Tafsir Tematik: Interaksi Adam as, Qabil dan Habil

الثلاثاء، 14 أبريل، 2009

Tafsir Tematik: Interaksi Adam as, Qabil dan Habil
Oleh : Miftahul Huda


Telah diuraikan di muka bahwa interaksi pendidikan anak dalam al-Qur’a>n ini memfokuskan pada analisa interaksi pendidikan yang terjadi antara orang tua dan anak. Fokus analisa diarahkan pada interaksi nabi Abil dan Ha>bil (al-Qur’a>n: surat al-Ma>’idah ayat 27-31), nabi Nu>h} as. dengan Kan’a>n (surat Hu>d ayat 42-46), nabi Ibra>hi>m as. dengan Isma>’i>l as. (surat al-S}a>ffa>t ayat 102-107), nabi Ya’qu>b as. dengan Yu>suf as. dan saudara-saudaranya (suratYu>suf ayat 4-6,12-14,17-18, 63-67, 81-87, 94-100), Ayarkha (ibu kandung Mu>sa), Asa as. (surat T}a>ha> ayat 38-40), Luqman Hakim dengan Tsa>ra>n (surat Luqman ayat 12-19), Hannah (ibu Maryam), nabi Zakaria as. dan Maryam (surat Ali ‘Imra>n ayat 35-37), nabi Zakaria as. dengan Yahya as. (surat Ali ‘Imra>n ayat 38-41 ), dan Maryam dengan I>sa as. (surat Maryam ayat 27-33).

Berikut disajikan uraian masing-masing interaksi pendidikan anak tersebut melalui metode exegesis (tafsir) dengan pendekatan adaptasi dari mawd}u’i> (tematik) dan tah}li>li> (analitik). Pendekatan mawd}u’i> digunakan untuk menemukan tema pendidikan anak yang relevan dalam penelitian ini. Selanjutnya, tema-tema pendidikan anak ini dipahami lebih dalam melalui pendekatan tah}li>li>. Hasil pembacaan tafsir secara mawd}u’i> dan tah}li>li> pada masing-masing kisah pendidikan tersebut kemudian dianalisa dengan perspektif pendidikan anak untuk memetakan konsep tujuan pendidikan, materi, karakter pendidik dan etika anak didik. Pada akhirnya, uraian menekankan pada metode interaksi pendidikan anak.

A. Nabi A>dam, Qa>bil dan Ha>bil

Secara garis bersar, kisah nabi An dapat dirangkum pada poin-poin berikut: Nabi A
1. Pendidikan Ada>m terhadap Qa>bil dan Ha>bil

Pendidikan yang dilakukan oleh Abil dan Ha>bil menggambarkan realitas prediksi malaikat yang telah meragukan kemampuan Abil dan Ha>bil. Oleh karenanya, khilafah Abil dan Ha>bil tersebut. Konflik internal keluarga Abil dan Ha>bil berupa persaingan untuk meperoleh pasangan dari saudaranya sendiri. Interaksi yang terjadi tersebut melibatkan A
2. Ayat-ayat yang berhubungan dengan pendidikan Ada>m terhadap Qa>bil dan Ha>bil

Interaksi pendidikan Abil dan Ha>bil dipahami dalam surat al-ma>idah ayat 27-31. Ayat-ini sebenarnya menekankan pada interaksi antara Qa>bil dan Ha>bil. Namun dalam penafsirannya ditemukan reaksi A
3. Penafsiran ayat

Ayat surat al-ma>idah 27-31 sebagaimana dimaksud di atas adalah sebagai berikut:

27. Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Abil dan Qa>bil) menurut yang Sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan korban, Maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Ha>bil) dan tidak diterima dari yang lain (Qa>bil). ia Berkata (Qa>bil): "Aku pasti membunuhmu!". Berkata Ha>bil: "Sesungguhnya Allah Hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa".28. "Sungguh kalau kamu menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, Aku sekali-kali tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Sesungguhnya Aku takut kepada Allah, Tuhan seru sekalian alam."29. "Sesungguhnya Aku ingin agar kamu kembali dengan (membawa) dosa (membunuh)ku dan dosamu sendiri, Maka kamu akan menjadi penghuni neraka, dan yang demikian Itulah pembalasan bagi orang-orang yang zalim."30. Maka hawa nafsu Qa>bil menjadikannya menganggap mudah membunuh saudaranya, sebab itu dibunuhnyalah, Maka jadilah ia seorang diantara orang-orang yang merugi.31. Kemudian Allah menyuruh seekor burung gagak menggali-gali di bumi untuk memperlihatkan kepadanya (Qa>bil) bagaimana seharusnya menguburkan mayat saudaranya. Berkata Qa>bil: "Aduhai celaka aku, Mengapa Aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, lalu Aku dapat menguburkan mayat saudaraku ini?" Karena itu jadilah dia seorang diantara orang-orang yang menyesal.

Penafsiran:

a) “Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Abil dan Qa>bil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan korban, Maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Ha>bil) dan tidak diterima dari yang lain (Qa>bil). ia Berkata (Qa>bil): "Aku pasti membunuhmu!". Berkata Ha>bil: "Sesungguhnya Allah Hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa".



Para ahli sejarah, ahli ilmu dan ahli ta’wi>l sepakat bahwa yang dimaksud dengan kedua anak A


Menurut riwayat Ibn Ish}a>q bin Bas}ar dan Ibn ‘Asa>kir dari Zubayr dan Muqa>til dari D{ah}a>k dari Ibn ‘Abba>s berkata: Abil dan Ha>bil, S{a>lih} dan Abd al-Rah}ma>n, Abd H{a>rith dan Wudd, Shits dan Hibbat Allah. Habil telah dipilih oleh saudara-saudaranya sebagai pemimpin mereka, dan habil memiliki anak Suwa>’, Yaghu>th dan Nasr. Allah memerintahkan A
Di antara cerita Qa>bil dan Ha>bil menurut para ulama salaf dan khalaf bahwa Allah mensyariatkan kepada Abil berparas jelek (dami>mah), dan saudara kembar Qa>bil berparas cantik dan beraklak mulia (wad}i>’ah) sehingga Qa>bil tidak mau dijodohkan dengan kembaran Ha>bil yang berparas jelek tersebut. Abil ini, sehingga keduanya harus berkorban (untuk menentukan siapa yang berhak menikah dengan yang berparas cantik). Pada akhirnya, korban Qa>bil ditolak dan korban Ha>bil diterima sehingga berhak untuk menikahinya. [12]

Menurut riwayat Abd H{umayd dan Ibn Jari>r, Ibn Munzir dan Ibn ‘Asa>kir dengan sanad yang baik, dari Ibn ‘Abba>s berkata: (Abil berparas cantik dan saudara kembar Ha>bil berparas jelek. [13]

Menurut suatu riwayat, H{awwa>’ melahirkan sebanyak dua puluh kali dengan jumlah 40 anak terdiri dari laki-laki dan perempuan. Dalam 20 saudara kemebar itu, Qa>bil adalah anak sulung dengan saudara kembarnya Iqli>ma>’ dan anak terakhirnya adalah Abd al-Mughi>ts. Kemudian Allah memberkahi keturunan As meriwayatkan; bahwa A
Kedua anak Abil dan Ha>bil. Qa>bil digambarkan dengan sebagai pemilik ladang dan Ha>bil pemilik ternak. Qa>bil anak yang paling tua memiliki saudari (kembar) lebih cantik dari saudara kembar Ha>bil. Ha>bil meminta untuk menikah dengan saudara kembar Qa>bil lalu Qa>bilpun menolak seraya berkata: “dia adalah saudara kembarku, dilahirkan bersamaku dan lebih cantik dari saudara kembarmu, dan saya lebih berhak menikahinya. Lalu orang tuanya (A>dam) memerintah Ha>bil menikahinya, namun Qa>bil tetap menolak. Kemudian keduanya berkorban kepada Allah untuk menentukan siapa yang lebih berhak menikahinya. Pada saat itu, Adam, tahukah kamu bahwa aku memiliki rumah di bumi? Adampun mendatangi rumah itu, dan dengan menengadah ke langit Adam. Demikian pula berkata kepada bumi, dan kepada gunung, keduanya juga menolaknya. Akhirnya berpesan kepada Qa>bil dan Qa>bilpun menjawab: ya (akan saya jaga), pergilah! Jangan khawatir, ketika pulang kamu akan mendapati keluargamu menyenangkanmu (aman). Setelah Abil dengan bangga berkata kepada Ha>bil: saya lebih berhak menikahinya daripada kamu, karena ia saudara kandungku, dan aku lebih tua daripada kamu, serta saya yang menerima wasiat (pesan) menjaganya dari ayahku. Ketika keduanya berkorban, berkorbanlah Ha>bil dengan unta yang gemuk, sedangkan Qa>bil dengan kambing yang seikat hasil tanaman yang sortiran. Akhirnya, korban Ha>billah yang diterima dengan tanda disambar api. Sedangkan korban Qa>bil dibiarkan. Lalu, Qa>bil marah dan berkata kepada Ha>bil: saya akan bunuh kamu agar tidak dapat menikah dengan saudaraku. Ha>bil menjawab: sesungguhnya Allah hanya akan menerima (korban) orang yang bertaqwa.” [15]

Menurut riwayat dari Muja>hid bin Mu>sa dari Yazi>d bin Ha>ru>n dari H{isa>m bin Mus}allik dari ‘Amma>r al-Dihni> dari Sa>lim bin Abi al-Ja’d berkata: ketika Qa>bil telah membunuh Ha>bil, maka nabi A
Ibn Abi> H{a>tim meriwayatkan dari ayahnya dari al-Ans}a>ri> dari al-Qa>sim bin Abd al-Rah}ma>n dari Muh}ammad bin ‘Ali> bin H{usayn berkata: Abil dan Qa>bil; sesungguhya Allah telah memerintahkan kepadaku dan generasiku untuk melakukan korban (mendekatkan kepada Allah). Maka lakukanlah korban agar aku tenang melihatnya apabila korbanmu diterima. Ha>bil sipemilik kambing berkorban dengan kambingnya yang terbaik. Sedangkan Qa>bil sipemilik kebun berkorban dengan hasil kebunnya yang tidak baik. Kemudian Abil kemudian membawa korbannya dan meninggalkan korban Qa>bil. Selanjutnya mereka bertiga membubarkan diri dan akhirnya Abil, seraya berkata kepadanya: celaka kamu wahai Qa>bil karena korbanmu ditolak. Qa>bil menjawab: apakah kamu (Abil, sehingga kamu doakan agar korbannya diterima dan korbankuk ditolak? Qa>bilpun juga berkata kepada Ha>bil sambil mengancam: saya akan membunuhmu, sehingga aku aman, karena ayahmu (Abil mengurung Ha>bil di kandang ternaknya. Pada saat itulah Abil: dimanakah saudaramu Ha>bil? Qa>bil menjawab: saya tidak tahu, tidakkah dia kamu suruh menggembala? Abil, carilah Ha>bil. Lalu Qa>bil berfikir makar, malam ini aku akan membunuhnya. Dipersiapkanlah besi, kemudian dibawa menemui Ha>bil seraya berkata: wahai Ha>bil? Korbanmu diterima dan korbanku ditolak, saya akan membunuhmu. Ha>bil menjawab: karena saya berkorban dengan yang terbaik yang aku miliki, sedangkan kamu berkorban dengan yang terjelek yang kamu miliki. Oleh sebab itu, Allah tidak menerima qurban kecuali dari yang baik, dan Allah hanya menerima korban dari orang-orang yang bertaqwa. Setelah mendengar jawaban itu, Qa>bil tambah marah dan akhirnya mengangkat besi tersebut dan menghunjamkan ke tubuh Ha>bil. Ha>bil sempat mencela Qa>bil, celaka kamu Qa>bil! Allah akan membalas tindakanmu ini. Sehingga Ha>bilpun mati ditangan Qa>bil, kemudian mayatnya dimasukkan dalam lubang dan ditutup dengan tanah. [17]

Muh}ammad bin Ish}a>q meriwayatkan dari sebagian ahli ilmu: bahwa Abil menikau saudara kembar Ha>bil, sebaliknya juga memerintahkan kepada Ha>bil menikahi saudara kembar Qa>bil. Ha>bil menerima perintah ini, sementara Qa>bil menolaknya karena tidak suka dengan saudara kembar Ha>bil dan lebih suka dengan saudara kembarnya sendiri. Qa>bil berkata: kami dari keturunan waktu surga, sedangkan kamu berdua dari keturunan bumi sehingga aku lebih berhak atas saudara kembarku. Menurut riwayat ahli ilmu: saudara kembar Qa>bil berparas cantik sehingga ia bakhil terhadap saudaranya Ha>bil. Maka Abil, kembaranmu tidak boleh kamu nikahi sendiri. Qa>bilpun tidak menerima nasehat Abil berkorban biji-bijian gandum, sedangkan Ha>bil berkorban kambing muda (menurut satu riwayat sapi). Kemudian Allah mengutus api putih menyambar korban Ha>bil (sebagai tanda diterima( dan membiarkan korban Qa>bil. Begitulah korban Ha>bil diterima, karena ia menerima perintah/putusan Ar). [18]



b) "Sungguh kalau kamu menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, Aku sekali-kali tidak akan menggerakkan tanganku kepA


Menurut riwayat Ibn Jari>r dari Ibn ‘Abba>s: ketika korban Ha>bil diterima dan korban Ha>bil ditolak, maka Qa>bil berkata kepada Ha>bil; karena korbanmu diterima, apakah aku akan membiarkanmu bertemu manusia sehingga mereka mengetahui bahwa korbanku ditolak? Tidak. Saya tidak membiarkan hal itu terjadi, saya akan membunuhmu. Ha>bil berkata: apa salahku, tidakkah Allah menerima korban orang-orang yang bertaqwa? Jika kamu menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, Aku sekali-kali tidak akan menggerakkan tanganku kepA
Firman Allah “Sungguh kalau kamu menggerakkan tanganmu...” merupakan perkataan Ha>bil yang diterima korbannya karena kesalehan dan ketaqwaannya, menjawab ancaman Qa>bil yang akan membunuhnya tanpa sebab. Ha>bil menekankan; saya tidak akan melayani perbuatannmu yang jahat itu, sehingga kita sama-sama menjadi jahat. Aku takut kepada Allah untuk berbuat seperti perbuatanmu, maka aku memilih bersabar dan berharap pahala dari Allah. [20]

c) "Sesungguhnya Aku ingin agar kamu kembali dengan (membawa) dosa (membunuh)ku dan dosamu sendiri, Maka kamu akan menjadi penghuni neraka, dan yang demikian Itulah pembalasan bagi orang-orang yang zalim."



Ayat ini menurut Ibn ‘Abba>s, Muja>hid, al-D{ah}a>q, Qata>dah dan al-Sadi> yakni sebab membunuhku dan dosamu sebelumnya (kamu menjadi penghuni neraka). Menurut Ibn Jari>r dan lainnya; yakni aku ingin agar kamu kembali dengan membawa dan menanggung dosa membunuhku. [21]

Kemudian muncul permasalahan, bagaimana Ha>bil mengiginkan dosa pembunuhan dan dosa dirinya harus ditanggung oleh Qa>bil. Jawaban permasalahan ini; bahwa Ha>bil bermaksud tidak melawan Qa>bil, sementara menahan diri. Menurut al-T{abari>, permasalahan ini berisi nasehat bagi Qa>bil agar tidak membunuh dirinya. Menurut Ibn ‘Abba>s, Qa>bil tidak takut terhadap neraka, sehingga membunuhnya. [22]

d) Maka hawa nafsu Qa>bil menjadikannya menganggap mudah membunuh saudaranya, sebab itu dibunuhnyalah, Maka jadilah ia seorang diantara orang-orang yang merugi.



Ayat ini maksudnya Qa>bil semakin berambisi membunuh Ha>bil meskipun sudah diperingatkan dan dilarang. Al-Sadi> menceritakan dari Ma>lik dari Abi S{a>lih} dari Murrah bin Abd Allah dari para sahabat nabi: yakni Qa>bil memaksa Ha>bil untuk dibunuh. Suatau saat Ha>bil berada di bukit menggembala kambing, lalu tertidur. Pada saat itu Qa>bil mendatanginya, kemudian mengangkat batu besar untuk memecahkan kepala Ha>bil, sehingga mati dan ditinggalkan begitu saja di tanah lapang (riwayat Ibn Jari>r). Menurut ahli kitab: Qa>bil mencekik dan menggigit Ha>bil seperti binatang buas sehingga mati. Ibn Jari>r menambahkan: ketika Qa>bil akan membunuh Ha>bil, maka Ha>bil diikat lehernya. Kemudian iblis memperlihatkan bagaimana cara membunuhnya dengan membawa seekor binatang dibaringkan diatas batu, lalu diambil batu untuk dipukulkan kekepalanya sehingga mati. Begitulah Qa>bil memperhatikannya, lalu dilakukan kepada Ha>bil (riwayat Ibn H{a>tim). Ibn Abi H{a>tim meriwayatkan dari Abd Allah bin Wahab dari Abd al-Rah}ma>n bin Zayd bin Aslam dari ayahnya berkata: Qa>bil memegang kepala Ha>bil, lalu dibaringkan dan digerakkanlah kepala dan tulang rusuknya, namun tidak tahu bagaimana cara membunuhnya. Kemudian iblis mendatanginya dan berkata: wahai Qa>bil, apakah kamu akan membunuhnya? Qa>bil menjawab: ya. Iblis berkata: ambilah batu, lalu lemparkan ke kepala Ha>bil. Qa>bil melakukan perintah iblis; mengambil batu dan dilemparkan ke kepalanya, maka pecahlah kepalanya. Melihat hal itu, iblis bergegas mendatangi H{awwa>’ dan berkata: wahai H{awwa>’, Qa>bil telah membunuh Ha>bil. H{awwa>’ menjawab: celaka kamu, tidak mungkin pembunuhan terjadi. Iblis berkata: lihatlah, ia tidak makan, tidak minum dan tidak bergerak. H{awwa>’ menjawab: ia sudah mati. Iblis berkata: ya, sudah mati. Lalu H{awwa>’ berteriak, sehingga didatangi oleh A’? H{awwa>’ tidak menjawabnya, sehingga Atim). [23]



e) 31. Kemudian Allah menyuruh seekor burung gagak menggali-gali di bumi untuk memperlihatkan kepadanya (Qa>bil) bagaimana seharusnya menguburkan mayat saudaranya. Berkata Qa>bil: "Aduhai celaka aku, Mengapa Aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, lalu Aku dapat menguburkan mayat saudaraku ini?" Karena itu jadilah dia seorang diantara orang-orang yang menyesal.



Dengan sanad sampai pada sahabat, al-Sadi> menjelaskan ayat ini: ketika Ha>bil mati dan ditinggalkan dipadang pasir, Qa>bil tidak mengetahui bagaimana cara menguburkannya. Kemudian Allah mengutus dua burung gagak, lalu saling memangsa sehingga matilah salah satunya. Pada saat itu, burung gagak tersebut menggali tanah dan memasukkan burung gagak yang sudah mati, kemudian ditutup dengan tanah. Setelah Qa>bil melihat hal itu, maka berkata: aduhai celaka aku… al-D{ah}a>k meriwayatkan dari Ibn ‘Abba>s: Qa>bil membawa mayat Ha>bil selama setahun dalam wadah, sehingga Allah mengutus dua burung gagak tersebut. Menurut riwayat ‘At}iyah al-‘Aufi>: ketika Qa>bil telah membunuh Ha>bil, lalu menyesalinya, kemudian menggendong mayatnya sehingga burung dan binatang buas selalu mengikutinya karena ingin memangsa jasad mayat tersebut (riwayat Ibn Jari>r). [24]

Menurut riwayat Ibn H{umayd dari Salmah dari Ghiya>th bin Ibra>hi>m dari Abi Ish}a>q al-H{amda>ni> berkata: berkata ‘Ali> bin Abi> T{a>lib; ketika Abil membunuh Ha>bil, maka Ahid dan Ibn Jari>r hukumnan yang terjadi pada Qa>bil ialah dalam keadaan betisnya digantungkan pada pahanya sampai hari kiamat, dengan wajahnya menengadah ke matahari sebagai balasan dan siksaannya.[25]



4. Kandungan ayat

Kandungan ayat surat al-ma>idah 27-31 tersebut di atas secara garis besar sebagai berikut:

a) Qa>bil dan Ha>bil berseteru dalam penentuan pasangan hidupnya.

b) Abil dan Ha>bil berkorban untuk menentukan siapa yang lebih berhak menikahinya.

c) Korban Ha>bil diterima karena dilandasi dengan ketaqwaan dan Qa>bil tidak terima sehingga membunuhnya.

d) Qa>bil tidak tahu cara menguburkan mayat Ha>bil.

e) Abil yang tega membunuh Ha>bil.

5. Analisa

a) Tujuan pendidikan

Sebagaimana dipahami dari uraian di atas, pada kisah Abil dan Ha>bil yang bertikai memperebutkan pasangannya. Meskipun Ha>bil telah pasrah dengan putusan Abil, namun justru permasalahan muncul dari Qa>bil yang tidak terima dengan aturan Allah yang telah diterapkan Abil untuk menikah dengan saudara kembarnya sendiri merupakan reaksi riil atas putusan Abil berambisi menikahi saudarinya sendiri melahirkan reaksi dari Abil yang pasrah dengan tindakan Qa>bil.

Berdasarkan pada uaraian di atas, interaksi pendidikan Abil dan Ha>bil memiliki tujuan untuk bimbingan moral dan spiritual dalam kehidupan. Media interaksi yang dilakukan oleh Qa>bil ditunjukkan dengan pembicaraan dan gerakan yang bersifat dissasosiatif, berupa pertikaian dan persaingan. Pertikaian yang dilakukan Qa>bil dilatarbelakangi oleh persaingan untuk mendapatkan pasangan hidup. Sementara itu, bentuk interaksi Ha>bil lebih bersifat assosiatif, yakni menunjukkan pola kerjasama dan akomodatif, baik terhadap putusan Abil.

b) Materi pendidikan

Komponen materi dalam interaksi pendidikan merupakan inti permasalahan dari proses interaksi itu sendiri. Di sini terlihat bahwa makna interaksi pendidikan Abil dan Ha>bil menekankan pada materi pendidikan akhlak membangun kehidupan dalam berumah tangga. Abil harus belajar qana>’ah, yakni bagaimana menerima putusan Abil karena belum ada keluarga lain. Sementara Ha>bil belajar banyak tentang prilaku sabar dalam kehidupan. Bahkan untuk itu, Ha>bil siap mati dalam mempertahankan kebenaran.

Dalam dimensi spiritualitas, Abil dan Ha>bil makna mendekatkan diri kepada tuhan Allah (qurba>n). Korban sebagai bagian dalam kehidupan spriritual manusia harus dilakukan dengan ikhlas, karena Tuhan hanya menerima pendekatan diri dari hamba yang bertaqwa. Korban sebagai bagian dari spiritual agama, disamping menuntut ikhlas juga menuntut pasrah diri secara total, berupa harta benda bahkan jiwa. Karakter seperti inilah yang dikehendaki oleh Abil dan Ha>bil. Akan tetapi tujuan pendidikan tersebut tampaknya tidak sepenuhnya tercapai, karena yang dapat menjalankan hanya Ha>bil, sementara Qa>bil gagal memenuhinya. Kegagalan Abil ini berarti juga membuktikan kebenaran keraguan malaikat akan kemampuannya memakmurkan bumi.

c) Karakter pendidik

Pribadi Abil dan Ha>bil menggambarkan sosok pribadi yang teguh dalam memegang prinsip kebenaran tuhan. A
Dimensi spiritual mengacu pada kepatuhan dan pengabdian kepada Allah. Janji setia anak A
Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap Ini (keesaan Tuhan)".[26]



Jelaslah bahwa A
Dan Kami berfirman: "Hai A>dam, diamilah oleh kamu dan isterimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik dimana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu Termasuk orang-orang yang zalim.[28]



Pelanggaran A>
Dan Sesungguhnya Telah kami perintahkan kepada A

d) Etika anak didik

Aktivitas anak didik digambarkan dalam dua sosok, yaitu pribadi Qa>bil dan Ha>bil. Pribadi Qa>bil menonjolkan sifat proaktif-distruktif. Sifat distruktif merupakan akumulasi dari nafsunya (untuk mempertahankan saudara kembarnya agar tidak dinikahi Ha>bil) dengan bujukan syetan. Berdasarkan uraian di atas, ditunjukkan bahwa Qa>bil pada dasarnya tidak tahu cara membunuh, lalu syetan memperlihatkan bagaimana caranya membunuh (riwayat Ibn Jari>r dan Ibn H{a>tim).[30] Inilah karakteristik Qa>bil yang lebih menuruti hawa nafsunya dan bujukan syetan daripada ajaran ayahnya. Padahal Allah telah menasehati agar tidak menyembah syetan, sebagaimana dalam ayat berikut:

Bukankah Aku Telah memerintahkan kepA


Hampir semua interaksi didahului oleh aksi Qa>bil. Ketika Abilpun melakukan aksi memprotes keputusan ini. Secara realistis Qa>bil beralasan bahwa saudara kembar yang lahir bersamanya lebih cantik daripada yang lahir bersama Ha>bil yang dipasangkan dengan dirinya. Reaksi kontroversi yang sepintas logis dari Qa>bil ini tak pelak membuat A
Berikutnya, sebagai solusi permasalahan itu Abil yang diterima. Lagi-lagi reaksi keras muncul dari Qa>bil, sehingga berinisiatif membunuhnya. Ambisi untuk menghabisi Ha>bil ini menurut pertimbangan Qa>bil harus dilakukan agar Ha>bil tidak jadi menikah dengan saudara kembarnya, sehingga dia bisa menikahinya. Di sini terlihat bahwa Ha>bil selalu membangun tindakannya berdasarkan pertimbangan logis dan kritis. Meskipun pada akhirnya tidak semua aksi yang didukung oleh legalitas logis dan kritis itu mencapai sasaran secara bermartabat, karena tidak adanya bimbingan dari ilahi. Bahkan berakhir dengan rasa penyesalan (min al-na>dimi>n), karena termasuk orang yang merugi (min al-kha>siri>n). Karakteristik anak A
(yaitu) orang-orang yang melanggar perjanjian Allah sesudah perjanjian itu teguh, dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah (kepada mereka) untuk menghubungkannya dan membuat kerusakan di muka bumi. mereka Itulah orang-orang yang rugi.[32]

Sementara itu, etika edukatif yang ditunjukkan Ha>bil berbeda dengan Qa>bil. Pribadi Ha>bil menunjukkan moralitas yang tinggi, baik dalam interaksinya dengan Abil. Etika selalu menerima perintah Abil menerima putusan Abil. Ha>bil melaksanakan perintah berkorban untuk menentukan siapa yang lebih berhak menikah. Pada akhirnya korban Ha>bil diterima, akan tetapi masih harus menerima ancaman dari Qa>bil. Demikian pula, rasa pasrah tanpa perlawanan ketika Qa>bil berambisi membunuh dirinya. Bahkan Ha>bil tidak takut, karena rasa takutnya hanya kepada Allah membuatnya lebih berani menghadapi resiko kematian. Dalam pertimbangannya, kalaupun Ha>bil melawan Qa>bil, itu berarti berkeinginan pula untuk membunuhnya dan hal ini tidak terjadi.

Uraian ini menunjukkan bahwa etika anak didik yang menerima perintah ataupun putusan tanpa banyak mempermasalahkannya adalah kunci keberhasilan dalam diri anak didik. Meskipun pada akhirnya terbunuh, tetapi Ha>bil termasuk dalam katagori orang yang berperadaban luhur (min al-muttaqi>n). Sebaliknya, tidak semua tindakan anak didik yang didasarkan atas legalitas logika dan validitas realistis menuju pada capain pendidikan yang gemilang. Kezaliman manusia bisa jadi karena terlalu mentumpu pada pertimbangan logika-empirik, sementara ia mengabaikan kebenaran perintah tuhan. Inilah sifat manusia yang tidak amanah dalam menerima dan menjalankan tugas-tugas ajaran agama, sebagaimana dalam gambaran ayat berikut:

Sesungguhnya kami Telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, Maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.[33]


e) Metode pendidikan

Dari sisi metode, cara Abil dan Ha>bil mengindikasikan adanya pola dialogis-interaktif. Dialog terjadi dalam masalah penentuan jodoh di mana harus diatur secara silang. Qa>bil dijodohkan dengan kembaran Ha>bil, dan begitu sebaliknya. Meskipun keputusan seperti itu tampak sepihak dari Abil yang merasa tidak diuntungkan dengan adanya aturan perjodohan yang telah diputuskan A
Aturan perjodohan secara silang yang diputuskan Abil belum bisa memahaminya, sehingga menunjukkan sikap disassosiatif berupa pertikaian terhadap saingannya Ha>bil. Terhadap konflik ini, Abil dan Ha>bil. Namun setelah ternyata yang diterima korban Ha>bil, Qa>bilpun melakukan konfrontasi terhadap Ha>bil dengan ancaman akan membunuhnya.

Abil yang akan membunuh Ha>bil. Sampai pada akhirnya terjadi pembunuhan, tanpa sepengetahuan Abil tersebut. Menurut riwayat Ibn H{umayd dari Salmah dari Ghiya>th bin Ibra>hi>m dari Abi Ish}a>q al-H{amda>ni> dari ‘Ali> bin Abi> T{a>lib; ketika Abil membunuh Ha>bil, maka A
====================================
[1]al-Qur’a>n: 2 (al-Baqarah):30, 4 (al-Nisa>’):1, 6 (al-An’a>m):98, 7 (al-A’ra>f):189, 15 (al-H{ijr):29.

[2]Ibid., 2(al-Baqarah):28, 2(al-Baqarah):30, 4 (al-Nisa>’):1, 6 (al-An’a>m):2, 6 (al-An’a>m):98, 7 (al-A’ra>f):11, 7 (al-A’ra>f):12, 7 (al-A’ra>f):189, 15 (al-H{ijr):26, 15 (al-H{ijr):28, 15 (al-H{ijr):29, 15 (al-H{ijr):33, 19 (Maryam):67, 32 (al-Sajdah):7, 39 (al-Zumar) :6, 49 (al-H{ujura>t):13, 55 (al-Rah}ma>n):3, 55 (al-Rah}ma>n):14, 67 (al-Mulk):23, 76 (al-Ih{sa>n):1, 80 (‘Abasa):18, 80 (‘Abasa):19, 80 (‘Abasa):20, 91(al-Shams):8, 92 (al-Layl):3, 96 (al-‘Alaq):2.

[3]Ibid., 3 (Ali ‘Imra>n):59, 6 (al-An’a>m):2, 11 (Hu>d):61, 15 (al-H{ijr):26, 15 (al-H{ijr):28, 15 (al-H{ijr):29, 15 (al-H{ijr):33, 71 (Nu>h}):17.

[4]Ibid., 2 (al-Baqarah):31, 2 (al-Baqarah):33.

[5]Ibid., 2 (al-Baqarah):34, 7 (al-A’ra>f):11, 15 (al-H{ijr):30, 18 (al-Kahfi):50, 20 (T{a>ha>):116, 38 (S{a>d):72, 38 (S{a>d):73.

[6]Ibid., 2 (al-Baqarah):35, 2 (al-Baqarah):36, 7 (al-A’ra>f):19, 7 (al-A’ra>f):20, 7 (al-A’ra>f):22, 20 (T{a>ha>):120, 20 (T{a>ha>):121.

[7]Ibid., 2 (al-Baqarah):36, 2 (al-Baqarah):38, 7 (al-A’ra>f):24, 7 (al-A’ra>f):25, 7 (al-A’ra>f):27, 20 (T{a>ha>):123.

[8]Ibid., 3 (Ali ‘Imra>n):33, 20 (T{a>ha>):122.

[9]Ibid., 2 (al-Baqarah):27, 2 (al-Baqarah):84, 7 (al-A’ra>f):172, 20 (T{a>ha>):115, 33 (al-Ah}za>b):72, 36 (Ya>si>n):60.

[10]al-Suyu>t}i>, Jala>l al-Din, al-Durr al-Mant}u>r, juz 3, 55.

[11]Ibid.

[12]al-Dimashqi>, Abi al-Fida>’, Ibn Kath}i>r, juz 2, 58.

[13]al-Suyu>t}i>, Jala>l al-Din, al-Durr al-Manth}u>r, juz 3, 55.

[14]al-Qurt}u>bi al-Ja>mi', juz 6, 128.

[15]al-T{abari, Ja>mi’, juz 3, 527.

[16]al-T{abari, Ja>mi’, juz 3, 527.

[17]al-Dimashqi>, Abi al-Fida>’, Ibn Kat}hi>r, juz 2, 58.

[18]al-Dimashqi>, Abi al-Fida>’, Ibn Kat}hi>r, juz 2, 58.

[19]al-Suyu>t}i>, Jala>l al-Din, al-Durr al-Mant}u>r, juz 3, 55.

[20]al-Dimashqi>, Abi al-Fida>’, Ibn Kat}hi>r, juz 2, 58.

[21]Ibid.

[22]Ibid.

[23]Ibid.

[24]Ibid.

[25]Ibid.

[26]al-Qur’a>n, 7 (al-A’ra>f):172.

[27]Pohon yang dilarang Allah mendekatinya tidak dapat dipastikan, sebab al- Qur’>an dan Hadist tidak menerangkannya. Ada yang menamakan pohon khuldi sebagaimana tersebut dalam surat T{a>ha> ayat 120, tapi itu adalah nama yang diberikan syaitan.

[28]al-Qur’a>n, 2 (al-Baqarah):35.

[29]Ibid., 20 (T{a>ha>):115.

[30]Ibn Abi H{a>tim meriwayatkan dari Abd Allah bin Wahab dari Abd al-Rah}ma>n bin Zayd bin Aslam dari ayahnya berkata: qabil memegang kepala habil, lalu dibaringkan dan digerakkanlah kepala dan tulang rusuknya, namun tidak tahu bagaimana cara membunuhnya. Kemudian iblis mendatanginya dan berkata: wahai qabil, apakah kamu akan membunuhnya? Qabil menjawab: ya. Iblis berkata: ambilah batu, lalu lemparkan ke kepala habil. Qabil melakukan perintah iblis; mengambil batu dan dilemparkan ke kepalanya, maka pecahlah kepalanya. Ibn Jari>r menambahkan: ketika qabil akan membunuh habil, maka habil diikat lehernya. Kemudian iblis memperlihatkan bagaimana cara membunuhnya dengan membawa seekor binatang dibaringkan diatas batu, lalu diambil batu untuk dipukulkan kekepalanya sehingga mati. Begitulah qabil memperhatikannya, lalu dilakukan kepada habil. al-Dimashqi>, Abi al-Fida>’, Ibn Kat}hi>r, juz 2, 58.

[31]al-Qur’a>n, 36 (Ya>si>n):60.

[32]Ibid., 2 (al-Baqarah):27.

[33]Ibid., 33 (al-Ah}za>b) :72.

[34]al-Dimashqi>, Abi al-Fida>’, Ibn Kat}hi>r, juz 2, 58.

0 komentar:

إرسال تعليق

Comment here

My Famly

About This Blog

My Activity

Blog Archive

  © Blogger template The Professional Template II by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP