Tafsir Tematik: Interaksi Zakariya as dan Yahya as

الثلاثاء، 18 ربيع الآخر، 1430 هـ

Tafsir Tematik: Interaksi Zakariya as dan Yahya as
Oleh : Miftahul Huda


Kontek pendidikan Zakariya atas putranya Yah}ya lebih menggambarkan interaksi pendidikan prenatal. Yakni, proses pendidikan keluarga dalam mempersiapkan generasi penerus sebelum generasi itu sendiri ada. Hal ini terjadi karena tidak ditemukan uraian yang mengarah pada interaksi pendidikan secara fisik maupun verbal. Dari sini terlihat bahwa pendidikan anak menekankan sisi kesalehan orang tua dalam keluarga. Bermula dari profil orang tua saleh inilah diperoleh generasi saleh. Kesalehan dan keutamaan keluarga Zakariya disejajarkan dengan nabi Îs. Hal ini dapat dilihat pada ayat berikut:


Dan Zakariya, Yah}ya, Isa dan Ilyas. semuanya Termasuk orang-orang yang shaleh.[450]

1. Pendidikan Nabi Zakariya as. terhadap Nabi Yah}ya as.

Pendidikan Zakariya terhadap Yah}ya menggambarkan konsep pendidikan anak secara pre-natal. Interaksi pendidikan anak tidak terjadi secara langsung dengan Yah}ya, tetapi terhadap Allah. Interaksi Zakariya kepada Allah ini terjadi dalam rangka meminta generasi yang berpendidikan.

2. Ayat-ayat yang berhubungan dengan pendidikan Nabi Zakariya as. terhadap Nabi Yah}ya as.

Pendidikan pre-natal yang dilakukan Zakariya dalam al-Qur’a>n terangkum dalam langkah-langkah yang ditemukan pada ayat-ayat berikut: Zakariya as. memohon anak (al-Qur’a>n; 3:38, 19:3, 19:4, 19:5, 19:6, 21:89), do’anya dikabulkan Allah (al-Qur’a>n; 3:39, 19:7, 19:8, 19:9, 21:90), dan menghindari percakapan (al-Qur’a>n; 3:41, 19:10, 19:11). Selanjutnya, pembahasan pendidikan prenatal yang dilakukan Zakariya ini diuraikan sebagai berikut.

3. Penafsiran ayat

1. Nabi Zakariya as. memohon anak


89. Dan (ingatlah kisah) Zakariya, tatkala ia menyeru Tuhannya: "Ya Tuhanku janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri dan Engkaulah waris yang paling Baik”.[451]

Do’a Zakariya ini mengikuti jejak do’a ibra>hi>m “Segala puji bagi Allah yang Telah menganugerahkan kepadaku di hari tua (ku) Ismail dan Ishaq. Sesungguhnya Tuhanku, benar-benar Maha mendengar (memperkenankan) doa”.[452] al-Qur’a>n telah menjelaskan bahwa tatacara do’a meminta anak ada tiga; pertama seperti do’a ibrahim tersebut. Kedua; doa Zakariya dengan dua model yaitu: "Ya Tuhanku, Sesungguhnya tulangku Telah lemah dan kepalaku Telah ditumbuhi uban, dan Aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, Ya Tuhanku’, [453] dan "Ya Tuhanku janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri dan Engkaulah waris yang paling Baik”.[454] Do’a Zakariya ini terkabulkan setelah masa 40 tahun. [455]



Aksi Zakariya berdo’a kepada Allah meskipun terkesan profokatif, tetapi disertai dengan rasa pasrah diri kepada Allah dan tidak risau jika Allah tidak mengabulkan do’anya.[456] Demikian pula do’a bermakna memuji Allah dzat yang maha kekal, sekaligus menyadari semua makhluk akan rusak dan hanya kepada Allah semua kembali.[457] Oleh karenanya, Zakariya sebagai nabi yang ‘a>rif kepada Allah memohon dengan penuh harap (raghbah wa rahbah) anugerah generasi /anak saleh yang dapat mengajarkan rahasia-rahasia ketuhanan (asra>r ila>hiyah).[458]

Aksi “profokatif” Zakariya tidak saja terjadi secara diplomatis seperti ayat di atas. Secara empiris, Zakariya “merayu” tuhan untuk diberi keturunan, dengan menggambarkan keterbatasan fisiknya yang semakin melemah dan istrinya yang mandul sebagaimana gambaran ayat berikut.


3. Yaitu tatkala ia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut. 4. Ia berkata "Ya Tuhanku, Sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, Ya Tuhanku. 5. Dan Sesungguhnya aku khawatir terhadap mawaliku sepeninggalku, sedang isteriku adalah seorang yang mandul, Maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putera, 6. Yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebahagian keluarga Ya'qub; dan Jadikanlah ia, Ya Tuhanku, seorang yang diridhai".[459]

Yang dimaksud oleh Zakariya dengan “mawa>li>” ialah orang-orang yang akan mengendalikan dan melanjutkan urusannya sepeninggalnya. Yang dikhawatirkan Zakariya ialah kalau mereka tidak dapat melaksanakan urusan itu dengan baik, karena tidak seorangpun diantara mereka yang dapat dipercayainva, oleh sebab itu Dia meminta dianugerahi seorang anak. Doa Zakariya dalam ayat tersebut menurut al-T{abari> dilakukan ketika semangatnya bangkit, lalu shalat dan dalam shalatnya berdo’a meminta keturunan. [460]


38. Di sanalah Zakariya mendoa kepada Tuhannya seraya berkata: "Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa".[461]

Al-T}abari> dengan menukil riwayat Abu Ja’far menjelaskan bahwa do’a Zakariya meminta keturunan dipengaruhi oleh peristiwa yang terjadi terhadap Maryam. Peristiwa itu ialah ketika Zakariya melihat maryam tanpa perantara manusia tiba-tiba mendapat rizki dari Allah berupa buah-buahan/ kurma dihidangkan dihadapannya yang berbuah tidak pada musimnya. Anugrah luar biasa seperti ini menyebabkan Zakariya berharap terjadi pada dirinya dalam wujud anak, di saat usianya sudah tua dan istrinya yang mandul. Zakariya sangat berharap keajaiban yang terjadi pada maryam terjadi pada dirinya, berupa keturunan yang baik. Oleh karena itu, Zakariya bangkit semangatnya, lalu shalat dan dalam shalatnya berdo’a meminta keturunan. [462]

Menurut riwayat Mu>sa dari ‘Umar dari Asba>t} dari al-Sadi> berkata: ketika Zakariya mendapati Maryam mendapat anugrah buah-buahan luar biasa, kemudian bersemangat untuk memint anugrah anak kepada Allah. Selanjutnya, Zakariya shalat dan berdo’a dengan tiga do’a pada Surat maryam ayat 4-6, Ali Imran: 38, dan al-Anbiya>’ 89.[463]

Ketika Zakariya menyaksikan maryam mendapat anugrah rizki buah-buahan dari dua musim yang bukan pada waktunya, maka bertambah kuat harapannya untuk mendapatkan anak, meskipun usianya telah tua renta dan istrinya juga mandul. Meskipun demikian dengan penuh keyakinan berdoa kepada Allah meminta keturunan anak yang saleh, karena sesungguhnya Allah maha mendengarkan doa. [464]

2. Do’anya dikabulkan Allah

Kisah Zakariya secara intensif menggambarkan interaksi transendental kepada Allah. Zakariya secara diplomatis memohon kepada Allah untuk diberi keturunan yang dapat mewarisinya. Namun demikian, jika Allah tidak mengabulkan permohonan do’a ini, Zakariya tetap bertawakal kepada Allah. Yang terjadi kemudaian adalah Allah menyuruh malaikat untuk memeberitakan doanya terkabulkan.

39. Kemudian malaikat (Jibril) memanggil Zakariya, sedang ia tengah berdiri melakukan shalat di mihrab (katanya): "Sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan kelahiran (seorang puteramu) Yah}ya, yang membenarkan kalimat (yang datang) dari Allah, menjadi ikutan, menahan diri (dari hawa nafsu) dan seorang nabi termasuk keturunan orang-orang saleh".

Yakni, malaikat memberitahu secara lisan kepada Zakariya yang dapat didengarnya ketika sedang salat di mih}ra>b tempat khalwat dan bermunajat kepada Allah. Isi pemberitahuan malaikat bahwa “Allah menggembirakan kamu dengan kelahiran (seorang puteramu) Yah}ya”, Yah}ya ini menurut riwayat Qata>dah anak kandung Zakariya sendiri. Menurut riwat lainya, anak yang diberikan Allah kepada Zakariya bernama Yah}ya karena Allah karena kekuatan iman Zakariya akan memiliki anak sangat tinggi. Yah}ya ini kelak yang pertama kali membenarkan kerasulan Isa (pendapat al-Rabi>’ bin Annas). Sedangkan menurut Ibn ‘Abba>s, Yah}ya dan Isa adalah dua anak bibinya Zakariya. Ibu Yah}ya berkata kepada maryam: “saya merasakan kandungan saya nanti bersujud kepada kandunganmu. Pembenaran Yah}ya kepada Isa sudah terjadi sejak dalam kandungan. Yah}yalah yang pertama kali membenarkan kerasulan Isa. [465]

Menurut Abu al-‘A’ bin Annas, Qata>dah, Sa’î>d bin Jubayr dan lainnya menafsiri lafaz “menjadi ikutan” dengan orang yang bijaksana (al-H{aki>m). Qata>dah menambahkan dengan makna menjadi ikutan dalam hal ilmu dan ibadah. Menurut Ibn ‘Abba>s, Thauwri> dan al-D{ah}â>k memaknai dengan orang yang bertakwa. Sa’î>d bin al-Musayyab mengartikan dengan orang yang ahli agama. Adapun firaman Allah “menahan diri (dari hawa nafsu)” ditafsirkan dengan yang tidak tertarik dengan wanita (riwayat Abi Mas’û>d, Ibn ‘Abba>s, Muja>hid, Ikrimah, Sa’î>d bin Jubayr, Abi Sha’tha>’ dan ‘At}iyah al-‘Aufa). Juga bermakna orang yang tidak memiliki anak dan mandul (riwayat al-D{ah}a>k). Perkataan “dan seorang nabi” merupakan berita gembira kedua denga kenabian Yah}ya yang lebih mengagumkan setelah berita gembira akan kelahirannya. [466]

90. Maka Kami memperkenankan doanya, dan Kami anugerahkan kepada nya Yah}ya dan Kami jadikan isterinya dapat mengandung. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas[970]. dan mereka adalah orang-orang yang khusyu' kepada kami. [467]


Firman Allah” Maka Kami memperkenankan doanya” berarti Allah mengabulkan doanya dengan menganugerahkan kepada nya Yah}ya. Firman Allah “dan Kami jadikan isterinya dapat mengandung” yakni menurut qatadah, Sa’î>d bin Jubayr dan beberapa mufassir bahwa istri Zakariya pada dasarnya mandul kemudian menjadi dapat beranak. Sedangkan menurut penafsiran Ibn ‘Abba>s dan ‘At}â>’ artinya adalah: istri Zakariya jelek akhlaknya dan lisannya menjulur kemudian Allah menjadikan baik akhlaknya. Makna ini dapat digabungkan dengan arti: Allah menjadikan istri Zakariya menjadi baik akhlaknya dan dapat memeberi keturunan. Firman Allah “Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik” yakni mereka yang dimasudkan di sini adalah Zakariya, istrinya dan Yah}ya. Firman Allah “dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas” mengandung dua pengertian: mereka bersegera berdoa kepada kami dalam keadaan senang maupun dan susah. Dikatakan pula bahwa mereka berdoa dengan sungguh-sungguh baik dalam keadaan senang, susah, berani maupun takut. Firman Allah “dan mereka adalah orang-orang yang khusyu' kepada kami” yakni dalam keadaan merendahkan diri dan tunduk. [468]


7. Hai Zakariya, Sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu akan (beroleh) seorang anak yang namanya Yah}ya, yang sebelumnya Kami belum pernah menciptakan orang yang serupa dengan Dia.[469]


Firman Allah “Maka tuhannya memperkenankan doanya,” seraya Allah berfirman “Hai Zakariya, Sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu dengan pemberian kami berupa anak yang namanya Yah}ya. Menurut qatadah dinamakan Yah}yah karena wujud lantaran kekuatan iman Zakariya. Hal ini sebagaimana diriwayatkan oleh Bashar dari Yazi>d dari Sa’i>d dari qatadah dikehendaki dengan nama Yah}ya karena hamba yang dihidupkan karena potensi iman (Zakariya). Sedangkan firman Allah “yang sebelumnya Kami belum pernah menciptakan orang yang serupa dengan Dia” para ulama berbeda pendapat. Menurut pendapat ‘Ali> dari Abd Allah dari Mu’a>wiyah dari ‘Ali dari Ibn ‘Abba>s maknanya adalah: belum ada sebelumnya wanita mandul yang melahirkan seperti itu. Muh}ammad al-Muthanni dari Abu al-Rabi>’ dari Sa>lim bin Qutaybah dari Shu’bah dari H{akam dari Muja>hid memaknainya firman tersebut dengan “tidak ada yang menyerupainya”. Firman Allah tersebut menurut riwayat ‘Amr dari Asba>t} dari al-Sadi> berarti: tidak ada nama Yah}ya sebelumnya. Menurut Abu Ja’far pendapat terakhir inilah yang sesuai untuk penafsiran ayat tersebut. [470]



3. Zakariya menghindari percakapan

41. Berkata Zakariya: "Berilah aku suatu tanda (bahwa isteriku telah mengandung)". Allah berfirman: "Tandanya bagimu, kamu tidak dapat berkata-kata dengan manusia selama tiga hari, kecuali dengan isyarat. dan sebutlah (nama) Tuhanmu sebanyak-banyaknya serta bertasbihlah di waktu petang dan pagi hari".

Firman Allah “"Berilah aku suatu tanda (bahwa isteriku telah mengandung)" maksudnya ketika Zakariya diberi berita gembira akan mendapatkan anak atas seizin Allah, maka ia meminta tanda kepada Allah yang membuktikan kebenaran berita ini. Tanda itu adalah Zakariya tidak dapat berbicara setelah mendapat wahyu dari malaikat (pendapat jumhur ulama). Pendapat serupa diungkapkan oleh Ibn Zayd: bahwa Zakariya tidak dapat berbicara (meskipun berkeinginan untuk bicara) sebagai tanda istrinya telah hamil, oleh karenanya Zakariya menggunakan waktu untuk membaca kitab taurat dan dzikir kepada Allah. Permintaan Zakariya ini dijawab oleh Allah “Tandanya bagimu, kamu tidak dapat berkata-kata dengan manusia selama tiga hari, kecuali dengan isyarat” yakni hal ini menunjukkan validitas berita gembira yang diberikan malaikat kepadanya sebagaimana firman Allah “Telah Aku ciptakan kamu sebelum itu, padahal kamu (di waktu itu) belum ada sama sekali". Yakni (kata Allah) aku hidupkan kamu dengan kekuasaanku, demikian pula aku hidupkan anakmu (pendapat al-Nuh}as). Firman Allah “dan sebutlah (nama) Tuhanmu sebanyak-banyaknya serta bertasbihlah di waktu petang dan pagi hari" yakni Allah memrintahkan untuk tetap melakukan dzikir meskipun hanya dalam hati karena tidak boleh diucapkan. Firman Allah “dan sebutlah nama tuhanmu” maksudnya dengan melakukan solat mulai dari waktu zuhur sampai maghrib dan mulai dari waktu terbit fajar sampai waktu dhuha. [471]

Penjelasan serupa di atas juga ditemui pada ayat berikut:


10. Zakariya berkata: "Ya Tuhanku, berilah aku suatu tanda". Tuhan berfirman: "Tanda bagimu ialah bahwa kamu tidak dapat bercakap-cakap dengan manusia selama tiga malam, Padahal kamu sehat". 11. Maka ia keluar dari mihrab menuju kaumnya, lalu ia memberi isyarat kepada mereka; hendaklah kamu bertasbih di waktu pagi dan petang.

4. Kandungan ayat

Kandungan ayat al-Qur’a>n 3:38, 19:3, 19:4, 19:5, 19:6, 21:89, 3:39, 19:7, 19:8, 19:9, 21:90, 3:41, 19:10, 19:11 yang sudah diekplorasi tafsirnya tersebut di atas, secara garis besar sebagai berikut:

a) Zakariya pada usia tua dengan bahasa diplomatis memohon kepada Allah agar diberi keturunan.

b) Allah mengabulkan permintaan Zakariya.

c) Zakariya meminta tanda akan diberikannya keturunan.

d) Zakariya melakukan puasa bicara.

e) Zakariya memiliki putra Yah}ya.

5. Analisa

a) Tujuan pendidikan

Sebagaimana telah dijelaskan di atas, bahwa pendidikan anak yang dilakukan Zakariya ini menekankan pada konsep prenatal, karena tidak dijumpai interaksi secara riil kepada Yah}ya. Al-Qur’a>n menjelaskan bagaimana usaha Zakariya di usia senja untuk mendapatkan keturunan. Dengan penuh keyakinan, Zakariya melakukan usaha terus-menerus dengan berdoa kepada Allah. Melalui kekuatan doa itulah akhirnya Allah mengabulkan permintaannya.

Hal ini secara implisit berarti memberikan contoh pendidikan pada para orang tua, bagaimana melakukan usaha mendapatkan anak yang saleh. Tujuan pendidikan bukan diperuntukkan bagi anak didik, tetapi ditujukan pada orang tua bagaimana prosesi memperoleh generasi saleh ternyata dilalui jauh sebelum kelahiran anak itu sendiri. Signifikansinya, pendidikan prenatal menjadi bagian integral dalam pendidikan anak. Namun pada realitasnya, hal ini belum dapat dipahami sepenuhnya. Terbukti belum ada semisal lembaga pendidikan khusus yang disediakan untuk membekali calon suami atau istri yang akan melangsungkan pernikahan. Juga belum terbangun kesadaran para calon mempelai tersebut untuk mengkaji bagaimana sesungguhnya menyiapkan rumah tangga dan menciptakan generasi penerus yang berkwalitas.

b) Materi pendidikan

Pendidikan Zakariya ini memiliki relevansi terhadap orang tua karena pada intinya menekankan materi pendidikan prenatal. Materi pendidikan prenatal dimaksudkan ialah tentang upaya meminta anak saleh diantaranya melalui berdoa. Doa yang dilakukkan Zakariya dalam rangka meminta anak saleh memiliki tiga bentuk yang terdapat pada ayat berikut. Pertama: "Ya Tuhanku janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri dan Engkaulah waris yang paling Baik”.[472] Kedua: "Ya Tuhanku, Sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, Ya Tuhanku. Dan Sesungguhnya aku khawatir terhadap mawaliku sepeninggalku, sedang isteriku adalah seorang yang mandul, Maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putera, Yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebahagian keluarga Ya'qub; dan Jadikanlah ia, Ya Tuhanku, seorang yang diridhai".[473] Ketiga: "Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa".[474]

Menurut penjelasan para ahli tafsir, do’a Zakariya ini mengikuti jejak doa ibra>hi>m. ibrahim memuji Allah yang telah menganugerahkan Isma>’i>l dan Ish}a>q kepadanya.[475] Al-T}abari> dengan menukil riwayat Abu Ja’far menjelaskan bahwa do’a Zakariya meminta keturunan dipengaruhi oleh peristiwa besar yang dilihatnya terjadi pada Maryam. Peristiwa itu berupa buah-buahan/ kurma dihidangkan dihadapannya yang berbuah tidak pada musimnya. Anugrah luar biasa seperti ini menyebabkan Zakariya berharap terjadi pada dirinya dalam wujud anak, di saat usianya sudah tua dan istrinya yang mandul.[476]

Do’a yang dilakukan Zakariya dapat dipahami mengandung etika-etika doa sebagai berikut: Pertama: doa dilakukan dengan sungguh-sungguh dan tidak mengenal putus asa dimana Zakariya melakukan doa dalam waktu yang lama dan terbukti doa itu sendiri terkabulkan setelah masa 40 tahun.[477] Kedua: doa dilakukan melalui ibadah yang sangat menuntut totalitas pengabdian yaitu pada waktu muna>jat (shalat).[478] Ketiga: berdoa kepada Allah dilakukan dengan harap dan cemas, dalam keadaan senang maupun dan susah. Keempat: doa dilakukan dengan khusyu', merendahkan diri dan tunduk.[479]

c) Karakter pendidik

Karakter Zakariya digambarkan dengan sifat-sifat berikut: Pertama: memiliki kapasitas kesalehan pribadi. Hal ini dipahami dari ayat: “Dan Zakariya, Yah}ya, Isa dan Ilyas. semuanya Termasuk orang-orang yang shaleh”.[480] Kedua: gemar melakukan kebaikan. Ketiga: giat melakukan doa. Keempat: tunduk kepada perintah Allah. Sifat-sifat ini sebagaimana penjelasan ayat “Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. dan mereka adalah orang-orang yang khusyu' kepada kami.[481]

Karakter Kelima: sangat peduli untuk membentuk generasi penerus yang berkwalitas. Hal ini sesuai dengan doanya pada ayat berikut: “Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa".[482] Keenam: tidak pernah putus asa untuk berdoa meminta keturunan, meskipun usianya sudah tua dan istrinya mandul. Hal ini sesuai ayat: "Ya Tuhanku, Sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau”.[483]

d) Etika anak didik

Tidak ditemukan etika anak didik karena dalam al-Qur’a>n tidak dijelaskan bahwa Zakariya berinteraksi secara langsung dengan Yah}ya. Demikian pula karena pendidikan Zakariya terhadap Yah}ya lebih bersifat prenatal (pendidikan yang diupayakan sebelum kelahiran anak). Gambaran pendidikan post natal (setelah kelahiran anak) terhadap Yah}ya tidak dijumpai dalam penjelasan al-Qur’a>n.

Meskipun tidak ditemukan interaksi secara langsung antara Zakariya dengan Yah}ya, namun gambaran pribadi Yah}ya yang akan lahir itu dijelaskan dalam al-Qur’a>n. Uraian karakter Yah}ya ini sebagaimana ayat berikut: "Sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan kelahiran (seorang puteramu) Yah}ya, yang membenarkan kalimat (yang datang) dari Allah, menjadi ikutan, menahan diri (dari hawa nafsu) dan seorang nabi termasuk keturunan orang-orang saleh".[484]

Dari penjelasan di atas dapat ditegaskan bahwa pembentukan karakter anak didik pada masa postnatal memiliki relevansi dengan pendidikan prenatal. Pendidikan prenatal menekankan pada pembentukan dasar (karakter anak didik), dan pendidikan postnatal merupakan pengembangan dari karakter dasar tersebut. Disinilah ditekankan pentingnya sinergi antara karakter dasar dengan ajar. Pendidikan prenatal adalah setengah dari proses pengajaran anak didik.

e) Metode pendidikan

Tidak ada relevansinya dengan metode pendidikan anak karena tidak ditemukan penjelasan dalam al-Qur’a>n bahwa Zakariya berinteraksi secara langsung dengan Yah}ya. Demikian pula karena pendidikan Zakariya terhadap Yah}ya lebih bersifat pendidikan prenatal dari pada pendidikan post natal. Kalaulah dipahami dari perspektif metode, yang lebih tepat adalah metode pendidikan prenatal bagi para orang tua, bukan metode pendidikan anak itu sendiri.

Metode pendidikan prenatal tentu berbeda dengan postnatal karena lebih bertumpu pada kontribusi orang tua dalam menyiapkan generasinya yang tidak dapat dilakukan oleh orang lain. Hal ini terjadi karena pendidikan prenatal memiliki fase pada lingkup keluarga yang tidak dapat terikat dengan institusi pendidikan foramal. Sedangkan pendidikan postnatal banyak menggunakan jasa bantuan orang lain (pendidikan formal) untuk terlibat mendidik anak.

[450]al-Qur’a>n, 6 (al-An’a>m): 85.

[451]Ibid., 21 (al-Anbiya>’): 89.

[452]al-Qur’a>n, 14 (Ibra>hi>m): 39.

[453]Ibid., 19 (Maram): 4.

[454]Ibid., 21 (al-Anbiya>‘): 89.

[455]al-Alu>si, Ru>h} al-Ma’a>ni>, Juz 3, 145.

[456]al-Nasafi>,Mada>rik, Juz 3, 90.

[457]al-Alu>si, Ru>h} al-Ma’a>ni>, Juz 17, 87..

[458]al-Alu>si, Ru>h} al-Ma’a>ni>, Juz 17, 109..

[459]al-Qur’a>n, 19 (Maryam): 3-6.

[460]al-T{abari>, Ja>mi’, juz 3, 237.

[461]al-Qur’a>n, 3 (Ali ‘Imra>n): 38.

[462]al-T{abari>, Ja>mi’, juz 3, 237.

[463]al-T{abari>, Ja>mi’, juz 3, 237.

[464]Abu al-Fida>’, Tafsi>r al-Qur’a>n al-‘ad}i>m, Juz 1, 480.

[465]Ibid.

[466]Ibid.

[467]al-Qur’a>n, 21 (al-Anbiya>‘): 90.

[468]al-Qurt}u>bi, al-Ja>mi’, juz 11, 294.

[469]al-Qur’a>n, 19 (Maryam): 7.

[470]al-T{abari>, Ja>mi’, juz 8, 309.

[471]al-Qurt}u>bi, al-Ja>mi’, juz 4, 81.

[472]al-Qur’a>n, 21 (al-Anbiya>‘): 89.

[473]al-Qur’a>n, 19 (Maryam): 3-6.

[474]al-Qur’a>n, 3 (Ali ‘Imra>n): 38.

[475]al-Qur’a>n, 14 (Ibra>hi>m): 39.

[476]al-T{abari>, Ja>mi’, juz 3, 237.

[477]Ru>h} al-ma’a>ni>, Juz 3, 145.

[478]al-T{abari>, Ja>mi’, juz 3, 237.

[479]al-Qurt}u>bi, al-Ja>mi’, juz 11, 294.

[480]al-Qur’a>n, 6 (al-An’a>m): 85.

[481]Ibid., 21 (al-Anbiya>‘): 90.

[482]Ibid., 3 (Ali ‘Imra>n): 38.

[483]Ibid., 19 (Maryam): 3-6.

[484]Ibid., 3: 39.

0 komentar:

إرسال تعليق

Comment here

My Famly

About This Blog

My Activity

Blog Archive

  © Blogger template The Professional Template II by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP