Tafsir Tematik: (2) interaksi Luqmanul Hakim

الأربعاء، 19 ربيع الآخر، 1430 هـ

Lanjutan
Tafsir Tematik: (2) interaksi Luqmanul Hakim
Oleh : Miftahul Huda


4. Sabab nuzul ayat

Mengenai dua ayat 14 dan 15 menurut al-Ma>wardi merupakan penyela dari wasiat Luqm>an. Menurut satu pendapat lainya, kedua ayat ini termasuk wasiat Luqm>an kepada anaknya yang dikabarkan oleh Allah. Pemaknaan ayat tersebut menurut pendapat kedua ini –sebagaimana dikutip al-Ma>wardi> :
Seakan Luqm>an berkata pada anaknya; janganlah mensekutukan Allah dan jangan menuruti perintah syirik kepadanya dari orang tuamu, karena Allah memerintahkan hanya mentaati orang tua dalam hal selain syirik dan maksiyat kepada Allah. Menurut satu pendapat lainya, yakni ketika Luqm>an berkata kepada anaknya, maka apa yang dikatakan Luqm>an itu termasuk dari h}ikmah yang aku (Allah ) berikan berisi perintah berbuat baik kepada kedua orang tua. Yakni saya (Allah ) katakan padanya; bersukurlah kepada Allah , dan kami perintahkan kepadanya untuk berwasiat kepada manusia berbuat baik kepada orang tuanya. Dan menurut satu pendapat; ketika Luqm>an berkata kepada anaknya “janganlah mensekutukan Allah“, maka kami perintahkan kepada manusia untuk berbuat baik kepada kedua orang tuanya, lalu Luqm>anpun juga memrintahkan kepada anaknya akan perintahku ini (pendapat Qushairi>). Sedangkan pendapat yang sahih, kedua ayat ini turun berkenaan dengan masalah Sa'ad bin Abi Waqa>s, dan pendapat ini didukung oleh mayoritas ulama.

Penjelasan ini semakna dengan pendapat al-T{abattaba’i. Menurutnya dua ayat ini merupakan ayat penyela di antara wasiat Luqm>an yang berfungsi sebagai penguat isi wasiat Luqm>an yang berupa larangan syirik. Ayat ini adalah firman Allah, bukan termasuk wasiat Luqm>an. Dikatakann pula, ayat ini kalam Allah kepada Luqm>an, seakan Allah berkata kepada Luqm>an “bersukurlah” dan “kami perintahkan manusia untuk berbuat baik kepada kedua orang tuanya”
Perbedaan pandangan ulama tentang kedua ayat tersebut apakah termasuk firman Allah atau perkataan Luqm>an, maka yang lebih kuat adalah termasuk firman Allah, bukan perkataan Luqm>an. Kedua ayat tersebut dari sisi asba>b wuru>d-nya terdapat dua pengertian. Pertama; bahwa satu di antara ayat itu bersifat umum, meskipun menggunakan lafat khusus. Kedua: berkenaan dengan Sa'ad Bin Abi Waqa>s} dengan kedua orang tuanya Malik dan H}aminah Bint Abi Sufya>n Umaiyah.
Asbab al-Nuzuwardi> berkenaan dengan Sa’ad bin Abi Waqas. “Yaitu ketika ia masuk Islam, ibunya bersumpah tidak akan makan dan minum, lalu ia merayunya agar meninggalkan hal itu, tetapi menolaknya. Demikian nasehat itu dilakukan pada hari kedua. Dan pada hari ketiga ia merayu ibunya lagi, dan ibunya tetap menolaknya, lalu Sa’ad berkata; seandainya ibu memiliki seratus nyawa, niscaya akan habis sebelum aku mau meninggalkan agamaku. Setelah melihat hal itu, maka ibunya lalu mau makan“.
al-T}abari>> menambahkan, dengan berdasarkan riwayat dari Hanad bin Sari menyebutkan bahwa;“Diceritakan oleh Abu Ahwas dari Samak bin Harb dari Mus’ab bin Sa’ad berkata; Ibu Sa’ad bersumpah tidak akan makan dan minum sehingga Sa’ad mau meninggalkan agamanya, lalu Sa’ad menolaknya. Kondisi ibunya ini berjalan terus sehingga sampai pingsan, lalu ditolong oleh anak-anaknya dan diberi minum. Maka ketika ibunya sadar, ia menerima keadaan Sa’ad itu, lalu turunlah ayat ini“.


5. Kandungan ayat
Kandungan ayat 12 sampai 19 surat Luqma>n tersebut di atas secara garis besar sebagai berikut:
a) Luqma>n diberi h}ikmah oleh Allah.
b) Sikap h}ikmah (bijak) Luqma>n ditunjukkan dengan menerapkan sukur.
c) Sukur Luqma>n dilakukan dengan menasehati anaknya.
d) Nasehat (maw’iz}ah) dilakukan dengan penuh kasih sayang.
e) Nasehat Luqma>n memuat materi pendidikan akidah, syaria’ah dan akhlak.
6. Analisa
a) Tujuan pendidikan untuk membentuk insan ka>mil (manusia paripurna).
(i) Pendidikan aqi>dah
Pendidikan aqidah merupakan pendidikan yang pertama dan utama dilakukan Luqma>n kepada anaknya. Pendidikan ini bertujuan untuk liberasi (membebaskan) manusia dari ketergantungan kepada selain Allah. Pendidikan liberasi diupayakan melalui usaha menanamkan keimanan kepada Allah dan melarang syirik. Menurut penjelasan al-Qurt}ubi> larangan berbuat syirik ini sekaligus diikuti dengan alasannya, yaitu syirik termasuk dosa yang amat besar. Larangan ini dikuatkan melalui dua pernyataan, pertama dimulai dengan melarang untuk syirik itu sendiri. Kedua, menjelaskan bahaya syirik termasuk dosa besar.
Mengenai ungkapan “sesungguhnya syirik termasuk dosa besar” pada ayat 12, menurut sebagaian ulama bukan perkataan Luqma>n, tetapi hanya merupakan pemberitaan dari Allah (seperti pendapat al-Qurt}ubi>). Meskipun demikian menurut al-Alu>si> pada pokoknya ayat tersebut merupakan ucapan Luqm>an (berdasarkan hadith Muslim) yang berfungsi menjelaskan alasan pelarangan syirik .
Mengikuti pendapat al-Alu>si> ini, berarti Luqm>an menjelaskan kepada anaknya bahaya syirik termasuk perbuatan zalim yang besar. Termasuk zalim -menurut al-Mara>ghi>- karena menempatkan sesuatu tidak proporsional (yaitu menyetarakan sesuatu dengan Allah). Hal ini termasuk dosa besar karena menyetarakan antara sesuatu yang tidak memberi nikmat (patung dan berhala) dengan dzat Allah sang pemberi nikmat.
Menurut al-S}abu>ni>- karena bahaya syirik tersebut, Luqm>an berpesan, menasehati dan membimbing anaknya agar selalu menggunakan akalnya dalam memahami tuhan dan jangan mensekutukan-Nya dengan manusia, atau patung ataupun lainnya. Barang siapa menyamakan antara pencipta dan ciptaan-Nya, antara tuhan dan berhala, pastilah ia termasuk manusia terbodoh karena tidak mampu menggunakan logika dan sikap bijaksananya. Patutlah kemudian disebut kezaliman yang besar karenanya tergolong dengan binatang.
Sementara itu -menurut Qutb- perbuatan syirik merupakan induk kelupaan dan malapetaka, sekaligus perbuatan zalim terbesar. Tiada kezaliman melebihi ingkar kepada nikmat dan kebaikan Allah, sehingga menyekutukan-Nya dengan yang lain dalam hal pengabdian.
Sebab lain Luqm>an melarang anaknya syirik karena anaknya telah Islam dan mengingatkan bahaya syirik yang dapat merusak ke-Islamannya. Menurut al-Shauka>ni>, Luqm>an melarang syirik anakya karena anaknya telah kafir. Luqm>an memulai wasiatnya dengan larangan syririk karena ini merupakan hal prinsip. Menurut al-Ma>wardi>, ia melarang syirik pada anaknya disebabkan anaknya telah musyrik.
Larangan syirik ini –menurut al-Baghda>di>- juga disebabkan oleh dua hal; pertama karena anak Luqm>an bertanya kepadanya tentang apakah Allah mengetahui sebuah biji yang dibuang didasar laut. Lalu Luqm>an menjawab dengan ayat ini (pendapat al-Sa’di>). Kedua,bagaimana pendapat Luqm>an tentang kejelekan yang dilakukan anaknya dan tidak diketahui siapapun, apakah Allah mengetahuinya? Lalu ia menjawab dengan ayat ini (pendapat Muqa>til).
Bertolak pada uraian di atas, maka jelaslah akan pentingnya permasalahan tauhid yang diprofilkan melalui pesan Luqm>an kepada anaknya, dan sekaligus memerintahkanya. Pesan mulia orang tua kepada anak ini terjadi karena sikap tulus orang tua yang bijaksana terhadap nasip masa depan anaknya. Inilah pesan secara emosional yang sangat menonjol sehingga perlu dilakukan.
(ii) Pendidikan ibadah
Termasuk dalam pendidikan ibadah ialah perintah melakukan salat (ayat 17). Menurut Qutb Luqm>an memerintahkan anaknya untuk melakukan salat dengan benar karena salat merupakan tiang agama.
Perintah salat Luqma>n kepada anaknya –menurut al-Baid}awi>- untuk menyempurnakan dirinya secara personal, dan perintah amar ma’ru>f nahi munkar untuk menyempurnakan masyarakatnya, dan perintah bersabar atas apa yang menimpa sebagai konsekwensi salat seta dakwah yang dilakukan.
(iii) Pendidikan akhlak
Pendidikan akhlak personal kepada kedua orang tua (ayat 14-15). Tujuan pendidikan akhlak kepada kedua orang tua ini sebagai realisasi sukur nikmat atas pendidikan yang sudah diberikan. Sukur kepada kedua orang tua ini disejajarkan dengan sukur kepada Allah. Tentang hukum disejajarkannya kewajiban sukur kepada kedua orang tua dan dengan sukur kepada Allah karena pada dasarnya kedua orang tua yang melahirkan manusia secara majazi, sedangkan secara hakiki wujud manusia dikarenakan anugerah dan kemuliaan dari Allah. Oleh karena itu, maka hakekat bersukur dilakukan kepada Allah atas segala nikmat dan sukur kepada manusia dilakukan secara majazi.
Bagaimana tata cara bersukur kepada Allah dan kedua orang tua sebagaimana dimaksud pada ayat 14 di atas? Ulama memberikan berbagai penjelasan, di antara nya dengan cara taat terhadap Allah, melakukan perbuatan yang diridlai seperti shalat, puasa dan sebagainya. Sedangkan sukur kepada kedua orang tua dengan cara silaturahim dan berbuat baik kepadanya.
Diriwayatkan dari Ibn Uyainah: barang siapa salat wajib lima waktu, maka telah bersukur kepada Allah, dan siapa yang berdo’a untuk kedua orang tuanya setelah salat tersebut, maka telah bersukur kepadanya. Juga dikatakan: sukur yang sebenarnya kepada Allah dengan mengagungkan dan bertakbir, sedangkan sukur kepada kedua orang tua dengan belas kasihan dan menghormati. Ringkasnya, bahwa hukum wajib bersukur kepada kedua orang tua sama dengan wajib bersukur kepada Allah. Bahkan sukur kepada orang tua termasuk sukur kepada Allah sebagaimana dimaksud pada ayat ini. Bersukur kepada kedua orang tua merupakan ibadah kepada Allah, dan ibadah kepada Allah termasuk bersukur kepada-Nya.
Taat kepada Allah hukumnya wajib, demikian pula taat kepada kedua orang tua, hanya saja taat kepada Allah itu mutlak dan taat kepada kedua orang tua hukumnya sangat dianjurkan. Ketika taat kepada Allah dalam semua perintahnya hukumnya wajib, maka taat kepada kedua orang tua dalam setiap perintahnya selain syirik dan dosa hukumnya juga wajib. Jika kedua orang tua memerintahkan berbuat syirik , maka tidak wajib ditaati. Ayat 15 di atas juga menunjukkan wajibnya menyambung silaturahim kepada kedua orang tua (meskipun kafir), memberi harta jika fakir, berkata halus, dan diajak kepada Islam secara bersahaja.
Nasehat Luqm>an pada ayat 15 di atas memfokuskan ketaatan kepada Allah, dan mengingatkan bahwa taat kepada kedua orang tua bagian dari taat kepada Allah dan sekaligus merupakan cerminan dari sifat ih}sa>n (berbuat baik kepada sesama). Ih}sa>n juga harus diterapkan kepada kedua orang tua yang musrik, yang memerintahkan untuk berpaling dari agama. Hanya saja perintah seperti ini tidak wahib ditaati, karena tidak ada ketaatan pada makhluk untuk berbuat ma’siat kepada kha>liq. Namun, hal ini tidak meyebabkan anak durhaka kepada kedua orang tua, dan tetap diwajibkan berbuat baik kepadanya. Perbedan pandangan keagamaan antara anak dan orang tua, dalam Islam tidak menghalangi untuk tetap berbakti kepadanya, inilah toleransi Islam.
Adapun pendidikan akhlak sosial berhubungan dengan dakwah (amar ma’ru>f nahi munkar), sabar, tidak memalingkan muka, tidak sombong dalam berjalan, berjalan dengan sederhana dan berkata-kata dengan sederhana. Tujuan pendidikan sosial ini untuk membangun humanisasi personal dalam kontek sosial. Hal ini ditunjukkan dengan sikap memanusiakan manusia dengan etika luhur yang diterima di masyarakat.
Amar ma’ru>f -menurut al-Mara>ghi>- terkait dengan perintah kepada masyarakat untuk melakukan kebaikan secara optimal, sebagai kunci menuju kesuksesan hidup. Sedangkan nahi munkar yakni larangan kepada masyarakat berbuat maksiat terhadap Allah yang menyebabkan bencana kehidupan dan siksa yang amat pedih di neraka. Konsekwensi dakwah ini harus didasari dengan kesabaran. Yakni bersabar atas sikap keras dan ujian yang menimpa para da’i, karena dakwah pasti rentan terhadap kekerasan dari masayarakat, sehingga menuntut sikap sabar.
Akhlak sosial berikutnya ialah meninggalkan prilaku sombong dengan memalingkan muka dari orang lain. Memalingkan muka ini memiliki arti larangan sombong, kecondongan pada manusia atau berbicara dengan mencibirkan mulut. Juga berarti banyak bicara tanpa teliti, mencibirkan mulut ketika membicarakan orang lain dengan maksud menghina, atau berpaling dan meninggalkan orang disekitarnya.
Akhlak berjalan juga menjadi pelajaran penting pada pendidikan Luqma>n (ayat 19). Ajaran berjalan dengan sederhana dalam ayat tersebut memiliki pengertian merendahkan diri, ketika berjalan memandang kejalan, bersegera dalam berjalan, tidak bergegas dalam berjalan dan tidak sombong dalam berjalan. Dalam bertutur kata, Luqma>n memeritahkan anaknya untuk melunakkan suara. Yakni merendahkan suara dan menghindari bersuara seperti khimar. Karena suara khimar pada ayat tersebut digambarakan sebagai perumpamaan suara yang paling buruk dan yang paling keras.
Uraian di atas menunjukkan bahwa pendidikan yang dilakukan Luqma>n kepada anaknya bertujuan untuk menciptakan manusia paripurna (insa>n ka>mil) dengan kompetensi dasar pada kesalehan personal dan kesalehan sosial. Kesalehan personal dimulai dengan memiliki landasan keimanan yang kuat sehingga melahirkan totalitas pengabdian kepada Allah. Totalitas ibadah yang tinggi itu tidak bermakna jika mengabaikan akhlak kepada kedua orang tua. Oleh karenanya, kewajiban berbakti kepada kedua orang tua sejajar dengan kewajiban beribadah kepada Allah.
Tidaklah cukup kwalitas kesalehan personal sebagaimana digambarkan di atas, jika tidak diimbangi dengan kesalehan sosial. Kesalehan sosial sebagai cerminan kesalehan personal muncul dalam bentuk sensitifitas untuk mewujudkan masyarakat berperadaban luhur. Untuk tujuan ini dilakukan dengan melakukan dakwah, dan sabar dalam berdakwah. Interaksi sosial juga ditunjukkan dengan budaya tinggi dalam pergaulan, berjalan dan bertutur kata.
b) Materi pendidikan akidah, shari>‘ah, dan akhlak
Materi pendidikan yang diterapkan oleh Luqma>n H{aki>m kepada anaknya meliputi tiga hal:
(i) Pendidikan keimanan (akidah). Pendidikan ini pertama kali dilakukan Luqma>n kepada anaknya. Luqma>n menanamkan keyakinan bahwa Allah sebagai Dzat Yang Maha Esa yang harus disembah dan sekaligus melarang perbuatan syirik (QS. Luqma>n ayat 13).
(ii) Pendidikan ibadah (shari>’ah). Ruang lingkup shari>‘ah meliputi interaksi vertikal seorang hamba dengan Allah yang direalisasikan melalui ibadah, dan interaksi horizontal yang dilakukan dengan sesama manusia (mu’a>malah). Dalam hal ibadah ini Luqma>n mengajarakan salat kepada anaknya (ayat 17).
(iii) Pendidikan akhlak. Dalam bidang akhlak terbagi menjadi dua, yaitu akhlak personal dan akhlak sosial. Pendidikan akhlak personal dilakukan Luqma>n kepada anaknya dengan memperkenalkan etika baik terhadap kedua orang tua (ayat 14). Prinsip berbakti ini dengan cara melakukan segala yang diperintahnya, dan menjauhi segala larangannya selama dalam batas tidak melanggar syari’at Islam (ayat 15).
Setelah anak dikenalkan konsep akhlak kepada tuhannya melalui jalan ibadah, dan berbakti kepada kedua orang tuanya, berikutnya diajarkan padanya akhlak dalam kontek kemasyarakatan (akhlak sosial) mencakup; pendidikan dakwah /amar ma’ru>f nahi munkar dan bersabar (ayat 17). Juga pendidikan etika (ayat 18-19), menckup etika pergaulan (bertemu), berbicara dan berjalan. Empat prinsip dasar pendidikan Luqma>n H{aki>m kepada anaknya tersebut memenuhi target untuk membentuk insan kamil yang terdiri dari kesempurnaan aqidah, syariah dan akhlak (Iman, Islam dan Ih{san).
c) Sikap bijak (h}ikmah) dan kasih sayang Luqma>n sebagai kompetensi dasar pendidik.
Yang dikehendaki dengan kompetensi dasar pendidik menurut pendidikan Luqma>n ini adalah sikap yang dilakukan oleh Luqma>n dalam mendidik anaknya. Sikap yang dimaksudkan adalah bijaksana dan penuh kasih sayang. Kebijaksanaan Luqma>n ini disimpulkan dari cara pengajaran yang menekankan ungsur kebijakan, karena Ia telah diberi h}ikmah (kebijakan) oleh Allah sebagaimana dalam ayat QS. Luqma>n ayat 12.
H}ikmah yang dimiliki Luqma>n mencakup benar pada pengetahuan, pemahaman, perkataan, perbuatan. konsekwensinya menjadikan Luqma>n seorang yang dapat mengendalikan dirinya dari perbuatan jahat, seraya menempatkan sesuatu pada tempatnya. H}ikmah pada diri Luqma>n tidak bermakna kenabian –sebagaimana ditafsirkan oleh sebagian ulama- sehingg Luqm>an bukan seorang nabi, namun hanyalah seorang yang saleh dan bijaksana yang diberi h}ikmah oleh Allah.
Keutamaan h}ikmah Luqm>an menurut al-S}abu>ni> ada pada sikap bersukur kepada Allah. Dapat dikatakan pula bahwa sikap sukurnya itulah keutamaan h}ikmahnya. Maka sukur itu menjadi wajib dilakukan setelah mendapatkan h}ikmah. Adapun wujud sukurnya itu berupa ungkapan terima kasih kepada Allah atas nikmat-nikmatnya, dan taat atas segala perintahnya. Sukur juga merupakan kata kunci untuk memperoleh kebahagiaan di dunia dan akherat, karena hamba mempergunakan semua nikmat Allah itu untuk mengabdi kepadanya.
Sejalan dengan keterangan itu, Ibn Katsi>r menegaskan, Allah memerintahkan kepada Luqm>an untuk bersukur atas pemberian-Nya yang agung, dan hanya khusus diberikan kepadanya di zamannya, bahkan tidak kepada nabi yang lain. Semakna dengan ini bahwa sukur itu diperintahkan kepadanya karena h}ikmah yang telah dianugerahkan khusus pada dirinya.
Sedangkan sifat kasih sayang dari pendidikan Luqma>n ini dapat dilihat dari cara memanggil anaknya. Dalam hal ini Luqma>n memanggil anaknya dengan menggunakan ungkapan “wahai anakku sayang” (ya> bunayy). Ungkapan ini menurut al-Qurt}ubi> sesungguhnya meskipun mengunakan s}ighat tasghi>r, namun bukanlah menunjukkan pada hakekat arti mengecilkan atau meremehkan, tetapi sebaliknya menunjukkan makna tarfi>q, yaitu makna kasih sayang.
d) Kepatuhan anak Luqma>n
Tidak ditemukannya reaksi jawaban dari anak Luqma>n pada ayat 12 sampai 19 tersebut menunjukkan sikap anak didik yang patuh. Alur interaksi pendidikan terjadi searah, yaitu dari pendidik kepada anak didik. Hal ini berarti Luqma>n memposisikan anaknya bagaikan tempat kosong yang harus diisi dengan materi pendidikan. Konsep pendidikan yang dikembangkan cenderung menempatkan posisi pendidik berbeda dari anak didik dalam hal pengetahuan.
Unsur demokratis dan dialogis tidak ditemukan pada interaksi pendidikannya. Padahal keterbukaan dalam mendialogkan ilmu merupakan salah satu cara untuk pengembangan ilmu. Tampaknya Luqma>n meyakini bahwa keilmuan pendidikannya sangat valid dan tidak terbantahkan. Akibatnya, nuansa pendidikan terlihat secara otoritatif-dogmatis.
e) Metode maw’iz}ah (nasehat).
Metode maw’iz}ah ini dipahami dari ayat 13 (وهو يعظه ). Menurut al-Qurt>ubi>, ayat tersebut menekankan pentingnya maw’id}ah yang harus selalu dilakukan oleh orang tua untuk kebaikan anaknya. Kenapa maw’iz}ah itu dilakukan oleh Luqma>n? Menurut Imam Qushairi>, Luqm>an memiliki istri dan anak yang keduanya kafir, oleh karena itu Luqma>n selalu menasehatinya sehingga mereka masuk Islam.
Sedangkan fungsi educatif metode maw’iz}ah ini secara kejiwaan menurut al-Nah}lawi> berpengaruh terhadap: 1) Membangkitkan semangat spiritual untuk beribadah kepada Allah dengan khusuk, membangkitkan rasa takut terhadap siksa dan tertarik untuk masuk surga. 2) Membangkitkan kemampuan berfikir untuk mengambil ‘ibrah (pelajaran) tentang kehidupan dunia dan akherat. 3) Menyadarkan seseorang untuk membersihkan jiwa dari perbuatan mungkar dan jahat.
Luqma>n dengan gelar al-haki>m menunjukkan pribadi yang sangat bijak. Allah telah menganugrahkan hikmah kepadanya (ayat 12). Menurut Bru>si ayat tersebut menetapkan bahwa h}ikmah adalah pemberian Allah tanpa ada usaha dari manusia, karenanya h}ikmah ini termasuk jenis perkataan (aqwa>l) dan bukan kondisi permanent (maqa>ma>t). H}ikmah merupakan keutamaan dari Allah yang diberikan kepada siapa yang dikehendaki, dan bukan hasil jerih payah fikiran manusia”.
Berdasarkan uraian di atas, berarti sumber pengetahuan pendidikan yang dimiliki Luqma>n diperoleh dari Allah dengan pendekatan intuitif. Yakni pengetahuan pendidikan yang teranugerahkan. Atas pengetahuan pendidikan yang telah dimiliki, Luqma>n bersukur dan mengajarkannya kepada anaknya. Hal ini dipahami dari uraian Jauha>ri>: “tidaklah sikap bersyukur Luqm>an itu satu-satunya indikasi dia memiliki h}ikmah. Tetapi disana masih banyak h}ikmah-h}ikmah lainnya, yaitu upaya dalam rangka sukur terhadap nikmat h}ikmah yang diberikan Allah kepadanya, sebagai realisasi h}ikmah tersebut, maka ia bersukur secara lisan dengan menasehati anak.
Luqma>n memulai pendidikan anaknya dengan mengokohkan aspek keimanan, yaitu mengesakan Allah dan menjauhi perbuatan syirik (ayat 13). Pendidikan keimanan bersumber pada kebenaran wahyu Allah yang bersifat dogmatis dan doktriner. Masalah keimanan lebih mengedepankan daya penerimaan melalui hati dari pada rasional. Pada tahap ini, metode pendidikan iman tidak menggunakan pendekatan rasional karena wilayah iman bukan wilayah empirik.
Secara normatif, kebenaran wahyu tidak dapat ditolak sebagai sumber pendidikan keimanan dan ibadah. Hal ini terjadi karena masalah keimanan (konsep tuhan) dan ibadah (sholat) –sebagaimana diajarkan Luqma>n- bukan hasil rekayasa pemikiran manusia. Perintah-perintah tersebut muncul dari tuhan (top down) kepada manusia melalui kitab suci agama. Hanya saja untuk ajaran pendidikan yang diperoleh secara normative-intuitif tersebut masih menyertakan uraian-uraian yang menggunakan pendekatan rasional.Pendekatan rasional diperlukan untuk menguraikan konsep keimanan agar diyakini dan diterima secara logis. Yakni, Luqma>n melarang syirik disertai alasan karena syirik merupakan perbuatan zalim yang amat besar. Dari sini terlihat bahwa rasio tidak mampu membuat konsep tentang tuhan, sehingga tuhan sendiri yang memperkenalkannya. Posisi rasio dipergunakan untuk mengawal kebenaran konsep ketuhanan, dan bukan dalam kapasitasnya untuk mengkonsep tuhan.
Ibadah (shalat) merupakan kepatuhan yang muncul sebagai realitas atas keimanan. Tatacara ibadah sama halnya dengan masalah keimanan termasuk dalam wilayah dogmatis. Tidak ada ruang gerak bagi rasio untuk memperdebatkan keabsahan ibadah, kecuali hanya menerimanya. Hal ini disebabkan karena ibadah dan iman tidak dalam jangkauan wilayah rasional-empirik, melainkan dalam wilayah abstrak-suprarasional.
Selain pendidikan keimanan dan ibadah bersumber dari kitab suci, secara empirik-rasional Luqma>n juga mengajarkan pendidikan yang bersumber dari alam. Artinya, materi-materi pendidikan yang diajarkan memiliki keterkaitan langsung dengan sesama manusia. Logika rasional dapat menerima kebenaran dan manfaat pendidikan tersebut secara kongkrit. Dalam hal ini, Luqma>n mengajarkan akhlak kepada kedua orang tua terutama kepada ibu, budaya amar ma’ru>f nahi munkar, sabar atas musibah, budaya sopan dalam pergaulan, dan perkataan.
Ajaran etika moral tersebut lebih menekankan kesalehan pribadi secara horizontal ketimbang vertikal. Secara manusiawi, ukuran kebaikan dilihat pada aspek moralitas yang ditunjukkan dengan hubungan baik kepada sesama manusia. Dari sini dipahami bahwa pendidikan anak memperhatikan alam semesta sebagai obyek kehidupan yang harus dipelajari. Signifikansinya, kurikulum pendidikan anak tidak membatasi pada aspek ‘ubudiyah dan ima>niyah, melainkan juga menerima kehadiran ilmu sosial

0 komentar:

إرسال تعليق

Comment here

My Famly

About This Blog

My Activity

Blog Archive

  © Blogger template The Professional Template II by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP