Tafsir Tematik: Interaksi Zakariya as, Yahya as dan Hannah

الثلاثاء، 18 ربيع الآخر، 1430 هـ

Tafsir Tematik: Interaksi Zakariya as, Yahya as dan Hannah
Oleh : Miftahul Huda


Pendidikan terhadap Maryam dilakukan oleh ibunya sendiri yang bernama H{annah bint Fa>qu>d dan Zakariya sebagai pemeliharanya. H{annah inilah yang dimaksudkan dengan nama surat Ali ‘Imran (keluarga ‘Imra>n). Keluarga ‘Imran menjadi profil teladan sehingga diabadikan dalam al-Qur’a>n. Dimulai dari nama marga ‘Imran itu sendiri dimaksudkan adalah keluarga orang-orang terhormat.

H{annah adalah pribadi wanita yang sangat patuh beragama dan menginginkan genarasi penerus yang berkwalitas. Ia bernazar akan mendidik anaknya untuk diabdikan ke jalan Allah. Akhirnya, dari wanita salehah itu lahirlah Maryam yang nantinya akan memiliki kehebatan di mana pada puncaknya adalah melahirkan Isa tanpa perantara manusia.

1. Pendidikan H{annah, dan Nabi Zakariya as. terhadap Maryam

Interaksi pendidikan H{annah ini tampaknya lebih menggambarkan konsep pendidikan prenatal. Dalam surat Ali ‘Imran dijelaskan bagaimana serangkaian usaha doa dan nazar H{annah dilakukan kepada Allah agar terpenuhi keinginannya memperoleh keturunan. Akan tetapi kehadiran Zakariya juga merupakan bagian penting dalam pendidikan post natal Maryam.

Zakariya nantinya yang memlihara Maryam karena keadaannya yatim. Juga karena Bani Isarail dilanda masa kekeringan (sehingga sulit mendapatkan makanan) akibatnya Maryam dipelihara Zakariya. Zakariya adalah suami bibi Maryam (riwayat Ibn Ish}a>q dan ibn Jari>r dan lainnya). Dikatakan pula menurut satu riwayat bahwa Zakariya adalah suami saudari ibunya. Dari interaksinya dengan Zakariya inilah Maryam dapat mengambil ilmu dan amal yang berguna.

2. Ayat-ayat yang berhubungan dengan pendidikan Pendidikan H{annah, dan Nabi Zakariya as. terhadap Maryam

Sebagaimana dijelaskan di atas, bahwa nama surat Ali ‘Imran memiliki kandungan penting dalam hal pendidikan anak. Yakni, pendidikan yang dilakukan oleh H{annah terhadap Maryam. Penjelasan ini terdapat dalam surat Ali ‘Imra>n ayat: 33-37. Poin penting dalam ayat-ayat tersebut adalah: keutamaan keluarga imran (ayat 33-34), H{annah bernazar meminta keturunan saleh (ayat 35), H{annah melahirkan Maryam (ayat 36) dan nazar H{annah dikabulkan Allah serta Maryam dalam peliharaan Zakariya (ayat 37). Penafsiran ayat-ayat ini diuraikan sebagaimana berikut.

3. Penafsiran ayat

1. Keutamaan keluarga 'Imran

33. Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga 'Imran melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing), 34. (sebagai) satu keturunan yang sebagiannya (turunan) dari yang lain. dan Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.


Ayat tersebut menjelaskan bahwa Allah melebihkan keluarga adam, Nu>h}, Ibra>hi>m dan ‘Imra>n. adam memeiliki kelebihan karena diciptakan langsung dengan kekuasaan Allah, ditiupkan ruh-Nya, malaikat bersujud kepadanya, diajarkan semua nama-nama, ditempatkan di surga, lalu diturunkan ke bumi dengan membawa hikmah bagi kehidupan. Nu>h} dilebihkan karena dipilih sebagai rasul yang pertama kali diutus ke bumi untuk membebaskan manusia dari penyembahan berhala dan mengajak beriman kepada Allah. Meskipun sudah diajak kepada Allah siang dan malam, namun umatnya selalu menentangnya. Sampai pada suatu ketika mereka ditenggelamkan Allah dan diselamatkanlah Nu>h} berserta kaum yang beriman. Ibrahaim diistimewakan Allah sebagai nabi yang mempunyai nasab akan melahirkan nabi akhir zaman Muh}ammad saw. Demikian pula keluarga ‘Imra>n diistemewakan Allah dengan menurunkan Maryam yang akan melahirkan In” di sini adalah ayah Maryam bint Imaran (Maryam ibu nabi I
2. Imra’ah 'Imran (H{annah) berdo’a


35. (ingatlah), ketika isteri 'Imran berkata: "Ya Tuhanku, Sesungguhnya Aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). Karena itu terimalah (nazar) itu dari padaku. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui".

Istri Imran dalam ayat ini maksudnya Ibu Maryam bernama H{annah Bint Fa>qu>d. Menurut pendapat Muh}ammad bin Ish}a>q H{annah termasuk wanita yang mandul. Pada suatu hari H{annah melihat induk burung menyuapi makanan anaknya. Hal ini menyebabkan H{annah semakin kuat keinginannya untuk memiliki anak, lalu berdoa kepada Allah dan Allah mengabulkan doanya dengan menjadikannya dapat hamil. Dalam masa hamil, H{annah bernazar kepada Allah agar anaknya kelak diperuntukkan beribadah kepada-Nya dan memakmurkan bait al-Maqdi>s. [438]



3. Kelahiran Maryam dan kehidupannya

36. Maka tatkala isteri 'Imran melahirkan anaknya, diapun berkata: "Ya Tuhanku, sesunguhnya aku melahirkannya seorang anak perempuan; dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu; dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan. Sesungguhnya aku telah menamai Dia Maryam dan aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau daripada syaitan yang terkutuk."

Pada ayat sebelumnya H{annah bernazar bahwa anaknya kelak yang diasumkan laki-laki akan diabdikan secara total kepada Allah. Ternyata setelah lahir adalah perempuan, sehingga laki-laki tidak sama dengan perempuan dalam potensi dan ketahanan beribadah serta memakmurkan masji al-Aqs}a. H{annah memberi nama anaknya ini dengan nama Maryam.

Pemberian nama saat lahir seperti itu ternyata sudah menjadi tradisi. Oleh karena itu hukumnya boleh (jawa>z), sebagaimana rasul melakukan seperti dalam penjelasan hadith berikut: “suatu malam, saya (rasul) mendapat karunia bayi laki-laki, lalu saya beri nama Abi Ibra>hi>m. Hadith Riwayat Bukhari> dan Muslim”. Hadis lain diriwatkan dari Annas bin Ma>lik, suatu hari ketika saudaranya melahirkan anak, ia pergi bersama-sama membawa bayi itu menghadap rasul, kemudaian rasul menyuapinya dengan madu dan memberi nama Abd Allah”. Menurut hadith riwayat Bukhari dijelaskan: “Seorang laki-laki berkata kepada rasul: wahai rasul! Saya punya bayi dan belum diberi nama. Nabi menjawab: anakmu berilah nama Abd al-Rah}ma>n”. Demikian pula tersebut dalam hadith sahih: “suatu saat ada seorang punya bayi dibawa kepada Abu Asyad agar disuapi dengan madu, lalu Abu Asyad tertegun, kenapa tidak dilakukan saja sendiri, lalu orang itupun pulang. Setelah rasul mendengar hal itu pada suatu majlis, langsung rasul memberi nama bayi tersebut dengan Mundhir”. [439]

Perkataan H{annah dalam ayat ini: “dan aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau daripada syaitan yang terkutuk", maksudnya meminta perlindungan kepada Allah untuk menjaganya dan keturunannya (Isa) dari gangguan syetan dan Allah mengabulkan doanya. Menurut hadith yang diriwatkan oleh Abd al-Razza>q dari Mu’ammar dari Zuhair dari Ibn Musayyab dari Abi Hurairah berkata, nabi bersabda: “setiap bayi lahir pasti disentuh syetan sehingga menangis, kecuali Maryam dan isa”. Lalu Abu Hurairah berkata: maka bacalah ayat ini”. Hadith semisal diriwatkan oleh Qays dari A’mash dari Abi S{a>lih} dari Abi Hurayrah berkata, nabi bersabda: “setiap bayi lahir pasti diberi minuman oleh syetan sekali atau dua kali kecuali Isa ibn Maryam dan Maryam”. Lalu rasul membaca ayat ini. Demikian pula hadith riwayat al-Layth bin Sa’d dari Ja’far bin Rabi>’ah dari Abd al-Rah}ma>n bin Harmaz al-A’raj berkata, berkata Abi Hurayrah; nabi bersabda: “setiap anak Adam lahir dari ibunya, ditikam lambungnya oleh syetan kecuali isa bin Maryam, tikaman itu meleset ke arah lain”. [440]

37. Maka Tuhannya menerimanya (sebagai nazar) dengan penerimaan yang baik, dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik dan Allah menjadikan Zakariya pemeliharanya. Setiap Zakariya masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakariya berkata: "Hai Maryam dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?" Maryam menjawab: "Makanan itu dari sisi Allah". Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab.

Firman Allah “dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik” yakni Allah menjadikan Maryam dalam bentuk yang cantik menawan sehingga mudah diterima dalam pergaulan dan dihidupkan bersama orang-orang saleh agar memperoleh ilmu, pengetahuan dan agama yang kokoh. Firman Allah “dan Allah menjadikan Zakariya pemeliharanya.” Maksudnya Zakariya nantinya yang memlihara Maryam karena keadaannya yatim (menurut riwayat Ibn Ish}a>q). Menurut riwayat lainnya; suatu saat bani Isarail dilanda masa kekeringan (sehingga sulit mendapatkan makanan) akibatnya Maryam dipelihara Zakariya. Dua pendapat ini tidak bertentangan yang pada intinya Allah menjadikan Zakariya sebagai pemelihara Maryam agar dapat mengambil ilmu dan amal darinya. Di samping itu, Zakariya adalah suami bibi Maryam (riwayat Ibn Ish}a>q dan ibn Jari>r dan lainnya). Dikatakan pula menurut riwayat hadith sahih bahwa Zakariya adalah suami saudari ibunya, sehingga Yah}ya dan Isa termasuk anak bibinya. [441]

Firman Allah “Setiap Zakariya masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya”, menurut keterangan Muja>hid, ‘Ikrimah, Sa’d bin Jubayr dan al-Sadi> bahwa Zakariya mendapati buah-buahan dari dua musim panas dan dingin yang tidak berbuah semestinya. Hal ini menunjukkan diantara tanda karamah (kemulyaan) para wali Allah. Selanjutnya Zakariya bertanya: darimana buah-buahan ini wahai Maryam? Maryam menjawab: dari Allah, karena Allah memberi rizki siapa saja yang dikehendaki tanpa susah payah. [442]



4. Kandungan ayat

Permasalah interaksi pendidikan anak dalam surat Ali Imran ayat 33-37 ini diidentifikasi pada masalah berikut:

a) Ali ‘Imran merupakan profil keluarga yang terhormat dan patuh beragama.

b) H{annah berdoa dan bernazar untuk memiliki generasi yang saleh yang nantinya akan didik untuk patuh beribadah.

c) Doa dan nazar H{annah dikabulkan Allah sehingga dapat mengandung Maryam.

d) H{annah melahirkan Maryam yang pada gilirannya nanti dipelihara oleh Zakariya.

e) Zakariya menyaksikan keajaiban-keajaiban saat berinteraksi dengan Maryam.



5. Analisa

a) Tujuan pendidikan

Kontek pendidikan H{annah atas putranya Maryam ini lebih menggambarkan interaksi pendidikan prenatal sebgaimana kontek pendidikan Zakariya terhadap yahya. Yakni, proses pendidikan keluarga dalam mempersiapkan generasi penerus sebelum generasi itu sendiri ada. Hal ini terjadi karena tidak ditemukan uraian yang mengarah pada interaksi pendidikan secara fisik maupun verbal. Dari sini terlihat bahwa pendidikan anak menekankan sisi kesalehan orang tua dalam keluarga. Bermula dari profil orang tua saleh yang diabadikan dalam surat Ali imran inilah diperoleh generasi saleh. Kesalehan dan keutamaan keluarga Ali imran -termasuk disitu adalah H{annah- disejajarkan dengan nabi A>dam, nabi Nu>h} dan nabi Ibra>hi>m (Ali ‘Imra>n ayat 33).

Menurut penjelasan tafsir di atas, keluarga ‘Imra>n diistemewakan Allah dengan menurunkan Maryam yang akan melahirkan In” di sini adalah ayah Maryam bint Imran (Maryam ibu nabi Ih} dilebihkan karena dipilih sebagai rasul yang pertama kali diutus ke bumi untuk membebaskan manusia dari penyembahan berhala dan mengajak beriman kepada Allah.[443]

Hal ini secara implisit berarti memberikan contoh pendidikan pada para orang tua, bagaimana melakukan usaha mendapatkan anak yang saleh. Tujuan pendidikan bukan diperuntukkan bagi anak didik, tetapi ditujukan pada orang tua, bagaimana prosesi memperoleh generasi saleh ternyata dilalui jauh sebelum kelahiran anak itu sendiri. Signifikansinya, pendidikan prenatal menjadi bagian integral dalam pendidikan anak. Bagian dari pendidikan prenatal ini dicontohkan oleh H{annah dengan giat melakukan doa dan nazar akan mendidik anaknya kelak dengan sebaik-baiknya jika memang dapat mengandung.

Hal ini sesuai dengan pendapat Muh}ammad bin Ish}a>q yang menjelaskan bahwa H{annah termasuk wanita yang mandul. Pada suatu hari H{annah melihat induk burung menyuapi makanan anaknya. Hal ini menyebabkan H{annah semakin kuat keinginannya untuk memiliki anak, lalu berdoa kepada Allah dan Allah mengabulkan doanya dengan menjadikannya dapat hamil. Dalam masa hamil, H{annah bernazar kepada Allah agar anaknya kelak diperuntukkan beribadah kepada-Nya dan memakmurkan bait al-Maqdi>s. [444]



b) Materi pendidikan

Pendidikan H{annah ini memiliki relevansi terhadap orang tua karena pada intinya menekankan materi pendidikan prenatal. Materi pendidikan prenatal dimaksudkan ialah tentang upaya meminta anak saleh diantaranya melalui usaha doa dan nazar. Pendidikan prenatal meyakini bahwa pembentukan anak sudah dipengaruhi sejak dalam kandungan, bahkan jauh hari sebelum pernikahan, dimulai sejak proses memilih suami/istri. Kondisi emosional saat ibu mengandungpun mempengaruhi terhadap karakter anak. Pada tahap ini, doa dan nazar yang dilakukan H{annah saat mengandung Maryam tentunya memiliki peran yang signifikan, sehingga nantinya lahir generasi salehah seperti Maryam.

Do’a yang dilakukan H{annah dapat dipahami mengandung etika-etika doa sebagai berikut: Pertama: doa dilakukan dengan sungguh-sungguh dan tidak mengenal putus asa. Kedua: nazar ditujukan untuk niatan yang baik, yaitu mendidik anaknya kelak dengan pendidikan agama sehingga taat dalam beragama. Ketiga: doa dan nazar tersebut dilakukan dengan penuh keikhlasan dari H{annah, bukan karena keadaannya yang mandul.



c) Karakter pendidik

Karakter H{annah digambarkan dengan sifat-sifat berikut: Pertama: memiliki kapasitas kesalehan pribadi. Hal ini dipahami dari ayat: “Sesungguhnya Allah Telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga 'Imran melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing),”.[445] Kedua: gemar melakukan doa dan tidak putus asa. Ketiga: giat melakukan nazar. Keempat: memiliki obsesi untuk menciptakan generasi saleh. Sifat-sifat ini sebagaimana penjelasan ayat “(ingatlah), ketika isteri 'Imran berkata: "Ya Tuhanku, Sesungguhnya Aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). Karena itu terimalah (nazar) itu dari padaku. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui".[446]

Karakter Kelima: sangat peduli untuk mendidik Maryam dengan pendidikan agama. Keenam: menamai anaknya dengan nama yang baik. Ketuju: mendoakan anaknya ketika lahir agar terbebas dari gangguan syetan. Hal ini sesuai dengan doanya pada ayat berikut: "Ya Tuhanku, sesunguhnya aku melahirkannya seorang anak perempuan; dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu; dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan. Sesungguhnya aku telah menamai Dia Maryam dan aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau daripada syaitan yang terkutuk.".[447]



d) Etika anak didik

Tidak ditemukan etika anak didik pada diri Maryam karena dalam al-Qur’a>n tidak dijelaskan bahwa H{annah berinteraksi secara langsung dengan Maryam. Demikian pula karena pendidikan H{annah terhadap Maryam lebih bersifat prenatal (pendidikan yang diupayakan sebelum kelahiran anak). Gambaran pendidikan post natal yang dilakukan H{annah (setelah kelahiran anak) terhadap Maryam tidak dijumpai dalam penjelasan al-Qur’a>n. Ayat-ayat al-Qur’a>n tersbut hanya memberi penjelasan pendidikan yang dilakukan H{annah kepada Maryam sampai batas baru lahir. yakni dengan memberi nama Maryam dan mendoakan agar tidak mendapat ganguan syetan.

Meskipun tidak ditemukan interaksi secara langsung antara H{annah dengan Maryam, justru interaksi post natal itu ditemukan pada Zakariya. Yaitu ketika Maryam berada dalam asuhannya, sering kali Zakariya mendapati hal-hal ajaib yang terjadi pada diri Maryam.[448] Ayat tersebut menurut keterangan Muja>hid, ‘Ikrimah, Sa’d bin Jubayr dan al-Sadi> berarti bahwa Zakariya mendapati buah-buahan dari dua musim panas dan dingin yang tidak berbuah semestinya. Hal ini menunjukkan di antara tanda karamah (kemulyaan) para wali Allah. Selanjutnya Zakariya bertanya: darimana buah-buahan ini wahai Maryam? Maryam menjawab: dari Allah, karena Allah memberi rizki siapa saja yang dikehendaki tanpa susah payah.[449]

Dari peristiwa di atas, dapat dipahami gambaran pribadi Maryam. Uraian karakter Maryam ini adalah; pertama: Maryam sangat taat dan rajin beribadah di mihra>b. Kedua: Maryam memiliki kompetensi iman yang kuat, sehingga Allah memulyakannya. Ketiga: di antara kemulyaan Maryam, Allah menjamin dengan berbagai kemudahan dalam memperoleh makanan yang tidak terduga.



e) Metode pendidikan

Relevansinya dengan metode pendidikan anak dianalisa dari pribadi H{annah dan interaksi Zakariya terhadap Maryam. Pendidikan H{annah menekankan pada metode pendidikan prenatal yang dilakukan dengan doa dan nazar. Doa dan nazar itu sendiri dilakukan H{annah dengan sungguh-sungguh, ikhlas, dan penuh harapan akan dikabulkan Allah.

Setelah Allah benar-benar mengabulkan doanya, akhirnya H{annah mengandung. Pada saat mengandung itulah H{annah meningkatkan doa dan nazarnya agar kelak anaknya menjadi anak yang baik. Maka ketika lahir janin yang dikandungnya, H{annah melakukan serangkaian kegiatan yang bermakna pendidikan. Kegiatan dimaksudkan adalah menamai bayinya dengan nama yang baik, yakni Maryam. Demikian pula mendoakan bayi Maryam agar selamat dari gangguan syetan.

karena tidak ditemukan penjelasan dalam al-Qur’a>n bahwa Zakariya berinteraksi secara langsung dengan Yah}ya. Demikian pula karena pendidikan Zakariya terhadap Yah}ya lebih bersifat pendidikan prenatal dari pada pendidikan post natal. Kalaulah dipahami dari perspektif metode, yang lebih tepat adalah metode pendidikan prenatal bagi para orang tua, bukan metode pendidikan anak itu sendiri.

Adapun interaksi Zakariya terhadap Maryam dari sisi metode pendidikan menekankan pada pola pengasuhan, bimbingan dan dialog. Artinya Zakariya mengasuh Maryam untuk mengembangkan potensi jasmaniyahnya. Hal ini terlihat dengan perhatian Zakariya akan kecukukpan nutrisi makanan yang dihidangkan kepadanya. Zakariya memberikan pelatihan pendidikan agama, sehingga Maryam terbiasa untuk melakukan ibadah di mihra>b. Dialog juga menjadi bagian penting dalam interaksi pendidikan terhadap Maryam. Hal ini seperti terlihat ketika Zakariya menyaksikan keajaiban makanan yang tiba-tiba dijumpai dihadapan Maryam.

================================

[437]Abu al-Fida>’, Tafsi>r al-Qur’a>n al-‘ad}i>m, Juz 1, 478.

[438] Abu al-Fida>’, Tafsi>r al-Qur’a>n al-‘ad}i>m, Juz 1, 478.

[439]Ibid.

[440]Ibid.

[441]Ibid.

[442]Ibid.

[443] Abu al-Fida>’, Tafsi>r al-Qur’a>n al-‘ad}i>m, Juz 1, 478.

[444]Ibid., 479.

[445]al-Qur’a>n, 3 (Ali ‘Imra>n): 33.

[446]Ibid., 3 (Ali ‘Imra>n): 35.

[447]Ibid., 3 (Ali ‘Imra>n): 36.

[448]Ibid., 3 (Ali ‘Imra>n): 37.

[449]Abu al-Fida>’, Tafsi>r al-Qur’a>n al-‘ad}i>m, Juz 1, 479.

0 komentar:

إرسال تعليق

Comment here

My Famly

About This Blog

My Activity

Blog Archive

  © Blogger template The Professional Template II by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP