatu tempat diluar kemungkinan apapun yang bisa kita bayangkan (a place beyond all imagining).

Makna pusat spiritual dari mandala lotus Zen semakin dipersempit lagi ketika diukur berdasarkan basis neurologi. Dalam membangun model selfnya, Zohar & Marshall memaksakan suatu identifikasi sains atas atribut-atribut dan entitas metafisika atau malakut.

I believe this fuller model of self can be described only by combining the insights of modern Western psychology, those of the Eastern philosophies, and many from twentieth century science, ( [9], p.124)

Until the late twentieth century only this kind of language desribed the unitive energy found at the centre of the self and of the existence. But such accounts don't speak to the modern mind. Today such questions demand 'scientific' answers, brain phenomena that we can 'weight and measure', experiments that we can read about.

Neurologically, that the brain's unitive experience emanates from synchronous 40 Hz neural ascillations that travel across the whole brain. They provide a 'pond' or 'background' on which more excited brain waves can 'ripple', to generate the rich panoply of our conscious and unconscious mental experience. These oscillations are the 'centre' of the self, the neurological source from which "I" emerge. They are the neurological ground of our unifying, contextualizing, transforming spiritual intelligence. It is through these oscillations that we place our experience within a framework of meaning and value, and determine a purpose for our lives. They are a unifying source of psychic energy running through all our disparate mental experience ([9], p. 159)

For the physics that best describes the centre of the cosmos we must turn to quantum field theory, the late twentieth century adaptation of quantum physics. Quantum field theory describes all existing things as being states or patterns of dynamic, oscillating energy. The grounds state of all being is a still 'ocean' or background state of unexcited energy called the quantum vacuum.

This vacuum is scientific version of the Buddha's handkerchief, the One Thing which, when tied into many knots, appears as many manifestations. All things that exist are excitations of the quantum vacuum, and the vacuum therefore exists as the centre within all things. Vacuum energy both underlies and permeates the cosmos. Because we ourselves are a part of this cosmos, vacuum energy ultimately underlies and permeates the self. We are 'waves' on the 'ocean' of the vacuum; the vacuum is the ultimate centre and source of the self. When the self is trully centred, it is centred in the gorund of all being. On our lotus of the Self diagram, the quantum vacuum is the 'mud' out of which the stem of the lotus grows. ([9], p. 160).


5. Resume dan Kesimpulan

Terapi-terapi klinis dalam lingkup psikologi Barat lebih banyak bergerak di tingkat ego, umumnya mencoba untuk menata gejala-gejala psikis di tingkat fenomenal bukan di sumbernya. Sumber penyakit psikis merupakan medan kontinum yang dibangun oleh dua kutub, kutub atas berpusat di ego sadar dan kutub bawah berpusat di dasar ketaksadaran yang paling dalam. Dua kutub ini saling menginduksi sehingga cenderung saling menguatkan dan saling membesarkan satu sama lain. Beberapa alat psikologi modern mencoba merecall sumber-sumber penyakit psikis dari kedalaman ketaksadaran. Freud dan Jung menyadari dan "melihat" bahwa kekuatan "penghancur" terbesar justru berasal dari sumber-sumber tertentu di kedalaman ketaksadaran.

Samarnya pengetahuan tentang struktur manusia di peradaban Barat modern mengakibatkan para psikolog Barat hingga dewasa ini belum mampu merumuskan konsepsi terapi di tingkat bawah sadar. Apa yang menjadi sumber penyakit di kedalaman ketaksadaran merupakan konstruksi dari produk interaksi antara kontaminan-kontaminan yang ditenggelamkan ego ke lautan ketaksadaran dengan daya dari memori psikis tertentu yang dibawa jiwa (nafs). Jung mengaitkan memori psikis ini terutama dengan arketipe shadow, meskipun Freud tidak setuju dengan gagasan Jung tentang collective unconscious tapi ia setuju dengan ide racial memory.

Konsep fitrah dalam Al-Qur'an bukan berarti setiap bayi seperti kertas putih yang sama, mereka memang tidak mewarisi dosa tetapi daya-daya psikis orang tuanya secara potensial di bawa si bayi. Kondisi psikis kedua orang tuanya saat terjadi pembuahan hingga pertumbuhan janin di rahim si ibu diwariskan di lapis psikis si bayi. Struktur genetik (material) akan beresonansi dengan fluktuasi psikis dan pikiran (non material), elemen penghubung sisi material dengan non material dalam hal ini adalah entitas chi dan cahaya material. Sebagai catatan, cahaya material (terkait aura tubuh) merupakan elemen kelima (the fifth elemen) produk penyatuan keempat elemen dasar (tanah, api, air, udara) oleh nafas ruh. Dan apa yang disebut fitrah itu sendiri, seperti telah kita bahas, berkaitan dengan swabhawa si nafs.

Aspek olah jiwa (suluk) atau dimensi batin dari agama-agama sebenarnya untuk tujuan transformasi dari "arah dalam," mengubah sayyi'ah-sayyi'ah menjadi hasanah-hasanah (Al-Furqaan [25]: 70-71). Apa yang disebut dengan kecerdasan, di tingkat apapun merupakan produk dari transformasi-transformasi diri, terutama transformasi jiwa. Dalam konsep Al-Qur'an, kecerdasan seseorang dalam suatu lingkup dharma berbanding lurus dengan tingkat kesucian jiwa yang diperoleh lewat jalan taubat (Al-Mu'min [40]: 13). Jika jiwa tumbuh maka akal jiwa (lubb) akan tumbuh juga, sehingga hiduplah akal luar dan akal dalamnya, sejalan dengan apa yang dikatakan Rasulullah SAW:

"Jika seorang manusia berbuat dosa maka akan hilanglah sebagian akalnya dan tak kembali lagi untuk selama-lamanya" (Al-Hadits).

Menurut Zohar dan Marshall, adalah tidak mungkin untuk dapat memahami secara dalam ihwal kecerdasan spiritual (SQ) tanpa meninjau isu-isu seperti: Where do we come from? What is our origin in time? How big is the story of which we are a part? What are we rooted in? How long do we last? Where are the ultimate boundaries of our human existence? What is the source of our intelligence? ([9], p. 115). Mereka membangun model self (versi SQ) yang diharapkan bisa paralel dengan isu-isu di atas. Kecerobohan terjadi ketika mereka mengidentifikasi entitas pusat (centre) dari self dengan quantum vacuum.

Keadaan vakum merupakan 'lautan' energi dasar yang berkaitan dengan manisfestasi dan kristalisasi wujud-wujud di alam syahadah (mulk) sebagai realitas-realitas eksternal, boleh dikatakan sebagai hakikat dari segala apa yang manifes secara fisik (alam semesta fisik). Sementara hakikat dari jiwa (nafs atau self dalam arti yang sebenarnya) merupakan "quantum vacuum" yang terletak di alam malakut, bukan di alam mulk. Simbol lotus dalam terminologi Zen merupakan sumber dari segala yang manifes, mencakup seluruh 'langit' dan 'bumi'.

Dalam konsepsi agama, yang disebut dengan semesta alam mencakup jabarut, malakut, dan mulk. Bunga lotus melambangkan manifestasi malakut dan mulk sebagai aspek yang "tampak", sementara aspek "tak tampak"nya berupa air yang mengalir di dalam tubuh lotus, melambangkan alam jabarut yang bernisbat ke Martabat Ilahi. Pusat dari lotus merupakan "aspek langit" atau aspek malakut yang memang berhadap-hadapan dan dipasangkan dengan "aspek bumi" atau aspek fisik. Dan yang disebut dengan Tao oleh Lao Tzu dalam Kitab Tao Tee Ching merupakan aliran Hukum Ilahi yang menganak sungai alam semesta dan sekaligus mengsinkronkan antara hukum-hukum yang bekerja di alam malakut dengan hukum-hukum yang bekerja di alam fisik. Dan tampaklah bahwa segala sesuatu yang manifes di alam fisik merupakan fraktal dari persoalan langit dan bumi, perempuan dan laki-laki, yin dan yang.

Jika isu-isu yang dikemukakan Zohar dan Marshall diatas sebagai syarat untuk membangkitkan kecerdasan spiritual (SQ), maka sains yang hanya menyentuh alam fisik secara terbatas tidak bisa berbuat banyak. Isu-isu yang diangkat tersebut hanya bisa dijawab sepenuhnya oleh dimensi batin agama, dan ini memerlukan kesucian batin berdasarkan rahmat Allah SWT, karena sisi batin agama atau aspek batin dari kitab-kitab agama termasuk Al-Qur'an tidak akan tersentuh kecuali dengan kebersihan jiwa.

"Itu adalah Al-Qur'an yang Mulia, di dalam Kitab yang terpelihara, tidak ada yang bisa menyentuhnya kecuali orang-orang yang dibersihkan (al-muthaharun)" (Al-Waqi'ah [56]: 77-79).

Arti dari dvijottama atau dwi-jati-utama dalam Bhagavad-Gita adalah jiwa yang telah dilahirkan dua kali, yang pertama dilahirkan secara jasmani dan yang kedua secara ruhani. Dalam kultur Hindu, hanya orang yang telah mengalami kelahiran dua kali yang diizinkan membaca kitab suci Weda, dan tujuan pendidikan dalam agama Hindu adalah upaya ke arah penghidupan batin. Nabi Isa Al-Masih a.s. dalam Injil Barnabas juga menyinggung ihwal dua kelahiran tersebut.

Dalam konsepsi Islam, si nafs dilahirkan atau dihadirkan ke alam fisik secara "virtual reality" melalui jasmaninya, dan kelak si nafs harus mengejawantahkan atau melahirkan isi ruhaninya. Isi ruhani yang harus diejawantahkan hingga ke tingkat jasmani ini merupakan dharma atau amal shalih si nafs (jiwa) yang sesuai dengan Kehendak-Nya. Aspek ruhani ini merupakan ketetapan jiwa yang diperkuat oleh Ruh Al-Quds sebagai utusan Allah SWT di dalam diri. Dan Ar-Ruh ini yang akan mengajari insan tersebut tentang kebenaran dan hakikat-hakikat dari Kitabullah[12].

"Tidak memuat-Ku langit-Ku dan bumi-Ku, yang memuat-Ku hanyalah qalb hamba-hamba-Ku yang mu'min" (Hadits Qudsi).

"Kerajaan Tuhan ada di dalam dirimu" (Al-Masih a.s.).

Daud a.s. dikatakan sebagai seorang yang berhati Tuhan, beberapa kutipan dari Mazmurnya sebagai berikut:

"Aku memuji Tuhan yang telah memberi nasihat kepadaku, bahkan di waktu malam hati nuraniku mengajari aku. Aku senantiasa memandang Tuhan, karena Ia berdiri di sebelah kananku" (Mazmur 16: 7-8).

"Karena Engkaulah yang telah membuat pelitaku menjadi menyala" (Mazmur 18: 29).

"Dia akan memunculkan kebenaranmu seperti terang dan hakmu seperti siang" (Mazmur 37: 6).

Pengetahuan tentang Ar-Ruh ini sedikit dipahami karena berkaitan dengan alam Amr di Martabat Ilahi, dan rahasia ihwal perkara ini di alam syahadah (fisik) tidak banyak dibuka.

Dan oknum spiritus ini, ketika struktur manusia tidak dipahami, sering menjadi sumber kekacauan utama dalam proses identifikasi manusia, baik itu dalam lingkup filsafat, psikologi, maupun dimensi luar dari agama. Seperti berenang ke dalam laut yang dalam untuk mencari sebab air laut pasang dan surut, sementara rembulan, sang fungsi transenden, tak tampak.

"Tiap-tiap sesuatu bekerja menurut caranya (orbitnya) masing-masing, maka Rabbmu mengetahui siapa-siapa yang terpimpin jalannya (huwa ahda sabiila). Dan mereka bertanya kepadamu ihwal Ar-Ruh, katakanlah bahwa Ar-Ruh itu dari amr Rabbku, dan tidak kamu diberi pengetahuan tentang ini kecuali sedikit" (Al-Israa [17]: 84-85).

Dari ayat di atas, jelas bahwa aspek Ar-Ruh atau Ruh Al-Quds (Holy Spirit) dihubungkan dengan orbit diri atau misi hidup tiap-tiap insan yang unik satu sama lain. Dan rahasia dari Ar-Ruh ini terletak di nafs, dan seperti Al-Ghazali katakan bahwa jika qalb tak dikenal maka nafs tak dikenal. Siapa yang seolah-olah melupakan Allah, maka Allah buat dia lupa akan nafsnya, sehingga tertutuplah jalan untuk mengenal Dia. Barang siapa tidak mengenal nafsnya maka ia tidak akan mengenal Tuhannya.

Referensi


[1] Koswara, E., (1991). Teori-teori Kepribadian. Eresco, Bandung.
[2] Jung, C.G., (1987). Menjadi Diri Sendiri, Pendekatan Psikologi Analitis. Terjemahan A. Cremers, Gramedia, Jakarta.
[3] Adlin, A., dan I. Suryolaksono, (2000). Reduksi Konsepsi Manusia: Tinjauan Umum Pada Era Pramodernisme, Modernisme, dan Postmodernisme. Journal of Psyché, 1, 15-50.
[4] Jamaluddin-T., Z.A., (1992). Catatan Kuliah Serambi Suluk. PICTS-YPP, Bandung.
[5] Al-Ghazali, (1985). Kitab Ajaibul Qulub, Ihya Ulumuddin, Terjemah Ismail Ya'qub, Faizan, Jakarta.
[6] Jamaluddin-T., Z.A., (1997). Misykat Cahaya-cahaya. PICTS-YPP, Bandung.
[7] Jamaluddin-T., Z.A., (1994). Mata Air Agama-agama. PICTS-YPP, Bandung.
[8] Hall, C.S., dan G. Lindzey, (1985). Theories of Personality. John Willey & Sons, New York.
[9] Zohar, D., dan I. Marshall, (2000). SQ, Spiritual Intelligence, The Ultimate Intelligence. Bloomsbury, London.
[10] Suhrawardi, S.Y., (1992). Hikayat-hikayat Mistis Suhrawardi Al-Maqtul. Terjemahan Mizan, Bandung.
[11] Tafsir Al-Qur'an Ibnu 'Arabi.
[12] Sastra Jendra, Thariqah Kadisiyyah, PICTS-YPP, Bandung.

Pengantar kata : Studi kritis Pemahaman Islam
Oleh : Armansyah
http://www.geocities.com/Pentagon/Quarters/1246

Allah Swt telah menentukan bahwa kesadaran manusia datangnya berangsur, bertahap sesuai dengan perkembangan peradaban yang Dia tetapkan lebih dahulu.

Dalam kalangan Scientist terdapat suatu kesimpulan bahwa apa yang telah dikatakan benar, sesungguhnya belumlah mutlak benar. Sesuatu hal adalah benar menurut anggapan relatif disuatu jaman karena pada periode berikutnya terdapat bukti yang memperbaiki kebenaran bermula, hingga apa yang kemarin telah benar, kini harus dirubah lagi, dan besok mungkin disempurnakan lagi.

Karenanya, kebenaran ilmiah bukanlah kata akhir, dia hanyalah tahap baru yang pernah dicapai dalam suatu waktu untuk memperoleh pengertian. Tingkat keberhasilan dari pencaharian ini harus selalu diukur dengan tahap persetujuan antara pernyataan dan kenyataan tentang sesuatu. Kebenaran ilmiah barulah mewakili ataupun memperlihatkan kesanggupan yang telah dicapai disuatu jaman. Dia tidak berkuasa untuk menentukan ramalan penyelidikan selanjutnya dalam lapangan tertentu yang sehubungan dengannya.

Perubahan dan peningkatan demikianpun terdapat dalam pengetahuan tentang hukum agama diantara masyarakat ramai. Namun apa yang terkandung dalam AlQur'an telah mutlak benar karena dia bukan karangan manusia, tetapi diturunkan oleh Allah yang menentukan perkembangan peradaban tadi.

Karena AlQur'an itu dinyatakan berfungsi sampai keakhir jaman, tentulah banyak sekali pokok ilmu yang masih asing bagi manusia abad 14 Hijriah. Sebab itu, bukanlah suatu keanehan bilamana kesadaran manusia abad 15 lebih meningkat daripada generasi sebelumnya tentang rangkaian ilmu yang terkandung dalam AlQur'an.

Dalam hal pentafsiran, kita tidak bisa terpaku hanya kepada penafsiran atau penterjemahan AlQur'an yang sudah ada saja, sebab seiring dengan perkembangan tata bahasa dan pengertian, maka akan banyak pula istilah-istilah yang lebih tepat didalam pengartian suatu ayat.

Dalam berbagai tulisan para ahli tafsir modern, akan dijumpai berbagai keberatan terhadap pendapat para ahli tafsir klasik, hal yang sesungguhnya memperkaya pendapat yang telah ada. Yang pertama dan yang paling banyak adalah postulat gerakan pembaharuan yang berpendapat bahwa setiap orang diperkenankan mengungkapkan makna kitab suci. Karenanya penafsiran AlQur'an bukan monopoli para imam dan mudjtahid (pemimpin agama dan pemegang wewenang tertinggi dalam bidang hukum).

Bahwa AlQur'an seharusnya dipandang sebagai sumber dari segala keilmuan, tidak perlu kita permasalahkan lagi. Banyak kaum intelegensia Muslim yang mengungkapkan bagaimana penemuan-penemuan ilmiah yang paling mutakhir sekalipun ada diungkapkan dengan bahasa simbolik dalam AlQur'an.

Secara apriori mengasosiasikan Qur-an dengan Sains modern adalah mengherankan, apalagi jika asosiasi tersebut berkenaan dengan hubungan harmonis dan bukan perselisihan antara Qur-an dan Sains. Bukankah untuk menghadapkan suatu kitab suci dengan pemikiran-pemikiran yang tidak ada hubungannya seperti ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan hal yang paradoks bagi kebanyakan orang pada jaman ini?

Sesungguhnya orang yang membaca AlQur'an secara teliti dalam upaya memahami bagaimana pendiriannya terhadap Sains, ia akan mendapatkan sekumpulan ayat-ayat yang jelas, terbentang menurut empat bagian yang semua aspeknya mengarah kepada masalah ilmiah.

  1. Masalah-masalah yang berkaitan dengan hakikat Sains dan arah serta tujuannya mengenai apa yang dapat diketahui dengan filsafat Sains dan teori makrifat.
  2. Metode pengungkapan tentang hakikat-hakikat ilmiah yang bermacam-macam.
  3. Menampakkan sekumpulan hukum-hukum dan peraturan-peraturan dilapangan Sains yang bermacam-macam, terutama fisika, geographi dan ilmu hayat.
  4. Menghimbau agar mempergunakan hukum-hukum dan peraturan-peraturan tersebut.

Semua ayat AlQur'an itu diturunkan mengandung hal-hal yang logis, dapat dicapai oleh pikiran manusia, dan AlQur'an itu dijadikan mudah agar dapat dijadikan pelajaran atau bahan pemikiran bagi kaum yang mau memikirkan sebagaimana yang disebut dalam Surah Al-Qamar ayat 17 :

"Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan AlQur'an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran ?"
(QS. 54:17)

"Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan Kitab kepada mereka, Kami jelaskan dia (kitab itu) atas dasar ilmu pengetahuan; menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman."
(QS. 7:52)

Surah 3, Ali Imran ayat 7 menyatakan bahwa AlQur'an terbagi atas dua babak : Muhkamat dan Mutasyabihat

Yang Muhkamat adalah petunjuk hidup yang mudah dimengerti yang terdapat didalam AlQur'an, termasuk didalamnya masalah halal-haram, perintah dan larangan serta hal-hal lainnya dimana ayat-ayat tersebut dapat dipahami oleh siapa saja secara gamblang dan mudah tanpa memerlukan pemikiran-pemikiran yang berat.

Sedangkan Mutasyabihat adalah hal-hal yang susah dimengerti karena berupa keterangan tentang petunjuk banyak hal yang mesti diteliti dan merangkaikan satu sama lain hingga dengan begitu terdapat pengertian khusus tentang hal yang dimaksudkan, termasuk didalamnya adalah dapat diungkapkan melalui kemajuan teknologi dan cara berpikir manusia.

Seandainya AlQur'an itu seluruhnya muhkam, pastilah akan hilang hikmah yang berupa ujian sebagai pembenaran juga sebagai usaha untuk memunculkan maknanya dan tidak adanya tempat untuk merubahnya. Berpegang pada ayat mustasyabih saja dan mengabaikan ayat Muhkamat, hanya akan menimbulkan fitnah dikalangan umat.

Juga seandainya AlQur'an itu seluruhnya mutasyabihat pastilah hilang fungsinya sebagai pemberi keterangan dan petunjuk bagi umat manusia. Dan ayat ini tidak mungkin dapat diamalkan dan dijadikan sandaran bagi bangunan akidah yang benar.

Akan tetapi Allah Swt dengan kebijaksanaanNya telah menjadikan sebagian tasyabuh dan sisanya mustayabihat sebagai batu ujian bagi para hamba agar menjadi jelas siapa yang imannya benar dan siapa pula yang didalam hatinya condong pada kesesatan.

Cukup banyak selama ini orang yang mencoba menguak sisi keilmiahan dari AlQur'an dengan mengandalkan ayat-ayat yang bersifat mutasyabihat semata, namun tidak jarang pula akhirnya mereka malah terjebak didalam pemahaman mereka sendiri akibat berbenturan dengan hal-hal yang memang non-ilmiah yang terdapat didalam AlQur'an, sehingga pengungkapannya seringkali berkesan rancu dan dicocok-cocokkan guna mendukung teori mereka.

Sesungguhnya Tasyabuh yang terdapat dalam AlQur'an itu ada dua macam :

  1. Tasyabuh hakiki
    ialah tasyabuh yang tidak mungkin dapat dimengerti oleh manusia, seperti mengenai hakekat sifat-sifat Allah Azza wa Jalla, meskipun kita tahu makna dari sifat-sifat itu, tetapi kita tidak mengerti hakikat dan kaifiyatnya.

Dalam hal ini Allah telah berfirman : "...sedang ilmu mereka tidak dapat meliputi ilmu-Nya." (QS. 20:110)

  1. Tasyabuh nisbi
    Ialah tasyabuh bagi sebagian orang tetapi tidak demikian bagi sebagian lainnya. Orang-orang yang mendalam ilmunya ataupun orang yang mempelajari ilmu pengetahuan bisa mengetahui tasyabuh seperti ini, namun sebaliknya, orang-orang yang tidak memiliki pengetahuan ataupun mendalam ilmunya tidak dapat mengetahuinya.

Tasyabuh macam ini dapat diungkap dan dijelaskan, karena didalam AlQur'an tidak ada yang tidak jelas maknanya bagi siapa saja yang mau mendalaminya.

Allah Subhanahu Wata'ala berfirman :
"(AlQur'an) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa." (QS. 3:138)

Pengertian harakah (gerakan) dalam Islam berbeda dengan apa yang diungkapkan sebagian doktrin dan agama lainnya. Pengertian ini timbul sebagai asas dari keselarasan antara pasangan-pasangan ini : Material dan Immaterial, fisika dan metafisika, bumi dan langit, ilmu dan iman, manusia dan Allah. Hilangnya salah satu ujung dari ujung-ujung perseimbangan ini akan memisahkan agama Allah dari kemampuan untuk bergerak dan menyebar.

Disini celah-celah pembicaraan mengenai pendirian dari Sains, tampaklah kerapatan hubungan tersebut secara kokoh, yaitu kerapatan hubungan antara AlQur'an dan hakikat Sains serta sumbangsihnya. Namun ini tidak menghalang-halangi kita untuk memandang bagian-bagian yang sarat akan setiap hakikat Qur'aniah yang bersumber dari Ilahi, dan tidak bisa dinamai -secara metaphoris atau figuratif- hakikat ilmiah yang bersumber dari manusia. Karena disana ada garis pemisah dilihat dari segi berubah-ubahnya kedua sumber ini, yaitu garis pemisah yang terbentang diantara ilmu Ilahi dan ilmu Basyari (manusia).

Ilmu Ilahi yang memberi kita sebagian pemberiannya dalam AlQur'an itu berisi hakikat-hakikat dan penyerahan-penyerahan yang mutlak. Sesuatu yang batil tidak datang dari depannya dan tidak pula dari belakangnya, yaitu ketika pemberian-pemberian ilmu Basyari menjadi tertahan oleh relativitasnya, kekacauannya dan perubahannya.

Dalam ilmu Basyari tiada hakikat final. Para ilmuwan sendiri -setelah melalui eksperimen dengan segala perlengkapannya- berkesudahan sampai kepada hasil ini bahwa pemberian-pemberian Sains hanyalah kemungkinan-kemungkinan belaka, kadang salah kadang tepat, dan penyingkapan-penyingkapannya adalah penyifatan bagi yang tampak, bukan interpretasi baginya.

Allah mengajarkan bahwa isi AlQur'an itu tidak lain dari fitrah manusia, petunjuk bagi manusia untuk mengenal dirinya dan lingkungannya. Sayangnya umat Islam selama ini cenderung lari dan mengingkari kefitrahan yang dimaksudkan oleh AlQur'an itu sendiri. Kaum muslimin tidak lebih mengerti AlQur'an ketimbang orang diluar Islam sendiri. Agama Islam menjadi asing dalam lingkungannya sendiri, tepat seperti yang disabdakan oleh Rasulullah.

AlQur'an mengajarkan bahwa tiada iman yang tidak diuji, karenanya kaum Muslimin harus mempersiapkan diri menghadapai ujian Allah yang sangat berat sekalipun. AlQur'an juga mengajarkan bahwa ia merupakan petunjuk yang sebaik-baiknya untuk membina kehidupan umat, itulah kewajiban kaum Muslimin untuk membuktikan kebenarannya ! Bukan kewajiban Allah untuk membuktikan kebenaran firmanNya ! Sebab firman itu benar dengan sendirinya.

Dengan modal kejujuran, kita bisa membaca sikap kita selama ini: meminta, menuntut agar Allah membuktikan kebenaran firmanNya ! Karena kita tidak mengerti apa makna ajaran Allah !

Coba anda belajar pada orang Jepang tentang ilmu membuat mobil dan orang Jepang akan memberikan buku serta rumus-rumusnya. Tugas anda adalah untuk membuktikan kebenaran ilmu-ilmu yang anda terima dari Jepang, dan bukan menagih agar orang Jepang membangun industri mobil di Indonesia dengan ilmu-ilmu mereka itu, serta bukan pula dengan jalan menghapalkan dengan melagukan ilmu-ilmu membuat mobil itu saja dengan harapan anda akan menjadi pintar dengan sendirinya sehingga tiba-tiba anda bisa menciptakan mobil tersebut dengan sim salabim!

Begitulah AlQur'an, sebagai satu sarana untuk menghadapi ujian Allah tentang keimanan, kita harus belajar, belajar, berjuang dan berjuang agar kita bisa merealisasikan kebenaran ayat-ayat itu. Memang tidak mungkin jika ilmu Allah termuat dengan rinci dalam AlQur'an, karena AlQur'an sendiri sudah mengkiaskan bahwa ilmu Allah itu tidak bisa dituliskan dengan tinta sebanyak air dilautan sekalipun.

AlQur'an hanyalah satu petunjuk yang menunjukkan bahwa Ilmu Allah terdapat dimana-mana, diluar dan dalam diri manusia itu sendiri. Suatu petunjuk yang sempurna yang harus dikaji dengan otak, perasaan dan logika pengetahuan. Bukan sekedar menagih kepada Allah untuk merealisasikan janjiNya !

Dengan penuh kerendahan hati dan bermodalkan kemampuan yang pas-pasan, baik dalam berpikir maupun pengetahuan, saya disini mencoba untuk ikut menguak sedikit ilmu yang terkandung dalam kitabullah ini dengan berdasarkan pada surah 9:122 dibawah ini:

"Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mu'min itu keluar semuanya. Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama ? dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya ?"
(QS. 9:122)

Dalam mengemukakan pendapat dalam rangka menggali ilmu agama yang terkandung dalam AlQur'an, saya tidak memisahkan antara sesuatu yang ilmiah dan yang non-ilmiah, muhkamat dan mutasyabihat, semuanya coba saya satukan, sebagai suatu hal yang memang tidak dapat dipisah-pisahkan dalam agama, sebab salah satu pokok keimanan kita adalah mempercaya hal-hal ghaib yang memang tidak dapat kita lihat seperti ayat 2:3

"Mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka."
(QS. 2:3)

"Dia-lah yang menurunkan Kitab (AlQur'an) kepada kamu. Di antaranya ada ayat-ayat yang muhkamat itulah pokok-pokok isi AlQur'an dan yang lain mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah /perselisihan/ dan untuk mencari-cari pengertiannya, padahal tidak ada yang mengetahui pengertiannya melainkan Allah serta orang-orang yang mendalam ilmunya. Katakanlah:"Kami beriman kepada yang semua ayat-ayatnya itu dari sisi Tuhan kami". Dan tidak dapat mengambil pelajaran melainkan orang yang mau memikirkan."
(QS. 3:7)

Namun demikian, bukanlah saya ini hendak berkata sombong bahwa saya termasuk orang yang berpengetahuan atau mendalam ilmu dibidang agama sehingga bisa membedah-bedah AlQur'an sekehendak hati saya, sama sekali tidak ada terbesit dalam hati saya untuk yang demikian.

Semua ini saya lakukan hanya sebagai hasil dari olah pemikiran saya terhadap apa yang saya pelajari dari AlQur'an, Sunnah Rasul, dan ditambah dengan berbagai pendapat para ulama dan kaum cendikiawan untuk selanjutnya sebagai hasil akhir kajian saya ini saya serahkan kepada anda semua untuk melakukan penilaian dan menjadi bahan pemikiran dari pendapat yang saya kemukakan ini.

Didalam beragama, saya tidak mempermasalahkan mahdzab apapun yang dipergunakan oleh orang lain didalam Islam, bagi saya, selama orang itu memiliki dalil dan dasar hukum yang dapat dijadikannya sandaran dari keyakinannya itu, adalah syah-syah saja.

Islam terlahir "TIDAK dengan bermahdzab", Islam adalah satu.
Tidak ada Islam Hanafi, Islam Hambali atau Islam Syafe'i.
Bahkan 'Islam Muhammad' pun tidak pernah ada, apalagi Islam Ahmadiyah !
Islam adalah agama Allah, agama yang berdasarkan fitrah manusia dan agama yang diturunkan kepada semua Nabi dan Rasul sebelumnya.

Islam bukanlah agama yang penuh misteri, yang hanya dapat dimengerti oleh sekelompok jemaah. Rasulullah Muhammad Saw tidak meninggalkan dunia yang fana ini kecuali setelah ia menyampaikan amanat dan menunaikan risalahnya. Rasulullah kemudian meminta para pengikutnya dan semua sahabat-sahabatnya untuk menyebarluaskan dan menyampaikan ajaran-ajaran Ilahi yang telah mereka peroleh darinya.

Seluruh umat Islam bertanggung jawab untuk menyampaikan dan menyebarluaskan risalah Islam. Tidak ada perbedaan, kecuali perbedaan kadar dalam memahami Kitabullah dan Sunnah Rasul. Dan tidak ada seorangpun yang memperoleh izin khusus /sekalipun dia memiliki kemampuan dan pengakuan yang tertinggi dalam bertabligh/ untuk dapat menghalalkan yang diharamkan Allah, atau mengharamkan yang telah dihalalkanNya.

Dan janganlah kamu mengatakan dusta terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu: "ini halal dan itu haram", untuk kamu ada-adakan kebohongan atas nama Allah. Sesungguhnya orang yang mengada-adakan dusta atas nama Allah tiada akan bahagia. (QS. 16:116)

Allah sangat membenci perpecahan, marilah kita semua saling rangkul merangkul, bahu membahu didalam menghadapi serbuan para musuh-musuh Islam dengan semangat persatuan dan ukhuwah Islamiah yang berpedomankan kepada AlQur'an dan Sunnah Rasul serta membuktikan bahwa Islam adalah memang yang terbaik dan agama yang diridhoi oleh Tuhan.

Allah Yang Pengasih Penyayang, dengan namaNya dimulai tulisan ini semoga diberkahi dan dibimbingNya menurut keridhoanNya serta berguna untuk peradaban masyarakat ramai, khususnya untuk saudara-saudaraku umat Islam dan bagi para penuntut ilmu dan kebenaran dari berbagai disiplinnya, termasuk para alim ulama dan cendikiawan muda.

 
The Amazing stories in The Holy Qur'an
<><><><><><><><><><><><><><><><><><><> 
 
 

A. Kisah Fir'aun & Nabi Musa as

Dalam Surah Yunus ayat 90-92, Al-Qur'an menyatakan bahwa pada suatu masa nanti bangkai Fir'aun yang tenggelam sewaktu mengejar Nabi Musa as akan dikembalikan kepada manusia (dapat disaksikan dengan mata kepala) untuk menjadi bukti akan kebenaran dan kebesaran ayat-ayat Allah itu.

"Dan Kami memungkinkan Bani Israil melintasi laut, lalu mereka diikuti oleh Fir'aun dan bala tentaranya, karena hendak menganiaya dan menindas (mereka); hingga bila Fir'aun itu telah hampir tenggelam berkatalah dia: "Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)". Apakah sekarang (baru kamu percaya), padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu, dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan. Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami."
(QS. 10:90-92)

Perlu diketahui, bahwa ayat ini turun setelah 21 abad masa Fir'aun.
Orang sudah tidak tahu lagi dimana batang tubuh Fir'aun.
Tetapi sungguh menakjubkan, bahwa setelah terpendam selama lebih kurang 40 abad, yaitu tepatnya tanggal 6 Juli 1879 para ilmuwan Archeologi telah berhasil menemukan batang tubuh Fir'aun, dan hal ini sekaligus menemukan bukti akan kebenaran Al-Qur'an sebagai wahyu Allah, bukan ciptaan Nabi Muhammad Saw !

Berikut akan saya kutipkan tulisan Yoesof Sou'yb dalam majalah 'Harmonis' tentang kesesuaian antara Surah Yunus 90-92 dengan kenyataan sejarah yang menggemparkan itu.

Wahyu Ilahi yang diturunkan pada abda ke-7 Masehi itu menegaskan bahwa badan Pharaoh/Fir'aun yang telah menjadi korban, akan diselamatkan sebagai pertanda bagi orang belakangan.
Dalam ayat asli berbunyi : 'nunajji-ka bi badani-ka'.

Sedangkan The Holy Bible tidak bercerita bahwa badan Fir'aun/Pharaoh itu diselamatkan untuk pertanda bagi orang belakangan, pada Exodus 14:29-30 hanya diceritakan mengenai sbb :
"But the children of Israel walked upon dry land in the midst orf the sea; and the waters were a wall into them on their right hand and on the lef. Thus the Loard saved Israel that day cut of the hand of the Egyptians; and Israeli saw the Egyptians dead upon the sea shore"

'Tetapi segala Bani Israel itu telah berjalan diatas kekeringan tanah ditengah-tengah laut, maka karir nya menjadi dewala (dinding tembok) bagi mereka pada sebelah kanan-kirinya, demikianlah dilepaskan Tuhan segala orang Israel pada hari itu juga dari tangan orang Mesir, maka dilihat orang Israel segala orang Mesir itu mati terhantar dipantai laut.'

The Holy Bible hanya menceritakan tentang kematian anak-anak Israel (Pharaoh beserta pasukannya), tetapi tidak bercerita bahwa tubuh Pharaoh/Fir'aun diselamatkan untuk pertanda dan pelajaran bagi orang-orang sesudah mereka.

Sekarang mari kita sedikit menyinggung pada saat Nabi Saw menceritakan wahyu Allah ini.
Penduduk Mekkah semenjak masa yang panjang sebelum Nabi Muhammad Saw telah menciptakan tradisi dagang.

Pada musim panas (al-shaif) kafilah-kafilah dagang berangkat ke Utara (Mesir, Palestina, Syria, Irak, Iran) dan pada musim dingin (al-syitak) kafilah-kafilah dagang bergerak keselatan (Yaman, Ethiopia).

Jadi penduduk Mekkah pada masa Nabi Muhammad Saw itu sudah tidak merasa asing terhadap keadaan di Mesir pada masa itu. Piramid-piramid raksasa, kuil-kuil raksasa, tiang-tiang obleisk dan Spinx, semua itu cuma saksi bisu yang tiada bisa bercerita apapun kepada manusia, apalagi akan menjumpai dan menyaksikan batang tubuh Pharaoh masa itu.

Coba anda merenung sejenak dalam imajinasi anda, betapa sambutan penduduk Mekkah terhadap pemberitaan Nabi besar Muhammad Saw bahwa jenasah Fir'aun diselamatkan oleh Tuhan sebagai pertanda bagi orang-orang belakangan !

Dalam abad ke-19 dengan kunci batu-Rosetta, yang pada akhirnya berheasil diterjemahkan huruf-huruf Demotik dan Hiroglipik pada batu-Rosetta itu oleh Jean Francois Champollion (1790-1832 M), maka coretan-coretan cakar ayam pada dinding-dinding Pyramid, dinding-dinding kuil dan tiang-tiang obelisk, mulai bercerita tentang masa silam.

Jika menjelang abad ke-19 pengetahuan manusia tentang sejarah cuma sampai abad ke-4 sebelum Masehi, maka sejak abad ke-19 pengetahuan sejarah telah menjangkau masa tiga puluh abad sebelum masehi.

Tetapi jasad Pharaoh dari setiap dinasti, yang dikisahkan sedemikian rupa oleh tiang-tiang obelisk dan dinding-dinding piramid belum juga dijumpai.

Expedisi berbagai bangsa bagaikan kena rangsang untuk mengerahkan kegiatan dan pembiayaan untuk menemukannya. Pada tanggal 6 Juli 1879 terjadilah apa yang dipandang 'peristiwa terbesar' bagi dunia sejarah. The Historian's History of The World vol.1 edisi 1926, dalam puluhan halamannya melukiskan peristiwa terbesar itu dengan sangat indahnya dan panjang lebar.

Ir. Muhammad Ahmad Abdar-Rasul, seorang Arkeolog Mesir yang mengabdikan hidupnya untuk melakukan riset tanpa jemu-jemunya, telah berhasil pada akhirnya memberikan petunjuk kepada ekspedisi ilmiah Jerman - Mesir yang berada dibawah pimpinan Messrs, Emil Brugsch dan Ahmad Effendi Kamal itu, yaitu sebuah lubang kecil yang terletak tinggi pada dinding batu karang di 'lembah raja-raja' (Valley of Kings) dalam wilayah Mesir atas.

Dengan peralatan dan tenaga manusia yang dipersiapkan sedemikian rupa pada tanggal 6 Juli 1879 dilakukan penerobosan kedalam relung sempit yang berceruk-ceruk dan berliku-liku itu, dan pada suatu ruangan besar yang terletak jauh disebelah dalam dijumpailah sekian puluh mummi dari para Pharaoh, termasuk mummi Rhamses II (Fir'aun) yang hidup pada masa Nabi Musa as, yaitu Pharaoh terbesar dan teragung dalam sejarah dinasti-dinasti Pharaoh ditanah Mesir.

Buku sejarah terbesar yang puluhan jilid tebalnya terbitan 'Encyclopedia Britannica Inc' menyimpulkan penemuan terbesar itu pada halaman 155 dengan kalimat :

'Nothing is modern discovery has more vividly and suddenly brought the ancient world home to the world of today than the finding of the actual bodies, the very flesh and blood of the Pharaos marvellously preserved to us by the embalmers's venerable art. The discovery has bredged the chasm between the ancient and the new as a midnight flash of lighting from the clouds to the earth.'

Tiada suatuoun didalam penemuan baru yang lebih menggemparkan dan mendadak membawa dunia kuno kepada dunia sekarang ini daripada penemuan jenasah yang sesungguhnya dari pharaoh-pharaoh dalam bentuk daging dan darah, yang dipersiapkan untuk kita secara menakjubkan sekali oleh kepintaran luar biasa dari ahli rempah-rempah yang membalutnya.
Penemuan itu telah menutup jurang antara masa purba dengan masa baru bagai pancaran kilat malam hari dari balik mendung keatas bumi.

Buku sejarah yang terpandang karya terbesar dunia itu telah memperdengarkan sambutan demikian hangat dan kagum akan penemuan itu, yang berarti secara sadar atau tidak telah menyambut demikian hangat dan kagum akan kebenaran sebuah wahyu Ilahi dalam Al-Qur'an.

B. Kisah Romawi

Pernyataan tentang kekalahan pasukan Romawi oleh pasukan Persia yang terdapat dalam permulaan Surah Ar-Rum.

Pada tahun 325, raja Konstantin memeluk agama Kristen, dan menjadikan agama ini sebagai agama negara yang resmi (Awal dari terbentuknya konsili Nicea yang mengesahkan Trinitas). Secara spontan, rakyat Romawipunbanyak yang memeluk agama tersebut, sementara itu kekaisaran Persia, penyembah matahari, menolak untuk memeluk agama tersebut.

Adapun raja yang memegang tampuk kekaisaran Romawi pada akhir abad ke-7 M adalah Maurice, seorang raja yang kurang memperhatikan masalah kenegaraan dan politik. Oleh karenanya angkatan bersenjatanya pun kemudian mengadakan kudeta dibawah pimpinan panglimanya yang bernama Pochas.

Setelah mengadakan kudeta, Pochas naik tahta dan menghukum keluarga raja dengan cara yang kejam. Serta mengirim seorang duta ke Persia, yang pada waktu itu dipegang oleh Kisra Chorus II, putra Kisra Anu Syirwan yang adil.

Pada waktu Kisra tahu kejadian kudeta di Romawi, Kisra sangat marah karena Kisra pernah berhutang budi pada Maurice yang sekaligus juga mertuanya itu. Kemudian Kisra memerintahkan untuk memenjarakan duta besar Romawi, serta menyatakan tidak mengakui pemerintahan Romawi yang baru.

Akhirnya Kisra Chorus melancarkan peperangan terhadap Romawi.
Angkatan perangnya merayap melintasi sungai Euphrat menuju Syam.
Dalam serangan ini Pochas tidak dapat mempertahankan diri terhadap angkatan perang Persia yang telah menguasai kota Antiochia dan El Quds.

Sementara itu penguasa Romawi didaerah jajahan Afrika juga mengirimkan pasukan besar dibawah pimpinan puteranya, yaitu Heraklius. Bertolaklah pasukan tersebut dengan diam-diam melalui jalan laut, sehingga Pochas tidak tahu kedatangan mereka. Tanpa menghadapi perlawanan sama sekali, Heraklius akhirnya berhasil menguasai kekaisaran dan membunuh Pochas.

Walaupun Heraklius berhasil menguasai kekaisaran dan membunuh Pochas, namun Heraklius tidak berhasil menahan badai pasukan Persia. Sehingga Romawi kehilangan daerah jajahannya dan tinggallah kekaisaran Romawi di ibukota saja. Penduduk yang tinggal di ibukota penuh diliputi rasa kekhawatiran akan serangan pasukan Persia yang akan memasuki ibukota.

Setelah berlangsung peperangan selama enam tahun, kaisar Persia mau mengadakan perdamaian dengan Heraklius tetapi dengan satu syarat, Heraklius harus menyerahkan seribu talent emas, seribu talent perak, seribu pakaian dari sutera, seribu kuda dan seribu gadis perawan kepada Kisra.

Sementara pada ibukota Persia dan Romawi terjadi peristiwa tersebut, maka pada bangsa dipusat ibukota Jazirah Arabia, yaitu di Mekkah Almukarromah, terjadi pula hal yang serupa. Dikota tersebut terdapat orang-orang Majusi Persia, penyembah matahari dan api, dan orang-orang Romawi yang beriman kepada ajaran Isa (walau sudah diselewengkan).

Orang Islam dan orang-orang Romawi mengharapkan kemenangan mereka atas orang-orang kafir dan musyrikin, sebagaimana halnya mereka mengharapkan kekalahan orang-orang kafir Mekkah dan orang Persia, sebab mereka merupakan penyembah benda-benda materi. Sementara orang-orang Nasrani, meskipun sebagian dari mereka sudah menyimpang dari ajaran Isa Putra Maryam adalah merupakan saudara dan sahabat terdekat kaum Muslimin.

"Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Dan sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persahabatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata:"Sesungguhnya kami ini orang Nasrani". Yang demikian itu disebabkan karena diantara mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat pendeta-pendeta dan rabib-rabib, (juga) karena sesungguhnya mereka tidak menyombongkan diri."
(QS. 5:82)

Dengan demikian, pertarungan yang terjadi antara orang-orang Persia dan Romawi menjadi lambang luar pertarungan antara orang-orang Islam dan musuh-musuhnya di Mekkah. Maka pada waktu Persia berhasil mengalahkan orang-orang Romawi pada tahun 616 dan berhasil menguasai seluruh wilayah sebelah Timur negara Romawi, orang-orang Musyrikin pun mendapat kesempatan untuk menghina kaum Muslimin dengan mengatakan : 'Saudara kami berhasil mengalahkan saudara kamu. Demikian pula yang akan kami lakukan kepadamu jika kamu tidak mau mengikuti kami, meninggalkan agama kamu yang baru (Islam).'

Dalam keadaan yang menyakitkan itu, kaum Muslimin Mekkah sedang dalam kondisi yang paling lemah dan buruk dalam segi materi, sampai kemudian turun wahyu Allah kepada Nabi Besar Muhammad Saw :

"Alif Laam Miim. Telah dikalahkan bangsa Romawi, di negeri yang terdekat dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang, dalam beberapa tahun (lagi). Bagi Allah-lah urusan sebelum dan sesudah (mereka menang). Dan di hari (kemenangan bangsa Romawi) itu bergembiralah orang-orang yang beriman, karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Dialah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. (sebagai) janji yang sebenar-benarnya dari Allah. Allah tidak akan menyalahi janji-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui."
(QS. 30:1-6)

Sungguh turunnya wahyu ini kepada Nabi Saw merupakan suatu ujian mental dan Spiritual bagi semua sahabat-sahabat beliau. Jika apa yang dikatakan oleh Nabi Muhammad Saw ini tidak terbukti, maka sudah bisa diramalkan akan kehancuran kepercayaan mereka terhadap diri orang yang selama ini mereka percayai dan mereka kasihi.

Beberapa tahun kemudian, Heraklius membuat suatu rencana yang luar biasa untuk mengalahkan Persia. Heraklius tahu bahwa kekuatan angkatan laut Persia sangat lemah, oleh karena itu dia menyiapkan kapal-kapal untuk menyerang Persia dari belakang. Dia bertolak bersama-sama dengan sisa-sisa pasukannya lewat Laut Hitam ke Armenia, dan melakukan serangan kilat terhadap pasukan Persia. Menghadapi serangan mendadak itu, pasukan Persia tidak mampu bertahan dan lari bercerai berai.

Di Asia kecil, Persia memiliki pasukan yang besar.
Tetapi Heraklius menyerangnya dengan tiba-tiba dengan kapal-kapal perangnya, dan berhasil menghancurkan pasukan Persia. Setelah memperoleh kemenangan yang besar itu, kembalilah Heraklius keibukota Konstantinopel lewat jalan laut.

Setelah dua peperangan diatas, Heraklius melakukan peperangan yang lain melawan Persia pada tahun 623, 624 dan 625. Akibat peperangan tersebut, pasukan Persia terpaksa menarik diri dari seluruh tanah Romawi, dan Heraklius berada pada pusat yang memungkinkan baginya untuk menembus kejantung kekaisaran Persia. Akhirnya perang yang terakhir terjadi pada bulan Desember 627 disepanjang sungai Dajlah.

Pada waktu Kisra Chorus tidak dapat menahan arus tentara Romawi, ia melarikan diri dari istananya, tetapi kemudian ditahan oleh puteranya 'Siroes' dan dimasukkan kedalam penjara. Puteranya ini membunuh 18 orang saudara-saudaranya yang lain didepan mata sang ayah, Kisra Chorus. Pada hari kelima, Kisra meninggal dunia dalam penjara.

Selanjutnya Siroes pun terbunuh oleh salah seorang saudara kandungnya sendiri yang masih hidup. Maka mulailah pembunuhan-pembunuhan dilingkungan istana. Dalam masa 4 tahun, sudah 9 raja yang memegang tampuk pemerintahan. Dalam situasi yang demikian buruk ini, jelas Persia tidak mungkin dapat melanjutkan peperangannya melawan kerajaan Romawi.

Maka akhirnya Kavadh II, salah seorang putera kisra Chorus yang masih hidup, meminta damai dan mengusulkan pengunduran diri pasukan Persia dari tanah Romawi. Pada bulan Maret tahun 628 M, Heraklius kembali kekonstantinopel dengan pesta besar-besaran.

Umat Islampun yang mendengar kemenangan saudara-saudaranya para orang-orang Romawi ini melakukan tasbih dan syukur kepada Allah Swt. Semakin mendalamlah keyakinan dan kesetiaan mereka kepada Rasulullah Saw.

Edward Gibbon memperkecil arti ramalan Al-Qur'an dengan menghubungkannya dengan surat yang dikirim oleh Rasulullah Muhammad Saw kepada Kisra Choros II.

Tetapi hal ini terbantahkan dengan melihat waktu turunnya ayat tersebut kepada Nabi Muhammad Saw dan umatnya.
Surat dari Nabi Saw tersebut dikirim pada tahu ke-7 H, setelah perdamaian Hudaibiah, atau pada tahun 628 M.
Sementara Qur'an Surah Ar-Ruum ayat 1-6 yang memuat ramalan tersebut turun pada tahun 616 M, lama sebelum terjadinya Hijrah Nabi dan sahabat-sahabatnya. Jadi antara kedua peristiwa itu terdapat jarak 12 tahun.

Hal ini pun dimuat oleh buku 'Encyclopedia of Religion and Ethics'.

Qur'an dan Ilmu Pengetahuan
LE Qur'an Et La Science

Oleh : Armansyah
<><><><><><><><><><> <>


  1. Pengertian Al-Qur'an

Al-Qur'an adalah kitab suci yang diturunkan Allah Swt, Tuhan alam semesta, kepada Rasul dan NabiNya yang terakhir, Muhammad Saw melalui malaikat Jibril as untuk disampaikan kepada seluruh umat manusia sampai akhir jaman.

Al-Qur'an berarti bacaan, nama-nama lain dari kitab suci ini adalah Al-Furqaan (Pembeda), Adz Dzikir (Pengingat) dan lain-lain, tetapi yang paling terkenal adalah Al-Qur'an.

Sebagai kitab suci terakhir, Al-Qur'an bagaikan miniatur alam raya yang memuat segala disiplin ilmu, Al-Qur'an merupakan karya Allah Swt yang Agung dan Bacaan mulia serta dapat dituntut kebenarannya oleh siapa saja, sekalipun akan menghadapai tantangan kemajuan ilmu pengetahuan yang semakin canggih (sophisticated).

Kata pertama dalam wahyu pertama (The First Revelation) bahkan menyuruh manusia membaca dan menalari ilmu pengetahuan, yaitu Iqra'.

Adalah merupakan hal yang sangat mengagumkan bagi para sarjana dan ilmuwan yang bertahun-tahun melaksanakan penelitian di laboratorium mereka, menemukan keserasian ilmu pengetahuan hasil penyelidikan mereka dengan pernyataan -pernyataan Al-Qur'an dalam ayat-ayatnya.

Setiap ilmuwan yang melakukan penemuan pembuktian ilmiah tentang hubungan Al -Qur'an dengan ilmu pengetahuan akan menyuburkan perasaan yang melahirkan keimanan kepada Allah Swt, dorongan untuk tunduk dan patuh kepada Kehendak-Nya dan pengakuan terhadap Kemaha Kuasaan-Nya.

Tidak pada tempatnya lagi orang-orang memisahkan ilmu-ilmu keduniawian yang dianggap sekuler, seperti ilmu-ilmu sosial dengan segala cabangnya, dengan ilmu -ilmu Al-Qur'an. Para ilmuwan dapat sekuler, tetapi ilmu tidak sekuler.

Bila penyelidikan tentang alam raya ini adalah ilmiah, mana mungkin Pencipta Alam Raya ini tidak ilmiah. Bila percampuran dan persenyawaan unsur-unsur adalah ilmiah, mana mungkin Pencipta setiap unsur itu tidak ilmiah.

Begitu pula pembicaraan hal-hal kenegaraan adalah ilmiah, mana mungkin Pencipta perbedaan watak individu yang menjadikan beraneka ragam ideologi tidak ilmiah.

Al-Qur'an diturunkan dalam bahasa Arab, sehingga bahasa Arab menjadi bahasa kesatuan umat Islam sedunia. Peribadatan dilakukan dalam bahasa Arab sehingga menimbulkan persatuan yang dapat dilihat diwaktu 'shalat-shalat massal' dan ibadah haji.

Selain daripada itu, bahasa Arab tidak berubah, sangat mudah diketahui bila Al -Qur'an hendak ditambah atau dikurangi, banyak orang yang buta huruf terhadap bahasa nasionalnya, tetapi mahir membaca Al-Qur'an bahkan sanggup menghafal Al -Qur'an keseluruhan.

Al-Qur'an itu tiada lain hanyalah peringatan bagi seluruh umat (QS. 68:52), sesungguhnya Al-Qur'an itu adalah peringatan bagi seluruh umat (QS. 38:87), petunjuk bagi mereka yang bertaqwa (QS. 2:2), korektor dari semua kitab sebelumnya yang telah terdistorsi (QS. 5:48).

Al-Qur'an dalam bahasa Arab mempunyai gaya tarik dan keindahan yang deduktif.
Didapatkan dalam gaya yang singkat dan cemerlang, bertenaga ekspresif, berenergi eksplosif dan bermakna kata demi kata. (Dr. John Maish MA, The Wisdom Of The Koran. Oxford 1937)


  1. Pengertian Ilmu

Bila seseorang memiliki pengertian (understanding) atau sikap (attitude) tertentu, yang diperolehnya melalui pendidikan dan pengalaman sendiri, maka oleh banyak orang dianggap yang bersangkutan tahu atau berpengetahuan.

Begitu juga bila seseorang memiliki ketrampilan atau ketangkasan (aptitude) yang diperolehnya melalui latihan dan praktek, maka kemampuan tersebut disebut kebiasaan atau keahlian.

Namun keahlian atau kebiasaan ini, sekalipun karena keterbiasaan melakukan sesuatu, juga karena yang bersangkutan sebelumnya tahu itu adalah tahu mengerjakan (know to do), tahu bagaimana (know how) dan tahu mengapa (know why) sesuatu itu.

Jadi sekalipun menurut Peter Drucker (The Effective Executive), kebiasaan yang berurat berakar yang tanpa dipikirkan (in thinking habit) telah menjadi kondisi tak sadar (reflex condition), tetap sebelumnya harus merupakan pengetahuan yang dipelajari dan dibiasakan.

Tetapi E.J. Gladden dalam bukunya "The Essentials of Public Administration" menganggap ilmu sama dengan ketrampilan, hanya ketrampilan diperoleh melalui latihan dan belajar.

Sekarang sebenarnya dimana letaknya ilmu ?
Ilmu adalah bagian dari pengetahuan, sebaliknya, setiap pengetahuan belum tentu ilmu.
Untuk itu ada syarat-syarat yang membedakan ilmu (Science) dengan pengetahuan (knowledge), yaitu sbb:

Menurut Prof. Dr. Prajudi Atmosudirdjo, Administrasi dan Management Umum 1982, Ilmu harus ada obyeknya, terminologinya, metodologinya, filosofinya dan teorinya yang khas.

Menurut Prof. Dr. Hadari Nawawi, Metode Penelitian Bidang Sosial 1985, Ilmu juga harus memiliki obyek, metode, sistimatika dan mesti bersifat universal.

Menurut Prof. Dr. Sondang Siagian, Filsafat Administrasi 1985 :

Ilmu pengetahuan dapat didefenisikan sebagai suatu obyek ilmiah yang memiliki sekelompok prinsip, dalil, rumus yang melalui percobaan yang sistimatis dilakukan berulang kali telah teruji kebenarannya, prinsip-prinsip, dalil-dalil dan rumus-rumus mana dapat diajarkan dan dipelajari.

Menurut Prof. Drs. Sutrisno Hadi, Metodologi Reserach 1 1969 :

Ilmu pengetahuan sebenarnya tidak lain adalah kumpulan dari pengalaman -pengalaman dan pengetahuan-pengetahuan dari sejumlah orang-orang yang dipadukan secara harmonik dalam suatu bangunan yang teratur.

Dari pendapat2 diatas terlihat bahwa ilmu pengetahuan itu kongkrit sehingga dapat diamati, dipelajari dan diajarkan secara teratur, teruji, bersifat khas atau khusus, dalam arti mempunyai metodologi, obyek, sistimatika dan teori sendiri.

Disamping itu dalam pengajian ilmu-ilmu agama Islam, sementara ini meliputi antara lain yaitu berbagai ilmu Nahwu (seperti persoalan Fi'il dan Ijim), berbagai ilmu Tafsir (seperti tafsir Hadits dan Al-Qur'an dengan persoalan Nasikh, Mansukh, Mutasyabih, Tanzil dan Ta'wil), berbagai ilmu Tajwid (pronunciation), Qira'ah dan Balaghah (seperti Bayan, Ma'ani dan Badii), berbagai ilmu Fiqih dan Ushul Fiqih, berbagai ilmu Hadits (seperti kandungan dan perawi Hadits), berbagai ilmu tasawuf (seperti pengetahuan tentang Sufi, Tarekat, Mistisme dalam Islam, Filsafat Islam), berbagai ilmu Qalam (bentuk huruf Al -Qur'an), berbagai ilmu Arudh (poets) atau syair-syair Al-Qur'an dan berbagai ilmu Sharf (grammar, kata-kata dan morfologinya).

Pembagian fakultas dan jurusan yang ada pada perguruan tinggi Islam seperti IAIN, kita temui Fakultas Syariah (meliputi Tafsir baik Al-Qur'an sendiri maupun Al -Hadits, Perbandingan Mahzab, Bahasa Arab), Tarbiyah (meliputi Pendidikan Agama Islam, Bahasa Arab dan lain-lain), Ushuluddin meliputi Perbandingan Agama (muqdranatul addien), bahasa Arab dan lain-lain, Fakultas Adab dan Fakultas Da'wah.

Hal ini adalah karena pengetahuan keIslaman itu sendiri digolongkan atas Ibadah (yaitu tata cara peribadatan kepada Allah, dalam arti hubungan manusia dengan Allah atau Hablum Minallah, Muamalah (tata cara pergaulan sesama manusia, dalam arti hubungan antar manusia atau Hablum Minannas), persoalan Munakahaat dan persoalan Jinayaat.

Dalam Al-Qur'an ada lebih dari 854 ayat-ayat yang menanyakan mengapa manusia tidak mempergunakan akal(afala ta'kilun), yang menyuruh manusia bertafakur/memikirkan (tafakurun) terhadap Al-Qur'an dan alam semesta serta menyuruh manusia mencari ilmu pengetahuan.

Jadi kata yang identik dengan akal dalam Al-Qur'an tersebut 49 kali seperti kala Yatadabbarun dan Yatazakkarun, kata yang menganjurkan manusia menjadi ahli pikir, para sarjana, para ilmuwan dan para intelektual Islam (ulul albab) dalam Al -Qur'an disebut 16 kali, sehingga jumlah keseluruhan diatas adalah lebih kurang 854 kali.

Beberapa diantaranya adalah sbb :

"...Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui" (QS. 16:43)

"Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan sebuah Kitab (Al-Qur'an) kepada mereka yang Kami telah menjelaskannya atas dasar pengetahuan Kami.." (QS. 7:52)

"Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buatkan untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali orang yang berilmu." (QS. 29:43)

"Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat." (QS. 58:11)

"Dan Kami turunkan kepadamu al-Qur'an, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka supaya mereka memikirkan." (QS. 16:44)

"Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. Dan bintang -bintang itu ditundukkan (untukmu) dengan perintah-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memahami (memikirkannya)." (QS. 16:12)

"Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui ?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran." (QS. 39:9)

"...Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata:"Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami". Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal." (QS. 3:7)

"Yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal."
(QS. 39:18)

"...Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa dan bertaqwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal." (QS. 2:197)

"...Dan perumpamaan-perumpamaan itu kami buat untuk manusia supaya mereka
berfikir." (QS. 59:21)


  1. Al-Qur'an dan penelitian Ilmiah

Penelitian dapat dilakukan dalam segala disiplin ilmu, jadi tempat penelitian/laboratorium bukan hanya milik ilmu kedokteran yang meneliti dan mengamati kegiatan bakteri, dan bukan juga hanya milik ilmu kimia yang meneliti dan mengamati reaksi zat-zat yang dicampur di tabung reaksi.

Tetapi juga milik ilmu-ilmu lain, sehingga dikenal sekarang adanya laboratorium bahasa, laboratorium pemerintahan, laboratorium politik dsb.

Istilah yang menyebutkan 'Lain teori lain pula prakteknya' tidak tepat lagi karena teori dan pendapat ilmiah dari seorang ahli itu muncul setelah ybs melakukan penelitian, dengan demikian selalu didukung oleh kenyataan empiris. Meskipun kadang-kadang teori itu spekulatif namun demikian teori itu dekat dengan kenyataan.

Tujuan teori yaitu secara umum mempersoalkan pengetahuan dan menjelaskan hubungan antara gejala-gejala sosial dengan observasi yang dilakukan.

Teori juga bertujuan untuk meramalkan fungsi dari pada gejala-gejala sosial yang diamati itu berdasarkan pengetahuan-pengetahuan yang secara umum telah dipersoalkan oleh teori.

Dalam berbagai model penelitian untuk menemukan kebenaran ilmiah, ada yang memakai hipotesa, yaitu untuk penelitian yang uji hipotesa atau disebut juga penelitian analisis verifikatif, namun ada pula yang non hipotesis, seperti penelitian deskriptif, yang terdiri dari deskriptif developmental dan deskriptif eksploratif dan lain-lain.

 
                             Teori
 Konsep <-------------------------------------> Konsep
   |                                              |
   |                                              |
Operasionalisasi                         Operasionalisasi   
   |                                              |
   V                                              V
Variabel <-------------------------------------> Variabel
                       Hipotesis
 

(Sumber: Dr. Talizidulu Ndraha, Disain Riset dan Teknik Penyusunan Karya Tulis Ilmiah, 1987, yang menerangkan kedudukan Hipotesis terhadap Teori)

Hipotesa harus dibuktikan, tidak dapat menjadi praduga dan persangkaan belaka.
Bila tidak dibuktikan dan diuji, sipeneliti sudah barang tentu tidak mengetahui sejauh mana kebenaran ilmiahnya.

Hal ini bersesuaian dengan apa yang di Firmankan Allah dalam Al-Qur'an sbb:

"Dan mereka tidak mempunyai sesuatu pengetahuanpun tentang itu. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan sedang sesungguhnya persangkaan itu tiada berfaedah sedikitpun terhadap kebenaran." (QS. 53:28)

"...dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja."
(QS. 45:24)

Kata "persangkaan" dan "Duga-duga" dalam ayat diatas berarti hipotesa yang harus diuji dan dibuktikan kebenaran ilmiahnya.

Pada gambar yang telah saya cantumkan, menunjukkan hubungan antara variabel dengan hipotesa. Dari dua atau lebih variabel dapat dibuat hipotesa untuk penelitian analisis verifikatip.

Penelitian analisis verifikatip ditandai dengan penempatan kata "Pengaruh" atau "Peranan" didepan variabel bebas, selanjutnya memerlukan perhitungan statistik untuk menentukan ramalan (prediction) perubahan variabel tergantung, atas tindakan yang sudah dilakukan variabel bebas.

Sehingga antara variabel dengan variabel tergantung diletakkan kata "Terhadap" dan "Dalam" sebagai penghubung, misalnya :

  1. Pengaruh Promosi ASI terhadap berkurangnya penderita diare pada anak.
  2. Peranan Administrasi Pemerintahan Desa dalam Pembangunan Desa.

Lebih rendah gradiasinya dari pemakaian kata "Pengaruh" dan "Peranan" dipakai kata "Hubungan" dengan meletakkan kata "Dengan" sebagai penghubung, misalnya :

  1. Hubungan disiplin Islam secara mendasar dengan berkurangnya tindak kejahatan.
  2. Hubungan pengarsipan dengan pengambilan keputusan.

Variabel dibagi menjadi sub-sub variabel, untuk masing-masing dapat diuji sebagai hipotesa minor.

Penelitian2 seperti apa yang diuraikan diatas, baik analisis verifikatip maupun deskriptif (developmental atau eksploratif) dan lain-lain, sangat diperlukan oleh setiap cendikiawan dan intelektual Muslim, sebagai
realisasi Firman Allah sbb :

"Katakanlah: "Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi. Tidaklah bermanfa'at tanda kekuasaan Allah dan Rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman"." (QS. 10:101)

Kata "Perhatikanlah" dapat ditafsirkan sebagai "Lakukanlah Penelitian" karena merupakan perintah untuk para ilmuwan untuk lebih mendalami dan melakukan penelitian dibidang disiplin ilmunya masing-masing.
Dengan demikian ayat tersebut dapat lebih jauh ditafsirkan sbb :

Lakukanlah penelitian dilaboratorium2 berbagai disiplin ilmu pengetahuan, terhadap apa yang ada dan terjadi dari alam raya sampai pada dasar bumi.

Jika tidak, maka tidak akan bermanfaat bagi manusia tanda-tanda kebesaran Allah Rabbul 'Alamin, dan Rasul-rasulNya yang memberi peringatan, yaitu bagi orang -orang yang tidak mempergunakan akal pikirannya dan memiliki keyakinan akan kebesaran agama Islam.

Nabi Muhammad Saw sendiri juga memerintahkan agar umat Islam melakukan penelitian dan beliau juga menyebut-nyebut tentang ilmu pengetahuan sebagaimana diriwayatkan hadits-hadist berikut ini :

"Mencari ilmu pengetahuan itu wajib bagi setiap Muslimin dan Muslimat"

"Tuntutlah ilmu pengetahuan sejak dari buaian sampai keliang lahad."

"Bahwasanya ilmu itu menambah mulia bagi orang yang sudah mulia dan meninggikan seorang budak sampai ketingkat raja-raja."

"Apabila wafat seorang anak Adam, putuslah amal perbuatannya, kecuali tiga perkara, yaitu Ilmu yang membawa manfaat, sedekah Jariyah dan doa anak yang saleh."

"Tidak wajar bagi orang yang bodoh berdiri atas kebodohannya, dan tidak wajar bagi orang yang berilmu berdiam diri atas ilmunya."

"Yang binasa dari umatku ialah, orang berilmu yang zalim dan orang beribadah yang bodoh. Kejahatan yang paling jahat ialah kejahatan orang yang berilmu dan kebaikan yang paling baik ialah kebaikan orang yang berilmu."

"Jadilah kamu orang yang mengajar dan belajar atau pendengar atau pencinta ilmu, dan janganlah engkau jadi orang yang kelima (tidak mengajar, tidak belajar, tidak suka mendengar pelajaran dan tidak mencintai ilmu), nanti kamu akan binasa"

"Barang siapa menghendaki dunia, maka dia harus mencapainya dengan ilmu. Barang siapa menghendaki akhirat, maka dia harus mencapainya dengan ilmu. Dan barang siapa menghendaki keduanya, maka dia harus mencapainya dengan ilmu."

"Ma'rifat adalah modalku, akal pikiran adalah sumber agamaku, cinta adalah dasar hidupku, rindu adalah kendaraanku, berdzikir adalah kawan dekatku, keteguhan adalah perbendaharaanku, duka adalah kawanku, ilmu adalah senjataku, ketabahan adalah pakaianku, kerelaan adalah sasaranku, faqr adalah kebanggaanku, menahan diri adalah pekerjaanku, keyakinan adalah makananku, kejujuran adalah perantaraku, ketaatan adalah ukuranku, berjihad adalah perangaiku, hiburanku adalah dalam bersembahyang."


Al-Qur'an sebagai dasar Ilmu


Al-Qur'an dengan ilmu-ilmu Eksakta

1. Ilmu kesehatan Anak.

Dalam pidato pengukuhan gelar Guru Besar mata pelajaran ilmu kesehatan dan anak pada fakultas Kedokteran Universitas Airlangga di Surabaya, Prof. dr. Haroen Noerasid menyampaikan bahwa dalam keadaan diare sekalipun seorang bayi tetap boleh minum air susu ibu (ASI). Karena air susu ibu merupakan susu alamiah yang paling baik terutama untuk bayi yang baru lahir, lebih-lebih bila bayi tersebut prematur.

Dengan menyusu pada ibunya, bayi yang baru lahir mendapat air susu ibu yang mengandung colostrum, yang mengakibatkan bayi tersebut jarang terserang infeksi, terutama infeksi pada usus.

Pengamatan membuktikan bahwa air susu ibu yang diterima bayi akan melindungi bayi tersebut dari infeksi usus dan anggota badan lainnya.

Selanjutnya dr. Haroen Noerasid yang mengepalai Laboratorium/UPF Ilmu Kesehatan anak dan kepala seksi gastroenterologi anak RSUD dr. Soetomo Surabaya tersebut menjelaskan bahwa air susu ibu tidak perlu diragukan baik harganya maupun faedahnya.

Air susu ibu adalah susu yang paling gampang diperoleh, kapan saja dan dimana saja. Lebih instant dari susu yang manapun juga serta dapat diberikan secara hangat dengan suhu yang optimal dan bebas kontaminasi.

Statistik menunjukkan bahwa morbiditas (angka keadaan sakit pada suatu tempat) karena infeksi pada saluran pernafasan dan pencernaan bayi yang diberi susu ibu, lebih jarang dan sedikit terjadi dibandingkan dengan bayi yang diberi susu formula, oleh karena sering tercemar atau tidak memenuhi kebutuhan.

Di Philipina, sejak digalakkannya promosi air susu ibu, yang dilaporkan CLAVANO pada tahun 1981 dengan rawat gawat dan larangan kampanye susu formula, dirumah -rumah sakit dijumpai penurunan yang dramatis kejadian infeksi (terutama diare) dari 15% menjadi 1.5%.

Dari segi lain, pemberian air susu ibu juga menguntungkan bagi ibu-ibu, oleh karena berfungsi untuk merenggangkan kelahiran anak. (Prof. Dr. Haroen Noerasid. Penanggulangan Diare pada anak dalam rangka pelaksanaan sistem kesehatan nasional, Unair Surabaya 1986 hal. 11 s/d 12).

Segala apa yang diuraikan oleh dr. Haroen tersebut diatas bersesuaian dengan pernyataan Al-Qur'an yang telah diturunkan empat belas abad yang lalu.

Kendati Nabi Muhammad Saw tidak pernah kuliah pada satu fakultas kedokteranpun atau melakukan penelitian di laboratorium kesehatan, bahkan sebagaimana diketahui beliau dikenal sebagai seorang yang ummi sama sekali.

Selain dari itu, Al-Qur'an juga menentukan lamanya seorang bayi menyusu dengan air susu ibu, dan kemungkinan bagi bayi untuk disusukan kepada ibu-ibu lain sebagaimana dinyatakan dalam ayat berikut :

"Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan pernyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang ma'ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang itu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian.

Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu bila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertaqwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan." (QS. 2:233)

Agama Islam memberikan penghormatan besar kepada para ibu-ibu susuan ini, bahkan bila telah sama-sama dewasa, anak kandung dari ibu yang pernah menyusukan seseorang, maka tidak boleh menikah dengan sianak yang pernah disusukan tersebut.

Sejarah Islam mencatat bagaimana Nabi Muhammad Saw menghargai saudara-saudaranya sesusuan, dan menganggap mereka sebagai saudara kandung (Hamzah, Singa Gurun Pasir adalah salah satunya).

Hubungan2 Al-Qur'an dengan ilmu pengetahuan ini yang menjadikan salah satu bukti bahwa Al-Qur'an bukan berasal dari karangan Nabi Muhammad Saw tetapi berasal dari Allah Swt, Tuhan semesta alam sebagai sumber segala ilmu. Lebih jauh hak tersebut memperbanyak pemikir Islam semakin yakin dan semakin mempertebal keimanan dan keislaman.

Ayat-ayat lain selain ayat 233 Surah Al-Baqarah tersebut tentang ASI dan penyapihan adalah sbb :

"Dan Kami cegah Musa dari menyusu kepada perempuan-perempuan yang mau menyusui (nya) sebelum itu; maka berkatalah saudara Musa: "Maukah kamu aku tunjukkan kepadamu ahlul bait yang akan memeliharanya untukmu dan mereka dapat berlaku baik kepadanya?" (QS. 28:12)

"...kemudian jika mereka menyusukan (anak-anak)mu untukmu maka berikanlah kepada mereka upahnya; dan musyawarahkanlah di antara kamu (segala sesuatu), dengan baik; dan jika kamu menemui kesulitan maka perempuan lain boleh menyusukan (anak itu) untuknya." (QS. 65:6)

"Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula).Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan..." (QS. 46:15)

"Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibubapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu." (QS. 31:14)

Nabi Muhammad Saw didalam menjalankan misi kenabiannya, telah diberi oleh Allah beberapa mukjizat. Sebab mukjizat itu perlu dimiliki oleh setiap nabi untuk menunjukkan kekuasaan Allah kepada orang-orang kafir yang menentangnya.

Namun semua mukjizat itu atas izin Allah, bukan buatan nabi itu sendiri, bahkan mukjizat yang telah diberikan kepada nabi Muhammad Saw adalah paling unggul dibanding mukjizat para nabi sebelumnya.

Tetapi, bagaimana juga, Islam melarang melebihkan atau mengkultuskan nabi Muhammad Saw dari nabi-nabi sebelum beliau.

Mukjizat itu ada dua macam :

1. Mukjizat Hissiyah

Mukjizat ini mudah ditangkap oleh indera manusia.
Mukjizat semacam ini diberikan oleh Allah kepada semua nabiNya. Nabi Muhammad Saw juga menerima mukjizat jenis ini.

Seperti tongkat Musa bisa berubah menjadi ular raksasa dan bisa membelah laut. Nabi Ibrahim tidak hangus ketika dibakar oleh kaumnya, Nabi Isa putra Maryam dapat memberi makan banyak orang yang kelaparan hanya dengan beberapa potong roti dan seekor ikan.

Nabi Muhammad Saw dapat memberi minum ratusan kaum Muslimin yang sedang kehausan, dengan memancarkan air dari tangannya yang mulia itu, membuat makanan tidak pernah habis ketika dimakan oleh banyak sahabatnya didalam beberapa kali pertemuan, dsb.

Mukjizat seperti ini mudah dilihat oleh mata kepala tanpa ilmu apapun.

2. Mukjizat Maknawiyah atau Aqliyah

Mukjizat ini hanya bisa diketahui oleh orang-orang yang berilmu atau intelektual, yang ini hanya diberikan kepada Nabi Muhammad Saw.

Dan yang mampu menilai keagungan mukjizat ini hanyalah orang-orang yang memiliki disiplin ilmu pengetahuan atau orang yang mau mencari sosok kebenaran itu dengan menggunakan akal pikirannya untuk berpikir.

Beberapa tahun yang lalu, pernah diselenggarakan pameran Islam di London Inggris.
Salah satu benda yang dipamerkan adalah sebuah kaligrafi Al-Qur'an surah Az -Zumar :

God created you in the wombs of your mothers,
creation after creation,
in a threefold gloom.

Arti bahasa Indonesianya :

Allah menciptakan kamu didalam perut ibumu
Tahap kejadian demi tahap kejadian
Didalam gelap yang tiga

Lalu masuklah seorang ahli bedah kandungan bangsa Inggris non-Muslim.
Setelah melihat benda-benda yang dipajang, akhirnya ia melihat kaligrafi tersebut.
Ia tidak mengerti huruf kaligrafi itu, tetapi setelah membaca terjemahannya, dia merasa heran dan sangat mengaguminya.

Sebagai ahli kandungan, dia mengetahui bahwa bayi yang terdapat dalam rahim ibu dilindungi oleh tiga selaput halus tetapi kuat.

Selaput itu adalah Amnion Membrane, Decidua Membrane dan Chorion Membrane.

Dokter ini terpesona karena mengetahui bahwa ayat yang dilihat itu diturunkan oleh Allah sekitar 1.400 tahun yang lalu, disaat Eropa dan Amerika masih tenggelam dalam kebodohan.

Sedangkan Muhammad yang buta huruf, berkat adanya wahyu itu, bisa menerangkan keadaan bayi dalam kandungan, sebagaimana hasil penemuan para ahli kedokteran dimasa sekarang.

"Dia menjadikan kamu dalam perut ibumu kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan. Yang berbuat demikian itu adalah Allah, Tuhan kamu, Tuhan yang mempunyai kerajaan. Tidak ada Ilah (yang berhak disembah) selain Dia; maka bagaimana kamu dapat dipalingkan." (QS. 39:6)

"Kitab (Al-Qur'an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa."
(QS. 2:2)

"(Al-Qur'an) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertaqwa."
(QS. 3:138)

"Tetapi orang-orang yang mendalam ilmunya di antara mereka dan orang-orang mu'min, mereka beriman kepada apa yang telah diturunkan kepadamu (al-Qur'an)"
(QS. 4:162)

"...keterangan-keterangan (mu'jizat) dan kitab-kitab. Dan Kami turunkan kepadamu al-Qur'an, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka supaya mereka memikirkan"
(QS. 16:44)


Ilmu Falak


Sesuatu ayat Al-Qur'an diturunkan selain untuk meng-Esakan Allah, juga untuk memberikan peraturan (syari'at) dan untuk lain-lain, diantaranya juga untuk memperkenalkan isi alam raya ini kepada manusia, jauh sebelum para ilmuwan menemukan rahasianya.

Hal ini sesuai dengan fungsi penurunan Al-Qur'an & diutusnya nabi Muhammad Saw sendiri yang membawa rahmat kepada seluruh alam :

"Dan kamu (wahai Muhammad) sekali-kali tidak meminta upah kepada mereka (terhadap seruanmu ini), itu tidak lain hanyalah pengajaran bagi semesta alam." (QS. 12:104)

"Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam." (QS. 21:107)

"Al-Qur'an ini tidak lain hanyalah peringatan bagi semesta alam." (QS. 38:87)

Dr. Maurice Bucaille, dalam bukunya Bibel, Qur'an dan Sains Modern menyayangkan penterjemahan Al-Qur'an yang kurang memperhatikan segi ilmiahnya. Penterjemahan Al-Qur'an selama ini biasanya hanya cenderung memperhatikan sisi sastranya saja.

Sebagai contoh ayat berikut ini :

"Dia menciptakan langit dan bumi dengan (tujuan) yang benar; Dia menutupkan malam atas siang dan menutupkan siang atas malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. Ingatlah Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun." (QS. 39:5)

Kata menutupkan dalam surah Az-Zumar diatas, berasal dari kata 'Kawwiru'.
Oleh para penterjemah Al-Qur'an di Indonesia kata 'Kawwiru' ini diterjemahkan dengan berbagai arti yang beraneka ragam.

Berikut menurut masing-masing penterjemah yang berusaha mengartikan kata 'Kawwiru' :

Menurut Bachtiar Surin dalam 'Terjemahan Al-Qur'an' mengartikan 'Kawwiru' dengan kata 'Menyungkupkan'.

Departemen Agama RI didalam Al-Qur'an terjemahannya mengartikan 'Kawwiru' dengan kata 'Menutupkan'.

Menurut H. Oemar Bakry dalam 'Tafsir Rahmat' mengartikan 'Kawwiru' dengan kata 'Mengganti'.

Menurut A. Hassan dalam 'Tafsir Al Furqan' mengartikan kata 'Kawwiru' dengan kata 'Putarkan'.

Menurut H.B. Jassin dalam 'Bacaan Mulia' mengartikan 'Kawwiru' sebagai 'Mengalihkan'.

Menurut K.H. Ramli dalam 'Al Kitabul Mubin Tafsir AlQur'an Bahasa Sunda' mengartikan 'Kawwiru' dengan 'Muterkeun' atau 'Ngagulungkeun' (Dalam bahasa Indonesia berarti memutarkan atau menggulungkan).

Menurut Prof. Dr. Hamka dalam 'Tafsir Al Azhar' mengartikan kata 'Kawwiru' dengan kata 'Menutupkan' (sama seperti Depag).

Menurut H. Fachruddin HS dan H. Zainuddin Hamidy dalam 'Al-Quran dan Terjemahan Bahasa Indonesia' mengartikan kata 'Kawwiru' dengan kata 'Dijadikan-Nya'.

Menurut hal-hal tersebut diatas menunjukkan keutamaan Al-Qur'an, yaitu andaikata dalam setiap terjemahan Al-Qur'an tidak ditemukan lagi teks aslinya dalam bahasa Arab, penterjemahan akan semakin menjauh.

Tetapi Al-Qur'an walaupun terjemahan disesuaikan dengan cerita, situasi dan kondisi cerita secara fleksibel, orang-orang masih dapat memeriksa masing-masing kata tersebut dengan melihat aslinya, Kitab Suci Al-Qur'an dalam bahasa Arab tersebut, dan menguraikannya secara harfiah.

Bucaille menganggap bahwa hanya R. Blachere yang paling tepat menterjemahkan kata 'Kawwiru' kedalam bahasa Prancis, yaitu kata 'Enrouler' (Menggulung).

Memang arti lain daripada kata ini ada, namun arti yang sebenarnya adalah serban bulat yang biasanya dipakai oleh orang-orang Arab dengan menggulungkan kain tersebut berputar-putar kekepala mereka.

Jadi sebagaimana kita ketahui bahwa 'Malam' disebabkan oleh keadaan bumi membelakangi matahari sehingga gelap, sedangkan 'siang' disebabkan oleh keadaan bumi menghadapkan tanah tempat kita berpijak kepada matahari sehingga terang benderang.

Pergantian2 siang dan malam berputar-putar ini diibaratkan serban orang Arab yang berputar-putar dikepala, ini tampak terlihat bila kita berada pada pesawat ruang angkasa yang sedang meninggalkan ataupun sedang kembali kebumi.

Dengan begitu, melalui potongan ayat 5 Surah Az-Zumar yang berbunyi :

'.... Dia menggulungkan malam atas siang dan menggulungkan siang atas malam...."

Seakan-akan Allah Swt menjelaskan kepada umat manusia bahwa :

  1. Bumi berotasi (berputar) pada sumbunya
  2. Bumi bulat adanya

Sebab apabila saja terjadi misalnya kejadian bumi tidak bulat ataupun bumi tidak berotasi pada sumbunya, maka salah satu hal tersebut terjadi, maka sebagai tempat dipermukaan bumi yang berada di Khatulistiwa sekalipun akan mengalami keadaan malam berkepanjangan, sebaliknya lokasi yang tegak lurus dengan tempat tersebut akan mengalami keadaan siang berkepanjangan.

Lebih jauh mengenai rotasi bumi pada sumbunya ini dijelaskan dalam Surah An-Naml 88:

"Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan sebagaimana jalannya awan...." (QS. 27:88)

Terjadinya malam berkepanjangan atau siang berkepanjangan seperti yang telah kita uraikan, adalah karena apabila terjadi tidak adanya rotasi salah satu planet pada sumbunya, sehingga dapat terus menerus melihat matahari, atau terus menerus membelakangi matahari, atau juga terus menerus menyamping terhadap matahari, tergantung posisinya dalam membuat gerakan melingkar (edar) pada matahari.

Hal ini tentu membuat sisi yang menghadap matahari terus menerus akan kering kerontang dengan suhu asngat tinggi, sebaliknya sisi yang membelakangi matahari terus menerus akan dingin membeku dengan suhu rendah (Menurut penelitian planet Venus mengalami keadaan seperti ini).

Semua peristiwa diatas dengan terperinci sudah diceritakan dalam Al-Qur'an surah 28 ayat 71 sampai dengan 73 sbb :

  1. Katakanlah: "Terangkanlah kepadaku, jika Allah menjadikan untukmu malam itu terus-menerus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan sinar terang kepadamu maka apakah kamu tidak mendengar?"
  2. Katakanlah: "Terangkanlah kepadaku, jika Allah menjadikan untukmu siang itu terus-menerus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan malam kepadamu yang kamu beristirahat padanya, Maka apakah kamu tidak memperhatikan?"
  3. Dan karena rahmat-Nya, Dia jadikan untukmu malam dan siang, supaya kamu beristirahat pada malam itu dan supaya kamu mencari sebahagian dari karunia-Nya (pada siang hari) dan agar kamu bersyukur kepada-Nya.
    (QS. Al-Qashash 71-73)

Bumi


Berbicara mengenai bumi, maka sama seperti pokok-pokok yang dibicarakan mengenai penciptaan benda-benda lainnya, ayat yang mengenai bumi ini adalah tersebar diseluruh Qur'an. Untuk mengelompokkannya tidaklah mudah.

Untuk terangnya pembahasan ini, pertama kita dapat memisahkan ayat-ayat yang biasanya membicarakan bermacam-macam persoalan akan tetapi ayat-ayat tersebut mempunyai ciri umum, yaitu mengajak manusia untuk memikirkan nikmat-nikmat Tuhan dengan memakai contoh-contoh.

Ada lagi kelompok ayat-ayat yang dapat dipisahkan, yaitu ayat-ayat yang membicarakan soal-soal khusus seperti :

* Siklus (peredaran) air dan lautan
* Dataran Bumi
* Atmosfir bumi


  1. Ayat-ayat yang bersifat umum

Ayat-ayat yang mengajak manusia untuk memikirkan nikmat-nikmat Tuhan kepada ciptaan-Nya, mengandung disana sini pernyataan-pernyataan yang baik sekali untuk dihadapkan dengan Sains Modern.

Dari segi pandangan ini ayat-ayat tersebut malah lebih penting karena tidak menyebutkan kepercayaan-kepercayaan yang bermacam-macam mengenai fenomena alamiah, yaitu kepercayaan yang digemari oleh manusia pada jaman turunnya wahyu yang sekarang ini terbukti salah oleh Ilmu Pengetahuan dan Tekonologi.

Disatu pihak, ayat-ayat itu memajukan ide sederhana yang dapat dimengerti dengan mudah oleh mereka yang diajak bicara oleh Qur'an berhubung dengan kedudukan geografis mereka, yaitu penduduk Mekkah dan Madinah, serta orang-orang Badui di Jazirah Arabia.

Dilain pihak ayat-ayat itu menyajikan pemikiran-pemikiran umum yang dapat dimanfaatkan masyarakat luas yang terpelajar disegala tempat dan disegala waktu. Hal ini salah satu hal yang menunjukkan bahwa Qur'an itu suatu buku universil (untuk segala manusia sepanjang jaman).

Oleh karena tak ada pengelompokan ayat-ayat tersebut dalam Al-Qur'an, maka ayat -ayat itu kita sajikan menurut urut-urutan Surah.

"Dialah Yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air hujan dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui." (QS. 2:22)

"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan."
(QS. 2:164)

"Dan Dialah Tuhan yang membentangkan bumi dan menjadikan gunung-gunung dan sungai-sungai padanya. Dan menjadikan padanya semua buah-buahan berpasang -pasangan, Allah menutupkan malam kepada siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan."
(QS. 13:3)

"Dan Kami telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya gunung-gunung dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran. Dan Kami telah menjadikan untukmu di bumi keperluan-keperluan hidup, dan (Kami menciptakan pula) makhluk -makhluk yang kamu sekali-kali bukan pemberi rezki kepadanya. Dan tidak ada sesuatupun melainkan pada sisi Kami-lah khazanahnya; dan Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran tertentu." (QS. 15:19-21)

"Yang telah menjadikan bagimu bumi sebagai hamparan dan yang telah menjadikan bagimu di bumi itu jalan-jalan, dan menurunkan dari langit air hujan. Maka Kami tumbuhkan dengan air hujan itu berjenis-jenis dari tumbuh-tumbuhan yang bermacam-macam. Makanlah dan gembalakanlah binatang-binatangmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu, terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang berakal." (QS. 20:53-54)

"Atau siapakah yang telah menjadikan bumi sebagai tempat berdiam, dan yang menjadikan sungai-sungai di celah-celahnya, dan yang menjadikan gunung-gunung (mengkokohkan)nya dan menjadikan suatu pemisah antara dua laut? Apakah di samping Allah ada Tuhan (yang lain)? Bahkan (sebenarnya) kebanyakan dari mereka tidak mengetahui." (QS. 27:61)

Disini terdapat isyarat kepada stabilitas umum dari pada muka bumi. Kita sudah dapat mengetahui bahwa pada periode-periode permulaan dari pada bumi, maka bumi sebelum dingin tidak stabil.

Stabilitas muka bumi tidak mutlak, karena terdapat zone (daerah) dimana gempa bumi sering terjadi. Adapun pemisah antara dua lautan, hal ini merupakan gambaran (image) tentang tidak tercampurnya air sungai dan air laut pada muara -muara yang besar seperti yang akan kita lihat nanti.

(Wow... Maha Suci Allah, jauh sebelum manusia sadar bahwa diantara dua lautan itu ada suatu pemisah, Nabi Muhammad Saw yang bahkan tidak pernah berlayar sama sekali berkat petunjuk Allah, dapat menjabarkan sedemikian baiknya mengenai masalah ini).

Ada lagi ayat yang menjelaskan hal serupa :

"Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu, antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui oleh masing-masing." (QS. 55:19-20)

Muhammad tidak pernah sekolah, meskipun dia orang jenius tetapi apabila tidak pernah mengadakan penelitian atau pengamatan, dia pasti mengetahui apa-apa, kecuali mendapat petunjuk dari Allah Swt.

Air laut (Asin) bertemu dengan air tawar, namun keduanya tidak bisa bercampur aduk menjadi satu macam air.
Kebenaran ayat ini terbukti dengan menggunakan ilmu pengetahuan modern.
Bisakah Muhammad mengetahui hal tersebut tanpa petunjuk dari Allah yang Maha Menciptakan ?

Mari kita teruskan pembahasan ilmiah kita terhadap ayat-ayat Qur'an ini...

"Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezkinya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan." (QS. 67:15)

"Dan bumi sesudah itu dihamparkan-Nya. Ia memancarkan daripadanya mata airnya, dan (menumbuhkan) tumbuh-tumbuhannya. Dan gunung-gunung dipancangkan-Nya dengan teguh, (semua itu) untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu." (QS. 79:30-33)

Dalam beberapa ayat diatas, pentingnya air serta akibat praktis dari adanya air terhadap tanah dan kesuburan tanah, digaris bawahi. Dalam negeri-negeri bersahara, air adalah unsur nomor satu yang
mempengaruhi kehidupan manusia.

Tetapi disebutkannya hal ini dalam Qur'an melampau keadaan geografis yang khusus. Keadaan planet yang kaya akan air, keadaan yang unik dalam sistem matahari seperti yang dibuktikan oleh Sains Modern, disini ditonjolkan. Tanpa air, bumi akan menjadi planet mati seperti bulan. Al-Qur'an memberi kepada air tempat yang pertama dalam menyebutkan fenomena alamiah daripada bumi. Siklus air telah mendapatkan gambaran yang sangat tepat didalam kitab suci ini.


Siklus Air dan Lautan


Jika pada waktu ini kita membaca ayat-ayat Qur'an yang mengenai air dan kehidupan manusia, ayat demi ayat, semuanya akan nampak kepada kita sebagai ayat-ayat yang menunjukkan hal yang sudah jelas.
Sebabnya adalah sederhana; pada jaman kita sekarang ini, kita semua mengetahui siklus air dalam alam, meskipun pengetahuan kita itu tidak tepat keseluruhannya.

Tetapi jika kita memikirkan konsep-konsep lama yang bermacam-macam mengenai hal ini, kita akan mengetahui bahwa ayat-ayat Qur'an tidak menyebutkan hal-hal yang ada hubungannya dengan konsep mistik yang tersiar dan mempengaruhi pemikiran filsafat secara lebih besar daripada hasil-hasil pengamatan.

Jika orang-orang jaman dulu telah dapat memperoleh pengetahuan praktis yang bermanfaat, untuk memperbaiki pengairan air, walaupun pengetahuan itu terbatas.

Dengan cara pemikiran orang dahulu itu, mudahlah bagi seseorang untuk menggambarkan bahwa air dibawah tanah itu dapat diperoleh karena terjadinya gugusan dalam tanah.

Orang menyebutkan konsep Vitruvius Polio Marcus yang pada abad 1 SM mempertahankan ide tersebut di Roma. Dengan begitu, selama beberapa abad, dan juga setelah Qur'an diwahyukan banyak orang yang mengikuti ide yang salah tentang regime air.

Konsepsi tentang siklus air yang jelas untuk pertama kali diutarakan oleh Bernard Palissy pada tahun 1580. Konsepsi ini mengatakan bahwa air dibawah tanah asalnya dari infiltrasi air hujan dalam tanah. Teori ini kemudian dibenarkan oleh E. Mariotte dan P. Perrault pada abad XVII M.

Dalam ayat-ayat Qur'an tidak terdapat konsepsi yang salah, malah semakin ilmiah saja.

"Dan Kami turunkan dari langit air yang banyak manfa'atnya lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan biji-biji tanaman yang diketam, dan pohon kurma yang tinggi-tinggi yang mempunyai mayang yang bersusun-susun, untuk menjadi rezki bagi hamba-hamba (Kami), dan Kami hidupkan dengan air itu tanah yang mati (kering). Seperti itulah terjadinya kebangkitan." (QS. 50:9-11)

"Dan kami turunkan air dari langit menurut suatu ukuran; lalu Kami jadikan air itu menetap di bumi, dan sesungguhnya Kami benar-benar berkuasa menghilangkan. Lalu dengan air itu, Kami tumbuhkan untuk kamu kebun-kebun kurma dan anggur; di dalam kebun-kebun itu kamu peroleh buah-buahan yang banyak dan sebahagian dari buah-buahan itu kamu makan."
(QS. 23:18-19)

"Dan Kami telah mengirimkan angin untuk mengawinkan (tumbuh-tumbuhan) dan Kami turnkan hujan dari langit, lalu Kami beri minum kamu dengan air itu, dan sekali -kali bukanlah kamu yang menyimpannya." (QS. 15:22)

Ada dua cara untuk menafsirkan ayat yang terakhir ini, angin yang menyuburkan dapat dianggap sebagai penyubur tanam-tanaman dengan jalan membawa Pollen (benih buah dari tumbuh-tumbuhan lain).

Tetapi dapat juga ditafsirkan sebagai ekspresi kiasan yang menggambarkan peranan angin yang membawa awan yang tidak mendatangkan hujan atau awan yang membawa hujan.

Peranan ini sering disebut dalam ayat, seperti berikut :

"Dan Allah, Dialah yang mengirimkan angin; lalu angin itu menggerakkan awan, maka kami halau awan itu ke suatu negeri yang mati lalu kami hidupkan bumi setelah matinya dengan hujan itu. Demikianklah kebangkitan itu." (QS. 35:9)

"Allah, Dialah yang mengirim angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang dikehendaki-Nya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal; lalu kamu lihat hujan ke luar dari celah-celahnya, maka apabila hujan itu turun mengenai hamba-hambaNya yang dikehendaki-Nya tiba-tiba mereka menjadi gembira." (QS. 30:48)

"Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); hingga apabila angin itu telah membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu, maka Kami keluarkan dengan sebab angin itu pelbagai macam buah -buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan orang-orang yang telah mati, mudah -mudahan kamu mengambil pelajaran." (QS. 7:57)

"Dialah yang meniupkan angin (sebagai) pembawa kabar gembira dekat sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); dan Kami turunkan dari langit air yang amat bersih, agar Kami menghidupkan dengan air itu negeri (tanah) yang mati, dan agar Kami memberi minum dengan air itu sebagian besar dari makhluk Kami, Binatang-binatang ternak dan manusia yang banyak."
(QS. 25:48-49)

"Dan pada pergantian malam dan siang dan hujan yang diturunkan Allah dari langit lalu dihidupkanNya dengan air hujan itu bumi sesudah matinya; dan pada perkisaran angin terdapat pula tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berakal."
(QS. 45:5)

"Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, maka mengalirlah air di lembah -lembah menurut ukurannya, maka arus itu membawa buih yang mengembang." (QS. 13:17)

"Katakanlah: "Terangkanlah kepadaku jika sumber air kamu menjadi kering; maka siapakah yang akan mendatangkan air yang mengalir bagimu?". (QS. 67:30)

"Apakah kamu tidak memperhatikan, bahwa sesungguhnya Allah menurunkan air dari langit, maka diatur-Nya menjadi sumber-sumber air di bumi kemudian ditumbuhkan -Nya dengan air itu tanaman-tanaman yang bermacam-macam warnanya, lalu ia menjadi kering lalu kamu melihatnya kekuning-kuningan, kemudian dijadikan-Nya hancur berderai-derai. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal." (QS. 39:21)

"Dan Kami jadikan padanya kebun-kebun kurma dan anggur dan Kami pancarkan padanya beberapa mata air." (QS. 36:34)

Pentingnya sumber-sumber dan diisinya dengan air hujan yang digiring kearah sumber itu digaris bawahi dengan tiga ayat terakhir. Kita perlu memperhatikan hal ini, untuk mengingat konsepsi yang tersiar pada abad pertengahan seperti konsepsi Aristotelis yang mengatakan bahwa sumber-sumber itu mendapat air dari danau-danau dibawah bumi.

Dalam artikel 'Hidrologie' dalam Encyclopedia Universalis, M.R. Remenieras, Guru Besar pada Ecolenationale du Genie rural, des Eaux et Forets (sekolah nasional untuk pertahanan desa, pertahanan air dan hutan), menerangkan tahap-tahap pokok dari pada hidrologi dan menyebutkan proyek-proyek irigasi Kun0, khususnYa di Timur TEngah.

Ia mengatakan bahwa empirisme telah mendahului ide pada waktu itu dan konsepsi -konsepsi yang salah. Kemudian ia meneruskan : Perlu manusia menunggu jaman Renaissance (antara tahun 1400 - 1600) untuk melihat konsep-konsep filsafat mundur dan memberikan tempatnya kepada penyelidikan-penyelidikan fenomena hidrologi yang didasarkan atas pengamatan (observasi).

Leonardo da vinci (1452-1519) menentang pernyataan Aristoteles.
bernard PalisSy dalam bukuNya 'PenyelidIkan yang menGagumkan tentAng watak air dan air mancUr, yang alamIah dan yang Buatan), membErikan interpRestasi yang Benar tentang siklus air dAn khususnya Pengisian sumBer-sumber aiR daripada aiR hujan.

Surah Az-Zumar ayat 21 yang menyebutkan bahwa air hujan itu mengarah kepada sumber-sumber air, bukankah ini tepat sekali seperti apa yang ditulis oleh Palissy tahun 1570.

Kemudian Al-Qur'an membicarakan butiran-butiran es dalam surah An-Nuur ayat 43:

"Tidakkah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian)nya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih, maka kelihatan olehmu hujan keluar dari celah-celahnya dan Allah (juga) menurunkan (butiran -butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan seperti) gunung -gunung, maka ditimpakan-Nya (butiran-butiran) es itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan dipalingkan-Nya dari siapa yang dikehendaki-Nya. Kilauan kilat awan itu Hampir-hampir menghilangkaN penglihatan." (QS. 24:43)


Lautan


Sebagaimana ayat-ayat Qur'an telah memberikan bahan perbandingan dengan ilmu pengetahuan modern mengenai siklus air dalam alam pada umumnya, hal tersebutakan kita rasakan juga mengenai lautan.

Tidak ada ayat AL-Qur'an yang mengisahkan mengenai kelautan yang bertentangan dengan ilmu pengetahuan. Begitu juga perlu digaris bawahi bahwa tidak ada ayat Qur'an yang membicarakan tentang lautan menunjukkan hubungan dengan kepercayaan -kepercayaan atau mitos atau takhayul yang Terdapat pada jaman Qur'an diwahyukan.

Beberapa ayat yang mengenai lautan dan pelayaran mengemukakan tanda-tanda kekuasaan Tuhan yang nampak dalam pengamatan sehari-hari, dimana semua itu untuk dipikirkan.

Ayat-ayat tersebut adalah :

"Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezki untukmu; dan Dia telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan Dia telah Menundukkan (Pula) bagimu Sungai-sungai." (QS. 14:32)

"Dan Dia-lah, Allah yang menundukkan lautan (untukmu), agar kamu dapat memakan daripadanya daging yang segar (ikan), dan kamu mengeluarkan dari lautan itu perhiasan yang kamu pakai; dan kamu melihat bahtera berlayar padanya, dan supaya kamu mencari (keuntungan) dari karunia-Nya, dan supaya Kamu bersyukuR." (QS. 16:14)

"Tidakkah kamu memperhatikan bahwa sesungguhnya kapal itu berlayar di laut dengan nikmat Allah, supaya diperlihatkan-Nya kepadamu sebagian dari tanda-tanda (kekuasaan)-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda -tanda bagi semua orang yang sangat sabar lagi Banyak bersyuKur." (QS. 31:31)

"Dan suatu tanda (kebesaran Allah) bagi mereka adalah Kami angkut keturunan mereka dalam bahtera yang penuh muatan, dan Kami ciptakan untuk mereka yang akan mereka kendarai seperti bahtera itu. Dan jika Kami menghendaki niscaya Kami tenggelamkan mereka, maka tiadalah bagi mereka penolong dan tidak pula mereka diselamatkan, kecuali karena Rahmat yang besar dari Kami dan untuk memberikan kesenangan hidup sampai pada waktu tertentu." (QS. 36:41-44)

Pada dini hari para nelayan bertolak kelaut mencari ikan, mereka mengembangkan layar perahunya karena mengharapkan angin darat meniup perahu mereka kelaut.

Begitu pula sebaliknya bila mereka hendak pulang, mereka mengembangkan layar perahunya mengharapkan angin laut menghantarkan mereka kedarat.

Begitulah pertolongan Allahus Shamad (Allah tempat bergantung segala sesuatu), karena Allah juga Rabbul Mustadh'afin.

Peristiwa diatas ini telah dimuat dalam Al-Qur'an dengan manis :

"...bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia..." (QS. 2:164)

Hal ini terjadi karena memang udara didarat pada siang hari terasa panas, menjadikan udara tersebut memuai (mengembang) sehingga karena kepadatannya udara tersebut bergerak ketempat yang relatif lebih renggang dilaut. Sedangkan panasnya laut pada malam hari membuat udara memuai (mengembang) Sehingga kareNa kepadatannYa pula udara tersebut berGerak ketempaT yang relatiF lebih renggAng didarat, Sesuai sifatnYa.

Udara yang bergerak disebut angin, membawa serta awan yang mengundang air atau butir-butir es (bila membatu). Hal ini menjadi keterangan AL-Qur'an pada potongan ayat selanjutnya, sebagai berikut :

"...dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi (atmosfir).." (QS. 2:164)

Secara lengkap penulis cantumkan keseluruhan Surah Al-Baqarah ayat 164
Tersebut sbb :

"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala Jenis hewan, Dan pengisaraN angin dan aWan yang dikeNdalikan antaRa langit dan bumi (atm0sfIr); sungguh (terdapat) taNda-tanda (keEsaan dan kebEsaran allah) bagi kaum yaNg memikirkan." (QS. 2:164)

Perjalanan awan tersebut dalam ayat diatas adalah merupakan salah satu dari proses siklus air, air yang berasal dari manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan maupun dari alam sekitarnya seperti sungai, danau, kolom, got, selokan, parit, WC dam kamar mandi bergerak dari tempat yang tinggi ketempat yang Relatif lebih rendah, sehiNgga pada akhIrnya sebagiaN bisa sampai kelaut.

Dilautlah udara (disamping penguapan pada tempat-tempat lain), uap air diudara berkumpul membentuk awan.

Bersama angin gumpalan-gumpalan awan tersebut terbawa, dan oleh kelembaban tertentu (misalnya oleh gunung atau hutan) berubah kembali menjadi bintik-bintik hujan.

Peristiwa perjalanan awan lebih lengkap difirmankan oleh Allah dalam Surah An -Nuur 24 ayat 43 berikut ini:

"Tidakkah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian)nya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih, maka kelihatan olehmu hujan keluar dari celah-celahnya dan Allah (juga) menurunkan (butiran -butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan seperti) gunung -gunung, maka ditimpakan-Nya (butiran-butiran) es itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan dipalingkan-Nya dari siapa yang dikehendaki-Nya. Kilauan kilat awan itu hampir-hampir menghilangkan penglihatan." (QS. 24:43)

Ada lagi fakta mengenai lautan untuk diamati, fakta tersebut dapat diambil dari ayat-ayat Qur'an tentang lautan dan fakta tersebut menunjukkan suatu aspek yang khusus.

Tiga ayat membicarakan sifat-sifat sungai yang besar jika sungai itu menuang kedalam lautan.

Suatu fenomena yang sering kita dapatkan adalah bahwa air lautan yang asin, dengan air sungai-sungai besar yang tawar tidak bercampur seketika.

Orang mengira bahwa Qur'an membicarakan sungai Euphrat dan Tigris yang setelah bertemu dalam muara, kedua sungai itu membentuk semacam lautan yang panjangnya lebih dari dari 150 Km, dan dinamakan Syath al Arab.

Didalam teluk pengaruh pasang surutnya air menimbulkan suatu fenomena yang bermanfaat yaitu masuknya air tawar kedalam tanah sehingga menjamin irigasi yang memuaskan.

Untuk memahami teks ayat, kita harus ingat bahwa lautan adalah terjemahan kata bahasa Arab 'Bahr' yang berarti sekelompok air yang besar, sehingga kata itu dapat dipakai untuk menunjukkan lautan atau sungai yang besar seperti Nil, Tigris dan Euphrat.

Tiga ayat yang memuat fenomena tersebut adalah sbb :

"Dan Dialah yang membiarkan dua laut mengalir (berdampingan); yang ini tawar lagi segar dan yang lain asin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi." (QS. 25:53)

"Dan tiada sama (antara) dua laut; yang ini tawar, segar, sedap diminum dan yang lain asin lagi pahit.Dan dari masing-masing laut itu kamu dapat memakan daging yang segar dan kamu dapat mengeluarkan perhiasan yang dapat kamu memakainya, dan pada masing-masingnya kamu lihat kapal-kapal berlayar Membelah laut supaya kamu Dapat mencari karunia-Nya Dan supaya kaMu bersyukur." (QS. 35:12)

"Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu, antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui oleh masing-masing. Dari keduanya keluar mutiara dan marjan." (QS. 55:19, 20 & 22)

Selain menunjukkan fakta yang pokok, ayat-ayat tersebut menyebutkan kekayaan -kekayaan yang dikeluarkan dari air tawar dan air asin yaitu ikan-ikan dan hiasan badan : Batu-batu perhiasan dan mutiara. Mengenai fenomena tidak campurnya air sungai dengan air laut dimuara-muara hal tersebut tidak khusus untuk Tigris dan Euphrat yang memang tidak disebutkan namanya dalam ayat walaupun ahli-ahli tafsir mengira bahwa dua sungai besar itulah yang dimaksudkan.

Sungai-sungai besar yang menuang kelaut seperti Missisipi dan Yang Tse menunjukkan keistimewaan yang sama; campurnya kedua macam air itu tidak terlaksa seketika tetapi memerlukan waktu.


Atmosfir Bumi


Dalam beberapa aspek yang mengenai langit secara khusus dan yang telah kita bicarakan dalam posting-posting yang lalu, Qur'an memuat beberapa paragraf yang ada hubunnnya dengan fenomena-fenomena yang terjadi dalam atmosfir.

Mengenai hubungannya paragraf-paragraf Qur'an tersebut dengan hasil-hasil Sains Modern, kita dapatkan seperti yang sudah-sudah dilain persoalan tidak adanya kontradiksi dengan pengetahuan ilmiah yang sudah dikuasai manusia sekarang tentang fenomena-fenomena yang disebutkan.


Ketinggian (Altitude)


Sesungguhnya ini adalah pemikiran sederhana terhadap rasa, 'tidak enak' yang dirasakan orang ditempat yang tinggi, dan yang akan bertambah-tambah jika orang itu berada dalam tempat yang lebih tinggi lagi, hal ini dijelaskan dalam Surah Al-An'aam ayat 125:

"...niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki kelangit...." (QS. 6:125)

Bila Muhammad bukan utusan Allah, pasti ia tidak mengetahui bahwa kalau diluar angkasa tidak ada udara yang mengandung oksigen.

Benda apapun yang dilemparkan tinggi-tinggi akan jatuh kembali kebumi, begitu juga bila seorang peloncat tinggi meloncar, ia akan jatuh kembali kebumi.

Burung dapat terbang karena dengan susah payah harus menggerakkan sayapnya untuk mendorong udara, sekalipun berat badannya cukup ringan.

Semua ini karena adanya gaya tarik bumi yang disebut gravitasi.
besar atau keCilnya gaya tArik bumi dipEngaruhi 0leh besar kecilnYa berat jeniS suatu benda. Dengan demiKian semakin Ringan suatu Benda, maka sEmakin kecil Gaya tarik buMi pada benda tersebut, kaRena berat riNgan suatu beNda yang sama v0lumenya diTentukan 0leh besar kecil Berat jenisnyA.

"Tidakkah mereka memperhatikan burung-burung yang dimudahkan terbang di angkasa bebas. Tidak ada yang menahannya selain daripada Allah. sesungguhnya pada yang demikian itu benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang beriman." (QS. 16:79)

"Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat-umat (juga) seperti kamu." (QS. 6:38)

Air yang verat jenisnya lebih besar daripada minyak tanah, selalu berada dibagian bawah bila dicampurkan, karena gaya tarik bumi terhadap air lebih besar dibandingkan minyak tanah.

Helium yang ringan mempunyai gaya tarik bumi kecil sekali, sehingga bila dimasukkan kedalam balon mainan anak-anak, balon akan terbang tinggi karena masih banyak udara lain yang berebutan ingin lebih kebumi ditarik bumi.

Batu yang dilemparkan keatas akan mengalami perlambatan sampai mencapai puncaknya dengan kecepatan sama dengan 0 (nol).

Selanjutnya jatuh kembali kebumi mengalami percepatan.
kecepatan benDa terbesar aDalah pada saAt pertama seWaktu benda jAtuh kebumi aPabila tepat Jatuh dan temPat melempar Sama tinggi dAn tanpa pengAruh lain.

Semakin kuat tenaga yang dimiliki untuk melemparkan benda semakin tinggi pula titik puncak yang dicapai. Dan kekuatan yang diperlukan tersebut adalah kekuatan untuk melawan
Gravitasi bumI.

Dapat dibayangkan betapa banyaknya tenaga dan kekuatan yang diperlukan untuk melepaskan pesawat luar angkasa meninggalkan atmosfir.

Bahkan Challenger yang meledak pada percobaan penerbangan angkasa luar Amerika Serikat, tenaganya melebihi ledakan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki di Jepang pada waktu perang Dunia kedua.

Pesawat luar angkasa pertama milik Amerika Serikat yang mencapai bulan, yaitu Apollo 11, memerlukan kekuatan sedemikian besarnya untuk dapat mencapai bulan, sehingga tidak cukup hanya kekuatan ledakan pertama di Cape Kenedy, tetapi beberapa kali harus melepaskan alasnya untuk kekuatan baru. begitu juga LUnix dan S0yuZ miliki Uni S0viet (Rusia).

Sejak nuklir ditemukan manusia, para pembuat pesawat luar angkasa semakin bergairah karena kekuatannya dapat dipergunakan lebih maksimal.

Benda biasa yang dibakar umumnya menjadi abu, menguap keudara dan sisanya menjadi energi, tetapi nuklir dapat habis seluruhnya untuk menciptakan energi (tenaga) ataupun kekuatan.

Begitu besarnya perhatian dan keinginan para ahli luar angkasa, untuk memperoleh kekuatan agar dapat mengimbangi gaya tarik bumi (gravitas), lepas landas keluar angkasa menembus penjuru langit.

Ini semua sudah dibicarakan dalam Al-Qur'an :

"Hai jama'ah jin dan manusia,jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan". (QS. 55:33)

"Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang ?. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang ?" (QS. 67:3)


Listrik di Atmosfir


Listrik yang ada diatmosfir dan akibat-akibatnya seperti guntur dan butir-butir es disebutkan dalam beberapa ayat sbb :

"Dia-lah yang memperlihatkan kilat kepadamu untuk menimbulkan ketakutan dan harapan, dan Dia mengadakan awan mendung. Dan guruh itu bertasbih dengan memuji Allah, (demikian pula) para malaikat karena takut kepada-Nya, dan Allah melepaskan halilintar, lalu menimpakannya kepada siapa yang Dia Kehendaki, daN mereka berbAntah-bantahaN tentang AllAh, dan dia-lAh Tuhan Yang Maha keras sIksa-Nya." (QS. 13:12-13)

Surah An-nur ayat 43.

"Tidakkah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian)nya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih, maka kelihatan olehmu hujan keluar dari celah-celahnya dan Allah (juga) menurunkan (butiran -butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan seperti) gunung -gunung, maka ditimpakan-Nya (butiran-butiran) es itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan dipalingkan-Nya dari siapa yang dikehendaki-Nya. Kilauan kilat awan itu Hampir-hampir menghilangkaN penglihatan." (QS. 24:43)

Dalam dua ayat tersebut digambarkan hubungan yang erat antara terbentuknya awan -awan berat yang mengandung hujan atau butiran-butiran es dan terbentuknya guntur.

Yang pertama sangat dicari orang karena manfaatnya dan yang kedua ditolak orang. Turunnya guntur adalah keputusan Allah. Hubungan antara kedua fenomena atmosfir sesuai dengan pengetahuan tentang listrik atmosfir yang sudah dimiliki oleh manusia sekarang.


Bayangan


Fenomena yang sangat luar biasa dijaman kita, yaitu bayangan dan pergeserannya disebutkan dalam ayat-ayat berikut :

"Apakah kamu tidak memperhatikan (penciptaan) Tuhanmu, bagaimana Dia memanjangkan (dan memendekkan) bayang-bayang; dan kalau Dia menghendaki niscaya Dia menjadikan tetap bayang-bayang itu, kemudian Kami jadikan matahari sebagai petunjuk atas bayang-bayang itu." (QS. 25:45)

"Hanya kepada Allah-lah sujud (patuh) segala apa yang dilangit dan di bumi, baik dengan kemauan sendiri ataupun terpaksa (dan sujud pula) bayang-bayangnya diwaktu pagi dan petang hari." (QS. 13:15)

"Dan apakah mereka tidak memperhatikan segala sesuatu yang telah diciptakan Allah yang bayangannya berbolak-balik ke kanan dan ke kiri dalam keadaan sujud kepada Allah, sedang mereka berendah diri." (QS. 16:48)

Diluar hal-hal yang menunjukkan tunduknya segala ciptaan Tuhan termasuk bayangan, kepada penciptanya Yang Maha Kuasa, dan disamping Tuhan memperlihatkan kekuasaanNya, ayat-ayat Qur'an juga menyebutkan hubungan antara bayangan dan matahari.

The End.

Taken From :

  1. Al-Qur'an Sumber Segala Disiplin Ilmu Drs. Inu Kencana Syafiie
    Gema Insani Press Jakarta Indonesia 1996
  2. Bibel, Qur'an dan Sains Modern dr. Maurice Bucaille
    bulan Bintang - Indonesia 1984
  3. Dari Sains ke Stand AlQur'an Dr. Imaduddin Khalil Arista - Indonesia 1993
  4. Asal usul manusia menurut Bibel, Al-Qur'an dan Sains Modern Dr. Maurice Bucaille Penerbit Mizan - Indonesia 1996

Copyright(c) Armansyah 1998-1999

0 komentar:

إرسال تعليق

Comment here

  © Blogger template The Professional Template II by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP