Bank data Artikel 7

الأربعاء، 22 أبريل، 2009

Filsafat Ilmu

Teori pengetahuan

Pengetahuan (knowledge atau ilmu )adalah bagian yang esensial- aksiden manusia, karena pengetahuan adalah buah dari "berpikir ". Berpikir ( atau natiqiyyah) adalah sebagai differentia ( atau fashl) yang memisahkan manusia dari sesama genus-nya,yaitu hewan. Dan sebenarnya kehebatan manusia dan " barangkali " keunggulannya dari spesies-spesies lainnya karena pengetahuannya. Kemajuan manusia dewasa ini tidak lain karena pengetahuan yang dimilikinya. Lalu apa yang telah dan ingin diketahui oleh manusia ? Bagaimana manusia berpengetahuan ? Apa yang ia lakukan dan dengan apa agar memiliki pengetahuan ? Kemudian apakah yang ia ketahui itu benar ? Dan apa yang mejadi tolak ukur kebenaran ?

Pertanyaan-pertanyaan di atas sebenarnya sederhana sekali karena pertanyaan-pertanyaan ini sudah terjawab dengan sendirinya ketika manusia sudah masuk ke alam realita. Namun ketika masalah-masalah itu diangkat dan dibedah dengan pisau ilmu maka tidak menjadi sederhana lagi. Masalah-masalah itu akan berubah dari sesuatu yang mudah menjadi sesuatu yang sulit, dari sesuatu yang sederhana menjadi sesuatu yang rumit (complicated). Oleh karena masalah-masalah itu dibawa ke dalam pembedahan ilmu, maka ia menjadi sesuatu yang diperselisihkan dan diperdebatkan. Perselisihan tentangnya menyebabkan perbedaan dalam cara memandang dunia (world view), sehingga pada gilirannya muncul perbedaan ideologi. Dan itulah realita dari kehidupan manusia yang memiliki aneka ragam sudut pandang dan ideologi.

Atas dasar itu, manusia -paling tidak yang menganggap penting masalah-masalah diatas- perlu membahas ilmu dan pengetahuan itu sendiri. Dalam hal ini, ilmu tidak lagi menjadi satu aktivitas otak, yaitu menerima, merekam, dan mengolah apa yang ada dalam benak, tetapi ia menjadi objek.

Para pemikir menyebut ilmu tentang ilmu ini dengan epistemologi (teori pengetahuan atau nadzariyyah al ma'rifah).

Epistemologi menjadi sebuah kajian, sebenarnya, belum terlalu lama, yaitu sejak tiga abad yang lalu dan berkembang di dunia barat. Sementara di dunia Islam kajian tentang ini sebagai sebuah ilmu tersendiri belum populer. Belakangan beberapa pemikir dan filusuf Islam menuliskan buku tentang epistemologi secara khusus seperti, Mutahhari dengan bukunya "Syinakht", Muhammad Baqir Shadr dengan "Falsafatuna"-nya, Jawad Amuli dengan "Nadzariyyah al Ma'rifah"-nya dan Ja'far Subhani dengan "Nadzariyyah al Ma'rifah"-nya. Sebelumnya, pembahasan tentang epistemologi di bahas di sela-sela buku-buku filsafat klasik dan mantiq. Mereka -barat- sangat menaruh perhatian yang besar terhadap kajian ini, karena situasi dan kondisi yang mereka hadapi. Dunia barat (baca: Eropa) mengalami ledakan kebebasan berekspresi dalam segala hal yang sangat besar dan hebat yang merubah cara berpikir mereka. Mereka telah bebas dari trauma intelektual. Adalah Renaissance yang paling berjasa bagi mereka dalam menutup abad kegelapan Eropa yang panjang dan membuka lembaran sejarah mereka yang baru. Supremasi dan dominasi gereja atas ilmu pengetahuan telah hancur. Sebagai akibat dari runtuhnya gereja yang memandang dunia dangan pandangan yang apriori atas nama Tuhan dan agama, mereka mencoba mencari alternatif lain dalam memandang dunia (baca: realita). Maka dari itu, bemunculan berbagai aliran pemikiran yang bergantian dan tidak sedikit yang kontradiktif. Namun secara garis besar aliran-aliran yang sempat muncul adalah ada dua, yakni aliran rasionalis dan empiris. Dan sebagian darinya telah lenyap. Dari kaum rasionalis muncul Descartes, Imanuel Kant, Hegel dan lain-lain. Dan dari kaum empiris adalah Auguste Comte dengan Positivismenya, Wiliam James dengan Pragmatismenya, Francis Bacon dengan Sensualismenya.

Berbeda dengan barat, di dunia Islam tidak terjadi ledakan seperti itu, karena dalam Islam agama dan ilmu pengetahuan berjalan seiring dan berdampingan, meskipun terdapat beberapa friksi antara agama dan ilmu, tetapi itu sangat sedikit dan terjadi karena interpretasi dari teks agama yang terlalu dini. Namun secara keseluruhan agama dan ilmu saling mendukung. Malah tidak sedikit dari ulama Islam, juga sebagai ilmuwan seperti : Ibnu Sina, al Farabi, Jabir bin al Hayyan, al Khawarizmi, Syekh al Thusi dan yang lainnya. Oleh karena itu, ledakan intelektual dalam Islam tidak terjadi. Perkembangan ilmu di dunia Islam relatif stabil dan tenang.

Filsafat

Filsafat berasal dari bahasa Yunani yang telah di-Arabkan. Kata ini barasal dari dua kata "philos" dan "shopia" yang berarti pecinta pengetahuan. Konon yang pertama kali menggunakan kata "philoshop" adalah Socrates. (dan masih konon juga) Dia menggunakan kata ini karena dua alasan, Pertama, kerendah-hatian dia. Meskipun ia seorang yang pandai dan luas pengetahuannya, dia tidak mau menyebut dirinya sebagai orang yang pandai. Tetapi dia memilih untuk disebut pecinta pengetahuan.

Kedua, pada waktu itu, di Yunani terdapat beberapa orang yang menganggap diri mereka orang yang pandai (shopis). Mereka pandai bersilat lidah, sehingga apa yang mereka anggap benar adalah benar. Jadi kebenaran tergantung apa yang mereka katakan. Kebenaran yang riil tidak ada. Akhirnya manusia waktu itu terjangkit skeptis, artinya mereka ragu-ragu terhadap segala sesuatu, karena apa yang mereka anggap benar belum tentu benar dan kebenaran tergantung orang-orang shopis. Dalam keadaan seperti ini, Socrates merasa perlu membangun kepercayaan kepada manusia bahwa kebenaran itu ada dan tidak harus tergantung kepada kaum shopis. Dia berhasil dalam upayanya itu dan mengalahkan kaum shopis. Meski dia berhasil, ia tidak ingin dikatakan pandai, tetapi ia memilih kata philoshop sebagai sindiran kepada mereka yang sok pandai.

Kemudian perjuangannya dilanjutkan oleh Plato, yang dikembangkan lebih jauh oleh Aristoteles. Aristoteles menyusun kaidah-kaidah berpikir dan berdalil yang kemudian dikenal dengan logika (mantiq) Aristotelian.

Pada mulanya kata filsafat berarti segala ilmu pengetahuan yang dimiliki manusia. Mereka membagi filsafat kepada dua bagian yakni, filsafat teoritis dan filsafat praktis. Filsafat teoritis mencakup: (1) ilmu pengetahuan alam, seperti: fisika, biologi, ilmu pertambangan dan astronomi; (2) ilmu eksakta dan matematika; (3) ilmu tentang ketuhanan dan methafisika. Filsafat praktis mencakup: (1) norma-norma (akhlak); (2) urusa rumah tangga; (3) sosial dan politik. Filusuf adalah orang yang mengetahui semua cabang-cabang ilmu pengetahuan tadi.

Mungkinkah Manusia itu Mempunyai Pengetahuan ?

Masalah epistemologis yang sejak dahulu dan juga sekarang menjadi bahan kajian adalah, apakah berpengetahuan itu mungkin ? Apakah dunia (baca: realita) bisa diketahui ? Sekilas masalah ini konyol dan menggelikan. Tetapi terdapat beberapa orang yang mengingkari pengetahuan atau meragukan pengetahuan. Misalnya, bapak kaum sophis, Georgias, pernah dikutip darinya sebuah ungkapan berikut, "Segala sesuatu tidak ada. Jika adapun, maka tidak dapat diketahui, atau jika dapat diketahui, maka tidak bisa diinformasikan."

Mereka mempunyai beberapa alasan yang cukup kuat ketika berpendapat bahwa pengetahuan sesuatu yang tidak ada atau tidak dapat dipercaya. Pyrrho salah seorang dari mereka menyebutkan bahwa manusia ketika ingin mengetahui sesuatu menggunakan dua alat yakni, indra dan akal. Indra yang merupakan alat pengetahuan yang paling dasar mempunyai banyak kesalahan, baik indra penglihat, pendengar, peraba, pencium dan perasa. Mereka mengatakan satu indra saja mempunyai kesalahan ratusan. Jika demikian adanya, maka bagaimana pengetahuan lewat indra dapat dipercaya ? Demikian pula halnya dengan akal. Manusia seringkali salah dalam berpikir. Bukti yang paling jelas bahwa di antara para filusuf sendiri terdapat perbedaan yang jelas tidak mungkin semua benar pasti ada yang salah. Maka akalpun tidak dapat dipercaya. Oleh karena alat pengetahuan hanya dua saja dan keduanya mungkin bersalah, maka pengetahuan tidak dapat dipercaya.

Pyrrho ketika berdalil bahwa pengetahuan tidak mungkin karena kasalahan-kesalahan yang indra dan akal, sebenarnya, ia telah mengetahui (baca: meyakini) bahwa pengetahuan tidak mungkin. Dan itu merupakan pengetahuan. Itu pertama. Kedua, ketika ia mengatakan bahwa indra dan akal seringkali bersalah, atau katakan, selalu bersalah, berarti ia mengetahui bahwa indra dan akal itu salah. Dan itu adalah pengetahuan juga.

Alasan yang dikemukakan oleh Pyrrho tidak sampai pada kesimpulan bahwa pengetahuan sesuatu yang tidak mungkin. Alasan itu hanya dapat membuktikan bahwa ada kesalahan dalam akal dan indra tetapi tidak semua pengetahuan lewat keduanya salah. Oleh karen itu mesti ada cara agar akal dan indra tidak bersalah.

Menurut Ibnu Sina, ada cara lain yang lebih efektif untuk menghadapi mereka, yaitu pukullah mereka. Kalau dia merasakan kesakitan berarti mereka mengetahui adanya sakit (akhir dawa' kay).

" Cogito, ergosum "-nya Descartes.

Rene Descartes termasuk pemikir yang beraliran rasionalis. Ia cukup berjasa dalam membangkitkan kembali rasionalisme di barat. Muhammad Baqir Shadr memasukkannya ke dalam kaum rasionalis. Ia termasuk pemikir yang pernah mengalami skeptisme akan pengetahuan dan realita, namun ia selamat dan bangkit menjadi seorang yang meyakini realita. Bangunan rasionalnya beranjak dari keraguan atas realita dan pengetahuan. Ia mencari dasar keyakinannya terhadap Tuhan, alam, jiwa dan kota Paris. Dia mendapatkan bahwa yang menjadi dasar atau alat keyakinan dan pengetahuannya adalah indra dan akal. Ternyata keduanya masih perlu didiskusikan, artinya keduanya tidak memberika hal yang pasti dan meyakinkan. Lantas dia berpikir bahwa segala sesuatu bisa diragukan, tetapi ia tidak bisa meragukan akan pikirannya. Dengan kata lain ia meyakini dan mengetahui bahwa dirinya ragu-ragu dan berpikir. Ungkapannya yang populer dan sekaligus fondasi keyakinan dan pengetahuannya adalah " Saya berpikir (baca : ragu-ragu), maka saya ada ".

Argumentasinya akan realita menggunakan silogisme kategoris bentuk pertama, namun tanpa menyebutkan premis mayor. Saya berpikir, setiap yang berpikir ada, maka saya ada.

Keraguan al Ghazzali.

Dari dunia Islam adalah Imam al Ghazzali yang pernah skeptis terhadap realita, namun iapun selamat dan menjadi pemikir besar dalam filsafat dan tashawwuf. Perkataannya yang populer adalah " Keraguan adalah kendaraan yang mengantarkan seseorang ke keyakinan ".

Sumber Dana Alat Pengetahuan.

Setelah pengetahuan itu sesuatu yang mungkin dan realistis, masalah yang dibahas dalam lliteratur-literatur epistimologi Islam adalah masalah yang berkaitan dengan sumber dan alat pengetahuan. Sesuai dengan hukum kausaliltas bahwa setiap akibat pasti ada sebabnya, maka pengetahuan adalah sesuatu yang sifatnya aksidental -baik menurut teori recolection-nya Plato, teori Aristoteles yang rasionalis-paripatetik, teori iluminasi-nya Suhrawardi, dan filsafat-materialisnya kaum empiris- dan pasti mempunyai sebab atau sumber. Tentu yang dianggap sebagai sumber pengetahuan itu beragam dan berbeda sebagaimana beragam dan berbedanya aliran pemikiran manusia. Selain pengetahuan itu mempunyai sumber, juga seseorang ketika hendak mengadakan kontak dengan sumber-sumber itu, maka dia menggunakan alat.

Para filusuf Islam menyebutkan beberapa sumber dan sekaligus alat pengetahuan, yaitu :

  1. Alam tabi'at atau alam fisik
  2. Alam Akal
  3. Analogi ( Tamtsil)
  4. Hati dan Ilham

1. Alam tabi'at atau alam fisik

Manusia sebagai wujud yang materi, maka selama di alam materi ini ia tidak akan lepas dari hubungannya dengan materi secara interaktif, dan hubungannya dengan materi menuntutnya untuk menggunakan alat yang sifatnya materi pula, yakni indra (al hiss), karena sesuatu yang materi tidak bisa dirubah menjadi yang tidak materi (inmateri). Contoh yang paling konkrit dari hubungan dengan materi dengan cara yang sifatnya materi pula adalah aktivitas keseharian manusia di dunia ini, sepert makan, minum, hubungan suami istri dan lain sebagianya. Dengan demikian, alam tabi'at yang materi merupakan sumber pengetahuan yang "barangkali" paling awal dan indra merupakan alat untuk berpengetahuan yang sumbernya tabi'at.

Tanpa indra manusia tidak dapat mengetahui alam tabi'at. Disebutkan bahwa, barang siapa tidak mempunyai satu indra maka ia tidak akan mengetahui sejumlah pengetahuan. Dalam filsafat Aristoteles klasik pengetahuan lewat indra termasuk dari enam pengetahuan yang aksioamatis (badihiyyat). Meski indra berperan sangat signifikan dalam berpengetahuan, namun indra hanya sebagai syarat yang lazim bukan syarat yang cukup. Peranan indra hanya memotret realita materi yang sifatnya parsial saja, dan untuk meng-generalisasi-kannya dibutuhkan akal. Malah dalam kajian filsafat Islam yang paling akhir, pengetahuan yang diperoleh melalui indra sebenarnya bukanlah lewat indra. Mereka mengatakan bahwa obyek pengetahuan (al ma'lum) ada dua macam, yaitu, (1) obyek pengetahuan yang substansial dan (2) obyek pengetahuan yang aksidental. Yang diketahui secara substansial oleh manusia adalah obyek yang ada dalam benak, sedang realita di luar diketahui olehnya hanya bersifat aksidental. Menurut pandangan ini, indra hanya merespon saja dari realita luar ke relita dalam.

Pandangan Sensualisme (al-hissiyyin).

Kaum sensualisme, khususnya John Locke, menganggap bahwa pengetahuan yang sah dan benar hanya lewat indra saja. Mereka mengatakan bahwa otak manusia ketika lahir dalam keadaan kosong dari segala bentuk pengetahuan, kemudian melalui indra realita-realita di luar tertanam dalam benak. Peranan akal hanya dua saja yaitu, menyusun dan memilah, dan meng-generalisasi. Jadi yang paling berperan adalah indra. Pengetahuan yang murni lewat akal tanpa indra tidak ada. Konskuensi dari pandangan ini adalah bahwa realita yang bukan materi atau yang tidak dapat bersentuhan dengan indra, maka tidak dapat diketahui, sehingga pada gilirannya mereka mengingkari hal-hal yang metafisik seperti Tuhan.

2. Alam Akal

Kaum Rasionalis, selain alam tabi'at atau alam fisika, meyakini bahwa akal merupakan sumber pengetahuan yang kedua dan sekaligus juga sebagai alat pengetahuan. Mereka menganggap akal-lah yang sebenarnya menjadi alat pengetahuan sedangkan indra hanya pembantu saja. Indra hanya merekam atau memotret realita yanng berkaitan dengannya, namun yang menyimpan dan mengolah adalah akal. Karena kata mereka, indra saja tanpa akal tidak ada artinya. Tetapi tanpa indra pangetahuan akal hanya tidak sempurna, bukan tidak ada.

Aktivitas-aktiviras Akal

  1. Menarik kesimpulan. Yang dimaksud dengan menarik kesimpulan adalah mengambil sebuah hukum atas sebuah kasus tertentu dari hukum yang general. Aktivitas ini dalam istilah logika disebut silogisme kategoris demonstratif.
  2. Mengetahui konsep-konsep yang general. Ada dua teori yang menjelaskan aktivitas akal ini, pertama, teori yang mengatakan bahwa akal terlebih dahulu menghilangkan ciri-ciri yang khas dari beberapa person dan membiarkan titik-titik kesamaan mereka. Teori ini disebut dengan teori tajrid dan intiza'. Kedua, teori yang mangatakan bahwa pengetahuan akal tentang konsep yang general melalui tiga tahapan, yaitu persentuhan indra dengan materi, perekaman benak, dan generalisasi.
  3. Pengelompokan Wujud. Akal mempunyai kemampuan mengelompokkan segala yang ada di alam realita ke beberapa kelompok, misalnya realita-realita yang dikelompokkan ke dalam substansi, dan ke dalam aksdensi (yang sembilan macam).
  4. Pemilahan dan Penguraian.
  5. Penggabungan dan Penyusunan.
  6. Kreativitas.

3. Analogi (Tamtsil)

Termasuk alat pengetahuan manusia adalah analogi yang dalam terminologi fiqih disebut qiyas. Analogi ialah menetapkan hukum (baca; predikat) atas sesuatu dengan hukum yang telah ada pada sesuatu yang lain karena adanya kesamaan antara dua sesuatu itu.

Analogi tersusun dari beberapa unsur; (1) asal, yaitu kasus parsial yang telah diketahui hukumnya. (2) cabang, yaitu kasus parsial yang hendak diketahui hukumnya, (3) titik kesamaan antara asal dan cabang dan (4) hukum yang sudah ditetapkan atas asal.

Analogi dibagi dua;

  1. Analogi interpretatif : Ketika sebuah kasus yang sudah jelas hukumnya, namun tidak diketahui illatnya atau sebab penetapannya.
  2. Analogi Yang Dijelaskan illatnya : Kasus yang sudah jelas hukum dan illatnya.

4. Hati dan Ilham

Kaum empiris yang memandang bahwa ada sama dengan materi sehingga sesuatu yang inmateri adalah tidak ada, maka pengetahuan tentang in materi tidak mungkin ada. Sebaliknya kaum Ilahi ( theosopi) yang meyakini bahwa ada lebih luas dari sekedar materi, mereka mayakini keberadaan hal-hal yang inmateri. Pengetahuan tentangnya tidak mungkin lewat indra tetapi lewat akal atau hati.

Tentu yang dimaksud dengan pengetahuan lewat hati disini adalah penngetahuan tentang realita inmateri eksternal, kalau yang internal seperti rasa sakit, sedih, senang, lapar, haus dan hal-hal yang iintuitif lainnya diyakini keberadaannya oleh semua orang tanpa kecuali.

Bagaimana mengetahui lewat hati ?

Filusuf Ilahi Mulla Shadra ra. berkata, "Sesungguhnya ruh manusia jika lepas dari badan dan berhijrah menuju Tuhannya untuk menyaksikan tanda-tanda-Nya yang sangat besar, dan juga ruh itu bersih dari kamaksiatan-kemaksiatan, syahwat dan ketarkaitan, maka akan tampak padanya cahaya makrifat dan keimanan kepada Allah dan malakut-Nya yang sangat tinggi. Cahaya itu jika menguat dan mensubstansi, maka ia menjadi substansi yang qudsi, yang dalam istilah hikmah teoritis oleh para ahli hikmat disebut dengan akal efektif dan dalam istilah syariat kenabian disebut ruh yang suci. Dengan cahaya akal yang kuat, maka terpancar di dalamnya -yakni ruh manusia yang suci- rahasia-rahasia yang ada di bumi dan di langit dan akan tampak darinya hakikat-hakikat segala sesuatu sebagimana tampak dengan cahaya sensual mata (alhissi) gambaran-gambaran konsepsi dalam kekuatan mata jika tidak terhalang tabir. Tabir di sini -dalam pembahasan ini- adalah pengaruh-pengaruh alam tabiat dan kesibukan-kesibukan dunia, karena hati dan ruh -sesuai dengan bentuk ciptaannya- mempunyai kelayakan untuk menerima cahaya hikmah dan iman jika tidak dihinggapi kegelapan yang merusaknya seperti kekufuran, atau tabir yang menghalanginya seperti kemaksiatan dan yang berkaitan dengannya "

Kemudian beliau melanjutkan, "Jika jiwa berpaling dari ajakan-ajakan tabiat dan kegelapan-kegelapan hawa nafsu, dan menghadapkan dirinya kepada Alhaq dan alam malakut, maka jiwa itu akan berhubungan dengan kebahagiaan yang sangat tinggi dan akan tampak padanya rahasia alam malakut dan terpantul padanya kesucian (qudsi) Lahut ." (al-Asfar al-Arba'ah jilid 7 halaman 24-25).

Tentang kebenaran realita alam ruh dan hati ini, Ibnu Sina berkata, "Sesungguhnya para 'arifin mempunyai makam-makam dan derajat-derajat yang khusus untuk mereka. Mereka dalam kehidupan dunia di bawah yang lain. Seakan-akan mereka itu, padahal mereka berada dengan badan mereka, telah melepaskan dan meninggalkannya untuk alam qudsi. Mereka dapat menyaksikan hal-hal yang halus yang tidak dapat dibayangkan dan diterangkan dengan lisan. Kesenangan mereka dengan sesuatu yang tidak dapat dilihat mata dan didengar telinga. Orang yang tidak menyukainya akan mengingkarinya dan orang yang memahaminya akan membesarkannya." (al-Isyarat jilid 3 bagian kesembilan tentang makam-makam para 'arif halaman 363-364)

Kemudia beliau melanjutkan, "Jika sampai kepadamu berita bahwa seorang 'arif berbicara -lebih dulu- tentang hal yang gaib (atau yang akan terjadi), dengan berita yang menyenangkan atau peringatan, maka percayailah. Dan sekali-sekali anda keberatan untuk mempercayainya, karena apa yang dia beritakan mempunyai sebab-sebab yang jelas dalam pandangan-pandangan (aliran-aliran) tabi'at."

Pengetahuan tentang alam gaib yang dicapai manusia lewat hati jika berkenaan dengan pribadi seseorang saja disebut ilham atau isyraq, dan jika berkaitan dengan bimbingan umat manusia dan penyempurnaan jiwa mereka dengan syariat disebut wahyu.

Islam dan Sumber-sumber Pengetahuan

Dalam teks-teks Islam -Qur'an dan Sunnah- dijelaskan tentang sumber dan alat pengetahuan:

  1. Indra dan akal

Allah swt. berfirman, "Dan Allah yang telah mengeluarkan kalian dari perut ibu kalian, sementara kalian tidak mengetahui sesuatu pun, dan (lalu) Ia meciptakan untuk kalian pendengaran, penglihatan dan hati ( atau akal) agar kalian bersyukur ". (QS. al-Nahl: 78).

Islam tidak hanya menyebutkan pemberian Allah kepada manusia berupa indra, tetapi juga menganjurkan kita agar menggunakannya, misalnya dalam al-Qur'an Allah swt. berfirman, "Katakanlah, lihatlah segala yang ada di langit-langit dan di bumi." (QS. Yunus: 101 ). Dan ayat-ayat yang lainnya yang banyak sekali tentang anjuran untuk bertafakkur. Qur'an juga dalam membuktikan keberadaan Allah dengan pendekatan alam materi dan pendakatan akal yang murni seperti, "Seandainya di langit dan di bumi ada banyak tuhan selain Allah, niscaya keduanya akan hancur." (QS. al-Anbiya': 22). Ayat ini menggunakan pendekatan rasional yang biasa disebut dalam logika Aristotelian dengan silogisme hipotesis.

Atau ayat lain yang berbunyi, "Allah memberi perumpamaan, seorang yang yang diperebutkan oleh banyak tuan dengan seorang yang menyerahkan dirinya kepada seorang saja, apakah keduanya sama ?" (QS. al-Zumar: 29)

  1. Hati

Allah swt berfirman, "Wahai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, niscaya Ia akan memberikan kepada kalian furqon." (QS. al-Anfal: 29) Maksud ayat ini adalah bahwa Allah swt. akan memberikan cahaya yang dengannya mereka dapat membedakan antara yang haq dengan yang batil.

Atau ayat yang berbunyi, "Dan bertakwalah kepada Allah maka Ia akan mengajari kalian. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." (QS. al-Baqarah: 282). Dan ayat-ayat yang lainnya.

Syarat dan Penghalang Pengetahuan.

Meskipun berpengetahuan tidak bisa dipisahkan dari manusia, namun seringkali ada hal-hal yang mestinya diketahui oleh manusia, ternyata tidak diketahui olehnya.

Oleh karena itu ada beberapa pra-syarat untuk memiliki pengetahuan, yaitu :

  1. Konsentrasi

Orang yang tidak mengkonsentasikan (memfokuskan) indra dan akal pikirannya pada benda-benda di luar, maka dia tidak akan mengetahui apa yang ada di sekitarnya.

  1. Akal yang sehat

Orang yang akalnya tidak sehat tidak dapat berpikir dengan baik. Akal yang tidak sehat ini mungkin karena penyakit, cacat bawaan atau pendidikan yang tidak benar.

  1. Indra yang sehat

Orang yang salah satu atau semua indranya cacat maka tidak mengetahui alam materi yang ada di sekitarnya.

Jika syarat-syarat ini terpenuhi maka seseorang akan mendapatkan pengetahuan lewat indra dan akal. Kemudian pengetahuan daat dimiliki lewat hati. Pengetahuan ini akan diraih dengan syarat-syarat seperti, membersihkan hati dari kemaksiatan, memfokuskan hati kepada alam yang lebih tinggi, mengosongkan hati dari fanatisme dan mengikuti aturan-aturan sayr dan suluk. Seorang yang hatinya seperti itu akan terpantul di dalamnya cahaya Ilahi dan kesempurnaanNya.

Ketika syarat-syarat itu tidak terpenuhi maka pengetahuan akan terhalang dari manusia. Secara spesifik ada beberapa sifat yang menjadi penghalang pengetahuan, seperti sombong, fanatisme, taqlid buta (tanpa dasar yang kuat), kepongahan karena ilmu, jiwa yang lemah (jiwa yang mudah dipengaruhi pribadi-pribadi besar) dan mencintai materi secara berlebihan.

Wal hamdulillah awwalan wa akhiran.

FILSAFAT DAN AGAMA

Ketika datang ke Timur Tengah pada abad IV SM. Aleksander Yang Agung membawa bukan hanya kaum militer tetapi juga kaum sipil. Tujuannya bukanlah hanya meluaskan daerah kekuasaannya ke luar Masedonia, tapi juga menanamkan kebudayaan Yunani di daerah-daerah yang dimasukinya. Untuk itu ia adakan pembauran antara orang-orang Yunani yang dibawanya, dengan penduduk setempat. Dengan jalan demikian berkembanglah falsafat dan ilmu pengetahuan Yunani di Timur Tengah, dan timbullah pusat-pusat peradaban Yunani seperti lskandariah (dari nama Aleksander) di Mesir, Antakia di Suria, Selopsia serta Jundisyapur di Irak dan Baktra (sekarang Balkh) di lran.

Ketika para Sahabat Nabi Muhammad menyampaikan dakwah Islam ke daerah-daerah tersebut terjadi peperangan antara kekuatan Islam dan kekuatan Kerajaan Bizantium di Mesir , Suria serta Irak, dan kekuatan Kerajaan Persia di Iran. Daerah-daerah ini, dengan menangnya kekuatan Islam dalam peperangan tersebut, jatuh ke bawah kekuasaan Islam. Tetapi penduduknya, sesuai dengan ajaran al-Qur'an, bahwa tidak ada paksaan dalam agama dan bahwa kewajiban orang Islam han'ya menyampaikan ajaran-ajaran yang dibawa Nabi, tidak dipaksa para sahabat untuk masuk Islam. Mereka tetap memeluk agama mereka semula terutama yang menganut agama Nasrani dan Yahudi.

Dari warga negara non Islam ini timbul satu golongan yang tidak senang dengan kekuasaan Islam dan oleh karena itu ingin memajuhkan Islam. Mereka pun menyerang agama Islam dengan memajukan argumen-argumen berdasarkan falsafat yang mereka peroleh dari Yunani. Dari pihak umat Islam timbul satu golongan yang melihat bahwa serangan itu tidak dapat ditangkis kecuali dengan memakai argumen-argumen filosofis pula. Untuk itu mereka pelajari falsafat dan ilmu pengetahuan Yunani. Kedudukan akal yang tinggi dalam pemikiran Yunani mereka jumpai sejalan dengan kedudukan akal yang tinggi dalam al-Qur'an dan Sunnah Nabi.

Dengan demikian timbullah di panggung sejarah pemikiran Islam teologi rasional yang dipelopori kaum Mu'tazilah. Ciri-ciri dari teologi rasional ini ialah :

  1. Kedudukan akal tinggi di dalamnya, sehingga mereka tidak mau tunduk kepada arti harfiah dari teks wahyu yang tidak sejalan dengan pemikiran filosofis dan ilmiah. Mereka tinggalkan arti harfiah teks dan ambil arti majazinya, dengan lain kata mereka tinggalkan arti tersurat dari nash wahyu dan mengambil arti tersiratnya. Mereka dikenal banyak memakai ta'wil dalam memahami wahyu.
  2. Akal menunjukkan kekuatan manusia, maka akal yang kuat menggambarkan manusia yang kuat, yaitu manusia dewasa. Manusia dewasa, berlainan dengan anak kecil, mampu berdiri sendiri, mempunyai kebebasan dalam kemauan serta perbuatan, dan mampu berfikir secara mendalam. Karena itu aliran ini menganut faham qadariah, yang di Barat dikenal dengan istilah free-will and free-act, yang membawa kepada konsep manusia yang penuh dinamika, baik dalam perbuatan maupun pemikiran.
  3. Pemikiran filosofis mereka membawa kepada penekanan konsep Tuhan Yang Maha Adil. Maka keadilan Tuhanlah yang menjadi titik tolak pemikiran teologi mereka. Keadilan Tuhan membawa mereka selanjutnya kepada keyakinan adanya hukum alam ciptaan Tuhan, dalam al-Qur'an disebut Sunnatullah, yang mengatur perjalanan apa yang ada di alam ini. Alam ini berjalan menurut peraturan tertentu, dan peraturan itu perlu dicari untuk kepentingan hidup manusia di dunia ini.

Teologi rasional Mu'tazilah inilah, dengan keyakinan akan kedudukan akal yang tinggi, kebebasan manusia dalam berfikir serta berbuat dan adanya hukum alam ciptaan Tuhan, yang membawa pada perkembangan Islam, bukan hanya falsafat, tetapi juga sains, pada masa antara abad ke VIII dan ke XIII M.

Filosof besar pertama yang dikenal adalah al-Kindi, (796- 873 M) satu-satunya filosof Arab dalam Islam. la dengan tegas mengatakan bahwa antara falsafat dan agama tak ada pertentangan. Falsafat ia artikan sebagai pembahasan tentang yang benar (al-bahs'an al-haqq). Agama dalam pada itu juga menjelaskan yang benar. Maka kedua-duanya membahas yang benar. Selajutnya falsafat dalam pembahasannya memakai akal dan agama, dan dalam penjelasan tentang yang benar juga memakai argumen-argumen rasional. Menurut pemikiran falsafat kalau ada yang benar maka mesti ada "Yang Benar Pertama" (al-Haqq al-Awwal). Yang Benar Pertama itu dalam penjelasan Al-Kindi adalah Tuhan. Falsafat dengan demikian membahas soal Tuhan dan agama. Falsafat yang termulia dalam pendapat Al-Kindi adalah falsafat ketuhanan atau teologi. Mempelajari teologi adalah wajib dalam Islam. Karena itu mempelajari falsafat, dan berfalsafat tidaklah haram dan tidak dilarang, tetapi wajib.

Dengan falsafat "al-Haqq al-Awwal"nya, al-Kindi, berusaha memurnikan keesaan Tuhan dari arti banyak. Al-haqiqah atau kebenaran, menurut pendapatnya, adalah sesuainya apa yang ada di dalam akal dengan apa yang ada diluarnya, yaitu sesuainya konsep dalam akal dengan benda bersangkutan yang berada di luar akal. Benda-benda yang ada di luar akal merupakan juz'iat (kekhususan, particulars). Yang penting bagi falsafat bukanlah benda-benda atau juz'iat itu sendiri, tetapi yang penting adalah hakikat dari juz'iat itu sendiri. Hakikat yang ada dalarn benda-benda itu disebut kulliat (keumuman, universals ). Tiap-tiap benda mempunyai hakikat sebagai juz'i (haqiqah juz'iah) yang disebut aniah dan hakikat sebagai kulli, (haqiqah kulliah) yang disebut mahiah, yaitu hakikat yang bersifat universal dalam bentuk jenis.

Memurnikan tauhid memang masalah penting dalam teologi dan falsafat Islam. Dalam hal ini Al-Farabi (870-950 M) memberi konsep yang lebih murni lagi. Dalam pemikirannya, kalau Tuhan, Pencipta alam semesta, berhubungan langsung dengan ciptaan nya yang tak dapat dihitung banyaknya itu, di dalam diri Tuhan terdapat arti banyak. Zat, yang di dalam diriNya terdapat arti banyak, tidaklah sebenarnya esa. Yang Maha Esa, agar menjadi esa, hanya berhubungan dengan yang esa.

Pemurnian tauhid inilah yang menimbulkan falsafat emanasi (al-faid, pancaran) dari Al-Farabi. Yang Maha Esa berfikir tentang diriNya yang esa, dan pemikiran merupakan daya atau energi. Karena pemikiran Tuhan tentang diriNya merupakan daya yang dahsyat, maka daya itu menciptakan sesuatu. Yang diciptakan pemikiran Tuhan tentang diriNya itu adalah Akal I. Jadi, Yang Maha Esa menciptakan yang esa.

Dalam diri yang esa atau Akal I inilah mulai terdapat arti banyak. Obyek pemikiran Akal I adalah Tuhan dan dirinya sendiri. Pemikirannya tentang Tuhan menghasilkan Akal II dan pemikirannya tentang dirinya menghasilkan Langit Pertama. Akal II juga mempunyai obyek pemikiran, yaitu Tuhan dan dirinya sendiri. Pemikirannya tentang Tuhan menghasilkan Akal III dan pemikirannya tentang dirinya sendiri menghasilkan Alam Bintang. Begitulah Akal selanjutnya berfikir tentang Tuhan dan menghasilkan Akal dan berfikir tentang dirinya sendiri dan menghasilkan planet-planet. Dengan demikian diperolehlah gambaran berikut:

Akal l11 menghasilkan Akal IV dan Saturnus.
Akal IV menghasilkan Akal V dan Yupiter.
Akal V menghasilkan Akal VI dan Mars.
Akal VI menghasilkan Akal VII dan Matahari.
Akal VII menghasilkan Akal VIII dan Venus.
Akal VIII menghasilkan Akal IX dan Merkuri
Akal IX menghasilkan Akal X dan Bulan.
Akal X menghasilkan hanya Bumi.
Pemikiran Akal X tidak cukup kuat lagi untuk menghasilkan Akal.

Demikianlah gambaran alam dalam astronomi yang diketahui di zaman Aristoteles dan zaman al-Farabi, yaitu alam yang terdiri atas sepuluh falak. Pemikiran Akal X tentang Tuhan tidak lagi menghasilkan Akal, karena tidak ada lagi planet yang akan diurusnya. Memang tiap-tiap Akal itu mengurus planet yang diwujudkannya. Akal dalam pendapat filosof Islam adalah melekat.

Begitulah Tuhan menciptakan alam semesta dalam falsafat emanasi Al-Farabi. Tuhan tidak langsung menciptakan yang banyak ini, tetapi melalui Akal I yang esa, dan Akal I melalui Akal II, Akal II melalui Akal l11 dan demikianlah seterusnya sampai ke penciptaan Bumi melalui Akal X.

Tuhan tidak langsung berhubungan dengan yang banyak, tetapi melalui Akal atau malaikat. Dalam diri Tuhan tidak terdapat arti banyak, dan inilah tauhid yang murni dalam pendapat Al-Farabi, Ibn Sina dan filosof-filosof Islam yang menganut faham emanasi.

Alam dalam falsafat Islam diciptakan bukan dari tiada atau nihil, tetapi dari materi asal yaitu api, udara, air dan tanah. Dalam pendapat falsafat dari nihil tak dapat diciptakan sesuatu. Sesuatu mesti diciptakan dari suatu yang telah ada. Maka materi asal timbul bukan dari tiada, tetapi dari sesuatu yang dipancarkan pemikiran Tuhan.

Karena Tuhan berfikir semenjak qidam, yaitu zaman tak bermula, apa yang dipancarkan pemikiran Tuhan itu mestilah pula qadim, dalam arti tidak mempunyai permulaan dalam zaman. Dengan lain kata Akal I, Akal II dan seterusnya serta materi asal yang empat api, udara, air dan tanah adalah pula qadim. Dari sinilah timbul pengertian alam qadim, yang dikritik AI-Ghazali.

Selain kemahaesaan Tuhan, yang dibahas filosof-filosof Islam ada pula soal jiwa manusia yang dalam falsafat Islam disebut al-nafs. Falsafat yang terbaik mengenai ini adalah pemikiran yang diberikan Ibn Sina (980 -1037 M). Sama dengan AI-Farabi ia membagi jiwa kepada tiga bagian:

  1. Jiwa tumbuh-tumbuhan yang mempunyai daya makan, tumbuh dan berkembang biak.
  2. Jiwa binatang yang mempunyai daya gerak, pindah dari satu tempat ke tempat, dan daya menangkap dengan pancaindra, yang terbagi dua: (a) Indra luar, yaitu pendengaran, penglihatan, rasa dan raba. Dan (b) Indra da1am yang berada di otak dan terdiri dari:
    i. Indra bersama yang menerima kesan-kesan yang diperoleh pancaindra.
    ii. Indra penggambar yang melepaskan gambar-gambar dari materi.
    iii. Indra pereka yang mengatur gambar-gambar ini.
    iv. Indra penganggap yang menangkap arti-arti yang terlindung dalam gambar-gambar tersebut.
    v. Indra pengingat yangmenyimpan arti-arti itu.
  3. Jiwa manusia, yang mempunyai hanya satu daya, yaitu berfikir yang disebut akal. Akal terbagi dua:
    a. Akal praktis, yang menerima arti-arti yang berasal dari materi melalui indra pengingat yang ada dalam jiwa binatang.
    b. Akal teoritis, yang menangkap arti-arti murni, yang tak pernah ada dalam materi seperti Tuhan, roh dan malaikat.

Akal praktis memusatkan perhatian kepada alam materi, sedang akal teoritis kepada alam metafisik. Dalam diri manusia terdapat tiga macam jiwa ini, dan jelas bahwa yang terpenting diantaranya adalah jiwa berfikir manusia yang disebut akal itu. Akal praktis, kalau terpengaruh oleh materi, tidak meneruskan arti-arti, yang diterimanya dari indra pengingat dalam jiwa binatang, ke akal teoritis. Tetapi kalau ia teruskan akal teoritis akan berkembang dengan baik.

Akal teoritis mempunyai empat tingkatan :
I. Akal potensial dalam arti akal yang mempunyai potensi untuk rnenangkap arti-arti murni.
2. Akal bakat, yang telah mulai dapat rnenangkap arti-arti murni.
3. Akal aktual, yang telah mudah dan lebih banyak rnenangkap arti- arti murni.
4. Akal perolehan yang telah sernpurna kesanggupannya menangkap arti-arti murni.
Akal tingkat keempat inilah yang tertinggi dan memiliki filosof-filosof. Akal inilah yang dapat menangkap arti-arti murni yang dipancarkan Tuhan melalui Akal X ke Bumi.
Sifat seseorang banyak bergantung pada jiwa mana dari tiga yang tersebut di atas berpengaruh pada dirinya. Jika jiwa tumbuh-tumbuhan dan binatang yang berpengaruh, orang itu dekat menyerupai binatang. Tetapi jika jiwa manusia yang berpengaruh terhadap dirinya maka ia dekat menyerupai malaikat. Dan dalam hal ini akal praktis mempunyai malaikat. Akal inilah yang mengontrol badan manusia, sehingga hawa nafsu yang terdapat di dalamnya tidak menjadi halangan bagi akal praktis untuk membawa manusia kepada kesempurnaan.
Setelah tubuh manusia mati, yang akan tinggal menghadapi perhitungan di depan Tuhan adalah jiwa manusia. Jiwa tumbuh-tumbuhan dan jiwa binatang akan lenyap dengan hancurnya tubuh kembali menjadi tanah.

Jiwa manusia mempunyai wujud tersendiri, yang diciptakan Tuhan setiap ada janin yang siap untuk menerima jiwa. Jiwa berhajat kepada badan manusia, karena otaklah, sebagaimana dilihat di atas, yang pada mulanya menolong akal untuk menangkap arti-arti. Makin banyak arti yang diteruskan otak kepadanya makin kuat daya akal untuk menangkap arti-arti murni. Kalau akal sudah sampai kepada kesempurnaan, jiwa tak berhajat lagi pada badan, bahkan badan bisa menjadi penghalang baginya dalam menangkap arti-arti murni.

Jiwa tumbuh-tumbuhan dan binatang lenyap dengan matinya tubuh karena keduanya hanya mempunyai fungsi-fungsi fisik seperti dijelaskan sebelumnya, Kedua jiwa ini, karena telah rnemperoleh balasan di dunia ini tidak akan dihidupkan kembali di akhirat. Jiwa manusia, berlainan dengan kedua jiwa di atas, fungsinya tidak berkaitan dengan yang bersifat fisik tetapi yang bersifat abstrak dan rohani. Karena itu balasan yang akan diterimanya bukan di dunia, tetapi di akhirat. Kalau jiwa tumbuh-tumbuhan dan binatang tidak kekal, jiwa manusia adalah kekal. Jika ia telah mencapai kesempurnaan sebelum berpisah dengan badan ia akan mengalami kebahagiaan di akhirat. Tetapi kalau ia berpisah dari badan dalam keadaan belum sempurna ia akan mengalami kesengsaraan kelak.

Dari faham bahwa jiwa manusialah yang akan menghadapi perhitungan kelak timbul faham tidak adanya pembangkitan jasmani yang juga dikritik al-Ghazali.

Demikianlah beberapa aspek penting dari falsafat Islam. Pemurnian konsep tauhid membawa al-Kindi kepada pemikiran Tuhan tidak mempunyai hakikat dan tak dapat diberi sifat jenis (al-jins) serta diferensia (al-fasl). Sebagai seorang Mu'tazilah al-Kindi juga tidak percaya pada adanya sifat-sifat Tuhan; yang ada hanyalah semata-mata zat.

Pemurnian itu membawa Al-Farabi pula kepada falsafat emanasi yang di dalamnya terkandung pemikiran alam qadim, tak bermula dalam zaman dan baqin, tak mempunyai akhir dalam zaman. Karena Tuhan dalam falsafat emanasi tak boleh berhubungan langsung dengan yang banyak dan hanya berfikir tentang diriNya Yang Maha Esa, timbul pendapat bahwa Tuhan tidak mengetahui juz'iat, yaitu perincian yang ada dalam alam ini. Tuhan mengetahui hanya yang bersifat universal. Karena akal I, II dan seterusnyalah yang mengatur planet-planet maka Akal I, II dan seterusnya itulah yang mengetahui juz'iat atau kekhususan yang terjadi di alam ini. Karena inti manusia adalah jiwa berfikir untuk memperoleh kesempurnaan, pembangkitan jasmani tak ada. Sebagai orang yang banyak berkecimpung dalam bidang sains para filosof percaya pula kepada tidak berubahnya hukum alam.

Inilah sepuluh dari duapuluh kritikan yang dimajukan al-Ghazali (1058-1111 M) terhadap pemikiran para filosof lslam. figa, diantara sepuluh itu, menurut al-Ghazali membawa mereka kepada kekufuran, yaitu :

1. Alam qadim dalam arti tak bermula dalam zaman
2. Pembangkitan jasmani tak ada
3. Tuhan tidak rnengetahui perincian yang terjadi di alam.
Konsep alam qadim membawa kepada kekufuran, dalam pendapat al-Ghazali, karena qadim dalam falsafat berarti sesuatu yang wujudnya tidak mempunyai permulaan dalam zaman, yaitu tidak pernah tidak ada di zaman lampau. Dan ini berarti tidak diciptakan. Yang tidak diciptakan adalah Tuhan. Maka syahadat dalam teologi Islam adalah : la qadima, illallah, tidak ada yang qadim selain Allah. Kalau alam qadim, maka alam adalah pula Tuhan dan terdapatlah dua Tuhan. Ini membawa kepada faham syirk atau politeisme, dosa besar yang dalam al-Qur'an disebut tak dapat diampuni Tuhan.

Tidak diciptakan bisa pula berarti tidak perlu adanya Pencipta yaitu Tuhan. Ini membawa pula kepada ateisme. Politeisme dan ateisme jelas bertentangan sekali dengan ajaran dasar Islam tauhid, yang sebagaimana dilihat di atas para filosof mengusahakan Islam memberikan arti semurni-murninya. Inilah yang mendorong al-Ghazali untuk mencap kafir filosof yang percaya bahwa alam ini qadim.

Mengenai masalah kedua, pembangkitan jasmani tak ada, sedangkan teks ayat-ayat dalam al-Qur'an menggambarkan adanya pembangkitan jasmani itu. Umpamanya ayat 78/9 dari surat Yasin "Siapa yang menghidupkan tulang-tulang yang telah rapuh ini? Katakanlah: Yang menghidupkan adalah Yang Menciptakannya pertama kali". Maka pengkafiran di sini berdasar atas berlawanannya falsafat tidak adanya pembangkitan jasmani dengan teks al-Qur'an, yang adalah wahyu dari Tuhan.

Pengkafiran tentang masalah ketiga, Tuhan tidak mengetahui perincian yang ada di alam, juga didasarkan atas keadaan falsafat itu, berlawanan dengan teks ayat dalam al-Qur'an. Sebagai umpama dapat disebut ayat 59 dari surat Al-An'am: Tiada daun yang jatuh yang tidak diketahui-Nya.

Pengkafiran Al-Ghazali ini membuat orang di dunia lslam bagian timur dengan Baghdad sebagai pusat pemikiran, menjauhi falsafat. Apalagi di samping pengkafiran itu al-Ghazali mengeluarkan pendapat bahwa jalan sebenarnya untuk mencapai hakikat bukanlah falsafat tetapi tasawuf. Dalam pada itu sebelum zaman Al-Ghazali telah muncul teologi baru yang menentang teologi rasional Mu'tazilah. Teologi baru itu dibawa oleh al-Asy'ari (873-935), yang pada mulanya adalah salah satu tokoh teologi rasional. Oleh sebab-sebab yang belum begitu jelas ia meninggalkan faham Mu'tazilahnya dan menimbulkan, sebagai lawan dari teologi Mu'tazilah, teologi baru yang kemudian dikenal dengan nama teologi al-Asy'ari.

Sebagai lawan dari teologi rasional Mu'tazilah, teologi Asy'ari bercorak tradisional. Corak tradisionalnya dilihat dari hal-hal berikut :

1. Dalam teologi ini akal mempunyai kedudukan rendah, sehingga kaum Asy'ari banyak terikat kepada arti lafzi dari teks wahyu. Mereka tidak mengambil arti tersurat dari wahyu untuk menyesuaikannya dengan pemikiran ilmiah dan falsafi.

2. Karena akal lemah, manusia dalam teologi ini merupakan manusia lemah dekat menyerupai anak yang belum dewasa, yang belum bisa berdiri sendiri, tetapi masih banyak bergantung pada orang lain untuk membantunya dalam hidupnya. Teologi ini mengajarkan faham jabariah atau fatalisme, yaitu percaya kepada kada dan kadar Tuhan. Manusia di sini bersikap statis.

3. Pemikiran teologi al-Asy'ari bertitik tolak dari faham kehendak mutlak Tuhan. Manusia dan alam ini diatur Tuhan menurut kehendak mutlakNya dan bukan menurut peraturan yang dibuatnya. Karena itu hukum alam dalam teologi ini tak terdapat; yang ada ialah kebiasaan alam. Dengan demikian bagi mereka api tidak sesuai dengan hukum alam, selamanya membakar , tetapi biasanya membakar sesuai dengan kehendak mutlak Tuhan.

Jelas teologi tradisional al-Asy'ari ini tidak mendorong pada berkembangnya pemikiran ilmiah dan filosofis, sebagaimana halnya dengan teologi rasional Mu'taziiah. Sesudah al-Ghazali, teologi tradisional inilah yang berkembang di dunia Islam bagian Timur. Tidak mengherankan kalau sesudah zaman al-Ghazali ilmu dan falsafat tak berkembang lagi di Baghdad sebagaimana sebelumnya di zaman Mu'tazilah dan filosof-filosof Islam.

Di dunia Islam bagian Barat, yaitu di Andalus atau Spanyol Islam, sebaliknya, pemikiran filosofis masih berkembang sesudah serangan a1-Ghazali tersebut, Ibn Bajjah (1082-1138) dalam bukunya Risalah al- Wida' kelihatannya mencela al-Ghazali yang berpendapat bahwa bukanlah akal tetapi al-dzauq dan ma'rifat sufilah yang membawa orang kepada kebenaran yang meyakinkan.

Ibn Tufail (w. 1185 M) dalam bukunya Hayy Ibn Yaqzan malahan menghidupkan pendapat Mu'tazilah, bahwa akal manusia begitu kuatnya sehingga ia dapat mengetahui masalah-masalah keagamaan seperti adanya Tuhan, wajibnya manusia berterimakasih kepada Tuhan, kebaikan serta kejahatan dan kewajiban manusia berbuat baik dan mejauhi perbuatan jahat. Dalam hal-hal ini wahyu datang untuk memperkuat akal. Dan akal orang yang terpencil di suatu pulau, jauh dari masyarakat manusia, dapat mencapai kesempurnaan sehingga ia sanggup menerima pancaran ilmu dari Tuhan, seperti yang terdapat dalam falsafat emanasi Al-Farabi dan Ibn Sina. Tapi Ibn Rusydlah (1126-1198 M) yang mengarang buku Tahufut al-Tahafut sebagai jawaban terhadap kritik-kritik Albpg-Ghazali yang ia uraikan dalam Tahafut al-Falasijah.

Mengenai masalah pertama qidam al-alam, alam tidak mempunyai permulaan dalam zaman, konsep AI-Ghazali bahwa alam hadis, alam mempunyai permulaan dalam zaman, menurut Ibn Rusyd mengandung arti bahwa ketika Tuhan menciptakan alam, tidak ada sesuatu di samping Tuhan. Tuhan, dengan kata lain, di ketika itu berada dalam kesendirianNya. Tuhan menciptakan alam dari tiada atau nihil.

Konsep serupa ini, kata Ibn Rusyd, tidak sesuai dengan kandungan al-Qur'an. Didalam al-Qur'an digambarkan bahwa sebelum alam diciptakan Tuhan, telah ada sesuatu di sampingNya. Ayat 7 dari surat Hud umpamanya mengatakan, Dan Ialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam hari dan takhtaNya (pada waktu itu) berada di atas air.

Jelas disebut dalam ayat ini, bahwa ketika Tuhan menciptakan langit dan bumi telah ada di samping Tuhan, air. Ayat 11 dari Ha Mim menyebut pula, Kemudian la pun naik ke langit sewaktu ia masih merupakan uap.

Di sini yang ada di samping Tuhan adalah uap, dan air serta uap adalah satu. Selanjutnya ayat 30 dari surat al-Anbia' mengatakan pula, Apakah orang-orang yang tak percaya tidak melihat ' bahwa langit dan bumi (pada mulanya) adalah satu dan kemudian Kami pisahkan. Kami jadikan segala yang hidup dari air.

Ayat ini mengandung arti bahwa langit dan bumi pada mulanya berasal dari unsur yang satu dan kemudian menjadi dua benda yang berlainan.

Dengan ayat-ayat serupa inilah Ibn Rusyd menentang pendapat al-Ghazali bahwa alam diciptakan Tuhan dari tiada dan bersifat hadis dan menegaskan bahwa pendapat itu tidak sesuai dengan kandungan al-Qur'an. Yang sesuai dengan kandungan al-Qur'an sebenarnya adalah konsep al-Farabi, Ibn Sina dan filosof-filosof lain. Di samping itu, kata khalaqa di dalam al-Qur'an, kata Ibn Rusyd, menggambarkan penciptaan bukan dari "tiada", seperti yang dikatakan al-Ghazali, tetapi dari "ada", seperti yang dikatakan filosof-filosof. Ayat 12 dari surat al-Mu'minun, menjelaskan, Kami ciptakan manusia dari inti sari, tanah. Manusia di dalam al-Qur'an diciptakan bukan dari "tiada" tetapi dari sesuatu yang "ada", yaitu intisari tanah seperti disebut, oleh ayat di atas. Falsafat memang tidak menerima konsep.

penciptaan dari tiada (creatio ex nihilo). "Tiada", kata Ibn Rusyd tidak bisa berobah menjadi "ada", yang terjadi ialah "ada" berobah menjadi "ada" dalam bentuk lain. Dalam hal bumi, "ada" dalam bentuk materi asal yang empat dirubah Tuhan menjadi "ada" dalam bentuk bumi. Demikian pula langit. Dan yang qadim adalah materi asal. Adapun langit dan bumi susunannya adalah baru (hadis ). Qadimnya alam, menurut penjelasan Ibn Rusyd tidak membawa kepada politeisme atau ateisme, karena qadim dalam pemikiran falsafat bukan hanya berarti sesuatu yang tidak diciptakan, tetapi juga berarti sesuatu yang diciptakan dalam keadaan terus menerus, mulai dari zaman tak bermula di masa lampau sampai ke zaman tak berakhir di masa mendatang. Jadi Tuhan qadim berarti Tuhan tidak diciptakan, tetapi adalah pencipta dan alam qadim berarti alam diciptakan dalam keadaan terus menerus dari zaman tak bermula ke zaman tak berakhir . Dengan demikian sungguhpun alam qadim, alam bukan Tuhan, tetapi adalah ciptaan Tuhan.

Bahwa alam yang terus menerus dalam keadaan diciptakan ini tetap akan ada dan baqin digambarkan juga oleh al-Qur'an. Ayat 47/8 dari surat Ibrahim menyebut:

Jangan1ah Sangka bahwa Allah akan menyalahi janji bagi rasul-rasulNya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa dan Maha Pemberi balasan di hari bumi ditukar dengan bumi yang lain dan ( demikian pula) langit.

Di hari perhitungan atau pembalasan nanti, tegasnya di hari kiamat, Tuhan akan menukar bumi ini dengan bumi yang lain dan demikian pula langit sekarang akan ditukar dengan langit yang lain. Konsep ini mengandung arti bahwa pada hari kiamat bumi dan langit sekarang akan hancur susunannya dan menjadi materi asat api, udara, air dan tanah kembali dari keempat unsur ini Tuhan akan menciptakan bumi dan langit yang lain lagi. Bumi dan langit ini akan hancur pula, dan dari materi asalnya akan diciptakan pula bumi dan langit yang lain dan demikianlah seterusnya tanpa kesudahan. Jadi pengertian qadim sebagai sesuatu yang berada dalam kejadian terus menerus adalah sesuai dengan kandungan al-Qur'an.

Dengan demikian al-Ghazali tidak mempunyai argumen kuat untuk mengkafirkan filosof dalam falsafat mereka tentang qadimnya alam.

Kedua-duanya, kata Ibn Rusyd, yaitu pihak al-Farabi dan pihak al-Ghazali sama-sama memberi tafsiran masing-masing tentang ayat-ayat al-Qur'an mengenai penciptaan alam. Yang bertentangan bukanlah pendapat filosof dengan al-Qur'an, tetapi pendapat filosof dengan pendapat al-Ghazali.

Mengenai masalah kedua, Tuhan tidak mengetahui perincian yang terjadi di alam, Ibn Rusyd menjelaskan bahwa para filosof tak pernah mengatakan demikian. Menurut mereka Tuhan mengetahui perinciannya; yang mereka persoalkan ialah bagaimana Tuhan mengetahui perincian itu. Perincian berbentuk materi dan materi dapat ditangkap pancaindra, sedang Tuhan bersifat immateri dan tak mempunyai pancaindra.

Dalam hal pembangkitan jasmani, Ibn Rusyd menulis dalam Tahafut al-Tahafut bahwa filosof-filosof Islam tak menyebut hal itu. Dalam pada itu ia melihat adanya pertentangan dalam ucapan-ucapan al-Ghazali. Di dalam Tahafut al-Falasifah ia menulis bahwa dalam Islam tidak ada orang yang berpendapat adanya pembangkitan rohani saja, tetapi di dalam buku lain ia mengatakan, menurut kaum sufi, yang ada nanti ialah pembangkitan rohani dan pembangkitan jasmani tidak ada.

Dengan demikian al-Ghazali juga tak mempunyai argumen kuat untuk mengkafirkan kaum filosof dalam pemikiran tentang tidak tahunya Tuhan tentang perincian di alam dan tidak adanya pembangkitan jasmani. Ini bukanlah pendapat filosof, dan kelihatannya adalah kesimpulan yang ditarik al-Ghazali dari filsafat mereka.

Dalam pada itu Ibn Rusyd, sebagaimana filosof-filosof Islam lain, menegaskan bahwa antara agama dan falsafat tidak ada pertentangan, karena keduanya membicarakan kebenaran, dan kebenaran tak berlawanan dengan kebenaran. Kalau penelitian akal bertentangan dengan teks wahyu dalam al-Qur'an maka dipakai ta'wil; wahyu diberi arti majazi. Arti ta'wil ada1ah meninggalkan arti lafzi untuk pergi ke arti majazi. Dengan kata lain, meninggalkan arti tersurat dan mengambil arti tersirat. Tetapi arti tersirat tidak boleh disampaikan kepada kaum awam, karena mereka tak dapat memahaminya.

Antara falsafat dan agama Ibn Rusyd mengadakan harmoni. Dan dalam harmoni ini aka1 mempunyai kedudukan tinggi. Pengharmonian aka1 dan wahyu ini sampai ke Eropa dan di sana dikenal dengan averroisme. Sa1ah satu ajaran averroisme ia1ah kebenaran ganda, yang mengatakan bahwa pendapat falsafat benar sungguhpun menurut agama sa1ah. Agama mempunyai kebenarannya sendiri. Dan averroisme inilah yang menimbulkan pemikiran rasiona1 dan ilmiah di Eropa.

Tak lama sesudah zaman Ibn Rusyd umat Islam di Spanyol mengalami kemunduran besar dan kekuasaan luas Islam sebelumnya hanya tingga1 di sekitar Granada di tangan Banu Nasr. Pada tahun 1492 dinasti ini terpaksa menyerah kepada Raja Ferdinand dari Castilia.

Dengan hilangnya Islam dari Andalus atau di Spanyol, hilang pulaah pemikiran rasional dan ilmiah dari dunia Islam bagian barat.

Di dunia Islam bagian timur, kecuali di ka1angan Syi'ah, teologi tradisional al-Asy'ari dan pendapat al-Ghazali bahwa jalan tasawuf untuk mencapai kebenaran adalah lebih meyakinkan dari pada ja1an falsafat, terus berkembang. Hilanglah pemikiran rasional, filosofis dan ilmiah dari dunia Islam sunni sehingga datang abad XIX dan umat Islam dikejutkan oleh kemajuan Eropa dalam bidang pemikiran, falsafat dan sains, sebagaimana disebut di atas, berkembang di Barat atas pengaruh metode berfikir Ibn Rusyd yang disebut averroisme. Semenjak itu pemikiran rasional mulai ditimbulkan oleh pemikir-pemikir pembaruan seperti al-Afghani, Muhammad Abduh, Sayyid Ahmad Khan,dan lain-lain.

Kedudukan Filsafat dalam Struktur Ilmu Agama Islam

A. Nisbab antara filsafat dan ilmu agama

Dalam jadwal kuliah madrasah besar pengajaran filsafat tidak masuk teras matakuliah pokok, tetapi digolongkan dalam 'ulum al-ajam (ilmu-ilmu asing). Artinya tidak langsung bertempat antara ulum al-din (ilmu-ilmu agama) yang berdasarkan tradisi dan disebut 'ulum al-naqliyyah. Dilihat dari segi lain, filsafat, bersama dengan ilmu mantik dan filologi (lughat, nahwat, sarf dan adab), dipergunakan sebagai ilmu alat ('aliyyah).

Kedudukan filsafat sebagai asing atau sebagai alat saja jelas berkaitan dengan takrif teologi. L. GARDET mendefinisikan teologi muslim sebagai apologi defensif. Teologi hanya perlu diperhatikan sewaktu-waktu, yaitu bila dalil-dalil agama diragukan oleh orang di dalam atau diserang dari luar . Karena itu AL-GHAZALI memperbandingkan teologi dengan obat untuk orang sakit, bukan dengan gizi untuk orang sehat. Pada ketika ajaran agama menjadi "quieta possessio" (milik aman tak terancam) teologi dapat dibebastugaskan, seperti ditulis oleh b. TAYMIAH. Definisi GARDET tersebut disetujui pada masa sekarang oleh FADLOU SHEHADI, ISMAIL FAROUQI dan a. HANAFI (Pengantar theology Islam, Yogyakarta 1967, 126-127).

Jadi terdapat perbedaan besar dengan faham katolik yang mengharapkan dari "intellectus quaerens fidem " (akal menyelidiki isi iman) suatu sumbangan substansiil untuk integrasi akal dan iman dan pembinaan sintese teologis spekulatif.

Karena syarat untuk hidup filsafat dalam Islam itu, maka para filsuf harus merebut kedudukannya oleh membenarkan diri sebagai pendukung, pembela dan juru penerangan agama. Berkali-kali mereka mencoba hal itu, tetapi harapan tidak dipenuhi dan hasil pikiran mereka ditampik sebagai tidak memenuhi syarat.

B. Penolakan filsafat

Kontak pertama dengan dinamik filsafat Yunani mengobar-ngobarkan semangat besar untuk berfilsafat dan untuk memperluas cakrawala budi di luar batas-batas dari pelajaran hukum (fiqh). Para peminat filsafat yang pertama belum menyusun sistem, hanya memetik beberapa buah fikiran dari khazanah Yunani. Nafsu mereka untuk mengecap buah terlarang itu mengakibatkan kecurigaan pada fihak fuqaha. Dalam dua pernyataan, yang digabungkan dengan ahli fiqh ABU HANIF A (w. 767), yaitu FIQH AKBAR I dan AL-WASIYAT, dirumuskan 37 fasal yang tidak boleh diganggu-gugat oleh kaum filsuf . Gerakan MUTAZILA masuk lebih dalam istana filsafat. Maka dalam FIQH AKBAR II, di mana pengaruh AL-ASH' ARI menampak ( ± 935), dikeluarkan pernyataan resmi (29 fasal) yang membatasi penelitian bebas oleh kaum filsuf.

Gerakan FALSAFAH hellenistis memperuncing ketegangan antara akal dan iman. Reaksi para ulama berbentuk aneka warna. Dalam FIQH AKBAR III (abad XI) filsafat dalam 33 fasal ditolak sebagai bid'ah, kufurat, zandiq, mulhid, haram dan majuzi. Al-Tahafut menghitamkan ajaran filsafat secara sistematis dan menyudahi kegiatan filsafat di khalifat timur. Pada tahun 1196 Sultan ABU YUSUF AL-NASIR melarang dengan keras pelajaran filsafat dalam seluruh daerah kekuasaannya di barat. Perlawanan selanjutnya tampak dalam buku-buku seperti "Al-radd ala'I-mantiq", karangan b. TAYMIAH (1300), "lbtal al-falsafah" karangan b. KHALDUN (1400), yang dalam jadwal ilmu pengetahuan mendaftarkan falsafat dalam golongan ilmu-ilmu tolol setingkat dengan sihir, tenung, alkemi dan klenik (The Muqadimmah, terj. F. ROSENTHAL, cet. 2, New York 1967, III 152-153; 246-258). Akhirnya terbitlah "Tahafut al-falsafah", disusun oleh KHAJAZADAH atas perintah sultan Turki Osmanli Mehmed Il (1451 -1481).

Betapa hebat serangan anti filsafat itu dapat dimengerti dari fatwa seorang mu'allim di madrasah Dar al-hadith di Dimashq, yaitu IBN AL-SALEH TAHI'UDDIN ABU AMR 'UTHMAN AL-KURDI AL-SHAH- RAZURI (1182 -1245), yang mengatakan:

"Filsafat merupakan pokok kebodohan dan penyelewengan, bahkan kebingungan dan kesesatan. Barangsiapa yang berfilsafat, maka butalah hatinya dari kebajikan shari'at suci. Siapa mempelajarinya, maka di diiringi kehinaan, tertutup bagi kebenaran dan tergoda oleh setan Para ulama menyelami lautan kebenaran dan bahasan tanpa ilmu mantik atau filsafat. Barangsiapa berpendapat bahwa kedua ilmu berfaedah, maka dia telah dibujuk dan ditipu oleh setan. Para penguasa wajib memecat mereka dari pengajaran dan memenjarakannya" (bdk. E I, III, 927; Hanafi, Pengantar filsafat Islam OC. 27-28).

Suara peringatan seperti itu bernafas panjang dan bergema jauh. MUH. ABDUH menasehati, agar madhhab filsafat berhenti bicara saja (Risalah Tauhid, terj. H. FIRDAUS, Jakarta 1963, 80). H. MUNAWAR CHALIL menyerukan, agar kaum muslim takut akan pemakaian akal, pikiran dan ra'y dalam urusan agama (Kembali kepada al-Qur.an dan assunah, Jakarta 1956, 118-126). Filsafat mengacaukan jalan pikiran benar (HAMKA, Pelajaran agama Islam, Jakarta 1956, 162-169). H. RASHIDI memasang rambu bahaya pada jalan filsafat; itulah jalan ke kufurat (Penyuluh Agama, 1956, 17) dst.

C. Pujian kepada para filsuf kuno

Berselang-seling dengan rambu "Awas Bahaya" dilihat juga tugu-tugu kenang-kenangan. Sering dibaca sekarang, bahwa ummat Islam berhak membanggakan diri atas nilai filsafat ajarannya dan atas para filsuf termashur yang lahir di tengah-tengah mereka.

Mengenai ujud pertama dibuktikan, bahwa pelaksanaan arkan al-islam menghasilkan manfaat besar. Misalnya puasa berguna untuk kesehatan, sikap badan dalam salat melemaskan sendi tulang dan memperpanjang usia, manasik haji mempererat ikatan persaudaraan antara bangsa-bangsa dll. Hasil baik itu disebut hikmah atau filsafat rukun (misalnya. H. ASHSHIDI- QY, Ideologi Islam, Medan, tt.). Syukurlah bahwa hasil baik itu menyusul. Hanya saja sebaiknya tidak diberikan predikat filsafat. Nama tepat untuk hal itu adalah: akibat pragmatis dari kewajiban terhadap Tuhan.

Secara tidak langsung filsafat dipuji oleh perbandingan antara alim ulama dahulu dengan tokoh-tokoh filsafat baru. Misalnya: AL-GHAZALI disebut Kant atau Bergson Islam; IQBAL dijuluki Descartes Islam; AL- ASH' ARI, Leibnitz Islam (bdk. Gema Islam 2, 1962, 22; 3, 1962, 9-10). AL- GHAZALI juga digelari sebagai Descartes daIi David Hume Islam (M. NAT- SIR, Capita Selecta, Jakarta 1957, 20, 179, 201). Perbandingan itu, bila dipikirkan dengan konsekwen, memuat penilaian positif terhadap para filsuf kuno dan mengandung kemungkinan - siapa tahu ? kehidupan kembali filsafat di dalam Islam.

Agama, Filsafat dan Ilmu

Dalam Tahshîl al-sa'âfidah AI-Fârâbi dengan jelas menyatakan pandangannya tentang sifat agama dan filsafat serta hubungan antara keduanya:

Ketika seseorang memperoleh pengetahuan tentang wujud atau memetik pelajaran darinya, jika dia memahami sendiri gagasan-gagasan tentang wujud itu dengan inteleknya, dan pembenarannya atas gagasan tersebut dilakukan dengan bantuan demonstrasi tertentu, maka ilmu yang tersusun dari pengetahuan-pengetahuan ini disebut filsafat .Tetapi jika gagasan-gagasan itu diketahui dengan membayangkannya lewat kemiripan-kemiripan yang merupakan tiruan dari mereka, dan pembenaran terhadap apa yang dibayangkan atas mereka disebabkan oleh metode-metode persuasif, maka orang-orang terdahulu menyebut sesuatu yang membentuk pengetahan-pengetahuan ini agama. Jika pengetahuan-pegetahuan itu sendiri diadopsi, dan metode-metode persuasif digunakan, maka agama yang memuat mereka disebut filsafat populer, yang diterima secara umum, dan bersifat eksternal.

Al-Fârâbî menghidupkan kembali klaim kuno yang menyatakan bahwa agama adalah tiruan dari filsafat. Menurutnya, baik agama maupun filsafat berhubungan dengan realitas yang sama. Keduanya terdiri dari subjek-subjek yang serupa dan sama-sama melaporkan prinsip-prinsip tertinggi wujud (yaitu, esensi Prinsip Pertama dan esensi dari prinsip-prinsip kedua nonfisik). Keduanya juga melaporkan tujuan puncak yang diciptakan demi manusia yaitu,kebahagiaan tertinggi dan tujuan puncak dari wujud-wujud lain. Tetapi, dikatakan Al-Fârâbî, filsafat memberikan laporan berdasarkan persepsi intelektual. Sedangkan agama memaparkan laporannya berdasarkan imajinasi. Dalam setiap hal yang didemonstrasikan oleh filsafat, agama memakai metode-metode persuasif untuk menjelaskannya.

Tujuan dari 'tiruan-tiruan' kebenaran wahyu kenabian dengan citra dan lambang telah dijelaskan sebelumnya. Sifat dari citra dan lambang religius ini membutuhkan pembahasan lebih lanjut. Menurut Al-Fârâbî, agama mengambil tiruan kebenaran transenden dari dunia alami, dunia seni dan pertukangan, atau dari ruang lingkup lembaga sosio-politik. Sebagai contoh, pengetahuan-pengetahuan yang sepenuhnya sempurna, seperti Sebab Pertama, wujud-wujud malakut atau lelangit dilambangkan dengan benda-benda terindra yang utama, sempuma, dan indah dipandang. Inilah sebabnya mengapa dalam Islam, matahari melambangkan Tuhan, bulan melambangkan nabi, dan bintang melambangkan sahabat nabi.

Fungsi dari tugas-tugas politis seperti raja dengan segenap hierarki bawahannya berikut fungsi-fungsi kehormatannya memberikan citra dan lambang bagi pemahaman akan hierarki wujud dan perbuatan-perbuatan ilahi saat menciptakan dan mengurus alam semesta. Karya-karya seni dan pertukangan manusia memperlihatkan, tiruan-tiruan gerakan kekuatan dan prinsip alami yang memungkinkan terwujudnya objek-objek alami. Sebagai contoh, empat sebab Aristotelian yang disebut Al-Fârâbî sebagai empat prinsip wujud, dapat dijelaskan dengan merujuk pada prinsip-prinsip pembuatan objek-objek seni. Secara umum, menurut Al-Fârâbî, agama berusaha membawa tiruan-tiruan kebenaran filosofis sedekat mungkin dengan esensi mereka.

Dalam Islam, pandangan mengenai perbedaan antara agama (millah) dan filsafat (falsafah) umumnya diidentifikasi dengan mazhab masysyâ'î ilmuwan filosof di mana Al-Fârâbî termasuk di dalamnya. Rahman telah memperlihatkan bahwa perbedaan ini diikuti rumusan terinci menyangkut filsafat agama Yunani-Romawi dalam perkembangan-perkembangan berikutnya. Namun, gagasan mendasar yang ingin disampaikan melalui perbedaan ini bukan sesuatu yang asing bagi perspektif wahyu Islam. Gagasan yang sama di ungkapkan para Sufi dalam kerangka perbedaan eksoterik-esoterik. Gagasan itu berbunyi demikian: kebenaran atau realitas adalah satu namun pemahamannya oleh pikiran manusia mempunyai derajat kesempurnaan yang bertingkat-tingkat. Meskipun dia juga seorang Sufi, Al-Farabi di sini berbicara sebagai wakil dari tradisi filosofis.

Dalam perspektif falâsifah, filsafat dan agama merupakan dua pendekatan mendasar menuju pada kebenaran. Apa yang hendak dibedakan dengan tajam di sini bukan filsafat, yang dipahami sebagai sistem rasional pemahaman (inteleksi) dan wahyu yang dirumuskan secara bebas; dan agama, yang dipahami sebagai tradisi wahyu secara total. Ini sangat jelas tampak dari perkataan dan Al-Fârâbî tentang filsafat dan agama. Istilah yang digunakannya untuk menyatakan perbedaan agama dari filsafat adalah millah; bukan dîn. Ini menunjukkan kehendak Al-Fârâbî membedakan filsafat secara kontras tidak dengan tradisi wahyu dalam totalitasnya, melainkan dengan dimensi eksoterik tradisi wahyu. Karena itu, dia lebih suka menggunakan istilah millah daripada dîn. Millah lebih tepat karena dia mengacu pada komunitas religius di bawah sanksi ilahi dengan seperangkat kepercayaan dan undang-undang atau perintah-perintah hukum moral yang didasarkan pada wahyu. Dimensi ekstemal dari tradisi wahyu harus diidentifikasi dengan kepercayaan-kepercayaan dan praktik-praktik komunitas religius ini.

Dalam wacana yang dikutip di atas, Al-Fârâbî tampaknya berpendapat ada dua jenis filsafat. Jenis pertama, filsafat yang disebutnya filsafat populer, diterima secara umum dan eksternal. Dari paparannya tentang karakteristik filsafat tersebut dan kalâm, khususnya penjelasan dalam Ihshâ' al-'ulûm, tidak diragukan bahwa Al-Fârâbî menganggap kalâm sebagai contoh dari filsafat jenis pertama. Jenis kedua, filsafat esoterik yang ditujukan bagi kaum elitek yaitu suatu filsafat yang hanya diperkenalkan pada mereka yang telah siap secara intelektual dan spiritual. Filsafat dapat digambarkan sebagai ilmu tentang realitas yang didasarkan atas metode demonstrasi yang meyakinkan (al-burhân al-yaqînî), suatu metode yang merupakan gabungan dari intuisi intelektual dan putusan logis (istinbâth) yang pasti. Karena itu, filsafat adalah sejenis pegetahuan yang lebih unggul dibanding agama (millah), karena millah didasarkan atas metode persuasif (al-iqnâ').

Kemudian, bagi Al-Fârâbî, filsafat merujuk pada kebenaran abadi atau kebijaksaaan (al-hikmah) yang terletak pada jantung setiap tradisi. Ini dapat diidentifikasi dengan philosophia perennis yang diajarkan oleh Leibniz dan secara komprehensif dijelaskan dalam abad ini oleh Schuon, Berbicara mengenai beberapa tokoh kuno pemilik kebijaksanaan tradisional ini. Al-Fârâbî menulis:

Konon, dahulu kala ilmu ini terdapat dikalangan orang-orang Kaldea, yang merupakan bangsa Irak, kemudian bangsa Mesir, dari sini lantas diteruskan pada bangsa Yunani, dan bertahan di situ hingga diwariskan pada bangsa Syria, dan selanjutnya, bangsa Arab. Segala sesuatu yang terkandung dalam ilmu tersebut dijelaskan dalam bahasa Yunani, kemudian Syria, dan akhirnya Arab.

Dikatakan Al-Fârâbî, bangsa Yunani menyebut pengetahuan tentang kebenaran abadi ini kebijaksanaan "paripuma" sekaligus kebijaksanaan tertinggi. Mereka menyebut perolehan pengetahuan seperti itu sebagai ilmu', dan mengistilahkan keadaan ilmiah pikiran sebagai filsafat'. Yang dimaksud dengan yang terakhir ini adalah tidak lain pencarian dan kecintaan pada kebijaksanaan tertinggi. Menurut Al-Fârâbî, orang-orang Yunani juga berpendapat bahwa secara potensial kebijaksanaan ini memasukkan setiap jenis kebajikan. Berdasarkan alasan ini, filsafat lantas disebut sebagai ilmu dari segala ilmu, induk dari segala ilmu, kebijaksanaan dari segala kebijaksanaan dan seni dari segala seni. Maksud mereka sebenarnya, tutur Al-Fârâbî, adalah seni yang memanfaatkan segala kesenian, kebajikan yang memanfaatkan segala kebajikan, dan kebijaksanaan yang memanfaatkan segala kebijaksanaan.

Al-Fârâbî agaknya sadar sepenuhnya akan fakta berikut: sementara esensi dari kebijaksanaan abadi ini satu dan sama dalam setiap tradisi, sejauh ini tidak ditemukan model pengungkapan yang sama pada tradisi-tradisi ini. Tetapi, Al-Fârâbî tidak menjelaskan deskripsi cara pengungkapan ini dalam kasus tradisi pra-Yunani. Tetapi dia menyebut filosof-filosof Yunani, tepatnya plato dan Aristoteles, khususnya lagi Aristoteles, sebagai pencipta bentuk-bentuk pengungkapan dan penjelasan baru dari kebijaksanaan kuno ini, berupa pengungkapan dialektis atau logis. Pengetahuan tentang bentuk-bentuknya baru diwarisi oleh Islam melalui orang-orang Kristen Syria.

Sebagaimana telah kita lihat, Al-Fârâbî mendefinisikan kebijaksanaan tertinggi sebagai "pengetahuan paling tinggi tentang Yang Maha Esa sebagai Sebab pertama dari setiap eksistensi sekaligus Kebenaran pertama yang merupakan sumber dari setiap kebenaran". Mengikuti Aristoteles, Al-Fârâbî menggunakan istilah filsafat untuk merujuk pada pengetahuan metafisis yang diungkapkan dalam bentuk-bentuk rasional serta ilmu-ilmu,yang dijabarkan dari pengetahuan metafisis yang didasarkan pada metode demonstrasi yang meyakinkan. Karena itu, filsafat Al-Fârâbî terdiri dari empat bagian: ilmu-ilmu matematis, fisika (filsafat alam), metafisika, dan ilmu tentang masyarakat (politik). Perbedaan filsafat-agama oleh Al-Fârâbî dibayangkan dalam konteks satu tradisi wahyu yang sama. Tetapi perbedaan itu memiliki keabsahan universal, yang dapat diterapkan bagi setiap tradisi wahyu. Dengan meninjau tiap-tiap tradisi dalam batas-batas pembagian hierarkis menjadi filsafat dan agama, Al-Farabi memberikan teori untuk menjelaskan fenomena, keragaman agama. Menurutnya, agama berbeda itu satu sama lain karena kebenaran-kebenaran intelektual dan spiritual yang sama bisa jadi memiliki banyak penggambaran imajinatif yang berlainan. Kendati demikian, terdapat kesatuan pada setiap tradisi wahyu didataran filosofis, karena pengetahuan filosofis tentang realitas sesungguhnya hanya satu dan sama bagi setiap bangsa dan masyarakat.

Pada saat yang sama, Al-Fârâbî menyukai gagasan keunggulan relatif satu lambang religius atas lambang lainnya, dalam pengertian bahwa lambang-lambang dan citra-citra yang dipakai dalam satu agama lebih mendekati kebeparan spiritual yang hendak disampaikan-lebih tepat dan lebih efektif-ketimbang yang dipakai dalam agama lainnya. renting dicatat, Al-Farabi diketahui tidak pernah mencela agama tertentu, meskipun dia berpendapat bahwa sebagian dari lambang dan citra religius agama tersebut tak memuaskan atau bahkan membahayakan. Tulisnya:

Tiruan dari hal-hal macam itu bertingkat-tingkat dalam keutamaannya; penggambaran imajinatif sebagian dari mereka lebih baik dan lebih sempurna, sementara yang lainnya kurang baik dan kurang sempurna; sebagian lebih dekat pada kebenaran, sebagian lain lebih jauh. Dalam beberapa hal, butir-butir pandangannya sedikit-atau bahkan tidak dapat-diketahui, atau malah sulit berpendapat menentang mereka, sementara dalam beberapa hal lainnya, butir-butir pandangannya banyak atau mudah dilacak, di samping mudah memahami pendapat tentang mereka atau untuk menolak mereka.

Perbedaan filsafat-agama sebagaimana telah dirumuskan Al-Fârâbî, lagi-lagi, menjadi fokus pemusatan hierarki ilmu dalam pemikirannya. Ketika perbedaan ini diterapkan baik pada dimensi teoretis maupun praktis dari wahyu, seperti dikemukakan sebelumnya, kita akan sampai pada hasil yang menyoroti lebih jauh perlakuan Al-Fârâbî terhadap ilmu-ilmu religius dalam klasifikasinya dikaitkan dengan ilmu-ilmu filosofis. Kalâm dan fiqh, satu-satunya ilmu-ilmu religius yang muncul dalam klasifikasinya, Al-Fârâbî adalah ilmu-ilmu eksternal atau eksoterik dari dimensi-dimensi wahyu secara teoretis dan praktis. Metafisika (al-'ilm al-ilâhî) dan politik (al-'ilm al-madanî) berturut-turut merupakan mitra filosofisnya.

Nalar dan wahyu

Filsafat dan agama berbicara tentang hal yang sama, yaitu manusia dan dunianya. Apabila yang satu membawa kebenaran yang berasal dari Sang Pencipta manusia dan dunianya itu, dan yang lainnya dari akal manusia yang selalu diliputi kekurang-jelasan dan ketidakpastian, mengapa lalu orang masih sibuk dengan agama? Itulah pertanyaan yang tidak jarang dikemukakan oleh orang bertakwa terhadap usaha para filosof.

Itu memang ada benarnya. Pengetahuan mudah membuat orang menjadi sombong. Filsafat juga dapat membuat orang menjadi sombong, seakan-akan si filosof mengetahui segala-galanya, seakan-akan ia pasti lebih maju daripada orang yang saleh.

Akan tetapi, di lain fihak, orang yang bicara atas nama agama juga dapat berdosa karena sombong. Meskipun yang mau dibicarakan adalah wahyu Allah, namun ia dapat lupa bahwa ia sendiri tetap manusia, tetap terbatas dan tidak pasti dalam pengertiannya, juga dalam pengertiannya terhdap wahyu itu.

Jadi, dengan cara mengadakan "perhitungan", kita tidak akan maju jauh. Akan tetapi, pertanyaan di atas tetap perlu kita jawab. Apakah fungsi filsafat dalam berhadapan dengan agama yang menimba pengertiannya dari wahyu Allah ?

Untuk menjawab pertanyaan ini, kita perlu terlebih dahulu membicarakan hubungan antara wahyu dan akal budi.

I. Tiga pandangan ekstrem

Untuk membahas hubungan antara wahyu Ilahi dan akal budi manusia, sebaiknya kita bertolak dari tiga pandangan ekstrem tentang hubungan itu. Masing-masing pandangan hanya menekankan satu segi dan melalaikan segi-segi lainnya. Tiga pandangan itu adalah Rasionalisme, Fideisme dan Relativisme.

Sikap rasional tidak menuntut agar segala sikap harus dibuktikan secara lengkap atau "ilmiah. " Sikap rasional justru menerima keterbatasan seseorang dalam memastikan kebenaran suatu masalah. Dalam hampir semua pengandaian hidup, kita tergantung kepada pengertian dan kepastian orang lain dan masyarakat. Saya belum pernah pergi ke kota Jayapura, tetapi bukanlah sikap irasional kalau saya yakin bahwa kota itu ada; kalau pun saya pernah bermaksud pergi ke sana, saya tetap tidak dapat mengecek sendiri apakah kota itu betul-betul terletak di pantai utara Irian Jaya dan bahwa kota itu memang Jayapura. Adalah tidak bertentangan dengan sikap rasional, kalau kita dalam banyak hal mengandalkan pendapat orang lain, adat kebiasaan, bahkan perasaan kita sendiri (yang kadang-kadang lebih dapat dipercayai daripada sekedar pikiran pintar yang masuk ke kepala kita). Sikap rasional tidak menuntut kita untuk membuktikan segala-galanya sebelum kita mengandaikannya (misalnya, apakah sebuah jembatan yang akan kita lewati betul-betul masih cukup kuat). Tetapi, apabila pendapat atau pengandaian kita memang dipersoalkan, kita tidak boleh menjawabnya dengan mengacu kepada kebiasaan, kepercayaan, perasaan, pendapat orang atau otoritas di sekeliling kita, melainkan mencari pertimbangan-pertimbangan yang dapat dimengerti dan dicek oleh orang lain untuk menanggapi keberatan itu.

Jadi, sikap rasional itu kelihatan dalam tantangan. Orang yang bersikap tidak rasional adalah orang yang menolak tantangan semata-mata karena keyakinannya. Sedangkan orang yang bersikap rasional adalah orang yang betul-betul memperhatikan, memeriksa dan menjawabnya.

Sikap rasionalisme lebih dari itu. Seorang rasionalis tidak menerima sesuatu apapun yang tidak dibuktikan. Maka ia tidak dapat percaya pada cinta orang lain, pada pengalaman masyarakat yang tertuang dalam adat kebiasaan, dan tentu juta tidak percaya pada wahyu. Allah hanya mau diterima sejauh ia sendiri dapat mengertinya. Padahal Allah dengan sendirinya mengatasi jangkauan pengertian ciptaan. Maka rasionalisme adalah lawan agama.

Akan tetapi, seperti saya tunjukkan di atas, rasionalisme sebenarnya irasional. Karena, ia bertolak dari sebuah pengandaian yang justru tidak mungkin terpenuhi : Yaitu bahwa segala sesuatu dapat dimengerti seseorang. Seorang rasionalis yang taat azas sebetulnya tidak dapat berbuat sesuatu apa pun karena segala perbuatan mengandaikan hal-hal yang tidak dapat dicek (dapatkah ia mengecek setiap kali mau makan, apakah dalam makanan itu tidak ada bisa?)

Yang harus dituntut adalah sikap rasional, sebagaimana mau saya Derlihatkan di bawah, dan bukan sikap rasionalisme.

Fideisme adalah kebalikan dari rasionalisme. Fideisme (dari kata Latin ':fides", iman) adalah sikap membatasi diri pada iman akan wahyu Allah, dan sekaligus menganggap bahwa penggunaan nalar manusia tidak perlu.

Fideisme dapat berwujud iman sederhana seseorang yang merasa cukup dengan mengikuti pedoman agamanya, tak perduli kepada segala macam pikiran, kritik, keresahan intelektual atau paham-paham baru yang diramaikan. la dapat juga berwujud pandangan dunia yang secara prinsipiil menolak segala pertimbangan nalar sebagai tidak memadai terhadap kepastian yang merupakan ciri hakiki wahyu Allah.

Sikap terakhir itu menjadi fundamentalisme apabila semua pandangan tentang alam, dunia, masyarakat dan sejarah diambil secara harfiah dari sumber-sumber wahyu yang dipercayai (dari Kitab Sucinya) dengan menolak segala hasil ilmu pengetahuan yang benar-benar, atau hanya tampaknya, tidak sesuai dengan apa yang ditulis dalam sumber wahyu itu.

Fideisme pada hakekatnya tidak menyadari bahwa kemampuan manusia untuk bernalar adalah juga ciptaan Tuhan yang diberikan untuk dipergunakan serta dimanfaatkan demi tujuan yang baik. Kecuali itu, fideisme salah dalam pengandalan bahwa antara hasil nalar dan wahyu nahi mesti ada pertentangan.

Relativisme dapat juga disebut sebagai ajaran tentang dua kebenaran : Ada kebenaran agama dan ada kebenaran nalar. Dua-duanya boleh bertentangan. Misalnya, sebagai orang bernalar, seseorang menerima ajaran Darwin tentang evolusi jenis-jenis makhluk hidup di dunia selama beratus-ratusjuta tahun. Sedangkan sebagai orang beriman kristiani, ia percaya bahwa dunia diciptakan sekitar 7000 tahun lalu dalam waktu tujuh hari.

Jelaslah bahwa relativisme adalah siap yang paling lemah dari tiga sikap ekstrem itu. Relativisme melepaskan paham kebenaran sama sekali. Menurut prinsip non-kontradiksi, sesuatu itu sejauh ada, tidak mungkin tidak ada. Kalau bumi kita sudah berumur beratus-ratus juga tahun (menurut anggapan ilmiah, sekarang bumi berumur antara 4 dan 5 milyar tahun), maka tak mungkin bumi baru mulai berada, melalui penciptaan, sekitar tujuh ribu tahun yang lalu. Dan sebaliknya. Relativisme merupakan penyerahan claim atas pengetahuan yang benar. Maka, menurut relativisme, Allah itu sekaligus dapat disebut ada dan tidak ada. Sikap ini membuat mustahil pengambilan sikap yang sungguhan.

2. Pandangan seimbang

Apabila kita meninjau kembali rasionalisme, fideisme dan relativisme, maka menjadi jelas bahwa kesalahan dasar sikap-sikap itu terletak pada ketidakseimbangannya. Yang kita cari adalah sikap seimbang. Sikap seimbang adalah sikap yang dapat menerima serta menanggapi unsur-unsur benar dalam tiga sikap ekstrem itu, tetapi menghubungkannya satu sama lain.

Kita mulai dengan fideisme. Fideisme mementingkan iman, percaya kepada wahyu ilahi. Kalau orang percaya kepada Allah, ia langsung akan mengakui bahwa sikap dasar fideisme itu benar. Kalau Allah memang ada, jelas Allah itu ada mutlak, baik sebagai kebenaran, maupun dalam kekuasaan untuk bertindak. Maka sabda Allah adalah mutlak benar dan merupakan pegangan mutlak bagi manusia. Wajarlah orang beriman mendasarkan hidupnya atas wahyu Allah.

Akan tetapi, justru kemutlakan Allah itulah yang seharusnya membuat kaum fideis sadar bahwa kemampuan manusia untuk bernalar perlu dipergunakan, bahkan ia berdosa terhadap Allah Pencipta apabila ia tidak mau bernalar. Mengapa ?

Karena, segala apa yang ada adalah ciptaan Allah, termasuk akal budi dengan kemampuannya untuk bernalar. Jadi, akalbudi dan wahyu berasal dari sumber yang sama, dari Allah. Dan oleh karena itu, tidak mungkin dua-duanya secara prinsipiil bertentangan.

Jadi, adalah tidak mungkin, kalau manusia mempergunakan nalarnya secara benar, artinya secara terbuka, kritis, mendalam, ia sampai pada hasil yang bertentangan dengan wahyu. Karena semuanya berasal dari sumber yang sama, maka hanya ada satu kebenaran. Itu juga berarti bahwa adalah tidak tepat kalau hubungan nalar-wahyu dirumuskan begini : Pakailah nalar sejauh tidak menyangkut isi wahyu. Hakekat nalar manusia adalah mencari kebenaran. Seseorang akan berdosa apabila pencarian kebenaran diputuskan begitu saja pada titik tertentu. Berdosa terhadap kehendak Dia yang menciptakan nalar itu.

Maka, semua pemecahan konflik wahyu-nalar yang berpola : Kurangilah, atau hentikanlah penalaran, jangan bernalar secara radikal dan sebagainya, adalah salah. Salah terhadap nalar, salah secara moral karena membuka pintu pada sikap munafik dan bohong, dan salah secara keagamaan karena menyangkal bahwa nalar berasal dari Allah. Tidaklah benar pendapat bahwa semakin alim seseorang, semakin ia tidak berpikir, mencari-cari, menyelidiki dan mengetahui.

Lalu, mengapa terdapat pertentangan antara wahyu dan nalar manusia? Atas pengandalan di atas, sebenarnya tidak boleh ada perten- tangan, dan pertentangan itu kelihatan bersifat sementara. Hal itu tidak mengherankan. Nalar manusia tidak pernah sempurna, tidak pernah menangkap seluruh kebenaran. la suka melihat satu sudut dan melupakan yang satunya. la terpengaruh oleh prasangkanya. Dari mana pertentangan sementara itu? Pertentangan antara wahyu dan nalar dapat berasal dari keduabelah pihak, dari fihak nalar dan dari pihak wahyu.

Di satu pihak, nalar dapat melampaui batasnya. Teori ilmu pengetahuan moderen membuat kita sangat sadar akan keterbatasan nalar . .Misalnya saja, pernyataan atheisme bahwa "Allah tidak ada" menurut metodologi sekarang tidak rasional. Kalau Allah ada, maka Allah mengatasi nalar manusia, maka baik adanya maupun tidak adanya tidak dapat dipastikan melalui nalar belaka.

Tetapi kesalahan sering terletak bukan di pihak nalar, melainkan di pihak wahyu. Tentu saja bukan pada wahyu itu sendiri. Wahyu sendiri tidak dapat salah karena wahyu adalah Sabda Allah yang Maha benar. Tetapi, cara manusia menangkap dan mengartikan wahyu dapat saja salah, karena untuk itu manusia mau tak mau mempergunakan nalar yang sama yang juga di pergunakan dalam penyelidikan ilmiah atau dalam filsafat. Jadi dapat saja terjadi pertentangan antara nalar dan apa yang dianggap wahyu, karena manusia menyebut sesuatu kebenaran wahyu yang sebenarnya bukan wahyu, melainkan tafsirannya. Jadi, kontradiksi itu terletak bukan antara wahyu dan nalar, melainkan antara tafsiran nalar manusia tentang wahyu dan hasil nalar manusia lain.

Dari situ dapat ditarik kesimpulan bahwa antara wahyu dan pengetahuan manusia tidak mungkin ada pertentangan, asal saja keduabelah pihak tahu batas mereka masing-masing. Kalau ada pertentangan, pertentangan itu sebenarnya tak pernah terjadi antara wahyu dan nalar, melainkan antara nalar yang satu (yang berusaha mengerti, dan dengan demikian selalu juga menafsirkan wahyu) dengan nalar yang lain (yang dipakai dalam kegiatan ilmiah maupun dalam kehidupan sehari-hari).

Ada pertimbangan tambahan. Wahyu dan nalar berasal dari sumber yang sama, yaitu Allah. Maka dua-duanya wajib dipakai dengan sebaik- baiknya, tetapi menurut maksudnya masing-masing.

Kiranya manusia dijadikan makhluk bernalar oleh Sang Pencipta agar supaya ia mempergunakan nalarnya itu sebaik-baiknya untuk mewujudkan kehidupannya. Jadi, nalar diberikan untuk hal-hal yang terletak dalam jangkauan nalar itu. Yang ada dalam jangkauan nalar adalah alam terbatas, alam tercipta. Maka nalar itu dipanggil untuk mencari pengetahuan serta pengertian yang semakin benar dan men- dalam tentang seluruh alam ciptaan. Untuk itu, manusia dapat mengembangkan ilmu-ilmu pengetahuan dengan cara masing-masing untuk menyelidiki apa yang ada. Wilayah nalar adalah manusia sendiri, alam inderawi dan masyarakat. Sedangkan Allah tidak dapat "dikuasai" oleh nalar .Satu-satunya yang dapat dicapai nalar menuju Allah adalah keterbukaannya, serta pencarian jejak-jejak kebesaran Allah dalam alam ciptaan. Tetapi tentang siapa Allah yang sebenarnya, bagaimana hidup batin Allah, apa yang menjadi kehendak dan tuntutannya serta sikapnya terhadap manusia, itu semua secara prinsipiil tak terjangkau oleh nalar manusia (Mengapa? Karena nalar manusia bersifat terbatas/terhingga sehingga kekhasan Allah yang justru tak terbatas/tak terhingga tidak teljangkau olehnya).

Pertimbangan ini menunjukkan juga untuk tujuan apa Allah berkenan menurunkan wahyunya. Kiranya tidak untuk memberitahukan hal-hal yangjuga dapat diselidiki dan diketahui melalui nalaryangjustru juga diberikan oleh Allah. Seakan-akan wahyu mau membuat manusia malas bernalar saja. Melainkan, wahyu kiranya diberikan kepada manusia untuk mengetahui hal-hal yang justru tidak, dan tidak pernah, dapat diketahui dengan nalar, yaitu tentang Allah sendiri sebagaimana disebutkan di atas. Karena skap Allah menyangkut manusia yang masih berada dalam dunia, maka dalam wahyu juga terdapat hal-hal yang menyangkut dunia (terutama apa yang menjadi tanggungjawab serta kewajiban manusia dalam hidupnya di dunia, jadi bidang moralitas) tetapi bukan sebagai pemberitahuan tentang dunia, melainkan tentang sikap Allah terhadapnya. Akan tetapi, wahyu tidak bermaksud memberikan informasi tentang hal-hal yang juga dapatkita selidiki melalui ilmu pengetahuan, melainkan tentang hal yang memang tidak dapat diselidiki melalui ilmu pengetahuan, tentang Allah sendiri.

Oleh karena itu dapat juga dikatakan begini : Apabila nalar mau menjawab pertanyaan-pertanyaan manusia yang paling fundamental seperti misalnya :Siapakah Allah, apa kehendak dan sikap Allah terhadap manusia, apa tujuan terakhir manusia, nalar tidak memadai dan mudah salah tafsir, sombong dan menyesatkan. Dan sebaliknya,jawaban tentang pertanyaan-pertanyaan mengenai dunia : Misalnya apakah matahari mengitari bumi atau sebaliknya, bagaimana urutan terjadinya organisme-organisme hidup di bumi (yang ditegaskan dalam wahyu ialah bahwa ada dunia dan bahwa adahidup serta bahwa hidup dapat berkembang akhirnya berdasarkan keputusan Allah), tetapi juga manakah struktur-struktur psikis dan sosial manusia, manakah struktur-struktur ekonomis dan politis yang paling cocok agar manusia hidup dengan sejahtera; semua hal ini kita carijawabannya bukan dalam wahyu, melainkan dari pengalaman kita, dengan bantuan ilmu pengetahuan. Kalau kita mencari jawaban tentang hal-hal manusia dan duniawi itu dalam wahyu, kemungkinan besar kita akan salah tafsir dan lalu menciptakan kesan pertentangan yang sebetulnya tak benar.

Maka, adalah tidak betul pendapat bahwa semakin alim seseorang semakin ia merasa tidak perlu berpikir, mencari-cari, menyelidiki dan mengetahui. Justru orang yang mantap karena berakar dalam iman, akan lebih mantap dan berani juga untuk mempergunakan akalbudinya. la tidak takut dengan pengetahuan yang lebih kritis dan mendalam akan menjauhkannya dari iman. Dan menurut hemat saya, kita tidak boleh memberikan kesan bahwa semakin kita berpikir secara mendalam dan kritis, semakin agama berada dalam bahaya

Filsafat agama

Kiranya tidak perlu sebuah uraian panjang lebar tentang filsafat agama. Filsafat agama adalah filsafat yang membuat agama menjadi obyek pemikirannya.

Dalam hal ini, filsafat agama dibedakan dari beberapa ilmu yang juga mempelajari agama, seperti antropologi budaya, sosiologi agama dan psikologi agama. Kekhasan ilmu-ilmu itu adalah bahwa mereka bersifat deskriptif.

Antropologi budaya meneliti pola kehidupan sebuah masyarakat dan kerangka spiritual hidup. Dalam rangka itu, bentuk-bentuk penghayatan agama dalam masyarakat itu diteliti. Antropologi mengamati dan berusaha ikut menghayati bagaimana masyarakat yang diteliti menghayati Yang ilahi. Antropologi adalah ilmu deskiptif. la tidak menilai apakah penghayatan itu baik atau buruk dan tidak berusaha untuk mengubah penghayatan itu, melainkan berusaha untuk memahami apa yang merupakan kenyataan keagamaan dalam masyarakat.

Sosiologi agama meneliti hubungan timbal balik antara agama dan masyarakat, khususnya pengaruh agama terhadap kelakuan manusia dalam masyarakat. Sosiologi agama dapat memberi petunjuk yang berharga untuk mengetahui, apa sebenarnya kedudukan agama dalam sebuah masyarakat, apakah agama itu masih berpengaruh, apakah masyarakat masih mentaatinya, apakah sikap-sikap masyarakat masih dipengaruhi oleh agama.

Psikologi agama meneliti hakekat, bentuk-bentuk dan perkembangan pengalaman religius pada individu-individu dan kelompok-kelompok. Psikologi agama meneliti perasaan religius dalam hati, pertobatan, semangat kenabian, dan perbedaan penghayatan keagamaan dalam masyarakat-masyarakat sederhana dan dalam kebudayaan-kebudayaan tinggi. Segala bentuk penghayatan keagamaan serta fungsinya dalam perkembangan kepribadian diselidiki.

Berbeda dengan ilmu-ilmu deskriptif, filsafat agama mendekati agama secara menyeluruh. Filsafat agama mengembangkan logika, teori pengetahuan dan metafisika agama. Filsafat agama dapat dijalankan oleh orang-orang beragama sendiri yang ingin memahami dengan lebih mendalam arti, makna dan segi-segi hakiki agama-agama. Masalah-masalah yang dipertanyakan antara lain: hubungan antara Allah, dunia dan manusia, antara akal budi dan wahyu, pengetahuan dan iman, baik dan jahat, sosok pengalaman Yang Kudus dan Yang Syaitani, apriori religius, faham-faham seperti mitos dan lambang, dan akhrinya cara-cara untuk membuktikan kerasionalan iman kepada Allah serta masalah "theodicea" yang telah saya sebutkan.

Ada juga filsafat agama yang reduktif (mau mengembalikan agama kepada salah satu kebutuhan manusia dengan menghilangkan unsur transendensi), kritis (mau menunjukkan agama sebagai bentuk penyelewengan dan kemunduran) dan anti agama (mau menunjukkan bahwa agama adalah tipuan belaka).

Reduktif misalnya filsafat Immanuel Kant (salah seorang filosof terbesar zaman moderen, penganut kristen protestan yang 'alim) yang mau mengembalikan peran agama sebagai penunjang moralitas manusia. Reduktif-kritis adalah teori Durkheim yang melihat agama sebagai jaminan kekokohan kesatuan sebuah masyarakat. Kritis, reduktif dan anti agama misalnya filsafat Feuerbach yang mereduksikan agama pada usaha keliru manusia untuk merealisasikan diri; Marx yang melihat agama sebagai pelarian orang yang tertindas, dan Freud yang memahami agama sebagai gejala neurotik.

Tidak mungkin dalam rangka tulisan sederhana ini kami membahas semua paham itu secara mendalam. Kiranya jelas bahwa orang agama dewasa ini sangat perlu mempelajari filsafat agama dan bahkan ikut secara aktif di dalamnya, artinya, rnenjadi filosof agama. Di satu pihak, filsafat dapat membuka mata manusia akan kenyataan, keluhuran dan keunikan gejala agama (berlawanan dengan segala teori reduktit). Di lain pihak, serangan-serangan filsafat agama yang reduktif, kritis dan anti agama perlu ditanggapi. Kaum agama dapat belajar daripadanya, belajar bahwa keagamaan dapat disalahfahami, supaya mereka memperbaiki .penghayatan keagamaan sedemikian rupa hingga agama tidak lagi disalahpahami. Juga untuk membuka kelemahan pendekatan kritis-reduktif itu.

Kalau agama mau menghadapi tantangan modernisasi secara terbuka, dan kalau ia mau ikut menjadi unsur aktif di dalamnya, maka ia harus berani terjun ke filsafat agama

MENYONGSONG REFORMASI PENDIDIKAN

Oleh: H. Haikal*)

Abstrak: Tulisan ini mengungkap berbagai problem yang ada dalam bidang pendidikan. Realita pahit ini melahirkan berbagai masalah dalam masyarakat, sayangnya pemerintah tidak memperhatikan dampak negatif yang ada, kalau tidak dapat dikatakan telah mengabaikan pen-didikan. Dalam banyak hal sebagian kita melecehkan berbagai nilai Barat yang bermakna, tapi dengan cepat mengamalkan berbagai nilai Barat yang tidak bermutu. Dapatkah kita me-manfaatkan hasil pemilu yang berharga dalam era reformasi? Jawaban yang harus diberikan berkaitan erat dengan reformasi dalam bidang pendidikan, karena pendidikan telah diabaikan para penguasa sejak Indonesia merdeka. Umumnya para penguasa memandang rendah pendi-dikan. Ini dibuktikan dengan rendahnya gaji yang diterima mereka yang menggeluti bidang pendidikan. Terbukti gaji seorang profesor identik dengan gaji tukang cukur kelas menengah. Reformasi pendidikan bermakna reformasi yang seimbang dalam memadukan ilmu dan wahyu baik di tingkat bawah dan atas, serta memberikan gaji yang memadai bagi siapa saja yang langsung berkiprah dalam bidang pendidikan. Reformasi pendidikan merupakan suatu keharusan bagi lahirnya masyarakat madani yang didambakan bersama.

Kata kunci: reformasi pendidikan, evaluasi pendidikan, pondok pesantren, moral


1. Pendahuluan

Emha Ainun Nadjib (1997: 300): "Dunia pendidikan sudah menjadi bagian yang inheren dari mekanisme politik, birokrasi, dan mobilisasi. Bersekolah bukanlah mencari ilmu (sekedar menghapalkan pengetahuan tertentu), bukanlah mengolah kreativitas (bahkan guru acapkali merupakan agen dekreativitas), dan bukan pula menggali dan mengembangkan kepribadian (bersekolah ialah penyeragaman atau penghapusan unikum manusia)".

Keluhan Cak Nun, atau dikenal sebagai kiai mbeling, di atas patut diperhatikan. Walaupun dia seorang yang gagal sekolah, katakanlah dia ‘drop out, dari Gontor maupun UGM, tapi banyak tokoh yang punya nasib cemerlang, walaupun gagal sekolah. Ada pula mantan guru yang tampil secara cemerlang dan dianugerahi pangkat istimewa jendral besar, seperti Panglima Besar Soedirman dan Abdul Haris Nasution. Contoh-contoh lainnya disajikan dalam kutipan berikut ini.

Sama-sama tak lulus SMU, Henry Ford menjadi juragan mobil, Al Pacino mendapatkan Oscar, Frank Sinatra menyanyi sampai tua, dan Tito membapaki Yugoslavia. Sama-sama guru, Santo Agustinus mencari jalan rohaniah, Imanuel Kant mengajar metafisika, Paulo Freire sibuk di pemukiman kumuh, Mao Tse-Tung merevolusikan Cina, .... (Naomi, 1999: ix-x)

Mereka gagal menyelesaikan sekolah menengahnya, tapi mampu berkiprah dalam hidup mereka karena berbagai sebab. Salah satunya karena masyarakat sekeliling belum 'siap' dan para siswa diperlukan tenaganya untuk membantu orang tuanya. Apalagi guru belum berperan sebagaimana mestinya. Untuk lebih jelasnya dapat dicermati uraian Umar Kayam (1992:30) berikut ini:

"Tetapi, sekolah bagi kami anak desa merupakan kandang-kandang yang tersekat-sekat dengan penggembala yang galak yang disebut guru. Kebanyakan dari kami tidak tahan dan tidak krasan di sekolah. Kami merindukan sawah, lapangan permainan kami, kerbau dan sapi kami, pohon-pohon mangga yang kami lempari dengan batu, burung-burung yang kami plintengi, kami ketapel, kemudian ramai-ramai kami kropok, kami bakar dalam onggokan daun-daun kering. Lagi pula orang tua kami kebanyakan juga tidak tahan kehilangan kami lama-lama di sekolah. Mereka membutuhkan kehadiran kami di rumah dan di sawah untuk membantu mereka. Agaknya orang tua saya adalah satu perkecualian. Mereka ingin betul saya tetap sekolah. Setiap kali saya menyatakan keinginan saya untuk keluar sekolah karena tidak krasan, karena kangen main di sawah, Bapak akan tidak segan-segan mengambil cemeti, memukuli saya."

2. Beberapa Masalah Pendidikan

Pendidikan di Indonesia terasa sekali kurang memperhatikan peran wahyu (baca agama) dan lebih menumpukan peranan ilmu. Memang secara administratif atau lahiriah ada pendidikan moral Pancasila maupun pendidikan Agama. Tetapi secara substantif nampak kedua mata pelajaran tersebut 'disepelekan'. Terbukti para siswa yang terpaksa memasuki sekolah maupun perguruan tinggi yang dikelola yayasan agama Nasrani orang tuanya harus menandatangani kesediaan anak-anaknya mengikuti pelajaran agama tersebut atau etikanya. Dalam kaitan ini dapat dikaji semacam ‘keluhan’ Romo Paul Suparno, S.J. dalam "Apakah Pendidikan Menghasilkan Ketulusan?" Basis, No. 5 & 6, Th. 49, Mei Juni 2000, berikut ini.

". . . bagaimana dengan siswa yang beragama lain yang belajar di institusi Katolik? Apakah mereka harus mengikuti pelajaran agama Katolik? Memang mereka waktu masuk telah menandatangani perjanjian tidak keberatan ikut pelajaran agama Katolik, tetapi apakah itu fair? Bukankah siswa yang memang mau belajar di situ tetapi tidak mau ikut agama akan takut untuk mengungkapkan apa yang sesungguhnya dirasakan? Apa mereka sungguh dapat jujur mengungkapkan pengalaman dan gagasan mereka serta nilai mereka? Apakah mereka tidak dipaksa untuk memendam nilai yang mereka geluti?" (Suparno, SJ. , 2000:62.)

Banyak para pelajar dan mahasiswa mengeluhkan realitas pahit yang terpaksa mereka jalani. Apalagi berbagai pelajaran penting biasanya disajikan setelah jam sebelas pada setiap hari Jum'at. Atau kuliah diadakan sehingga para mahasiswa/i tidak dapat melaksanakan shalat fardhu, terutamanya shalat 'asar dan maghrib. Untuk shalat dhuhur relatif aman karena waktunya bertepatan dengan makan siang, sedangkan guru atau dosen juga perlu menyantap makan siang. Aktivitas yang mengabaikan HAM, dalam masalah agama, intensif sekali dilaksanakan pada bulan Ramadhan atau puasa. Beberapa siswa dan mahasiswa yang mengeluhkan hal ini pada penulis, sempat tergoncang jiwanya karena mereka adalah muslim yang taat. Penulis hanya menyarankan agar mereka bersikap bijak dan dapat melaksanakan shalat secara jamak dan qashar. Hal seperti ini dilakukan Nurcholis Madjid saat kuliah di Universitas Chicago.

Lebih menyedihkan lagi, guru PMP maupun guru Agama, seperti guru Bahasa Indonesia, terpaksa harus bersikap munafik. Sikap yang dibenci dalam Agama Islam terpaksa dilakukan para pamong bersangkutan sekalipun para siswa tidak 'mampu' atau agak 'mengabaikan' pelajaran PMP maupun Agama. Kepincangan ini berlangsung secara resmi karena nilai enam harus diberikan pada para siswa agar lulus atau naik kelas. Apalagi ada 'tekanan' dari para birokrat atasan para pamong agar kenaikan kelas maupun kelulusan para murid dan siswa harus mendekati 100%. Mudah dipahami apabila ada para mahasiswa, bahkan juga mereka yang kuliah di perguruan tinggi negeri, tidak dapat menulis satu kalimat dengan baik dan benar. Sebagian mereka belum bersikap sebagai mahasiswa yang baik serta jujur karena kurang mengamalkan ajaran agama dan suka nyontek, termasuk juga saat membuat paper atau menulis skripsi.

Dalam perkara meremehkan peranan guru, nampaknya Indonesia banyak belajar dari budaya Barat. Terbukti seorang pakar filsafat yang masyhur, Seneca harus menjadi guru di istana imperium Romawi. Salah seorang muridnya, kemudian menjadi kaisar Nero. Nampaknya Seneca dilupakan bahkan dibenci oleh bekas anak asuh yang telah menjadi orang nomor satu Romawi. Nero kemudian tampil sebagai kaisar paling brengsek sepanjang sejarah imperium Romawi. Nero dikenal sebagai diktator yang sinting. Salah satu contoh keedanannya, kaisar Nero telah meracun Seneca, tetapi mantan gurunya mampu bertahan hidup, tidak mati. Walaupun demikian diktator Nero tetap muak melihat Seneca, yang kemudian dipaksanya bunuh diri (Naomi, 1999: viii-ix).

Budaya Romawi, sebagaimana budaya Yunani, dikenal sebagai wellspring of Western civilization, menjadi teras peradaban Barat. Peradaban Barat telah membidani lahirnya penjajahan Barat atas negara-negara Timur pada umumnya. Nampaknya sikap menegatifkan peranan guru dalam budaya Yunani-Romawi, secara canggih telah dimanipulasikan sebagian birokrat pada masa penjajahan. Mereka telah 'menularkan' sikap licik Patih Sengkuni, sebagai cerminan watak birokrat tingkat tinggi. Suka mengadu domba, serakah, rakus harta dan haus kekuasaan, merupakan sifat alami Sengkuni. Berbagai watak brengsek ini dijadikan 'milik' Pandita Durna, sebagai manifestasi guru yang ampuh. Durna menjadi guru para pendawa maupun kurawa. Penularan ini terjadi hanya karena Durna terpaksa berpihak pada Kurawa. Pendita Durna terpaksa berbuat demikian sebab merasa berhutang budi terhadap Kurawa.

Selain meremehkan peranan guru, terasa sekali minimnya dana pendidikan di Indone-sia. Dana yang minim ini nampak habis di jalan sebelum sampai tujuan. Minimnya dana pendidikan membuat sebagian sekolah dan perguruan tinggi terasing dari masyarakat sekitar. Kecuali umumnya yang berkuasa, semua pihak yang menggumuli pendidikan harus menderita. Para siswa dibebani berbagai pungutan dan mereka digiring harus membeli buku cetakan terbaru. Buku milik kakak kelas pada umumnya tidak dapat digunakan adik kelas. Sekalipun isinya relatif sama, tetapi bab-babnya dipindahkan. Direkayasa sedemikian rupa sehingga para pengguna buku cetakan lama menjadi bingung. Para guru, terutama guru-guru SD, dibebani berbagai pungutan, tanpa bisa menolak. Kalau terpaksa menolak mereka berhadapan dengan sejenis mafia. Keberadaan mafia ini diam-diam "direstui" karena telah memberi upeti pada atasan yang merupakan para birokrat dunia pendidikan. Bahkan lumrah kalau mereka yang punya pendapat berbeda, apalagi dianggap membangkang atau mbalelo, kenaikan pangkatnya dipersulit, atau dipindahkan ke tempat yang terpencil.

Secara menyeluruh dunia pendidikan Indonesia benar-benar memprihatinkan. Nilai ebtanas murni (NEM) menjadi tujuan utama sejak SD hingga SLTA. Di perguruan tinggi umumnya para mahasiswa hanya mengejar nilai, bukan ilmu apalagi kreativitas, agar dapat meningkatkan perolehan IP dan IPK. Dunia pendidikan hilang kemandiriannya, apalagi saat-saat kampanye dalam pemilu masa Orba, karena para guru dan karyawan, seperti umumnya PNS, digiring agar memenangkan Golkar.

Berbagai kelemahan pendidikan di Indonesia antara lain terangkum dalam pemantauan Gatra, Kompas, Tempo serta media masa yang lain dan berkali-kali menjadi pembahasan para cendekiawan. Salah satunya tercermin dalam laporan Endang Sukendar, Rasini Retnaningtyas dan G.A. Guritno (Gatra, 12 Juni 1999:94) sebagai berikut:

"Sistem NEM juga dipandang punya banyak nilai minus. Kata ahli pendidikan dari Majelis Luhur Taman Siswa Yogyakarta, Dr. Supriyoko, NEM tak sepenuhnya mencerminkan kualitas murid, karena tiap daerah memiliki kekhasan. "Nilai 50 di Yogya, misalnya, tak bisa disamakan begitu saja dengan angka yang sama dari daerah lain", katanya. Apalagi bila angka NEM itu didapat karena adanya kebocoran. Pendeknya, Supriyoko tak mempercayai NEM sepenuhnya. Maka, untuk masuk Taman Siswa, calon murid juga diseleksi fisiknya dan harus ikut psikotes. NEM dan fisik masing-masing mendapat bobot 30%, sisanya untuk penalaran."

Jelaslah walaupun lebih setengah abad Indonesia merdeka, hampir semua kita terlena sehingga lupa dengan salah satu cita-cita proklamasi, cita-cita untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Akibatnya, krisis demi krisis menimpa kita. Terutama krisis moral dengan tumbuh dan suburnya KKN, yang juga menjadi wabah dalam dunia pendidikan Indonesia. Semua ini telah berujung dengan lahirnya krisis moneter yang hampir menenggelamkan Indonesia, dan nyaris menghanyutkan bangsa Indonesia dalam kemelut disintegrasi politik.

Sebagai warisan penjajahan, pendidikan di Indonesia masih membedakan pendidikan yang dikelola Depdiknas, serta yang dikelola Depag. Umumnya, pendidikan yang dikelola Depdiknas lebih berkaitan dengan berbagai lembaga pendidikan umum dan kejuruan serta kurang memperhatikan hal-hal yang berkaitan ilmu agama. Sebaliknya, Depag lebih menekankan lembaga-lembaga pendidikan agama. Walaupun demikian, ada berbagai lembaga pendidikan yang kurang beroleh perhatian keduanya. Salah satunya adalah lembaga pendidikan yang dikenal sebagai pondok pesantren (Ponpes).

Agak memprihatinkan realita ini, karena sebagian umat dan mereka yang berkuasa nampaknya masih bersikap setengah hati terhadap Ponpes. Apalagi sebagian Ponpes kadang-kadang hanya mau "menang" untuk akhirat kelak dan tak apa "kalah" dalam percaturan hidup di dunia. Lebih memprihatinkan lagi sebagian besar input Ponpes sekedar sisa-sisa para siswa setelah mereka dinyatakan gagal masuk sekolah negeri atau swasta. Hal ini berakibat sebagaimana disajikan Ahmad Syafii Maarif dalam "Pendidikan Islam dan Proses Pemberdayaan Bangsa":

"... tampak [Ponpes] begitu tertinggal di tengah persaingan global yang harus dihadapinya. Dan kini, ia menghadapi kendala yang lebih besar, karena di satu sisi harus berperan secara lebih pasti dalam memberdayakan umat dalam era yang sangat kompetitif, dan di sisi lain, kondisinya belum tampak siap atau belum beranjak dari situasinya yang kurang responsif." (Muslich Usa dan Aden Wijdan SZ, 1977:64)

3. Reformasi Pendidikan

Reformasi pendidikan merupakan suatu kemestian, bila Indonesia ingin menyongsong modernisasi secara utuh. Reformasi pendidikan berarti perubahan yang bermakna dan terencana dalam bidang pendidikan dengan mengikis habis berbagai kekurangan yang ada, serta mengenalkan secara berencana berbagai nilai dan sikap bermutu secara utuh dan terpandu dalam dinamika pendidikan yang ada. Reformasi pendidikan harus dilakukan secara bertahap, terencana serta dievaluasi secara berkala. Hal inilah yang mula-mula dilakukan Jepang, sehingga mereka mampu tampil sebagai bangsa yang terhormat dalam panggung sejarah dunia. Untuk lebih jelasnya dicermati uraian Yukichi Fukuzawa (1985: 55) berikut ini:

"… kita belum lagi mencapai tingkat negara-negara Barat dalam bidang-bidang ilmu pengetahuan, wiraswasta, dan hukum. Tetapi sebenarnya suatu peradaban modern buat sebagian terbesar dibangun di atas tiga landasan ini. Kalau tidak tercapai suatu kemaju-an yang wajar dalam ketiga bidang ini, jelasnya bahwa kemerdekaan nasional tidak mungkin dipertahankan."

Reformasi pendidikan harus memadukan peranan wahyu dan ilmu sebagai teras utama aktivitas pendidikan. Penekanan ilmu umum, dan mengabaikan peranan agama, dapat melahirkan sikap nyleneh. Salah satu contohnya dilakukan puteri yang cerdas karena mempunyai IQ 170. Dialah Melissa, gadis cantik dan berbakat. Dia telah pandai menulis serta membaca sejak berusia 18 bulan. Sayangnya bakat alami ini telah membuahkan malapetaka karena Melissa dididik tanpa mengenal sentuhan agama yang bermakna.

Sejak usia 14 tahun dia masuk Harlow College, dan ketika berusia 17 tahun dia telah belajar di Oxford College. Di lembaga bergengsi ini Melissa belajar ekonomi, filsafat, dan politik. Semua kejayaan ini diperolehnya karena mudahnya dia mendapatkan nilai A. Ibunya, Jane, dan nenek Melissa sendiri sangat membantunya, walaupun dia termasuk kuper, kurang pergaulan, dan kurang aktif berolah raga serta hal-hal sejenis lainnya. Melissa benar-benar hidup terasing dari masyarakat sekitarnya.

Seringkali di hadapan berbagai pria yang tidak dikenalnya, akibat kurangnya menghayati pendidikan agama, tanpa segan-segan Melissa akan menanggalkan pakaiannya satu per-satu. Kemudian dia akan meliuk-liukkan badannya. Menariknya Melissa tidak merasa malu, bahkan berkata:

"Saya perlu dan ingin sekali menari telanjang karena saya menikmati perhatian yang saya dapatkan. Saya senang orang-orang menyatakan saya indah dan luar biasa. Saya merasa seperti sesosok dewi seks yang memikat. Saya tahu, saya penari telanjang fantastik. Sungguh menyenangkan bila tahu bahwa anda betul-betul hebat pada suatu hal". (Yudana, 1998:134)

Contoh di atas merugikan citra dunia pendidikan. Ini dapat terjadi karena sistem pendidikan yang ada kurang memperhatikan agama dan tidak transparan. Sistem pendidikan yang berlaku lebih mengutamakan pendekatan kuasa, serta bukan menyemaikan pendekatan budaya. Sistem pendidikan demikian nampaknya sejalan dengan uraian Burgett (1970: sampul depan): "Our school systems are autocracies built on the foundation of arbitrary power, underfined standards, unrealistic curricula and unsupervised teachers. Schools perpetuate a world of fantasy having little relation to the real world". Dengan reformasi pendidikan, hal demikian dapat dicegah dan diarahkan pada sesuatu yang bermakna. Tanpa reformasi pendidikan, dan mengabaikan agama, akan berakibat fatal sekalipun dari segi pencapaian ilmu cukup memadai. Contohnya, Melissa berhasil dengan ujian-ujian yang ditempuhnya, tetapi dia memutuskan beristirahat kuliah selama setahun. Dia terpaksa bekerja merawat orang jompo dan menjadi instruktur aerobik. Kesukaran uang telah memaksanya menjadi penari di Windmill Club di London. Akhirnya Melissa berhasil menjadi stripper penuh dan mendapat julukan Naughty Oxford Totty. Dia merasa ditertawakan penonton, tapi "... ketika mereka bertepuk tangan dan bersorak sorai, saya merasa hebat". Akhirnya dia benar-benar berhenti kuliah serta berkata: "Saya tidak mau jadi korban Oxford lagi, saya lebih senang menjadi penari telanjang yang bahagia daripada menjadi mahasiswi yang sengsara" (Yudana, 1998: 137).

Salah satu kunci keberhasilan Melissa, dan siapa saja yang ingin meraih nilai-nilai gemilang, adalah disiplin. Dalam kaitan ini cukup menarik sekiranya kita mau bercermin dari usaha tokoh sejenis Ibn Sina (960-1037), dokter piawai yang belum tertandingi prestasinya hingga masa kini. Beliau dikenal sebagai penulis lebih dari 100 buku dalam bermacam-macam cabang ilmu terutama kedokteran. Kadang-kadang karena kesibukannya, beliau terpaksa mendiktekan isi buku yang akan ditulisnya sambil menunggang kuda. Ini terpaksa dilakukannya karena beliau sudah berjanji untuk menyelesaikan sebuah buku pada waktu yang telah disepakati (Hossein Nasr 1984:48-9), dan Nasir, M.A. (1989:71).

Apa yang didambakan reformasi pendidikan memerlukan perencanaan yang mantap agar mudah dicapai. Hal ini sejalan dengan pendapat H. Koonzt: "Planning is a great inte-llectual effort" (Koonzt, 1985: 49). Kemudian perencanaan yang mantap perlu ditindaklanjuti dengan langkah-langkah pengamalannya. Salah satu langkah awal yang penting adalah merumuskan kiat untuk mengembangkan budaya membaca secara utuh dan bermakna. Pentingnya membaca, terutama bagi umat Islam, dibuktikan dengan lima ayat pertama yang diwahyukan kepada Rasulullah berkaitan dengan budaya membaca (Shihab, 1997:73-155). Siapa saja dibudayakan membaca tidak hanya yang tertulis tetapi juga membaca tanda-tanda alam dan Tuhan, terutamanya yang ada di sekeliling kita. Manusia harus membaca tidak hanya yang tersurat tetapi juga yang tersirat. Bahkan insan diupayakan untuk mampu membaca yang ada sekarang dan peninggalan masa lalu, sebagai semacam panduan atau pedoman untuk menyongsong masa depan (Kuntowijoyo, 1994:10-18). Semua itu secara indah telah dikembangkan dalam uraian berikut:

"Reading as a tool for further intellectual growth, it commences with the ability to re-cognize words but it must include understanding, enjoyment and appreciation. Reading skills affect the student's progress in every element of academic work, his self-con-fidence and his relations with his teacher. Reading is indispensable for learning the cul-ture of our civilization, for understanding our technology, and for developing the inter-personal relationships our crowded world demands". (Burgett, 1970: 45-6)

Dengan demikian, membaca yang bermakna mempunyai dhu wujuuh, beragam wajah dalam makna yang positif. Dengan modal membaca yang demikian, dapat dikembangkan sikap kritis. Dimulai dengan anjuran agar seseorang mau membaca topik yang sejenis tetapi ditulis oleh berbagai pihak. Topik-topik yang sejenis tetapi ditulis oleh mereka yang berseberangan, umpamanya. Ini berarti seorang menanggapi secara positif tawaran berikut ini:

"Akhirnya diperlukan keberanian untuk mempunyai pendapat sendiri. Tanpa itu, studi menjadi mati, tidak ada gunanya. Artinya, Anda harus percaya bahwa apa yang ditulis dalam buku itu benar! Tetapi jangan takut untuk meragukan apa yang ditulis itu! Cari pada pengarang lain, sampai Anda yakin telah menemukan kebenaran dari apa yang dicari itu, yang tampak oleh Anda pada saat itu". (Romein, 1989: 137-8).

Pengenalan membaca yang bermakna tentunya harus dimulai sejak dini. Sekurang-kurangnya sejak SD, bahkan TK, para siswa dikenalkan membaca secara utuh dan menyeluruh. Hanya semua ini sekedar ilusi, sekiranya gaji guru maupun dosen sangat minim serta tak ada usaha serius dan terencana untuk meningkatkannya.

Demikian memprihatinkan nasib para pendidik di Indonesia, terbukti gaji seorang profesor di perguruan tinggi negeri setara dengan penghasilan tukang cukur kelas menengah. Rata-rata tukang cukur memungut biaya Rp 4.000,00 untuk setiap kepala. Pada hari biasa mereka sekurang-kurangnya mampu mencukur 20 orang. Pada waktu yang ramai mereka mampu mencukur lebih dari 30 orang. Rata-rata penghasilan mereka sekitar Rp 100.000,00 setiap harinya, sehingga sebulan mereka dapat meraup sekitar tiga juta rupiah (Rp 3.000.000,00). Dengan penghasilan yang setara dengan seorang profesor, gaya hidup tukang cukur cukup sederhana. Mereka pantas apabila kemana-mana naik sepeda, atau minum es di pinggir jalan. Masyarakat akan 'menjerit' sekiranya hal sejenis tersebut dilakukan seorang profesor.

Lebih memprihatinkan lagi adalah keuangan para pamong yang masih dalam status honorer. Mereka lebih banyak dibebani berbagai kewajiban tanpa adanya hak. Setiap kali mereka minta perhatian perbaikan nasib, selalu dihantui akan dipecat atau yang sejenisnya. Tak kalah pentingnya adalah pembebasan pajak yang berkaitan dengan berbagai usaha dan kegiatan pengadaan buku, disamping perlunya subsidi dari pihak pemerintah secara transparan. Tak kalah pentingnya kerjasama pemerintah dan swasta dengan pihak penerbit buku dan mass media. Usaha penerbitan diwajibkan menyediakan harga diskon atau harga khusus untuk majalah dan surat kabar yang dijual dalam lingkungan sekolah dan universitas. Belum dibudayakan secara utuh dan menyeluruh serta transparan adanya penghasilan yang berkaitan dengan usaha dan prestasi pencapaian ilmu. Apalagi hampir tidak ada perbedaan penghasilan yang berarti bagi mereka yang berhasil meraih S1, S2, dan S3. Asalkan pandai menjilat atasan lulusan S1 mudah memperoleh gelar profesor. Sementara yang mengantongi S3 dan berprestasi seakan-akan diharamkan dapat profesor kecuali terlambat, hanya karena yang bersangkutan sering berbeda pendapat. Kebiasaan yang tidak beralasan yang kukuh ini kurang menggairahkan dan memberi dorongan mereka yang belum berhasil untuk studi lanjut.

Reformasi pendidikan harus sejalan dengan watak masyarakat Indonesia. Kekhasan masyarakat Indonesia, memintakan agar dinamika reformasi pendidikan di PT untuk sementara masih ditumpukan pada peranan dominan rektor. Hanya bagaimanakah agar sebagian wewenangnya dipercayakan pada para pembantunya untuk melancarkan dinamika universitas. Sekiranya hal tersebut belum dapat diwujudkan, perlu dicari alternatif lain. Apapun peranan rektor, selalunya dia harus bersifat inovatif, kreatif, proaktif, dan produktif. Ada baiknya sekiranya peranan tersebut dapat dirumuskan dalam uraian berikut ini:

"The university president ... is expected to be a friend of the students, a colleague of the faculty, a good fellow with the alumni, a sound administrator with the trustees, a good speaker with the public, an astute bargainer with the foundations and the federal agencies, a politician with the state legislature, a friend of industry, labor, and agriculture, a persuasive diplomat with donors, a champion of education generally, a supporter of the professions ..., a spokesman to the press, a scholar in his own right, a public servant at the state and national levels, ..." (Keer dalam Lipset, 1965: 38)

Tugas multi atau banyak fungsi yang diemban rektor mudah dipahami. Ini disebabkan karena pendidikan menyentuh berbagai aspek kehidupan manusia. Untuk lebih jelasnya baik dikaji uraian berikut, sehingga tiap perubahan yang menimpa masyarakat berpengaruh pada pendidikan, dan sebaliknya:

"Pendidikan memang merupakan kawasan yang luar biasa padat dan unsur-unsurnya tak terbilang; segala gerak-geriknya berkaitan timbal-balik dengan filosofi dan sistem sosial, ekonomi, politik, bahkan hankam; pendeknya, kerumitan pendidikan mencerminkan kerumitan hidup berbangsa dan bernegara itu sendiri. Maka perubahan apa pun dalam batang-tubuh pendidikan mengisyaratkan dan diisyaratkan oleh perubahan di hampir segala bidang" (Naomi, 1999: lxiv)

Dalam reformasi pendidikan sudah sepatutnya, sekiranya kita mau belajar dari berbagai kekhasan ponpes. Sebagian anak-anak dan para siswa usia sekolah yang kurang beruntung, ditampung Ponpes, pondok pesantren, karena mereka dapat belajar dengan biaya minim (Steenbrink, 1984: 153). Sebagian mereka belajar tanpa biaya, bahkan dapat hidup asalkan mau bekerja serabutan di Ponpes. Umumnya, Ponpes merupakan subkultur yang mandiri (MT Arifin, 1987:188). Umumnya, santri Ponpes bebas belajar, atau bebas tidak belajar, apalagi sebagian Ponpes tidak mempunyai kurikulum yang mengikat (Dhofier, 1982). Sebagian kekhasan ini dapat dinilai negatif, bahkan ada yang menilai sebagai lembaga kelas dua yang kurang diminati dan mulai ditinggalkan umat (Muslich Usa, 1997:84).

Sekalipun Ponpes telah berusia berabad-abad (Pijper, 1984), umumnya Ponpes terletak di pinggiran kota atau desa, sehingga sering diberi label sebagai lembaga pinggiran (Suminto, 1985:51). Bahkan beberapa tokoh dan pemikir Muhammadiyah, seperti Amien Rais (1989:161) maupun Syafii Maarif, menyoroti berbagai kelemahan Ponpes, tetapi Muhammadiyah tetap melanggengkan kiprah puluhan Ponpes dalam berbagai aktivitasnya.

Beberapa Ponpes, semacam Pondok Gontor, Ngabar, dan Pabelan, mampu tampil beda dan bermakna. Ponpes ini tidak saja menonjolkan "kemenangan" akhirat, tetapi diperhitungkan dalam kiprah dunia, bahkan telah menerima berbagai penghargaan baik sejenis upakarti maupun Aga Khan Award yang internasional sifatnya. Para pengasuh Ponpes dapat memotivasi para santri bersikap kreatif di mana saja mereka berada. Kemampuan berbahasa Arab dan Inggris secara aktif serta pasif merupakan salah satu kelebihan Pondok Gontor dan pondok alumninya. Sebutan pondok alumni diberikan pada lebih dari 50 Ponpes yang berhasil didirikan para alumnus Gontor. Walaupun demikian masing-masing Ponpes tersebut punya kekhasannya, dan berbeda satu dengan yang lain. Tetapi semua pondok alumni amat mementingkan penguasaan bahasa Arab dan Inggris sebagai ilmu alat. Umumnya pondok alumni mendidik santri tingkat SLTP dan SMU. Sementara itu, banyak para mahasiswa PTN kurang memahami bahasa Inggris, apalagi bahasa Arab. Dalam kaitan ini menarik komentar Zakiah Darajat dalam "Gigih Memperjuangkan Madrasah", (Amir Hamzah, 1996:632) berikut ini:

"Saya telah banyak mengunjungi pesantren-pesantren yang didirikan oleh alumni-alumni Gontor. Semuanya sama: Pabelan, Gintung Balaraja, dan lain-lain. Saya kira pesantren-pesantren itu sangat baik. Bahasa Arab dan Inggris para santri aktif, dan itu sangat bagus. Itu adalah impian kita dari dulu. Dan sekarang, sudah beberapa kali Menteri Agama berganti. Kita ingin bahasa Arab dan Inggris alumni madrasah dan IAIN berjalan dengan aktif. Sementara itu, di Gontor dan di pesantren-pesantren yang didirikan alumni-alumni Gontor, hal itu sudah berjalan dengan baik. Jadi, beliau [Pak Zarkasyi, salah seorang pendiri Pondok Gontor] sudah berhasil.

Sebagian lulusan Ponpes tampil proaktif dengan beragam gagasan inovatif dan mampu mewujudkan apa yang telah mereka ungkapkan. Dapat dikatakan tak ada lulusan Ponpes yang nganggur, dan mereka mau bekerja apa saja asalkan halal. Mereka telah dibiasakan bersikap demikian sejak awal-awal menjadi santri pondok (Haikal, 1990:19). Selain pembudayaan santri yang demikian, umumnya pondok lahir, dan mampu berkembang karena sifatnya yang mandiri (Haikal, 1997). Sebagian Ponpes telah berkembang pesat, karena dukungan masyarakat dan para alumnusnya. Hal ini sejalan dengan uraian Dawam Rahardjo dalam "K. H. Imam Zarkasyi Figur Seorang Ayah" berikut ini:

"Ada tanggung jawab dan rasa memiliki di setiap anggota masyarakat terhadap kelangsungan dan kemajuan pondok, di lain pihak anggota pondok pesantren juga selalu memikirkan dan merasa bertanggung jawab atas kemajuan masyarakatnya, baik secara pendidikan atau ekonominya". (Amir Hamzah, 1996:862)

4. Simpulan dan Saran

Menuju reformasi pendidikan tidak saja melibatkan dosen, para asisten, dan guru, tetapi juga ibu, ayah, serta warga masyarakat pada umumnya. Dengan sentuhan-sentuhan kerja mereka mampu membuat rumah sebagai mesjid yang menumbuhkan nilai-nilai utuh Islam. Rumah mampu pula berperan sebagai sebagai madrasah yang turut membentuk aqidah, amal dan akhlak serta akal yang mumpuni dari anak-anak sebagai amanah Allah.

Rumah, sekolah, maupun universitas dapat tampil sebagai benteng yang melindungi seluruh penghuninya. Rumah, sekolah, maupun universitas dapat juga berperan sebagai rumah sakit yang memelihara kesehatan jasmani dan ruhani para warganya. Bahkan dengan sentuhan para pendidik, rumah, sekolah maupun mesjid, akan mampu pula melahirkan suatu kompi sebagai hizbullah, tentara Allah, yang siap berjuang untuk mengibarkan panji-panji pendidikan madani (Rakhmat, 1991:123).

Dalam kaitan ini dapat diwujudkan apa yang dikehendaki hadits "Baitii Jannatii" atau rumahku adalah surgaku. Peranan demikian tentunya dapat diperagakan para dosen dan asisten perguruan tinggi yang secara eksplisit berusaha mengibarkan panji-panji reformasi pendidikan yang utuh.

Sekiranya reformasi pendidikan mampu disajikan dengan kemasan akhlaqul karimah, tentu akan melahirkan masyarakat Indonesia yang bermutu dan dihormati dalam panggung sejarah dunia (Umari, 1999). Bangsa Indonesia mampu tampil secara bermakna karena berperan dalam melahirkan the most civilized and progressive nation in the world. Ini diwujudkan sebagai kerja keras dengan memadukan ayat-ayat qauliyah (al-Quran dan al-Hadits) serta ayat-ayat kauniyah (alam semesta) secara utuh serta menyeluruh.

Mampukah kita menuju reformasi pendidikan secara demikian? Mampukah kita menyajikan pendidikan yang seirama dengan tuntutan zaman reformasi? Mampukah kita menyajikan pendidikan sebagai liberating force (kekuatan pembebas) di tengah-tengah kemandekan, atau kebekuan, yang tengah kita alami bersama pada saat sekarang ini? Peranan yang diemban tersebut, secara bermakna telah berhasil disajikan Butts (1978: 567) berikut ini:

"… to move toward playing a responsible role in the coming world civilization, a civilization marked by increased reliance upon a scientific-rational outlook, by rational-legal ordering of public behavior, by increased participation of even larger number of people in public affairs …"

Dalam kaitan dengan peranan universitas ada baiknya dirumuskan suatu sikap dan tindakan yang matang. Dengan adanya sikap dan tindakan yang mantap, akan memungkinkan kita secara maksimal memanfaatkan hasil pemilu yang telah terlaksana secara jujur, adil, dan luber. Sekiranya waktu demikian terbatas, untuk sementara agak memadai kalau dalam reformasi pendidikan kita mau meneladani peranan universitas yang berlaku di Jepang.

"… universitas-universitas di Jepang tidaklah selalu merupakan boneka-boneka perubahan sosial. Pada masa awal pertumbuhannya, … mempunyai suatu semangat dan cita-cita serta kemampuan untuk memahami masa datang dan membimbing masyarakat ke arah itu. Kegagalan untuk mempertahankan pandangan ke muka itu merupakan akibat dari suatu perubahan perkembangan sejarah yang radikal …" (Nagai, 1993:17)

Apakah yang disajikan ini sederhana, sejalan dengan pepatah Latin simplex veri sigillum, berarti kesederhanaan adalah tanda kebenaran (Rakhmat 1997:7). Dalam kaitan Reformasi Pendidikan, yang paling utama dan bermakna adalah saran yang sejalan dengan uraian cendekiawan yang dikenal sebagai founding father of the science of management, Drucker, seperti diuraikan dalam beberapa kalimatnya berikut ini: "The future will not just happen if one wishes hard enough. It requires decision---now. It imposes risk—now. It requires action---now. It demands allocation of resources, and above all, of human resources---now. It requires work---now." (Peter F. Drucker, 1985:122).

Adakah pandangan lain? Silahkan kemukakan agar kita dapat saling asah, asih, dan asuh, yang berarti saling mempertajam pemahaman, saling mengasihi, serta saling ‘mengasuh’. Hal ini sejalan dengan upaya awal yang berkaitan dengan reformasi pendidikan dalam upaya menuju masyarakat madani yang harus segera diwujudkan. Semua ini memerlukan perencanaan, kerja keras, dan pengorbanan kita semua. Sudahkah kita laksanakan?


Pustaka Acuan:

Arifin, MT. 1987. Gagasan Pembaharuan Muhammadiyah, Jakarta: Pustaka Jaya.

Burgett, W.A. 1970. We Have Failed the Schools, New York: Vantage Press.

Butts, R. Freeman. 1978. The Education of the West. New York: McGraw-Hill.

Dhofier, Zamakhsyari. 1982, Tradisi Pesantren Studi tentang Pandangan Hidup Kiai, Jakar-ta: LP3ES.

Drucker, Peter F. 1985. Management Tasks, Responsibilities, Practices, New York: Harper and Row.

Fukuzawa ,Yukichi. 1985. "Encouragement of Learning", alih bahasa Arifin Bey, Jepang Di antara Feodalisme dan Modernisasi, Jakarta: Pantja Simpati.

Haikal, Husain. 1990, Pak Zar, Pendidik Teladan Yang Nyaris Dilupakan, Penelitian dengan DPP IKIP YOGYAKARTA, No. 527/PT 27 H9/90, hlm. 1-33.

-----, 1997. "Menuju Universitas Pendidikan dan Riset", Cakrawala Pendidikan, Mei, hlm. 61-71.

Kayam, Umar. 1992. Para Priyayi. Jakarta: Temprint.

Kerr, Clark. 1965. "Selection from the Uses of University". Dalam Lipset, Seymour Martin, and Sheldon S. Wolin (Eds). The Berkeley Student Revolt: Facts and Interpretations. New York: A Doubleday Anchor, hlm. 38-60.

Koonzt, H. 1983, The Board Directors and Effective Management, New York: McGraw-Hill Book and Co.

Kuntowijoyo. 1994. Dinamika Sejarah Umat Islam Indonesia. Yogya: Shalahuddin Press dan Pustaka Pelajar.

Maarif, Ahmad Syafii. 1997. "Pendidikan Islam dan Proses Pemberdayaan Bangsa". Dalam Muslich Usa dan Aden Wijdan SZ (Eds.). Pendidikan Islam dalam Peradaban Indus-trial. Yogya: Aditya Media, hlm. 57-70..

Nadjib, Emha Ainun. 1997. Surat Kepada Kanjeng Nabi, Bandung: Mizan

Nagai, Michio. 1993. "Higher Education in Japan: Its Take-off and Crash", terjemahan Arif-in Bey, Pergulatan Jepang dalam Modernisasi Pendidikan, Jakarta: Gramedia.

Naomi, Omi Intan Ed. dan Penterjemah. 1999. Menggugat Pendidikan, Fundamentalis, Kon-servatif, Liberal, Anarkis, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Nasir, M.A. 1989. Ilmuwan Muslim Sepanjang Sejarah, Bandung: Mizan

Nasr, Hossein. 1984. Science and Civilization in Islam, Shah Alam: Dewan Pustaka Fajar

Pijper, G.F. 1984. "Studien over de Geschiedenis van den Islam in Indonesia 1900-1950", alih bahasa Tudjinah dan Yessy Augusdin. Beberapa Studi tentang Sejarah Islam di Indonesia 1900-1950, Jakarta: UI Press.

Rahardjo, Dawam M. 1996. "K. H. Imam Zarkasyi Figur Seorang Ayah", dalam Amir Ham-zah Wiryosukarto, et. al., K. Imam Zarkasyi di Mata Umat, Ponorogo: Gontor Press, hlm. 861-866.

Rais, M. Amien. 1989. Cakrawala Antara Cita dan Fakta, Bandung: Mizan.

Rakhmat, Jalaluddin. 1991. Islam Alternatif. Bandung: Mizan.

------. 1997. Renungan-renungan Sufistik Membuka Tirai Kagaiban, Bandung: Mizan.

Romein, Jan. 1989. "In de ban van Prambanan", alih bahasa Hazil Tanzil, Dalam Pesona Prambanan. Jakarta: Temprint.

Shihab, M. Quraish. 1997. Tafsir Al-Qur’an Al-Karim, Bandung: Pustaka Hidayah.

Steenbrink, Karel A. 1984. Pesantren Madrasah Sekolah, Jakarta: LP3ES.

Sukendar, Endang, Rasini Retnaningtyas dan G.A. Guritno. 1999. "Tes Khusus Menggugat NEM", Gatra, 12 Juni, hlm. 94-95.

Suminto, Husnul Aqib. 1985. Politik Islam Hindia Belanda, Jakarta: LP3ES.

Suparno, Paul, SJ. 2000. "Apakah Pendidikan Menghasilkan Ketulusan?", Basis, No. 5 & 6, Th. 49, Mei Juni, hlm. 62-70.

Umari, Akram Dhiyauddin. 1999. "Madinan Society at the Time of the Prophet", alih bahasa Mun’im A. Sirry, Masyarakat Madani, Jakarta: Gema Intisari Press.

Wiryosukarto, Amir Hamzah et. al. 1996. K. Imam Zarkasyi di Mata Umat, Ponorogo: Gon-tor Press

Yudana, I Gede Agung. 1998. "Ulah ‘Miring’ Akibat Cinta Bersyarat". Dalam Intisari, Februari, hlm. 132-143.

Zakiah Darajat. 1996. "Gigih Memperjuangkan Madrasah", Amir Hamzah Wiryosukarto et. al.(Ed.), K.H.ImamZarkasyi Di Mata Umat,Ponorogo: Gontor Press, hlm. 630-635.

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan
No.035 - Maret 2002

Editorial

Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan edisi ke-35 ini memuat berbagai hasil studi dan gagasan tentang pendidikan dan kebudayaan. Hasil studi dan gagasan tersebut mencakup peran guru di era yang penuh perubahan, metode latihan berstruktur untuk siswa, peranan sekolah swasta, efektivitas praktik bahasa Inggris, kurikulum pendidikan komunikasi, peranan pamong belajar, polisemi dalam bahasa Gorontalo, adat budaya Batak "Dalihan Na Tolu” peranan Muhammadiyah dalam membangun pendidikan di Indonesia, dan reformasi pendidikan.

S. Karim A. Karhami, Kepala Bidang Bangkur SMU Balitbang Depdiknas, menyampaikan gagasannya tentang mengubah wawasan dan peran guru di era yang penuh dengan perubahan ini dimana budaya masyarakat, karakteristik anak didik, lingkungan belajar senantiasa berubah. Menurutnya, pola pikir dan pola tindak lama yang diilustrasikan dengan guru maha tahu, guru maha terampil, siswa maha tidak tahu, belajar identik dengan mencatat dan mendengarkan ceramah guru, sementara mengajar harus berprilaku seperti tukangjual obat yang mampu berkata-kata kesana kemari perlu diubah dengan menempatkan guru pada peran sebagai "tukang penggagas dan pencipta proses belajar." Artinya, guru diposisikan sebagai facilitator dari pada destroyer peristiwa learning sementara siswa diperankan sebagai "produsen" (baca "arsitek" pembangun gagasan) dari pada hanya sebagai "konsumen gagasan."

Hasil penelitian tentang penerapan metode latihan berstruktur untuk meningkatkan pemahaman siswa tentang konsep persamaan reaksi kimia disampaikan oleh Rusmansyah dan Yudha Irhasyuarna, dosen PS Pendidikan Kimia FKIP Unlam Banjarmasin. Strategi pembelajaran ini memberikan bantuan dan bimbingan kepada para siswa dalam memahami dan menyelesaikan konsep persamaan reaksi dan soal-soalnya, serta melatih siswa untuk berpikir kreatifdan ilmiah dalam menghadapi permasalahan yang serupa.

Safrudin Chamidi, Kepala Bidang Statistik Pendidikan Tinggi pada Pusat Statistik Pendidikan Balitbang Depdiknas, mengeksplorasi kontribusi sekolah swasta pada pendidikan di Indonesia. Hasilnya menunjukkan bahwa sumbangan sekolah swasta terhadap pendidikan adalah besar sekali. Namun demikian, kontribusi ini belum optimal. Masalah yang dapat diidentifikasi dalam pengembangan sekolah swasta adalah: 1) peningkatan jumlah sekolah swasta seringkali tidak disertai dengan peningkatan kualitas; 2) sekolah swasta memiliki masalah manajerial yang lebih bervariasi; 3) rendahnya kualitas manajemen dan output dari sebagian besar sekolah swasta; dan 4) /oh description dari supervisi pendidikan belum dideskripsikan secarajelas.

Studi tentang efektivitas praktik bahasa Inggris dilaporkan oleh H.Veithzal Rivai, dosen Program Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta. Hasil studi yang mengambil sampel mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) se Jakarta Selatan itu menunjukkan bahwa motivasi keberhasilan, kreativitas, dan persepsi mahasiswa tentang kemampuan dosen beropengaruh positifterhadap efektivitas praktik bahasa Inggris.

Hafied Cangara, stafpengajarJurusan Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Hasanuddin dan Asisten Direktur II Program Pascasarjana Universitas Hasanuddin, menyampaikan gagasan tentang kurikulum pendidikan ilmu Komunikasi dalam era teknologi informasi. Menurutnya, kurikulum pendidikan ilmu komunikasi selama ini adalah terlalu teoritis dan kurang memberi tekanan pada upaya pemberian keterampilan kepada mahasiswa sejalan dengan kemajuan dan perkembangan teknologi komunikasi dan informasi. Format kurikulum pendidikan ilmu komunikasi untuk program sarjana (Sl) ini perlu dimodifikasi agar berkisar pada 60-70 persen untuk keterampilan komunikasi (communication akills) dan 30-40 persen untuk dasar-dasar teori.

Peranan Pamong Belajar dalam implementasi kurikulum dibahas oleh Muktiono Waspodo, staf Direktorat Tenaga Teknis Ditjen Diklusepa Depdiknas. la mensinyalir bahwa pendidikan nasional lebih berorientasi padajalur sekolah, sebab yang lebih banyak ditelaah adalah eksistensi guru sebagai tenaga fungsional padajalur sekolah. Sedangkan Pamong Belajar sebagai tenaga fungsional padajalur luar sekolah kurang mendapat perhatian, padahal Pamong Belajar memiliki kedudukan yang strategis dalam rangka implementasi kurikulum. Oleh karena itu, perlu ditingkatkan kinerja Pamong Belajar dalam menjalankan tugasnya. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi peranan Pamong Belajar dalam implementasi kurikulum perlu diperhatikan secara seksama sehingga dapat tercipta lingkungan yang kondusifbagi dirinya dalam mengemban tugasnya pada jalur luar sekolah.

Hamzah Achmad, dosen IK.IP Negeri Gorontalo, menganalisis polisemi dalam bahasa Gorontalo. Polisemi yang berarti mengandung seperangkat makna yang berbeda dan membuat pendengar atau pembaca ragu-ragu menafsirkan makna kalimat yang didengar atau yang dibacanya terjadi juga pada bahasa Gorontalo. Proses polisemi ini terjadi karena pelafalan leksem, faktor grametikal, leksem itu sendiri, faktor pengaruh bahasa lain dan faktor pemakai bahasa. Kebutuhan kosa kata yang akan mewakili pemikiran, keinginan dan perasaan yang ingin dikemukakan dalam mencari berbagai usaha dengan menempuh cara menciptakan leksem baru, mengali leksem lama yang tidak digunakan lagi dan mempertahankan leksem yang ada tetapi memperluas maknanya serta lingkungan pemakaian leksem tersebutJuga memperluas bentuknya dan menyerap leksem dari bahasa serumpun maupun dari bahasa Indonesia.

Adat budaya Batak "Dalihan Na Tolu" dikaji oleh Anwar Saleh Daulay, Ketua Jurusan Pendidikan Agama Fakultas Tarbiyah IAIN Sumatera Utara Medan. la menyatakan bahwa suku Batak memiliki adat budaya yang baku yang disebut Dalihan Na Tolu yang dapat menembus sekat-sekat agama/kepercayaan mereka yang berbeda-beda. Adat budaya Batak ini memiliki tujuh nilai inti yaitu kekerabatan, agama, hugabeon, hamoraan, uhum dan uguri, pangayoman, dan marsisarian. Nilai kekerabatan berada di tempat paling utama. Nilai budaya hagabeon bermakna harapan panjang umur, beranak yang banyak, dan baik-baik. Nilai hamoraan bermakna kehormatan yang terletak pada keseimbangan aspek-aspek spiritual dan material seseorang. Nilai uhum yang berarti keadilan ditentukan dari keta'atan pada ugari (habit) serta setia dengan padan (janji). Pengayoman (perlindungan) wajib diberikan terhadap lingkungan masyarakat. Marsisarian artinya saling mengerti, menghargai, dan saling membantu.

H.M. Farid Nasution mengungkapkan organisasi sosial keagamaan Muhammadiyah dan keberadaan pendidikan Islam di Indonesia. Menurutnya, sejak awal didirikan oleh K.H Ahmad Dahlan tahun 1912, organisasi Muhammadiyah telah dikonsentrasikan sebagai gerakan Islam dan da'wah amar ma'rufnahi munkar yang mengandung arti luas yakni mengajak manusia untuk beragama Islam, meluruskan keislaman kaum muslim serta meningkatkan kualitas kehidupan baik secara intelektual, sosial, ekonomi, maupun politik. Dalam usaha untuk memurnikan pengamalan ajaran Islam (purifikasi) sekaligus mengangkat kehidupan umat, Muhammadiyah menerapkan sekolah agama modern dengan menerapkan metode rasional yang lebih menekankan pada pemahaman dan penalaran ketimbang hafalan. Amal usaha yang ditangani organisasi ini kian lama kian berkembang. Sekolah-sekolah (dari taman kanak-kanak sampai perguruan tinggi), rumah sakit, dan poliklinik, berdiri di seluruh penjuru Indonesia.

Gagasan tentang reformasi pendidikan disampaikan oleh H. Haikal, dosen FIS dan Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta. La mengungkap berbagai problem yang ada dalam bidang pendidikan yang melahirkan berbagai masalah dalam masyarakat. Sayangnya, menurutnya, pemerintah tidak memperhatikan dampak negatifyang ada dan memandang rendah pendidikan. la menyarankan adanya reformasi pendidikan. Reformasi pendidikan bermakna reformasi yang seimbang dalam memadukan ilmu dan wahyu baik di tingkat bawah maupun atas, serta memberikan gaji yang memadai bagi siapa saja yang langsung berkiprah dalam bidang pendidikan. Reformasi pendidikan merupakan suatu keharusan bagi lahirnya masyarakat madani yang didambakan bersama. Selamat membaca.

Abbas Ghozali

Daftar Isi

S. Karim A. Karhami
Mengubah Wawasan & Peran Guru dalam Era Kesejagatan

Rusmansyah dan Yudha Irhasyuarna
Penerapan Metode Latihan Berstruktur dalam Meningkatkan Pemahaman Siswa Terhadap Konsep Persamaan Reaksi Kimia

Safrudin Chamidi
Kontribusi Sekolah Swasta Bagi Pendidikan di Indonesia

H. Veithzal Rivai
Efektivitas Praktik Bahasa Inggris: Survei di STIE se Jakarta Selatan (2001)

Hafied Cangara
Kurikulum Pendidikan Ilmu Komunikasi dan Tantangan Teknologi Informasi

Muktiono Waspodo
Peranan pamong Belajar dalam Implementasi Kurikulum

Hamzah Achmad
Polisemi dalam Bahasa Gorontalo

Anwar Saleh Daulay
Adat Budaya Batak "dalihan Na Tolu": Analisis dari Sudut Prinsip serta Urgensinya dalam Merajut Integritas dan Identitas Bangsa

H.M. Farid Nasution
Organisasi Sosial Keagamaan dan Keberadaan pendidikan Islam di Indonesia (kasus Muhammadiyah)

H. Haikal

Nama & E-mail (Penulis): M. Khoirul Anam Saya Pengamat di Yogyakarta Tanggal: 4 Februari 2003
Judul Artikel: MELACAK PARADIGMA PENDIDIKAN ISLAM

MELACAK PARADIGMA PENDIDIKAN ISLAM
(Sebuah Upaya Menuju Pendidikan yang Memberdayakan)
M. Khoirul Anam

PARADIGMA PENDIDIKAN ISLAM

Ahmad Tafsir (1994) menyatakan bahwa pendidikan dalam Islam merupakan sebuah rangkaian proses pemberdayaan manusia menuju taklif (kedewasaan), baik secara akal, mental maupun moral, untuk menjalankan fungsi kemanusiaan yang diemban-sebagai seorang hamba (abd) dihadapan Khaliq-nya dan sebagai 'pemelihara' (khalifah) pada semesta-(Tafsir, 1994). Karenanya, fungsi utama pendidikan adalah mempersiapakn peserta didik (generasi penerus) dengan kemampuan dan keahlian (skill) yang diperlukan agar memiliki kemampuan dan kesiapan untuk terjun ke tengah masyarakat (lingkungan). Dalam lintasan sejarah peradaban Islam, peran pendidikan ini benar-benar bisa dilaksanakan pada masa-masa kejayaan Islam. Hal ini dapat kita saksikan, di mana pendidikan benar-benar mampu membentuk peradaban sehingga peradaban Islam menjadi peradaban terdepan sekaligus peradaban yang mewarnai sepanjang Jazirah Arab, Asia Barat hingga Eropa Timur. Untuk itu, adanya sebuah paradigma pendidikan yang memberdayakan peserta didik merupakan sebuah keniscayaan.

Kemajuan peradaban dan kebudayaan Islam pada masa kejayaan sepanjang abad pertengahan, di mana peradaban dan kebudayaan Islam berhasil menguasai jazirah Arab, Asia Barat dan Eropa Timur, tidak dapat dilepaskan dari adanya sistem dan paradigma pendidikan yang dilaksanakan pada masa tersebut.

Kesadaran akan urgensi ilmu pengetahuan dan pendidikan di kalangan umat Islam ini tidak muncul secara spontan dan mendadak, namun kesadaran ini merupakan efek dari sebuah proses panjang yang dimulai pada masa awal Islam (masa ke-Rasul-an Muhammad). Pada masa itu Muhammad senantiasa menanamkan kesadaran pada sahabat dan pengikutnya (baca; umat Islam) akan urgensi ilmu dan selalu mendorong umat untuk senantiasa mencari ilmu. Hal ini dapat kita buktikan dengan adanya banyak hadis yang menjelaskan tentang urgensi dan keutamaan (hikmah) ilmu dan orang yang memiliki pengetahuan. Bahkan dalam sebuah riwayat yang sangat termashur disebutkan bahwa Muhammad menyatakan menuntut ilmu merupakan sesuatu yang diwajibkan bagi umat Islam, baik laki-laki maupun perempuan.

Setelah ke-wafat-an Muhammad, para sahabat dan umat Islam secara umum tetap melanjutkan misi ini dengan menanamkan kesadaran akan urgensi ilmu pengetahuan kepada generasi-generasi sesudahnya, sehingga kesadaran ini menjadi sesuatu yang mendarah daging di kalangan umat Islam dan mencapai puncaknya pada abad XI sampai awal abad XIII M.

Namun demikian, seiring dengan kemunduran Islam-terutama setelah kejatuhan Bagdad tahun 1258 M--, pendidikan dalam dunia Islam pun ikut mengalami kemunduran dan ke-jumud-an. Sehingga, pendidikan tidak lagi mampu menjadi sebuah 'sarana pendewasaan' umat. Dengan kata lain, sebagaimana dinyatakan Fazlur Rahman, pendidikan menjadi tidak lebih dari sekedar sarana untuk mempertahankan dan melestarikan nilai-nilai 'lama' (tradisional) dari ancaman 'serangan' gagasan Barat yang dicurigai akan meruntuhkan tradisi Islam, terutama 'standar' moralitas Islam (Rahman, 1985). Pendidikan tidak lagi mampu menjadi sebuah proses intelektualisasi yang merekonstruksi paradigma (pola pikir) peserta didik melalui interpretasi secara continue dengan berbagai disiplin ilmu sesuai perkembangan jaman (Rahman, 1994).

Akibatnya, pendidikan Islam melakukan proses 'isolasi' diri sehingga pendidikan Islam akhirnya termarginalisasi dan 'gagap' terhadap perkembangan pengetahuan maupun tehnologi. Melihat fenomena di atas, adanya upaya untuk menemukan kembali semangat (girah) pendidikan Islam tampaknya diperlukan, Hal ini merupakan salah satu upaya untuk mengangkat kembali dunia ke-pendidikan Islam sehingga kembali mampu survive di tengah masyarakat. Dan sebagai langkah awal untuk menemukan kembali semangat ini, tampaknya dapat dilakukan dengan mencoba melihat 'kilasan' perjalanan pendidikan Islam dari masa awal hingga sekarang.

Sekilas Perjalanan (Sejarah) Pendidikan Islam
Meskipun penanaman kesadaran akan urgensi ilmu sudah dimulai pada masa Muhammad, bahkan pada masa-masa akhir sebelum Muhammad wafat kesadaran akan pentingnya ilmu bagi kehidupan-dapat dikatakan-sudah mendarah daging di kalangan umat Islam (Bilgrami, 1989), namun cikal bakal pendidikan Islam (dalam sebuah institusi) baru dimulai pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab (Nasr,1994).

Cikal bakal pendidikan Islam dimulai ketika Umar, secara khusus, mengirimkan 'petugas khusus' ke berbagai wilayah Islam untuk menjadi nara sumber (baca; guru) bagi masyarakat Islam di wilayah-wilayah tersebut. Para 'petugas khusus' ini biasanya bermukim di masjid (mungkin semacam ta'mir pada masa sekarang) dan mengajarkan tentang Islam kepada masyarakat melalui halaqah-halaqah-majlis khusus untuk menpelajari agama dan terbuka untuk umum (Nasr, 1994).

Pada perkembangan selanjutnya, materi yang diperbincangkan pada halaqah-halaqah ini tidak hanya terbatas pada pengkajian agama (baca; Islam), namun juga mengkaji disiplin dan persoalan lain sesuai dengan apa yang diperlukan masyarakat. Selain itu, diajarkan pula disiplin-disiplin yang menjadi pendukung kajian agama Islam. Dalam hal ini antara lain kajian tentang bahasa dan sastra Arab, baik nahwu, sorof maupun balagah. Selain terjadi pengembangan materi, terdapat pula perkembangan di bidang sarana dan prasarana 'pendidikan', yakni adanya upaya untuk membuat tempat khusus di (samping) masjid yang digunakan untuk melakukan kajian-kajian tersebut. Tempat khusus ini kemudian dikenal sebagai Maktab. Maktab inilah yang dapat dikatakan sebagai cikal bakal institusi pendidikan Islam (Nasr, 1994).

A-Ma'mun, salah satu khalifah Daulat Bani Abbasiyah, mendirikan Bait al-Hikmah di Bagdad pada tahun 815 M--- sebuah institusi yang cukup layak disebut sebagai institusi pendidikan --(Ibrahim Hassan, 1989). Pada Bait al-Hikmah ini terdapat ruang-ruang kajian, perpustakaan dan observatorium (laboratorium). Meskipun demikian, Bait al-Hikmah belum dapat dikatakan sebagai sebuah institusi pendidikan yang 'cukup sempurna', karena sistem pendidikan masih sekedarnya dalam majlis-majlis kajian dan belum terdapat 'kurikulum pendidikan' yang diberlakukan di dalamnya.

Institusi pendidikan Islam yang mulai menggunakan sistem pendidikan 'modern' baru muncul pada akhir abad X M dengan didirikannya Perguruan (Universitas) al-Azhar di Kairo oleh Jendral Jauhar as-Sigli-seorang panglima perang dari Daulat Bani Fatimiyyah-pada tahun 972 M (Mahmud Yunus, 1990). Pada al-Azhar, selain dilengkapi dengan perpustakaan dan laboratorium, mulai diberlakukan sebuah 'kurikulum pengajaran'. Pada kurikulum ini diatur urutan materi beserta disiplin-disiplin yang harus diajarkan kepada peserta didik. Meski pendirian al-Azhar bertujuan sebagai wadah 'kaderisasi' bagi kader-kader Syi'ah, namun kurikulum yang berlaku dapat dianggap sebagai sebuah kurikulum yang berimbang. Pada kurikulum al-Azhar diajarkan disiplin-disiplin ilmu agama dan juga disiplin-disiplin ilmu 'umum' (aqliyyah). Ilmu agama yang ada dalam kurikulum al-Azhar antara lain tafsir, hadis, fiqh, qira'ah, teologi (kalam), sedang ilmu akal yang ada dalam kurikulum al-Azhar antara lain filsafat, logika, kedokteran, matematika, sejarah dan geografi (Mahmud Yunus, 1990) Ketika Salahuddin al-Ayyubi (seorang sunni) pada abad XI M berhasil menguasai Kairo, sebagai pusat Bani Fatimiyyah, ia memandang adanya al-Azhar sebagai sebuah institusi pendidikan sebagai sesuatu yang sangat penting, sehingga keberadaan al-Azhar tidak diusik sama sekali, selain peniadaan materi-materi yang berbau syi'ah. Bahkan pada masa Salahuddin inilah al-Azhar berada dalam puncak kejayaan, di mana al-Azhar, menurut beberapa kalangan, dianggap mampu melaksanakan kurikulum yang berimbang antara materi agama dan pengembangan intelektual (Bilgrami, 1989).

Institusi pendidikan Islam ideal dari masa kejayaan Islam lainnya adalah Perguruan (Madrasah) Nizamiyah. Perguruan ini diprakarsai dan didirikan oleh Nizam al-Mulk-perdana menteri pada kesultanan Seljuk pada masa Malik Syah-pada tahun 1066/1067 M di Bagdad dan beberapa kota lain di wilayah kesultanan Seljuk. Madrasah Nizamiyah sebenarnya didirikan sebagai upaya membendung arus propaganda syi'ah yang berpusat di Kairo dengan al-Azharnya. Madrasah Nizamiyah pun telah memiliki spesifikasi khusus sebagai sebuah institusi pendidikan dengan spesifikasi pada teologi dan hukum Islam. Dan karena spesifikasi ini pulalah Madrasah Nizamiyah sering disebut sebagai Universitas Ilmu Pengetahuan Teologi Islam (Nakosteen, 1996).

Madrasah Nizamiyah merupakan perguruan pertama Islam yang menggunakan sistem sekolah. Artinya, dalam Madrasah Nizamiyah telah ditentukan waktu penerimaan siswa, test kenaikan tingkat dan juga ujian akhir kelulusan. Selain itu, Madrasah Nizamiyah telah memiliki manajemen tersendiri dalam pengelolaan dana, memiliki kelengkapan fasilitas pendidikan-dengan perpustakaan yang berisi lebih dari 6000 judul buku yang telah diatur secara katalog dan juga laboratorium--, memiliki sistem perekrutan tenaga pengajar yang ketat dan pemberian bea siswa untuk yang berprestasi. Sehingga Charles Michael Stanton menyatakan bahwa Madrasah Nizamiyah merupakan Perguruan Islam modern yang pertama (Charles M. Stanton, 1992 ).

Meski Madrasah Nizamiyah memiliki spesifikasi pada kajian teologi dan hukum Islam, namun dalam kurikulum yang digunakan terdapat pula perimbangan yang proporsional antara disiplin ilmu keagamaan (tafsir, hadis, fiqh, kalam dan lainnya) dan disiplin ilmu aqliyah (filsafat, logika, matematika, kedokteran dan lailnnya). Bahkan, pada masa itu, kurikulum Nizamiyah menjadi kurikulum rujukan bagi institusi pendidikan lainnya (Bilgrami, 1989).

Selain adanya institusi pendidikan yang memiliki kapabilitas tinggi, pada masa kejayaan Islam, kegiatan keilmuan benar-benar mendapat perhatian 'serius' dari pemerintah. Sehingga kebebasan akademik benar-benar dapat dilaksanakan, kebebasan berpendapat benar-benar dihargai, kalangan akademis selalu didorong untuk senantiasa mengembangkan ilmu melalui forum-forum diskusi, perpustakaan selalu terbuka untuk umum, bahkan perpustakaan pribadi dan istana pun terbuka untuk umum. (Ahmad Warid Khan, Okt 1998). Namun setelah kejatuhan Bagdad pada tahun 1258 M, dunia pendidikan Islam pun mengalami kemunduran dan kejumudan. Paradigma pendidikan Islam pun mengalami distorsi besar-besaran. Dari serbuah paradigma yang progresif dengan dilandasi keinginan menegakkan agama Allah menjadi paradigma yang sekedar mempertahankan apa yang telah ada.

Rekonstruksi Paradigma Pendidikan Islam
Tujuan akhir pendidikan dalam Islam adalah proses pembentukan diri peserta didik (manusia) agar sesuai dengan fitrah keberadaannya (al-Attas, 1984). Hal ini meniscayakan adanya kebebasan gerak bagi setiap elemen dalam dunia pendidikan -terutama peserta didik-- untuk mengembangkan diri dan potensi yang dimilikinya secara maksimal. Pada masa kejayaan Islam, pendidikan telah mampu menjalankan perannya sebagai wadah pemberdayaan peserta didik, namun seiring dengan kemunduran dunia Islam, dunia pendidikan Islam pun turut mengalami kemunduran. Bahkan dalam paradigma pun terjadi pergeseran dari paradigma aktif-progresif menjadi pasid-defensif. Akibatnya, pendidikan Islam mengalami proses 'isolasi diri' dan termarginalkan dari lingkungan di mana ia berada.

Dari gambaran masa kejayaan dunia pendidikan Islam di atas, terdapat beberapa hal yang dapat digunakan sebagai upaya untuk kembali membangkitkan dan menempatkan dunia pendidikan Islam pada peran yang semestinya sekaligus menata ulang paradigma pendidikan Islam sehingga kembali bersifat aktif-progresif, yakni :

Pertama, menempatkan kembali seluruh aktifitas pendidikan (talab al-ilm) di bawah frame work agama. Artinya, seluruh aktifitas intelektual senantiasa dilandasi oleh nilai-nilai agama (baca; Islam), di mana tujuan akhir dari seluruh aktifitas tersebut adalah upaya menegakkan agama dan mencari ridlo Allah.

Kedua, adanya perimbangan (balancing) antara disiplin ilmu agama dan pengembangan intelektualitas dalam kurikulum pendidikan. Salah satu faktor utama dari marginalisasi dalam dunia pendidikan Islam adalah kecenderungan untuk lebih menitik beratkan pada kajian agama dan memberikan porsi yang berimbang pada pengembangan ilmu non-agama, bahkan menolak kajian-kajian non-agama. Oleh karena itu, penyeimbangan antara materi agama dan non-agama dalam dunia pendidikan Islam adalah sebuah keniscayaan jika ingin dunia pendidikan Islam kembali survive di tengah masyarakat.

Ketiga, perlu diberikan kebebasan kepada civitas akademika untuk melakukan pengembangan keilmuan secara maksimal.. Karena, selama masa kemunduran Islam, tercipta banyak sekat dan wilayah terlarang bagi perdebatan dan perbedaan pendapat yang mengakibatkan sempitnya wilayah pengembangan intelektual. Dengan menghilangkan ,minimal membuka kembali, sekat dan wilayah-wilayah yang selama ini terlarang bagi perdebatan, maka wilayah pengembangan intelektual akan semakin luas yang, tentunya, akan membuka peluang lebih lebar bagi pengembangan keilmuan di dunia pendidikan Islam pada khususnya dan dunia Islam pada umumnya.

Keempat, mulai mencoba melaksanakan strategi pendidikan yang membumi. Artinya, strategi yang dilaksanakan disesuaikan dengan situasi dan kondisi lingkungan di mana proses pendidikan tersebut dilaksanakan. Selain itu, materi-materi yang diberikan juga disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang ada, setidaknya selalu ada materi yang applicable dan memiliki relasi dengan kenyataan faktual yang ada. Dengan strategi ini diharapkan pendidikan Islam akan mampu menghasilkan sumber daya yang benar-benar mampu menghadapi tantangan jaman dan peka terhadap lingkungan.

Kumudian, satu faktor lain yang akan sangat membantu adalah adanya perhatian dan dukungan para pemimpin (pemerintah) atas proses penggalian dan pembangkitan dunia pendidikan Islam ini. Adanya perhatian dan dukungan pemerintah akan mampu mempercepat penemuan kembali paradigma pendidikan Islam yang aktif-progresif, yang dengannya diharapkan dunia pendidikan Islam dapat kembali mampu menjalankan fungsinya sebagai sarana pemberdayaan dan pendewasaan umat.

Saya M. Khoirul Anam setuju jika bahan yang dikirim dapat dipasang dan digunakan di Homepage Pendidikan Network dan saya menjamin bahwa bahan ini hasil karya saya sendiri dan sah (tidak ada copyright). .CATATAN:
Artikel-artikel yang muncul di sini akan tetap di pertanggungjawabkan oleh penulis-penulis artikel masing-masing dan belum tentu mencerminkan sikap, pendapat atau kepercayaan Pendidikan Network.

PERMASALAHAN PENDIDIKAN AGAMABAGI REMAJA

Oleh : Prof. Dr. Ahmad Tafsir

halat (dan semua amal ritual Islam) tidak akan dilakukan dengan sungguh-sungguh bila tidak ada jaminannya. Nah, di sinilah fungsi Iman. Hanya orang berimanlah yang melakukan shalat (dan ritual lainnya) dengan sungguh-sungguh.

Sekarang kelihatanlah prasyarat bagi akhlak. Akhlak mulia itu hanya mungkin ada pada orang yang beriman, dan melakukan shalat (dan beribadah ritual lainnya), inilah mungkin yang dimaksud oleh ulama dalam ungkapan mereka iman-islam-ihsan yang sangat terkenal itu.

Iman-Islam-Ihsan itu berhubungan secara sinergik. Iman yang kuat akan menyebabkan shalatnya lebih baik; shalat yang baik akan menyebabkan akhlaknya lebih baik; akhlak yang baik akan menyebabkan iman yang kuat; iman yang kuat menyebabkan akhlak lebih baik, dan seterusnya tiga unsur itu saling berpengaruh secara sinergik. Uraian terakhir ini memberikan petunjuk penting dalam penyusunan program pendidikan agama (Islam).

Akhlak yang dikehendaki Islam ialah tingkah laku atau budi pekerti yang tetap, bukan tingkah laku yang kadang muncul kadang menghilang. Misalnya jujur. Tatkala lapang ia jujur, tatkala sempit ia jujur, tatkala sehat jujur, tatkala sempit kejepit ia jujur. Jadi, ia tetap jujur. Jujur itu telah menetap menjadi perangainya. Budi pekerti yang tetap seperti itulah yang disebut akhlakdalam Islam. Kita mengatakan: jujur telah menjadi akhlaknya.

Konsisten itulah yang sulit. Agar seseorang mampu konsisten pada perangai tertentu (contoh di atas jujur) orang harus selalu merasa dilihat Tuhan. Nah, shalat (dan amal-amal ritual lainnya) adalah latihan agar seseorang selalu merasa dilihat Tuhan. Karena itu maka shalat yang khusyuk didefinisikan sebagai shalat yang tatkala shalat itu ia merasa dilihat Tuhan.

Berbagai Kesulitan dalam Pelaksanaan Pendidikan Agama Islam

Banyak sekali kesulitan dalam pelaksanaan pendidikan agama Islam, termasuk pendidikan agama Islam remaja.

Kesulitan pertama ialah kesulitan yang datang dari sifat bidang studi pendidikan agama Islam itu sendiri. Ini tidak akan saya uraikan, cukup saya tegaskan saja bahwa para ahli pendidikan sepakat bahwa bidang studi agama adalah bidang studi yang paling sulit pelaksanaan pendidikannya. Seandainya diurutkan, kita menemukan jenis pendidikan yang sulit dilaksanakan, pertama ialah Filsafat . Matematika sulit diajarkan karena matematika itu sebenarnya adalah adalah filsafat dalam bentuk lain; kedua ialah Seni, seni sulit karena ia tidak memiliki teori yang universal; dan ketiga, dan ini yang paling sulit, ialah agama. Karena sulitnya melaksanakan pendidikan agama, maka banyak orang berpendapat pendidikan agama tidak usah diberikan di sekolah.

Kesulitan kedua ialah kesulitan yang datang dari luar bidang studi itu. Ini banyak sekali, antara lain ialah dedikasi guru dn guru agama mulai menurun, orang tua dirumah mulai kurang memperhatikan pendidikan agama bagi anaknya, orientasi tindakan semakin materialis, berpikir semakin rasional, orang semakin bersifat rasional,orang semakin bersifat individualis, kontrol sosial semakin melemah, dan lain-lain. Kelihatannya, semuanya itu besumber pada watak budaya modern. Oleh karena itu dapatlah dikatakan bahwa kesulitan terbesar dalam pelaksanaan pendidikan agama (Islam) saat ini ialah kesulitan yang datang dari pengaruh budaya modern, sekalipun budaya modern itu masih sedang mengglobal. Bila budaya modern itu nanti sudah betul-betul global, itu berarti pendidikan agama Islam akan mendapat kesulitan yang lebih besar lagi.

Budaya Modern adalah Musuh Pendidikan Agama Islam

Kata "modern" tidaklah muncul sekaligus untuk seluruh atau berbagai bidang kehidupan. Dalam bidang seni kata modern digunakan untuk membedakan sifat seni lukis dan seni pahat yang eksperimental dan dinamis pada abad kedua puluh dengan seni lukis dan seni pahat masa sebelumnya (Encyclopedia Americana, 1977).

Di dalam filsafat kata modern itu digunakan untuk menyebutkan periode filsafat setelah Abad Tengah. Ini dimulai pada pertengahan abad ketujuh belas. Pada zaman Yunani (Ancient Philosophy) yang mendominasi filsafat yang sain adalah tokoh-tokoh agama Kristen. Pada zaman modern (Modern Philosophy) yang mendominasi ialah akal.

Menurut Reese (1980), istilah "modern" sesungguhnya lebih mengacu pada pemikiran keagamaan. Jadi, meskipun kita mengenal kata modern dalam bidang seni dan filsafat, toh yang berperan utama sebagai penilai tetap saja agama, demikian kira-kira yang dimaksud Reese.

Menurut Huston Smith (1989), sesuatu perubahan yang amat mendasar telah terjadi di Barat. Perubahan itu berjalan melalui empat tahap. Pertama zaman Graeco-Roman yaitu zaman Yunani Lama, kedua zaman Abad Tengah, ketiga zaman Modern, dan keempat ialah zaman Pasca Modern. Jika pada zaman modern pegangan orang adalah world view, maka pada zaman Pasca Modern orang mulai memegang world view.

Pandangan-pandangan dunia (world views) mana yang ada sekarang? Menurut Geller (1992) ada tiga world view yang dapat dipilih saat ini. Pertama, agama; kedua, relativisme; dan ketiga, rasionalisme tercerahkan. Paham ketiga ini meyakini ada suatu kebenaran yang unik, tetapi ia menolak adanya masyarakat yang mampu memilikinya secara pasti. Relativisme itulah menurut Gellner paham yang dianut oleh gerakan pasca Modern.

Jadi, paham mana sebenarnya yang menguasai atau mendominasi zaman modern ini? Jelas tiga paham itu masing-masing masih mendominasi budaya di dunia zaman ini. Budaya yang dihasilkan oleh ketiga paham itu diidentifikasi berikut ini sebagai ciri-ciri budaya modern. Anda akan melihat bahwa ciri-ciri yang saya tonjolkan hanyalah ciri-ciri yang merupakan musuh pendidikan agama Islam.

Pertama, budaya modern adalah budaya yang menggunakan akal sebagai pengukur kebenaran. Cara ini adalah cara yang digunakan oleh paham Rasionalisme.

Rasionalisme mengajarkan bahwa akal itulah alat pencari dan pengukur kebenaran. Para remaja kita sringkali, sambil bercanda dengan temannya, berkata, kalau logis oke, kalau tidak logis nanti dulu. Banyak atau sedikit, ungkapan itu telah menggambarkan bahwa remaja kita itu telah menganut Rasionalisme. Apa sih salahnya?

Penggunaan akal dalam Islam bukan saja dibolehkan tetapi diharuskan. Banyak sekali ayat dalam Al-Qur’an yang menyuruh kita menggunakanakal. Tetapi Al-Quran juga menjelaskan bahwa banyak juga kebenaran lain yangtidak dapat diperoleh dan dipahami dengan akal. Banyak ajaran dalam Al-Quran yang tidak dipahami oleh akal. Hakikat Allah, surga, neraka, malaikat, haramnya babi, mengapa puasa harus di bulan Ramadhan, mengapa shalat subuh dua raka’at sedang shalat dhuhur empat, adalah beberapa contoh ajaran Al-Qur’an yang supra –rasional.

Bila remaja kita terlalu terbiasa menggunakan akalnya, dengan itu terlatih menggunakan akalnya dalam menanggapi setiap perosalan , maka ia akan sulit menerima ajaran agama yang supra-rasional tersebut. Sementara itu di sekolah, melalui pengajaran matematika dan sain, anak-anak kita secara sistematik dan telaten dilatih menjadi penganut Rasionalisme.

Kedua, dalam budaya modern itu manusia akan semakin materialis. Ada dua macam pengertian materialis. Pertama berarti orang yang senag kepada materi, yaitu orang yang senag pada kekayaan. Materialis seperti ini diperolehkan dalam Islam, bahkan mungkin tidak hanya boleh melainkan wajib. Banyak item ajaran Islam yang hanya dapat kita lakukan bila kita kaya. Islam memberikan aturan tentang cara memperoleh kekayaan itu. Kedua berarti orang yang tidak dapat menerima sesuatu sebagai benar bila sesuatu itu tidak didukung data empirik. Bagi materialis seperti ini yang benar hanyalah yang empirik. Tatkala kita katakan padanya bahwa surga itu ada, maka ia akan menjawab bahwa ia percaya bila ada buktinya secara empirik. Salah satu idiologi yang menganut paham materialis seperti ini ialah idiologi Komunis. Paradigma sain modern yang mengatakan bahwa yang benar ialah yang logis dan empiris, juga termasuk yang menganut paham ini.

Paham ini dilatihkan di sekolah. Sejak sekolah dasar sampai perguruan tinggi (terutama di perguruan tinggi) pelajar itu diajar agar berpikir ilmiah, yaitu berpikir logis-empiris. Di perguruan tinggi, sebelum mahasiswa mengadakan penelitian untuk menulis skripsi atau tugas akhir, mereka belajar Metodologi Riset, di situ mereka pasti diajari metode ilmiah (scientific method). Rumus metode ilmiah ialah logico-hypotetico-verificatif. Artinya, sesuatu yang benar itu haruslah logis dan didukung data empiris. Metode ilmiah inilah yang merupakan grand theory yang darinya diturunkan metode-meatode penelitian. Rumus logico-hypotetico-verifikatif adalah tulang punggung teori penelitian ilmiah, sedangkan penelitian ilmiah itu adalah cara yang sah dalam memperoleh kebenaran ilmiah.

Bersamaan dengan laju pembangunan fisik kita juga menghadapi dilema yang sulit diselesaikan. Inti pembangunan fisik ialah industrialisasi; inti industrilisasi ialah teknikalisasi; inti teknikalisasi ialah materialisasi. Jadi, pembangunan fisik itu intinya ialah materialisasi. Materialisasi adalah kata lain despiritualisasi. Dengan membangun keperluan fisik kita juga berarti melatih orang untuk menjadi materialist, jadi, dilatih untuk menolak semua yang spiritual. Di pihak lain pembangunan bidang agama umumnya, pendidikan agama khususnya, adalah suatu proses spiritualisasi. Pada tingkat akademik saja, dilema ini sudah merupakan dilema yang sulit diselesaikan, apalagi pada tingkat kebijakan.

Dalam budaya modern itu manusia akan semakin individualis. Individualis seringkali berarti mementingkan diri sendiri. Kepentingan dunia, kepentingan kelompok, kadang-kadang tidak ada kamusnya lagi dalam pemikirannya, bahkan kepentingan keluarga pun tidak. Ia bekerja sama dengan orang lain hanya terbatas bila kerja sama itu menguntungkan dirinya, bila tidak, tidak.

Persaingan yang seringkali menjadi salah satu penyebab banyaknya pemuda frustasi, muncul dari watak individualisme itu. Padahal pendidikan kita belum mampu menyiapkan lulusan yang sanggup memasuki persaingan.

Bersaing, pada dasarnya adalah watak binatang. Karena itulah mungkin taring hewan disebut saing. Islam tidak mengajarkan persaingan, yang diajarkan Islam ialah kerja sama. Ungkapan Al-Qur’an fastabiqulkhayrat ( berlomba berbuat baik ), bukan menyuruh orang Islam bersaing. Bersaing itu adalah watak hewan. Sedangkan individualisme itu mengajarkan persaingan. Saya heran, sekarang ini sering sekali orang mengatakan bahwa untuk memasuki dunia global nanti pengusaha kita harus mampu bersaing, sumber daya manusia kita juga haruslah orang-orang yang mampu bersaing. Ke arah mana sih, kebudayaan kita ini hendak dikembangkan? Saya tidak tahu siapa yang harus menjawab pertanyaan ini.

Karena budaya modern ( Barat ) itu memulai perkembangannya dengan Rasionalisme, maka salah satu turunannya ialah Pragmatisme. Pragmatisme mengajarkan bahwa yang benar ialah yang berguna. Sialnya, yang dimaksud berguna biasanya ialah yang berguna secara fisik. Memang, paham ini akarnya adalah paham materualisme juga.

Dari Rasionalisme, Materialisme dan Pragmatisme itu muncul Hedonisme yang menggegerkan itu. Paham ini mengajarkan bahwa yang benar ialah sesuatu yang menghasilkan kenikmatan; tugas manusia ialah menikmati hidup ini sebanyak dan seintensif mungkin. Sialnya lagi, yang ditemukan ialah bahwa kenikmatan tertinggi dan paling berkesan ialah kenikmatan seksual. Itulah sebabnya pada zaman modern ini anda menyaksikan hampir semua kegiatan hidup diarahkan ke penikmatan seksual, Hampir semua produk diarahkan kepenikmatan seksual. Pergaulan seks bebas yang biasanya menjengkelkan Anda itu, jelas datangnya dari paham ini. Orang modern heran, mengapa orang Islam menolak seks bebas. Sekarang Anda tahu mengapa merekaheran.

Sebetulnya masih banyak isi kebudayaan modern itu yang tidak menyenangkan orang Islam. Saya hanya menjelaskan secara ringkas lima itu saja karena yang lain-lainnya tentu sudah banyak Anda ketahui. Sebagian besar isi kebudayaan modern itu merupakan musuh yang akan menghancurkan keberagamaan kita dan terutama remaja kita.

Sementara itu kita sudah nawaitu hendak menjadi orang modern. Oke, tetapi kita harus mampu menyaring nilai-nilai mana dari modernitas itu yang boleh kita ambil dan nilai mana yang jangan. Pendidikan agamalah yang bertugas memberikan filter pada remaja kita.

P E N U T U P

Uraian di atas tidak hendak mengatakan bahwa Islam anti modernitas. Islam menerima banyak isi kebudayaan modern. Hanya sebagian saja dari isi kebudayaan modern itu yang ditolak Islam. Yang ditolak itu adalah nilai-nilai yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Lantas bagaimana memilihnya?

Pendidikan agama yang diberikan sejak dini sekali, ditambah dengan pendidikan agama di sekolah setelah anak itu tiba pada umur sekolah akan mampu menjadi filter dalam menanggapi globalisasi kebudayaan Barat ( Modern ) tersebut.2

Permasalahan pendidikan

Realiti Sejagat

Berikut ini adalah kesan-kesan negatif yang dilihat sepanjang sistem pendidikan sekular bertapak sebagai sistem pendidikan aliran perdana yang menjana generasi.

Sejarah pertapakkan sistem sekular bermula seawal dengan proses penjajahan ke atas negara umat Islam.

· Sistem Pendidikan Islam dan bidang kajiannya telah terbatas kurikulumnya.

· Timbul dwi aliran pendidikan - sekular dan agama.

· Umat Islam ditindas, diserang, dihina di mana-mana pelusuk mukabumi mereka berada.

· Umat Islam mundur dari segenap aspek kehidupan, miskin harta (pengagihan kekayaan bumi secara tidak adil) sentiasa mengharapkan bantuan dari negara bekas penjajah.

· Umat yang meniru dan bukan umat yang dicontohi.

· Gagal mengenal antara musuh dan teman sentiasa bercakaran sesama sendiri (tidak faham tuntutan tawhid al-wala dan al-bara').

· Qaumiah, pilih bulu dan berkasta-kasta.

· Keruntuhan akhlaq, hatibudi yang tidak murni.

· Mengabdikan kehidupan untuk kebendaan, benci mati kerana Islam.

· Benci agama, fahaman Islam yang dicampurkan ideologi manusia yang sesaat, murtad.

· Melahirkan / mencetuskan dan menganut berbagai fahaman dan idelologi yang sesat.

Realiti Setempat

· Ilmu ditukar dengan nilaian yang murah, cari nama, kekayaan dan kedudukan.

· Penguasaan ilmu yang dangkal, tidak Ilmiah atau tahu sedikit-sedikit.

· Tidak dapat membedakan antara keutamaan dan sekunder.

· Tamat pengajian, jadi penganggur sementara memburu pekerjaan.

· Tidak menjalankan amanah ilmu dan tugas sebagai khalifah dimuka bumi.

· Moral yang semakin ganas dan hilang sifat-sifat terpuji.

· Memberi penilaian yang rendah terhadap ilmu dan ahli ilmu.

· Gagal mengenalpasti halatuju dan matlamat.

· Menjadi masyarakat kelas kedua.

· Tidak lahir dari kalangan mereka tokoh dan cendekiawan terbilang (peribadi yang kecil).

· Menjadi manusia rakus, tamak dan jahat.

· Malu mengisytiharkan diri dari kalangan pendokong kebenaran Islam.

· Institusi menjana kecemerlangan dan perpaduan umat lesu tiada pengemudi.

· Kehilangan minda membangun masyarakat kerana Islam.

· Reda memerhatikan umat dan Islam dihina dihadapan matanya.

· Gagal melihat diri sebagai hamba dan makhluk.

· Hilang keprihatinan terhadap nasib generasi akan datang.

· Umat yang siang harinya bekerja (+0t) malamhari (+Weekend) shoping.

· Institusi melahirkan ulama dan cendekiawan Islam semakin lemah.

Segala fenomena negatif yang berlaku pada diri umat Islam ini secara langsungnya adalah berpunca dari sistem pendidikan yang diamalkan iaitu pendidikan berasaskan FAHAM SEKULAR.

Melalui pendidikanlah para penjajah berjaya memasukkan racun kedalam tubuh umat Islam sehinggalah mereka lahir sebagai umat yang hilang identiti dan jati diri sebagaimana realiti yang digambarkan diatas.

Dan Sistem itu jugalah yang menjadi dasar dan pegangan kepada sistem pendidikan sekarang walaupun mengalami beberapa perubahan. Persimpangan antara dua aliran pendidikan ini adalah begitu jelas kerana kedua-duanya ditegakkan diatas asas dan matlamat yang berbezaa.

Kerana itu natijah dari kedua-dua aliran ini juga jauh berbeza. Sistem sekular melahirkan generasi umat manusia seperti yang relaitinya dapat dilihat pada hari ini. Manakala natijah sistem pendidikan Islam telah dilihat hasilnya dihari semalam (dizaman kegemilangan Islam)

Untuk itu kita harus kembali kelandasan asal kita dengan melihat semula keterlanjuran kita selama ini. Kita kena menoleh semula kebelakang dengan melihatkan kehebatan generasi semalam dan apakah asas-asas kejayaan mereka demi merealisasikan impian kita dihari esok.

Penyelesaian yang Tepat - Halatuju yang jelas

Penyelesaian yang saya sarankan disini ialah dengan kita mengambil kira urutan tingkatan proses pendidikan yang menjurus kearah matlamat kubra Pendidikan Islam.

A. Ciri Utama Tujuan Pendidikan Islam

Perolehan Ilmu.

· Menyampaikan Ilmu - adalah satu tanggungjawab atau amanah yang harus dilaksanakan dan bukan bertujuan untuk mendapatkan wang tetapi demi kebaikan dan kebajikan masyarakat.

· Nilai Akhlaq - nilai rohani dan akhlaq adalah ditegaskan dan diberikan penekanan luarbiasa. Penekanan terhadap Tindakan dan Tanggungjawab.

· Pembinaan Peribadi - keseluruhan sistem Islam dan pelbagai bahagiannya digunakan untuk mengarahkan kearah jalan yang benar iaitu Islam.

Sistem Pendidikan Islam menyampaikan kepada setiap pelajar ilmu pengetahuan yang sebenarnya tentang tanggungjawabnya kepada individu, kepada keluarga dan kepada masyarakat dan melatihnya untuk memenuhi perkara ini menurut perintah Allah dan RasulNya.

B. Asas-asas Pendidikan Islam

· Tawhid - Allah ialah Pencipta, Penghidup, Raja dan Pemerintah sekelian alam dan isi kandungannya. Semua makhluk adalah hambanya dan tertakluk kepada hukumnya.

· Risalah / syariah - Allah menghantar RasulNya untuk membimbing manusia.Muhammad s.a.w ialah Rasul yang terakhir kejalan kebenaran. Hanya dengan Syariah Islamiahlah sahaja kehidupan manusia akan mencapai tahap kepuasan dan kesempurnaannya.

· Akhirat - Semua manusia ditakdirkan untuk mati dan akan dihisab dan diberikan keadilan yang hakiki dihadapan Rabbul Jalil. Mereka yang taat dan wara akan mendapat syurga sementara yang derhaka dan kejam akan dihumban kedalam neraka.

· Konsep Khalifah - bumi dan alam ini ialah milik mutlakj Allah, manusia hanya sebagai khalifah yang seharusnya melaksanakan tanggungjawab kekhalifahan sesuai dengan tuntukan pemiliknya.

Kurikulum dan sukatan hendaklah dibina di atas asas-asas di atas.

C. Disiplin Ilmu Islam

· Harus kembali mengamalkan Disiplin Ilmu Islam dalam sistem Pendidikan. Adalah jelas bahawa pengajian Islam bermaksud kitab suci al-Quran, seni membacanya, penafsirannya, ahadis, pembacaannya serta pemahamannya dan mengeluarkan hukum-hukum daripadanya iaitu fiqh dan ijtihad.

· Pelajar pengajian Islam juga perlu mahir dengan apa jua bahasa yang ingin digunakan yang paling penting ialah bahasa Arab dan Inggeris dan sebarang bahasa yang memerlukan pengajaran Islam di timur mahupun di barat. Juga mampu membaca penulisan-penulisan tentang Islam yang ditulis dalam bahasa asing bagi menghayati apa yang ditulis.

· Dia mestilah dilatih dengan teknologi akademik dan kemampuan mengemukakan hujah rasional untuk menyokong asas ad-din dan menolak / menghilangkan salah faham yang ditimbulkan falsafah yunani tua atau ilmu Eropah moden (termasuk politik, ekonomi, sosiologi dan falsafah) adalah perlu supaya ilmuan benar-benar faham dengannya supaya dia dapat membuat perbandingan dan mengesan kesilapan.

· Tidak ada pilihan untuk seseorang Islam jika dia ingin sedar tentang mencetuskan idea / penemuan baru dalam politik, ekonomi, sosiologi, geografi dan dalam pengajian falsafah, sains perubatan dan teknologi.

· Dengan itu ilmuan yang dilahirkan akan mempunyai kemampuan menjawab sebarang salah faham, baru atau lama yang timbul tentang kepercayaan Islam, mereka mampu menangani perkara-perkara baru tentang kehidupan dengan mengeluarkan hukum-hukum semasa.

huda

Hindari Proyek Pendangkalan Aqidah, Dukunglah Penggodogan RUU Pendidikan Nasional!

eramuslim - Proses penggodogan RUU Pendidikan Nasional menjadi Undang-undang, mau tidak mau, memang menyentuh aspek sentimen keagamaan. Beberapa pasal yang dianggap krusial dan ditanggapi oleh banyak kalangan, tidak lain pasal-pasal yang menyangkut pendidikan keagamaan di sekolah. Sejumlah organisasi agama dan sekolah non Muslim di Manado, beberapa hari lalu melakukan aksi unjuk rasa besar memprotes beberapa pasal yang terkandung dalam RUU tersebut. Mereka, seperti disiarkan oleh radio Republik Indonesia, antara lain memprotes adanya pasal yang mengatur keharusan adanya tempat ibadah di setiap sekolah, untuk para murid, meski jumlahnya kecil. Mereka juga memprotes soal keharusan lembaga pendidikan memberi pengajaran agama sesuai dengan agama anak didiknya.

Inilah yang tengah banyak disorot. Sejumlah kalangan pendidikan Islam, memandang, pasal-pasal tersebut diperlukan untuk menekan upaya pendangkalan aqidah dan pemurtadan kaum Muslimin, melalui jalur pendidikan formal. Melalui sekolah-sekolah yang dibangun dengan dukungan penuh pemerintah kolonial Belanda sejak puluhan tahun yang lalu, gerakan misi pemurtadan itu, memang terasa di hampir semua kota-kota besar di seluruh Indonesia. Sekolah-sekolah non Muslim tampil dengan performa yang relative lebih baik dari sekolah-sekolah negeri ataupun sekolah-sekolah swasta nasional lainnya. Ratusan ribu orangtua Muslim pun, wajar tergiur memasukkan putera-puteri mereka ke sekolah-sekolah non Muslim. Dan akibatnya, perlahan tapi pasti, bertahun-tahun pelajar-pelajar muslim sekolah itu berada dalam lingkungan nilai, kebiasaan, budaya, norma, dan ajaran-ajaran non Muslim. Dengan dana dan jaringan internasional, upaya yang disebut sebagian kalangan sebagai pendangkalan aqidah ini, berjalan dengan baik.

Mencuri legitimasi Misi melalui UU Pendidikan Nasional Mengajarkan nilai-nilai non Muslim kepada pelajar-pelajar Muslim lewat kurikulum sekolah ternyata memang mendapat keleluasaan dan peluang yang besar dari kebijakan pendidikan yang diberlakukan pemerintah selama ini. UU Sistem Pendidikan Nasional yang berlaku selama puluhan tahun tidak sedikitpun yang berupaya melindungi pelajar-pelajar Muslim dari ancaman misi berselubung pendidikan ini. Padahal, kita semua tahu bahwa agama adalah hak, dan mendapatkan pelajaran agama yang sesuai dengan keyakinan yang dianut oleh siswa adalah hak yang harus diberikan oleh sekolah. Terlebih, menyelenggarakan pendidikan untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan serta akhlak mulia juga merupakan amanah UUD 45 (Pasal 31, ayat 3)

Di negeri kita, yang mayoritas muslimin, dan direbut dari penjajah Belanda dengan darah, air mata dan pekikan takbir para syuhada ternyata tidak mampu membuat kebijakan pendidikan yang adil. Berbeda dengan yang terjadi pada negara tetangga kita Malaysia, pada UU Pendidikan Malaysia Bab X tentang Pengajaran Agama pada Institusi Pendidikan Pasal 50-52, mencantumkan kewajiban Institusi Pendidikan untuk menyediakan Guru Agama yang seagama dengan peserta didik jika ada 5 (lima) atau lebih peserta didik yang berbeda agama dengan yang diajarkan Institusi Pendidikan tersebut. Guru Agama tersebut harus mendapatkan persetujuan dari Pemerintah yang berwenang. Demikian pula bila kita bandingkan dengan sekolah-sekolah di NSW Australia misalnya. Pelajar-pelajar muslim yang sekolah di public school yang mayoritas murid dan gurunya non Muslim, diberi peluang untuk mendapatkan ajaran agama Islam dengan mempersilahkan tenaga sukarelawan muslim untuk mengajarkan Islam di sekolah tersebut.


Beberapa pendahulu kita telah berjuang untuk mengubah keadaan ini. Misalnya pada perumusan Undang-Undang Republik Indonesia Nomer 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional (UU SPN 1989). Ada usaha untuk memasukkan kewajiban bagi institusi pendidikan untuk menyediakan pendidikan agama dan guru agama yang seagama dengan peserta didik. Tetapi upaya ini kandas di tengah jalan oleh rezim orde baru. Rumusan pasal yang sudah cukup melindungi dan memberi hak pelajaran agama di atas ternyata hanya diakomodir dalam penjelasan Pasal 28 ayat 2 UU SPN 1989 yang menyatakan: tenaga pengajar pendidikan agama harus beragama sesuai dengan agama yang diajarkan dan agama peserta didik yang bersangkutan. Dan draft ini sungguh sudah sangat sesuai dengan amanah UUD 45 Pasal 31 ayat 3.


Tanpa rumusan yang jelas dan hanya ditempatkan dalam penjelasan Pasal 28 ayat 2 UU SPN 1989 maka kembali Ummat Islam Indonesia (pelajar muslim) dipaksa untuk menerima nilai-nilai dan ajaran agama Nasrani. Terlebih lagi penjelasan Pasal 28 ayat 2 tadi tidak menyertakan sanksi yang jelas dan tegas sehingga dalam pelaksanaannya menjadi tak berdaya. Puluhan ribu hingga ratusan ribu peserta didik Islam setiap tahun diwajibkan mengikuti pemurtadan terstruktur dan terselubung melalui pelajaran agama lain.


Krisis ekonomi yang berkepanjangan, ditambah dengan aksi-aksi mahasiswa dan masyarakat serta tekanan dunia internasional yang menginginkan perubahan menyebabkan Orde Baru runtuh. Tuntutan keadaan menyebabkan banyak perubahan, diantaranya perubahan perundang-undangan termasuk UU SPN 1989. Pada RUU SPN 2002, edisi 3 Oktober 2002, Arus yang menuntut kewajiban bagi institusi pendidikan untuk menyediakan pendidikan agama dan guru agama yang seagama dengan peserta didik diakomodir dalam Pasal 12 ayat (1) poin a RUU Sistem Pendidikan Nasional yang berbunyi:


Setiap peserta didik pada tiap satuan pendidikan berhak : Mendapatkan pendidikan agama sesuai dengan agama yang dianutnya dan diajarkan oleh pendidik yang seagama;


Dan untuk mengefektifkan pasal 12 1 (a) tersebut di rancangan telah pula mengajukan klausul sanksi bagi yang melanggarnya melalui Pasal 57 (3) RUU Sistem Pendidikan (RUU SPN versi 3 Oktober 2002) yang berbunyi:


Penyelenggara pendidikan di semua jenjang dan jenis pendidikan yang melanggar ketentuan pasal 12 ayat (1) butir (a) baik perorangan maupun kelompok diancam dengan pidana kurungan paling lama sepuluh tahun dan pidana denda paling banyak Rp. 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).


Sebenarnya rumusan tersebut sudah baik, adil dan sangat mendidik?! Namun Ketika draft tersebut disosialisasi kepada segenap masyarakat, pihak Kristen / Protestan sangat keberatan dengan rumusan pasal tersebut. Mereka menolak dengan keras dan melakukan gerakan yang sangat sistematis dan mengerahkan segala daya upaya mereka untuk membatalkan 2 pasal tersebut. Sejumlah cara telah mereka galang untuk menekan DPR dan Pemerintah. Mereka membuat Surat Pernyataan Penolakan terhadap rumusan di atas yang dikirim dan ditandatangani oleh Para Tokoh Kristen, Konperensi Wali Gereja Indonesia, dan Institusi Pendidikan Kristen / Protestan dari seluruh Indonesia. Bahkan tokoh-tokoh politikus mereka yang sangat berpengaruh di negeri ini, seperti Frans Seda juga ikut melayangkan surat kepada Menteri Diknas dan Presiden.


Selain itu, mereka juga melakukan sosialisasi sistemtis terhadap permasalahan ini, salah satunya melalui Seminar Nasional RUU SPN pada akhir bulan Maret 2003 ini. Bahkan Majlis Pendidikan Kristen Indonesia malah telah meminta agar pembahasan RUU SPN ditunda saja, dan mereka mengajukan RUU SPN tandingan. Hasilnya ternyata sangat efektif. Pemerintah mulai goyang, dan pasal 57 (3) yang terkait dengan sanksi sudah hilang! Dan kita juga semakin faham, barangkali karena itulah RUUPN yang kini ada di tangan pemerintah tidak maju-maju untuk dibahas di DPR.

Lemahnya perhatian dan dukungan Umat Islam dan implikasinya

Sementara itu perhatian Ummat Islam terhadap permasalahan yang sangat strategis ini minim sekali. Wajar, karena akses informasi mengenai permasalahan ini juga sangat lemah. Hanya Departemen Agama dan beberapa Institusi pendidikan Islam yang mengirimkan tanggapan baliknya terhadap RUU SPN tersebut. Bahkan, sejauh ini tidak didapatkan reaksi atau tanggapan balik atas penolakan keras Nasrani terhadap pasal 12 (1a) RUUPN dari kalangan Islam, kecuali hanya beberapa.


Tidak kuatnya perhatian dan dukungan ummat Islam terhadap permasalahan ini akan memungkinkan DPR dan Pemerintah menghapus Pasal 12 ayat 1 dan Pasal 57 ayat 3 RUU SPN sebagaimana yang dikehendaki pihak Nasrani. Dan bila itu terjadi, maka sekali lagi kita dapatkan kaum Muslimin akan menjadi objek pendangkalan aqidah terselubung. Dan terbukalah peluang yang luas dan bebas hambatan bagi mereka untuk terus melakukan gerakan misi melalui jalur sekolah formal. Ketika berbondong-bondong sebagian orangtua murid menyekolahkan putera-puteri mereka ke sekolah non Muslim dengan alasan mutu yang lebih baik, anda dapat bayangkan, berapa juta pelajar-pelajar muslim yang terancam aqidahnya dalam waktu 10 tahun ke depan?


Apa yang mesti kita lakukan ?


Sebagaimana yang kita ketahui, pembahasan RUU SPN di DPR direncanakan pada pertengahan bulan Maret 2003, dan DPR menargetkan pada tanggal 2 Mei 2003, RUU SPN tersebut telah sah menjadi UU SPN. Oleh karena itu sudah sepatutnya, mulai dari sekarang, sudah menjadi kewajiban bagi seluruh pihak baik para tokoh, anggota masyarakat serta Institusi dan Lembaga Pendidikan yang concern terhadap permasalahan ini, untuk bersama-sama melakukan aksi dan gerakan untuk melindungi keberadaan pasal 12(1a) dan pasal 57 (3) RUU SPN melalui berbagai cara dan media.


Oleh karena itu, di bawah ini beberapa tindakan yang dapat dilakukan secara simultan, seperti, menggalang opini via media massa melalui pernyataan-pernyataan vokal, khususnya oleh aleg dari komisi yang membidangi pendidikan Lembaga Pendidikan/Ormas/Lembaga Dakwah Islam. Selain itu juga dengan melakukan sosialisasi permasalahan kepada institusi/lembaga pendidikan/dakwah, muballigh, khutoba serta menggalang opini via media massa melalui, email, surat, seminar, jumpa pers

Penting juga dilakukan lobby tokoh, lembaga dakwah, ormas, aleg, pejabat-pejabat Diknas.Meningkatkan kualitas sekolah-sekolah Islam agar menjadi pilihan pertama bagi para orangtua kaum muslimin. Atau juga, datang ke DPR untuk menyampaikan aspirasi ke KomisiVI dan Fraksi-fraksi. Dukungan umat Islam terhadap RUU PN saat ini, juga bisa dilakukan dengan melayangkan surat tanggapan (dukungan) terhadap RUU SPN kepada Diknas, Komisi IV dan Surat Pembaca di media massa. Atau yang paling praktis adalah penyampaian SMS Dukungan RUU SPN ke Mendiknas HP: 0818797809 dan Kepala Balitbang Depdiknas HP: 0811144373. Mengirim email ke alamat boediono@ rad.net.id

Tunjukkanlah bahwa kita adalah pejuang dan pembela aqidah ummat, kibarkan panji perjuangan melalui cara-cara yang elegan, bermoral, cerdas dan sesuai tuntunan Allah SWT. Mari kita suarakan pendapat kita untuk mendukung pasal 12 1(a) dan sanksinya

PENDIDIKAN ANAK-ANAK BERASASKAN ISLAM

PENDIDIKAN ISLAM:
PENJELMAAN SIFAT ISLAM YANG SEMPURNA DAN MENYELURUH

Sebelum membicarakan lebih lanjut tentang pendidikan Islam, adalah lebih wajar kita memahami hakikat dan sifat din ini. Islam adalah ciptaan Allah SWT dan diturunkan oleh Allah untuk hamba-hamba-Nya melalui Rasulullah SAW. Islam diturunkan dengan lengkap dan sempurna untuk memimpin manusia melaksanakan ubudiyah sepenuhnya kepada Allah SWT. Din ini telah direalisasikan serta dihayati dengan sempurna oleh Rasulullah SAW bersama-sama generasi yang pertama di dalam kehidupan individu mahupun kehidupan bermasyarakat.

Berdasarkan Surah Al-'Ashr, kita dapati ada tiga bentuk pendidikan untuk membolehkan manusia selamat daripada kehinaan dan kerugian. Ini telah dijelaskan oleh Dr Abdul Rahman an-Nawawi, di dalam bukunya 'Pendidikan Islam: Di Rumah, Di Sekolah dan Masyarakat'. Beliau menulis:

".....keselamatan manusia daripada kerugian dan azab dapat dicapai melalui tiga bentuk pendidikan berikut: Pertama, pendidikan individu yang membawa manusia kepada keimanan dan ketundukan kepada syariat Allah SWT, serta beriman kepada yang ghaib; kedua, pendidikan diri yang membawa manusia kepada amal saleh dalam menjalani kehidupan seharian; dan ketiga, pendidikan masyarakat yang membawa manusia kepada sikap saling berpesan dalam kebenaran dan saling memberi kekuatan ketika menghadapi kesulitan yang pada intinya, semuanya ditujukan untuk beribadah kepada Allah SWT."

Pendidikan Islam yang akan mencorakkan masyarakat Islam bukanlah sistem pendidikan yang berasaskan sesuatu yang asing daripada Islam, diimport dari Barat atau yang telah disempurnakan dengan memasukkan beberapa unsur Islam ke dalamnya kerana sebagai contoh kebanyakan sistem yang ada ketandusan aspek-aspek kerohanian.

Sesuatu sistem pendidikan hanya dapat dianggap sebagai sistem pendidikan Islam apabila segala prinsip, kepercayaan serta kandungannya berasaskan Islam. Pendidikan Islam yang terdapat dalam al-Quran adalah pendidikan yang menyeluruh, tidak terbatas kepada ibadat dan melupakan tingkah laku, atau memberatkan individu dan melupakan amal, tetapi meliputi segala kehidupan manusia.

PENGERTIAN DAN MATLAMAT PENDIDIKAN ISLAM

Matlamat (al-ghoyah) pendidikan Islam yang utama dan tertinggi ialah untuk membawa manusia mengenal penciptanya, mengabdikan diri sepenuhnya hanya kepada Allah, melaksanakan segala perintah Allah dan meninggalkan segala larangan-Nya dengan penuh redha.

Tujuan serta matlamat dekat dan khusus (ahdaf) pendidikan Islam dirumuskan oleh Dr Abdur Rahman Salih di dalam bukunya, dalam tiga matlamat atau tujuan, iaitu matlamat yang bersifat fizik (ahdaf jismiyah, bersifat mental (ahdaf 'aqliyah) dan bersifat kerohanian (ahdaf ruhaniyah).

Antara tujuan khas pendidikan Islam juga telah dikemukakan oleh al-Syaibani, iaitu:

    • (a) memperkenalkan generasi muda dengan aqidah Islam, dasar-dasarnya, usul-usul ibadah, dan cara-cara melaksanakannya dengan betul, membiasakan mereka mematuhi aqidah Islam dan menjalankan serta menghormati syiar-syiar ad-din;
    • (b) menumbuhkan kesedaran yang betul dalam diri anak-anak terhadap din, termasuk prinsip-prinsip, dan dasar-dasar akhlak yang mulia, menyedarkannya akan bid’ah, khurafat, kepalsuan dan kebiasaan usang yang melekat tanpa disedari, sedangkan Islam bersih;
    • (c) menanamkan keimanan kepada Allah, malaikat, rasul, kitab-Nya dan hari akhirat berdasarkan kefahaman, kesedaran dan kehalusan perasaan;
    • (d) mendidik naluri, motivasi dan keinginan anak-anak, membentenginya dengan aqidah dan nilai-nilai syara' serta membiasakan mereka menahan rang-sangan dalaman, mengatur emosi dan membimbingnya dengan baik; dan
    • (e) membersihkan hati anak-anak daripada sifat dengki, hasad, iri hati, benci, kasar, zalim, ego, menipu, khianat, nifak, ragu- ragu serta sifat-sifat buruk dan hina.

DASAR PENDIDIKAN ISLAM

Pendidikan Islam berasaskan aqidah dan syariat Allah SWT. Kesyumulan Islam, seperti yang dijelaskan di atas, terjelma dalam sistem atau manhaj pendidikan. Pendidikan atau tarbiyah Islam dilaksanakan untuk mengembangkan tasawwur (konsep) dan kefahaman terhadap kehidupan berlandaskan al-Quran di dalam jiwa anak-anak. Asas dan teras sistem pendidikan ini adalah hakikat tauhid kepada Allah. Di dalam al-Quran (dan Sunnah Rasulullah) terdapat metodologi (kaedah) untuk mendidik manusia. Metodologi itu telah terbukti berkesan mendidik generasi awal. Rahsia utama kejayaan metodologi itu ialah memahami jiwa manusia yang tidak ubah bagaikan peti yang berkunci rapat manakala memahami jiwa menjadi kuncinya. Sebenarnya sistem pendidikan yang paling berkesan dan mampu membawa perubahan menyeluruh dalam diri manusia adalah sistem pendidikan yang berupaya berbicara dengan jiwa. Hanya pendidikan Islam sahaja mempunyai metodologi itu dan mampu merawat jiwa manusia.

Dalam mendidik manusia, Islam memberikan penjelasan mengenai hakikat manusia, alam, penciptanya serta hubungan antara ketiga-tiganya. Keberkesanan dan keunggulan pendidikan Islam dalam membangunkan diri manusia adalah kerana penjelasan mengenai perkara itu perolehi daripada Allah SWT (menerusi al-Quran). Kepincangan sistem-sistem pendidikan di barat mahupun di timur adalah kerana kekaburan dalam memahami perkara-perkara di atas.

RUANG LINGKUP PENDIDIKAN BERASASKAN AL-QURAN

Pendidikan Islam boleh dibahagikan kepada beberapa aspek yang merangkumi seluruh fakulti manusia. Aspek-aspek tersebut ialah:
(a) Pendidikan Kerohanian dan Keimanan
(b) Pendidikan Akhlak
(c) Pendidikan Akal
(d) Pendidikan Jasmani

KEIMANAN DAN KEROHANIAN ASAS PENDIDIKAN

Pendidikan keimanan bermaksud memperkenalkan kepada anak-anak dengan unsur-unsur keimanan, membiasakan dirinya dengan rukun Islam serta mendidiknya dengan prinsip-prinsip syariat yang mulia sejak usia tamyiz (berakal) lagi.

Yang dimaksudkan dengan unsur-unsur keimanan ialah semua perkara yang berkaitan dengan hakikat keimanan serta perkara-perkara yang ghaib seperti beriman kepada Allah, malaikat, kitab-kitab-Nya, Rasul dan dengan rukun iman yang lain.

Metod pendidikan keimanan dan kerohanian yang berasaskan al-Quran telah dijelaskan dengan panjang dan terperinci oleh Muhammad Qutb di dalam bukunya, ‘Manhaj Tarbiyah Islamiyah’. Antara perkara penting yang dikemukakan oleh Muhammmad Qutb ialah:

    • (a) meningkatkan kepekaan hati terhadap ciptaan-ciptaan Allah (alam semesta) dan membawa hati merasakan kewujudan Allah serta kekuasaan-Nya yang tidak terbatas;
    • (b) meningkatkan kepekaan hati dengan merasai Allah memerhati diri kita pada setiap masa dan di semua tempat serta setiap sesuatu berada di dalam pengetahuan Allah dan Dia akan memberi balasan bagi setiap perkara tersebut;
    • (c) meningkatkan ingatan terhadap Allah dengan perasaan taqwa dan tunduk terus menerus kepada-Nya;
    • (d) meningkatkan rasa cinta terhadap Allah dan berusaha secara berterusan untuk memperolehi keredhaan-Nya; dan
    • (e) meningkatkan rasa damai dan tenteram bersama Allah ketika berada dalam keadaan apa sekalipun, serta menerima takdir-Nya dengan ikhlas dan senang hati.

Dalam sistem pendidikan Islam, unsur alam digunakan untuk menyedarkan hati dalam melahirkan perkara-perkara di atas. Terdapat banyak ayat al-Quran yang menyentuh mengenai alam bagi membangunkan kepekaan hati manusia. Al-Quran membangunkan indera manusia untuk mengenal Tuhannya, melihat kekuasaan-Nya di dalam benda-benda yang kecil mahupun yang besar, benda yang mudah atau yang kompleks. Semuanya membuktikan kekuasaan dan keperkasaan Allah serta keagungan dan kehebatan kreativiti-Nya. Al-Quran mendidik akal dan hati sekaligus. Hanya dengan sentuhan ke atas akal dan hati, akan terbina aqidah yang mantap dan sahih.

ALAM SEBAGAI KITAB TERBUKA

Oleh demikian, sejak peringkat awal lagi pendidikan anak-anak perlu dimulakan dengan pembinaan dan pengukuhan iman. Usaha ini dapat dilakukan dengan mendekatkan anak-anak dengan alam yang terbentang luas, umpama kitab yang terbuka, untuk mem-perkenalkan anak-anak kepada penciptanya.

Pendekatan ini bukanlah pendekatan yang baru kerana sekiranya kita membuka dan mengkaji al-Quran, terutama surah-surah Makkiyah, kita akan dapati Allah SWT telah memperkenalkan diri-Nya dengan menga- lihkan pandangan manusia daripada memandang kehidupan ini dengan akal dan hati yang kosong kepada memandang alam sekeliling dengan kekaguman sehingga membuahkan penyerahan dan pengabdian kepada Allah Rabbul 'Alamin.

Hari ini kita bukan saja dapat mendedahkan anak-anak kepada alam persekitaran mereka, bahkan dengan bantuan alat-alat audio-visual yang canggih kita dapat mempamerkan kehebatan kuasa Allah sebagai pencipta, pentadbir dan penguasa alam ini kepada mereka.

METOD PENDIDIKAN ISLAM

Setelah kita memahami tujuan dan dasar pendidikan Islam, kita perlu memahami metod yang boleh digunakan untuk merealisasikan sistem ini. Berdasarkan tulisan Muhammad Qutb dan an-Nahlawi, metod pendidikan Islam boleh dirumuskan seperti berikut:
(a) mendidik melalui dialog Qurani dan Nabawi;
(b) mendidik melalui kisah Qurani dan Nabawi;
(c) mendidik melalui perumpamaan;
(d) mendidik melalui teladan;
(e) mendidik melalui amal perbuatan;
(f) mendidik melalui 'ibrah dan mau'izhah; dan
(g) mendidik melalui targhib dan tarhib.

MASALAH PELAKSANAAN PENDIDIKAN JANGKA PENDEK

Permasalahan anak-anak telah memasuki satu fasa apabila ibu bapa, dalam keghairahan menyediakan anak-anak untuk memasuki alam pendidikan, telah terperangkap dalam pendekatan yang kelihatan 'Islamik' tetapi pada pandangan saya tidak memenuhi sepenuhnya hakikat pendidikan Islam.

Akhir-akhir ini banyak ibu bapa dan institusi pendidikan, mendidik anak-anak berasaskan pendekatan pendidikan yang diilhamkan oleh dunia Barat. Walaupun sebahagian pendekatan ini telah diubahsuai, pada dasarnya pendekatan itu tetap bukan pendidikan Islam. Sekiranya dianalisis sistem-sistem pendidikan ini, kita akan sampai kepada satu kesimpulan bahawa seluruh sistem pendidikan ini tiada kaitan dengan pendidikan berteraskan hakikat Rabbaniyah. Sistem-sistem ini sama ada dari segi falsafah, objektif, mahupun natijah yang di-harapkan, sangat berbeza daripada hakikat pendidikan di dalam tasawwur Islam. Sistem pendidikan Barat mungkin mampu untuk menghasilkan anak-anak pintar cerdas dan merealisasikan potensi aqli dan jasmani kerana memang itu matlamat pendidikan mereka. Walaupun penekanan moral diberi ruang dalam sistem ini, sistem moral bukan Islam sudah pasti tidak dapat menghasilkan sistem moral Islam, sekalipun kita berusaha untuk menempelkan kekurangannya dengan menggabungkan unsur-unsur Islam ke dalamnya.
Iqbal pernah mencatatkan: “Sistem pendidikan Barat mampu membawa anak-anak kita mengkagumi dan mempelajari kemajuan teknologi, tetapi tidak bagi mendidik mata anak-anak untuk menangisi dosa-dosanya dan mendidik hati mereka supaya takut hanya kepada Penciptanya”.

Sebenarnya terdapat perbezaan yang besar antara mengambil kaedah pengajaran dan pembelajaran berdasarkan pendekatan tokoh-tokoh Barat dengan mengambil sistem pendidikannya. Saya berpendapat meman-faatkan kajian-kajian yang telah dijalankan oleh sesiapa pun mengenai kaedah-kaedah pendidikan atau teknik-teknik menguasai sesuatu kemahiran yang berkesan merupakan usaha yang sangat baik. Ini berdasarkan hadith Rasulullah SAW yang bermaksud:

“Hikmah itu adalah barang yang tercicir. Barang siapa yang menjumpainya maka dialah yang lebih berhak memiliknya.”

Oleh itu kita boleh dan sewajarnya memanfaatkan kajian-kajian yang dijalankan oleh Barat, terutama dalam bidang latihan kemahiran hidup seperti membaca, menulis dan mengira. Begitu juga dengan kajian mereka menge-nai teknik berfikir dan pembangunan jasmani.

Bagaimanpun, yang dibimbangi ialah kita mengambil seluruh sistem pendidikan yang mereka kemukakan, kerana ini akan merosakkan lantaran matlamat dan falsafah pendidikan mereka tidak berasaskan tauhid dan keimanan. Sistem mereka hanya mampu melahirkan anak-anak yang pintar tetapi jiwa tetap kosong. Yang lebih membimbangkan ialah lahir tasawwur yang terpisah antara aspek kerohanian dan moral dengan aspek-aspek pendidikan lain. Pendekatan segolongan muslim yang berpegang kepada sistem Barat dan cuba memperbaiki kekurangannya dengan memasukkan unsur-unsur Islam, juga tidak banyak membantu, malah akan mengelirukan masyarakat Islam. Langkah-langkah ini tidak jauh bezanya daripada pendekatan pendidikan sekular yang wujud hari ini.

Menakar Kemuliaan Akhlak


Oleh : KH. Abdullah Gymnastiar

Setiap orang ingin merasakan kebahagiaan. Ada yang menyangka dengan datangnya uang maka ia akan menjadi bahagia sehingga iapun mencari uang mati-matian.Ada juga yang menyangka bahwa kedudukan bisa membuatnya bahagia, maka ia pun mencoba merebut kedudukan. Ada yang menyangka penampilanlah yang akan membuatnya bahagia, maka mati-matian ia mengikuti mode. Ada yang menyangka banyaknya pengikut membuatnya bahagia, begitu seterusnya.

Setiap kali kita membutuhkan sesuatu dari selain kita, kita menyangka bahwa itulah yang akan membuat kita bahagia. Kita menggantungkan harapan pada selain kita, selain Allah. Padahal semakin kita berharap orang lain berbuat sesuatu untuk kita maka sebenarnya peluang bahagia itu malah akan terus menurun. Kenapa? Ibarat cahaya matahari yang memancar tanpa membutuhkan input dari luar, kebahagiaan yang hakiki itu justru datang bukan dari seseorang atau dari sesuatu.

Salah satu bentuk kebahagiaan yang sejati adalah ketika kita hanya menggantungkan segala urusan kepada Allah. Bagi orang yang mengenal Allah dengan baik, dan ia tidak berharap banyak dari selain Allah, itulah salah satu kebahagiaan. Maka bagi kita yang selama ini masih sangat ingin dihargai, masih sangat ingin dihormati, masih sangat ingin dibedakan oleh orang lain, masih sangat ingin diberi ucapan terima kasih ketika melakukan sesuatu untuk orang lain, atau masih sangat ingin dipuji, maka sebenarnya makin tinggi kebutuhan kita akan penghargaan dari orang lain, itulah yang akan menyempitkan hidup kita. Barang siapa yang berhasil lepas dari kebutuhan-kebutuhan semacam itu, dan kita sudah mulai bisa menikmati indahnya memberikan senyuman kepada orang lain dan bukannya diberi senyuman; atau merasakan nikmatnya bisa menyapa orang lain dan bukan disapa, nikmatnya menyalami dan bukan menunggu disalami, semakin kita tidak berharap orang berbuat sesuatu untuk kita, maka inilah fondasi kita dalam menikmati hidup ini. Kenyataan yang ada di masyarakat kita dengan terjadinya beraneka kemunkaran, kezhaliman dan kejahatan, itu disebabkan karena kita terlalu banyak berharap kepada makhluk dan tidak kepada Allah.

Saudara-saudaraku yang dimuliakan Allah, suatu ketika Rasulullah Saw. ditanya, "Ya Rasulullah, mengapa engkau diutus ke bumi?" Maka jawaban Rasulullah sangat singkat sekali, "Sesungguhnya aku diutus ke bumi hanyalah untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak." Menurut Imam Al Ghazali, berdasarkan apa yang bisa saya fahami, akhlak itu adalah respon spontan terhadap suatu kejadian. Pada saat kita diam, tidak akan kelihatan bagaimana akhlak kita. Akan tetapi ketika kita ditimpa sesuatu baik yang menyenangkan ataupun sebaliknya, respon terhadap kejadian itulah yang menjadi alat ukur akhlak kita. Kalau respon spontan kita itu yang keluar adalah kata-kata yang baik, mulia, berarti memang sudah dari dalamlah kemuliaan kita itu. Tanpa harus dipikir banyak, tanpa harus direkayasa, sudah muncul kemuliaan itu. Sebaliknya kalau kita memang sedang dikalem-kalem, tiba-tiba terjadi sesuatu pada diri kita, misalnya sandal kita hilang, atau ada orang yang menyenggol, mendengar bunyi klakson yang nyaring lalu tiba-tiba sumpah serapah yang keluar dari mulut kita, maka lemparan yang keluar sebagai respon spontan kita itulah yang akan menunjukkan bagaimana akhlak kita. Maka jika bertemu dengan orang yang meminta sumbangan lalu kita berfikir keras diberi atau jangan. Kita berfikir, kalau dikasih seribu, malu karena nama kita ditulis, kalau diberi lima ribu nanti uang kita habis. Terus... berfikir keras hingga akhirnya kita pun memberi akan tetapi niatnya sudah bukan lagi dari hati kita karena sudah banyak pertimbangan.Padahal keinginan kita semula adalah untuk menolong. Kalau sudah demikian, sebetulnya bukan akhlak dermawan yang muncul.

Saudara-saudaraku sekalian, inilah sekarang paling menjadi masalah bagi peradaban kita. Kita empunyai anak, dia memiliki gelar yang bagus, sekolahnya pun di tempat yang bergengsi, tapi akhlaknya jelek, maka tidak ada artinya. Kita punya dosen, gelarnya berderet banyak, rumahnya pun mentereng, tapi jikalau akhlaknya, celetuk-celetukannya atau sinisnya tidak mencerminkan struktur keilmuan seperti yang dimilikinya, maka jatuhlah ia. Ada orang yang dianggap dituakan, tetapi akhlaknya jelek, maka walaupun ia dituakan, dia gagal mendapatkan penghormatan. Atau kita punya atasan, seorang pejabat yang bagus karirnya akan tetapi akhlaknya, ...masya Allah, sudah punya isteri tapi ia dikenal berzina dengan perempuan lain, di kantor ia mengambil harta dengan cara tidak halal, maka jatuhlah ia.

Sekarang ini krisis terbesar kita memang krisis akhlak. Oleh karena itu, saya sependapat dengan seorang pengusaha terkenal dari Jepang yang mengatakan bahwa jikalau seseorang ingin memimpin perusahaan dengan baik, maka sebetulnya skill atau keahlian itu cukup 10% saja, yang 90% adalah akhlak. Karena akhlak yang baik, orang yang cerdas pun mau bergabung denganya. Mereka merasa aman, merasa tersejahterakan lahir batinnya. Akibatnya, berkumpulah para ahli. Kemudian kepada mereka diberikan motivasi dengan akhlak yang baik maka jadilah sebuah prestasi yang besar. Oleh karena itu sebenarnya kesuksesan itu adalah milik orang yang berakhlak mulia.

Sekedar ilustrasi, suatu saat sedang terjadi dialog antara suami dan isteri. Sang isteri menginginkan anaknya menjadi bintang kelas, akan tetapi sang suami mengatakan bahwa bintang kelas itu bukan alat ukur kesuksesan anak sekolah. Menjadi bintang kelas itu tidak harus, tidak wajib. Yang wajib bagi anak itu adalah memiliki akhlak yang mulia. Apalah artinya ia menjadi bintang kelas apabila kemudian ia jadi terbelenggu oleh keinginan dipuji teman-temannya. Jadi dengki terhadap orang-orang yang pandai dikelasnya, atau menjadi takabbur karena kepandaiannya itu. Apa artinya bintang kelas seperti ini? Lebih baik lagi jika kita bangun mental anak kita lebih bagus, matang pada tiap tahapannya. Kalaupun suatu saat ia ditakdirkan menjadi bintang kelas, maka itu adalah buah dari pemikirannya. Sementara itu ia pun sudah siap denga mentalnya: tidak dengki, tidak iri, tidak jadi sombong. Nilai ini tentunya jadi lebih bagus daripada nilai menjadi bintang kelasnya. Apalah artinya kita lulus terbaik jika kemudian menjadi jalan ujub takabbur. Lulus itu hanya nilai,nilai, nilai....

Saudara-saudara sekalian, inilah yang sepatutnya menjadi bahan pemikiran kita. Kita berbicara seperti ini sebenarnya bukan untuk memikirkan seseorang. Siapa yang akhlaknya demikian, demikian...Kita berbicara seperti ini adalah untuk memikirkan diri kita sendiri. Apakah saya itu berakhlak benar atau tidak? Bagaimana cara melihatnya?Ya, lihat saja kalau kita mendapati masalah. Bagaimana respon spontan kita? Bagaimana struktur kata-kata kita, raut wajah kita? Apakah kita cukup temperamental? Apakah kata-kata kita keji, menyakiti, arogan? Itulah diri kita. Kesuksesan dan kegagalan itu bergantung pada hal semacam ini. Bergantung apa yang kita lakukan. Apakah dengan DT bisa menjadi sebesar ini sudah menjadi tanda kesuksesan? Belum. Masih jauh. Kalau hanya alat ukur kemajuan bertambahnya bangunan atau tanah, ah... orang-orang kafir juga bisa melakukannya. Kalau hanya sekedar jama'ah berhimpun banyak, itupun gampang. Tetapi apakah dakwah ini elah mampu merobah akhlak kita? Itulah alat ukurnya.

Sering diungkapkan, bagaimana ukuran kesuksesan seseorang dalam berdakwah? Gampang. Kesuksesan seseorang yang berdakwah adalah apakah dirinya pun bisa berubah menjadi lebih baik atau tidak? Kalau hanya berbicara seperti ini, mengeluarkan dalil tapi yang bersangkutan akhlaknya tidak berubah, itu malah mencemarkan agama. Kesuksesan dakwah bukan karena banyaknya pendengar atau jumlah jama'ah karena dakwah itu bukan sekedar menikmati kata-kata. Kesuksesan berdakwah adalah ketika yang berdakwah ini pun semakin baik akhlaknya, semakin tinggi nilai kepribadiannya. Insya Allah. Mudah-mudahan keluhuran pribadi itulah yang menjadi alat dakwah kita. Bukan hanya mengandalkan kekuatan kata-kata belaka.

Barakallahu lii wa lakum.

Perjudian dan Lokalisasi
04/18/2002 - Arsip Fokus Al-Islam

Dalam beberapa hari belakangan ini permasalahan perjudian sedang marak di perbincangkan baik di kalangan elit politik maupun kalangan ulama. Dari kalangan elit politik mencuat wacana tentang dibangunnya sebuah lokalisasi perjudian. Bahkan ide itu muncul dari Gubernur DKI Sutiyoso dan disetujui oleh Bupati Kepulauan Seribu dengan menyiapkan 36 pulau untuk dipilih mana yang paling cocok.

Lokalisasi perjudian pernah dilakukan pada jaman Ali Sadikin menjadi Gubernur DKI. Dari perjudian ini, mengalirlah dana pajak yang digunakan untuk membangun Jakarta. Kemudian munculah kontroversi dan polemik sehingga akhirnya lokalisasi judi itu ditutup. Dengan demikian gema kontroversi lokalisasi perjudian ini adalah pengulangan permasalahan yang pelik di masa lalu. Dan sekarang kembali diungkit-ungkit.

Perjudian sebagai penyakit kronis masyarakat sejak jaman baheula, sudah mendarah daging di kalangan sebagian masyarakat. Perjudian -sebagaimana juga pelacuran- adalah penyakit masarakat yang sulit untuk diberantas tuntas, baik itu perjudian kelas teri di jalan-jalan dan perkampungan apalagi perjudian kelas elit di hotel-hotel berbintang, apabila tidak ada kemauan dan kebijakan pemerintah, apalagi terdengar kabar bahwa munculnya wacana lokalisasi itu terkait dengan pertemuan konglomerat Tomy Winata dengan RI 1 yang menyetujui pulau seribu sebagai tempat lokalisasi. Maraknya perjudian itu karena ketidakmampuan dan ketidaktegasan pemerintah dan aparat keamanan. Mereka justru terlibat dalam lingkaran perjudian itu, terutama menjadi centeng atau beking bagi keamanan kegiatan perjudian.

Munculah pertanyaan, daripada main judi kucing-kucingan, kenapa tidak dilegalkan? Pemerintah agaknya malu-malu kucing, walaupun gelagatnya menyetujuinya mengingat sumbangan pajaknya yang begitu besar. Akan tetapi, dengan adanya undang-udang antiperjudian, UU no7 tahun 1974 dan juga Keppres tahun 1975, tidak memungkinkan dibangunnya lokasi perjudian. Kalaupun DPRD akan mencari celah dengan membuat peraturan daerah, secara logika tidak dapat diterima karena peraturan itu dibawah peraturan yang lebih tinggi yang telah jelas memutuskannya.

Lokalisasi perjudian tidak menjamin bahwa judi hanya terlokalisasi di wilayah tersebut. Kita telah melihat contoh yang nyata, yaitu masalah pelacuran. Dalam kasus pelacuran misalnya, ketika dulu di Jakarta di bangun lokalisasi Kramat Tunggak, ternyata pelacuran tidak cuma di area lokalisasi, bahkan kian merambah ke mana-mana. Adapun teori yang dimunculkan oleh sebagian intelektual yang menyetujui lokalisasi adalah teori pepesan kosong . Seharusnya ia malu mendukung teori perusakan moral bangsa, karena dampak dari perjudian tersebut lebih besar daripada incom yang mungkin masuk dalam kas negara. Pembenahan moral bangsa yang sudah semakin terpuruk ini jangan lagi ditambah dengan cost yang harus dibayar karena bertambah luasnya dekadensi moral.

Dengan membangun dari dana hasil perjudian, berarti kita membangun bangsa ini dengan uang haram, dan uang haram yang digunakan untuk membangun, tidak akan membawa berkah bagi masyarakat, bahkan menjadi laknat. Bangsa yang terpuruk sekarang ini tidak mungkin bangkit dengan dana pembangunan yang asal-usulnya adalah haram. Yang terjadi justru sebaliknya azab Allah sebagai peringatan yang akan datang.

Judi, dilihat dari sudut pandang apa pun, adalah judi. Judi menurut Islam adalah haram. Dengan diadakannya lokasi khusus untuk judi, muncul anggapan bahwa perjudian 'dihalalkan' pemerintah. Padahal lokalisasi tidak menyurutkan orang untuk berjudi, bahkan justru perjudian itu menjadi semakin marak. Kenapa mencari-cari alasan untuk melegalkannya?

Sebagai negara yang berpenduduk muslim terbesar di dunia, semestinya kita malu mempunyai ide untuk melegalkan perjudian, apalagi untuk melegalkannya. Kalaupun sekarang bertebaran perjudian ilegal, masalah itulah yang harus diatasi, bukan malah menjadikan ketidakmampuan itu sebagai alat untuk melegalkan perjudian. Seharusnya kita mencari solusi untuk mengupayakan perubahan masyarakat ke arah yang lebih baik lewat education, pendidikan moral aparat dengan suri tauladan dari para pimpinannya, baru kemudian penegakan hukum tanpa pandang bulu.

Dengan adanya lokalisasi perjudian justru akan menambah masalah bukan menyelesaikan masalah. Apapun alasannya, kita menolak lokalisasi perjudian!!!

VALENTINE'S DAY

(Bilangan 93 Bahagian Pertama)

Bismillah, Walhamdulillah Wassalatu Wassalamu
`Ala Rasulillah, Wa'ala Aalihie Wasahbihie Waman Walaah

Apa pandangan Islam?

VALENTINE’S Day atau ‘Hari Kekasih’ sebagaimana yang difahami ialah hari di mana dua orang yang berkasih sayang atau sepasang kekasih yang bercinta meraikan percintaan dan kasih sayang. Budaya ini disambut setiap tahun pada 14 Februari.

Tidak dinafikan manusia suka dikasihi dan mengasihi di antara satu sama lain. Golongan remaja adalah golongan yang sering kali dikaitkan dengan soal percintaan. Cuma lumrahnya mereka mudah terikut-ikut serta taksub dengan pengaruh yang dibawa oleh orang-orang barat.

Ruangan Irsyad hukum kali ini akan membicarakan sama ada Valentine’s Day munasabah disambut sebagai hari kekasih atau tidak.

Mengikut beberapa sumber, Valentine adalah nama bagi seorang paderi Kristian yang giat menyebarkan agama tersebut di Rom ketika pemerintahan Raja Rom yang bernama Claudius II. Pada masa pemerintahannya, Claudius II telah memenjarakan orang-orang Kristian kerana mengamalkan agama yang bertentangan dengan agamanya. Oleh kerana Valentine seorang penyebar agama Kristian, beliau juga telah ditangkap dan diseksa di dalam penjara.

Walaupun berada dalam penjara, Valentine tetap berusaha mengajar dan menyebarkan agama tersebut di kalangan banduan-banduan penjara di samping membantu tawanan-tawanan penjara melepaskan diri dari penjara. Kegiatan ini telah diketahui oleh Raja Rom dan beliau diseksa dan akhirnya dihukum bunuh pada 14 Februari.

Orang-orang Kristian menganggap bahawa Valentine merupakan seorang yang mulia kerana sanggup berkorban dan mati demi kasih sayangnya terhadap agama Kristian dan penganut-penganutnya. Beliau disamakan dengan Jesus yang kononnya mati kerana menebus dosa yang dilakukan oleh kaumnya.

Valentine bagi penganut agama Kristian adalah lambang kasih sayang sejati di antara seorang hamba dengan tuhannya dan dengan sesama manusia. Dikatakan juga bahawa ketika di dalam penjara, beliau telah jatuh cinta dengan anak salah seorang pegawai penjara dan di akhir hayatnya sebelum dibunuh, beliau sempat menulis sepucuk surat cinta kepada gadis tersebut yang bertandatangan ‘From your Valentine’ (Daripada Valentinemu).

Maka orang-orang Kristian mengambil sempena 14 Februari itu untuk meraikan hari kasih sayang demi memperingati hari kematian paderi mereka Valentine.

Berdasarkan penerangan di atas, adalah jelas bahawa tidak ada istilah Hari Kekasih atau Valentine’s Day dalam Islam. Hakikatnya, adalah tidak boleh orang-orang Islam menyertainya kerana hari tersebut adalah hari perayaan bagi orang-orang Kristian.

Memang Islam sangat menggalakkan umatnya supaya berkasih sayang di antara satu sama lain akan tetapi untuk meluahkan kasih sayang di antara seorang lelaki dan perempuan perlu melalui saluran yang dibenarkan oleh syarak bukan yang menggalakkan kepada perkara-perkara yang mendorong atau merangsang kepada yang dilarang dan maksiat.

Realitinya, Islam adalah agama yang praktikal, bukan mengongkong. Islam agama yang mengatur kehidupan dengan lebih sempurna. Islam tidak pernah menyekat hubungan kasih sayang di antara umatnya.

Dalam Islam ada tiga kategori kasih; pertama, kasih Pencipta (Allah Subhanahu wataala) kepada hamba-Nya; kedua, kasih hamba kepada Pencipta dan ketiga, kasih makhluk sesama makhluk.

Banyak ayat-ayat Al-Quran dan hadis Nabi Sallallahu Alaihi Wasallam menyatakan mengenai hikmat dan besarnya faedah berkasih sayang.

Allah Subhanahu wataala menjelaskan tentang keagungan nikmat-Nya kepada ma-khluk-Nya melalui nikmat kasih sayang; yang tafsirnya:

"Dan (Dialah) yang menyatupadukan di antara hati mereka (yang beriman itu). Kalaulah engkau belanjakan segala (harta benda) yang ada di muka bumi, nescaya engkau tidak dapat juga menyatupadukan di antara hati mereka, akan tetapi Allah telah menyatupadukan di antara (hati) mereka." (Surah Al-Anfaal: 63).

Dan tafsirnya lagi:

"Lalu Allah menyatukan di antara hati (sehingga kamu bersatu padu dengan nikmat Islam), maka menjadilah kamu dengan nikmat Allah itu orang-orang Islam yang bersaudara." (Surah Ali Imran: 103).

Dengan penjelasan ayat di atas bahawa Allah Subhanahu wataala sangat mencela dan mengingatkan dengan keras tentang perpecahan sesama makhluk. Allah Subhanahu Wataala juga memerintahkan umat Islam supaya sentiasa berpegang teguh dengan agama Allah dan dilarang berpecah belah dan bermusuhan.

Kasih sesama makhluk pada sifatnya adalah tidak kekal, ia bergantung kepada keadaan, tetapi kasih hamba kepada pencipta-nya dengan iman dan takwa, manakala kasih Pencipta kepada hamba berkekalan. Hal in jelas sebagaimana firman Allah subhanahu wataala yang tafsirnya

"Katakanlah (Wahai Muhammad): "jika benar kamu mengasihi Allah maka ikutilah aku, nescaya Allah mengasihi kamu serta mengampunkan dosa-dosa kamu. Dan (ingatlah), Allah Maha Pengampun lagi Maha Mengetahui." (Surah Ali Imran: 31).

Oleh itu sebaik-baiknya hendaklah setiap orang Islam khasnya golongan remaja tidak terikut-ikut dengan budaya ‘Hari Kekasih’ yang dicipta oleh orang-orang Kristian, sebaliknya hendaklah menumpukan masa dan waktu kepada Allah Subhanahu Wataala dengan melakukan apa jua pekara yang mendatangkan manfaat yang matlamat akhirnya menghidupkan cinta kepada Allah Subhanahu Wataala.

Sumber : Laman Web Mufti Kerajan Brunei Darussalam
Lawat juga http://www.soundvision.com/valentine/overview.shtml

Wanita Menjadi Imam Shalat

Wanita sama sekali tidak sah untuk menjadi imam laki-laki, tapi sah saja mengimami sesama kaum wanita. Dalam hal ini telah diterangkan bahwa Aisyah ra pernah jadi imam memimpin jamaah wanita dengan cara berdiri dalam shaf (barisan) mereka. Dan demikian pula yang telah dilakukan Ummu Salamah ra. Bahkan Rasulullah saw pernah menyuruh seorang lelaki menjadi mu’adzin (orang yang melakukan adzan) bagi Ummu Waraqah, lalu menyuruh wanita itu menjadi imam memimpin jamaah dalam keluarganya untuk shalat-shalat fardhu (wajib).

Jadi, kalau ada rumah yang cukup luas memuat banyak wanita, sedang mereka ingin mengadakan shalat jamaah, maka hal itu boleh mereka lakukan dengan syarat imamnya jangan berdiri di depan, tapi tetap dalam shaf mereka (berdiri dalam shaf terdepan). Sumber PERANAN AKAL DAN LOGIK DALAM PEMIKIRAN Islam

(by: Mohd Farid Mohd Shahran)

Akal merupakan ciri yang paling penting dalam diri manusia sehinggakan kemanusiaan seseorang insan itu dikaitkan dengannya. Sebab itu ahli falsafah mendefinisikan manusia sebagai “rational animal” atau ‘al-insaan hayawaan an-naatiq’. (Maksud haiwan di sini ialah hidupan dan maksud berkata-kata bukan sekadar percakapan lidah tetapi juga pemikiran kerana percakapan itu datang nya dari pemikiran).

Apabila ahli falsafah mendefinisikan manusia itu adalah rational animal ia menunjukkan rasionaliti ataupun keupayaan berfikir merupakan satu kemestian bagi manusia yang tidak ada pada hidupan lain. Dalam sesebuah definisi, kita akan merujuk kepada perkara terpenting yang terdapat dalam benda tersebut. (Contohnya, seperti cawan, ‘essence’ nya itu ialah fungsinya untuk minum, dan apabila kita meletakkan bunga di dalam cawan itu, orang akan menganggapnya sebagai pasu dan bukan cawan walaupun asalnya cawan kerana telah kaitkannya dengan benda yang lain.)

Dalam konteks manusia ciri utamanya ialah akal. Tidak mustahil juga jika satu hari nanti definisi manusia ini bukan lagi ‘rational animal’ tetapi mungkin sebagai ‘sensual animal’ atau sebagainya kerana para ahli psikologi moden sekarang ini berkecenderungan untuk mengenepikan ‘the spiritual or the immaterial aspect in men’ dan hanya mengaitkan manusia dengan ‘senses’ sahaja. Dan terdapat juga teori-teori sains kini yang seakan menyokong dengan pendapat ahli psikologi tadi.

Dalam Islam, akal harus difahami dalam konteksnya yang luas. Misalnya, Prof. Muhammad Naquib Al-Attas menjelaskan bahwa akal juga dikaitkan dengan tiga perkara yang lain iaitu qalb, ruh, dan nafs. Keempat-empat perkara ini (termasuk akal) sebenarnya merujuk kepada satu hakikat sahaja iaitu ‘the internal part of man’ atau aspek dalaman manusia. Yang membezakannya adalah dari segi fungsi iaitu apabila ia terbabit dalam proses berfikir itu dinamakan akal; apabila dia sedang mentadbir jasad ia dinamakan nafs dan ketika ia sedang menerima imaginasi yang bersifat ilham atau dinamakan qalb dan ketika mana ia kembali kepada unsur abstraknya sendiri dinamakan ruh. Dari segi hakikatnya kita tidak memisahkan keempat-keempat ini.

Dalam Islam juga jelas bahawa aspek dalaman ini adalah lebih penting berbanding aspek jasad luaran. Terdapat satu syair yang menarik yang dikarang oleh al-Busti yang menyindir orang-orang yang hanya mementingkan aspek luaran atau jasadiah sahaja. Ia berbunyi:

wahai khaadam kepada jasad,

betapa siksanya engkau memberi khidmat kepadanya (jasad)

untuk mendapatkan keuntungan dari sesuatu

yang di dalamnya hanya ada kerugian.

Berpaling lah atau berpindah lah kamu kepada diri dalaman

dan sempurnakanlah kelebihan-kelebihannya.

Sesungguhnya engkau menjadi manusia kerana diri dalammu

bukan kerana jasad luaran kamu.”

Syair ini memberi satu kritikan kepada manusia yang cenderung untuk menghabiskan masa dan wang untuk kepentingan jasadiah mereka. Sedangkan perkara-perkara inilah nanti yang akan menjauhkan lagi manusia dari aspek-aspek akliyyah yang kita sebutkan tadi.

Akal Menurut al-Qur’an

Di dalam al-Quran terdapat beberapa ayat yang berkenaan dengan akal. Yang menariknya kesemua perkataan ini tidak datang dalam bentuk kata nama tetapi dalam bentuk kata kerja atau fi’il yang membawa maksud ‘berakal’ atau ‘menggunakan akal.’ Terdapat 40 perkataan yang maksudnya lebih kepada saranan kepada penggunaan akal yang sebenar. Dan 13 daripadanya berbentuk soalan ‘kenapa engkau tidak menggunakan akal?’. Ini menunjukkan al-Quran itu sendiri menekankan tentang penggunaan akal yang sebenar dan adalah tidak benar mereka yang mengatakan bahawa al-Qur’an atau agama ini perlu dilawankan dengan akal dan seolah-olah kecenderungan mengikut akal adalah menyesatkan. Penyataan ini mungkin benar dalam konteks barat tetapi bukan dalam Islam kerana al-Qur’an banyak menegaskan tentang kepentingan menggunakan akal.

Malah dalam al-Qur’an orang yang tidak menggunakan akal itulah merupakan mereka yang ingkar kepada Tuhan. Misalnya, ayat yang mengatakan ‘afalaa ta’qiluun’ itu menunjukkan provokasi atau kemurkaan Tuhan kepada mereka yang mengingkariNya seperti golongan Ahli-kitab dan Bani Israel. Dan sifat tidak menggunakan akal ini dikaitkan dengan dua perkara. Pertamanya mereka ini merupakan golongan yang tidak konsisten dalam perbuatan dan perkataan mereka. Apa yang mereka katakan berlawanan dengan apa yang mereka lakukan, lantas Allah mengherdik mereka dengan mengatakan “afalaa ta’qiluun.” Dan keduanya merujuk kepada keadaan mereka yang tersasar dari jalan yang benar.

Mereka juga dikatakan demikian kerana mereka tidak menggunakan hukum akal. Sepertimana yang terdapat di dalam surah Baqarah yang menyatakan, orang-orang ahli kitab ini mereka diberikan kitab, tetapi apabila mereka mengajar orang, mereka lupa akan diri mereka sendiri. Dalam contoh lain, misalnya di dalam surah al-Imran ayat 65, di mana orang Yahudi dan Nasrani masing-masing bertengkar tentang siapakah Nabi Ibrahim, adakah dia yahudi atau nasrani. Maka Tuhan telah mengherdik kedua-duanya dengan ‘apakah kamu tidak menggunakan akal?’ Ini kerana Nabi Ibrahim itu lebih awal daripada dari kedua-nya sama ada Yahudi ataupun Nasrani. Maksudnya, ayat ini merujuk kepada ‘reasoning’ yang tidak betul dan tidak menggunakan akal.

Ayat-ayat ‘afalaa ta’qilun’ ini juga merujuk kepada mereka yang tidak memahami maksud dua tanda; tanda-tanda pada alam dan juga tanda-tanda yang diturun melalui al-Quran. Sebab akhirnya, alam ini merupakan simbol kepada kebesaran Allah. Di barat usaha sains sekarang ini lebih menunjukkan bahawa simbol ini (alam) hanya merujuk kepada dirinya sendiri. Ini bertentangan dengan pendekatan Islam kerana sepatutnya tanda-tanda ini mendekatkan kita dengan pencipta alam bukan menjauhkan lagi.

Terdapat beberapa ayat Quran, dalam surah Yusof misalnya yang menyatakan tentang akibat-akibat yang berlaku kepada kaum-kaum dahulu yang mengingkari Tuhan. Tujuannya adalah supaya kita dapat memikirkan akan kesan-kesan dan akibat-akibat ini. Misalnya kenapa kaum Thamud yang dari segi teknologinya amat cangguh dengan membuat kota di dalam bukit tetapi akhirnya ditelenggamkan juga oleh Allah. Ini juga merupakan peranan penting akal.

Dalam Islam, aspek ratio yang lebih merujuk kepada pemikiran yang lebih saintifik dan logikal tidak dipisahkan dari aspek intelect yang lebih dapat menanggap makna-makna yang mendalam dan tinggi. Akan tetapi di barat, ketika Aristotle datang dan mempengaruhi agama kristian, agama kristian telah dipengaruhi dengan pendekatan rasional yang terpisah daripada keupayaan untuk menanggap aspek-aspek spiritual. Sebelum Aristotle, pemikir-pemikir Greek ini percaya di dalam nature ini ada tuhan-tuhan yang menjaga dan juga ada spiritual causes. Dan apabila datangnya Aristotle dia telah mengenepikan persoalan yang spiritual itu dan akhirnya alam misalnya telah dilihat sebagai natural. Dan dengan itu, maka terpisahnya faham yang dikatan ratio dan fahaman intelectus. Dalam Islam aspek intelect ini lebih merujuk kepada qalb iaitu hati. Akan tetapi kedua-kedua ini tidak terpisah sebagaimana yang kita katakan tadi. Maka dalam Islam tidak berlaku persoalan seperti di barat. Maksudnya dalam islam seseorang itu boleh berfikir dalam bentuk rasional, dia juga boleh berfikir dalam bentuk yang lebih tinggi daripada aspek-aspek yang rasional.

Dari Segi Bahasa

Ini bermaksud akal menurut Islam juga merujuk kepada aspek kerohanian di samping merujuk kepada aspek-aspek yang berbentuk rasional tadi. Sebab itu kita definisi akal yang diberikan oleh ahli-ahli bahasa muslim juga merujuk kepada aspek-aspek kerohanian tadi. Misalannya, menurut ahli bahasa terkenal, Ibn Manzur dalam kitabnya Lisaan al-Arab, akal berfungsi untuk mengikat makna-makna dengan menggunakan perkataan. Contohnya, apabila kita melihat cawan, ia akan mengikat makna-makna yang berkaitan dengan cawan. Di samping itu Ibn Manzur juga mengatakan bahawa akal juga dalam konteks manusia, bertugas mengikat diri manusia daripada mengikut hawa nafsunya. Maksudnya di sini, akal ini akan membawa kepada sesuatu yang baik. Maksudnya, sekiranya seseorang itu mengatakan dia menggunakan akal akan tetapi ia bersifat dengan sifat-sifat yang tidak baik, kita akan katakan ia menjadi demikian berdasarkan sama ada dua sebab; sama ada akalnya tidak sempurna atau ilmu yang dia ada itu terkeliru sehinggakan akal nya tidak dapat menangkap maknanya yang sebenar.

Seorang lagi pakar bahasa, Mohd Ali Jurjani misalannya, telah berkongsi definisi yang sama apabila mentakrifkan akal iaitu satu fungsi yang ada kaitannya denga jasad. Akal juga bermaksud cahaya yang mengetahui antara yang hak dan yang batil dan yang menyimpang manusia dari jalan yang buruk.

Kesimpulan saya dari takrifan-takrifan tadi jelas bahawa nilai-nilai kerohanian yang menjangkau peranan akal sebagai alat berfikir secara rasional juga disentuh oleh sarjana-sarjana bahasa dan juga oleh al-Quran.

Pandangan Imam al-Ghazali tentang Akal

Imam Ghazali telah memberi empat makna yang biasanya difahami oleh manusia tentang akal. Yang pertama iaitu, gharizah atau sifat tabi’i manusia yang membezakan hidupan manusia dengan yang lain. Yang kedua ialah ilmu-ilmu dharuri yang datang kepada kanak-kanak yang sudah mula boleh berfikir tentang kemustahilan dan kewajaran sesuatu. Contohnya bagi kanak-kanak yang sudah mumayyiz, apabila dia tahu sekiranya emaknya ada di rumah, maka dia juga tahu yang emaknya di masa yang sama tiada di tempat lain (dalam logik disebut hukum pertentangan). Itulah merupakan kriteria bagi kanak-kanak yang sudah mempunyai akal kerana sudah mampu berfikir. Yang ketiga ialah ilmu yang didapati dari pengalaman sepanjang berlalunya masa. Maksudnya, apabila manusia dah menjadi dewasa, dia telah menjalani beberapa pengalaman dan mungkin ada yang katakan yang dia telah matang akalnya. Dan yang terakhir sekali yang penting sekali, ialah akal merupakan keadaan di mana terdapatnya satu kekuatan terbina yang membolehkan seseorang insan mengetahui akibat dari pelbagai perkara dan berasaskan dari situ, dia mengawal nafsunya dari menuju kepada kenikmatan duniawi yang serba sementara.

Melalui pembahagian ini Imam Ghazali juga cuba untuk menekankan mengenai tahap peningkatan akal manusia. Makna pertama dan kedua itu ialah tabi’i. Dan yang dua terakhir pula merupakan muktasab atau dicapai melalui usaha. Semakin lama orang itu hidup dan mencapai banyak pengalaman semakin banyak dia akan capai banyak pengalaman. Dan yang paling akhir itu yang paling penting maksudnya, orang-orang yang melalui semua benda itu boleh mengawal melalui akal nya itu daripada mengikut hawa nafsunya dan ini berkaitan dengan persoalan akhlak.

Kaitan Akal dengan Akhlak

Bagaimana ulama-ulama atau ahli-ahli falsafah moral muslim membincangkan tentang akhlak terutama yang berkaitan dengan akal? Menurut Imam Ghazali, dalam psikologi manusia ada tiga jiwa atau kecenderungan; nabaatiyah iaitu jiwa tumbuh-tumbuhan, hayawaaniyah iaitu jiwa kehaiwanan dan naatiqah iaitu jiwa kemanusiaan yang memberikan perbezaan manusia dengan hidupan lain. Menurut mereka lagi dalam Islam terdapat empat ciri-ciri keutamaan‘cardinal virtues’ iaitu yang pertama; hikmah atau kebijaksanaan (wisdom), yang kedua; keberanian atau shajaa’ah (courage), yang ketiga ialah ‘iffah iaitu kesucian diri (temperance), dan yang terakhir sekali ialah al-‘adl, keadilan (justice).

Keempat-empat ini merupakan sifat-sifat keutamaan manusia dan sekiranya ia wujud dalam diri manusia secara keseluruhannyaseseorang itu dikatakan berakhlak dengan akhlak yang mulia. Perbincangan ini dalam falsafah moral bukanlah hanya datang begitu sahaja secara abritrary, akan tetapi ia bermula dari perbincangan mengenai fakulti psikologi manusia. Dalam jiwa naatiqah adanya fakulti akal sementara dalam jiwa hayawaniyah pula ada padanya fakulti marah dan manakala dalam jiwa nabaatiyah ada fakulti shahwah. Maka sekiranya ketiga-tiga fakulti dalam ketiga-tiga jiwa ini dipelihara dengan baik, maka mereka akan melahirkan sifat-sifat keempat-keempat sifat sempurna yang disebutkan tadi (kebijaksanaan, keberanian, kesucian diri dan keadilan). Sekiranya fakulti akal digunakan dengan baik, maka lahirlah sifat kebijaksanaan. Sekiranya fakulti marah dapat dibendung dan diletakkan pada tempatnya yang betul, maka dia akan melahirkan sifat keberanian. Sementara fakulti shahwah itu jika dapat dijaga dengan baik dan dipelihara, ia akan melahirkan sifat ‘iffah iaitu sifat kesucian diri. Keadilan pula merupakan gabungan atau natijah dari ketiga-tiga itu tadi. Maka, sekiranya ada keempat-empat ‘virtue’ ini, maka wujud lah keseimbangan diri manusia dan inilah yang kita katakan akhlak yang mulia.

Yang penting juga untuk ditekankan ialah hakikat bahawa keempat-empat sifat manusia ini merupakan sifat pertengahan antara dua keadaan yang melampau. Contohnya, sifat bijaksana ini adalah dari dua ekstrem iaitu yang pertama jika fakulti akal digunakan secara berlebihan dan tidak ada panduan, dia akan melahirkan sifat jahat (cunning) yang berlaku apabila akal digunakan untuk perkara-perkara yang tidak baik. Satu ekstrem lagi ialah apabila fakulti akal tidak digunakan dengan baik, ia akan mendatangkan sifat bodoh dan bebal yang berlaku apabila fakulti akalnya itu tidak berkembang. Kebenranian pula merupakan pertengahan antara dua keadaan, iaitu sifat ganas yang berlaku apabila marah tidakdikawal dan juga sifat pengecut, iaitu apabila tidak langsung digunakan fakulti marah. Dan yang akhir sifat kesucian diri berada antara dua ekstrem. Sekiranya fakulti shahwah tidak dijaga dengan baik, ia akan melahirkan sifat-sifat buruk seperti, tamak, suka mengeji dan sebagainya. Ekstrem yang satu lagi ialah sifat pemboros dan berlebihan dalam hal-hal jasmaniah. Dan sekiranya shahwah ini dapat dijaga dengan baik, ia akan melahirkan sifat dermawan.

Dan seperti yang disebut tadi, ketiga-tiga sifat ini akan melahirkan sifat keadilan. Sebab itu menurut ahli falsafah moral, keadilan itu merupakan sifat yang tertinggi. Apa yang hendak ditekankan dalam perbahasan kita ialah sifat kebijaksanaan kerana ianya berkaitan dengan akal. Dan akal ini sekiranya dijaga dengan baik dan digunakan di ‘propotion’ yang betul, ianya akan melahirkan banyak lagi sifat-sifat lain yang berkaitan dengan kebijaksanaan.

Akal ini juga merupakan salah satu sumber ilmu. Dalam Islam, sumber kepada ilmu ada tiga; hawas (panca indera yang sempurna), akal yang sihat dan khabar saadiq (berita yang benar). Terdapat satu lagi sumber yang menjadi khilaf antara ulama iaitu ilham. Pancaindera bermaksud pancaindera yang lima. Misalnya, apa sahaja yang dilihat oleh mata merupakan ilmu yang sah. Begitu juga dengan akal, sekiranya akal mensabitkan bahawa satu benda itu tidak boleh berada di dua tempat dalam satu masa, maka kita harus menerimanya sebagai satu ilmu. Ini yang dinamakan sebagai hukum akal Begitu juga dengan khabar yang dibawa oleh seseorang yang benar merupakan sumber ilmu yang benar. Sekiranya kita tidak percaya kepada khabar yang benar, maka banyak perkara yang akan kita tolak termasuk termasuk penemuan sains. Hatta kita mengetahui kewujudan nenek moyang kita dahulupun melalui khabar yang dibawa oleh ibubapa kita.

Sumber-seumber ilmu ini juga ada martabatnya. Misalnya pancanindera, apabila kita melihat matahari, apa yang kita nampak ialah bahawa matahari itu kecil sahaja. Akan tetapi apa yang meyakinkan kita bahawa matahari itu besar? Sudah tentu pada ketika itu akal yang menentukan dan bukannya pancaindera. Begitu juga antara akal dan khabar yang benar. Misalnya kewujudan hari akhirat, akal tidak sampai ke situ tetapi ianya datang dari bentuk wahyu. Perbezaan-perbezaan ini dijelaskan dengan menarik misalnya oleh Imam Ghazali dalam kitabnya Mishkat al-Anwar.

Faham Agama dan Asas Akhlak

Mohd Farid Mohd ShahranPegawai Penyelidik ISTAC

1. Kekeliruan makna ‘religion’ di barat.

- maksud religion – ‘to bind’- kekeliruan mengenai siapa yang mengikat, keadaan ikatan dan syarat-syarat ikatan.

2. Makna ‘din’

a) Makna dari Segi Bahasa - i) keadaan berhutang; ii) keadaan takluk menyerah diri iii) Kuasa dan daya menghukum; iv) Bawaan kecenderungan yang sedia ada pada diri insan atau kebiasaan yang menjadi adat resam.

Penjelasan Hubungan Makna-Makna di Atas

- makna (a) - hutang biasanya melibatkan penyerahan diri si penghutang kepada peraturan dan syarat perhutangan.

- makna (b) dan (c) - suasana berlakunya keadaan perhutangan ini berkait dengan masalah hukuman, nilaian, keputusan dan biasanya semua ini berlaku dalam suasana perniagaan dan bermasyarakat, kehidupan adabi, di dalam kota (madinah) dan dikuatkuasakan oleh penguatkuasaan undang-undang dan pemerintahan (dayyan). Ini berkaitan dengan makna takluk dan daya menghukum.

- kesemua unsur-unsur di atas akan melahirkan tamaddun – keadaan kehidupan insan bermasyarakat yang telah mencapai taraf kehalusan tatasusila dan kebudayaan yang luhur bagi seluruh masyarakatnya.

- makna (d) - keadaan berhutang juga mengandaikan adanya suatu gaya dan cara berkelakuan pada diri insan, satu perangai yang selari, seia, sebati dengan apa yang dibayangkan olehnya pada dirinya. Ia merupakan kecenderungan semulajadi untuk membentuk masyarakat dan mentaati pemerintahan yang adil.

b) Makna yang Lebih Mendahun (Kerohanian)

i) merujuk kepada hutang kewujudan dan penciptaan manusia kepada Tuhan.

ii) merujuk kepada perjanjian (Hari Alastu) yang telah dibuat oleh manusia seawal sebelum kejadian manusia. al-A’raf: 172).

Penyelesaian hutang manusia kepada Tuhan

- kembali kepada Tuhan: ‘ibadah (menghambakan diri kepada Tuhan - [al-Dhariyat:56]); raj’ah (kembali diri kepada fitrahnya yang asal-menghambakan diri kepada Tuhan - al-Tariq:86) - mamluk (dimiliki Tuhan)

- asas kepada faham ganjaran, pembalasan dan siksaan; qardan hasan (pinjaman yang baik) al-Baqarah:245

- Cara kembali diri kepada Tuhan - dengan redha/taat (tau’an) dan mengikut cara yang dishariatkan - Penyerahan sebenar adalah dalam bentuk taat dan menurut kaedah yang telah ditetapkan oleh Tuhan (Ali Imran 3:83)

- Kecenderungan merujuk kepada fitrah/sunnat Allah (merealisasikan perjanjian asali dengan Tuhan).

3. Islam sebagai Din

a. Islam sebagai manifestasi din yang sebenar, sebagai penyerahan menurut kaedah yang ditentukan Tuhan - menurut millah Ibrahim (din hanifan/din al-qayyim) disamping mensabitkan shari’ah Muhammadiyyah sebagai shariat yang terakhir.

b. merupakan definisi dan nama agama yang telah diberikan Tuhan melalui al-Quran

c. sebagai satu-satunya agama yang ditanzilkan (revealed religion) yang masih ada sebagai agama yang universal dan sempurna sejak dari mula – tidak memerlukan penambahan, tidak melalui proses kemenjadian (becoming), tidak memerlukan pembangunan (development), perubahan (change) dan penyempurnaan (perfection).

d. Kenabian Nabi Muhammad - sebagai elemen penting dalam faham agama Islam - menafikan idea kewujudan kesatuan agama - sebagai model kepada kaum muslimin di segenap lapisan.

4. Hubungan Agama dan Akhlak

a. semua nilai-nilai keutamaan akhlak adalah berasaskan agama. Agama sebagai dasar dan panduan kepada faham akhlak dalam Islam

b. Konsep Tuhan, Kenabian dan Hari Akhirat sebagai asas-asas utama akhlak.

c. Keadilan - sebagai kemuncak ketinggian akhlak dalam beragama.

- apabila manusia kembali menunaikan perjanjian asalinya dengan Tuhan

- bermula di dalam diri manusia - meletakkan diri haiwani tunduk kepada diri akali

- mengandaikan penguasaan terhadap ilmu/hikmah

- zulm - manifestasi kehilangan keadilan (chaos)

5. Ancaman Zaman Moden terhadap Agama

a) Fahaman Sekularisme

b) Faham Kesatuan Agama (Transcendental Unity of Religion)

c) Aliran Falsafah Post-modernism

d) Faham Kenisbian Nilai (Sophism)

Rujukan

Syed Muhammad Naquib al-Attas, ‘Islam: The Concept of Religion and the Foundation of Morality’, dalam Islam and Secularism, Kuala Lumpur: ISTAC, 1993.


Logik dalam Tradisi Ilmu Islam

Oleh: Mohd Farid Mohd Shahran

Mukaddimah

Ketika Imam al-Ghazali menyanggah dua puluh hujah-hujah metafizik al-Farabi dan Ibn Sina, dua sarjana pelopor falsafah Yunani dalam tradisi Islam, beliau mengecualikan ilmu logik dari serangannya. Logik, tegas al-Ghazali, bertujuan untuk memperhaluskan hujahan dan pendalilan, justeru sebahagian besarnya adalah sesuai dan tidak bertentangan dengan agama. Syarat-syarat kesahihan silogisme serta premis-premis logik pula, tambah beliau, tidak banyak membantu dalam menjustifikasi persoalan metafizik mereka (ahli falsafah). Dua ratus tahun kemudian muncul pula Ibn Taimiyyah (m.1328M) yang menghentam falsafah Yunani akan tetapi beliau tidak mengecualikan logik. Bagi beliau logik Yunani merupakan agen utama yang membawa kepada doktrin falsafah kekadiman alam, kenabian, penciptaan al-Qur'an dan lain-lain doktrin metafizik ahli-ahli falsafah. Pandangan Al-Ghazali dan Ibn Taimiyyah ini secara umumnya menggambarkan dua pendekatan di kalangan sarjana Islam dalam menentukan sikap mereka terhadap ilmu logik, satu disiplin yang telahpun dikira sebagai sebahagian dari keluarga ilmu-ilmu tradisi Islam. Bagi melihat lebih lanjut sejarah awal ilmu ini terutama dari aspek penerapannya ke dalam lingkungan ilmu-ilmu Islam, makalah ini berusaha secara ringkas menyorot persoalan tersebut.

Logik Menelusuri Sejarah

Sebagai satu undang-undang berfikir yang cannonical untuk memelihara manusia dari kesalahan dalam berfikir, logik selalu diketengahkan sebagai satu ilmu yang sejagat. Namun sejarah kelahirannya sebagai satu disiplin ilmu, sepertimana yang dikritik, nampaknya tidak begitu menggambarkan keadaan ini. Kelahirannya dikaitkan dengan tradisi falsafah Yunani terutama sekali Aristotle. Dengan kata lain, Aristotle adalah penemu cara manusia berfikir yang betul setelah ribuan tahun kewujudan mereka di dunia ini. Ada yang melaporkan bahawa golongan Sophist Yunani sebelum Aristotle sudah pun menggunakan logik untuk tujuan retorik dan perdebatan. Begitu juga dengan beberapa ahli falsafah Greek termasuk Socrates dan Plato yang telah membincangkan cara-cara berfikir yang betul dalam karya-karya mereka. Namun sejarah pemikiran manusia secara umumnya akur bahawa logik yang bersifat formal dan sistematis tetap bermula dari Aristotle.

Antara yang menyebabkan Aristotle begitu dikaitkan dengan logik ialah kemunculan kumpulan karya besar beliau mengenai logik, Organon, yang mengandungi enam bahagian iaitu Categories, Hermeneutics, Prior Analytics, Posterior Analytics, Topics, dan Sophistics. Keenam-enam tajuk ini kemudiannya ditambah dengan satu pendahuluan oleh seorang lagi ahli falsafah Greek, Porphyry yang bertajuk Introduction (al-Isaghuji) dan dua karya Aristotle yang lain iaitu Rhetoric and Poetics yang menjadikan karya logik yang dikaitkan dengan Aristotle semua berjumlah sembilan buah. Kesembilan-sembilan tajuk ini juga secara langsung mewakili sembilan bidang cabangan logik Yunani.

Penerapan Logik dalam Tradisi Ilmu Islam

Logik mula dibawa masuk dari khazanah ilmu Yunani dengan begitu berjaya oleh pemikir dan sarjana Islam terutama pada awal abad ke 10 dan 11. Walaupun Rescher, seorang penganalisa sejarah perkembangan logik, mendakwa bahawa peringkat awal penterjemahan karya-karya Yunani termasuk dalam bidang logik banyak diwarnai oleh usaha yang dibuat oleh golongan Kristian Syriac terutama golongan Arab Nestorian di Alexandaria, akan tetapi, seperti yang beliau juga ungkapkan, keunggulan tradisi logik di negara Arab, terutama dalam kelompok aliran pemikiran Baghdad, hanya bermula setelah kedatangan ahli falsafah dan pakar logik muslim yang tersohor iaitu al-Farabi (873-950M). Tokoh falsafah yang digelar Guru Kedua (al-Mu’allim al-Thani) selepas Aristotle ini telah menyumbang dengan begitu lumayan dalam mensharahkan karya-karya logik Yunani terutama Aristotle dan beliau telah dianggap sebagai pencetus kepada tradisi kegemilangan logik Arab Islam.

Keunggulan al-Farabi ini diteruskan dengan kedatangan Ibn Sina (980-1037M) yang diungkap oleh Rescher sebagai “the finest and certainly one of the two or three best logicians in medieval Islam”. Selaku satu-satunya tokoh yang mempunyai sistem falsafah yang paling lengkap di kalangan ahli falsafah Islam, Ibn Sina telah mempelopori satu tradisi pemikiran logik yang baru sekaligus merubah sistem pengkajian logik Yunani yang selama ini dikuasai oleh aliran pemikiran Baghdad yang diketuai al-Farabi. Aliran pemikiran logik Ibn Sina, yang diistilahkan oleh beliau sendiri sebagai logik timur (al-mantiq al-mashriqiyyin) ini secara asasnya juga merupakan respon terhadap aliran sekolah pemikiran Baghdad yang lebih mengutamakan pendekatan penghuraian tekstual (textual commentary) yang terlalu terikat kepada teks-teks Aristotle. Pendekatan Ibn Sina sebaliknya lebih bebas dan lebih terbuka kepada penyesuaian-penyesuaian terutama kepada kerangka pemikiran Islam. Antara pembaharuan struktural yang diperkenalkan oleh Ibn Sina ialah pembahagian ilmu dalam kaitannya dengan perbahasan logik kepada dua bahagian umum iaitu mengenai tasawwurat dan tasdiqat. Pembahagian ini menjadi asas kepada

perbincangan mengenai definisi (al-hadd) dan silogism (al-qiyas) dua tajuk utama dalam disiplin logik formal. Pendekatan Ibn Sina ini telah menjadikan logik yang diperkenalkan oleh beliau lebih mudah diikuti, ringkas dan padat. Ternyata pendekatan Ibn Sina ini lebih popular di kalangan ahli-ahli logik sehinggakan karya-karya logik tulisan pengikut-pengikut beliau menjadi lebih terkenal dalam disiplin ini seperti Sharah Isaghuji karangan Al-Abhari, Risalah Shamsiyyah karangan al-Qazwini al-Katibi. Karya-karya mereka lebih berbentuk manual dan disertai dengan sharah yang lengkap dan pelbagai. Sementara aliran pemikiran Baghdad, walaupun cuba bangun kembali di sebelah barat dunia Islam (Sepanyol) setelah kedatangan beberapa tokoh besar seperti Ibn Bajjah (m.1138), Ibn Rushd (m.l198M), Ibn Maimun (m.1204M) dan Ibn Sab’in (m. 1270M). Walaupun mereka berjaya mengangkat semula kegemilangan aliran pemikiran al-Farabi, namun ia masih lagi tidak dapat menyamai kekuatan pengaruh Ibn Sina yang dipelopori oleh pendokongnya seperti Kamal al-Din ibn Yunus (m.1242), Nasir al-Din al-Tusi (m.1274), Al-Abhari (m.1265), al-Qazwini (m. 1292M) dan Qutb al-Din Shirazi (m. 1311M). Kedua-dua aliran ini walaubagaimanapun, masih merupakan dua aliran pemikiran yang paling berpengaruh dalam sejarah perkembangan logik Islam sehingga pertengahan abad ke-14 apabila usaha ke arah penggabungan antara kedua-dua aliran ini telah dilakukan yang pelopori antara lain oleh Badr al-Din al-Tustari (m. 1330M) dan Qutb al-Din al Tahtani (m.1365), al-Sa’d al-Din al-Taftazzani (m.1390M) dan ‘Ali Muhammad al-Jurjani (m.1413M).

Bantahan dan Kritikan terhadap Logik

Seperti yang telah disentuh sebelum ini, fenomena kelahiran logik yang bersifat Graeco-centric telah menyebabkan antara lain ia diragui oleh beberapa kelompok masyarakat Islam. Di peringkat awam, bantahan terhadap ‘ilmu luar’ ini cukup kuat sehingga ada yang menganggapnya sebagai ilmu hitam dan alat syaitan! l4 Fakhr al-Din al-Razi, seorang mutakallim abad ke-13 yang masyhur, pernah diancam bunuh kerana dituduh mengorbankan Islam kepada doktrin Aristotle hanya kerana tulisan beliau mengenai logic. Sementara frasa “man tamantaqa tazandaqa”(sesiapa yang menggunakan logik [Yunani] dia telah sesat) mula tersebar di kalangan masyarakat. Di kalangan kelompok ilmuan pula, beberapa isu telah dibangkitkan. Dalam hubungannya dengan bahasa misalnya, yang juga menggambarkan pertembungan antara pendokong aliran agama dan penganut tradisi Helenistik Yunani, kes yang selalu dirujuk ialah perdebatan hangat tentang kedudukan dan sifat logik diantara seorang ahli falsafah Kristian Syriac, Abu Bishr Matta bin Yunus dengan Abu Sa’id al-Sirafi, seorang ahli bahasa, mutakallim dan ahli fikah. Dalam perdebatan tersebut, idea yang cuba diketengahkan oleh Abu Bishr bahawa logik [Yunani] adalah ‘instrumen pertuturan yang membezakan pertuturan yang betul dan yang salah’ telah menerima sanggahan kuat dari al-Sirafi yang menurut Muhsin Mahdi bukan sekadar mempertahankan ahli-ahli bahasa tetapi juga mempertahankan agama.

Antara idea logik yang mendapat penentangan juga ialah teori definisi dan kaitannya dengan ilmu. Ini ekoran dari dakwaan ahli logik bahawa definisi adalah satu jalan manusia mendapatkan ilmu. Definisi sesuatu benda, menurut mereka, ialah ilmu tentang benda tersebut. Dakwaan ini mendapat kritikan yang kuat dari beberapa tokoh kerana selain dari mengenepikan cara lain untuk mendapatkan ilmu juga menobatkan logik sebagai ilmu paling penting untuk manusia mendapat ilmu-ilmu yang lain. Jalal al-Din al-Suyuti, misalnya, mengkritik prinsip ini dengan menegaskan dengan begitu sinis bahawa ‘semua komuniti ilmuan, ulama, para pakar dan profesional mengetahui apa yang mereka tahu dan membuktikan apa yang mereka katakan dalam disiplin masing-masing tanpa perlu bercakap tentang definisi!’

Kritikan terhadap logik dalam lingkungan ilmu-ilmu Islam ini pada umumnya berkisar kepada fitrah dan peranan logik itu sendiri. Adakah logik sebagai ilmu yang lahir dari kerangka fahaman falsafah Yunani, hanya sekadar ilmu instrumental yang neutral atau ia merantai bersama-samanya dasar-dasar metafizik dan falsafah Yunani justeru bertentangan juga dengan agama? Di manakah sempadan-sempadan dan had-had yang dipunyai oleh logik? Adakah logik yang dibawa oleh Aristotle merupakan sistem berfikir yang sejagat sehingga boleh diaplikasi disemua tempat oleh semua orang, atau ia merupakan ilmu yang bersifat tempatan, ciptaan zaman Yunani serta terpengaruh dengan suasana dan konteks kerangka pemikiran dan asas metafizik masyarakat Yunani pada masa itu? Mengapa menunggu Aristotle untuk mengajar kita bagaimana untuk berfikir dengan betul?

Walaubagaimanapun, kritikan-kritikan yang diberikan ini nampaknya tidak memberikan kesan yang besar terhadap penerimaan sebahagian besar kelompok ilmuan yang lain dalam tradisi Islam. Persoalan asal-usul logik misalnya tidak menjadikan sebab yang cukup kuat untuk mereka menolak ilmu tersebut. Yang menjadi persoalan bukanlah asal-usul ilmu tersebut tetapi kegunaan dan peranan yang dimainkan. Ternyata manfaat yang diberikan oleh logik terutama dalam memperkukuhkan metodologi penghujahan dalam disiplin-disiplin ilmu Islam jauh lebih besar dari bahaya kelahiran Greeknya. Ketakutan terhadap ilmu ini juga reda apabila fitrah logik yang brsifat instrumental dan juga keserasiannya dengan ilmu-ilmu agama telah ditegaskan dengan hujah-hujah yang kuat oleh sarjana-sarjana besar seperti Ibn Sina, al-Ghazali dan Ibn Rushd. Yang menjadi perbahasan yang lebih utama di kalangan ahli-ahli logik Islam nampaknya bukanlah pertentangannya dengan agama atau hubungannya dengan metafizik Yunani, akan tetapi bagaimana cara memperhalusi teknik, prinsip dan aksiom logik untuk lebih memantapkannya dalam penghujahan. Prinsip-prinsip logik ini juga nampaknya mampu memperkukuhkan lagi cara pendalilan ahli-ahli agama terutama dalam bidang yang mempunyai fitrah dialektik dan penghujahan seperti ilmu usul fiqh dan ilmu kalam. Justeru itu logik mula berkembang dan seterusnya berjaya meresap masuk ke dalam lingkungan ilmu-ilmu Islam. Bermula pada awal abad ke-12, logik telah diletakkan selari dengan ilmu-ilmu al-Quran, usuluddin dan fiqh dalam struktur asas pendidikan pedagogi di beberapa wilayah Islam. Logik bukan sekadar telah menjadi pra syarat dalam sistem pendidikan agama, malah ia telah mula dibahaskan sebagai sebahagian dari perbahasan dalam beberapa ilmu-ilmu keagamaan seperti ilmu kalam dan usul al-fiqh.

Satu contoh yang paling jelas ialah penggunaan logik dalam karya-karya besar Imam Fakhr al-Din al-Razi, mutakallim besar abad ke-13 selepas al-Ghazali. Dalam karyanya al-Mahsul fi Usul al-fiqh, salah satu sumber yang berwibawa dalam bidang usul al-fiqh, Al-Razi membahas mengenai prinsip-prinsip logik sebagai pra-syarat penting untuk ilmu usul al-fiqh. Perbincangan beliau mengenai “al-Kalam fi al-Lughah” dalam kitab tersebut, misalnya, sama sepertimana yang terdapat dalam karya beliau yang khusus tentang logik seperti al-Mulakhkhas fi al-Hikmah wa al-Mantiq. Dalam perbahasan beliau dalam bidang ilmu Kalam pula, al-Razi membincang dengan panjang lebar mengenai konsep tasawwurat dan tasdiqat dalam karyanya yang terkenal, al-Muhassal dan juga perbincangan beliau mengenai definisi (al-hadd) dalam karya beliau yang lain al-Mabahith al-Mashriqiyyah. Sementara karya tafsir beliau yang terkenal, Tafsir al-Kabir dalam satu kajian mempunyai 489 prinsip-prinsip usul fiqh yang kebanyakannya terbit dari prinsip-prinsip logik.

Pengenalan logik dalam karya-karya kalam dan usul al-fiqh yang dilakukan al-Razi telah membawa satu pembaharuan dalam bidang-bidang tersebut sekaligus memulakan satu era baru terutama dari sudut penulisan karya ilmu kalam yang berbeza dari pendekatan lama para mutakallimun sebelum beliau. Ibn Khaldun, tokoh sejarawan Islam tersohor, apabila mengamati pendekatan al-Razi ini menegaskan bahawa beliau adalah orang yang pertama di kalangan sarjana mutakhkhirin yang berjaya menyepadukan antara falsafah dan teologi. Tindakan al-Razi ini juga disifatkan oleh Fazlur Rahman sebagai membawa satu bentuk kalam yang lebih sistematik.

Perbincangan mengenai ilmu kalam selepas al-Razi juga telah mula memberi ruang kepada perbincangan logik sama ada dalam bentuk perbahasan logik yang sebenar ataupun bercampur dengan perbahasan tentang epistemologi dan metafizik. Pendekatan ini jelas dalam karya-karya mutakalim pasca-al-Razi seperti Qutb al-Din Shirazi (m.1311 M), Sa'd al-Din al-Taftazzani (m.1390M) Ali Ibn Muhammad al-Jurjani (m.1413M) dan Shams al-Din al-Fanari. Keadaan vang sama juga berlaku dalam disiplin-disiplin lain dalam tradisi ilmu Islam yang juga mula menerima logik sebagai satu metodologi yang sah dalam disiplin ilmu Islam.

Penutup

Dalam kesempatan yang terhad ini hanya setakat pengamatan ringkas yang dapat diberikan mengenai sejarah dan peranan logik dalam tradisi ilmu Islam. Peranan yang dimainkan oleh para pemikir dan sarjana-sarjana Islam awal dalam meneruskan tradisi ilmu logik ini di dalam tradisi ilmu Islam, secara kesimpulannya, dapat dihuraikan dalam dua bentuk; pertama mereka telah berjaya menghurai dan memperkembangkan disiplin ini sehingga ianya dapat difahami dan diikuti dengan jelas dalam lingkungan ilmuan-ilmuan Islam. Kedua mereka telah menganalisa, menyaring dan menyesuaikan perbahasan-perbahasan dalam disiplin ini dengan disiplin-disiplin lain dalam tradisi ilmu Islam. Kritikan terhadap logik oleh sebahagian kelompok ilmuan Islam tidak banyak memberi kesan kepada perkembangan logik dalam tradisi keilmuan Islam. Ilmu ini terus dilihat sebagai ilmu yang penting dalam mendasari perbahasan-perbahasan ilmiah dalam sebahagian besar disipiln-disiplin ilmu Islam.

AKAL DAN KEDUDUKANNYA DALAM ISLAM

Oleh: Mohd Farid Mohd Shahran

Tanggapan Umum Mengenai Akal

Makalah ini cuba menyorot secara ringkas bagaimana Islam, melalui pelbagai sumber keilmuannya, memahami konsep dan kedudukan akal manusia. Ia juga sedikit sebanyak ingin memberikan sedikit komentar terhadap pandangan segelintir ilmuan yang juga mempengaruhi sedikit sebanyak pandangan umum, yang melihat peranan akal dengan pandangan yang agak negatif. Menurut pandangan ini penggunaan akal dalam memahami sesuatu merupakan satu kecenderungan dan pendekatan yang destruktif kerana ia akan membawa manusia jauh dari agama. Akal yang lazimnya akan dipertentangkan dengan wahyu atau agama, dilihat sebagai suatu yang rendah peranannya, malah pandangan yang lebih jauh mengatakan ia merupakan alat yang menyesatkan. Lantaran itu misalnya, ilmu-ilmu yang berhubung dengan agama, tetapi berdasarkan kepada kekuatan akliah seperti ilmu mantiq, falsafah dan Kalam ditegah untuk mempelajarinya dengan alasan mereka merupakan ilmu-ilmu yang terpengaruh dengan faham-faham Yunani yang tidak berdasarkan wahyu, sesat dan tidak berpijak di bumi nyata. Tambahan dari itu, tafsir al-Qur'an yang dikatakan berdasarkan akal seperti tafsir Mafatih al-Ghayb oleh Imam Fakhr al-Din al-Razi dan al-Kashshaf karangan al-Zamakhshari diragui kesahihannya hanya kerana kecenderungannya untuk memberikan analisa-analisa akliyah mengenai beberapa perkara dalam pentafsiran ayat-ayat suci. Begitulah beberapa pandangan sekelompok sarjana-sarjana Islam moden yang nampaknya agak mempengaruhi kefahaman masyarakat Islam secara umumnya di zaman ini.

Bagi meneliti lebih lanjut persoalan akal ini makalah ini berusaha untuk menganalisa kefahaman mengenai akal bersandarkan panduan wahyu serta tafsiran dan pandangan sarjana-sarjana di samping melihat peranan yang telah dimainkan oleh akal dalam tradisi pemikiran Islam.

Akal Menurut Al-Quran

Al-Qur’an sebagai sumber rujukan utama masyarakat Islam meletakkan akal pada kedudukan yang amat tinggi. Misalnya, perkataan yang mempunyai kata teras '-l-m yang merujuk kepada ilmu dalam pelbagai bentuk penggunaan telah diulangsebut sebanyak 750 kali di dalam al-Qur’an. Perkataan yang berlokuskan akal ini malah merupakan perkataan ketiga banyaknya disebut selepas perkataan Allah dan Rabb, sekaligus menggambarkan kepentingannya sebagai antara konsep-konsep yang paling penting dalam skima keutamaan istilah-istilah al-Qur’an. Ini belum lagi mengambil kira perkataan lain yang juga punya kaitan dengan ilmu dan akal seperti f-k-r (fikir), f-q-h (faham dengan mendalam), d-b-r (renung), f-h-m (faham) yang juga banyak disebut di dalam al-Qur’an.

Perkataan yang mempunyai kata dasar 'a-q-l sendiri disebut sebanyak 49 kali, 48 darinya disebut dalam bentuk perbuatan (fi'l) dan sebahagian besar darinya merujuk kepada penekanan kepada penggunaan akal dengan betul. Ini termasuk 13 kali sebutannya dalam bentuk "Apakah kamu tidak menggunakan akal?" (‘afala ta’qilun). Jika diteliti dari sebab turunnya, ayat-ayat dalam bentuk al-istifham al-'inkari (pertanyaan negatif) sebegini merupakan provokasi dan kemurkaan Allah terhadap golongan yang ingkar kepadaNya seperti Bani Isra'il dan Ahli Kitab. Melalui ayat ini keingkaran mereka dikaitkan dengan sikap mereka yang tidak menggunakan akal dengan baik kerana bertindak bertentangan dengan hukum akal lantas tersasar dari jalan yang benar, serta selalu tidak konsisten dalam pendirian dan perlakuan.

Berlawanan dengan pandangan bahawa akal sebagai antagonis terhadap agama, orang-orang yang menggunakan akal, di dalam al-Qur'an, secara konsisten dirujuk sebagai mereka yang cenderung kepada nilai-nilai keagamaan yang mulia dan perkara-perkara ukhrawiyah. Misalnya Allah menggelar 'orang yang berakal' kepada mereka yang sentiasa mengingati hari akhirat dan yang berjaya menyeimbanginya dengan kehidupannya di dunia, mereka yang sentiasa mengambil peringatan dari al-Qur'an sebagai tanda-tanda kebesaran Tuhan yang ternukil (maqru’ah) atau dari kejadian alam yang merupakan tanda-tanda kebesaran Allah yang terlihat (manzurah).

Sebaliknya mereka yang tidak berakal juga, menurut al-Quran, bukan sahaja merujuk kepada mereka yang mempunyai kurang daya penta'kulan (bodoh), tetapi juga merujuk kepada mereka yang menyalahgunakan pengetahuan mereka dengan melakukan perkara-perkara yang bertentangan dengan ajaran Allah seperti cuba menipu Tuhan dengan menghalalkan apa yang diharamkan Allah, mereka yang buruk akhlaknya, dan mereka yang tidak menggunakan semua pancaindera yang dikurnia Allah untuk lebih hampir dengan Allah.

Seperti yang telah disebutkan perkataan akal di dalam al-Qur'an hampir kesemuanya datang dalam bentuk kata kerja dan tidak terdapat langsung perkataan akal dalam bentuk kata nama, al-'aql. Namun ini tidak bermakna al-Qur'an tidak memberikan penerangan yang jelas tentang hakikat akal. Ini kerana di dalam al-Qur'an terdapat perkataan ulu albab atau ulu al-nuha' yang merujuk kepada mereka yang mempunyai akal. Perkataan lub yang merupakan kata tunggal kepada istilah albab mempunyai makna yang sama dengan akal. Dan akal yang dicirikan oleh dua kalimah ini, seperti yang diberikan oleh Imam al-Biqa'i memberikan maksudnya sebagai 'akal yang bersih suci dan memberi kebaikan kepada empunyanya ... akal yang mempunyai kefahaman yang tulin dan bercahaya, bersih dari unsur-unsur material yang rendah dan hanya melihat ketinggian taqwa’. Di tempat yang lain al-Qur'an mengaitkan terus ulu al-bab dengan sifat-sifat akhlaqiyah yang sempurna. Maka golongan yang berakal yang dimaknakan melalui perkataan albab dan nuha ini merupakan mereka yang sentiasa cenderung kepada cahaya ketuhanan yang maha tinggi dan jauh dari keburukan duniawi yang rendah.

Penekanan al-Qur’an terhadap peranan akal juga dapat dilihat terus dari gaya bahasa al-Qur’an. Al-Qur'an berhujah dengan hujah-hujah yang cukup ilmiah, mengherdik golongan-golongan yang tidak konsisten dalam perlakuan dan perkataan mereka disamping menggesa musuh-musuh untuk memberikan hujah-hujah mereka sekiranya mereka di dalam kebenaran. Nabi-nabi yang diutuskan Allah merupakan utusan yang lengkapi dengan ilmu yang mantap dan akan berhujah dengan bukti-bukti yang nyata ketika berhadapan dengan sasaran dakwah mereka.

Berdasarkan kesemua penggunaan perkataan akal dalam ayat-ayat di atas kita dapat membuat beberapa kesimpulan tentang pandangan al-Qur’an tentang akal. Pertama akal yang dimaksudkan al-Qur’an bukan sahaja sekadar instrumen naif yang neutral dan lebih cenderung kepada perkara-perkara yang menjauhi agama. Sebaliknya akal, tekan al-Quran, pada asalnya memang mempunyai fitrah yang baik, malah menjadi sumber kebaikan dan mempunyai fitrah yang mengakui kebesaran Tuhan. Kedua, al-Qur’an juga tidak melihat fungsi akal yang hanya kepada fungsi akal nazari (discursive reasoning) yang terbatas kepada fungsi penta'kulan secara rasional sahaja, akan tetapi juga terlibat dengan usaha menanggap makna-makna yang lebih mendalam terutama dalam aspek-aspek kerohanian dan keagamaan.

Takrifan Akal Menurut Ahli Bahasa

Hakikat bahawa akal ini perlu difahami dengan fahaman yang luas seperti yang digambarkan al-Qur’an juga mempengaruhi pentakrifan sarjana-sarjana bahasa muslim mengenai akal. Ibn Manzur, seorang sarjana Muslim kelahiran Mesir abad ke-14 yang begitu tersohor dengan kitabnya Lisan al-Arab, mentakrifkan akal sebagai al-hajr atau al-nahy yang bermaksud 'menahan atau menegah'. Akal, menurut takrifan ini berfungsi mengikat maklumat-maklumat yang diterima melalui pancaindera insan. Perkataan ini asalnya merujuk kepada perlakuan mengikat kaki unta bagi menahan dan menegahnya dari berjalan ('aqalta ba’ir 'idha jama’ta qawa’imaha). Sementara orang yang berakal, menurut Ibn Manzur ialah seorang yang menghalang dan memalingkan dirinya dari hawa nafsunya (alladhi yahbisu nafsahu wa yarudduhu 'an hawahu).

Seorang lagi pakar bahasa yang terkenal dengan kitabnya al-Ta'rifat, Muhammad Ali al-Jurjani juga berkongsi penekanan yang sama apabila beliau mantakrifkan akal sebagai "satu unsur yang berlainan dari benda (jawhar) akan tetapi berkaitan dengan benda dalam aktivitinya… ia juga adalah jiwa natiqah yang dirujuk oleh setiap orang apabila mereka mengatakan 'aku'... juga membawa makna cahaya di dalam hati yang mengetahui yang haq dan yang batil (nurun fi al-qalb ya’rifu al-haq wa al-batil) ... yang menghalang manusia dari menyimpang ke jalan yang buruk (yamna' dhawi al-uuqul min al-‘udul 'an su' al-sabil)". Jelas bahawa nilai-nilai kerohanian yang menjangkau peranan akal sebagai alat berfikir secara rasional, yang disentuh oleh sarjana-sarjana di atas adalah merupakan nilai-nilai tambahan yang pertekankan oleh Islam. Nilai ini cukup penting kerana ia sudah mula terhakis dari takrifan dan kefahaman mengenai akal dalam perkembangan sains dan falsafah moden barat sekarang ini.

Makna Akal Menurut al-Ghazali dan Hubungannya dengan Akhlak

Pandangan bersepadu al-Qur’an dan ahli bahasa tentang akal mungkin dapat diperjelaskan lagi dengan melihat huraian Imam al-Ghazali mengenai akal dalam kitabnya Ihya' 'Ulum al-Din. Beliau telah memberikan empat makna utama perkataan akal. Pertama, akal sebagai satu sifat atau pembawaan tabii (gharizah) yang membezakan antara manusia dan hidupan lain dan juga yang membolehkannya (manusia) untuk menerima ilmu-ilmu berbentuk pemikiran dan spekulatif ('ulum nazariyyah) dan menguasai perkara-perkara abstrak. Kedua, akal membawa makna ilmu-ilmu daruri yang datang kepada kanak-kanak yang sudah mula boleh berfikir seperti ilmu tentang mungkin dan mustahilnya berlaku sesuatu perkara (jawaz al-ja’izat wa istihalat al-mustahilat). Ketiga, akal bermakna ilmu yang didapati melalui pengalaman sepanjang berlalunya masa. Makna yang keempat ialah akal merupakan keadaan dimana terdapat satu kekuatan yang terbina bagi membolehkan seseorang insan mengetahui akibat dari pelbagai perkara dan berasaskan dari itu beliau mengawal hawa nafsunya dari menuju kepada kenikmatan duniawi yang serba sementara.

Pembahagian Imam al-Ghazali ringkas tetapi cukup signifikan dalam memahami makna akal. Beliau bukan sahaja memberikan makna-makna utama akal, akan tetapi menjelaskan lagi kaitan antara makna-makna tersebut dan secara keseluruhannya ia sebenarnya melambangkan satu bentuk peningkatan dalam perkembangan akal manusia. Dua makna yang pertama wujud secara tabii dalam diri manusia sementara dua yang akhir merupakan sesuatu yang dicapai melalui daya usaha manusia. Makna yang pertama merupakan asas, akar dan asal kepada makna-makna yang lain. Sementara makna yang kedua dan ketiga merupakan hasilan dari makna yang pertama. Manakala makna yang terakhir merupakan natijah yang juga merupakan matlamat akhir kepada kewujudan manusia.

Berdasarkan pembahagian di atas, jelas bahawa akal, walaupun pada asasnya merupakan satu fakulti tabii yang dicipta oleh Allah dalam diri manusia, akan tetapi selepas berlakunya proses penanggapan dan perolehan segala bentuk ilmu dan pengalaman, matlamat akhirnya ialah supaya akal dapat bertindak sebagai raja bagi mengawal hawa nafsunya dari membawa manusia ke jalan kebinasaan. Peringkat terakhir ini menurut al-Ghazali merupakan penjelmaan yang tertinggi dan terbaik manusia yang berakal. Ia, jelas beliau, adalah hasil kejayaan akal amali manusia mentadbir kesemua fakulti jasadnya berdasarkan arahan dan kawalan dari akal nazarinya. Ia juga menggambarkan kesempurnaan sifat insan yang telah menggabungkan antara ilmu dan amalnya dan akhirnya mencapai keadilan yang menyeluruh diri sakhsiyyah manusia. Dengan memasukkan ilmu-ilmu yang didapati melalui pengalaman (experience) ke dalam makna akal, Imam al-Ghazali juga ingin menegaskan bahawa Islam tidak memisahkan secara dualisme antara ilmu rasional dan ilmu pengalaman (experimental knowledge) sebagaimana yang berlaku di dalam tradisi sains barat yang mempunyai pendekatan either or antara pendekatan rationalism dan empiricism.

Implikasi Akhlak

Pembahagian di atas juga, jika diteliti telah membawa kesimpulan bahawa walaupun akal pada awalnya hanya dilihat sebagai salah satu fakulti psikologi manusia akan tetapi penggunaan dan pemeliharaannya akhirnya akan membawa implikasi akhlak yang penting. Ini selari dengan perbahasan ahli-ahli falsafah moral Islam yang melihat bahawa empat sifat-sifat keutamaan manusia (al-ummahat al-fadha'il) iaitu kebijaksanaan (hikmah), keberanian (shaja’ah), kesucian diri (‘iffah) dan keadilan (‘adalah) timbul dari skima psikologi manusia. Sifat kebijaksanaan (hikmah) timbul dari jiwa natiqah (akali) manusia sementara sifat keberanian (shaja’ah) timbul dari jiwa haiwaniyyah (kehaiwanan), kesucian diri (iffah) timbul dari jiwa nabatiyyah (tumbuh-tumbuhan) dan akhirnya keadilan (‘adalah) sebagai kemuncak sifat-sifat keutamaan merupakan sifat yang terhasil dari gabungan ketiga-tiga unsur yang lain.

Bagaimana sifat-sifat ini boleh terbentuk? Di dalam tiga jiwa ini wujud tiga kekuatan iaitu kekuatan akal pada jiwa natiqah, kekuatan marah (ghadab) pada jiwa kehaiwanan dan kekuatan shahwat (shahwah) dalam jiwa tumbuhan. Maka dari kesempurnaan pemeliharaan jiwa natiqah timbulnya sifat kebijaksanaan, kesempurnaan jiwa haiwaniyyah timbul sifat keberanian dan dari kesempurnaan jiwa nabatiyyah timbul sifat kesucian diri, sementara sifat keadilan merupakan hasil dari ketiga-tiganya.

Yang menjadi penekanan kita di sini ialah sifat hikmah yang timbul dari penjagaan akal yang sempurna. Sifat ini menurut sarjana akhlak Islam merupakan sifat pertengahan yang timbul sekiranya akal digunakan dengan betul tidak berlebihan dan tidak berkurangan. Sebaliknya sekiranya ia digunakan tanpa sebarang ikatan dan panduan akan menimbulkan sifat jahat, pembujuk penipu dan penghelah. Sementara jika kurang digunakan akan menimbulkan sifat degil, bodoh tolol dan pandir.

Sifat kebijaksanaan ini juga akan melahirkan sifat-sifat murni yang lain seperti berwawasan, ingatan yang baik, fikiran yang cerdas dan tajam pandangan batinnya. Tambahan dari itu, Murtada Zabidi ketika menghuraikan Kitab Ihya' Imam al-Ghazali tentang tajuk kemuliaan akal, telah menyenaraikan sebanyak 27 sifat-sifat mulia yang merupakan kesan-kesan positif (tawabi’) akal.

Hubungan Akal dengan Qalb, Ruh -dan Nafs

Seperti yang disentuh sebelum ini al-Qur’an tidak memberikan makna yang sempit kepada akal. Dalam memahami maksud akal terutama yang terdapat di dalam al-Qur’an, di sana ada beberapa perkara lagi selain dari akal yang wujud di dalam diri insan terutama dalam hubungannya dengan ikatannya terhadap dengan Tuhan seperti qalb dan ruh atau nafs. Maka penting untuk ditegaskan di sini bahawasanya Islam, sebagaimana yang diungkapkan oleh Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas, melihat bahawasanya di sana ada satu kesatuan antara yang dinamakan 'aql, ruh, qalb dan nafs. Keempat-empatnya merujuk kepada unsur rohaniah manusia vis-a-vis jasad dan sehubungan dengan itu unsur inilah yang dimaksudkan oleh al-Ghazali dalam makna pertama akal yang telah kita bincangkan sebelum ini. Keempat-empat perkara ini adalah entiti yang sama dan hanya berbeza dari segi fungsi kedudukannya (ahwal). Ketika ia terbabit dengan proses berfikir dan menanggap ia di namakan ‘aql, sementara ketika ianya sedang mentadbir jasad ia dinamakan nafs, ketika ia sedang menerima iluminasi yang bersifat ilham ia dinamakan qalb dan ketika ia kembali kepada unsur abstraknya yang tersendiri ia dinamakan ruh.

Keempat-keempat aspek ini, yang juga merupakan lokus kepada ilmu, perlu dilihat sebagai satu yang tidak terpisah antara satu sama lain. Oleh kerana itulah al-Qur’an, misalnya, kadangkala mengaitkan orang yang mempunyai hati (lahum qulub) dengan perbuatan berfikir (la yafqahuna biha), menyamakan antara orang yang tidak berakal (la ya’qilun) dengan orang yang tidak mendapat hidayah (la yahtadun), dan menisbahkan tugas zikir (dhikrukum) dan taqwa (yattaqun) kepada akal .

Hakikat ini, di samping menegaskan mengenai pendekatan tawhid yang begitu penting dalam Islam, juga membawa dampak epistemologi terutama dalam hubungannya dengan falsafah sains dan keilmuan di dalam Islam. Maknanya seseorang muslim tidak terikat, atau tidak boleh memisahkan antara satu daripada empat aspek jiwa insan yang disebutkan tadi dengan aspek yang lain dalam usaha mendapatkan ilmu. Ilmu, sama ada berbentuk kognitif, empirikal, intuitif atau kerohanian kesemuanya merupakan proses yang sah di dalam Islam.

Legitimasi Akal Sebagai Sumber Ilmu

Akal merupakan sumber ilmu. Perumpamaannya dengan ilmu adalah seperti buah yang terbit dari pohon, seperti sinar yang muncul dari mentari dan seperti penglihatan yang terhasil dari mata. Oleh kerana itulah keutamaan akal seolah seperti tidak perlu dihujahkan (superflous) kerana ia memang sudah menjadi sumber kepada sesuatu yang mulia. Namun hakikat bahawa akal sebagai satu sumber ilmu yang sah ini tidak diambil mudah oleh sarjana-sarjana Islam. Sehubungan dengan perkara di atas, para mutakallimun (ahli teologi Islam), dalam membicarakan soal aqidah, dari awal-awal lagi menegaskan bahawa akal merupakan salah satu saluran ilmu yang benar (the true channel of knowledge). Abu Hafs 'Umar Najm al-Din al-Nasafi (m. 1142M), salah seorang ahli fikih Hanafi dan mutakallim mazhab Maturidi yang terkenal menulis dalam kitabnya 'Aqa’id bahawa:

“saluran ilmu (asbab al-'ilm) itu ada tiga iaitu pancaindera yang lima (al-hawass al-khamsah), perkhabaran yang benar (al-khabar al-sadiq) dan akal... apa yang sabit dari akal dengan cara tanpa penjelasan (badihah), maka ia adalah ilmu yang pasti menurut akal (daruri) seperti ilmu bahawasanya keseluruhan sesuatu perkara adalah lebih besar dari bahagiannya (anna kulla shay’in a’zam min juz’ihi). Sementara apa yang sabit dengan cara menggunakan dalil, maka itu dinamakan ilmu capaian (iktisabi) seperti ilmu tentang kewujudan api apabila melihat asap.”

Pensabitan akal dan juga sumber-sumber lain sebagai sumber ilmu ini sangat penting untuk disabitkan sebagai sebahagian dari aqidah Islam terutama dalam menghadapi dan menangkis hujahan-hujahan golongan yang menisbikan ilmu pengetahuan dan meletakkan realiti semua perkara sebagai subjektif. Golongan ini timbul sepanjang sejarah kehidupan manusia, bermula seawal zaman Yunani Greek yang terkenal dengan golongan Sophist sehinggalah zaman sekarang dengan pelbagai nama seperti skeptisism, nihilism dan hedonisme. Dalam penghujahan mereka, mereka cuba menafikan keupayaan manusia mendapatkan ilmu, menidakkan keyakinan terhadap ilmu serta menisbikan nilai-nilai kebenaran yang mutlak termasuk nilai-nilai keagamaan dan kerohanian yang sudah di dibuktikan benar oleh ulama-ulama mu'tabar.

Hubungan Akal dan Wahyu

Hubungan antara keduanya seharusnya dilihat lebih bersifat simbiosis, saling memerlukan daripada bersifat konfrontasi dan dipertentangkan. Ini kerana al-Qur’an diturunkan kepada manusia yang mempunyai akal dan dengan akal manusia jualah yang akan menanggap, memahami dan meneliti segala isi kandungan al-Qur’an. Pandangan yang meletakkan bahawa wahyu lebih tinggi dari akal adalah betul dari segi akal tidak mampu untuk menjangkau beberapa hakikat yang telah diturunkan melalui wahyu seperti hakikat sebenar Ketuhanan pada ZatNya, hakikat perkara-perkara ghaib dan beberapa dasar akhlak dan perundangan Islam. Akan tetapi akal juga adalah sangat penting dalam konteks memahami aspek-aspek lain yang terdapat pada wahyu termasuk untuk menjustifikasi kebenaran perkara-perkara yang ghaib tadi. Oleh kerana itulah Imam Fakhr al-Din al-Razi ketika membicarakan persoalan dalil akli dan naqli, meletakkan sepuluh syarat akliyah untuk menerima sesuatu khabar wahyu sebagai satu yang membawa keyakinan. Dalam konteks penerimaan hadis sebagai sumber hukum Islam pula, Ibn al-Jauzi, sepertimana yang dipetik oleh Jalal al-Din al-Suyuti, telah mengatakan mengenai hadis paisu, bahawa “sekiranya kamu menjumpai satu hadis yang bertentangan dengan akal, atau bertentangan dengan sesuatu yang disepakati dikhabarkan secara betul atau bertentangan dengan prinsip yang telah diterima, maka ketahuilah bahawa hadis itu adalah palsu".

Keyakinan terhadap keintiman hubungan akal dan wahyu ini jugalah yang mendorong Ibn Rushd menulis kitabnya Fasl al-Maqal ma bayna al-Shari’ah wa al-Hikmah min al-Ittisal. Di dalamnya, beliau bukan sahaja menjustifikasi kesahihan akal yang diwakili oleh disiplin falsafah atau hikmah, sebagai jalan yang sahih untuk manusia sampai kepada hakikat sesuatu, malah beliau juga, melalui dalil-dalil akal dan juga dalil dari al-Qur’an, sampai kepada kesimpulan bahawa Al-Qur’an mewajibkan penggunaan falsafah untuk mencari kebenaran.

Malah sekiranya kita meneliti sejarah perkembangan ilmu-ilmu Islam, peranan akal sememangnya telah mendasari pertumbuhan sebahagian besar ilmu-ilmu Islam seperti ilmu mantiq, falsafah, ilmu kalam, usul al-hadith, ulum al-Qur'an dan usul fiqh. Ilmu-ilmu ini tidak lain merupakan kupasan dan huraian ulama-ulama mu'tabar terdahulu, melalui kesungguhan ijtihad dan keupayaan akal mereka, mengenai apa yang terdapat dalam wahyu iaitu al-Qur’an dan Sunnah. Mereka menganalisa, membanding, menginstinbat hukum-hukum dan peyataan-penyataan di dalam sumber wahyu ini lantas merangka, mengkategori dan menyusun mereka dalam disiplin-disiplin ilmiah yang pelbagai. Kekayaan khazanah keilmuan yang terjelma dalam bentuk ratusan disiplin ilmu jutaan kitab-kitab merupakan hasil kekuatan kehalusan dan kejernihan akal sarjana-sarjana Islam silam. Apa erti ilmu kalam kalau bukan pengukuhan dan pensabitan aqidah Islam dalam bentuk akliyah?

Fahaman Sekular Barat yang Mengancam Pandangan Tawhid mengenai Akal

Sebagaimana yang telah disebutkan tadi Islam menilai akal dengan pandangan yang luas dengan melebarkan spektrum peranannya serta mengaitkannya dengan soal-soal kerohanian. Akan tetapi disebabkan serangan sekularisasi yang cukup hebat dari tamadun ilmu barat nampaknya fahaman tentang akal telah mula dipengaruhi oleh pendekatan sekular barat yang cukup berpengaruh terutama sekali dalam disiplin-disiplin falsafah dan sains pada zaman moden ini. Dalam kesempatan yang terbatas ini kita akan melihat dua ancaman utama yang dibawa oleh peradaban barat mengenai kedudukan akal; pertama pemisahan antara intelek dan akal rasio di barat dan yang kedua penyingkiran aspek kerohanian akal dalam disiplin-disiplin moden.

Pemisahan antara lntellectus dan Ratio

Dari sudut sejarah, setelah falsafah Yunani aliran Aristotle meresap masuk ke dalam agama Kristian yang akhirnya menjadi agama rasmi kerajaan Rumawi pada zaman pertengahan, maka agama Kristian telah mula didominasi dengan pendekatan rasionalisme tulin yang terpengaruh dengan pendekatan yang menjadikan alam benda sebagai asas ilmu dan kebenaran (naturalism). Pendekatan ini telah mencabar kefahaman falsafah Yunani yang telah berakar umbi sebelum itu yang berpandangan bahawa alam ini dipengaruhi dan penuhi dengan unsur-unsur kerohanian dalam bentuk tuhan-tuhan dan kuasa-kuasa rohaniah yang lain. Maka berlakulah pertentangan antara aliran ini yang memberikan penekanan mereka terhadap peranan intellectus iaitu fakulti yang membolehkan manusia mentafsir makna-makna rohaniah dari alam tabi'i dengan aliran teologi Kristian pengaruh Aristotle yang menekankan lebih kepada peranan akal rasio yang lebih bersifat saintifik, rasional dan natural.

Hasil dari konfrontasi ini, nampaknya pendekatan yang berpihak kepada penggunaan akal rasio yang diungguli oleh Thomas Acquinas nampaknya lebih mendominasi dan akhirnya teologi Kristian sedikit demi sedikit mula menolak peranan intelek sebagai sumber ilmu mengenai kebenaran-kebenaran rohaniah, di masa yang sama, secara ironisnya, menuntut kepercayaan totok dari penganutnya bukan melalui akal tetapi menggunakan emosi sebagai asas kepercayaannya.

Pemisahan secara dualisme antara intellectus dan ratio ini akhirnya telah menyebabkan peranan akal di dalam sejarah intelektual barat lama kelamaan telah disempitkan hanya kepada akal rasio sahaja justeru menambahluaskan lagi jurang pemisah antara manusia barat dengan kebenaran-kebenaran rohaniah. Yang lebih parah, tamadun barat, dibawah panji-panji sains moden telah menyeret bersama-samanya mereka dunia lain untuk akur kepada pemisahan ini dengan menegaskan bahawa pendekatan akal rasio sahajalah yang sebenarnya satu-satunya kriteria rasionaliti yang menjadi dasar kepada semua sains dan disiplin ilmu.

Menyedari bahaya fahaman ini, terutama terhadap masyarakat Islam, Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas menekankan sifat kesatuan Islam dalam melihat peranan akal dalam Islam dengan menegaskan:

"What is considered rational in Islam does not merely pertain to mind's systematic and logical interpretation of the facts of experience or it's rendering intelligible and manageable to reason the data of experience; or it's abstraction of facts and data and their relationship; or the grasping of nature by the mind, and the lawgiving operation the mind renders upon nature. Since reason is a projection of the intellect, it functions in conformity with the intellect, which is the spiritual organ of cognition known as heart (al-qalb). Hence the understanding of spiritual realities is also within the province of reason and is not necessarily divorced from rational understanding of them.

Penafian Terus Fitrah Kerohanian (Immateriality) Akal

Sementara ancaman pada peringkat yang lebih buruk lagi ialah pengaruh yang dibawa terutama sekali oleh psikologi moden telah berusaha untuk menyempitkan fitrah akal hanya sekadar sebagai unsur fizikal. Usaha ini yang menurut Mortimer J. Adler didasari oleh aliran metaphysical materialism ciptaan Descartes dan ahli falsafah dualisme awal yang lain telah begitu mengakar di dalam disiplin-disiplin sains di barat. Manusia, mengikut aliran ini hanyalah berbeza dengan hidupan-hidupan lain hanya dari segi darjah bukan jenis (different in degree not in kind).

Garis pemisah antara pemikiran yang berbentuk tanggapan (perceptive thought) yang dikongsi oleh manusia dan haiwan lain dengan pemikiran berbentuk konseptual (conceptual thought) yang hanya dimiliki oleh manusia, bukan sekadar sudah dikaburkan malah dihilangkan terus dari kamus psikologi barat. Ini sekaligus menafikan kewujudan roh, keunikan daya intelek manusia dan juga perbezaan yang dipunyai oleh manusia terhadap haiwan yang merupakan postulat-postulat yang telah diasaskan oleh agama. Namun asas-asas ini sudah mula runtuhkan sehingga menyebabkan manusia dalam konteks kosmologi barat sudah tidak lagi menjadi suatu konsep yang sentral. Yang lebih buruk lagi, aliran merendahkan nilai insan ini bukan sahaja berpengaruh dalam bidang psikologi, akan tetapi telahpun merebak dalam disiplin-disiplin penting lain dalam sains barat seperti fizik, falsafah, sejarah.

Maka, cabaran yang besar yang mendepani ahli psikologi muslim khususnya ialah mengembalikan kefahaman sebenar masyarakat mengenai hakikat insan berdasarkan kepada sumber-sumbernya yang berwibawa, sekaligus mereka juga perlu berperanan besar untuk menangkis teori-teori psikologi moden yang amat membimbangkan ini. Sememangnya tugas ini berat lebih-lebih lagi apabila sebahagian besar institusi-institusi pengajian tinggi dinegara Islam mengambil secara borong teori-teori dalam bidang sosial sains termasuk psikologi dari tamadun ilmu barat sebagaimana yang luahkan oleh Prof. Malik Badri,

"At the academic level, in the field of the social sciences, this phenomenon of unadapted wholesale copying is most clearly illustrated. Theories and practices which are largely the product of Judaeo-Christian Western civilization have had long tenure and have dominated the social science departments of universities in Muslim countries. In addition to this, the press, radio and television have helped to established these alien concepts among the muslim masses."

Penutup

Berdasarkan analisa ringkas, amat tidak adil untuk mengatakan bahawa Islam merendahkan kedudukan dan peranan akal. Masyarakat Islam pula tidak ada alasan untuk tidak cemerlang dalam disiplin-disiplin yang berasaskan akal sama ada dalam bidang agama mahupun dalam sains dan teknologi. Kelemahan masyarakat Islam dalam bidang sains dan teknologi bukan sekadar kerana mereka dijajah, ditindas atau tiada kuasa polifik dan ekonomi, akan tetapi yang paling penting kerana mereka gagal untuk menghayati tuntutan dan saranan al-Qur’an mengenai kewajipan memelihara dan menggunakan akal mereka dengan sebaiknya. Generasi awal Islam yang terdahulu telahpun berjaya menterjemahkan motivasi Al-Quran mengenai ketinggian dan kelebihan akal dengan pembinaan sebuah tamadun ilmu dan kiblat ilmu pengetahuan yang cukup gemilang sehingga dapat bertahan sehingga hampir seribu tahun. Kini tanggungjawab mengulangi tamadun gemilang ini sudah pastinya terpikul dibahu mereka yang berakal di kalangan umat. Wallahu a'lam.

ADAB DAN TA’DIB: MASALAH DALAMAN KAUM MUSLIMIN DAN BEBERAPA ISU PENDIDIKAN Islam

By: Mohd Sani Badron

Biimillaahirrahmaanirrahiim

Masalah dalaman kaum muslimin ini merupakan satu tajuk yang kerap dibincangkan. Terdapat juga ebebrapa buku khusus yang membincangkan mengenai kaum muslimin ini. Dan salah satunya ialah sebuah buku yang ditulis oleh Shakir Aslan yang membincankan kenapa kaum muslimin mundur sedangkan bangsa-bangsa yang lain maju. Buku ini sebenarnya ditulis sebagai satu respon dan tanggapan kepada satu soalan yang ditujukan oleh satu ulama baru yang berasal dari kalimantan, sheikh Imran. Jadi, Shakib Arslan yang dikenali sebagai raja penyair arab menjawab surat itu dengan menulis panjang dan kemudian dibukukan. Dan Said Abul Hasan Nadwi ada menulis satu buku yang membincangkan tentang kerugian dunia akibat dari kemunduran muslimin. Jadi apabila kita membincangkan tentang masalah dalaman kaum muslimin ini, Ilmuan Islam lah yang paling banyak berjasa kerana ia nya menyedarkan kita bahaw akita harus percaya kepada diri sendiri, tidak boleh kucar-kacir, harus ada optimisma dan sebagainya. Tetapi jika membincangkan masalah ini secara umumnya, ada semacam kecenderungan untuk mengkritik ulama yang silam, tradisi pemikiran dahulu kala, mazhab umpamanya dan tasawwuf dan tariqat secara keseluruhan. Dan ini menurut Prof Syed Naquib al-Attas merupakan satu kesialapan besar dan meruapakan sesuatu yang tidak perlu kita buat untuk mengatasi masalah kemunduran kaum muslimin. Untuk mengatasi masalah keterbelakangan kaum muslimin ini, kta tidak perlu menyerang mazhab, tasawwuf atau tariqat secara keseluruhan dan sepatutnya analisa kita lebih halus dan jalan penyelesaian yang kita lakukan lebih tepat dan sepatutnya apa yang kita buat itu dengan pandangan-pandangan yang lebih tajam daripada menyerang secara ‘borong’ atau menyalahkan secara keseluruhan. Sebab itu beliau menamakan Islam and Secularism ini sebagai satu dilema. Jika kita melihat kepada perkataan dilema itu sendir, kadang-kadang ianya menterjemahkan sebagai serba salah maksudnya satu keadaan yang cukup sukar menyebabkan kita merasa buntu.

Apabila kita hendak menyelesaikan tentang masalah ini, kita boleh mengatakan ianya datang dari dua jurusan iaitu luaran dan dalaman dan keduanya itu tidak boleh dipisahkan umpama duit syiling yang kita tidak boleh potong belahnya tetapi boleh dibezakan. Punca luaran itu ialah pertembungan dalam sejarah antara Islam dan kebudayaan dan peradaban barat yang mana kalau kita boleh bahagikan, pertembungan mengenai agama oleh kerana agama Kristian juga merupakan satu satunya agama selain daripada agama Islam yang mendakwa bahawa ia adalah agama yang mempunyai sifat yang universal. Agama yang lain tidak mendakwa ianya bersifat universal tetapi bersifat kebangsaan dan perkauman umpama agama hindu hanya untuk orang hindu dan agama cina dan tata ciri-ciri keagamaan seperti ancestor worship menyebabkan agama lain tidak boleh memeluk agama cina nelainkan agama kristian dan sebab tu katolik bermakna universal sebenarnya. Kemudian, kita lihat setelah Islam datang, pertembungan itu berlaku dalam bentuk ketenteraan seperti peperangan salib, colonialisma dan sebagainya. Dan sekarang ini, pertembungan itu lebih bersifat ilmu, espitologi, pendidikan atau sistem pendidikan-universiti. Masalah luaran kaum muslimin ini boleh dibahagi kepada dua; iaitu permukaan dan dasaran. Masalahnya sekarang apabila ada orang yang menganalisakan masalah ini, ada yang menyalahkan secara mutlak menyalahkan mazhab, tariqat, tasawwuf dan ada pula yang menyalahkan kepimpinan. Walaubagaimanapun menurut pandangan prof. Al-attas, penyelewengan kepimpinan ini, walaupun ianya sangkaan yang betul, ia adalah masalah yang bersifat luaran yang sebenarnya berpunca dari masalah sumber iaitu masalah dalaman. Bermakna masalah kepimpinan ini adalah berpunca dari masalah dalaman atau masalah yang mengakar. Menurut prof al-attas, jika kita hendak menyatukan dalam satu frasa, apakaha masalah umat Islam kita ini, kita boleh mengatakan ianya masalah keruntuhan adab. Cumanya apabil akita mengatakan, masalah kita ialah asalah keruntuhan adab, kita kena faham di sini ialah makna adab di sini bukan etika atau bukan sekadar sopan santun kepada tua-tua atau sebagainya. Sebabnya bila kita melihat makna adab ini dalam konteks Islam, ianya luas maknanya. Kita boleh mengatakan dengan ringkas bagahawa adab ini ialah perlakuan yang tepat perilaku yang betul, peramalan yang benar dan perbuatan yang baik dalam semua keadaan. Jadi jika kita kata ianya perlakuan yang tepat maka ianya berkaitan dengan ilmu dan amal, teori dan praktis dan pengetahuan dan perbuatan. Maksudnya, kita kena tau dahulu apa yang tepat dan kemudian kita lakukan dan sebagainya. Perbincangan Prof al-Attas mengenai perbincangan mengenai masalah adab ini merupakan perbincangan yang agak rumit tetapi saya kira jika kita melihat contoh-contoh ini sebagai satu gambaran yang lebh menyeluruh menjadikan lebih mudah faham. Sepertimana yang kita tahu bahawa manusia ini mempunyai dua aspek dalam kehidupannya, iaitu, aspek kehaiwaniyyah iaitu lebih cenderung kepada dirinya melupa akan janjinya kepada Allah manakala yang kedua itu ialah berisfat kerohaniiyah atau aqliah yang lebih kepada melakukan janjinya terhadap Allah S.W.T. Jadi di sini, jika aspek yang kedua iaitu yang bersifat aqliah itu dapat mengalahkan aspek yang pertama, maka bermakna manusia itu mempunyai adab terhadap dirinya sendiri. Begitu juga sesama manusia, umpamanya kepada kedua orang tua kita, kita bersifat jujur atau merendah diri, menghormatinya dan sebagainya maka itu dikatakan sebagai adab kepada orang tua, masyarakat, keluarga dan umpamanya. Begitu juga dengan bahasa, jika menggunakan bahasa di tempat yang betul yang menghasil kan makna atau ayat yang betul, itu merupakan adab kepada bahasa. Jika berunsur kepada alam persekitaran dan ala tabi’i seperti pokok dan batu, sungai, lembah dan tasik dan haiwan dan habitatnya, jika kita menmpatkannya kepada tempat yang betul sehingga ia merasakan harmoni dan enak, maka itu merupakan adab kita kepada alam dan persekitarannya. Begitu juga dengan ilmu, jika kita imbangkan dua ilmu, fard dan kifayah dan kita meletakkan ia ke tempat yang sesuai maka itu adab kepada ilmu. Kita juga boleh mengembangkan contoh itu kepada beberapa perkara lagi. Adab kepada allah ialah ibadah kepada Allah.

Jika kita berdasarkan kepada contoh-contoh itu tadi, kita boleh lihat umat Islam kita sendiri macamana alam sekitar umat kita dan macamana unsur-unsur alam itu, macamana bangunan-bangunan umat Islam, rumahtangga, diri kita sendiri. Dan kita juga boleh sukat bagaimana kukuh umat kita. jadi adab ini, jika kita berdasarkannya kepada contoh-contoh tadi ianya bermakna menempatkan sesuatu kepada tempat yang benar iaitu keadilan. Jadi, jika kita kata bahawa adab itu sudah runtuh, maka itu bermakna itu membayangkan keruntuhan keadilan, dan itu pula membayangkan bahawa ilmu-ilmu itu keliru. Sebagai contoh, untuk membezakan antara kucing dan harimau mudah untuk kita bezakan, tetapi jika membezakan antara kucing dan kucing hutan umpamanya, di situ kita mudah keliru kerana di situ semacam campur begitu juga dengan duit betul dan duit palsu. Dan apabila ilmu itu telah keliru dan adab itu telah runtuh, maka kita tak akan kenal lagi siapa yang sepatutnya yang memimpin kita kerana seorang pemimpin itu merupakan orang yang laing layak dari segi ilmunya, akhlaqnya, rohaniyahnya, aqalnya dan sebagainya. Maka apabila ilmu itu telah keliru kita akan tersilap memilih pemimpin dan menaikkan pemimpin yang kurang layak atau yang tidak layak. Dan pemimpin ini pula, untuk meneruskan pimpinannya, dia akan meneruskan dan menggunakan ilmu yang kekeliruan itu dan keruntuhan adab untuk meneruskan pemimpin yang seperti dia. Jadi, masalah kepimpinan adalah dari pada keruntuhan adab dan masalah keruntuhan adab pula adalah daripada kekeliruan ilmu. Dan ini seolah-olah si pemimpin itu akan membuat semacam vision circle supaya pelapis nya itu adalah orang-orang yang seperti nya. Dan untuk memutuskan vision circle ini, haruslah dengan peradaban terhadap ilmu-ilmuan Islam iaitu haruslah menghormati dan tawadduk atau merendah diri kepada ilmu Islam. Jika kita melihat kepada adab kepada ilmu Islam ini, masalah yang kita nampak ialah menyakan taraf autoriti ilmu Islam dengan sesiapa. Memang setiap manusia itu tarafnya sama tetapi dari segi darjat atau martabatnya itu berbeza sepertimana di dalam al-Quran (Inna akramakun ‘inda Llah atqaakum..) = sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu itu itu ialah yang bertaqwa kepada Allah S.W.T.

Untuk melihat masalah autoriti ilmu ini, kita boleh melihat dari lilin. Lilin ini dibuat daripada lemak yang sama dan semuanya mengeluarkan api tetapi jika kita melihat dari segi fizikalnya, ianya berbeza dan juga dari segi yang dinyalakan juga berbeza. Jika kita melihat dari kisah Nabi Adam, Malaikat juga ada tunduk kpeada Nabi Adam tetapi maksud nya di situ bukan lah kerana malaikat itu menyembah nabi adam tetapi sebagai menunduk perintah Allah tetapi iblis melihat kepada jasadiyyah dan tanah liat yang mengakibatkan iblis enggan untuk tunduk dn itu mengakibatkan mereka kufur kepada allah S.W.T. Jadi untuk melihat autoriti ilmu ini, pertama kita haruslah menghormati Rasulullah S.A.W, para anbiya’, para mursalin, para mujtahid dan seterusnya. Bila kita menyebut tentang darjat atau martabat ini, kita menfikan sistem darjat rekaan manusia. Jadi, akibat dari penyamaan autoriti ilmu ini, kita lihat pelbagai masalah timbul umpamanya al-quran itu disamakan dengan buku-buku yang lain sedangkan dalam tradisi kita, kita tidak menyamakannya dengan kitab atau buku-buku yang lain dan alquran itu bagi kita ialah kalaamuLlah. Dan apabila kita melihat al-Qurtubi bercakap mengenai adab kepada alQuran, dia telah mneyebutkan hampir 40 adab kepada al-Quran dan bagi kitab atau buku lain kita tidak ada adab semacam itu dan maka itu menunjukkan bahawa alQuran itu mempunyai darjat atau martabat dan tempat yang tersendiri di dalam pemikiran dan sikat kita. manakala, bagi al Ghazali pula, apabila beliau menyebut tentang adab kepada al Quran ini, beliau ada menyebut antara 20 adab iaitu 10 adab zahir dan 10 adab batin kepada alquran. Maksudnya hingga sebegitu sekali ulama kita pada zaman dahulu membezakan al quran itu dengan buku-buku yang lain. Begitu juga apa yang kita nampak pada zaman kita, Islam itu disamakan dengan agama-agama yang lain bahawa Islam dan agama-agama lain itu semuanya baik dan benar dan begitu juga Rasulullah S.A.W itu disamakan dengan rasul atau nabi yang lain dan kemudian nabi dan rasul ini disamakan pula dengan manusia yang lain. Sebab itu apa yang kita nampak sekarang ini, sirah nabi dipisahkan dengan mukjizat nya kerana bagi penulis seperti itu mukjizat itu sepeti tidak rasional. Maksudnya, sirah nabi itu sekadar sebagai kehidupan nabi sebagai manusia biasa sehinggkana kadang-kadang kita melihat sirah nabi ini bertajuk “kehidupan muhammad” sedangkan dalam tradisi Islam, kita tidak menggunakan perkataan hayat tepai sirah kerana sirah ini bermaksud, ikutan dan teladan sebagai penunjuk kepada kita. tetapi hayat atau kehidupan ini, hayat ini berlawanan kepada kematian, jadi di sini maksudnya ianya lebih kepada hayat bilogical berbanding dengan sirah yang merupakan sebagai teladan dan ikutan bagi kita. jadi dengan menggunakan perkataan seperti itu sudah menunjukkan betapa bezanya sikap kita ini dahulu dan sekarang. Kita lihat juga kecenderungan untuk mencela para sahabat nabi dalam masalah kepimpinan umpamanya dan juga kesamaan antara hidup di dunia dan akhirat. Sebenarnya contoh-contoh ini ada berbeza nilai dan darjatnya masing-masing yang perlu kita letak pada tempat yang sebenar.

Kita nyatakan tadi terpat ilmuan dari kalngan Islam yang apabila membincangakan tentang masalah keruntuhan kaum muslimin ini banyak menyalahkan mazhab secara mutlak ataupun menyalahkan tasawwuf dan tariqat. Dan menyalahkan mazhab itu ialah menyalah kan mazhab fiqah dan aqidah juga yang mana kit akatakan perkara ini perlu kita halusi. Sebab itu al-quran dan sunnah itu sebenarnya merupakan sumber bagi para imam mazhab untuk merumuskan panduan-panduan beragama atau kita katakan sebagai usul iaitu akar. Jadi sebenarnya berdasarkan kepada garis panduan ini lah huraian-huraian selanjutnya di tambah oleh pakar-pakar dalam huraian itu sehingga berkembang dan terbinanya mazhab. Jadi maksudnya apabila kita menyebut mazhab, ianya bukan dari usaha seorang sebenarnya sebab selepasnya datang lagi orang lain untuk teliti dan halusi tentang perkara itu. Maksudnya, imam mazhab itu datang membawa satu usul atau garis panduan dan datang pula imam-imam lain yang memperhalusi tentang perkara itu. Sedangkan kalau kita bandingkan dengan pengkritik ilmu itu sebenarnya yang mengkritik lah yang lemah dari segi ilmu maksudnya tiada daya ijtihad, kehalusan penyelidikan, ketajaman pendidikan dan seumpamanya. Maksudnya si pengkritik akan mengkritik mazhab tersebut tetapi apabila timbulnya masalah, dia akan memilih juga pendapat mazhab tanpa menggunakan daya ijtihadnya sendiri. Satu perkara yang juga menimbulkan keruntuhan umat adalah di kalangan pemerintah umat Islam yang suka berperang iaitu pemerintah politik yang suka berperang sesama sendiri dan dengan peperangan ini, umat pun rosak dan kekacauan pun besar. Contohnya, timur lane, ianya berpotensi untuk menakluk Russia dan Cina pada zaman dia kerana kekuatan dan kedudukannya yang dekat dengan negeri itu, tetapi dia tidak taklukinya tetapi ia mankluk Parsi, turki, mesir dan india yang sedia Islam pada masa itu dan inilah yang mengakibat kan umat itu mundur. Dikatakan oada zaman timor lane ini, Nomad iaitu mongol sudah pun memeluki agama Islam tatepi akibat dari perbuatan timur lane itu, tetapi lebih dari 200 tahun kemudian ini, golongan nomad ini memeluk agama buddha dan 200 tahun setelah itu pula ditakluk oleh agama Russia dan Cina. Jadi dikatakan sekiranya timor lane itu meneruskan misi nya, kemungkinan besar pada zaman ini, samarkand yang akan menkaluk moscow dan bukan sebaliknya. Jika melihat pada sejarah timur lane ini juga, kita dapati sejarah negatifnya. Contohnya, pada zaman 1381, dia telah menghancurkan kota isfaran ini, pada tahun 1382 pula, dia menanam hidup-hidup 2000 tawanan perang dan melonggokkan 5000 kepala manusia menjadi menara dan dalam tahun 1386 pula, dia melempar para tawanan perang hidup-hidup dari tebing curam dan seterusnya. Sehinggakan dikatakan 25 tahun pemerintah timor lane ini sama zalimnya dengan 120 pemerintahan as-Syria.

Second session.

Bismillaahirrahmaanirrahiim.

Adab kepada ilmu, samada dari fard kifayah atau fard ain. Kita telah membincangkan tentang proses penyamarataan segala perkara, iaitu akibat dari keruntuhan adab, manusia menyatakan bahawa semua benda atau perkara itu sama. Oleh kerana kita keliru dengan ilmu dan berlaku keruntuhan adab, ini akna menyebabkan kita juga akan menyama rata kan antara dua ilmu itu iaitu fard kifayah dan fard ain. Sedangkan mengikut konteks Islam, fard ain ini dibezakan dengan fard kifayah secara umumnya tetapi tidak dipisahkan antara satu sama lain. Jika kita hanya mengambil fard ain sahaja, maka umat Islam tidak akan berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah yang sepatutnya khaira ummah dan berbeza dari umat yang lain. Jika kita hanya kifayah pula, kita akan berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah dengan bangsa lain dan kita akan hilang identiti kita sebagai umat Islam. Jika kita telah menyamaratakan diantra dua ilmu ini, maka kita sudah tiada jati diri atau identiti kita. ilmu fard ain ini bersumberkan kepada wahyu dan manakala ilmu fard kifayah ini berpandukan kepada akal fikiran. Dan umumnya, ilm fard ain ini lebih berpandukan kepada agama manakala fard kifayah pula berpandukan kepada alat yang penting. Jika kita mengatakan ilmu fard ain dan kifayah ini tidak seimbang, maka itu bermakna ilmu fard ain ini hanya terbatas kepada ilmu anak-anak dan tidak berkembang, dan fard kifayah itu pula menjadi sebaliknya dan akan terus-terusan berkembang.

Silap kita membawa makna fardhu ain boleh dilihat dari dua sudut; yang pertama ialah peringkat, maknanya biasanya orang faham bahawa ilmu fardhu ain ini hanya untuk peringkat rendah seperti kelas fardhu ain dan sebagainya. Dan apabila ilmu fardhu ain ini terbatas, maka apabila kita meningkat ke peringkat yang lebih tinggi, kita hanya lebih tertumpu kepada dunia kerana pengetahuan agama yang terbatas seperti kita akan lebih tahu tentang komputer, internet, teknologi canggih dan beberapa perkara lagi dan itulah yang dikatakan seperti tidak seimbang kerana pengetahuan mengenai perkara dunia lebih kita tahu dari pengetahuan agama. Sebenarnya ilmu fardhu aian adalah ilmu yang dinamik, cerdas dan cergas bagi menyahut cabarannya pada setiap masa dan yang sentiasa responsif pada apa sahaja keadaan. Menurut imam al-Ghazali dalam fatwanya di Ihya’ Ulum ad-deen: secara mudah kita boleh faham ilmu fardhu ain ini terbahagi kepada tiga; 1) I’tikad, 2) perbuatan yang wajib dilaksanakan dan yang ketiga ialah perkara yang wajib kita tinggalkan. Bagi perkara yang wajib dilaksanakan ini maksudnya ia berkembang pada setiap masa. Maksudnya, sepanjang mana umur seseorang itu hidup, semakin berkembang ruang lingkup ilmu-ilmunya. Jadi di sini, ilmu fardhu ain bukan hanya terbatas bagi kanak-kanak malahan kepada orang yang baligh dan orang yang sudah mempunyai tanggunjawabnya. Begitu juga dengan contoh bagi perkara yang wajib ditinggalkan itu juga dinamik, ianya juga berkembang pada diri seseorang di mana ianya berbeza pada satu keadaan dan keadaan yang lain. Maksudnya, apa yang terlepas dari kita, kita tidak wajib belajar seperti contoh orang yang bisu itu tidak perlu di ajar kepadanya supaya jangan mengumpat kerana dia sudah tentu tidak dapat mendengar. Dan apa pula yang tidak terlepas dari kita, kita wajib belajar. Perkara yang berhubung dengan I’tikad ini berkembang menurut getaran hati kita kerana hati kita ini ada kerisauan, kebimbangan, khuatir dan sebagainya terhadap perkara dua kalimah syahadah dan kadang-kadang pula timbul bid’ah atau mungkar dalam ‘aqidah. Jadi di situ akan timbul keperluan bagi ilmu fardhu ain yang berkaitan.

Kadang-kadang pula ada yang belajar ilmu fardhu ain terlalu mendalam dimana ianya tidak perlu. Sebagai contoh, dalam pembelajaran al-Quran di sekolah, ada yang mengajar pelajar-pelajar mengenai tajwid itu terlalu mendalam dengan segala madnya perlu dihafal seolah-olah pelajar itu dilatih untuk menjadi guru mengaji, sedangkan itu bukan fardhu ain bagi nya dan yang menjadi fardhu ain ialah dengan mengaji secara betul dan contoh yang lain pula seperti mengajar mengenai zakat yan terlalu mendalam sehinnga masuk bab unta di mana di negara kita ini tidak terdapat unta dan seumpamanya. Sedangkan itu bukanlah ilmu fardhu ain tambahan pula di Malaysia ada pusat pemungut zakat di mana sekiranya ada yang ingin menunaikan zakat ini boleh lah membuat urusan dengan pusat tersebut. Dan sepatutnya pelajar itu diajar mengenai kecintaan kepada Allah, sifat-sifat Allah, kenal nama-nama Allah, mencintai Rasulullah S.A.W kerana umur sebegitu lebih mudah untuk menghafal ayat-ayat al-Quran, hadis-hadis Nabi dan seumpamanya. Dan sepatutnya juga apa yang perlu ialah diajar suapaya mencintai umat Islam yang lain, diajar mengenai sejarah Islam terutama mengenai tamadun ilmu dan sebagainya kerana apabila kita telah terputus dengan sejarah Islam ini, maka kita tak akan berasa ‘izzah sebagai umat Islam. Menurut imam al-Ghazali lagi, untuk mengetahui mengenai ilmu fardhu ain Ini, kita boleh tambah dengan belajar mengenai mahmudah atau perkara mazmumah supaya kita lakukan apa yang mahmudah dan meninggalkan yang mazmumah. Beliau juga menambah tentang syurga, neraka, kebangkitan dan sebagainya. ini penting kerana jika kita lihat perkara akhirat sebagai asas, ianya menjadi etika akhlak Islam. Maksudnya dengan kepercayaan kita kepada Allah S.W.T, syurga dan sebagainya boleh menyebabkan kita mempunyai akhlak yang baik. Sebagai contoh apabila seseorang itu mahu membuat khianat ketika tiada siapa nampak, tetapi apabila dia percaya bahawa allah S.W.T itu nampak, sudah pasti itu boleh menyelamatkannya dari membuat khianat itu. Al Khawarizmi pula memerikan perspektif lain, katanya ilmu fardhu ain ini wajib ke atas setiap manusia samada masyarakat awam mahupun golongan terpilih dan tiada yang terkecuali dari ilmu fardhu ain ini. Contohnya, bagi seorang peniaga, dia harus tahu mengenai syarat-syarat mu’amalah, dia perlu tahu mengenai ilmu fardhu ain untuk mengetahui perniagaan yang diharamkan dan seumpamanya dan begitu juga bagi mereka yang ingin berumah tangga, dia perlu tahu mengenai hukum-hakam munakahat dan sebagainya. Sebagai contoh, pernah suatu ketika itu Sayidina Omar tidak dapat tidur dan apabila ditanya, katanya beliau risau sekiranya terdapat laluan di tebing sungai yang tidak elok yang boleh mengakibatkan keldai jatuh ke dalam sungai. Ini menunjukkan seorang pemerintah Islam yang memerintah dunia tidak dapat tidur hanya kerana memikirkan seekor keldai dan bukan seperti pemerintah kita pada masa kita ini yang lebih banyak memikir perkara seperti untung atau rugi nya dia.

Apabila ilmu fardhu ain dan kifayah ini tidak seimbang, kita nyatakan bahawa pemimpin kita ini lemah keIslamannya dan merbahaya. Maksud lemah di sini ialah lemah dari segi pengetahuannya sehingga tidak cukup untuk menjaga kemaslahatan ummat. Dan merbahaya pula, maksudnya ialah ilmu nya itu tidak cukup atau tidak memadai untuk menolak kejahatan itu. Ketidakseimbangan di antara dua ilmu ini juga menampakkan Islam sebagai gagal menyahut perubahan atau tentangan zaman dan maka dengan ini, Islam dianggap sebagai tidak relevan. Sebenarnya bukan salah Islam tetapi salah orang Islam yang tidak mempunyai ilmu-ilmu keIslaman yang tidak mencukupi.

Di alam melayu kita ini ada proses pemisahan contohnya, proses pemisahan bahasa melayu dan al-quran. Kita tahu bahawa bahasa melayu ini asalnya sebelum diajar kepada anak-anak, mereka diajar dahulu muqaddam. Jadi kita nampak bahwa bahasa melayu ini berakarkan dahulu dengan bahasa al-quran dan istilah-istilah yang kita gunakan banyak dari bahasa arab.

0 komentar:

إرسال تعليق

Comment here

  © Blogger template The Professional Template II by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP