Melacak normativitas dikotomi ilmu dalam al-Qur’an dan al-Hadis (LEMLIT UIN Malang 2007).

الأربعاء، 15 أبريل، 2009

Melacak normativitas dikotomi ilmu dalam al-Qur’an dan al-Hadis (LEMLIT UIN Malang 2007).
Oleh : Miftahul Huda



BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Semangat “ilmiah” merupakan salah satu misi pokok nabi Muhammad saw sebagaimana tertera dalam QS. aL-‘Alaq ayat 1-5. Wahyu yang pertama kali turun ini memberi porsi pada gerakan ilmiah yang lebih diutamakan untuk dilakukan terlebih dahulu dibanding dengan pemantapan akidah maupun ibadah. Gerakan ilmiah yang tertuang dalam perintah ”iqra’” secara general meliputi makna: membaca, meneliti, mengamati, dan lain-lain yang mengarah pada obyek bacaan ilmiah. Katageri ilmu mengambil semua fakta empiric yang tergelar di jagad raya. Hanya saja pada umumnya kawasan ilmu telah dipahamai secara “dikotomis” bahwa dengan memisahakan antara ayat qauliyah (ilmu yang terfirmankan) dan kauniyah (ilmu yang tergelar di jagar raya).
Ilmu yang diperoleh melalui ayat-ayat qauliyah merupakan representasi dari otoritas keilmuan Allah dalam bentuk saluran pengetahuan melalui scriptural texs (teks suci). Ilmu ini pada gilirannya dikokohkan sebagai sumber ilmu agama. Sedangkan ayat kauniyah merupakan representasi dari otoritas tanda kekuasaan Allah yang tergelar melalui fenomena jagad raya. Pada gilirannya, ayat kauniyah ini dipahami sebagai sumber ilmu pengetahuan dengan katagori eksakta (kealaman). Akibatnya, ilmu agama ada pada wilayah normative-tectual yang menjadi otoritas para ulama untuk menguraikan, dan otoritas ilmu alam menjadi prerogratif para ilmuan (scientist).
Realitas dikotomi ilmu tersebut masih diperpanjang pada tataran prakatis, dengan adanya klasifikasi hukum mempelajari ilmu. Misalnya klasifikasi yang mengarah pada hukum mencari ilmu menjadi kewajiban personal (fardhu ‘ain) dan kewajiban komunal (fardhu kifayah). Ilmu agama diposisikan pada kewajiban personal dan ilmu umum pada posisi kewajiban komunal. Munculnya institusi pendidikan agama dan umum juga merupakan implikasi praktis dari sikap dikotomis tersebut.
Demikian halnya ilmu dilihat dari klasifikasi sumbernya terbelah dalam sumber ilahi (naqli) dan basyari (aqli). Hal ini tampaknya asumsi ini terispirasi oleh validitas sabda nabi yang menyatakan: “barang siapa yang ingin mencari dunia, maka harus dengan ilmu (duniawi), dan barang siapa ingin mencari akherat, maka harus dengan ilmunya (ukhrawi). Pemahaman hadis ini secara sempit biasanya telah mangakumulasikan pemahaman bahwa ilmu naqli hanya bertujuan untuk menggapai akhreat, dan ilmu diniawi bermaksud untuk menatap kesuksesan hidup di dunia.
Kalangan sufi memandang ilmu sebagai sesuatu yang suci, sebab pada akhirnya menyangkut semua pengetahuan dari aspek manifestasi tuhan kepada manusia. Pandangan yang suci tentang ilmu ini mewarnai sistem pendidikan Islam sampai hari ini, sehingga secara kelembagaan pendidikan Islam tidak terpisah dari organisasi dan lembaga khas agama meliputi masjid, madarasah dan ma’had. Akibat pandangan ini, ilmu-ilmu Islam kapan saja akan berhadapan dengan ilmu-ilmu yang dikembangkan oleh peradaban dan otoritas intelektual. Pada gilirannya semakin menambah eksistensi dikotomi ilmu kepada ilmu-ilmu naql dan ilmu aqli tersebut
Secara ekstrim diakui ada dua jalan yang terbuka bagi manusia untuk memperoleh pengetahuan formal; pertama yaitu melalui kebenaran yang diwahyukan yang sesudah diwahyukan dipindahkan dari generasi ke generasi berikutnya. Ilmu-ilmu pindahan ini dalam istilah Hasan Langgulung disebut al-‘ulum al-Naqliyah. Dan yang kedua adalah pengetahuan yang diperoleh melalui kecerdasan atau akal yang diberikan tuhan yang kemudian disebut dengan istilah al-‘ulum al-aqliyah atau ilmu-ilmu intelektual. Kedua jenis ilmu formal ini dapat diperoleh sehingga disebut ilmu husuli, dan ditambahkan lagi adanya ilmu hikmah yang disebut dengan ilmu huduri atau ilmu hadir (Hasan Langgulung, 1992: 106).
Mochtar Buchori dengan tegas mempertanyakan keabsahan dikotomi yang memisahkan pendidikan agama dari pendidikan umum. Menurut pandangannya bahwa dikotomi terse¬but hanya merupakan dikotomi illusif, yakni dikotomi yang lahir dari kedangkalan persepsi kita mengenai hakekat proses pendidikan agama dan pendidikan umum sebagai dua kegiatan yang konvergen, yang sama-sama bermuara pada pengembangan diri siswa, pada penanaman suatu tata nilai, yaitu tata nilai Islam pada diri para siswa (Mochtar Buchori, 1989: 189).
Dalam antologi kecil berjudul "Pendidikan Islam di Indonesia Antara Cita dan Fakta", sebagian besar penulis menyoroti persoalan dikotomi tersebut. Masalah dikotomi itu antara lain disoroti oleh Muslich Usa dengan tema "Pendidikan Islam di Indonesia Antara Cita dan Fakta", Amrullah Achmad dengan tema "Kerangka Dasar Masalah Paradigma Pendidikan Islam", Achmad Syafi’i Ma’arif dengan tema "Pemikiran tentang Pembaharuan Pendidikan Islam di Indonesia" (A. Syafi’i Maarif, 1991: 1).
Dari uraian di atas jelaslah bahwa dikotomi ilmu telah menyebabkan dishramoni dalam kehidupan manusia. Pada satu sisi, peradaban yang dibangun atas otoritas sakralitas wahyu lebih mendominasi pada tertib sosial, meskipun tidak diimbangi dengan kemajuan yang signifikan dalam bidang sanis dan teknologi. Disisi lain, peradaban yang dihasilakn oleh otoritas rasionalitas manusia dalam bentuk kemajuan sains dan teknologi serta informasi memanjakan kehidupan duniawi manusia, meskipun disisi lain tidak terlalu melihat nilai atau moralitas agama dan sosial.
Jalinan dan paduan ilmu agama dan umum itu sudah semestinya diupayakan sedemikan rupa, sehingga diharapkan dapat tercipta tertib sosial kehidupan manusia yang berperadaban luhur melalui kesadaran beragama dan berteknologi maju melalui kesadaran ilmiah. Untuk itu, mempertemukan antara dua pusaran ilmu agama dengan ilmu umum melalui pintu Islamisasi ilmu adalah merupakan idealitas alterlatif yang tidak terelakkan.
Fakta dikotomi ilmu ini telah melahirkan kesadaran baru, khususnya bagi pakar yang memiliki perhatian terhadap pendidikan Islam. Kesadaran tersebut terbentuk dalam sebuah gagasan integrasi dan Islamisasi ilmu. Integrasi sebagai upaya untuk mensintesakan atau memadukan ilmu yang mana masing-masing terpisah oleh garis demarkasi yang kokoh. Model integrasi ini bisa jadi dalam bentuk mencari persamaan dan perbedaan masing-masing disiplin ilmu untuk ditempatkan pada otoritas keilmuan secara proporsional. Demikian pula dengan menjustifikasi ilmu-ilmu kealaman dengan normative teks (Islamisasi ilmu). Atau bahkan kesadaran yang lebih ekstrim tampil dalam semangat untuk “menggugat” realitas pemahaman dikotomis tersebut dengan meneliti kembali dalil-dali normatif yang memuat tentang diskursus ilmu.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka permasalahan dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut:
1. Bagaimana Al-Qur’an dan Al-Hadis menjelaskan tentang klasifikasi ilmu?
2. Bagaimana kontek dikotomi ilmu dalam Al-Qur’an dan Al-Hadis?

C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dasar-dasar normative baik dari Al-Qur’an maupun Al-Hadis yang membahas tentang ilmu. Dari pemahaman ini maka ingin diketahui bagaimana klasifikasi ilmu dalam Al-Qur’an dan Al-Hadis. Disamping itu, juga ingin ditegaskan bagaimana proporsi pemaknaan dikotomi ilmu dalam kontek Al-Qur’an dan Al-Hadis.
D. Kegunaan Penelitian
Penelitian ini diharapkan mampu memberikan sumbangan kepada para akademisi, baik secara teoritis maupun praktis. Secara teoritis diupayakan hasil penelitian ini dapat menyumbangkan temuan baru tentang dalil-dalil normative dari Al-Qur’an dan hadis yang memuat akar-akar pemahaman dikotomi ilmu. Data tektual tentang dikotomi ilmu ini pada gilirannya juga dapat dijadikan sebagai bahan kajian baru untuk upaya sinergi antara ilmu agama dan ilmu umum.
Sedangkan secara praktis diharapkan penelitian ini dapat memberikan masukan bagi para aktivis, ilmuwan, para pejabat dan berbagai pihak lain yang berwenang dalam mengembangkan pendidikan di Indonesia. Diharapkan pula, temuan penelitian ini dapat dijadikan sebagai salah satu masukan untuk menentukan kebijakan bagi pengembangan pendidikan Islam maupun pendidikan umum secara integratif di masa mendatang.
E. Metode Kajian
1. Jenis Penelitian
Penelitian ini bersifat deskriptif-kualitatif, artinya peneliti akan mendeskripsikan hal-hal yang berkaitan dengan permasalahan yang telah ditetapkan dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Karena itu, dalam penelitian ini, peneliti akan menyelesaikan penelitian dengan cara menempuh prosesur-prosedur yang ditetapkan dalam penelitian kualitiatif. Dikatakan demikian karena penelitian ini memiliki karakteristik penelitian kualitatif sesuai dengan pendapat Bogdan dan Biklen (1982) yang mengatakan bahwa penelitian kulalitatif memiliki ciri-ciri: (1) menggunakan setting alamiah sebagai sumber data dan peneliti sebagai instrument inti (2) bersifat deskriptif, (3) lebih mementingkan proses daripada hasil, (4) menganalisis data secara induktif, dan (5) makna menjadi perhatian utama.
2. Obyek Penelitian.
Penelitian ini merupakan penelitian Pustaka (literer). Obyek penelitian mengarah pada data normative dari Al-Qur’an dan Al-Hadis yang memuat pembahasan tentang ilmu.
3. Sumber Data
Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini berupa dokumentasi teks-teks Al-Qur’an dan Al-Hadis yang memuat pembahasan ilmu. Data yang dimaksud dihimpun melalui telaah kepustakaan (library research) yang diklasifikasikan atas sumber data primer dan sumber data skunder. 1) Sumber data primer. Data primer pada penelitian ini diperoleh dari sumber utama dan pertama ialah al-Qur’an dan Al-Hadis.Secara rinci data-data primer yang diperlukan berkaitan dengan pembahasan ilmu. 2) Sumber data skunder. Upaya memahami interpretasi makna pada data primer diperoleh dari sumber data skunder, berupa kitab-kitab tafsir al-Qur’an dan syarah (penjelasan) kitab Al-Hadis. Kitab tafsir yang digunakan meliputi tafsi>r bi al-ma’thu>r, tafsi>r bi al-ra’yi> dan berbagai tafsi>r bi al-‘ilmi>. Hal ini dilakukkan untuk memperoleh integralisasi pemahaman dari berbagai sudut pandang penafsiran. Demikian pula berbagai kitab syarag (penjelas) Al-Hadis.
4. Langkah Pengumpulan Data
Langkah yang ditempuh dalam penelitian ini merupakan adaptasi dari metode tafsir mawd}u’i> (Mus}t}afa Muslim, 1989: 37) dengan tafsir tah}li>li>, serta takhrij hadis. Langkah-langkah tersebut meliputi:
a. Menetapkan masalah yang akan dikaji, yaitu tentang permasalahan ilmu.
b. Menghimpun ayat dan hadis yang berkaitan dengan masalah yang sudah ditetapkan. Ayat dan hadis ini dihimpun dengan cara: Memasukkan entri kata memiliki keterkaitan dengan penjelasan ilmu -seperti: ‘allama (mengajarkan), ya’lamun (mereka mengetahui), ya’lamu (ia mengetahui), ‘alim (sangat tahu), al-‘aql, al-Albab, an-Nuha, al-Fiqh, al-Hikmah dan al-Fikr- kedalam program Maktabah syamilah (sebuah ensiklopedi quran dan hadis). Dari cara melacak ayat al-Qur’an dan Al-Hadis dari akar kata tertentu ini dapat diseleksi ayat-ayat maupun hadis-hadis yang memiliki relefansi dengan kontek interaksi pendidikan ilmu.
c. Menggali interpretasi ayat maupun takhrij hadis. Penafsiran ayat dilihat dari berbagai kitab tafsir dengan karakteristik tafsi>r bi al-ma’thu>r, tafsi>r bi al-ra’yi> dan berbagai tafsi>r bi al-‘ilmi>. Demikian pula penjelasan hadis dilihat dari berbagai syarah takhrij hadis. Hal ini dimaksudkan untuk memperoleh kelengkapan data tektual yang memperjelas historisitas ayat dan hadis tersebut.
d. Mencari sabab nuzu>l (ayat) dan atau sabab wurud (hadis) Langkah ini dilakukan melalui rujukan kitab luba>b al-Nuqu>l fi> asba>b al-nuzu>l karya Abd al-Rah}ma>n bin Abi Bakr bin Muh}ammad al-Sayu>t}i> Abu al-Fad}l dan kitab-kitab takhrij hadis.

5. Teknik Analisis Data
Data yang sudah terkumpul melalui langkah tersebut kemudian dianalisis dengan memasukkan perspektif dikotomi ilmu. Analisa dilakukan melalui teknik berikut:
a. Analisis makna (Mean Analysis). Teknik ini diterapkan untuk menganalisis makna yang terkandung dalam ayat-ayat al-Qur’an dan Al-Hadis. Analisis makna digunakan untuk membuat klasifikasi isi ayat-ayat dan hadis-hadis ilmu tersebut.
b. Analisis Bahasa (Linguistic Analysis). Hal ini dimaksudkan untuk mendukung analisis makna. Penggunaan analisis ini untuk mengetahui arti yang mendalam dari sesuatu kata (mufradat) dalam al-Qur’an, smaupun Al-Hadis, ehingga dapat dijadikan dasar untuk analisis lebih lanjut.
c. Analisis Konsep (Concep Analysis). Analisis konsep merupakan tindak lanjut dari analisis makna dan bahasa. Analisis konsep menekankan pada kata-kata kunci yang merepresentasikan main idea (ide/gagasan inti).
6. Teknik kesimpulan
Data yang telah dianalisis dengan teknik di atas, selanjutnya disimpulkan dengan mengunakan metode berfikir berikut:
a. Induksi; adalah cara berfikir dari yang khusus menuju yang umum, biasanya disebut dengan generalisasi (Anton Bakker, Ahmad Charris Zubair, 1992: 43). Metode induksi digunakan untuk generalisasi ayat-ayat yang memuat pendidikan anak, yang mana letaknya terpisah di berbagai surat. Hasilnya, merupakan identifikasi ayat-ayat yang memuat pendidikan anak dalam al-Qur’an. Identifikasi umum ayat-ayat pendidikan anak ini didasarkan atas prinsip induksi yang dibangun berdasarkan premis yang sudah diasumsikan kebenarannya. Premis ini menegaskan bahwa setiap ayat al-Qur’an bernilai pendidikan yang mana pendidikan anak termasuk di dalamnya.
b. Deduksi; ialah metode berfikir bertolak dari yang umum menuju yang khusus. Metode ini dimaksudkan untuk menerapkan perspektif epistemologi pendidikan anak yang secara spesifik ingin ditemukan dalam al-Qur’an. Metode deduksi lebih dominan digunakan karena fokus penelitian ini adalah nilai ajaran al-Qur’an yang sudah diyakini oleh umat Muslim sebagai sumber yang mutlak kebenarannya.

BAB II
PERSPEKTIF TEORI DIKOTOMI ILMU

A. Klasifikasi ilmu
Didalam al-Mu’jam al-Mufahras li-alfaz Al-Qur’an al-Karm yang dinukil oleh Yusuf al-Qardawi, kata ‘ilm (ilmu) baik dalam bentuk definitive (ma’rifah) maupun dalam bentuk indefinitif (nakirah) terdapat 80 kali. Sedangkan kata yang berkait dengan itu seperti kata ‘allama (mengajarkan), ya’lamun (mereka mengetahui), ya’lamu (ia mengetahui), ‘alim (sangat tahu) dan sebagainya disebut beratus ratus kali (Yusuf al-Qardawi, 1989: 1). Hal ini belum termasuk kata al-‘aql, al-Albab dan an-Nuha, al-Fiqh, al-Hikmah dan al-Fikr yang mana semuanya memiliki keterkaitan dengan kegiatan ilmiah.
Selain dalam Al-Qur’an, dalam al-Hadis juga banyak dijumpai tentang diskursus ilmu. Hal ini dapat dilihat dari berbagai kitab Hadis yang secara spesifik menampilkan bab tentang ilmu. Misalnya dalam kitab Hadis al-Jami’ Al-Sahih karya Imam Muhamad Bin Isma’il al-Bukhari -sebagaimana dinukil oleh al-Qardawi - didapati bab ilmu sesudah hadis-hadis permulaan yang menjelaskan tentang turunnya wahyu dan iman. Demikian pula dikatakan oleh al-Hafiz Ibn Hajar dalam kitabnya al-Fath, hadith-Hadis tersebut dengan katagori marfu’ sejumlah 102 hadith (Yusuf al-Qardawi, 1989: 1). Demikian pula kitab Hadis lainnya seperti Sahih Muslim, sunan al-Turmudhi, sunan Abi Daud, Al-Nasa‘i dan Ibn Majah terdapat pula bab ilmu baik yang mengupas secara luas maupun singkat dengan berbagai tipologi faliditasnya yang sahih, da’if maupun hasan.
Langgulung juga menjelaskan klasifikasi ilmu menurut pandangan Ibn Sina, Al-Farabi, Syamsuddin Muhammad al-‘Amuli dan al-Ghazali ‎(Hasan Langgulung, 1992: 106). Ibn Sina membagi pada dua macam (1) ilmu sementara dan (2) ilmu abadi (hikmah), yang terbagi lagi menjadi dua yaitu; a) sebagai tujuan (teoritis: termasuk ilmu tabi’I, matematika, metafisika dan universal dan praktis; termasuk ilmu akhlak, rumah tangga, politik, syari’ah) dan b) sebagai alat diantaranya logika. Al-Farabi membagi ilmu pada lima katagori; ilmu bahasa, logika, hitung menghitung, tabi’I dan ilmu masyarakat dimana masing-masing dengan cabangnya. Adapun al-‘Amuli membagi pada ilmu filsafat (sama setiap waktu) dan ilmu bukan filsafat (tidak sama setiap waktu). Sedangkan Al-Ghazali ‎lebih membagi pada ilmu shari’ah dan ilmu aqliyah.
Sebenarnya klasisifkasi ilmu jauh sebelum itu sudah ada. Aristoteles misalnya telah mengklasifikasikan ilmu kepada ilmu teoritis dan praktis. Hanya saja menurut Langgulung oleh filosof Islam cara pengelompokan yang dibuat oleh Aristoteles ini ditiru dan dibuat perubahan seperlunya sesuai dengan teori mereka masing-masing. Al-Farabi membuat perubahan sedikit, kemudian Ibn Sina lebih banyak, sedang Al-Ghazali ‎bukan hanya mengadakan perubahan tetapi membentuk pengelompokan yang sama sekali lain dari klasifikasi Aristoteles, terutama klasifikasi yang dibuatnya sesudah mengalami krisis dan memilih jalan tasawuf (Hasan Langgulung, 1991: 143).
Dalam istilah Ahmad Tafsir dengan merujuk pada Ibn Khaldun, klasifikasi pengetahuan dibagi kepada pengetahuan yang diwahyukan (naqliyah) atau dalam istilah konferensi ilmu di Makah disebut dengan Perrenial dan pengetahuan yang diperoleh (aqliyah) atau Acquired dalam istilah konferensi tersebut. Tafsir juga menekankan pengintegrasian kedua pengetahuan itu harus dimulai dengan membangun kembali filsafat pengetahuan dalam Islam, dan juga mengintegrasikan sistem pendidikan. Orang Islam harus segera menyadari bahwa tradisi aslinya telah dikacau oleh tradisi barat yang memang memisahkan pengetahuan yang diwahyukan dari pengetahuan yang diperoleh (Ahmad Tafsir, 1997: 18).
Klasifikasi ilmu juga disandarkan pada perbedaan sumber ilmu. Abd al-Fath Jalal menyebutkan ada dua sumber ilmu; pertama Bashariyyah (sumber manusiawi). Sumber ini dapat dicapai manusia lewat berbagai jalan diantaranya ialah taqlid (meniru) seperti pada peristiwa putra adam setelah membunuh saudaranya, ia tidak mampu menguburnya, kemudian ia meniru prilaku seekor burung gagak. Kedua Ilahiyah (sumber ilahi). Kebanyakan ayat Al-Qur’an menyatakan, bahwa ilmu itu (ilmu shari’at dan agama) bersumber dari Allah swt (Abd Fath Jalal, 1988: 150).
B. Integrasi ilmu
Menurut Suprayogo beberapa tahun terakhir ini sebenarnya telah lahir kesadaran baru dikalangan umat, bahwa tidak layak lagi melakukan klasifikasi terhadap ilmu sebagaimana terjadi sekarang ini. Disadari dengan klasifikasi itu akan melahirkan kesan bahwa lingkup ajaran Islam menjadi sempit dan terbatas, tetapi tampaknya belum ditemukan jalan keluar yang efektif untuk memperoleh wawasan baru (Imam Suprayogo, 1999: 69). Arah tawarannya adalah dengan mempertemukan dua arus besar keilmuan dikotomis tersebut. Lalu bagaimana format ideal sintesa atau integrasi pendi¬dikan yang sesuai dengan jiwa Islam?
Pertanyaan mendasar yang perlu dikemukakan menurut Soetandyo Wigjosoebroto adalah bagaimana model integrasi ilmu yang dikehendaki itu? Mengingat ilmu dan atau kajian agama sulit dibilang kedalam kerabat sains. Ilmu agama adalah ilmu normative yang tekstual mengandalkan kerja penalaran yang deduktif dengan premis awal yang diyakini kebenaran subtantifnya. Sementara sains mendasarkan diri pada silogisme dengan premis mayor yang kebenarannya masih harus diragukan dan karena itu harus diuji terlebih dahulu lewat proses eksperimentasi yang mengandalkan cara kerja indukftif (Soetandyo Wignyosoebroto dalam M. Zainuddin, 2004: 46).
Mensikapi klasifikasi ilmu tersebut, maka Wignyosoebroto memberikan beberapa alternatif filosofis kemungkinan model pengintegrasian. Pertama: dengan menyatukan atau mensenyawakan. Menurutnya apakah ini mungkin, karena akan berkonsekuensi pada pemikiran untuk menggantikan paradigma epistemologisnya, dari apa yang disebut metode dualisme ke metode monisme. Kedua: dengan mempersatukan ilmu agama yang normatif-tekstual yang berkenaan dengan segala fenomena dengan ilmu pengetahuan yang saintifik-kontekstual yang hanya berkenaan dengan segala fenomena empirik. Ketiga: menempatkan ilmu agama yang normatif dan ilmu pengetahuan yang bertradisi sains itu tetap dalam ranah masing-masing yang otonom, sebagai dua wujud yang ditempatkan dalam suatu garis progresi secara terpisah, namun dalam hubungan antara keduanya yang fungsional dan komplementer (Soetandyo Wignyosoebroto dalam M. Zainuddin, 2004: 46).
C. Islamisasi ilmu
Bersamaan dengan problem dikotomi tersebut muncul pula perbincangan tentang Islamisasi ilmu pengetahuan, termasuk di dalamnya ilmu pendidikan, sebagai respon terhadap kriris pendidikan dan ilmu pengetahuan yang sedang diderita oleh umat Islam. Berkenaan dengan Islamization of Knowledge menurut A. Qadri Azizi meskipun tidak berangat dari epistemologi Islam, tetapi diadopsi dari ilmu-ilmu skuler yang kemudian dikembangkan diharapan akan dapat menutupi yang kurang atau mengevaluasi yang tidak pas (A. Qadri azizi dalam M. Zainuddin, 2004: 4). Gagasan Islamisasi Pengetahuan ini telah muncul pada saat diselenggarakan sebuah Konferensi Dunia yang pertama tentang Pendidikan Muslim di Mekah pada tahun 1977.
Al-‘Attas menyatakan bahwa tantangan terbesar yang secara diam-diam dihadapi oleh umat Islam pada zaman ini adalah tantan¬gan pengetahuan, bukan dalam bentuk sebagai kebodohan, tetapi pengetahuan yang difahamkan dan disebarkan ke seluruh dunia oleh peradaban Barat. Sistem pendidikan Islam telah dicetak di dalam sebuah karikatur Barat, sehingga ia dipandang sebagai inti malaise atau penderitaan yang dialami umat (Sayyid Muhammad Naquib Al-‘Attas, 1981: 195).
Konsekwensi dari gagasan Islamisasi ilmu tersebut menimbulkan permasalah, bagaimana model Islamisasi itu dan dimulai dari mana? Al-Faruqi sebagaimana dikutip Husni Rahim mengusulkan satu kerangka kerja Islamisasi ilmu pengetahuan yang terdiri dari 12 langkah operasional, mulai dari penguasaan disiplin ilmu sampai dengan penyebaran ilmu pengetahuan yang sudah terIslamkan (Husni Rahim dalam M. Zainuddin, 2004: 54). Dengan merujuk pada Muhammad ‘Afif ia juga menguraikan dua model pendekatan Islamisasi yaitu dengan stratificasion: dimulai dari peristiwa kogkrit menuju abstrak, dan Idealization: dimulai dari yang umum dan abstrak menuju yang kongkrit (Husni Rahim dalam M. Zainuddin, 2004: 54).
Rahim sendiri mengusulkan tiga model Islamisasi ilmu, (1) pada tataran yang sederhana dengan mencarikan doktrin-doktrin agama yang relevan dari Al-Qur’an dan al-Hadith, (2) tataran signifikan dengan membangun basis-basis keIslaman yang tangguh untuk semua disiplin ilmu (Islamization of disciplines), (3) tataran fundamental dengan membangun kerangka filosofis ilmu pengetahuan secara Islami, karena filosofis ilmu pengetahuan moderen tidak untuk menampung prinsip kosmologi Islam yang tidak terbatas pada dunia empiric (Husni Rahim dalam M. Zainuddin, 2004: 54).
Namun demikian, di kalangan cendekiawan muslim agaknya masih terdapat sikap pro dan kontra terhadap Islamisasi Pengetahuan, yang masing-masing pihak memiliki alasan-alasan yang cukup mendasar. Pihak yang pro berargumentasi, bahwa: (1) umat Islam membutuhkan sebuah sistem sains untuk memenu¬hi kebutuhan-kebutuhan mereka baik materiil maupun spiritual, sedangkan sistem sains yang ada kini belum mampu memenu¬hi kebutuhan-kebutuhan tersebut, karena sistem sains ini banyak mengandung nilai-nilai yang bertentangan dengan Islam; (2) kenyataan membuktikan bahwa sains modern telah menimbulkan ancaman-ancaman bagi kelangsungan dan kehidupan umat manusia dan lingkungannya; dan (3) umat Islam pernah memiliki suatu peradaban Islami, yaitu sains berkembang sesuai dengan nilai-nilai dan kebutuhan umat, sehingga untuk menciptakan kembali sains Islam dalam peradaban yang Islami perlu dilakukan Islamisasi sains.
Sedangkan pihak yang kontra berargumentasi bahwa dilihat dari segi historis, perkembangan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di Barat saat ini banyak diilhami oleh para ulama Islam yang ditransformasikan terutama pada "masa keemasan Islam", sehingga mereka banyak berhutang budi terhadap ilmuwan muslim. Karena itu, jika umat Islam hendak meraih kemajuan di bidang ilmu pengetahuan dan tekonologi, maka perlu melakukan transformasi besar-besaran dari Barat tanpa ada rasa curiga, walaupun harus selalu waspada. Iptek adalah netral bergantung kepada pembawa dan pengembangnya. Karena itulah Islamisasi ilmu pengetahuan tidak begitu penting, tetapi yang lebih penting justru Islamisasi subyek atau pembawa dan pengembang iptek itu sendiri.
Adanya dualisme tersebut, menurut Ma'arif, juga tidak bisa dilepaskan dari pengaruh pemikiran pendidikan Islam warisan dari periode klasik. Diterimanya dikotomi antara ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu umum adalah diantara indikasi kerapuhan dasar filosofis pendidikan Islam pada saat itu (A. Syafii Ma'arif, 1993: 144). Karena itu, secara filosofis pendidikan Islam harus melakukan pembaharuan untuk menumbangkan konsep dikotomik tersebut secara mendasar. Sikap dikotomis ini mengkatagorikan ilmu agama menduduki posisi fardu 'ain, dan ilmu-ilmu sekuler paling tinggi berada pada posisi fardu kifayah. Jika dualisme dikotomik tersebut berhasil ditumbangkan, maka sistem pendidikan Islam akan berubah secara keseluruhan mulai dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi.


BAB III
NORMATIVITAS DIKOTOMI DALAM AL-QUR’AN DAN AL-HADIST

A. Melacak ayat-ayat al-Quran yang bernuansa dikotomi
Al-Qur’an dan al-Hadist memuat dasar-dasar pengetahuan seluas kehidupan itu sendiri. Tidak saja berbicara dunia fisik-empirik, tetapi juga dunia metafisik-non empirik. Pada intinya menegaskan ada kehidupan alam duniawi dan alam ukhrowi. Pada kontek penelitian ini akan dilakukan eksplorasi sejauh mana tektualitas Al-Qur’an menjelaskan secara ”dikotomi” kedua alam kehidupan tersebut (dunia dan akherat).
Langkah tersebut secara mengerucut diikuti dengan pelacakan entri kata dunia dan akherat dalam kaitannya dengan kegiatan ilmiah yang mencakup masalah ilmu dan ilmuan (ulama) dalam kontek normtivitas Al-Qur’an dan Al-Hadist. Hasil tahapan ini diharapkan dapat menjawab permasalahan yang telah ditetapkan dalam penelitian ini.
Eksplorasi entri kata dimaksud ingin ditemukan dalam Al-Qur’an meliputi: الحياة الدنيا, الحياة الأخرة, علم, العلم, عالم, علماء, العلماء, الدنيا علم , علم الأخرة, ثواب الدنيا, ثواب الأخرة, حرث الدنيا, حرث الأخرة, نصيبك من الدنيا, حسنة في الدنيا, الدنيا, الأخرة, دنيا, أخرة, علّم,dan يعلّمون.
Sedangkan etri kata dalam Al-Hadist mencakup: فعليه بالعلم, اطلب العلم, طلب العلم, dan كفى بالمرء علما.

1. Entri kata الحياة الدنيا

Entri kata الحياة الدنيا diantaranya terdapat dalam surat-surat beriktu; 1) al-Baqarah ayat 85, 86, 204, 212, 2) Ali Imran: 14, 117, 185.
2. Entri kata الحياة الأخرة

Entri kata الحياة الأخرة tidak ditemukan dalam al-Qur’an.
Berdasarkan data –data di atas, Al-Qur’an mengkatagorikan kehidupan menjadi dua yaitu dunia dan akhirat. Kata-kata alhayat addunya (الحياة الدنيا ) disebutkatn Al-Qur’an sebanyak 61 kali pada 60 ayat. Sedangkan kata alhayat alakhirah (الحياة الأخرة) tidak termaktub dalam Al-Qur’an . Kontek penyebutan alhayat alakhirah tersebut seperti pada ayat-ayat berikut:
                               
85. Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat.86. Itulah orang-orang yang membeli kehidupan dunia dengan (kehidupan) akhirat, Maka tidak akan diringankan siksa mereka dan mereka tidak akan ditolong. (albaqarah)

Ayat ini memilah kehidupan dunia (alhayat addunya) dengan kehidupan akherat dimana orientasi kehidupan akherat tidak boleh diselewengkan untuk kepentingan kehidupan dunia. Jihad agama adalah berorientasikan kepentingan akherat sehingga tidak boleh digunakan untuk kepentingan memperoleh harta duniawi. Ayat Ini berkenaan dengan cerita orang Yahudi di Madinah pada permulaan Hijrah. Yahudi Bani Quraizhah bersekutu dengan suku Aus, dan Yahudi dari Bani Nadhir bersekutu dengan orang-orang Khazraj. antara suku Aus dan suku Khazraj sebelum Islam selalu terjadi persengketaan dan peperangan yang menyebabkan Bani Quraizhah membantu Aus dan Bani Nadhir membantu orang-orang Khazraj. sampai antara kedua suku Yahudi itupun terjadi peperangan dan tawan menawan, Karena membantu sekutunya. tapi jika Kemudian ada orang-orang Yahudi tertawan, Maka kedua suku Yahudi itu bersepakat untuk menebusnya kendatipun mereka tadinya berperang-perangan.
  ••                
204. Dan di antara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu, dan dipersaksikannya kepada Allah (atas kebenaran) isi hatinya, padahal ia adalah penantang yang paling keras.

Ayat ini menjelaskan kehebatan propaganda orang kafir yang ingin menyesatkan orang beriman. Ungkapan Ini adalah ibarat dari orang-orang yang berusaha menggoncangkan iman orang-orang mukmin dan selalu mengadakan pengacauan. Propaganda duniawi (alqaul fi alhayat addunya) mencitrakan kehidupan orang kafir yang ingin menyesatkan orang beriman. (albaqarah)
            •           
212. Kehidupan dunia dijadikan indah dalam pandangan orang-orang kafir, dan mereka memandang hina orang-orang yang beriman. padahal orang-orang yang bertakwa itu lebih mulia daripada mereka di hari kiamat. dan Allah memberi rezki kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya tanpa batas. (albaqarah)

Ayat ini menjelaskan kehidupan duniawi orang kafir adalah sekaligus kehidupan surgawinya. Sedangkan kehidupan surgawai orang beriman dan bertakwa adalah nanti ketika di akherat, dengan demikian kehidupan duniawinya bisa jadi sesaat tidak seindah seperti kehidupan orang kafir. Disini kata alhayat alddunya terlihat digunakan untuk pemilahan sifat kehidupan antara orang beriman dan kafir.
  ••                         
14. Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). (Ali Imran).

Kata alhayat addunya pada ayat ini menjelaskan perhiasan dunia bagi manusia yang tidak beriman. Sedangkan orang yang beriman cenderung tidak tergiur dengan perhiasan dunia yang meliputi harta, wanita, perhiasan, sawah, ladang, binatang dan lainya.
                         
117. Perumpamaan harta yang mereka nafkahkan di dalam kehidupan dunia ini, adalah seperti perumpamaan angin yang mengandung hawa yang sangat dingin, yang menimpa tanaman kaum yang menganiaya diri sendiri, lalu angin itu merusaknya. Allah tidak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri. (Ali Imran).
               •  •          
185. Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. dan Sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, Maka sungguh ia Telah beruntung. kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan. (Ali Imran).
3. Entri kata ilmu ( علم )

Entri kata ilmu ( علم ) diantaranya terdapat dalam surat-surat beriktu; 1) alqasas 78, arrum 29, Luqman 6, 15, 20, 34.
4. Entri kata العلم

Entri kata العلم diantaranya terdapat dalam surat-surat beriktu; 1) Ali Imran 7, 18, 19, 61, 2) Annisa 162, 3) Yunus 93, 3) Arra’d 37.
Dari data-data di atas diketahui bahwa ntri kata Ilm (علم) dalam Al-Qur’an diulang sebanyak 60 kali dalam 58 ayat. Sedangkan kata alilm (العلم) dalam bentuk ma’rifah diulang sebanyak 28 kali dalam 28 ayat. Kata-kata ‘ilm dan al’ilm berhubungan dengan masalah pengetahuan/ keilmuan.
Diantara contoh ayat-ayat yang memuat kata ilm ialah:
                        
8. Dan kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang ibu- bapaknya. dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, Maka janganlah kamu mengikuti keduanya. Hanya kepada-Ku-lah kembalimu, lalu Aku kabarkan kepadamu apa yang Telah kamu kerjakan. (al’ankabut)

Kata ilm pada ayat ini digunakan untuk menjelaskan masalah keimanan. Yakni, jika orang tua memaksa anak untuk menyekutukan Allah maka anak tidak wajib mengikutinya. Hal ini sekaligus membatasi kawasan ketaatan anak kepada orang tua. Jika pengetahuan orang tua benar, maka wajib diikuti dan jika pengetahuannya salah maka harus ditinggalkan degan tanpa mengabaikan berbakti kepadanya dalam bentuk pergaulan.
            •       
29. Tetapi orang-orang yang zalim, mengikuti hawa nafsunya tanpa ilmu pengetahuan; Maka siapakah yang akan menunjuki orang yang Telah disesatkan Allah? dan tiadalah bagi mereka seorang penolongpun. (Arrum).

Kata ilm dalam ayat ini digunakan untuk menjelaskan sifat orang zalim yang cenderung mengikuti hawa nafsunya. Kezaliman itu merupakan kesesatan yang nyata dan tiada yang mampu mengarahkan menuju kebenaran kecuali dengan seizin hidayah Allah.
  ••     •       •      
6. Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan. (Luqman).

Kata ilm pada ayat ini menjelaskan sifat orang yang propaganda perkataannya menyesatkan manusia beriman. Bagi mereka ini azab yang pendih dihadapan Allah.
                    •             
15. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, Maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, Kemudian Hanya kepada-Kulah kembalimu, Maka Kuberitakan kepadamu apa yang Telah kamu kerjakan.

   •    •             ••            
20. Tidakkah kamu perhatikan Sesungguhnya Allah Telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya lahir dan batin. dan di antara manusia ada yang membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu pengetahuan atau petunjuk dan tanpa Kitab yang memberi penerangan.
                •          
93. Dan Sesungguhnya kami Telah menempatkan Bani Israil di ternpat kediaman yang bagus dan kami beri mereka rezki dari yang baik-baik. Maka mereka tidak berselisih, kecuali setelah datang kepada mereka pengetahuan (yang tersebut dalam Taurat). Sesungguhnya Tuhan kamu akan memutuskan antara mereka di hari kiamat tentang apa yang mereka perselisihkan itu.

                    •       • • 
162. Tetapi orang-orang yang mendalam ilmunya di antara mereka dan orang-orang mukmin, mereka beriman kepada apa yang Telah diturunkan kepadamu (Al Quran), dan apa yang Telah diturunkan sebelummu dan orang-orang yang mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan yang beriman kepada Allah dan hari kemudian. orang-orang Itulah yang akan kami berikan kepada mereka pahala yang besar. (Annisa’).

Kata al’ilm pada ayat ini menjelasakn sifat orang mukmin yang mendalam ilmunya. Pengetahuan orang mukmin ini merefleksikan amal dan ibadah berupa solat dan zakat. Dengan kata lain, kata al’ilm memberi otoritas makna pada pengetahuan agama.
                    
18. Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan dia (yang berhak disembah), yang menegakkan keadilan. para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). tak ada Tuhan melainkan dia (yang berhak disembah), yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Ali Imran).

Ayat Ini untuk menjelaskan martabat orang-orang berilmu. Kata al’ilmu digunakan untuk menjelaskan kapasitas orang yang memiliki pengetahuan agama yang sangat tinggi, sehingga sejajar dengan martabat malaikat yang sama-sama mampu mengimanai adanya Allah.
       •              
37. Dan Demikianlah, kami Telah menurunkan Al Quran itu sebagai peraturan (yang benar) dalam bahasa Arab. dan seandainya kamu mengikuti hawa nafsu mereka setelah datang pengetahuan kepadamu, Maka sekali-kali tidak ada pelindung dan pemelihara bagimu terhadap (siksa) Allah. (Arra’d).

Kata al’ilm dalam ayat ini digunakan untuk menjelaskan pengetahuan yang benar yang telah diperoleh sesorang. Jika kemudian tersesat setelah mendapatkan pengetahuan itu, maka sungguh tidak ada yang dapat menolong.

5. Entri kata عالم

Entri kata عالم diantaranya terdapat dalam surat-surat beriktu; 1) Fathir 38, Azzumar 46, Al-Hasyr 22, Al-Jum’ah 8, Attaghabun, 18, dan Al-Jinn 26).
6. Entri kata علماء

Entri kata علماءterdadapat hanya disebutkan sekali, yaitu dalam surat assyuara’ ayat 197.
7. Entri kata العلماء

Entri kata العلماء juga hanya disetbutkan sekali, yaitu dalam surat Fathir ayt 28.
Berdsarkan data-data di atas difahami bahwa entri kata ’alim (عالم) dalam Al-Qur’an diulang sebanyak 13 kali dalam 13 ayat. Sedangkan kata ’ulama’ (العلماء) dalam bentuk ma’rifah diulang sebanyak 1 kali dalam 1 ayat, demikian pula kata ulama’ dalam bentuk nakirah hanya terdapat pada satu ayat dengan sekali penyebutan. Kata-kata ’alim, ’ulama, dan al’ulama menunjukkan para ilmuan yang melakukan kegiatan ilmiah.
Penggunaan kata-kata tersebut dapat dilihat pada beberapa contoh berikut:
            
38. Sesungguhnya Allah mengetahui yang tersembunyi di langit dan di bumi. Sesungguhnya dia Maha mengetahui segala isi hati. (Fathir).

Kata alim pada ayat ini digunakan untuk menjelaskan sifat Allah yang mengetahui hal ghaib di langit dan bumi. Bahkan Allah maha mengetahui apa yang ada di dalam hati manusia. Pengertian seperti ini juga terdapat pada beberapa ayat lainya seperti pada contoh berikut:
                  
46. Katakanlah: "Wahai Allah, Pencipta langit dan bumi, yang mengetahui barang ghaib dan yang nyata, Engkaulah yang memutuskan antara hamba-hamba-Mu tentang apa yang selalu mereka memperselisihkannya." (Azzumar).
                
22. Dialah Allah yang tiada Tuhan selain Dia, yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Dia-lah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. (Alhasyr).
  •                  
8. Katakanlah: "Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, Maka Sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, Kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu dia beritakan kepadamu apa yang Telah kamu kerjakan". (Aljum’ah).
      
18. Yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata. yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
        
26. (Dia adalah Tuhan) yang mengetahui yang ghaib, Maka dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu.

          
197. Dan apakah tidak cukup menjadi bukti bagi mereka, bahwa para ulama Bani Israil mengetahuinya? (Assyu’ara’).

Kata ‘ulama’ pada ayat ini menjelaskan para penguasa ilmu pengetahuan di zaman Bani Israil. Pengetahuan yang mereka miliki berada pada wilayah pengetahuan agama.
  ••                  
28. Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. (Fathir).
Yang dimaksud dengan ulama dalam ayat Ini ialah orang-orang yang mengetahui kebesaran dan kekuasaan Allah.
8. Entri kata علم الدنيا

Entri kata علم الدنيا tidak dijumpai dalam al-Qur’an.
9. Entri kata علم الأخرة

Entri kata علم الأخرة tidak ada dalam al-Quar’an.

10. Entri kata ثواب الدنيا

Entri kata ثواب الدنيا diulang tiga kali dalam surat-surat beriktu; Ali Imaran 145, 148, dan Annisa 134.
11. Entri kata ثواب الأخرة

Entri kata ثواب الأخرة diulang dua kali dalam surat Ali Imran 145 dan 148.
Dari data-data di atas diketahui bahwa Entri kata sawab addunya (ثواب الدنيا) dalam Al-Qur’an terdapat 4 kali pengulangan dalam 3 ayat, dan kata sawab alakhirah (ثواب الأخرة) terdapat 2 kali pengulangan dalam 2 ayat.
                           
145. Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang Telah ditentukan waktunya. barang siapa menghendaki pahala dunia, niscaya kami berikan kepadanya pahala dunia itu, dan barang siapa menghendaki pahala akhirat, kami berikan (pula) kepadanya pahala akhirat itu. dan kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.
            
148. Karena itu Allah memberikan kepada mereka pahala di dunia dan pahala yang baik di akhirat. dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan.

 •               
134. Barangsiapa yang menghendaki pahala di dunia saja (maka ia merugi), Karena di sisi Allah ada pahala dunia dan akhirat. dan Allah Maha mendengar lagi Maha Melihat.

12. Entri kata حرث الدنيا

Entri kata حرث الدنيا terdapat sekali dalam surat Asyura 20.
13. Entri kata حرث الأخرة

Demikian pula Entri kata حرث الأخرة hanya terdapat sekali dalam surat Assyura 20.
Berdasarkan pelacakan di atas diketahui bahwa entri kata hartsa addunya (حرث الدنيا) dalam Al-Qur’an terdapat 1 kali pengulangan dalam 1 ayat, dan demikian pula kata hartsa alakhirah (حرث الأخرة) terdapat 1 kali pengulangan dalam 1 ayat.
                        
20. Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan kami tambah keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat. (Asyura).

14. Entri kata نصيبك من الدنيا

Entri kata نصيبك من الدنيا terdapat sekali dalam surat alqashas 77.
Berdasarkan pada pelacakan di atas diketahui bahwa entri kata nashibaka minaddunya (نصيبك من الدنيا) terdapat satu kali dalam Al-Qur’an . Adapun kata nasibaka minalakhirah sama sekali tidak dijumpai.
                          •     
77. Dan carilah pada apa yang Telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah Telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.

15. Entri kata حسنة في الدنيا

Entri kata حسنة في الدنيا terdapat tigakali pengulangan, yaitu dalam surat Albaqarah 201, Annahl 41dan 122.
16. Entri kata حسنة في الأخرة
Entri kata حسنة في الأخرة terdapat satu kali dalam surat Al-Baqarah 201.
Entri kata fiddunya hasanah (حسنة في الدنيا) terdapat 3 kali pengulangan dalam 3 ayat dan filakhirah hasanah (حسنة في الأخرة) hanya tertera sekali.
Hal ini sebagaimana dalam ayat berikut:
  •            • 
201. Dan di antara mereka ada orang yang bendoa: "Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka". (Albaqarah).
         •            
41. Dan orang-orang yang berhijrah Karena Allah sesudah mereka dianiaya, pasti kami akan memberikan tempat yang bagus kepada mereka di dunia. dan Sesungguhnya pahala di akhirat adalah lebih besar, kalau mereka mengetahui (Annahl).
           
122. Dan kami berikan kepadanya kebaikan di dunia. dan Sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang saleh.
17. Entri kata الدنيا

Entri kata الدنيا diulang 115 kali diantaranya dalam surat al-Baqarah 85, 86, 114, 130, 200, 201, 204.
18. Entri kata الأخرة

Entri kata الأخرة diulang 71 kali diataranya dalam surat-surat berikut; Almaidah 33, 41, al-An’am 32, al-A’raf 147, 156, 169 dan al-Anfal 67.

19. Entri kata دنيا

Entri kata دنيا tidak dijumpai dalam Al-Quar’an.
20. Entri kata أخرة

Entri kata أخرة tidak dijumpai dalam Al-Qur’an.
Dari data-data dimuka diketahui bahwa entri kata addunya (الدنيا) diulang 115 kali dalam 111 ayat, kata alakhirah (الأخرة ) 71 kali dalam 69 ayat. Sedangkan kata dunya (دنيا) dan akhirah (أخرة ) dalam bentuk nakirah sama sekali tidak dijumpai dalam Al-Qur’an .
Contoh kata addunya dan alakhirah sebagaimana berikut:
               
86. Itulah orang-orang yang membeli kehidupan dunia dengan (kehidupan) akhirat, Maka tidak akan diringankan siksa mereka dan mereka tidak akan ditolong. (Albaqarah).
    •                             
114. Dan siapakah yang lebih aniaya daripada orang yang menghalanghalangi menyebut nama Allah dalam mesjid-mesjid-Nya, dan berusaha untuk merobohkannya? mereka itu tidak sepatutnya masuk ke dalamnya (mesjid Allah), kecuali dengan rasa takut (kepada Allah). mereka di dunia mendapat kehinaan dan di akhirat mendapat siksa yang berat. (Albaqarah).
                     
130. Dan tidak ada yang benci kepada agama Ibrahim, melainkan orang yang memperbodoh dirinya sendiri, dan sungguh kami Telah memilihnya di dunia dan Sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang saleh. (Albaqarah).
   •          ••             
200. Apabila kamu Telah menyelesaikan ibadah hajimu, Maka berdzikirlah dengan menyebut Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu, atau (bahkan) berdzikirlah lebih banyak dari itu. Maka di antara manusia ada orang yang bendoa: "Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia", dan tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat. (Albaqarah).
  •            • 
201. Dan di antara mereka ada orang yang bendoa: "Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka".(Albaqarah).

  ••                
204. Dan di antara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu, dan dipersaksikannya kepada Allah (atas kebenaran) isi hatinya, padahal ia adalah penantang yang paling keras. (Albaqarah).
                
32. Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka Tidakkah kamu memahaminya? (Alan’am).

Maksudnya: kesenangan-kesenangan duniawi itu Hanya sebentar dan tidak kekal. janganlah orang terperdaya dengan kesenangan-kesenangan dunia, serta lalai dari memperhatikan urusan akhirat.
               
147. Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami dan mendustakan akan menemui akhirat, sia-sialah perbuatan mereka. mereka tidak diberi balasan selain dari apa yang Telah mereka kerjakan. (Ala’raf).
                      •       •     
156. Dan tetapkanlah untuk kami kebajikan di dunia Ini dan di akhirat; Sesungguhnya kami kembali (bertaubat) kepada Engkau. Allah berfirman: "Siksa-Ku akan Kutimpakan kepada siapa yang Aku kehendaki dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat kami". (Al’araf).
                       
67. Tidak patut, bagi seorang nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi. kamu menghendaki harta benda duniawiyah sedangkan Allah menghendaki (pahala) akhirat (untukmu). dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
21. Entri kata علّم

  
4. Mengajarnya pandai berbicara.

               
31. Dan dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, Kemudian mengemukakannya kepada para malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!"

Dari data tersebut diketahui bahwa entri kata علّم terdapat dua kali pengulangan yaitu dalam Al-Rahman 4 dan al-Baqarah 31.
22. Entri kata يعلّمون

Entri kata يعلّمون terdapat sekali dalam surat al-Baqarah 102 seperti berikut:
•               ••                                                                   
102. Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (Tidak mengerjakan sihir), Hanya syaitan-syaitan lah yang kafir (mengerjakan sihir). mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum mengatakan: "Sesungguhnya kami Hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir". Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan isterinya[\. dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorangpun, kecuali dengan izin Allah. dan mereka mempelajari sesuatu yang tidak memberi mudharat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Demi, Sesungguhnya mereka Telah meyakini bahwa barangsiapa yang menukarnya (Kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat, dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka Mengetahui.

Dalam ayat tersebut dijelaskan bahwa syaitan-syaitan menyebarkan berita-berita bohong, bahwa nabi Sulaiman menyimpan lembaran-lembaran sihir. Para Mufassirin berlainan pendapat tentang yang dimaksud dengan 2 orang malaikat pada ayat ini. Ada yang berpendapat, mereka betul-betul malaikat dan ada pula yang berpendapat orang yang dipandang saleh seperti malaikat dan ada pula yang berpendapat dua orang jahat yang pura-pura saleh seperti malaikat. Penjelasan berbacam-macam sihir yang dikerjakan orang Yahudi pada ayat ini, sampai kepada sihir untuk mencerai-beraikan masyarakat seperti mencerai-beraikan suami isteri.

B. Melacak hadist-hadist yang bernuansa dikotomi
1. Entri kata فعليه بالعلم

قال الإمام الشافعي: (من أراد الدنيا فعليه بالعلم، ومن أراد الآخرة فعليه بالعلم، ومن أراد الدنيا والآخرة فعليه بالعلم).
Artinya: berkata Imam Syafi’i: barang siapa menghendaki dunia maka wajib dengan ilmu (dunia), dan barang siapa mengehendaki akherat maka wajib dengan ilmu (akherat), dan barang sipa menghendaki dunia dan akherat, maka wajib baginya ilmu (dunia dan akherat).

Ungkapan tersebut merupakan perkataan Imam Syafi’I yang terdapat dalam berbagai kitab. Diantaranya pada kitab tafsir assiroj almunir juz 1 halaman 4560, mirqatulmafatih juz 1 halaman 48, mughnilmuhtaj juz 1 halaman 31, almajmu’ syarah muhadzab juz 1 halaman 12 dan 20, tahdhibul asma’ juz 1 halaman 68 dan liqa’at albab almaftuh juz 233 halaman 5.

2. Entri kata اطلب العلم
 أخبرنا القاسم بن كثير قال : سمعت عبد الرحمن بن شريح يحدث عن عميرة أنه سمعه يقول أن رجلا قال لابنه اذهب فاطلب العلم فخرج فغاب عنه ما غاب ثم جاءه فحدثه بأحاديث ، فقال له أبوه يا بني اذهب فاطلب العلم فغاب عنه أيضا زمانا ثم جاءه بقراطيس فيها من كتب فقرأها عليه ، فقال له هذا سواد في بياض فاذهب اطلب العلم فخرج فغاب عنه ما غاب ثم جاءه ، فقال لأبيه سلني عما بدا لك ، فقال له أبوه أرأيت لو انك مررت برجل يمدحك ومررت بآخر يعيبك قال إذا لم ألم الذي يعيبني ولم أحمد الذي يمدحني (موسوعة الحديث: مجموعة الأبواب في المقدمة)
Artinya: diriwayatkan dari Al-Qasim bin Kathir berkata: saya mendengar Abdurrahman bin Syuraikh berkata dari Umairah dari seseorang berkata kepada anaknya: pergilah mencari ilmu. Lalu anak tersebut pergi beberapa waktu, kemudian kembali dengan membawa kitab lalu dibacakan kepadanya. Orang tersebut kemudian berkata kepada anaknya: ini pencerahan yang terang, pergilah terus mencari ilmu. Anak itu selanjutnya pergi beberapa lama. Giliran berikutnya, anak tersebut pulang dan berkata kepadanya, tanyakan kepadaku apa yang kamu fikirkan. Ayahnya bertanya; bagaimana pendapatmu jika kamu berjalan bertemu seseorang lalu memujimu dan yang seorang lagi mencacimu? Jawabnya: saya tidak akan menyakiti orang yang mencelakuk dan tidak akan memuji orang yang memujiku. . (ensiklopedi al-hadist: pengantar bab-bab di mukaddimah).
 حدثنا معاوية بن هشام عن سفيان عن رجل عن الحسن قال : اطلب العلم طلبا لا يضر بالعبادة ، واطلب العبادة طلبا لا يضر بالعلم ، فإن من عمل بغير علم كان ما يفسد أكثر مما يصلح .(موسوعة الحديث: كتاب الزهد)
Artinya: diceritakan dari Mu’awiyah bin Hisyam dari Sufyan dari seorang laki-laki dari al-Hasan berkata: carilah ilmu dengan sungguh-sungguh sehingga tidak membahayakan Ibadah, dan lakukan ibadah dengan sunngguh-sungguh yang tidak membahayakan ilmu, karena orang yang beramal tanpa ilmu itu lebih banyak merusak daripada memberikan maslahah. (ensiklopedi al-hadist:bab Zuhud).
3. Entri kata من أراد الدنيا


Pelacakan di atas menunjukkan hadist yang berhubungan dengan penguasaan dunia dan akherat. Hatdist ini terdapat dalam 5 kali pengulangan pada 5 kitab dari total pelacakan 2250 kitab di maktabah syamilah. Hadist tersebut secara lengkap bubyinya seperti berikut:
 أخبرنا أبو سعد الماليني ، حدثنا أبو محمد الحسن بن أحمد المؤدب بتستر قال : سمعت علي بن الحسين بن إسحاق يقول : سمعت سهل بن عبد الله بن يونس الزاهد يقول : « من أراد الدنيا والآخرة فليكتب الحديث ، فإن فيه منفعة الدنيا والآخرة » الكتاب : شعب الإيمان للبيهقي مصدر الكتاب : موقع جامع الحديث(
Artinya: diceritakan dari Abu Said Almalini, dari Abu Muhammad Alhasan bin Ahmad Almuaddib Bitustar berkata: saya mendengar Ali bin Alhusain bin Ishak berkata: saya mendengar Sahal bin Abdillah bin Yunus Azzahid berkata: “ barang siapa menginginkan dunia dan akherat maka hendakalah menulis hadist karena terdapat manfaat dunia dan akherat”. (kitab sya’bul iman: Baihaqi).
 حدثنا سفيان ، عن أبي قيس ، عن الهذيل بن شرحبيل ، قال : قال عبد الله : « من أراد الدنيا أضر بالآخرة ، ومن أراد الآخرة أضر الدنيا ، يا قوم فأضروا بالفاني للباقي ) الكتاب : الزهد لوكيع(

Artinya: diceritakan dari Sufyan dari Abi Qais dari Huzail bin Syarahbil berkata: Abdullah berkata: “ barang siapa menginginkan dunia maka telah membahayakanakerat, dan barang siapa menginginkan akherat maka telah membahayakan dunia, wahai kaum, maka pilihlah yang kekal / akherar (Abu Sufyan Waqi’ bin Jarrah: Azzuhud, ditahkiq oleh Dr. Abdurrahman Abdul Jabbar: Madinah, Maktabah Addar Almunawarah, 1404H)

 حدثنا وكيع ، عن الأعمش ، عن إبراهيم ، قال : قال عبد الله : من أراد الدنيا أضر بالآخرة ، ومن أراد الآخرة أضر بالدنيا - حدثني أبو صالح أحمد بن عبد الملك النيسابوري ، وأبو سعيد مسعود بن ناصر السجزي ، واللفظ له ، قالا حدثنا عبد الرحمن بن حمدان النضروي ، قال : أخبرنا أبو محمد الحسن بن أحمد بن محمد ، بتستر ، قال : سمعت علي بن أبي الحسن بن إسحاق يقول : سمعت سهل بن عبد الله الزاهد ، يقول : ) من أراد الدنيا والآخرة فليكتب الحديث ، فإن فيه منفعة الدنيا والآخرة (
Artinya: Dicertakan oleh Waqi’ dari Al-A’masy dari Ibarahim berkata: berkata Abdullah: “barang siapa menginginkan dunia maka telah membahayakanakerat, dan barang siapa menginginkan akherat maka telah membahayakan dunia”. Diriwayatkan dari Abu Sholeh Ahmad bin Abdul Malik Annaisaburi dan Abu Sa’id Mas’ud bin Nasir Assajazi berkata: diriwayatkan dari Abdurrahman bin Hamdani Annadhari, dari Abu Muhammad Alhasan bin Ahmad bin Muhammad bitustar berkata: saya mendengar Ali Bin Abi Hasan bin Ishak berkata: saya mendengar Sahal bin Abdullah Azzahid berkata: “barang siapa menginginkan dunia dan akherat maka hendakalah menulis hadist karena terdapat manfaat dunia dan akherat” (Alkhatib Albagdadi, Syaraf Ashabil hadist).

 ثنا علي بن عبد العزيز ، ثنا الزبير بن بكار ، ثنا عبد الله بن إبراهيم الجمحي ، عن أبيه قال : « دخل أعرابي إلى دار العباس بن عبد المطلب رحمه الله وفي جانبها عبد الله بن عباس يفتي لا يرجع في شيء يسأل عنه ، وفي الجانب الآخر عبيد الله بن العباس يطعم كل من دخل ، فقال الأعرابي : من أراد الدنيا والآخرة فعليه بدار العباس بن عبد المطلب ، هذا يفتي ويفقه الناس ، وهذا يطعم الطعام » الكتاب : مكارم الأخلاق للطبراني

Artinya: Diceritakan oleh Ali bin Abdul Aziz dari Zubair bin Bikar dari Abdullah bin Ibrahim ALjamahi dari ayahnya berkata: “ dating seorang a’rabi ke rumah Abbas bin Abdul Muttalib yang pada saat itu bersebelahan dengan Abdullah bin Abbas yang sedang memberikan fatwa atas pertanyaan yang ditanyakan kepadanya. Disebelahnya lagi ada Ubadillah bin Alabbas yang sedang menjamu makanan tamu yang hadir disitu, lalu A’rabi berkata: “barang siapa menghendaki dunia dan akherat maka hendaknya memasuki rumah Alabbas bin Abdul Muttalib yang melakukan kegiatan fatwa dan mengajar manusia. Sedangkan Ubadilah menjamu makanan”. (Abul Qasim Sulaiman Attabari, Makarimulakhlak, ditahkiq oleh Dr. Faruq Hammadah, Maroko: Darurasyad, 1400H.).
4. Entri kata كفى بالمرء علما
أخبرنا أحمد بن عبد الله بن يونس ثنا زائدة عن الأعمش عن مسلم عن مسروق قال كفى بالمرء علما ان يخشى الله وكفى بالمرء جهلا ان يعجب بعمله (موسوعة الحديث: كتاب الزهد)
Artinya: diceritakan dari Ahmad bin Abdullah bin Yunus dari Zaidah dari A’masy dari Muslim dari Masruq berkata: cukuplah ilmu seseorang dengan takut keda Allah, dan cukuplah kebodohan seseorang jika sombong dengan ilmunya. (ensiklopedi al-hadist: bab Zuhud).

C. Ayat-ayat dikotomi ilmu
Berdasarkan pada hasil pelacakan ayat-ayat yang bernuansa dikotomis di atas, maka diantara ayat-ayat tersebut ada yang dapat dipahami mengandung penjelasan tentang dikotomi ilmu. Ayat-ayat dimaksud adalah sebagai berikut:
1. ‘@ä. <§øÿtR èps)ͬ!#sŒ ÏNöqpRùQ$# 3 $yJ¯RÎ)ur šcöq©ùuqè? öNà2u‘qã_é& tPöqtƒ ÏpyJ»uŠÉ)ø9$# ( `yJsù yyÌ“ômã— Ç`tã Í‘$¨Y9$# Ÿ@Åz÷Šé&ur sp¨Yyfø9$# ô‰s)sù y—$sù 3 $tBur äo4quŠyÛø9$# !$u‹÷R‘$!$# žwÎ) ßì»tFtB Í‘rã�äóø9$# ÇÊÑÎÈ
185. Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. dan Sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, Maka sungguh ia Telah beruntung. kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan. (Ali Imran).

2. $tB šc%x. @cÓÉ67. Tidak patut, bagi seorang nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi. kamu menghendaki harta benda duniawiyah sedangkan Allah menghendaki (pahala) akhirat (untukmu). dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
3. $tBur äo4qu‹ysø9$# !$uŠ÷R‘$!$# žwÎ) Ò=Ïès9 ×qôgs9ur ( â‘#¤$#s9ur äot�ÅzFy$# ׎ö�yz tûïÏ%©#Ïj9 tbqà)­Gtƒ 3 Ÿxsùr& tbqè=É)÷ès? ÇÌËÈ
32. Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka Tidakkah kamu memahaminya? (Alan’am).
4. #sŒÎ*sù OçGøŠŸÒs% öNà6s3Å¡»oY¨B (#rã�à2øŒ$$sù ©!$# ö/ä.Ì�ø.É‹x. öNà2uä!$t/#uä ÷rr& £‰x©r& #\�ò2ÏŒ 3 šÆÏJsù Ĩ$¨Y9$# `tB ãAqà)tƒ !$oY­/u‘ $oYÏ?#uä ’Îû $u‹÷R‘‰9$# $tBur ¼ã&s! †Îû Íot�ÅzFy$# ô`ÏB 9,»n=yz ÇËÉÉÈ
200. Apabila kamu Telah menyelesaikan ibadah hajimu, Maka berdzikirlah dengan menyebut Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu, atau (bahkan) berdzikirlah lebih banyak dari itu. Maka di antara manusia ada orang yang bendoa: "Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia", dan tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat.
5. y7Í´¯»s9'ré& tûïÏ%©!$# (#ãruŽtIô©$# no4quŠysø9$# $uŠ÷R‘$!$# Íot�ÅzFy$$Î/ ( Ÿxsù ß#¤ÿsƒä† ãNåk÷]tã Ü>#x‹yèø9$# Ÿwur öNèd tbrçŽ|ÇZムÇÑÏÈ
86. Itulah orang-orang yang membeli kehidupan dunia dengan (kehidupan) akhirat, Maka tidak akan diringankan siksa mereka dan mereka tidak akan ditolong. (Albaqarah).
6. `tB šc%x. ߉ƒÌ�ムy^ö�ym Íot�ÅzFy$# ÷ŠÌ“tR ¼çms9 ’Îû ¾ÏmÏOö�ym ( `tBur šc%x. ߉ƒÌ�ムy^ö�ym $u‹÷R‘‰9$# ¾ÏmÏ?÷sçR $pk÷]ÏB $tBur ¼çms9 ’Îû Íot�ÅzFy$# `ÏB A=ŠÅÁ¯R ÇËÉÈ
20. Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan kami tambah keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat. (Asyura).
7. šÆÏBur Ĩ$¨Z9$# Å_U!#ur¤$!$#ur ÉO»yè÷RF{$#ur ì#Î=tFøƒèC ¼çmçRºuqø9r& š�Ï9ºx‹x. 3 $yJ¯RÎ) Óy´øƒs† ©!$# ô`ÏB ÍnÏŠ$t6Ïã (#às¯»yJn=ãèø9$# 3 žcÎ) ©!$# ͕tã î‘qàÿxî ÇËÑÈ
28. Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. (Fathir).
8. tbqãYÏB÷sçGsùr& ÇÙ÷èt7Î/ É=»tGÅ3ø9$# šcrã�àÿõ3s?ur <Ù÷èt7Î/ 4 $yJsù âä!#t“y_ `tB ã@yèøÿtƒ š�Ï9ºsŒ öNà6YÏB žwÎ) Ó“÷“Åz ’Îû Ío4quŠysø9$# $u‹÷R‘‰9$# ( tPöqtƒur ÏpyJ»uŠÉ)ø9$# tbr–Št�ム#’n<Î) Ïd‰x©r& É>#x‹yèø9$# 3 $tBur ª!$# @@Ïÿ»tóÎ/ $£Jtã tbqè=yJ÷ès? ÇÑÎÈ
85. Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat.86. Itulah orang-orang yang membeli kehidupan dunia dengan (kehidupan) akhirat, Maka tidak akan diringankan siksa mereka dan mereka tidak akan ditolong. (albaqarah)

D. Hadist-hadist dikotomi ilmu
Berdasarkan pada hasil pelacakan hadist-hadist yang bernuansa dikotomis di atas, maka diantara hadist-hadist tersebut ada yang secara tegas dapat dipahami mengandung penjelasan tentang dikotomi ilmu. Hadist-hadist dimaksud adalah sebagai berikut:
1. حدثنا سفيان ، عن أبي قيس ، عن الهذيل بن شرحبيل ، قال : قال عبد الله : « من أراد الدنيا أضر بالآخرة ، ومن أراد الآخرة أضر الدنيا ، يا قوم فأضروا بالفاني للباقي ) الكتاب : الزهد لوكيع(

Artinya: diceritakan dari Sufyan dari Abi Qais dari Huzail bin Syarahbil berkata: Abdullah berkata: “ barang siapa menginginkan dunia maka telah membahayakanakerat, dan barang siapa menginginkan akherat maka telah membahayakan dunia, wahai kaum, maka pilihlah yang kekal / akherar (Abu Sufyan Waqi’ bin Jarrah: Azzuhud, ditahkiq oleh Dr. Abdurrahman Abdul Jabbar: Madinah, Maktabah Addar Almunawarah, 1404H)

2. حدثنا معاوية بن هشام عن سفيان عن رجل عن الحسن قال : اطلب العلم طلبا لا يضر بالعبادة ، واطلب العبادة طلبا لا يضر بالعلم ، فإن من عمل بغير علم كان ما يفسد أكثر مما يصلح .(موسوعة الحديث: كتاب الزهد)
Artinya: diceritakan dari Mu’awiyah bin Hisyam dari Sufyan dari seorang laki-laki dari al-Hasan berkata: carilah ilmu dengan sungguh-sungguh sehingga tidak membahayakan Ibadah, dan lakukan ibadah dengan sunngguh-sungguh yang tidak membahayakan ilmu, karena orang yang beramal tanpa ilmu itu lebih banyak merusak daripada memberikan maslahah. (ensiklopedi al-hadist:bab Zuhud).

3. أخبرنا أحمد بن عبد الله بن يونس ثنا زائدة عن الأعمش عن مسلم عن مسروق قال كفى بالمرء علما ان يخشى الله وكفى بالمرء جهلا ان يعجب بعمله (موسوعة الحديث: كتاب الزهد)
Artinya: diceritakan dari Ahmad bin Abdullah bin Yunus dari Zaidah dari A’masy dari Muslim dari Masruq berkata: cukuplah ilmu seseorang dengan takut keda Allah, dan cukuplah kebodohan seseorang jika sombong dengan ilmunya. (ensiklopedi al-hadist: bab Zuhud).

4. قال الإمام الشافعي: (من أراد الدنيا فعليه بالعلم، ومن أراد الآخرة فعليه بالعلم، ومن أراد الدنيا والآخرة فعليه بالعلم).
Artinya: berkata Imam Syafi’i: barang siapa menghendaki dunia maka wajib dengan ilmu (dunia), dan barang siapa mengehendaki akherat maka wajib dengan ilmu (akherat), dan barang sipa menghendaki dunia dan akherat, maka wajib baginya ilmu (dunia dan akherat).

BAB IV
ANALISIS DIKOTOMI ILMU DALAM AL-QUR`AN DAN AL-HADIST

A. Klasifikasi ilmu dalam al-Qur’an dan al-Hadist
Berdasarkan paparan data pada bab IV di atas, maka secara tegas sebenarnya Al-Qur’an dan Al-Hadist tidak merinci klasifikasi ilmu. Hanya saja secara emplisit wilayah klasifikasi ilmu ini dapat diketahui atau difahami dari beberapa data tektual tersebut. Tidak jelasnya klasifikasi ilmu dalam tektualitas qur’an dan sunnah ini bisa jadi karena dasar normativ agama ini bukanlah ensiklopedi kitab ilmiah yang memuat segala disiplin ilmu.
Meskipun demikian, kerangka klasifikasi ilmu itu dapat dibagi dalam dua kategori yang diturunkan dari pemahaman beberapa dalil-dalil, baik dari qur’an maupun hadist.
Pertama katagori ilmu dunia. Klasifikasi ilmu dunia ini dimaksudkan dalam ranah ilmu yang tujuannya untuk mencapai kepentingan duniawi. Katagori ilmu akherat. Sedangkan klasifikasi ilmu akerat ini lebih mengarah pada kapasipas ilmu yang digunakan untuk keselamatan akherat. Masuk dalam wilayah ini adalah ilmu-ilmu agama yang diaplikasikan dalam kehidupan amaliyah. Dengan demikian tercipata ilmu yang amaliah dan amal yang ilmiah atas dasar pemahaman agama. Kesimpulan ini didasarkan pada ayat-ayat dikotomik berikut:
1. ‘@ä. <§øÿtR èps)ͬ!#sŒ ÏNöqpRùQ$# 3 $yJ¯RÎ)ur šcöq©ùuqè? öNà2u‘qã_é& tPöqtƒ ÏpyJ»uŠÉ)ø9$# ( `yJsù yyÌ“ômã— Ç`tã Í‘$¨Y9$# Ÿ@Åz÷Šé&ur sp¨Yyfø9$# ô‰s)sù y—$sù 3 $tBur äo4quŠyÛø9$# !$u‹÷R‘$!$# žwÎ) ßì»tFtB Í‘rã�äóø9$# ÇÊÑÎÈ
185. Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. dan Sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, Maka sungguh ia Telah beruntung. kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan. (Ali Imran).
Ayat ini secara dikotomis telah memeberikan penekanan bahwa kesempurnaan pahala ada diakherat. Dengan demikian posisi dunia tidak seperti akherat yang penuh dengan kesempurnaan dan keindahan. Gambaran dunia dalam ayat ini tidak lebih dari kehidupan yang memperdaya dengan kesenangan-kesenangan. Akhir dari kemenangan hidup ialah jika seseorang samapai di surga.
Implkasinya dalam dunia ilmu, bahwa ilmu untuk meraih kesuksesan dunia berbeda dengan ilmu yang dipergunakan untuk mereaih kesuksesan akherat. Hal ini terjadi karena didasarkan pada sifat masing-masing kehidupan yang sama sekali berbeda.
2. $tB šc%x. @cÓÉ67. Tidak patut, bagi seorang nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi. kamu menghendaki harta benda duniawiyah sedangkan Allah menghendaki (pahala) akhirat (untukmu). dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
Ayat ini memberikan gambaran bagaimana terjadi perbedaan antara sifat duniawi dengan ukrowi. Seseorang seringkali hanya berfikir tentang keuntungan duniawi termasuk dalam kasus ini adalah orang yang melakukan peperangan dimana mereka mengharapkan harta rampasan perang.
Disisi lain Allah mensyariatkan agar jihad tersebut harus dilakukan untuk kepentingan akherat dan bukan untuk kepentingan duniawi. Manusia selayaknya telah berfikir dengan pendekatan yang sangat pragmatis dimana apa yang dilakukan diharapkan segera membuahkan hasil riil, termasuk menguasai harta rampasan perang.
3. $tBur äo4qu‹ysø9$# !$uŠ÷R‘$!$# žwÎ) Ò=Ïès9 ×qôgs9ur ( â‘#¤$#s9ur äot�ÅzFy$# ׎ö�yz tûïÏ%©#Ïj9 tbqà)­Gtƒ 3 Ÿxsùr& tbqè=É)÷ès? ÇÌËÈ
32. Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka Tidakkah kamu memahaminya? (Alan’am).
Kehidupan dunia disifatkan dengan main-main dan senda gurau belaka. Maka bagi orang yang tidak beragama, dunia adalah orientasi kehidupannya. Sedangkan kehidupan akterat menjadi spesifik dari sifat orang yang bertaqwa. Taqwa memerlukan dimensi ilmu ilahi. Sedangkan kelalaian duniawi bisa menyebabkan kelalaian asasi misi kehidupan imani.
4. #sŒÎ*sù OçGøŠŸÒs% öNà6s3Å¡»oY¨B (#rã�à2øŒ$$sù ©!$# ö/ä.Ì�ø.É‹x. öNà2uä!$t/#uä ÷rr& £‰x©r& #\�ò2ÏŒ 3 šÆÏJsù Ĩ$¨Y9$# `tB ãAqà)tƒ !$oY­/u‘ $oYÏ?#uä ’Îû $u‹÷R‘‰9$# $tBur ¼ã&s! †Îû Íot�ÅzFy$# ô`ÏB 9,»n=yz ÇËÉÉÈ
200. Apabila kamu Telah menyelesaikan ibadah hajimu, Maka berdzikirlah dengan menyebut Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu, atau (bahkan) berdzikirlah lebih banyak dari itu. Maka di antara manusia ada orang yang bendoa: "Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia", dan tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat.
Ritual haji merupakan totalitas pengabdian diri kepada Allah. Ibadah haji ternyata rentan terhadap efek samping kepentingan untuk beberapa motif seperti ekonomi dan politis. Pemahaman sebagaian orang seperti pada ayat di atas menekankan betapa orang yang melakukan ritual haji ternyata digunakan untuk motif kepentingan duniawi. Hal ini terjadi karena pemahaman keilmuannya yang hanya ingin memperoleh keuntungan duniawi belaka. Bagi mereka tidak akan mendapatkan bagian di akherat.
5. y7Í´¯»s9'ré& tûïÏ%©!$# (#ãruŽtIô©$# no4quŠysø9$# $uŠ÷R‘$!$# Íot�ÅzFy$$Î/ ( Ÿxsù ß#¤ÿsƒä† ãNåk÷]tã Ü>#x‹yèø9$# Ÿwur öNèd tbrçŽ|ÇZムÇÑÏÈ
86. Itulah orang-orang yang membeli kehidupan dunia dengan (kehidupan) akhirat, Maka tidak akan diringankan siksa mereka dan mereka tidak akan ditolong. (Albaqarah).
Perniagaan akherat berupa amal ibadah tidak dapat diorientasikan untuk kepentingan dunia. Namun kenyataannya banyak amaliyah yang semestinya dipercayakan hasilnya di akherat, ternyata dibelokkan untuk kepentingan duniawi. Mereka ini tidak akan mendapatkan keringanan siksaan kelak di akerat.
6. `tB šc%x. ߉ƒÌ�ムy^ö�ym Íot�ÅzFy$# ÷ŠÌ“tR ¼çms9 ’Îû ¾ÏmÏOö�ym ( `tBur šc%x. ߉ƒÌ�ムy^ö�ym $u‹÷R‘‰9$# ¾ÏmÏ?÷sçR $pk÷]ÏB $tBur ¼çms9 ’Îû Íot�ÅzFy$# `ÏB A=ŠÅÁ¯R ÇËÉÈ
20. Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan kami tambah keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat. (Asyura).
Secara dikotomis dipilahkan bahwa kepentingan dunia tercukupi dengan amal ibadah dan kepatuhan kepada Allah. Sebaliknya, kepentingan akhirat tidak akan didapatkan ketika hanya berorientasi pada pengabdian dunia. kerja duniawi semata tidak akan sampai keamal akherat. Sedangkan kerja Amalia akherat justru melampaui kepentingan dunia.
7. šÆÏBur Ĩ$¨Z9$# Å_U!#ur¤$!$#ur ÉO»yè÷RF{$#ur ì#Î=tFøƒèC ¼çmçRºuqø9r& š�Ï9ºx‹x. 3 $yJ¯RÎ) Óy´øƒs† ©!$# ô`ÏB ÍnÏŠ$t6Ïã (#às¯»yJn=ãèø9$# 3 žcÎ) ©!$# ͕tã î‘qàÿxî ÇËÑÈ
28. Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. (Fathir).
Sarana takut kepada Allah adalah ilmu akherat. Kompetensi ini hanya dilakukan oleh para ulama. Penguasaan ulama atas ilmu agama dan pengamalanya menjadikan jalinan kedekatan kepada Allah. Sebaliknya penguasaan ilmu duniawi belum tentu berimplikasi kepada ketuhanan.
8. tbqãYÏB÷sçGsùr& ÇÙ÷èt7Î/ É=»tGÅ3ø9$# šcrã�àÿõ3s?ur <Ù÷èt7Î/ 4 $yJsù âä!#t“y_ `tB ã@yèøÿtƒ š�Ï9ºsŒ öNà6YÏB žwÎ) Ó“÷“Åz ’Îû Ío4quŠysø9$# $u‹÷R‘‰9$# ( tPöqtƒur ÏpyJ»uŠÉ)ø9$# tbr–Št�ム#’n<Î) Ïd‰x©r& É>#x‹yèø9$# 3 $tBur ª!$# @@Ïÿ»tóÎ/ $£Jtã tbqè=yJ÷ès? ÇÑÎÈ
85. Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat.86. Itulah orang-orang yang membeli kehidupan dunia dengan (kehidupan) akhirat, Maka tidak akan diringankan siksa mereka dan mereka tidak akan ditolong. (albaqarah).
Orang yang beriman kepada sebagaian isi alkitab dan mengingkari sebagaian lainnya menyebabkan kenistaan hidup di dunia dan akherat. Keimanan terhadap alkitab yang tidak total membahayakan bagi orang yang beriman itu sendiri. Padahal masalah iman merupakan bagian dari urusan dimensi ubudiyah-imaniyah. Akan tetapi ketika salah aplikasinya justru menyebabkan kesengsaraan.
Demikian halnya, dasar-dasar hadist berikut juga mengindikasikan dikotomi ilmu antara duniawi dan ukhrowi:
1. حدثنا سفيان ، عن أبي قيس ، عن الهذيل بن شرحبيل ، قال : قال عبد الله : « من أراد الدنيا أضر بالآخرة ، ومن أراد الآخرة أضر الدنيا ، يا قوم فأضروا بالفاني للباقي ) الكتاب : الزهد لوكيع(

Artinya: diceritakan dari Sufyan dari Abi Qais dari Huzail bin Syarahbil berkata: Abdullah berkata: “ barang siapa menginginkan dunia maka telah membahayakan akerat, dan barang siapa menginginkan akherat maka telah membahayakan dunia, wahai kaum, maka pilihlah yang kekal / akherar (Abu Sufyan Waqi’ bin Jarrah: Azzuhud, ditahkiq oleh Dr. Abdurrahman Abdul Jabbar: Madinah, Maktabah Addar Almunawarah, 1404H)
Hadist tersebut menegaskan bahwa penguasaan ilmu dunia saja akan membahayakan kehidupan akherat. Sebaliknya, penguasaan ilmu dakhrerat saja juga akan membahayakan nasib di dunia. Dengan kata lain, penguasaan ilmu tertentu memiliki implikasi tujuan dan kemanfaatan tertentu sesuai dengan cakupannya.
2. حدثنا معاوية بن هشام عن سفيان عن رجل عن الحسن قال : اطلب العلم طلبا لا يضر بالعبادة ، واطلب العبادة طلبا لا يضر بالعلم ، فإن من عمل بغير علم كان ما يفسد أكثر مما يصلح .(موسوعة الحديث: كتاب الزهد)
Artinya: diceritakan dari Mu’awiyah bin Hisyam dari Sufyan dari seorang laki-laki dari al-Hasan berkata: carilah ilmu dengan sungguh-sungguh sehingga tidak membahayakan Ibadah, dan lakukan ibadah dengan sunngguh-sungguh yang tidak membahayakan ilmu, karena orang yang beramal tanpa ilmu itu lebih banyak merusak daripada memberikan maslahah. (ensiklopedi al-hadist:bab Zuhud).
Hadist ini memilahkan katagori ilmu secara umum dengan ilmu yang berdimensi ibadah. Penguasaan ilmu umum (ilmu duniawi) saja akan berbenturan dengan masalah ibadah. Demikian halnya penguasaan ilmu ibadah saja hanya untuk kepentingan ukhrowi, sehingga bisa jadi membayakan kehidupan duniawi.
3. أخبرنا أحمد بن عبد الله بن يونس ثنا زائدة عن الأعمش عن مسلم عن مسروق قال كفى بالمرء علما ان يخشى الله وكفى بالمرء جهلا ان يعجب بعمله (موسوعة الحديث: كتاب الزهد)
Artinya: diceritakan dari Ahmad bin Abdullah bin Yunus dari Zaidah dari A’masy dari Muslim dari Masruq berkata: cukuplah ilmu seseorang dengan takut kepada Allah, dan cukuplah kebodohan seseorang jika sombong dengan ilmunya. (ensiklopedi al-hadist: bab Zuhud).
Menurut hadist tersebut, seseorang yang menguasai ilmu agama dikatagorikan dalam orang-orang yang memiliki ilmu. Sedangkan orang yang tidak memiliki dasar ilmu agama yang kuat digolongkan kepada orang bodoh karena prilakunya tidak didasarkan pada kebenaran ilmu (agama).
4. قال الإمام الشافعي: (من أراد الدنيا فعليه بالعلم، ومن أراد الآخرة فعليه بالعلم، ومن أراد الدنيا والآخرة فعليه بالعلم).
Artinya: berkata Imam Syafi’i: barang siapa menghendaki dunia maka wajib dengan ilmu (dunia), dan barang siapa mengehendaki akherat maka wajib dengan ilmu (akherat), dan barang sipa menghendaki dunia dan akherat, maka wajib baginya ilmu (dunia dan akherat).
Pendapat imam Syafi’i ini lebih tegas lagi merinci wilayah ilmu kedalam tiga kelompok. Pertama: kelompok ilmu dunia utuk kepentingan mencari kebahagiaan hidup dunia. Kedua: ilmu akhrerat, kegunaannya untuk keselamatan dan kebahagiaan akherat. Dan ketiga: ilmu dunia dan akherat dipergunakan sekaligus untuk memperoleh kebahagiaan dunia dan akherat.

B. Kontek ”dikotomi” ilmu dalam al-Quran dan al-Hadist
Al-Qur’an bukanlah ensiklopedi pengetahuan yang disusun secara sistematis dan ilmiah, demikian pula Al-Hadist. Al-Qur’an adalah kitab suci yang diturunkan oleh Allah untuk petunjuk bagi kehidupan manusia. Namun demikian didalamnya terdapat banyak ayat yang membicarakan tentang aktifitas yang berkaitan dengan masalah ilmu itu sendiri. Bahkan ayat yang pertama kali turunpun memotivasi dan memposisikan ilmu sebagai bagian utama yang harus dilakukan. Ilmu tersebut dapat diperoleh melalui mebaca realitas alam dan firman tuhan itu sendiri.
Kajian ilmu dalam perspektif Al-Qur’an bisa difahami dari derifasi kata allama yang dalam semua bentuk turunannya berimplikasi pada kegiatan ilmu. Menurut M. Quraisy Shihab, kata ilmu dalam Al-Qur’an dengan berbagai macam bentuk kata turunannya terulang sebanyak 854 kali. Katagori semuanya dapat digolongkan pada dua macam yaitu proses pencapaian pengetahuan dan obyek pengetahuan (M. Quraisy Shihab, Wawasan al-Qur’an, 1996, Mizan, Bandung. Hal. 424). Diantaranya, pemetaan pecayah dari kata allama tersebut dengan rincian sebagai berikut: alima dengan frekwensi 35 kali, ya’lamu (215), i’lam (31), ilm (105), ma’lum (13), ‘alamin ( 73\) , ‘alam ( 3), ‘alim atu ulama (163), ‘allam (4), ‘allama (12), ya’allimu (16), ‘ulima (3), muallam (1), dan ta’allama (2). Semua akar kata tersebut terdapat dalam 41 diantara 114 surat dalam al-qur\an, atau sekitar 36% yang diantaranya 11 (27% ) berasal dari surat-surat madaniyah dn sisianya berasal dari surat makiyah. Kemudian kalau dilihat dari dari frekwensi penyebutannya, 25 kali berasal dari surat-surata madaniyah dan sisanya berasl dari surat-surat makiyaj. Dengan kata lain sebagain besar kata ilmu terdapat dalam surta-surat makiyah (Dawam Raharjo, Ensiklopedi al-Qur’an, Tafsir SosialBerdasrkan Konsep-Konsep Kunci, 1996, Paramadina, Jakarta, hal. 546.).
Menurut M. Fuad Abd al-Baqi seperti dikutip oleh Imam Syafi’i bahwa untuk menemukan pegertian tentang ilmu dalam Al-Qur’an tidak cukup dengan hanya mencari kata-kata yang berasal dari derifasi kata alama, karena kata tahu itu tidak hanya diwkili oleh kata tersebut. Setidaknya ada beberapa kata yang memiliki afiliasi makna yang hampir sama seperti kata arafa, dara, khabara, sya’ara, basirah dan hakim (Raharjo, Ensiklopedi al-Qur’an, hal. 546.).
Pemahaman di atas menegaskan bahwa konsep ilmu di dalam Al-Qur’an sangatlah luas. Secara tipologis dapat disimpulakan bahwa kontek dikotomi ilmu dalam Al-Qur’an dan Al-Hadist terbagi menjadi dua; ilmu duniawi/ kasbi (yang berasal dari usaha manusia) dan ilmu ukhrowi/ intuisi (yang berasal dari Allah). Ilmu jenis pertama diperoleh manusia melalui kekuatan rasionya dimana pada akhirnya bermuara untuk memperoleh kebahagiaan duniawi pada umumnya. Sedangkan jenis kedua diperoleh manusia atas limpahan karunia dari Allah dan lebih banyak berorientasi pada kepentingan ukhrowi.


BAB V
PENUTUP

Berangkat dari rumusan masalah penelitan ini, diikuti dengan pemaparan data dan analisa, maka disimpulkan sebagai beriku:
1. Al-Qur’an dan Al-Hadist tidak secara tegas menjelaskan klasifikasi ilmu disebabkan memang bukan kitab ensiklopedi ilmiah layaknya yang mengikuti metode berfikir ilmiah pada umumnya. Al-Qur’an dan Al-Hadist lebih mengarahkan pembicaraan ilmu pada pemahaman-pehaman yang dikotomis dengan menghadapkan antara ilmu dunia dengan akherat, kapasitas orang alim dengan orang jahil, orang yang sukses dunia dengan orang yang sukses akherat.
2. Kontek ”dikotomi” ilmu dalam Al-Qur’an dan Al-Hadist tidak mengarah pada pemilihan duniawi dan ukhrowi secara terpisah. Justru lebih banyak memberikan pemahaman integratif daripada dikotomis, dengan uslub yang mengundang kecerdasan intelektual manusia untuk memilih penguasaan kedua jalur tersebut.

Daftar Kepustakaan
al-‘Attas, Sayyid Muhammad Naquib. Islam dan Sekularisme. Bandung: Pustaka,1981.
al-Qardawi , Yusuf. Metode dan Etika Pengembangan Ilmu Perspektif Sunnah. ter. Hasan Bahri. Bandung: Rosda Karya, 1989.
Anton Bakker, Ahmad Charris Zubair. Metodologi Penelitian Filsafat. Yogyakarta: Kanisisus, 1992.
Azizi, A. Qadri. “Pengembangan UIN dan Integrasi Ilmu-Agama”. dalam Horizon Baru Pengembangan Pendidikan Islam. ed. M. Zainuddin. Malang: UIN Pres, 2004.
Buchori. Mochtar. Pendidikan Islam di Indonesia: Problema Masa Kini dan Perspektif Masa Depan. dalam Islam Indonesia Menatap Masa Depan. Jakar¬ta: P3M.. 1989.
Hadi, Samsul, et.al.. Konversi STAIN Malang Menjadi UIN. Yogyakarta: Aditya Media, 2004.
Husni Rahim. “ UIN dan Tantangan Meretas Dikhotomi Keilmuan”. dalam Horizon Baru Pengembangan Pendidikan Islam. ed. M. Zainuddin. Malang: UIN Pres. 2004.
Jalal, Abd Fath. Azas-Azas Pendidikan Islam. ter. Herry Noer Ali. Bandung: Diponegoro, 1988.
Langgulung, Hasan. Kreativitas dan Pendidikan Islam Analisis Psikologi dan Falsafah. Jakarta: Pustaka Al-Husna. 1991.
___________. Asas-asas Pendidikan Islam. Jakarta: Pustaka Al-Husna, 1992.
Lembaga Penelitian IAIN Jakarta. Islam dan Pendidi¬kan Nasional. Jakarta: IAIN. 1983.
Ma’arif, A. Syafi’i et. al.. Pendidikan Islam di Indonesia Antara Cita dan Fakta. Yogyakarta: Tiara Wacana, 1991.
________ Peta Bumi Intelektualisme Islam di Indonesia. Bandung: Mizan, 1993.
Mastuhu. Dinamika Sistem Pendidikan Pesantren Suatu Kajian tentang Unsur dan Nilai Sistem Pendidikan Pesantren. Jakarta: INIS. 1999.
Muslim, Mus}t}afa. Maba>h}ith fi al-Tafsi>r al-Maud}u>’i> . Damaskus: Da>r Qalam, 1989.
Rahardjo, M. Dawam. Intelektual Inteligensia Dan Perilaku Politik Bangsa Risalah Cendekiawan Muslim. Bandung: Mizan. 1993.
__________ Ensiklopedi al-Qur’an, Tafsir SosialBerdasrkan Konsep-Konsep Kunci, , Paramadina, Jakarta, 1996.
Suprayogo, Imam. Reformulasi Visi Pendidikan Islam. Malang: STAIN Pres. 1999.
Shihab, M. Quraisy Wawasan al-Qur’an, Mizan, Bandung, 1996.
Wignyosoebroto, Soetandyo. “ Perspektif Filsofis Integrasi Agama dan Sains”. dalam Horizon Baru Pengembangan Pendidikan Islam. ed. M. Zainuddin . Malang: UIN Pres, 2004.
Zainuddin, M. et.al.. Memadu Sains dan Agama: Menuju Universitas Islam Masa Depan. Malang: Bayu Media. 2004.


0 komentar:

إرسال تعليق

Comment here

My Famly

About This Blog

My Activity

Blog Archive

  © Blogger template The Professional Template II by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP