Iktisar dan implikasi teoritk interaksi pendidikan anak dalam Alqur’an

الثلاثاء، 18 ربيع الآخر، 1430 هـ

Iktisar dan implikasi teoritk interaksi pendidikan anak dalam Alqur’an
oleh : Miftahul Huda


Kesimpulan

Barawal dari rumusan masalah dan diarahkan dengan perspektif teori, mengantarkan pada pemaparan data dan analisa. Pada akhirnya kajian epistemologi pendidikan anak dalam Al-Qur’a>n ini menghasilkan kesimpulan sebagai berikut:

1. Pendidikan anak dalam Al-Qur’a>n bertujuan untuk pemberdayaan spiritual anak didik melalui akidah dan syari’ah serta pemberdayaan moralitas personal dan sosial melalui pendidikan akhlak.
2. Materi pendidikan anak meliputi aspek akidah (iman kepada Allah, kitab suci, rasul), syari’ah (shalat, kurban, zakat) dan akhlak (akhlak personal meliputi berbakti kepada kedua orang tua, dan akhlak sosial meliputi berbuat baik kepada sesama manusia dalam bentuk prilaku dan tutur kata).
3. Interaksi pendidikan anak terjadi secara searah secara dogmatis melalui metode maw’iz}ah (nasehat) dan secara interaktif dengan menggunakan metode dialogis sehingga lebih terkesan demokratis karena mempertimbangkan rasional dan emosional anak didik.
4. Pendidik anak memiliki kompetensi dasar bijak, sabar, demokratis, memahami kejiwaan anak, dan intuitif (mendapat bimbingan ilahi).
5. Sifat patuh, komunikatif dan kritis anak didik mendukung keberhasilan pendidikan. Sebaliknya kegagalan pendidikan diantaranya disebabkan oleh sikap menentang anak didik dan pengaruh lingkungan pergaulan.
6. Konstruksi epistemologi pendidikan anak dalam Al-Qur’a>n dipetakan pada sumber pendidikan dan cara memperolehnya dan mengajarakannya. Allah sebagai sumber pendidikan mengajarkan pengetahuan pendidikan melalui dialektika intuisi atau wahyu secara dogmatis kepada orang shaleh (Luqma>n) dan secara dialogis kepada para rasul (Nu>h, Ibra>hi>m, Ya’qu>b dan Isa). Dialektika intuitif-dogmatis berimplikasi pada pembentukan pengetahuan pendidikan secara otoritatif karena merupakan pengetahuan yang teranugrahkan. Sedangkan dialektika intuitif-dialogis berimplikasi pada pembentukan pengetahuan pendidikan dipengaruhi oleh faktor sosial (asba>b nuzu>l) dan kontek social (sya’n nuzu>l).



B. Implikasi Teoritik

Temuan epistemologi pendidikan anak dalam al-Qura>n ini secara teoritik berimplikasi terhadap filsafat keilmuan pendidikan anak.

1. Tujuan dan materi

Tujuan dan materi pendidikan anak di dalam Al-Qur’a>n bersifat kasuistik dan merupakan upaya problem solving terhadap permasalahan yang dihadapi oleh anak didik ataupun pendidik sendiri dalam interaksinya dengan anak didik. Tujuan pendidikannya mengarah pada upaya pengembangan potensi kepribadian anak didik melalui penanaman iman, pembiasaan ibadah dan pembiasaan terhadap nilai moralitas.

Pendidikan muncul sebagai problem solving atas permasalahan pribadi anak didik terlihat pada kasus pendidikan Luqma>n, pendidikan Nu>h}, dan pendidikan Ya’qub. Pendidikan Luqma>n dan Nu>h} memiliki latar belakang untuk mengatasi masalah keimanan anaknya, dimana keduanya dalam keadaan kafir. Implikasinya, menegakkan etika moral-imani untuk meninggalkan pergaulan dengan komnunitas kafir.

Pendidikan Ya’qu>b dilakukan untuk membangun interaksi harmonis dalam keluarganya. Dalam hal ini, pendidikan diarahkan untuk mengatasi dampak psikologis dari mimpi Yu>suf. Pendidikan sebagai upaya pengembangan potensi emosi dan kesetabilan kejiwaan anak didik, dengan menanamkan moralitas keimanan kepada Allah.

Profil Ibra>hi>m dan Maryam menggambarkan perolehan pendidikan anak sebagai problem solving atas permasalahan pendidik dalam interaksinya dengan anak didik. Mimpi Ibra>hi>m menjadi latar belakang atas pendidikan keimanan dan akhlak Isma>‘i>l. Demikian halnya dengan Maryam, permasalahan yang dihadapinya menjadi latar belakang atas interaksi pendidikan kepada Isa.

Uraian di atas menegaskan bahwa tujuan pendidikan anak -sebagaimana digambarkan dalam al-Qur’a>n- dipengaruhi oleh kasus- kasus yang dialami oleh pendidik maupun anak didik. Akibatnya, kontruksi materi pendidikan anak didasarkan atas kasus-kasus tersebut. Wilayah materi ini meliputi keimanan, ibadah dan akhlak, sehingga tujuannya sekaligus untuk pemantapan iman, pemberdayaan ibadah dan pembiasaan moralitas.



2. Karakter pendidik dan etika anak didik

Karakter pendidik di dalam Al-Qur’a>n dipetakan dalam tiga ranah yaitu; sikap, tindakan dan keyakinan. Pertama: karakter sikap mendidik ditunjukkan dengan kompetensi bijaksana (karakter Luqma>n) dan sabar (karakter Nu>h}). Kedua: karakter tindakan mendidik tertuju pada sikap demokratis (karakter Ibra>hi>m), dialogis dan psikologis (karakter Ibra>hi>m dan Ya’qub). Ketiga: karakter keyakinan memfokuskan pada dasar gerak pendidikan pada aspek transendensi-intuitif (karakter Maryam).

Temuan di atas merekonstruksi kompetensi pendidik yang hanya tertuju pada aspek aqliyah, jasmaniyah dan khuluqiyah sebagaimana dikemukakan oleh Muhtar Yahya.[486] Kompetensi bijaksana merepresentasikan sikap benar pada pengetahuan, pemahaman, perkataan, dan perbuatan sehingga menjadikan pendidik dapat mematuhi etika profesional pendidikan. Pendidik bersikap bijak dan proporsional dalam menghadapi anak didik.

Sifat bijak tersebut juga tidak ditemukan pada karakteristik pendidik, baik yang dikemukakan H}asan Abd al-‘ali>[487] maupun al-Abra>s}i>[488]. Hanya al-Ghaza>li> yang memasukkan sifat bijak dalam katagori adab pendidik. Adapun sifat sabar sebagai kompetensi pendidik –sebagaimana sifat Nu>h}- memiliki kesamaan dengan sifat yang dikemukakan oleh beberapa tokoh pendidikan, termasuk al-Ghaza>li> sendiri[489].

Sikap demokratis dan dialogis dalam mendidik anak diposisikan dalam kritik konsep pendidikan, karena para pakar pendidikan tidak melihatnya sebagai bagian yang penting. Demokratisasi pendidikan ini memberikan kesempatan pada anak didik untuk mengambil bagian secara aktif dalam proses belajar mengajar. Tampaknya sikap demokratis dan dialogis menjadi justifikasi atas spirit makna pendidikan sebagai upaya pemberdayaan dan pengembangan potensi anak didik. Hal ini sekaligus mengurangi pengaruh otoritatif pendidik yang menjadikan pendidikan sebagai agen penanaman nilai menuju perubahan budaya.

3. Metode pendidikan

Metode pendidikan anak dalam Al-Qur’a>n terdiri dari metode searah dan metode interaktif. Metode searah menggambarkan sentralisasi kegiatan pendidikan pada pendidik. Anak didik diposisikan sebagai obyek pendidikan yang harus diisi dengan materi pendidikan. Metode searah ini memiliki relevansi dengan materi pengajaran yang bersifat dogmatis seperti masalah keimanan dan ibadah. Sikap tegas pendidik disertai dengan tanggung jawab atas profesi pendidikan mampu mengkondisikan sikap patuh bagi anak didik.

Metode interaktif menggambarkan interaksi pendidikan berjalan dua arah antara pendidik dan anak didik. Metode ini menjadikan dialog sebagai sarana komunikasi untuk penyampaian pesan pendidikan. Pesan pendidikan dimaksudkan baik yang muncul dari kepentingan pendidik maupun untuk membantu persoalan anak didik. Efektifitas metode ini mengkondisikan pendidikan pada sifat demokratis dan humanis, karena memberdayakan potensi anak didik secara rasional dan emosional.

Anak tidak saja diposisikan sebagai obyek pendidikan, tetapi lebih dominan sebagai subyek pendidikan. Pendidikan sebagai sarana pemberdayaan potensi anak didik memandang perlu proses iteraksi pendidikan yang demokratis dan humanis. Dengan demikian terhindar dari tindak otoritatip dan penindasan psikologis serta sosiologis anak didik.

Interaksi pendidikan demokratis dan dan humanis dengan mempertimbangkan psikologi dan sosiologi anak didik telah terjadi dalam rekaman al-Qur’a>n- pada zaman dahulu. Meskipun kegiatan pendidikan masa lampau itu bersifat non formal, namun pada zaman sekarang dasar-dasar filosofisnya tidak menutup kemungkinan dapat diterapkan dalam lembaga pendidikan formal. Pembentukan keilmuan pendidikan anak tidak dapat menafikan rekaman tektualitas dan fakta historisitas yang pernah ada, karena pada asasnya pendidikan adalah sepanjang masa (life long education).

4. Epistemologi pendidikan anak

Intuisi sebagai salah satau metode memperoleh ilmu pendidikan memiliki kebenaran pada proporsi supra rasional. Kebenaran intuisi (kitab suci al-Qur’a>n) ini mutlak diakui oleh komunitas muslim sebagai pengetahuan tertinggi dalam kehidupan manusia, karena bersumber dari Allah sang pecipta alam. Keyakinan seperti itu sekaligus menjadi kritik terhadap kriteria ilmiah yang dibangun oleh ilmuan Barat yang menentukan ilmiah pada kriteria skeptis, rasional-empirik, dikotomik, positif-obyektif dan anti metafisik.[490]

Standar ilmiah ilmuan Barat tersebut memiliki akibat dampak yang serius terhadap tata kerja ilmu pengetahuan. Adanya sikap skeptis berakibat pada sikap menghindari apriori terhadap kebenaran, sehingga sulit untuk mencapai kebenaran secara konsisten. Kebenaran selalu di ukur dengan legalitas akal dan fakta empiris, sehingga berakibat pada sikap eklusif dan elitis. Disisi lain, sikap dikotomik berakibat pada standar kebenaran sains bebas nilai dan terpisah dari kebenaran agama. Sains memiliki wilayah kerja obyektif dan berbeda dengan agama yang hanya bersifat metafisik dan tidak bersifat indrawi. Demikian pula, mereka dengan tegas tidak mempertimbangkan unsur spiritualitas dalam tata kerja pengetahuan.

Di sini perlu ditegaskan, bahwa kitab suci sebagai tektualitas normatif dari Allah tidak saja terbentuk akibat secara otoritatif tanpa mempertimbangkan kontek situasi dan kondisi di luar teks. Bahkan telah terjadi tektualisasi kontek yang mempertimbangkan situasi/ kondisi sosial (asbab wa z}uru>f al-Nuzul) dan akal. Allah melalui kitab suci sama sekali tidak bemaksud menginterfensi fakta sosial dan potensi akal manusia. Sebaliknya, Allah menjustifikasi fakta sosial sebagai pengetahuan pendidikan dalam bentuk tektual kitab suci.

Begitu empiriknya Allah mendata fakta sosial sebagai pengetahuan pendidikan dalam kitab suci. Demikian pula Allah juga mempertimbangkan rasionalitas manusia dalam menkontruksi pengetahuan pendidika. Manusia dengan akalnya diberi kesempatan untuk merespon pengetahuan pendidikan yang diberikan oleh Allah. Akibatnya, dalam proses wahyu/ intuisi terjadi dialog antara pemberi teks (Allah) dengan penerima teks (rasul/ orang saleh), bahkan “tawar menawar” pengetahuan/ perintah.

Hal ini berarti kitab suci mengakomodir pengetahuan manusia dengan mempertimbangakn faktor situasi dan kondisi masyarakat pada umumnya. Dengan demikian, kontruksi epistemologi pendidikan anak dipengaruhi oleh kondisi sosial budaya anak. Akibatnya, pendidikan anak terjadi sebagai problem solving permasalahan yang dihadapi oleh anak didik dan atau pendidik dalam interaksinya dengan anak didik. Atas dasar alasan inilah, maka terjadi proses tektualisasi kontek pada pendidikan anak dalam al-Quar’a>n.



C. Keterbatasan Studi

Pendidikan anak dalam Al-Qur’a>n ini menggadaikan temuan epistemologi pada aspek sumber pengetahuan pendidikan, cara memperoleh dan mendidikkannya. Buku hanya memfokuskan pada pelaku sejarah yang memiliki interaksi pendidikan terhadap anak. Interaksi tersebut baik secara pasip maupun aktif, monolog (searah) maupun dialogis, yang mengandung unsur komunikasi pendidik terhadap anak didik. Intinya, menganalisa interaksi pendidikan orang tua kepada anaknya yang dilakukan Luqman, Nu>h}, Ibra>hi>m, Ya’qu>b dan Maryam. Hasil temuan epistemologi ini menjelaskan darimana pengetahuan pendidikan diperoleh, bagaimana cara memperolehnya dan bagaimana cara mendidikkannya.

Buku ini hanya mengungkap sebagian fenomena historis yang didiskripsikan Al-Qur’a>n melalui pendekatan epistemologi. Keterbatasan penulis tidak memungkinkan untuk meneliti persoalan ini secara komprehensif, misalnya dengan perspektif ontologi dan aksiologi. Aspek epistemologi yang merupakan wilayah otoritatif filsafat ilmu itupun masih belum semuanya dibahas. Oleh karenanya, karena keterbatasan kesempatan dan potensi, penelitian lebih lanjut dapat mencermati pada aspek ontologi dan aksiologi.

Buku ini juga hanya mengambil kontek mikro pendidikan dengan fokus anak. Dalam konteks yang lebih luas, penelitian pendidikan dapat dikembangkan kearah makro, baik formal maupun non formal. Demikian halnya, dengan menggunakan sumber, perspektif dan pendekatan yang lebih luas. Eksplorasi penelitian lebih lanjut juga dapat diarahkan kepada tektualitas pada ayat lain ataupun hadith dan dokumentasi kitab klasik pendidikan Islam yang memiliki relevansi dengan pendidikan anak.

[486] Yah}ya membagi tiga sifat pendidik menyangkut sifat aqliyah, jasma>niyah dan khuluqiyah. Tampaknya Yah}ya menghendaki figur pendidik pada lembaga formal. Sifat-sifat tersebut sebagai berikut: “Pertama: sifat aqliyah meliputi: kesiapan profesi, kesiapan seni, sehat akal, banyak akal atau kreatif, membuat kesiapan mengajar dan banyak membuat perumpamaan, dan dapat memotifasi. Kedua: Sifat Jasma>niyah: sehat jasmani dan didukung lingkungan, bersih dan suaranya merdu. Ketiga: sifaf Khuluqiyah: ramah, sabar, berkemauan keras, cekatan, pemberi motifasi, dan menjaga harga diri.” Muh}ta>r Yah}ya. Fann al-tarbiyah (Da>r al-Ma’a>rif, 1988), 56-58.

[487] Menurutnya sifat-sifat pendidik ialah: 1) Pendidik hendaknya memiliki rasa belas kasihan terhadap siswa .2) Mengingatkan siswa agar tidak melanggar norma agama. 3) Tidak merendahkan ilmu lain yang belum dipelajari. 4) Mengajar sesuai dengan kemampuan daya fikir siswa. 5) Memperhatikan perbedaan kemapuan dan kesiapan siswa. 6) pendidik mengamalkan ilmunya. 7) Bersikap adil dalam menghadapi semua siswa. H{asan Abd Al-‘Ali>, Al-Tarbiyah Al-Isla>miyah fi al-Qarn al-Ra>bi’ al-Hijri> (Da>r al-Fikr al-‘Arabi>, 1986), 174.

[488] Sifat –sifat dimaksud ialah 1) Zuhud dan mengajar karena Allah. 2) Kesucian pendidik. 3) Ikhlas.4) Bijaksana.5) Berpenampilan kharismatik dan tenang 6. Memahami kejiwaan anak, cita-cita, dan pemikirannya. 7) Menguasai materi pelajaran dan terus mengembangkan penelitan. Muhammad ‘At}iyah Al-Abra>shi>, Al-Tarbiyah Al-Isla>miyah wa fala>sifatuha (tp. al-Da>r Al-Qawmiyah li al-Thiba’ah wa al-Nas}r, 1964), 140-141.

[489] 1) Sabar. 2) Bijaksana. 3) Duduk dengan tenang. 4) Meninggalkan sombong. 5) Tawadlu. 6) Tidak bergurau. 7) Kasih sayang. 8) Sabar membimbing yang bodoh. 9) Tidak mengusir siswa yang bodoh. 10) Menghindarkan perkataan saya tidak tahu. 11) Memperhatikan siswa yang bertanya. 12) Menerima alasan dari siswa. 13) Berpegangan pada kebenaran. 14) Melarang siswa dari ilmu yang membahayakan. 15) Melarang siswa tidak ihlas dalam berlajar. 16) Melarang siswa menutut ilmu fard} kifa>yah sebelum ilmu fard} ‘ain. 17) Membekali diri pendidik dengan taqwa. al-Ghaza>li>, Bida>yat al-Hida>yah (Surabaya: Al-Hidayah, tt), 88.

0 komentar:

إرسال تعليق

Comment here

My Famly

About This Blog

My Activity

Blog Archive

  © Blogger template The Professional Template II by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP