Lanjutan Thesis:PESAN-PESAN PENDIDIKAN ANAK

الخميس، 16 أبريل، 2009


Lanjutan Thesis:

BAB III

PESAN-PESAN PENDIDIKAN ANAK

(Studi tentang mutiara hikmah Luqmanul Hakim)

1. Seputar Luqmanul Hakim

1. a. Pendapat Mufasirin tentang Luqmanul Hakim

Nama Luqman disebut dalam Alquran hanya sekali dan sekaligus terabadikan dalam Alqur’an karena menjadi nama surat yang menjelaskan tentang pendidikan yang ia lakukan kepada ankknya. Cerita tersebut tepatnya berada dalam QS. Luqman juz 21 ayat

ولقد اتينا لقان الحكمة ان اشكر لله ومن يشكر فانما يشكر لنفسه ومن كفر فان الله غني حميد (سورة لقمان: 12)

Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu: “ Bersyukurlah kepada Alloh. Dan barng siapa yang bersyukur [kepada Alloh], maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barang siapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Alloh Maha Kaya Lagi Maha Terpuji”. [QS. Luqman: 12].

1. b. Kajian bahasa:

Surat Luqman ini termasuk surat makiyah, terdiri dari 34 ayat. Sedangakan nama Luqman yang tertera dalam alqur’an, secara kajian bahasa menurut Makki bin Tholib Alqoisi adalah nama kongkrit [isim ma’rifah] yang berasal dari kata “ laqoma” dengan ditambah alif dan nun seperti kata “ustman”, dimana luqman ini bisa jadi berasal dari kata arab murni ataupun non-arab [‘ajam].[1] Sedangkan menurut Annuhas bahwa kata Luqman ini tdak dapat menerima tanwin [lam yanshorif] karena sudah ma’rifah [tertentu], karena kata Luqman pindahan kedua dengan dua tambahan, dan dapat menerima tanwin pada bentuk nakirohnya pada satu pindahan nama pertama.[2]

Lalu dipertanyakan pula apakah nama luqman itu arab atau non arab? Maka ulama yang berpendapat bahwa ia adalah nama non arab maka tidak menerima ta’rif. Sedangkan yang mengatakan nama arab maka tidak dapat dima’rifatkan dan tidak dapat ditambah alif dan nun.[3]

Adapun menurut Ibnu Baauro’ yang dinukil oleh Al-alusi dalam kitab tafsirnya; adalah ia nama ‘ajam bukan arab yang diambil dari kata Allaqom.[4]

1. c . Kajian Istilah:

Yang perlu dikaji lebih lanjut adalah siapa sebenarnya Luqman yang diceritakan dalam Alqur’an ini, sehingga diistimewakan Alloh sebagai nama surat. Tentang hal ini para ulama telah berbeda penafsiran tentang siapa yang dikehendaki dengan Luqman pada ayat tersebut. Pendapat mereka ini sebagaimana berikut:

1. Luqman bin baauro’ bin Nahur bin Tarih, yaitu Azar bapak nabi Ibrohim.

2. Luqman bin Anqoo’ bin Sarwan dari bangsa Naubi penduduk Iliih [pendapat Imam Suhaili].

3. Luqman bin Ukhtu Ayyub [pendapat Imam wahab].

4. Luqman bin Kholatu Ayyub [pendapat Imam Muqootil].

5. Luqman bin Bauroo’ bin Ukhtu Ayyub atau bin Ibu Kholatuh [pendapat Azzamakhsyari].

6. Luqman salah satu anak dari Azar ayng hidup seribu tahun dan menemui nabi Daud AS dan berguru kepadanya.[5]

1. d. Pekerjaannya

Adapun tentang pekerjaannya adalah sebagai berikut:

1. Luqman adalah seorang penjahit baju[ pendapat Said bin Musayyab].

2. Luqman adalah seorang penggembala [pendapat Ibnu zaid].

3. Luqman adalah tukang kayu [ pendapat Kholid Al-Robii’].

4. Luqman adalah seorang hakim dizaman bani Isroil [ pendapat Alwakidi].

5. Luqman adalah hamba sahaya dari negeri habsyi dan sebagai tukang kayu [ menurut penjelasan Abi syaibah dalam kitab Azzuhud, Ahmad dan Ibnu Abi Dunya dalam kitab Almamlukiin, diceritakan dari Ibnu Mundzir dan Ibnu Abi Dunya dari Ibnu Abbas ra].[6]

1. e. Sifat-sifatnya

Mengenai sifatnya, ada beberapa penjelasan sebagaimana berikut:

1. Luqman adalah seorang budak habsi [pendapat Ibnu Abbas].

2. Luqman adalah seorang hamba habsyi, bibirnya tebal , tebal telapak kakinya, hakim dimasa bani isroil [pendapat Mujahid],

3. Luqman adalah seorang berkulit hitam dari sudan, atau dalam satu riwayat lainnya ia adalah berkulit hitam dari nergeri Naubi….[7]

1. f. Status Kenabiannya

Lalu apakah dia seorang nabi atau bukan? Ada beberapa pendapat ulama diantaranya adalah sebagai berikut:

1. Luqman adalah seorang nabi [pendapat Assa’di Ikrimah dan Saadi].

2. Luqman adalah seorang hakim bukan nabi [menurut Said bin Musayyab, Mujahid dan Qotadah].[8]

3. Luqman adalah seorang wali dan bukan nabi [jumhur ahli ta’wiil].[9]

4. Luqman adalah seorang yang setingkat lebih tinggi dari derajat rodiyallohu anhu dan bukan seorang nabi [ pendapat Annawawi].[10]

Dan banyak penjelasan hadit tentang Luqmanul hakim, diantaranya adalah:

وقد جاء حديث عن ابن عمر قال سمعت رسول الله يقول " لم يكن لقمان نبيا ولكن كان عبدا كثيرالتفكر حسن اليقين احب الي الله تعالي فاحبه فمن عليه بالحكمة وخيره في ان يجعله خليفة يحكم بالحق..[11]

Artinya: ada sebuah hadist menyatakan, diriwayatkan dari Ibnu Umar, Ia berkata: saya mendengar nabi bersabda: sesungguhnya Luqman bukan seorang nabi, tetapi hanya seorang hamba yang banyak berfikir, kuat pendidirian, mencintai Alloh dan Alloh mencintainya, Alloh memberinya hikmah, memilihnya sebagai kholifah yang menghukumi dengan kebenaran…

وحدثنا ابن المثني وحدثنا محمد بن جعفر قال حدثنا شعبة عن الحكم عن مجاهد انه قال : كان لقمان رجلا صالحا ولم يكن نبيا

Kita diberitahu oleh Ibnu Mutsanna, kita diberitahu oleh Muhammad bin ja’far, kita diberitahu oleh Syu’bah dari Hakim dari Mujahid, sesungguhnya ia berkata: Luqman seorang laki-laki sholeh dan bukan nabi

وحدثنا بشر قال ثني يزيد قال ثنا سعيد عن قتادة قوله " ةلقد اتينا لقمان الحكمة" اي الفقه في الاسلام ولم يكن نبيا ولم يوح اليه (13). [12]

Kita diberitahu oleh Basyar, ia berkata saya diberitahu oleh Yazid, ia berkata saya diberitahu oleh Sa’id dari qotadah: firman Alloh” dan sungguh kami telah beri Luqman Hikmah” maksudnya adalah pemahaman tentang islam dan bukan seorang nabi, juga tidak diberi wahyu.

Melihat berbagai pendapat diatas, maka menurut pendapat yang masyhur Luqman adalah seorang hakim [orang yang arif] dan bukan nabi.[13]

Adapun yang mengatakan Luqman seorang nabi karena mereka menafsiri kata” Hikmah” pada ayat QS. Luqman 12 dengan “kenabian”, dan pendapat ini lemah. [14] Sedangkan yang jelas ia seorang laki-laki sholeh, perasa, jujur, banyak kebaikannya.[15] Ulama yang berpendapat ia seorang nabi ini berpegang pada riwayat yang dikeluarkan oleh 1] Ibnu Abi Hatim dari Ikrimah ra, ia berkata: Hikmahnya luqman adalah kenabian, 2] Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim dari Ikrimah ra berkata: Luqman seorang Nabi, 3] Ibnu Faryabi dan Ahmad dalam kitab Zuhud , Ibnu Jarir, Ibnu Mundzir dan Ibnu Abi Hatim dari mujahid ra menafsirkan kata “ Hikmah” dengan akal, pemahaman agama dan kenabian. [16]

1. g. Masa hidupnya

Adapun masa hidupnya menurut ulama berkisar seperti berikut:

1. Ia hidup diantara masa nabi Isa dan nabi Muhammad.

2. Ia anak Kuisy bin Syam binNuh dilahirkan 20 tahun dizaman kerajaan Dawud, dan ia hidup sampai zaman nabi Yunus. [17]

Menurut tarikh tentang umat-umat dan agamanya, maka bani Isroil mengakui bahwa Luqman termasuk dari golongannya. Ia hidup dimasa nabi Daud as dan memilih diberi hikmah daripada kenabian. Sedangkan orang Yunani mengaku ia dari golongannya dan memanggilnya Isyub dari desa Amartum yang dilahirkan sesudah berdirinya kota Roma selang 200 tahun.[18]

Adapun daerah asalnya menurut hadist yang mu’tamad berasal dari Sudan. Hadist tersebut diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam kirab Dhu’afa, dan Ibnu ‘asakir dari Ibnu Aababas ra berkata: nabi bersabda:

قال رسول الله اتخذوا السودان من ثلاثة منهم سادات اهل الجنة . لقمان الحكيم والنجاشى وبلال المؤذن.

Ambillah dari sudan tiga hal diantara mereka adalah ahli sorga yaitu Luqman Hakim, Najasyi dan Bilal [muadzin].

وما اخرج ابن عساكر عن عبد الرحمن بن يزيد عن جبير رضي الله تعالي عنه قال :قال رسول الله صل الله عيه وسلم " سادات السودان اربعة لقمان الحبشى والنجاشى وبلال ومهججع [19]

Hadist diriwayatkan oleh Ibnu Asakir dari Abdurrahman bin Yazid dari Jabir ra berkata: nabi bersabda: pembesar sudan ada empat orang yaitu Luqman Alhabsyi, Raja Najasyi, Bilal dan Muhajaja’.

1. h. Makamnya

Mengenai makam Luqman menurut satu pendapat mengatakan berada di tanah Ramalah yaitu nama tempat antara masjid roamalah dan pasarnya, dimana disana ada makam tuju puluh nabi yang mati kelaparan setelah luqman, dimana pada suatu hari diusir oleh bani Isroil dari Kudus, lalu mereka menuju Ramalah lalu mereka terkepung disana sampai mati. dan dikatakan dalam kitab Farhurrohman bahwa kuburan Luqman berada di daerah Shorfandi, yaitu daerah diluar kota Palestina yang terletak diantara Syam dan Mesir. [20]

1. i. Nama anaknya

Sebagaimana diketahui Luqman memiliki anak yang ia didik. Mengenai nama anaknya tersebut para ulama berbeda penafsiran seperti berikut:

0

1. Masykam [pendapat Alkalbi].

2. An’am [pendapat Annaqosy].

3. Baban.[21]

4. Asykam.[22]

0

1. Salam.[23]

2. Syaran.[24]

3. Asykar atau Syakir.[25]

4. Syaran.[26]

5. Masyan.[27]

Melihat pendapat diatas, maka sebenarnya Luqman memiliki anak yang ia didik dengan baik. Pada satu riwayat dijelaskan bahwa ia menikah, lalu memiliki beberapa anak dan mereka mati, tetapi Luqman tidak menangisinya.[28] Menurut Imam Qusyairi, Luqman memiliki istri dan anak yang keduanya kafir, lalu ia selalu menasehatinya sehingga mereka masuk islam.[29] Pendapat yang mengatakan bahwa ia nabi tidak benar karena nabi dipilih dari kelompok yang terbaik dari kaumnya, padahal disebutkan Luqman berasal dari sudan yang berkulit hitam. Maka jumhur ulama memperdebatkan bahwa ia bukan nabi, dan hanya Ikrimah yang menyatakan ia seorang nabi, itupun kalau sanad Ikrimah ini benar.[30]

Perbedaan ulama tentang siapa sebenarnya Luqman ini menurut Thonthowi Jauhari menunjukkan kepada kita bahwa Hikmah itu ternyata tidak memihak tempat pada seseorang tertentu. Alloh memerintahkan kepada kita untuk mengambil hikmah dari mana saja mendapatkannya, baik dari seorang budak ataupun merdeka, jelas nasabnya ataupun tidak, dahulu atau sekarang.[31]

Jadi kesimpulannya adalah bahwa Luqman adalah seorang yang sholeh, bijaksana, selalu menasehati anaknya yang kafir dengan mendidikkan materi akidah, syari’ah dan akhlak sehingga ia beriman.[32]

1. Diberi Hikmah

Jika kita cermati realitas kehidupan ini, maka kita akan sampai pada satu kesimpulan bahwa Alloh dengan karunianya telah melebihkan satu hamba diatas yang lain. Alloh menjamin untuk mengangkat orang yang berilmu dan beramal sholeh beberapa derajat disisinya.

يرفع الله الذين امنوا منكم والذين اوتوا العلم درجات (الممجادلة:11)

Artinya: Alloh akan mengangkat orang yang beriman dan beramal sholeh diantara kamu semua beberapa derajat. [QS. Almujadalah 11].

Perbedaan setatus sosial inilah yang membuat kehidupan menjadi dinamis. Ada kaya miskin, sehingga yang kaya dapat membantu yang miskin ataupun yang miskin dapat bekerja pada yang kaya. Pandai bodoh, menjadikan yang pandai mengajarkan ilmunya kepada si bodoh, sehingga sibodoh mau belajar,dan seterusnya. Demikian halnya yang diberikan oleh Alloh kepada Luqman yang berupa hikmah, menjadikan umat manusia diharapkan mau mempelajari kata-kata mutiara hikmahnya. Karena barang siapa diberi hikmah dari Alloh, sungguh telah mendapatkan kebaikan yang banyak.

ومن يؤت الحكمة فقد أوتى خيرا كثير وما يذكر إلا أولو الألباب ( البقرة 269)

Artinya: dan barang siapa diberi hikmah, maka sungguh telah diberi kebaikan yang banyak, dan tidaklah ingan kepada Alloh kecualai orang yang memiliki akal [Labaqorah:269]

Untuk memperoleh gambaran yang jelas tentang hikmah apa yang diberikan oleh Alloh seperti yang dikehendaki dalam firmannya QS. Luqman 12, maka penulis akan menjelaskan makna hikmah dalam Alquran secara menyeluruh, lalu mengkhusus pada ayat tersebut. Pembahasan selanjutnya tentang macam hikmah, faktor pendorong dan penghambat hikmah, dan kata-kata mutiara hikmah Luqmanul Hakim.

2. a. Makna hikmah

Kata hikmah "الحكمة " tertera dalam Alqur’an sebanyak 20 kali dalam 19 ayat yang termuat dalam 12 surat, diantaranya yaitu QS. Albaqarah 129,151, 231, 269, QS. Ali Imran: 48, 81, 164, QS. Annisa’ 54, 113, QS. Almaidah:11, QS. Annahl: 125, QS. Al-Isra’: 39 QS. Luqman 12, QS. Al-Ahzab:34, 20, QS. Azzuhruf:63, QS. Alqomar:5, QS. Aljumuah:2. [33]

2. a. 1. Pengertian etimologi

Kata hikmah "الحكمة "adalah bentuk masdar dari حكم يحكم حكمة menurut Ibnu Mandlur bahwa الحكيم adalah orang yang memiliki hikmah, sedangakan hikmah itu sendiri merupakan pengetahuan terdetail [terbaik] tentang sesuatu, dan dikatakan juga dengan istilah الحكيم bagi orang yang mengetahui secara detail tentang ciptaan dan diyakininnya.[34]

هى مصدر من حكم يحكم حكمة قال ابن منظور ان الحكيم ذو الحكمة والحكمة عبارة عن معرفة أفضل الأشياء بافضل العلوم ويقال لمن يحسن دقائق الصناعات ويتقنها حكيم .

Menurut Muhibbuddin dalam Tajul ‘arusy Alhikmah semakna dengan adil dalam menghukumi sesuatu. Juga bermakna mengetahui secara yakin atas hakekat sesuatu, dan menjalankanny.

Maka hikmah dengan demikian terbagi dua yaitu teoritis dan praktis. Dikatakan juga Hikmah adalah kondisi kekuatan akan dalam bidang keilmuan. Juga merupakan kesatuan kebenaran antara perkataan dan perbuatan, Maka hikmah dari Alloh itu adalah mengetahui sesuatu dan mewujudkannya dalam realitas perbuatan [hukum], sehingga dimungkinkan manusia mengetahui hal ini dan mau melakukannya. Hikmah juga bermakna bijaksana yaitu kontrol jiwa terhadap penguasaan emosional. Dan juga bermakna taat kepada Alloh, pemahaman terhadap agama, menjalankan agama, takut, perwira, benar, berfikir tetang perintah Alloh dan menjalankan perintahnya.

وقال محب الدين الحكمة بمعنى العدل فى القضاء كالحكم. وكذلك بمعنى العلم بحقائق الأشياء على ما هى عليه والعمل بمقتضاها ولهذا إنقسمت إلى علمية وعملية ويقال هى هيئة القوة العقلية العلمية، وقيل الحكمة إصابة الحق بالعلم والعمل فالحكمة من الله معرفة الأشياء وإيجادها على غاية الأخكام ومن الإنسان معرفته وفعل الخيرات. وقد وردت الحكمة بمعنى الحلم وهو ضبط النفس والطبع عن هيجان الغضب.وتطلق الحكمة أيضا على طاعة الله والفقه فى الدين والعمل به والفهم والخشية والورع والأصابة والتفكر فى أمر الله واتباعه.[35]

Menurut Almuqri alhikmah bermakna kendali hewan, dinamakan demikian karena pengendalinya dapat mengendalikannya dari keliaran dan sejenisnya, dan kata “pemilik hikmah” artinya hikmah itu mencegah pemiliknya dari akhlak jelek.

وقال المقرى الحكمة بمعنى وزان قصبة للدابة سميت بذلك لأنها تذلل لراكبها حتى تمنعها الجماح ونحوه، وصاحب الحكمة بمعنى تمنع صاحبها من أخلاق الأرذل.[36]

Melihat beberapa pengertian diatas, maka sebenarnya makna hikmah dari sisi bahasa memiliki kedekatan arti yaitu bedasar pada makna mengekang, maka karenanya orang yang memiiki hikmah mengekang dirinya dari perbuatan-perbuatan tercela sehingga denan demikian menjadi kekasih Tuhan.

2. a. 2.Pengertian Istilah

Secara istilah tentang makna hikmah para ulama memiliki beberapa penafsiran yang berbeda. Diantaranya pengertian hikmah yang diberikan oleh Al Muqotil, secara umum hikmah yang tertera dalam Alqur’an bermakna:

1. Nasehat-nasehat Alqur’an

"وما أنزل عليكم من الكتاب والحكمة يعظكم به" البقرة : 231

Dan ingatlah ni’mat alloh padamu, dan apa yang telah diturunkan alloh kepadamu,yaitu alkitab dan alhikmah. Alloh memberi pengajaran kepadamu dengan apa yang diturunkan-Nya itu.

2. Pemahaman dan pengetahuan

الأية "ولقد أتينا لقمان الحكمة" لقمان : 12

Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmat kepada Luqman,

3. Kenabian

"فقد أتينا ال إبراهيم الكتاب والحكمة"النساء : 54

Sesungguhnya Kami telahmemberikan kitab dan Hikmah kepada keluarga Ibrohim.

4. Rahasia-rahasia Alqur’an

"أدع إلى سبيل ربك بالحكمة"النحل : 125

Serulah [manusia] kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah.

Pengertian diatas semuanya tercakup pada makna pertama yaitu pemahaman dan pengetahuan.[37]

Adapun makna “hikmah” yang terkandung dalam QS. Luqman 12 menurut para mufassir adalah sebagai berikut:

1ـ الفقه والعقل والأصابة فى القول من غير نبوة (قال مجاهد)

Pemahaman, akal, benar dalam perkataan dari bukan nabi [menurut Mujahid].[38]

2ـ العقل والعلم والعمل به والأصابة فى الأمور.

Akal, pengetahuan dan aplikasinya, dan benar dalam perbuatan. [39]

3ـ الفهم والعقل، قاله الأكثرون وقيل بالنبوة.

Pemahaman, dan akal, [menurut pendapat banyak ulama, dan juga bermakna kenabian].[40]

4ـ الأصابة فى القول والعمل.

Benar dalam perkatataan dan perbuatan.[41]

5ـ المعرفة والأصابة فى الأمور، وقيل شيئ يجعله الله فى القلب ينوره كما ينور البصر فيدرك المبصر.

Pengetahuan, dan benar dalam perkara, dikatakan juga:Alloh menjadikan sesuatu dalam hati menusia, lalu Alloh menyinarinya sebagaimana menyinari penglihatan, maka ia dapat melihat yang memmberikan penglihatan. [42]

6ـ المنطق الذى يتعظ به ويتنبه به ويتناقله الناس لذلك.

Perkataan yang dijadikan nasehat, diingdt-ingat dan difikirkan oleh manusia. [43]

7ـ الفهم والعلم والتعبير.

Pemahaman, pengetahuan dan pengungkapan.[44]

8ـ إستكمال النفس الإنسانية باقتباس العلوم النظرية واكتساب الملكه التامة على الأفعال الفاضلة على قدرطاقتها، عرفها العلماء.

Kesempurnaan jiwa manusia dengan mengambil ilmu teoritis sebagai landasan gerak menuju kesempurnaan perbuatan sesuai dengan kemampuannya [menurut definisi ulama].[45]

9ـ العقل والفهم والفطانة من غير نبوة.

Akal, pemahaman dan kecerdasan tanpa kenabian.[46]

10ـ إصابة الحق باللسان وأصابة الفكر بالجنان وأصابة الحركة بالأركانإن تكلم بحكمة وإن تفكر بحكمة وأن تحرك تحرك بحكمةولذلك قال الراغب الحكمة إصابة الحق بالعلم والفعل

Kesatuan kebenaran dalam lisan, pikiran dan perbuatan.Jika berkata dengan bijak, berfikir dengan bijak dan bertindak dengan bijak , oleh sebab itu, maka Arraghib berkata: hikmah adalah kebenaran dalam pengetahuan dan perbuatan.[47]

11ـ معرفة حقائق الأشماء على ماهى عليه بقدر الطاقة البشرية, فسرها الحكماء.

Upaya mengetahui hakekat sesuatu dengan benar, [penafsiran ulama].[48]

12ـ حصول العمل على العمل على وفق المعلوم. فسرها اللوسى.

Beramal sesuai dengan pengetahuan, menurut Al-Alusi.[49]

13ـ مجموعة من الفضائل تجعل صاحبها يضع كل شيئ فى محله.

kumpulan keutamaan yang menjadikan pemiliknya menempatkan segala sesuatu pada tempatnya.[50]

14ـ المعرفة والأمانة وقيل نور فى القلب يدرك به الأشياء كما تدرك بالبصر.

Pengetahuan, amanat, juga bermakna cahaya dalam hati yang dapat melihat seperti mata. [51]

15ـ العلم والفهم وأصابة القول والفعل.

pengetahuan, pemahaman dan benar dalam perkataan dan prilkau.[52]

16ـ الإصابة فى القول والسداد فى الرأى والنطق يما يوافق الحق.

Benar dalam perkataan, pemikiran dan perbuatan.[53]

17ـ العمل بالعلم.

Amal didasarkan pada ilmu.[54]

Inilah beberapa pengertian Hikah menurut para ulama. Bahkan definisi tersebut mencapai 29 pengertian, atau mungkin lebih.[55]

Berdasarkan pengertian diatas, maka dapat disimpulkan, pengertian Hikmah mencakup benar pada pengetahuan, pemahaman, perkataan, perbuatan sehingga menjadikan seseorang dapat mengendalaikan dirinya dari perbuatan jahat, seraya menempatkan sesuatu pada tempatnya, dan hikmah tidak bermakna kenabian –sebagaimana ditafsirkan oleh sebagian ulama- sehingg Luqman bukan seorang nabi, namun hanyalah seorang yang sholeh dan bijaksana yang diberi hikmah oleh Alloh.

2.b. Macamnya

Untuk memperoleh pemahaman yang komprehensif tentang Hikmah apa yang diberikan oleh Alloh kepada Luqmanul hakim , maka disini penulis perlu mengkaji hikmah dilihat dari segi obyek [macamnya]. Hal ini penulis anggap perlu karena melihat definisi hikmah yang beragam dari para ulama, seperti pembahasan diatas.

2.b. 1. Hikmah teoritis dan praktis [dari sisi obyek]

Dari penjelasan tentang makna hikmah tersebut, sejalan dengan penjelasan Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah- dapat dipahami bahwa hikmah itu mencakup teoritis [nadhoriyah] dan praktis [‘amaliyah].

Pertama: hikmah teoritis [ilmiyah atau nadhoriyah].

الأولى : الحكمة العلمية أو النظرية.يرادبها الإطلاع على بواطن الأشياء ومعرفة إرتباط الأسباب بمسيتها خلقا وأمرا قدرا وشرعا.

Maksudnya adalah mengetahui hakekat sesuatu beserta hubungannya dengan sebab-sebab penciptaannya, dari sisi kadar dan syare’at.

Kedua: Hikmah praktis [‘amaliyah].

الثانية : الحكمة العمليةيراد بها وضع الشيئ فى موضعه، قاله صاحب المنازل. وهى على ثلاث درجات وهى على الترتيب : إن تعطى كل شيئ حقه ولاتعديه حده، ولاتعجله عن وقته، ولاتؤخره عنه. وكانت الحكمة مراعاة هذه الجهات الثلاثة.

Maksudnya adalah menempatkan sesuatu pada tempatnya [pendapat Shohibul manazil], dimana bagian ini memiliki tiga tingkatan yaitu: memberikan sesuatu sesuai kebutuhannya dan tidak melampaui batas, tidak mendahului dan tidak mengakhirkan dari waktunya, jadi hikmah itu menjaga tiga hal diatas dari segala aspeknya.[56]

ونضرب مثلا موجزا شرحا لتلك المعنيين السابقين. حكى عن إبراهيم قوله فى القرآن "رب هب لى حكما" وهو الحكمة النظرية "والحقنى بالصالحين"الشعراء : 83 وهى الحكمة العملية، ونادى موسى عليه السلام فقال الله "إننى أنا الله لاإله إلاأنا" وهو الحكمة النظرية ثم قال"فاعبدنى" 42 طه : 14 فهو الحكمة العملية، وقال عيسى عليه السلام "إنى عبد الله" وهى الحكمة النظرية ثم قال "وأوصانى بالصلاة والزكاة مادمت حيا" مريم : 31 وهو الحكمة العملية، وقال فى حق محمد صلى الله عليه وسلم "فاعلم أنه لاإله إلا الله" وهو الحكمة النظرية ثم قال واستغفر لذنبك "محمد : 19وهو الحكمة العملية.

Sebagai contoh penerapan kedua teori tersebut misalnya pada berita nabi Ibrahim ketika berdo’a “wahai tuhan kami berilah kami hukum”, inilah yang dimaksud dengan hikmah teoritis, sedangkan perkataan selanjutnya “ dan temukanlah kami dengan orang-orang sholeh”, adalah bentuk hikmah praktis [QS.Syuaraa’: 83]. Dan ketika Musa memanggil Alloh, lalu Alloh menjawab “ Aku sesungguhnya adalah Alloh tuhanmu, tidak ada tuhan selain aku” ini merupakan hikmah teoritis, lalu firman Alloh “sembahlah Aku” merupakan hikmah praktis [QS. Thoha: 42]. Isa berkata “ saya adalah hamba Alloh” merupakan hikmah teoritis, lalu perkataannya “dan Alloh memerihntahku sholat dan zakat selama saya hidup” adalah hikmah praktis [QS. Maryam: 31]. Juga tentang kisah nabi Muhammad, Alloh berfirman: “meka ketahuilah bahwasanya tidak ada tuhan selain Alloh” [hikmah teoritis], lalu firman Alloh” maka mintalah ampun atas dosamu’ [hikmah praktis].[57]

Berdasarkan contoh diatas, maka sesungguhnya makna hikmah mencakup dua objek pengertian pokok, yaitu aspek teoritis dan praktis.Dua hal inilah yang dapat membentuk manusia sempurna lahir dan batin, karenanya ia memiki landasan teoritis yang benar, lalu bertindak dengan landasan teori tersebut dengan benar. Kebenaran tindakan yang didasarkan atas kebenaran teori inilah cermlinan dari hikmah yang sebenarnya.

2.b. 2. Hikmah mauhibah dan iktisab [dari sisi pencapaian]

Hikmah yang terjadi pada diri luqman seperti dalam QS. Luqman 12 merupakan pemberian adari Alloh, karena dengan tegas Alloh memberikan hal tersebut kepadanya. Jadi mafhum mukholafahnya ada hikmah yang dapat diusahakan sendiri.

Jadi hikmah itu ada dua macam; yaitu hikmah yang datangnya dari Alloh yang diberikan kepada hambanya, dan hikmah yang datang dan diusahakan oleh manusia sendiri. Hikmah dari Alloh ini dalam bentuk mengetahui segala sesuatu, eksistensinya dan mangfaatnya, sedangkan hikmah dari Alloh adalah mengetahui segala yang ada dengan sebenarnya dan melakukan kebaikan, dan inilah yang terjadi pada diri Luqmanul hakim. Dalam penjelasan hikmah ini, maka Al-Ghozali menjelaskan; sesungguhnya orang yang mengetahui banyak hal, tetapi tidak mengenal Alloh [ma’’rifat billah], maka tidak dinamakan hakiim [bijak], karena ia tidak mengetahui sabab musabab segala sesuatau itu, akibatnya tidak mengetahui mana yang baik dan buruk. Jadi hikmah adalah ilmu yang terbaik, dan kadar keutamaan ilmu ditentukan dengan karakteristik ilmu itu sendiri, dan keutamaan ini tidak ada yang melebihi dari pengertahuan tentang Alloh, barang siapa mengetahui Alloh, maka dinamakan bijak [hakiim], meskipun ia lemah dalam beberapa ilmu yang lain, tidak fasih berbicara, lambat berfikir …dan lain-lain.[58]

وأما الحكمة من حيث ورودها اما من الله وإما من الإنسان. فأما الحكمة من الله هى معرفة الأشياء وإيجادها على غاية الأحكام، ومن الإنسان معرفة الموجودات على ما هى عليه وفعل الخيرات، وهذا الذى وصف به لقمان الحكيم. وفى هذا المجال قال الغزالى رحمه الله من عرف جميع الأشياء ولم يعرف الله لم يستحق أن يسمى حكيما لأنه لم يعرف أجل الأشياء وأفضلها، والحكمة أجل العلوم وجلالة العلم بقدر جلالة المعلوم ولا أجل من الله، ومن عرف الله فهو حكيم وإن كان ضعيف المنة فى سائر العلوم الرسمية طليل اللسان قاصر البيان فيها...

Menurut satu kajian, hikmah juga terbagi kepada tiga hal; yaitu hikmah qur’an yang tertera dalam kebenaran-kebenaran ajarannya, hikmah iman yaitu pencapaian ma’rifat billah, dan hikmah burhan yaitu mendapati rahasia-rahasia kebenaran dalam perbuatan. [59] Peggolongan seperti ini mungkin dilihat dari sisi tujuan dari hikmah itu sendiri.

Maka ketika hikmah itu terbagi dalam teoritis dan praktis, untuk mencapainya –menurut pendapat Muhammad Abduh- akal sebagai alatnya, karena akal dapat menimbang secara jujur terhadap fenomena yang tampak, sehingga dapat membedakan mana yang benar dan salah , maka ketika cakupan kebenaran muncul dengan jelas, hilanglah keragu-raguan. Jadi makna hikmah yang dikehendakinya adalah pengetahuan yang benar, yang terpatri dalam jiwa, sehingga menguasai kehendak hati untuk bertindak dengan benar, dan jika perbuatan itu keluar dari pengetahuan yang benar, maka itulah amal sholeh yang bermanfaat dan membawa kebahagiaan.[60]

Memperhatikan uraian M. Abduh tersebut, maka hikmah ada dalam obyek perkataan dan perbuatan. Jika manusia dengan akalnya dapat mencapai hikmah, maka artinya hikmah itu dapat diusahakan, dan bukan hanya pemberian dari Alloh saja.

Lebih lanjut Abduh menjelaskan bahwa hikmah itu dalam kategori maqom yang dapat diusahakan hamba, karena sesungguhnya Alloh menjadikan kebaikan yang banyak dialam raya ini beserta hikmahnya, maka hikmah dan kebaikan itu tidak dapat terpisaphkan sebagaimana tidak terpisahkannya antara akibat dan sebab. Maka hikmah itu adalah sangat ditunjang dengan akal yang sehat yang mandiri dalam menetapkan permasalahan keilmuan, dimana akal ini mendasarkan pada dalil [indikasi logis]. Maka ketika akal menghukumi, lalu dimantapkan dalam hati, jadilah pengetahuan yang eksis [bertahan],dan setiap yang bijaksana pasti alim dan sealalu memancarkan kebaikan bagi sekelilingnya.[61]

Pendapat Abduh mengenai hikmah dapat diperoleh dengan usaha hamba karena digolongkan kepada maqoom ini berbeda dengan pandangan sebagian ulamla sufi.Adapun menurut sebagian ulama sufi memandang hikmah sebagai suatu haal/maqool [keadaan permanen] yang diberikan oleh Alloh pada hambanya tanpa melalui usaha. Maka hikmah –menurutnya- pemberian dari Alloh kepada para wali, seperti halnya wahyu hanya diberikan kepada nabi. Juga derajat kenabian tidak dapat diusahakan melainkan pemberian keutamaan dari Alloh yang diberikan kepada hambanya yang dipilihnya. Demikian halnya hikmah tidak bisa diusahakan oleh manusia.[62]

Adapun firman Alloh "ولقد أتينا لقمان الحكمة" menetapkan bahwa hikmah adalah pemberian Alloh tanpa ada usaha dari manusia, karenanya hikmah ini termasuk jenis Aqwaal dan bukan maqoomaat. Maka tegasnya hikmah merupakan keutamaan dari Alloh yang diberikan kepada siapa yang dikehendaki, dan bukan hasil jerih payah fikiran manusia.[63]

2.b .3.Tanda-tandanya

Menurut Syekh Suja’ hikmah pada seseorang dapat diketahui dari indikasi-indikasi berikut: yaitu mendudukkan posisi dirinya secara tepat dihadapan manusia, dan sebaliknya menempatkan orang lain secara tepat pada dirinya, berusaha menasehatinya dengan sekuat tenaganya untuk memperoleh manfaat dimasa yang akan datang.[64]

وهى إنزال النفس من الناس منزلتها وإنزال الناس من النفس منزلتهم ووعظهم على قدرعقولهم فيقوم بنفع حاضر.

2.b .4. “ Hikmah” Luqmanul Hakim

Setelah penjelasan tentang makna hikmah dari berbagai aspeknya, maka penulis berusaha untuk memfokuskan pembahasan pada makna hikmah yang diberikan alloh kepada Luqmanul Hakim. Hikmah apa yang menjadikannya memiliki kelebihan dibandingkan dengan makhluk lainnya. Maka pada bab ini tidak dapat dipisahkan dari firman Alloh berikut ini:

ولقد أتينا لقمان الحكمة أن أشكر لله ومن يشكر فإنما يشكر لنفسه ومن كفر فإن غنى حميد

Bentuk hikmah yang diberikan Alloh kepada Luqman berupa rangkaian pengertian yang ada dalam kata أن اشكر لله , karena kata ini merupakan tafsiriyah terhadap kata hikmah maka pengertian hikmahnya berupa rasa sukur yang tinggi kepada alloh. Sebab bersyukur itulah, maka ia mendapatkan hikmah dari Alloh.[65] Adapun wujud syukurnya itu berupa ungkapan terima kasih kepada Alloh atas nikmat-nikmatnya, dan taat atas segala perintahnya.[66] Syukur juga merupakan kata kunci untuk memperoleh kebahagiaan di dunia dan akherat, karena hamba mempergunakan semua nikmat alloh itu untuk mengabdi kepadanya.[67]

Atas dasar uraian tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa keutamaan hikmah luqman ada pada sikap bersyukur kepada alloh [jika أن dimaknakan dengan tafsiriyah]. Dan dapat dikatakan pula bahwa sikap syukurnya itulah keutamaan hikmah nya. Maka syukur itu menjadi wajib dilakukan setelah mendapatkan hikmah. Jadi makna syukur dalam ayat tersebut adalah berarti “bersyukurlah kepada alloh atas nikmat dan keutamaan hikmah yang diberikan kepadamu, sehingga kamu mengucapkan dengannya.[68]

Sejalan dengan keterangan itu, Ibnu Katsir menegaskan, alloh memerkintahkan kepada Luqman untuk bersyukur kepadanya atas pemberian allloh yang agung, dan hanya khusus diberikan kepadanya dizamannya, bahkan tidak kepada nabi yang lain.[69] Semakna dengan ini bahwa syukur itu diperintahkan kepadanya karena hikmah yang telah dianugerahkan khusus pada dirinya.[70]

Tentang hikmah Luqman ini apakah hanya berupa sikap bersyukur saja, atau mungkin dalam bentuk yang lain, maka Thonthowi Jauhari dalam tafsirnya menjelaskan: tidaklah sikap bersyukut Luqman itu satu-satunya indikasi dia memiliki hikman. Tetapi disana masih banyak hikmah-hikmahnya yang lain, yaitu merupakan uppaya dalam rangka syukur terhadap nikmat hikmah yang diberikan Alloh kepadanya , sebagai realisasi hikmah tersebut, maka ia bersyukur secara lisan dengan menasehati anak.[71] Wasiat-wasiat kata mutiara hikmah Luqman inilah yang nantinya pada tesis ini memjadi pokok pembahasan utama, dan akan dibahas secara khusu pada bab IV.

Mengenai syukur ini memiliki empat aplikasi; yaitu pertama memuji/ mengucapkan syukur atas nikmat tersebut. Kedua tidak mendurhakai nikmat. Ketiga mengakui nikmat pada hakekatnya datang dari alloh. Keempat taat atas perintah.[72]

Maka tegasnya syukurnya hati adalah jika ia mampu mencapai ma’rifag, syukurnya lisan dengan berterima kasih, syukurnya anggota badan dengan taat atas perintah, menyadari atas keterbatasan diri berarti telah ma’rifah terhadap diri sendiri.[73] Hal ini dikuatkan oleh pendapt Al –Maroghi, dimana ia menegaskan bahwa syukur adalah memuji alloh, benar dalam bertindak, cinta kebaikan, mengarahkan semua anggota badan dan menggunakan nikmat untuk kemanfaatan.[74]

Untuk penjelasan tentang hikmah ini secara rinci, maka dapat dilihat pada ringkasan skema pada halaman berikut:

2.c. Faktor-faktornya

Setelah kita mengetahui hikmah apa yang diberikan kepada Luqmanul Hakim, maka pembahasan yang terkait dengan ini adalah bagaimana upaya untuk mencapai hikmah-hikmah tersebut. Sebagaimana diketahui bahwa hikmah itu dapat dicapai oleh seseorang dan bukan hanya datang atau pemberian dari alloh. Pendapat bahwa hikmah ini dapat diusahakan karena termasuk dalam katagori maqom dan bukan termasuk haal, maka upaya pencapaiannya dapat dikondisikan.

Atas dasar ini maka ada beberapa hal yang berkaitan dengan upaya pendorong untuk memperolehnya. Pembahasan selanjutnya akan mencermati dalam faktor pendukung atau faktor penghambatnya.

2.c.1.Faktor pendukung

Diantara faktor pendukungnya menurut Nashir bin Sulaiman adalah sebagai berikut: [75]

1. Lega, ikhlas dan taqwa.

2. Petunjuk dan ilham.

3. Ilmu syari’at.

4. Percobaan dan pengalaman.

5. Musyawarah.

6. Berpandangan jauh dan bercita- cita tinggi.

7. Memahami ketetapan / sunatulloh.

Uraian diatas membantu seseorang untuk memperoleh hikmah, tentunya menuntut kesungguhan dan istiqomah dalam bermujahadah. Tentang hikmah dapat dicapai ini juga dikemukakan oleh Ibnu Qoyyim aljauziyah mengatakan; bahwa hikmah diberikan oleh alloh kepada anak adam dan keturunannya, maka laki-laki yang sempurna adalah manakala ia mewarisi kemampuan ayahnya , dan setengah laki-laki [tidak sempurna] adalah yang mewarisi kemampuan ayahnya namun hanya separo, disinilah ia sama dengan perempuan. Perbedaan ini diberikan oleh alloh kepada hambanya, dan paling sempurnanya makhluk adalah para rusul, dari rosul-rosoul itu yang paling sempurna adalah para ulul a’zmi, yang mulia dari ulul ‘azmi adalah nabi Muhammad. Oleh karena ini maka alloh memberikan hikmah kepada Muhammad dan umatnya.[76]

2.c.2. Faktor penghambat

Adapun faktor-faktor yang menghalangi datangnya hikmah adalah sebagaimana berikut ini:

1. Nafsu dan kelengahan.

Alloh berfirman: dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Alloh [ Qs. Shaad: 26]. Pada ayat lain juga disebutkan: Bahwa sesungguhnya mereka menuruti hawa nafsu mereka. Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Alloh sedikitpun. [QS. Al qashas: 50]. Dan masih banyak lagi ayat-ayat yang lain yang mencela menuruti hawa nafsu, kesemuanya menunjukkan tidak mungkinnya dipersatukannya hikmah dengan hawa nafsu [tidak mungkin ada hikmah jika hawa nafsu masih dituruti].

2. Kebodohan.

Kebodohan adalah lawannya ilmu, dan tidak ada yang akan diperoleh oleh kebodohan dari sesuatu kecualikeburukannya, dan tidak ada yang dapat dibuang oleh kebodohan dari sesuatu kecuali kebaikannya.

3. Hanya berpedoman kepada pemahaman tekstual dari nash-nash dan tidak membandingkan antara dalil-dalil yang ada.

Hal seperti ini misalnya seperti pandangan ulama Dzahiriyah yang hanya berdalih dengan pemahaman tekstual. Karena itu mereka jarang tepat pada sejumlah permasalahan. Tetapi apakah hikmah itu hanya terbatas pada tepatnya ucapan dan perbuatan seperti yang telah lalu? Tidak membandingkan antara dalil-dalil yang lain. Sikap seperti inilah yang kan melahirkan situasi jauh dari hikmah, sementara itu mereka mengira bahwa mereka melakukan sikap yang benar, sehingga memperoleh sesuatu tetapi tidak disadari bahwa ada juga hal yang hilang darinya.

4. Menggunakan dalil bukan pada tempatnya.

Misalnya; sering kita dengar sanggahan orang ketika diminta untuk ber-amar ma’ruf dan nahyi mungkar, seraya ia menjawab: mengapa saya dan mengapa pula orang lain, lalu mengapa saya yang ditugaskan, padahal alloh telah berfirman; jagalah dirimu, tiadalah orang yang yang sesat itu akan memberimu madhorat kepadamu apabila kamu mendapatkan petunjuk. [ QS. Al-Maidah: 105].

5. Tidak memahami dalil.

Hal ini jika dalilnya sudah benar dan penggunaannya sudah benar, akan tetapi pemahamannya yang tidak benar, sehingga dengan pemahaman yang tidak benar itu merupakan bagian dari kebodohan. Sikap seperti ini tentunya bertentangan dengan hikmah.

6. Sedikitnya pengalaman.

Karena itu sering kita dapatkan sebagian dikap para pemuda bertentangan dengan hikmah. Hal itu karena sedikitnya pengalaman mereka disamping keterbatasan dan kelemahannya.

7. Individualisme.

Ini termasuk penghambat hikmah yang nyata, karena itu dalam sebuah hadisnya, rosul bersabda; “ sesungguhnya srigala itu akan mamangsa domba yang terpisah dari kelompoknya”.

8. Tidak menentukan tujuan.

9. Pandangan yang dangkal.

10. Kelambanan berfikir dan kerangka kerja, serta keterbelengguan.

Ketiga hal ini mempunyai pengertian yang berdekatan, walaupun sebenarnya masing-masing mempunyai pengertian tersendiri. Tidak menentukan tujuan [targert] dan tidak menggambarkannya dengandetail akan menyebabkan kelambanan berfikir dan kekakuan kerangka kerja, inilah kerebelengguan. Hal yang seperti sering kali terjadi karena dangkalnya pandangan terhadap permasalahan, hanya memandang pada relaitas peristiwa tanpa melihat sebab-sebabnya, hubungan-hubungannya, dan kaibat-akibatnya, padahal berangkat dari pandangan itu adalah untuk mengambil suatu keputusan. Karena dalam mengambil keputusan tidak memperhatikan hal-hal yang bekaitan dengan peristiwa, maka akibatnya terjauhkan dari hikmah, sebab hikmah adalah menempatkan sesuatu pada tempatnya.

11. Mendahulukan bagian daripada kese-luruhan.

Sikap seperti ini timbul dari kedangkalan ilmu pengetahuan dan keterbatasan pandangan. Banyak kita dapatkan hal ini dizaman sekarang, bahkan pada beberapa negara dunia islam. Musuh-musuh islam telah mengetahahui celah ini, sehingga mereka berusaha mendirikan begian-bagian syi’ar islam sambil berusaha menghancurkan pondsi-pondasi dan rukun-rukunnya.

12. Tergesa-gesa dan tidak tenang.

Tergesa-gesa adalah salah satu watak yang berasal dari setan. Jika seseorang menusaia terkena sifat yang tercela ini, maka hal itu akan menyeretnya kepada kebinasaan. Diantara ciri-cirinya adalah tidak adanya ketenangan pada jiwa disaat-saat membutuhkan ketenangan.

13. Mencampur adukkan paham-paham.

Seseorang yang bijaksana haruslah bertolak dari paham-paham yang benar dan kaidah-kaidah yang tetap dan berdasarkan kepada alqur’an dan assunah. Jika paham-paham dicampur adukkan pada diri seseorang dan akibatnya permasalahan menjadi kabur, maka ia tidak akan sampai pada cita-citanya, bahakan ia akan jatuh dalam perjalanannya.

14. Tidak melaksanakan kaidah kemaslahatan dan tidak menghindari kaedah kerusakan.

Seorang yang bijaksana bukanlah yang mengetahui kebaikan dan keburukan, akan tetapi orang yang paling bijak adalah yang mengetahui kebaikan yang paling baik dan keburukan yang paling buruk.

15. Lalai akan tipu daya musuh-musuh.

16. Keras, kasar, dan serampangan / tidak hati-hati.[77]

Inilah beberapa aspek pendukung dan penghalang datangnya hikmah pada seseorang hamba.

2.d. Kata-kata mutiara hikmah Luqmanul Hakim

Tidak diragukan lagi bahwa Luqman memiliki kata-kata mutiara hikmah sebagai perwujudan dari keistemewaan hikmahnya. Hal ini membuktikan bahwa Luqman adalah profil pendidik yang sukses sehingga membuahkan dokumen sejarah tersendiri yang terealisasikan dalam kata-kata mutiaranya.

Adapun pembahasan lebih lanjut tentang kata mutiara hikmah ini akan dibahas dalam bab V sebagaimana berikut.

PEMBAHASAN MUTIARA HIKMAH

LUQMANUL HAKIM

1. Paparan kata-kata mutiara hikmah

Bab IV ini merupakan obyek inti penelitian. Penulis berusaha mengumpulkan kata-kata mutiara Hikmah Luqmanul hakim yang memiliki nilai pendidikan luhur bagi anak ini dari berbagai kitab tafsir klasik maupun moderen sebagaimana berikut:

1. Al-Thobari, Jami’ul Bayan ‘an Ta’wil ayillquran, Juz 8,Darul Fikr, halaman 44

2. Al-Mawardi, An-Nukat Wal ‘uyun, Juz 4, Darul Kutub Ilmiyah, Libanon, halaman 331

3. At-Thusi, At-Thibyan fitafsirilqu’ran, jilid 3, Daru ihyaituros ‘arobi, halaman 44

4. Az-Zamakhsyari, Al-Kasyaf an Haqoiquttanzil wa uyunil aqawil fi wujuhittawil, juz 3, Darul Fikr, Libanon, halaman 231

5. Al-Baghowi, Maalimuttanzil fi Tafsir,watta’wil, juz, 7 Darul Fikr, Libanon, halaman 409

6. Al-Jauzi, Zadul Masir fi ilmittafsir, juz 6, halaman 161

7. An-Nasafi, Madarikuttanzil Wahaqoiquttawil, juz 3, Darul Fikr, Libanon, halaman 280

8. Ar-Rozi, Mafatihul Ghoib, Juz 7, halaman 71

9. Al-Khozin, Lubabuttawil fi Ma’anittanzil, juz 3, Darul Fikr, Libanon, halaman 440

10. Abi Hayyan, Bahrul Muhid fittafsir, juz 8,halaman 412

11. Al-Baidlowi, Anwaruttanzil Waasrorittawil, juz 2, halaman 228

12. Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir, Juz 3, halaman 444

13. Abi Suud, Irsyadul aqlissalim ila Mazayalkitab Al-Karim, juz4, halaman 376

14. As-Satuthi, A-Durulmantsur fitafsirilmatsur, juz 7, Darul Fikr, Libanon, halaman 512

15. Ismail Hakqi Brusi, Ruhul Bayan, Jilid, 7, Darul Fikir, Libanon, halaman74

16. Al-Alusi, Ruhul Ma’ani fitafsirilquranil adzim wa Sabul Matsani, juz 17, Darul Fikr, Libanon, hal. 83

17. Alqosimi, Mahasinutta’wil, Juz 13, halaman 4795

18. Muhammad Abduh. Tafsir Al-Manar, juz 3 Maktabah Qohiroh, halaman 75

19. Al-Farid, Tafsir Al-farid, juz 3, halaman 473

20. As-Showi, Tafsir Asshowi, juz 3, Darul Ihyailkutub, Libanon, halaman 211

21. Sayyid Quthub, Attafsir Fi Dzilalilquran, juz 18, Daruihyaitturos, halaman 2450

22. Al-Maroghi, Tafsir Al-Maroghi, juz 19, halaman 80

23. As-Shobuni, Shofwatuttafasir, Jilid 2, Darul Fikr, Libanon, halaman 490

24. Al-Fairuzzabadi, Tanwirulmiqbas Min Tafsiri Ibni Abbas, Darul Fikr, Libanon, halaman 255

25. Said Hawa, Al-Asas fittafsir, jilid 8, Darussalam, halaman4331

26. As-Syaukani, Fathulqodir, juz 7, Darul Fikr, Libanon, halaman 237

27. Ibnul Arobi, Ahkamulquran, jilid 3, halaman 1483

28. Thonthowi Jauhari, Al-Jawahir fitafsiril quranil Karim, juz 15, Darul Fikr, Libanon, halaman 124

29. Al-Qoisi, Muskilat Irobilquran, juz 2, halaman 226

30. Alqurthubi, Aljami Al-Ahkam, Juz 13, halaman 61

Dalam pemaparan data kata-kata mutiara hikmah Luqmanul Hakim ini jika ada perowinya penulis menunjukkan di catatan kaki, lalu menerjemahkan kata-kata mutiara tersebut, menganalisa dan akhirnya menyimpulkan materi pesan pendidikannya kedalam tiga katagori; yaitu pendidikan aqidah [iman], syari’ah [islam] atau akhlak [ihsan].


1. Nabi bersabda: sesungguhnya Luqman pernah berkata kepada anaknya, wahai anakku, setialah pada ulama’ dan dengarlah fatwa para ahli hikmah, sebab Alloh menghidupkan hati dengan hikmah, seperti menghidupkan tanah yang tandus dengan siraman air hujan
2. Luqman meletakkan biji sawi pada sebuah kantong yang ditaruh dilambungnya, lalu dengannya ia menasehati anaknya kemudian luqman berkata, wahai anakku: aku sungguh telah menasehatimu dengan sebuah nasehat yang seandainya saya berikan kepada gunung niscaya akan hancur, lalu mendengar ucapan tersebut anaknya langsung tidak sadarkan diri.
3. Nabi bersabda: sesungguhnya Luqman pernah berkata kepada anaknya seraya menasehatinya,wahai anakku, jauhilah sikap berharap yang berlebihan [tanpa diimbangi bekerja], karena sifat itu membawa kesengsaraan diwaktu malam dan siang.
4. Luqman berkata kepada anaknya, wahai anakku, berharaplah kepada Alloh dengan harapan yang membuat kamu takut berbuat maksiat dan takutlah kepada Alloh dengan takut dimana kamu tidak putus asa terhadap rahmat-Nya.
5. Luqman berkata kepada anaknya, wahai anakku, biasakanlah mulutmu mengucapkan Allohummaghfir- li, sebab Alloh mempunyai waktu –waktu yang do’a seseorang tidak ditolak dalam waktu tersebut.
6. Wahai anakku datangilah upacara kematian dan jangan mendatangi pesta pengantin, karena jenazah mengingatkan akan akherat, sedangkan pengantin membiusmu untuk menyenangi dunia
7. Wahai anakku, janganlah yang manis langsung kamu telan, dan janganlah yang pahit langsung kamu muntahkan.
8. Datang kepadaku sebuah khabar, bahwasanya Luqma berkata kepada anaknya: saya pernah membawa batu dan besi yang berat, bahkan sesuatu yang lebih berat dari itu semua, namun saya belum pernah merasakan yang lebih berat daripada memiliki tetangga yang jelek budi pekertinya. Wahai anakku, saya telah rasakan semua makanan yang paihit dan tidak ada yang melebihi daripada fakir.
9. Luqman berkata kepada anaknya: wahai anakku, sesungguhnya amal itu tidak bermakna tanpa dilandasi dengan keyakinan, dan barang siapa lemah keyakinannya, maka lemah pula amalnya. Wahai anakku, jika syetan datang padamu dengan membawa keraguan, maka kalahkanlah dengan keyakinan dan nasehat, dan jika datang membawa kemalasan dan putus asa, maka kalahkanlah dengan ingat kubur dan hari kiamat, dan jika datang dengan membiusmu untuk mencintai dunia, maka kalahkanlah dengan satu keyakinan bahwa dunia ini akan ditinggalkan.
10. Luqman berkata kepada anaknya: wahai anakku jadikanlah takwa sebagai harta perdanganmu, niscaya kamu akan beruntung dalam daganganmu tanpa modal.
11. Luqman berkata kepada anaknya, wahai anakku, sesungguhnya manusia dubagi tiga, sepertiga untuk Alloh, sepertiga untuk dirinya sendiri, dan sepertiga untuk ulat. Adapun yang untuk Alloh adalah ruhnya, untuk manusia adalah amalanya, dan untuk ulat adalah jasadnya.
12. Sesungguhnya ketika Lukman menaseharti anakknya, ia berkata: sesungguhnya jika ada sebuah amal hanya sebesar biji sawipun….lalu Luqman mengambil sebutir biji sawi dan membawanya kenegeri yarmuk lalu membuangnya, kemudian selang beberapa waktu ia ingat akan perbuatannya tersebut, lalu ia membentangkan tangannya dan ketika itu pula datangalah seekorlalat hinggap di tangannya dengan membawa biji sawi tersebut.
13. Datang kepadaku sebuah kabar, bahwa Lukman berkata kepada anakknya: kesehatan itu tidak seperti kekayaan, dan kenikmatan itu tidak seperti ketenangan.
14. Luqman berkata kepada anaknya, barang siapa berkata dusta maka ia kehilangan muka dan barang siapa yang jelek budi pekertinya maka banyak susahnya. Mengangkat batu besar dari tempatnya itu lebih mudah daripada mengajar orang yang tidak mau diberi pengertian.
15. Sesungguhnya Luqman berkata kepada anaknya: wahai anakku aku pernah membawa kayu dan besi yang berat dan barang apapun yang paling berat, namun tidak melebihi beratnya memiliki tetangga yang jahat, saya juga pernah merasakan semua kepahitan, namun tidak ada yang melebihi fakir. Wahai anakku jika kamu tidak menemukan pesuruh yang bijak, maka janganlah kamu mengutus seseorang yang bodoh, bahkan lebih baik kamu berangkat sendiri mengutus dirimu.
16. Sesungguhnya Luqman pernah berkata kepada anaknya, wahai anakku janganlah ayam itu menjadi lebih arif daripadamu, ia bangun berkokok diwaktu sahur, sedangkan engkau masih tidur mendengkur.
17. Luqman pernah berkata kepada anaknya, wahai anakku janganlah kamu menunda-nunda taubat, sebab mati itu datangnya mendadak.
18. Luqman berkata kepada anaknya, wahai anakku janganlah kamu menyenangi orang bodoh, sebab ia berpendapat bahwa engkau senang terhadap perbuatannya, dan janganlah engkau meremehkan peringatan orang bijak, sebab ia dapat membencimu.
19. Luqman berkata kepada anaknya, wahai anakku, bertaqwalah kepada Alloh dan janganlah memamerkan diri [riya’] dihadapan orang lain bahwa engkau takut kepada Alloh agar mereka memulyakan engkau, padahal hatimu jahat.
20. Luqman berkata kepada anaknya, wahai anakku, tidaklah engkau akan menyesal selama engkau diam, sebab perkataan itu bagaikan perak, sedangkan diam itu bagaikan emas.
21. Luqman berkata kepada anaknya, wahai anakku, hindarilah keburukan sebagaimana keburukan itu menghindari engkau, sebab keburukan itu bagi orang lain dapat beranak pinak.
22. Tertulis dalam hikmah Luqman, wahai anakku jauhilah olehmu sifat benci, karena kebencian itu akan menjauhkan kedekatan seseorang kepadamu dan menghilangkan sikap bijaksana bagaikan kekeringan. Wahai anakku, jauhilah olehmu sifat pemarah, karena akan menjadikanmu bodoh dan kehilangan sikap bijak.
23. Luqman berkata kepada anaknya, wahai anakku, pilihlah pertemuan-pertemuan yang baik, apabila kamu melihat mereka yang berada dalam pertemuan itu menyebut asama Alloh, maka duduklah engkau bersamanya, sebab jika kamu seorang yang berilmu, maka ilmumu itu bermanfaat kepadamu, dan jika kamu seorang yang bodoh niscaya mereka mengajarmu serta apabila Alloh menganugerahkan rahmat kepada Alloh menganugerahkan rahmat kepada mereka niscaya engkau akan mendapatkan bersama mereka.
24. Sesungguhnya Luqman berkata kepada anaknya; wahai anakku, dunia ini ibarat sebuah lautan yang dalam, telah banyak orang yang hanyut kedalamnya, maka jadikanlah iman sebagai kapalmu didunia ini, taqwa sebagai isinya, dan tawakkal sebagai layarnya. Mudah-mudahan dengan demikian engkau selamat dan saya khawatir engakau tidak selamat.
25. Luqman berkata kepada anaknya, wahai anakku, jadilah engkau seperti orang yang tidak mengharap-harap bantuan orang lain meskipun kamu membutuhkannya, wahai anakku, janganlah kamu mencari pujian orang dan mencari-cari cercaan mereka, dengan demikian kamu akan merasa tentram.
26. saya baca dalam hikmah: barang siapa memiliki penasehat dari dirinya sendiri maka ia mempunyai penjaga dari Alloh , dan barang siapa yang berlaku adil terhadap orang lain yang menyangkut dirinya sendiri maka Alloh menambah kemuliaannya karena keadilannya itu. Merendahkan diri dalam rangka taat kekpada Alloh itu lebih hak daripada berbanga-bangga dengan kemaksiatan.
27. Luqman berkata kepada anaknya, wahai anakku, sesungguhnya hikmah itu mendudukkan orang –orang miskin ditempat para raja.
28. Luqman berkata kepada anaknya, wahai anakku, bergaulah dengan para orang sholeh sehingga kamu akan mendapat barokah dan rohmat bersamanya, wahai anakku, janganlah kamu bergaul dengan orang yang jahat, karena dikhawatirkan kamu akan tertimpa bencana bersama dengan mereka.
29. Luqman berkata kepada anaknya, wahai anakku, jika kamu menghendaki untuk duduk bersama dengan kaum, maka berkanlah salam sebelumnua, dan jika mereka ternyata dalam majlis tersbut disebut nama Alloh, maka duduklah bersamanya, dan jika tidakm maka tinggalkanlah majlis tersebut.
30. Luqman berkata kepada anaknya, wahai anakku, janganlah engkau belajar apa yang engkau belum ketahui, sebelum engkau mengamalkan apa yang engkau ketahui.
31. Apabila engkau bermaksud menjadikan seseorang menjadi saudara, maka buatlah ia marah. Apabila ia berlaku adil kepadamu ketika ia marah, maka jadikanlah ia saudara, dan apabila tidak demikian maka jauhilah.
32. Telah datang kepadaku bahwasannya Luqman berkata kepada anaknya, wahai anakku sesungguhnya sejak emgkau dilahirkan didunia berarti engkau telah membelakanginya dan engkau telah menghadapi akherat, sebab ditempat yang engkau tuju dalam perjalananmu itu lebih dekat daripada tempat yang engkau tinggalkan.
33. Luqman berkata kepada anaknya, wahai anakku, jauhilah olehmu hutang, karena akan menyengsarakanmu disiang dan malam hari.
34. Luqman berkata kepada anaknya, wahai anakku, berharaplah kamu kepada Alloh dengan pengharapan yang benar, sehingga kamu tidak berani untuk berbuat maksiyat kekpadanya, dan takutlah kamu kepada Alloh dengan takut yang sesungguhnya sehingga tidak membuatmu putus asa.
35. Bertemulah seseorang dengan Luqman dihadapan orang banyak, lalu orang tersebut berkata kepadanya: wahai luqman, bukankah kamu adalah hamba fulan? Ia menjawab, betul. Bukabkah kamu penggembala kambing di bukit ini? Tanyanya lagi. Betul, jawabnya. Lalu orang tersebut bertanya: apa yang menyebabkanmu memiliki derajat luhur seperti hang saya lihat sekarang ini? Ia menjawab: yaitu Takwa kepada Alloh, jujur, dapat dipercaya dan tidak berbicara kecualai yang bermanfaat.
36. Sesungguhnya Luqman berkata, jika Alloh menitipkan sesuatu, maka Ia akan menjaganya sendiri.
37. Diberitakan orang bahwa Luqman bergaul dengan nabi Daud as selama satu tahun, pada saat itu Daud membuat pakaian perang dan Luqman tiak tahu apa yang ia lakukan dan juga tidak mau menanyakannya. Setelah sampai satu tahun Daud memakai pakaian perang itu dan berkata :” baju perang yang kokoh untuk masa peperangan dan sebaiknya kamu memiliki alat peperangan”. Lalu Luqman menjawab:” Diam itu hikmah, tetapi sedikit orang yang melakukannya, saya sebenarnya ingin bertanya kepadamu, tetapi kamu telah menjawabnya sendiri”.
38. Ditanyakan kepada Luqman, apa pesan hikamahmu? Ia berkata, aku tidak bertanya sesuatu yang sudah jelas, dan tidak berbuat kecuali yang bermanfaat padaku.
39. Kholid Arrubai’I berkata " luqman itu adalah seorang hamba sahaya dari negeri habsyi yang pekerjaannya sebagai tukang kayu, lalu tuannya menyerahkan kepadanya seekor kambing dan berkata, " sembelihlah kambing ini dan berikanlah untukku dua potong daging yang paling baik! Lalu Luqman memberikan kepada tuannya itu daging lidah dan daging hati. Kemudian tuannya itu menyerahkan lagi seekor kambing lain dan menyuruh memnyembelihnya dan memberikan kepadanya dua potong daging yang paling buruk. Lalu Luqman memberikan kepadanya daging lidah dan daging hati. Lalu tuannya bertanya kepadanya tentang rahasia lidah dan hati itu, seraya dijawab, " tidak ada sesuatu yang lebih baik daripada keduanya apabila keduanya baik dan tidak ada yang lebih buruk melebihi keduanya apabila keduanya buruk.
40. Sesungguhnya Luqman berkata, janganlah kamu menikahi wanita budak yang bukan milikmu, agar keturunanmu tidak mewarisi kesusahan yang berkepanjangan.
41. Sahabat Urwah bin Zubair berkata: Tertulis dalam sebuah kitab –hikmah Luqman- berbunyi: wahai anakku jadikanlah ucapanmu itu ucapan yang baik dan jadikanlah wajahmu itu wajah yang cerah, niscaya engkau lebih dicintai orang daripada engkau memberinya dengan sebuah pemberian. Sahabat Urwah bin Zubair berkata: tertulis dalam kitab taurat; sebagaimana kamu menyayangi kamuakan disayangi. Sahabat Urwah bin Zubair berkata:sebagaimana kamu menanam, kamu akan menuai. Dan katanya lagi; cintailah saudaramu dan saudara orang tuamu.
42. Ditanyakan kepada Luqman, mana manusia yang paling sabar? Ia berkata, yaitu sabar yang tidak disertai dengan penganiayaan. Ditanyakan kepada Luqman pula, mana manusia yang paling pandai? Yaitu orang yang mau belajar kekurangannya dari orang lain, jawabnya. Ditanyakan kepada Luqman pula, mana manusia yang paling baik? Yaitu orang kaya, jawabnya. Ditanyakan lagi, orang kaya harta? Ia menjawab ,bukan, tetapi orang kaya yang dimaksud adalah orang yang dapat berpijak pada kebenaran dan menegakkannya, dan jika tidak mampu melakukan hal ini, maka ia tidak meminta-minta kepada orang lain.
43. Saya dapati sebagian hikmah, bahwa Alloh tidak suka terhadap orang yang membicarakan kejelekan orang lain. Dan saya dapati pula hikmah: tidak patut bagimu untuk mempelajari sesuatu yang tidak kamu lakukan, perumpamaannya seperti orang yang mencari kayu bakar yang tidak mampu membawanya, namun ia malah berusaha menambahnya.
44. Luqman pernah berkata: saya membatasi bergurau, saya tidak berkata yang tidak berguna, saya tidak tertawa tanpa sebab, dan tidak berjalan tanpa tujuan.
45. Saya baca pada sebuah hikmah: barang siapa yang mampu menasehati dirinya sendiri, maka Alloh akan menjaganya, dan barang siapa berlaku adil terhadap orang lain, maka Alloh akan menambahkan kemulyaan padanya, dan menjadi hina akibat mempertahankan ketaatan itu lebih mulia daripada berbangga-bengga dengan kemaksiatan.
46. Luqman berkata, diam itu sebagian daripada hikmah dan sedikit orang yang melakukannya, sedangkan Thowus [yakni Aba Najih] berkata:barang siapa mengaku bertaqwa itu lebih baik daripada diam dan juga bertaqwa.
47. Datang kepadaku kabar bahwa Luqman berkata kepada anakknya ,” tiga orang hendaknya engkau jadikan teman, 1] orang yang dapat mengendalikan diri ketika marah, 2] orang yang berani ketika berperang, 3] dan saudara yang dibutuhkan bantuannya.
48. Luqman berkata kepada anaknya, jangan sampai makan makananmu kecuali orang-orang yang bertaqwa , dan bermusayawarahlah kamu dalam segala urusan dengan para ahli ilmu.
49. Luqman berkata kepada anaknya, wahai anakku, akan tiba suatu masa menimpa umat manusia yang tidak membuat tenang hati orang yang bijaksana.
50. Luqman pernah berkata: saya mengabdi pada empat ribu nabi dan saya pilih delapan pelajaran darinya, yaitu 1] apabila kamu sedang melakukan sholat, peliharalah hatimu, 2] apabila kamu sedang berada ditengah-tengah pesta makan, maka peliharalah orang-orang yang ada disekitarmu, 3] apabila kamu sedang berada dalam rumah orang lain, maka peliharalah matamu, 4] jika kamu berada ditengah orang banyak, maka peliharalah mulutmu, 5] ingatlah dua hal dan lupakan dua hal. Yang harus kamu ingat adalah 1] Alloh 2] mati, dan yang harus kamu lupakan adalah 1] kebaikanmu kepada orang lain, dan 2] kejelekan orang lain kepadamu.
51. Luqman berkata kepada anaknya, wahai anakku, sesungguhnya manusia telah panjang angan-angannya, padahal mereka bergerak menuju akherat dengan cepat, kamu setelah lahir didunia sebenarnya telah mulai membelakanginya dan akan berjalan menuju akheraat, dan alam yang kamu tuju itu lebih dekat darimu daripada alam yang kamu sekarang sedang berada.
52. Luqman berkata kepada anakknya: wahai anakku temanilah ulama dan setialah padanya, jika mereka mendapat rahmat semoga kamu merasakannya, ia juga berkata: janganlah kamu bergaul dengan orang jahat, dan jangan berjalan dengan mereka, karena jika mereka mendapat siksa dari langit dikawatirkan kamu akan tertimpa bersamanya.
53. Wahai anakku, bergaul dan taatlah kepada ulama’ dan jangan membantahnya. Ambillah dunia menurut kebutuhanmu dan jangan kamu menolak dunia dengan sepenuhnya, sebab akan menjadikanmu menjadi beban dan tanggungan orang lain, dan jangan pula kamu terlalu masuk dengan urusan duniawi yang hanya akan membahayakan akheratmu. Berpuasalah dengan puasa yang dapat mencegah syahwat dan janganlah berpuasa dengan puasa itu mencegahmu dari sholat, sebab sholat itu lebih utama disisi Alloh dari pada puasa.
54. Wahai anakku jika kamu membiasakan bertatakrama sejak kecil, maka kamu akan mendapatkan manfaatnya diwaktu dewasa. Dan barang siapa memperhatikan adap sejak kecil, maka akan tumbuh dengan akhlak tersebut, dan ia akan mencari pengetahuan tentangnya, dan barang siapa ingin mengetahuinya, maka ia akan giat mencarinya, dengn demikian ia akan mendapatkan manfaatnya, maka jadikanlah akhlak itu sebagai kebiasaanmu, karena kamu akan menjadikan pengganti generasi tuamu dan kamu akan dianut oleh generasi berikutnya, kamu menjadi tumpuannya, dan akan ditakuti oleh rahib [pastur]. Jauhilah olehmu sifat malas, jika kamu terbius oleh dunia, maka jangan sampai mengalahkan akherat, dan jika kamu terlambat menggapai sebuah pengetahuan, maka kamu akan merugi diakherat, maka jadikanlah hari, malam dan setiap saatmu untuk mencari ilmu, karena kamu tidak akan mendapatkan bagian berharga melebihi bagian ilmu, oleh sebab itu janganlah kamu melawan seorang fakih, jangan memberontak penguasa, dan jangan menebar kedoliman, jangan mengambil teman orang yang fasik, jangan menemani orang yang berburuk sangka, dan simpanlah ilmumu seperti kamu menyimpan uangmu.
55. Luqman berkata kepada anaknya, takutlah kamu kepada Alloh dengan sebenarnya, sehingga jika kamu mendatangi kiamat dengan membawa dua gunung kebaikan niscaya kamu akan meminta ampun lagi kepada Alloh.
56. Anaknya bertanya wahai bapakku, bagaimana saya dapat melakukan hal itu [takut dan berharap pada waktu yang bersamaan], maka luqman menjawab: wahai anakku, ketahuilah,sesungguhnya jika hati orang mukmin dikeluarkan, niscaya terdapat dua cahaya, satu cahaya ketakutan dan satu lagi pengharapan, dan jika keduanya ditimbang niscaya ada yang lebih unggul salah satunya walaupun hanya selisih sebiji sawi, maka barang siapa iman kepada alloh, ia membenarkan firman-Nya, jika ia membenarkannya, lalu ia menjalankan perintahnya. Barang siapa tidak mau menjalankan perintah-Nya, maka pastilah ia tidak membenarkan firman-Nya, maka ketahuilah bahwa iman dan amal ini saling berkaitan. Barang siapa iman kepada alloh dengan benar, maka ia beramal juga dengan ikhlas, maka hanya orang yang beramal dengan ikhlas inilah orang yang imannya sejati, barang siapa taat kepada alloh, maka ia takut kepadanya dimanapun berada, barang siapa takut seperti ini, niscaya alloh mencintainya. Barang siapa disukainya maka ia menuti perintah-Nya. Barang siapa taat pada-Nya maka ia berhak memasuki sorgan atas seizin-Nya. Barang siapa yang tidak mendapatkan restu izin-Nya, maka ia berarti dibenci-Nya, semoga kita dijauhkan dari amarah dan benci Alloh.
57. Luqman berkata kepada anaknya, janganlah kemau condong kepada dunia sehingga hatimu terperdaya olehnya, karena Alloh tidak menciptakan makhluk yang lebih hina daripada dunia, dan Alloh tidak menjadikan kenikmatan dunia itu sebagai pahala bagi orang yang taat, dan tidak menjadikan bala’ [malapetaka] di dunia itu sebagai siksaan bagi orang yang durhaka.
58. Diantara nasehat yang diberikan Luqman kepada anaknya adalah, waha anakku: jikalau kamu ragu dari kematian maka bangunlah kamu dari tidur dan kamu tidak akan dapat melakukannya. Dan jika kamu ragu terhadap hari dibangkitkan dari kubur, maka angkatlah dirimu dari terjaga dan kamu tidak akan dapat melakukannya, maka jika kamu berfikir tentang kejadian ini maka senenarnya kekuatanmu itu ada ditangan kekuasaan tuhan, tidur merupakan latihan mati dan bangun dari tidur bagaikan bangkit dari kubur setelah mati [ba’ats].

59. Luqman berkata kepada anaknya: wahi ankku, janganlah kamu terlalu mendekat pada seseorang, sehingga ia malah menjauh darimu, dan jangan terlalu menjauh, karena kamu akan ditinggalkannya, setiap makhluk menghendaki kedekatan sesamanya, janganlah kemu melepaskan tembakan senjatamu, jika kamu tidak membutuhkannya, sesungguhnya seperti halnya tidak ada persaudaraan antara kambing dan harimau, demikian halnya tidak ada persaudaraan antara orang baik dan orang jahat, barang siapa mendekati minyak aspal, maka ia akan berbau minyak.
Barang siapa bergaul dengan orang jahar, maka ia akan terpengaruh prilakunya. Barang siapa mencintai seseorang maka ia tidak mencacinya. Barang siapa jatuh pada kejahatan maka menjadi perhatian banyak orang. Barang siapa bergaul denga orang jahat tidak akan selamat. Barang siapa tidak dapat mengendalikan lisannya, maka ia akan menyesal.
60. wahai anakku: ambilah seratus sahabat dan jangan mencari musuh walau hanya satu, wahai anakku:sesungguhnya temanmu itu adalah sesama makhluk tuhan , dan tema pergaulanmu itu menunjukkan kwalitas agamamu, maka janganlah kamu membencinya dan pelajarilah tata pergaulan yang baik.
61. wahai anakku: jadilah kamu seorang hamba yang baik , dan jangan menjadi anak yang jahat. wahai anakku: tuanaikan amanat, nicaya kamu akan selamat didunia dan akherat, dan jadilah orang yang amanah karena sesungguhnya Alloh tidak menyukai orang yang berkhiyanat, wahai anakku: janganlah kamu merasa riya’ dihadapan manusia dengan mengaku takut terhadap Alloh, sedangkan hatimu jahat.
62. Diantara wasiyat Luqman hakim kepada anaknya, wahai anakku: sesungguhnya manusia itu telah menghimpun pendapatmu untuk anak-anaknya, sesungguhnya kamu hanya seorang hamba yang disewakan, kamu diperintah untuk bekerja, dan akan diberi upah, maka lakukan pekerjaanmu, dan kamu akan berhak mendapatkan upah, dan didunia ini kamu jangan sampai seperti kambing yang digembala pada padang rumput yang hijau lalu memakannya sehingga gemuk, maka nilainya ketika ia gemuk, tetapi jadikanlah dunia bagaikan jembatan diatas sungai yang kamu lalui kemudian kamu tinggalkan selamanya, maka jangan kamu membangun jembatan itu karena kamu tidak diperintah untuknya. Dan ketahuilah sesungguhnya kamu akan ditanya besok dihadapan tuhan tentang empat hal: masa mudamu untuk apa kamu gunakan, umurmu untuk apa kamu habiskan, hartamu darimana kamu perolehnya dan untuk apa kamu belanjakan, maka ingatlah akan hal ini dan persiapkanlah jawabannya, dan janganlah putus asa atas sesuatu dunia yang kamu terlepas menggapainya, karena dunia yang sedikit ini tidak dapat membuat orang kekal ,dan banyaknya dunia tidak menjamin datangnya bencana, maka ingatlah! Dan bersungguh sungguhlah dalam beramal, jadikan wajahmu ceria, berambisilah untuk mengetahui tuhanmu, perbaharuilah taubatmu dengan sepenuh hati, bersiplah untuk perpisahan abadi sebelum tiba, maka turutilah kebutuhanmu sekedarnya sebelum mati tiba.
63. Luqman berkata pada anaknya: wahai anakku, jauhilah olehmu sifat bosan dan perbuatan jelek, karena tidak akan membuatmu tenang. Berkeyakinanlah dalam setiap perbuatanmu. Bersabarlah atas hutang saudaramu, bergaulah dengan baik kepada siapa saja. Wahai anakku, sesungguhnya keberadaanmu akhlakm dan keceriaanmu sangat berarti bagi saudaramu, karena orang yang baik akhlaknya disuka banyak orang, berqona’ahlah [terimalah] atas pembagian rizki dari alloh seraya hidupmu tentram. Jika kamu ingin menperbanyak dunia, maka putuslah rasa rakusmu [toma’] terhadap dunia yang berada ditangan orang lain, karena sesungguhnya nabi dan para orang jujur memperoleh derajat yang agung [disisi Alloh] sebab mereka dapat memutus sifar toma’ terhadap milik orang lain.
64. Wahai anakku; hendaknya perkataanmu manis, dan mukamu cerah sehingga dengan demmikian kamu akan disukai manusia daripada kamu memberinya dengan pemberian, wahai anakku jadilah kamu orang yang tidak butuh pujian orang lain, dan janganlah kamu mencari hinaan mereka, karenanya manusia dalam bahagia. Wahai anakku tahanlah perkatataan yang keluar dari mulutmu, karena kamu selama diam akan selamat, maka berkatalah yang bermanfaat saja.
65. Luqman berkata: hikmah itu menjadikan orang yang mulia bertambah mulia dan menjadikan hamba pada posisi raja.
66. Luqman berkata kepada anaknya, wahai anakku, hikmah itu tercapai manakala kamu melakukan sepuluh hal, yaitu jika kamu menghidupkan hati yang mati, menolong orang miskin, menghormati penguasa, memulyakan orang yang tawadlu’, membebaskan hamba, menunjuki orang yang tersesat, menolong orang fakir, dan menghormati orang yang mulia.
67. Luqma berkata kepada anaknya: wahai anakku, janganlah kamu melakukan satu pekerjaan yang kamu suka maupun tidak kecuali kamu berkeyakinan akan manfaatnya, lalu anaknya bertanya; kalau saya tidak dapat melakukannya karena tidak saya pahami perkataanmu? Maka ayahnya menjawab: wahai anakku, sesungguhnya alloh telah mengutus nabi, maka datangilah dan benarkan ajarannya, lalu ia menjawab; mari pergi wahai bapak. Lalu keduanya keluar dengan membawa keledai, dan anaknya menaikinya. Dengan bekal yang cukup akhirnya mereka berangkat dengan perjalanan beberapa hari dan malam, sehingga mereka mendapatkan tempat beristirahat kemudian memasukinya. Selanjutnya mereka mengadakan perjalanan lagi ditengah teriknya siang dan dinginnya malam. Lalu mereka kehabisan air dan perbekalannya yang lain sehingga khimarnyapun menjadi lemah dalam berjalan. Lalu tiba-tiba dihadapannya ada fatamorgana hitam dan kabut. Lalu Luqman begumam: fatamorgana itu semoga pepohonan dan kabut itu adalah bangunan dan manusia….

2.a. Analisa data

Sesuai dengan rumusan masalah, pada tesis ini ingin menjawab permasalahan pokok berupa Bagaimana cakupan materi pesan-pesan pendidikan anak yang dilakukan oleh Luqmanul hakim? Disampimg itu secara tidak langsung juga ingin menjawab pertanyaan metode pendidikan apa yang digunakan oleh Luqmanul Hakim kepada anaknya dan bagaimana sifat guru yang baik.

Maka untuk menjawab ketiga pertanyaan diatas, penulis mendasarkan pada fakta atau data yang berhasil dikumpulkan seperti pada pembahasan pemaparan data [pada bab III dan IV], didukung denga kajian teoritis pada bab II.

Dari kajian penulis tentang maqolah tarbawiyah Luqmanul Hakim, maka yang berhasil dikumpulkan dari berbagai kitab tafsir adalah sejumlah 67 buah, dimana maqolah-maqolah itu diucapkakn pada kesempatan yang berbeda-beda. Kemudian penulis berusaha menterjemahkannya, dan pada akhirnya menyimpulkan isi pesan pendidikannya kedalam tiga kelompok yang mencakup isi/pesan pendidikan aqidah, syariah dan akhlak.

2.a.Cakupan isi/pesan pendidikan

Seperti telah diuraikan diatas, cakupan isi/ pesan pendidikan yang dapat disimpulkan dari maqolah tarbawiyah Luqmanul Hakim terhadap anaknya meliputi tiga obyek pokok, yaitu pendidikan Aqidah, pendidikan syari’ah dan pendidikan Akhlak. Maka Untuk pembahasan lebih lanjut dapat dilihat pada tabel beserta penjelasannya seperti berikut:

TABEL I:JUMLAH MAQOLAH DAN CAKUPAN ISI PESAN PENDIDIKANNYA

SAMPEL

MAQOLAH

ISI / PESAN PENDIDIKAN

KETERANGAN

67 buah

Aqidah

Syari’ah

Akhlak

*Sampel maqo-

lah dikumpul- kan dari+ 20

kitab tafsir

(a)

(a)






Penjelasan Tabel I.

(a) SAMPEL MAQOLAH.

Sampel maqolah meliputi semua perkataan Luqmanul Hakim yang berhasil ditemukan penulis dalam berbagai literatur kitab tafsir. Penomeran maqolah didasarkan pada awal perkataan yang dimulai dengan kata-kata يابنى dan memuat satu isi pesan pendidikan secara sepurna, atau terkadang merupakan kalimat berita langsung diucapkan oleh Luqman tanpa menkhitobi [menasehati] anaknya, dan bisajadi hanya seperti cerita biasa. Panjang pendek maqolah ini sangat berfariasi, dimana yang terpendek ada yang hanya terdiri dari lima kata saja [berisi nasehat], dan ada pula yang sangat panjang, [berupa cerita].

(b) ISI / PESAN PENDIDIKAN.

Isi pesan pendidikan ini penulis kelompokkan menjadi tiga aspek, yaitu pendidikan Aqidah, syari’ah dan akhlak. Pengelompokan ini didasarkan atas esensi ajaran agama islam yang secara global terbagi dalam iman [aqidah], islam [syariah] dan ihsan [akhlak].

TABEL II: ISI PESAN PENDIDIKAN DAN JUMLAH MAQOLAHNYA

ISI / PESAN PENDIDIKAN

JUMLAH MAQOLAH

KETERANGAN

AQIDAH

19 Maqolah

SYARI’AH

2 Maqolah

AKHLAK

46 Maqolah

Jumlah

67 Maqolah

(a)

(a)

Penjelasan Tabel II.

(a) ISI / PESAN PENDIDIKAN.

Menurut analisa penulis, jumlah maqolah yang berisi pendidikan aqidah sejumlah 19 buah, pendidikan syari’ah 2 buah, dan pendidikan akhlak 46 buah.

(b) Dari jumlah total 67 maqolah ini, maka secara prioritas pendidikan akhlak menduduki tingkat pertama, pendidikan akidah peringakt kedua dan pendidikan syari’ah pada peringkat ketiga. Hal ini bisa dipahami bahwa kesolehan sosial adalalah tujuan tertinggi dalam setiap pendidikan islam yang dibangun atas dasar aqidah dan ibadah yang kokoh.

TABEL III:ISI PESAN PENDIDIKAN DALAM JUMLAH PROSENTASE

ISI / PESAN PENDIDIKAN

JUMLAH DALAM PROSEN

KET.

responden

Sampel*

Prosen

AQIDAH

19

67

28 %

SYARI’AH

2

67

3 %

AKHLAK

46

67

69 %

(a)

(a)

Penjelasan Tabel III.

(a) Isi/pesan pendidikan aqidah, syari’ah dan akhlak dilihat dari jumlah maqolah yang dihasilkan dari semua sampel maqolah, kemudian diprosentase.

(b) Maqolah yang berkatagori Pendidikan akidah sebanyak 19 dari jumlah total 67. Hal ini berarti jika dilihat secara prosentase =Jumlah seluruh responden x 100 :sampel [19x67:100=28%]. Prosentase Maqolah katagori pendidikan syari’ah= 2x100:67= 3%, dan katagori pendidikan akhlak =67:46X100=69%. Atas dasar prosentase ini, maka dapatlah dikatakan bahwa secara skala prioritas pendidikan akidah menempati urutan pertama [69% dari seluruh maqolah].urutan kedua pendidikan aqidah dengan prosentase 28% dari total maqolah 67. Pendidikan ibadah pada urutan ketiga dengan prosentase 3%.

TABEL IV:ISI PESAN PENDIDIKAN DAN NOMOR MAQOLAH

ISI / PESAN PENDIDIKAN

NOMOR MAQOLAH

KET.

AQIDAH

4,9,10,11,12,13,17,19,24,26,32,34,36,45,51,55,56,67

* Maqolah ini secara urut dapat dilihat pa-

da bab IV: paparan

Kata-kata mu tiara hikmah

Luqmanul Hakim

SYARI’AH

5, 53

AKHLAK

1,2,3,6,7,8,14,15,16,18,20,21,22,23,25,27,28,29,30,31,33,35,37,38,39,40,41,42,43,44,46,47,48,49,50,52,53,54,57,58,59,60,61,62,63,64,65,66,

(a)

(a)

Penjelasan Tabel IV.

(a) Tiga obyek Isi/ pesan maqolah yang bernilai pendidikan anak dengan masing-masing data/ nomor maqolahnya.

(b) Maqolah-maqolah ini secara urut dapat dilihat pada bab IV: paparan kata mutiara hikmah Luqmanul Hakim.

2.b.Metode pendidikan Luqmanul Hakim

Yang dimaksud dengan metode pendidikan Luqmanul Hakim adalah cara penyampaian pesan/ isi/ materi pendidikan kepada anaknya melalui maqolah tarbawiyah [kata-kata mutiara hikmahnya]. Hal ini dibedakan dengan metode pendidikan terhadap anaknya melalui alqur’an, dimana ia menggunaan metode “Mauidhoh”.

Metode pendidikan dalam alqur’an dengan cara mauidloh tersebut memiliki kesamaan dengan metode pendidikannya dalam maqolah tarbawiyahnya, yaitu menggunakan kata uslub “يابنى “. Kata يابنى didalam alqur’an hanya terdapat pada QS. Luqman Juz 21 terletak pada tiga ayat, yaitu ayat 13 “يابنىلاتشرك بالله…ayat 16 يابنى انها ان تك مثقال حبة…dan ayat 17 “يابنى اقم الصلوة… “.

Hanya saja Metode pendidikannya dalam maqolah tarbawiyah ada nuansa lain, yaitu dengan cara tanya jawab, dan cerita [qissoh]. Namun metode mauidloh masih mendominasi dari pada metode lainnya. Indikasi metode mauidloh ini dimulai dengan ungkapan “يابنى dimana menurut Al-Qurtubi ungkapan tersebut sesungguhnya meskipun mengunakan shighot [pola] tasghir, namun bukanlah menunjukkan pada hakekat arti mengecilkan/ meremehkan yang sebenarnya, tetapi sebaliknya menunjukkan makna tarfiiq, yaitu makna kasih sayang, sebagaimana sering dikatakan pada seseorang laki-laki dengan kata "يااخي" dan pada anak "يابنى"yang berarti ‘’hebat”. Pernyataan Al-Qurthubi selengkapnya sebagai berikut:

قوله "يابنى" ليس هو حقيقة التصغير وإن كان على لفظه، وإنما هو على وجه الترقيق، كما يقال للرجل ياأخى، وللصبى "يابنى" ، هو كويس.[78]

Adapaun penjelasan Secara lebih rinci tentang metode pendidikan anak yang dilakukan Luqmanul Hakim melalui kata-kata mutiara hikmahnya dapat dilihat pada tabel berikut:

TABEL V: JENIS METODE DAN NOMOR MAQOLAH

No

METODE

NOMOR MAQOLAH

KETERANGAN

1

MAUIDLOH

1,2,3,4,5,6,7,8,9,10,11,12,13,14,15,16,17,18,19,20,21,22,23,24,25,26,27,28,29,30,31,32,33,34,36,37,40,41,43,44,45,46,47,48,49,50,51,53,54,55,56,57,58,59,60,61,62,63,64,65,66,67

2

TANYA JAWAB

35,38,39,42,56

(a)

(a)

Penjelasan Tabel V.

(a) Dua jenis metode pendidikan yang digunakan oleh Luqmanul Hakim dalam menyampaikan maqolahnya yang bernilai pendidikan pada anak nya, dengan masing-masing data/ nomor maqolahnya.

(b) Maqolah-maqolah ini secara urut dapat dilihat pada bab IV: paparan kata mutiara hikmah Luqmanul Hakim.

TABEL VI: JUMLAH MAQOLAH DAN PROSENTASE

METODE PENDIDIKAN

JUMLAH DALAM PROSEN

KET.

responden

Sampel*

Prosen

MAUIDLOH

61

67

91 %

TANYA JAWAB

5

67

4,5%

(a)

(a)

Penjelasan Tabel VI.

(a) Dua macam metode pendidikan anak dengan masing-masing data dalam bentuk prosentase. Dari data prosentase tersebut terlihat metode yang sering digunakan yaitu metode mauidloh [91%]. Sedangkan dua metode lainnya [tanya jawab dan qishoh] masing-masing menurut pengelompokan penulis hanya sejumlah 4,5% dengan 3 responden dari 67 sampel.

(b) Dua macam metode pendidikan anak tersebut memiliki spesifikasi [kelebihan]sendiri-sendiri.

(i) Metode mauidloh.

Menurut Abdurrohman Annahlawi, metode pengajaran dengan mauidloh memiliki spesifikasi berikut:

1. Memberi nasehat [النصح] dengan kebenaran dan kebaikan, seraya menghindari keje- lekan yang membaha- yakan kebahagiaan hidup.

2. Memperingatkan [التذكير] untuk bersegera menjalankan kebaikan, dengan memberikan sentuhan pada ruhani atau emosional. Misalnya memperingatkan akan adanya kematian, sakit, dan hisab [perhitungan amal].[79]

Sedangkan fungsi educatip metode mauidloh ini secara kejiwaan menurut Abdurrohman berpengaruh terhadap:

a. Membangkitkan semangat spiritual untuk beribadah kepada alloh dengan khusuk, membangkitkan rasa takut terhadap siksa dan tertarik untuk masuk surga.

b. Membangkitkan kemampuan berfikir untuk mengambil ibarat [pelajaran] tentang kehidupan dunia dan akherat.

c. Menyadarkan seseorang untuk membersihkan jiwa dari perbuatan mungkar dan jahat.

(i) Tanya jawab

Dari 67 kata-kata mutiara Luqman tersebut diatas, terdapat lima macam maqolah yang menggunakan diskripsi tanya jawab, yaitu pada nomor 35,38, 39, 42 dan 52.

Maqolah nomor 35;

Bertemulah seseorang dengan Luqman dihadapan orang banyak, lalu orang tersebut berkata kepadanya: wahai luqman, bukankah kamu adalah hamba fulan? Ia menjawab, betul. Bukabkah kamu penggembala kambing di bukit ini? Tanyanya lagi. Betul, jawabnya. Lalu orang tersebut bertanya: apa yang menyebabkanmu memiliki derajat luhur seperti hang saya lihat sekarang ini? Ia menjawab: yaitu Takwa kepada Alloh, jujur, dapat dipercaya dan tidak berbicara kecualai yang bermanfaat.

Hikmah nomor 38;

Ditanyakan kepada Luqman, apa pesan hikmahmu? Ia berkata, aku tidak bertanya sesuatu yang sudah jelas, dan tidak berbuat kecuali yang bermanfaat padaku.

Maqolah nomor 39;

Kholid Arrubai’I berkata " luqman itu adalah seorang hamba sahaya dari negeri habsyi yang pekerjaannya sebagai tukang kayu, lalu tuannya menyerahkan kepadanya seekor kambing dan berkata, " sembelihlah kambing ini dan berikanlah untukku dua potong daging yang paling baik! Lalu Luqman memberikan kepada tuannya itu daging lidah dan daging hati. Kemudian tuannya itu menyerahkan lagi seekor kambing lain dan menyuruh memnyembelihnya dan memberikan kepadanya dua potong daging yang paling buruk. Lalu Luqman n memberikan kepadanya daging lidah dan daging hati. Lalu tuannya bertanya kepadanya tentang rahasia lidah dan hati itu, seraya dijawab, " tidak ada sesuatu yang lebih baik daripada keduanya apabila keduanya baik dan tidak ada yang lebih buruk melebihi keduanya apabila keduanya buruk.

Hikmah nomor 52;

Ditanyakan kepada Luqman, mana manusia yang paling sabar? Ia berkata, yaitu sabar yang tidak disertai dengan penganiayaan. Ditanyakan kepada Luqman pula, mana manusia yang paling pandai? Yaitu orang yang mau belajar kekurangannya dari orang lain, jawabnya. Ditanyakan kepada Luqman pula, mana manusia yang paling baik? Yaitu orang kaya, jawabnya. Ditanyakan lagi, orang kaya harta? Ia menjawab ,bukan, tetapi orang kaya yang dimaksud adalah orang yang dapat berpijak pada kebenaran dan menegakkannya, dan jika tidak mampu melakukan hal ini, maka ia tidak meminta-minta kepada orang lain.

Maqolah nomor 56;

Anaknya bertanya wahai bapakku, bagaimana saya dapat melakukan hal itu [takut dan berharap pada waktu yang bersamaan], maka luqman menjawab: wahai anakku, ketahuilah,sesungguhnya jika hati orang mukmin dikeluarkan, niscaya terdapat dua cahaya, satu cahaya ketakutan dan satu lagi pengharapan, dan jika keduanya ditimbang niscaya ada yang lebih unggul salah satunya walaupun hanya selisih sebiji sawi, maka barang siapa iman kepada alloh, ia membenarkan firman-Nya, jika ia membenarkannya, lalu ia menjalankan perintahnya. Barang siapa tidak mau menjalankan perintah-Nya, maka pastilah ia tidak membenarkan firman-Nya, maka ketahuilah bahwa iman dan amal ini saling berkaitan. Barang siapa iman kepada alloh dengan benar, maka ia beramal juga dengan ikhlas, maka hanya orang yang beramal dengan ikhlas inilah orang yang imannya sejati, barang siapa taat kepada alloh, maka ia takut kepadanya dimanapun berada, barang siapa takut seperti ini, niscaya alloh mencintainya. Barang siapa disukainya maka ia menuti perintah-Nya. Barang siapa taat pada-Nya maka ia berhak memasuki sorgan atas seizin-Nya. Barang siapa yang tidak mendapatkan restu izin-Nya, maka ia berarti dibenci-Nya, semoga kita dijauhkan dari amarah dan benci Alloh.

Jadi terjadinya perkataan Luqman didahului oleh pertanyaan.

2.c.Sifat pendidik menurut pendidikan Luqmanul Hakim

Yang dimaksud dengan sifat pendidik menurut pendidikan Luqmanul Hakim ini adalah sifat yang dapat disimpulkan menurut cara pendidikan terse- but dilakukan oleh pendidiknya. Sifat yang dimaksudkan adalah bijaksana dan penuh kasih sayang.

Kebijaksanaan Luqman ini dapat disimpulkan dari cara pengajaran melalui maqolah tarbawiyahnya yang menekankan ungsur kebijakan, karena Ia telah diberi hikmah [kebijakan] oleh Alloh sebagaimana firmannya.

ولقد آتينا لقمان الحكمة أن اشكر لله ومن يشكر فإنما يشكر لنفسه ومن كفر فإن الله غني حميد.(سورة لقمان :12)

sedangkan sifat kasih sayang dari contoh pendidikan Luqmanu Hakim ini dapat dilihat dari cara memanggil anaknya dengan menggunakan ungkapan "يابنى".Ungkapan “يابنى ini seperti penjelasan diatas, menurut Al-Qurtubi sesungguhnya meskipun mengunakan shighot [pola] tasghir, namun bukanlah menunjukkan pada hakekat arti mengecilkan/ meremehkan yang sebenarnya, tetapi sebaliknya menunjukkan makna tarfiiq, yaitu makna kasih sayang, sebagaimana sering dikatakan pada seseorang laki-laki dengan kata "يااخي" dan pada anak "يابنى"yang berarti ‘’hebat”.[80]

Berdasar pada semua teori, data dan analisa data tersebut diatas, maka kesimpulan pokok dari pendidikan yang dilakukan oleh Luqmanul Hakim terhadap anaknya, melalui studi tentang maqolah tarbawiyahnya adalah sebagai berikut:

Pertama:

materi pendidikannya mencakup pendidikan Aqidah, pendidikan Syari’ah dan pendidikan Akhlak.

Kedua :

metode pengajarannya dengan mauidloh dan tanya jawab.

Ketiga :

sifat pendidik mencakup bijaksana dan kasih sayang terhadap anak didik.

الحمد لله رب العالمين والله اعلم بالصواب.

قائمة المراجع

إبراهيم هيم أنيس وإخوانه. المعجم الوسيط. الجزء الأول.

1.

إبن العربى، أبى بكرالله محمدبن عبدالله. أحكام القرآن. القسم الثالث.

2.

إبن قيم الجوزية. مدارك السالكين بين منازل اياك تعبد واياك نستعين. الجزء الثانى.

3.

إبن كثير، أبى الفدأ اسماعيل. تفسيرابن كثير. الجزء الثالث.

4.

أبى السعودبن محمد العمادى الحنفى. ارشاد العقل السليم إلى مزايا الكتاب الكريم. الجزء الرابع.

5.

أبى منظور جمال الدين محمدبن مكرم الإتصارى. لسان العرب. الجزء الخامس عشر والتاسع عشر.

6.

أحمدبن محمد على المقرى الفيومى. المصباح المنير. الجزء الأول.

7.

إسماعيل حقى البروسى. تفسير روح البيان. المجلد السابع. دار الفكر.

8.

الالوسى، أبى الفضل شهاب الدين اليد محمود. روح العانى فى تفسير القرآن العظيم والسبع المثانى. الجزء التاسع عشر. دار الفكر.

9.

البغوى، أبى محمد الحسن بن مسعود الفرأ. معالم التنزيل فى التفسير والتأويل. الجزء الرابع. دار الفكر.

10.

البيضاوى، ناصر الدين أبى الخير عبد الله بن عمر. أنوار التنزيل وأسرار التأويل. الجزء الثانى. مكتبة مصطفى.

11.

الخازن، علاء الدين علىبن ابراهيم البغدادى. لباب التأويل فى معانى التنزيل. الجزء الثالث. دار الفكر.

12.

الرازى، محمد فخرالدين ابن العلامة ضباء الدين. تفسير الكبير ومفاتيح الغيب. الجزء السابع. دار الفكر.

13.

الزمخشرى، أبى القاسم جارالله محمود بن عمر الخوارزمى. الكشاف عن حقائق التتريل وعيون الأقاويل فى وجوه التأويل. الجزء الثالث. دار الفكر.

14.

السيوطى، عبد الرحمن بن الكمال جلال الدين. الدر المنثور فى التفسير المأثور. الجزء السادس. دار الفكر.

15.

______. الجامع الصغير فى احاديث البشير النذير. دار الفكر.

16.

الشوكانى، محمدبن على بن محمد. فتح القدير. الجزء الرابع. دار الفكر.

17.

الصابونى، محمد على.صفوة التفاسير. الجلد الثانى.دارالفكر.

18.

الصاوى. أحمد تفسير الصاوىالجزء الثالث.دار احياء الكتب.

19.

الطباطبائى، محمد حسين. الميزان فى تفسير القرآن. الجزء السادس عشر.

20.

الطبرى، أبى جعفر محمد بن جرير. جامع البيان عن تأويل أى القرآن. الجزء التاسع عشر. دار الفكر.

21.

الطوسى، أبى جعفر محمدبن الحسن. التبيان فى تفسير القرآن. المجلد الثامن. داراحياء التراث العربى.

22.

الغزالى، أبى حامد محمد بن محمد . إحياء علوم الدين. المجلد الأول والثالث. دار الفكر

23.

______. أيها الولد. فطؤ كديرى.

24.

______التربية الإسلامية.الدار القومية للطباعةوالنشر 1964م

25.

______. المنقد من الضلال. حقيقة كتابفى. 1994

26.

______. بداية الهداية. توكوكتاب الهداية.

27.

______. خلاصة التصانيف. فطؤ كديرى.

28.

القاسمى، محمد جمال الدين. محاسن التأويل. الجزء الثالث عشر.

29.

القرطبى، أبى عبدالله محمدبن أحمد الإتصارى. الجامع الأحكام. الجزء الثالث عشر.

30.

الماوردى، أى الحسن على بن محمدبن حبيب. النكت والعيون. الجزء الرابع. دار الكتب العلمية. لبنان.

31.

المراغى. مصطفى. تفسير المراغى. الجزء التاسع عشر.

32.

النسفى، أبى البركات عبد الله بن أحمدبن محمود. مدارك لتنزيل وحقائق التأويل. الجزء الثالث. دار الفكر.

33.

حسن عبد العال. التربية الإسلامية فى القرآن الرابع الهجرى. دار الفكر.

34.

حسين مطر. الترغيب والترهيب. مكتبة الهداية.

35.

سعيد حوى. الأساس فى التفسير. المجلد الثامن. دار السلام.

36.

سيدقطب.التفسير فى ظلال القرآن.الجزء الثامن عشر. دار احيء التراث.

37.

شهاب الدين أحمد ابن حجر العسقلان. نصائح العباد. الهداية.

38.

طنطوىجوهرى.الجواهر فىتقسيرالقرآن الكريم .الجزءالخامس عشر.دار الفكر

39.

عبد الله ناصح علوان. تربية الأولاد فى الإسلام.الجزء الأول.الطبعة الثالثة.

40.

عبد الجليل عيس. المصحف الميّسر. دار الشروق.

41.

عبد الغنى عبود. الفكر التربوى عند الغزالى. دار الفكر. 1982.م.

42.

عبد الله بن علوى الحداد. الدعوة التامة. دار حياء الكتب العربية.

43.

عبد الله بن على الحدار. الدعوة التامة والتدكرة العامة. دار احياء الكتب.

44.

فهدبن عبد الرحمن بن سلمان الرومى. قصة عقيدة. مكتبة التوبة. الطبعة الأولى. 1994.م.

45.

محب الدين أبى فيض السيد محمد متضى الحسينى. تاج العروش. من جواهر القاموس. الجزء الثامن. دار الفكر.

46.

محمد عطية الابراشي. روح التربية والتعليم. دار احياء الكتب العريبة.

47.

ـــــــ. الإتجاهات الحديثة فى التربية. دارحباء الكتب العربية.

48.

ـــــ. مفاهيم تربوية فى الإسلام. دار المعارف.

49.

محمدبن على الشافعى الشنوانى. مختصرا بن أبى جمرة للبخارى. هداية.

50.

محمدعبده. تفسير المنار. الجزء الثالث. مكتبة القاهرة.

51.

محمود السيد سلطان. بحوث فى التربية ا لإسلامية. دار المعارف.

52.

مختار يحى. فن التربية. فداع فانجاع. 1941.

53.

مصطفى الغلايينى. عظة الناشئين. الطبعة السادسة. 1949.

54.

مقداد يالجن. جوانب التربية الإسلامية الأساسية. الطبعة الأولى.

55.

مكى بن أبى طالب القيس. مشكلة إعراب القرآن. الجزء الثانى.

56.

1.

Ali Bin Hasan Al-Athas. Nasehat Luqmanul Hakim Untuk Generasi Muda. (tarjamah), Titian Ilahi Pres. 1993.

2.

Arif Furchan, Pengantar penelitian dalam pendidikan, Usaha Nasional, Surabaya, 1982

3.

Djumransyah Indar, Filsafat Pendidikan Islam, IAIN Malang, 1990

4.

Hasan langgulung, Beberapa Pemikiran Pendidikan Islam. Almaa'rif. 1980.

5.

Kamus besar bahasa Indonesia, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Balai Pustaka, Perum penerbitan dan percetakan BP, cetakan ketujuh

6.

Nashir bin Salman Alumar, Al Hikmah. (tarjamah) Pustaka Hidayah. 1995.

7.

Sutrisno Hadi, Metodologi Research I , UGM, 1983

8.

Winarno Surahmat, Pengantar penelitian ilmiah dasar metode dan teknik, Tarsito, Bandung

9.

Zainuddin, Seluk Beluk Pendidikan Dari Al Ghazali. Bumi Aksara. 1991.

10.

Zakiyah Darojat, Filsafat Pendidikan Islam,

11.

Zuhairini dkk., Metodologi Pendidikan Agama,.

12.

Ahmad Tafsir, Ilmu pendidikan dalam perspektif Islam, Rosdakarya, Bandung, cet. Ke II, 1984

13.

Arifin, HM., Psikologi Dan Beberapa Aspek Kehidupan Rohaniyah Manusia, Bulan Bintang. 1981.




Pelaksanaan seminar proposal Tesis

Sabtu, 12 februari 2000

Judul : Konsep pendidikan anak menurut luqmanul Hakim dalam Al-qur’an

[telaah filosofis atas kurikulum, materi dan metode pendidikan ]

Diajukan oleh: Miftahul huda

98111030

Pelaksanaan seminar.

Seminar proposal yang dihadiri oleh sekitar 25 mahasiswa dan 3 pembimbing tersebut dilaksanakan pada hari sabtu, 11 februari 2000, merupakan putaran keempat bagi mahasiswa pascasarjana UNISMA angkatan 1998, dimana pada putaran sebelumnya telah ditampilkan setidaknya 10 proposal penelitian, baik dari jurusan syari’ah maupun tarbiyah. Bersamaan dengan penulis, tampil dua orang mahasiswa yang mempresentasikan proposalnya terlebih dulu. Mereka berdua adalah saudara Isfironi konsentrasi syari’ah dan Lutfi Hakim konsentrasi tarbiyah.

Giliran bagi penulis untuk mempresentasikan proposalnya, diawali dengan menjelaskan proposal tersebut sekitar setengah jam. Setelah itu dilanjutkan dengan diskusi, tanggapan, dan saran. Pertanyaan-pertanyaan yang dikemukakan peserta seminar diantaranya seperti berikut:

1. Saudara Fathoni; menanyakan tentang judul penelitian.

Dia mempermasalahkan, sebaiknya judul penelitiaannya tidak menonjolkan nama perorangan, karena dapat membuat rancu dengan nama-nama luqman yang lain diluar alqur’an. Ia mengusulkan agar memfokuskan misalnya pada kajian surat luqman ayat 12-19 dari sisi pendidikan.

Jawaban penulis:

Seperti dikehendaki oleh penulis dalam judul di atas, penyebutan kata Luqmanul hakim dianggap perlu karena nama luqman itu hanya disebutkan satu kali dalam alquran dan sekaligus dijadikan nama surat. Jadi kalau dikatakan pendidikan menurut luqmanul hakim dalam alqur’an [tanpa menyebut ayat dan surat ], maka pemahamannya sudah menuju dalam surat luqman ayat 12-19.

2. Saudara Munif

Pertama, ia menyanggah dari pertanyaan saudara Fathoni, dan sekaligus mendukung jawaban penulis, karena dianggap perlu mengintrodusir nama Luqman agar lebih dikenal. Kedua, menanyakan; apakah isi pendidikan pada QS. Luqman tersebut hanya mencakup pendidikan akhlak saja, dan apakah tidak sepatutnya kajian penelitian ini dikomparasikan dengan ayat-ayat pendidikan lainnya [tidak hanya dalam surat Luqman].

Jawaban penulis:

Isi pendidikan dalam QS. Luqman ayar 12-19 menurut asumsi sementara dari penulis meliputi pendidikan Aqidah [iman kepada alloh], syari’ah [islam; sholat] dan akhlak [ihsan; berbuat baik kepada orang tua dan masyarakat]. Menegnai usul penyandiangan ayat-ayat pendidikan yang sejenis seplerti diusulkan tersebut, maka penulis menegaskan karena penelitian ini hanya ingin mencermati QS. Luqman 12-19 sebagai obyek pokok [kajian tematik dan bukan kajian komparatip].

3. Saudara khoirusholeh

Menyarankan judul “ konsep pendidikan menurut luqmanul hakim” diganti dengan “pendidikan anak menurut islam, studi tentang QS.Luqman “, karena menurutnya dapat menimbulkan interpretasi bahwa pendidikan islam itu sangat indifidualistis, tidak ada konsep universalnya.

Jawaban penulis

Kalau penelitian diganti dengan pendidikan anak menurut islam , maka pembahasannya akan sangat luas, mencakup konsep pendidikan prenatal [sebelum lahir], post natal [setelah lahir], pendidikan kanak-kanak, remaja, dan lain-lain yang harus digali dari Qur’an dan hadist. Sementara yang kikehendaki penulis hanya pada pendidikan anak-anak saja yang digali dari QS. Luqman. Juga keuniversalan islam itu diantaranya ada pada konsep pendidikan pada QS. Luqman tersebut.

4. Saudara Nurul Huda

Mempertanyakan apakah judul seperti ini sudah ada yang pernah membahas. Lalu nilai kelebihan judul proposal ini pada aspek apa.

Jawaban penulis

Sudah ada peneliti pada obeyek yang sama, namun masih bersifat pendahuluan, dan masih sangat mungkin untuk ditindak lanjuti dan dikembangkan lagi obyek-obyek yang lainnya.

5. Bapak Munir [pendamping]

Menyarankan judul agar diubah dengan “ Konsep pendidikan anak” setudi tentang QS. Luqman ayat 12-19

6. Bapak Endri Julianto [pendamping]

Menyarankan agar metode penulisan tidak menggunakan studi sejarah, karena sulit dilakukan, juga menyarankan agar penulis memperhatikan penulisan daftar rujukan.

7. Bapak Rulam Ahmadi [pendamping]

Menyaranakan agar obyek penelitian ini diubah, karena penelitian QS. Luqman tersebut sudah ada yang membahasnya, yaitu Mahasiswa Pascasarjana UNISMA angkatan 1997, namun sampai saat ini, ia belum berhasil menyelesaikan tesisnya. Pak Rulam menegaskan kalau terpaksa tetap harus membahas pendidikan Luqman diharapkan mencari inti obyek pembahasan yang lain.

Kesimpulan

Berdasarkan semua masukan diantaranya dari 4 peserta seminar dan 3 pendamping tersebut, maka penulis dengan cermat mempertimbangkan atas sarannya, sehingga berketetapan untuk mengubah obyek /judul penelitian ini dengan judul sebagai berikut:

PESAN-PESAN PENDIDIKAN ANAK

(Studi tentang mutiara hikmah Luqmanul Hakim)

Judul ini memfokuskan pembahasan pada kata-kata mutiara hikmah yang diberikan oleh Luqmanul hakim kepada anaknya, bukan lagi studi tentang QS.Luqman ayat12-19.



[1]Makki bin Tholib Alqoisi, Musykilat I’robilqur’an, juz II, halaman 183

[2] Alqurthubi, Aljami’ al-ahkaam, juz 13, halaan 59

[3] Assaukani, Fathul Qoodiir, juz IV, halaman 237

[4] Al-allusi, Ruuhul ma’aani, juz 19, halaman 82

[5] Azzamskhsyari, Alkasyaaf, juz 3, halaman 231. Albaghowi, Maalimuttanzil, juz 4, halaman 409. Abi Suud, Irsyadul aqlissalim ila mazzaaya quranil kariim, juz 4, halaman 376

[6] Aljauzi, zaadul masiir fi ilmi tafsiir, juz 6, halaman 161, Assuyuthi, addurrul mansuur fitafsiiril ma’sur, juz 7, halaman 331, Ibnul Arobi, Akhkaul qur’an. Juz 3, halaman1473

[7] Attobari, jamiul bayan fitafsiril qur’an, juz 8, halaman 67

[8] Aljauzi, ibid, halaman 161, Azzamakhsyari, ibid, halaman 231

[9]Alqurthubi, Op. Cit., halaman 59

[10] Muhyiddin zakariya bin syaraaf annawawi, Al -adzkar, halaman 109

[11] Alqurthubi, Ibid, halaman 59

[12]Attobari, Op. Cit., juz 8, halaman 67

[13] Asshobuni, shofwatuttafasiir, juz 2, halaman 491, Annasafi, madarikuttanzil wa haqoiqutta’wil, juz 3, halaman 280

[14] Assaukani, Op. Cit., halaman237

[15] Abdul Jalil Isa, Almushaf Almuyassar, halaman 540

[16] Assayuthi, Op. Cit., halaman 125

[17] Al-Mawardi, Op. Cit., halaman 332

[18] Tonthowi jauhari, Op. Cit., halaman 125. Lihat pula penjelasan ahli sejarah dalam Ibnul Arobi. Halaman 1484

[19] Assayuthi, Op. Cit., halaman 509

[20] Ibid, halaman 509

[21] Almawardi, Op. Cit., halaman 333, Azzamakhsyari, Op. Cit., 231, alkozin, Op. Cit., halaman 440

[22] Al-Alusi, Op. Cit., halaman 840

[23] Ibnu Abbas, Op. Cit., halaman 255

[24] Asshowi, Op. Cit., halaman 211

[25] Ibnu Hayyan, ibid, halaman 413

[26] Alqurthubi, Op. Cit., halaman 62

[27] Al-baidlowi, Op. Cit., halaman 228

[28] Alqurtubi, Op. Cit., halaman 26

[29] Ibid, halamlan 26, Ibnu Hayyan, ibid , halaman 413, Asshowi, ibid, halalman 211

[30] Alqosimi, Mahaasinutta’wiil, halaman 4794

[31] Thonthowi Jauhari, Op. Cit., halaman 128

[32] Alqosimi, ibid, halaman 4794

[33] Nashir bin Sulaiman umar, Alhikmah, Maktabah Hidayah, halaman 20

[34] Ibnu Mandlur Jamaluddin Muhammad bin Mukrim, Lisanul ‘arab, juz 15, Darul Misr, halaman 30

[35] Muhibbuddin Abi Faidl Assayyid Muhammad Murtadlo, Tajul ‘arusy min jawahirul qamus,

[36] Ahmad bin Muhammad Almuqri Alfayumi, Almishbah almunir, juz I, halaman 145

[37] Alfakhrurazi, Attafsir Alkabir, juz 7, Darul fikr, halaman 73

[38] Atthobari, Op. Cit., halaman 43

[39] Albaghowi, Op. Cit., halaman 409

[40] AlJauzi, Op. Cit., halaman 161

[41] Annasafi, Op. Cit., halaman 28

[42] Alkhozin, Op. Cit., halaman 440

[43] Abi Hayyan, Op. Cit., halaman 312

[44] Ibnu Katsir, Op. Cit., halaman 444

[45] Albaidlowi, Op. Cit., halaman 1228, Abi Su’ud, Op. Cit., halaman 376

[46] Assayuthi, Op. Cit., halaman 51, Allalusi, Op. Cit., halaman 83

[47] Ismail Haki Brusi, Op. Cit., halaman 73

[48] Al-Alusi, Op. Cit., halaman 83

[49] Ibid, halaman 83

[50] Abdul Jalil Isa, Op. Cit., halaman 540

[51] Asshowi, Op. Cit., halaman 211

[52] Alfairuzzabadi, Op. Cit., halaman 255,

[53] Ali Asshobuni, Op. Cit., halaman 491

[54] Ibnul ‘arobi, Op. Cit., halaman1484

[55] Ali bin Hasan Al Atas, Hikmah-hikmah Luqmanul Hakim, halaman 12

[56] Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah, Op. Cit., halaman 479

[57] Al-Fakhrurrozi, Op. Cit., 73

[58] Ismail Haki Brusi, Op. Cit., halaman 74

[59]Ibid, halaman 74

[60] Muhammad Abduh, Tafsir Almanar, juz III, halaman 75

ولما كانت الحكمة تتضمن على نظرية وعملية فللوصول إليها ـ كما قال محمد عبده ـ كان العقل ألتها لأنه الميزان القسط الذى توزن به الخواطر والمدركات ويميزبه بين أنواع التصورات والتصديقات، فمتى رجحت فيد كفة الحقائق طاشت كفة الأوهام وسهل التمييزبين الوسوسة والإلهام, ومتى كان العمل صادرا عن العلم الصحيح كان هو العمل الصالح النافع المؤدى إلى السعادة.

[61] Ibid, halaman75

ولهذا قال محمد عبده إيضاحا للمقام : إن الله جعل الخير الكثير مع الحكمة فى قرن فهما لايفرقان كما لايفترق المعلول عن علته التامة. فالحكمة هى العقل السليم المستقل بالحكم فى مسائل العلم فهو لايحكم إلا بالدليل فمتى حكم جزم فامضى وابرم فكل حكيم عليم مصدر للخير الكثير.

[62] Ismail Haki Brusi, Op. Cit., halaman 74

والحكمة تكون حالا أومقالا ـ عند الصوفية ـ فهى موهبة من الله دون كسب العبد. فالحكمة موهبة للأولياء كما أن الوحى موهبة للأنبياء. وكما أن النبوة ليست كسبية بل هى فضل الله يؤتيه من يشاء. فكذلك الحكمة ليست كسبية تحصل بمجر كسب العبد.

[63] Ismail Haki Brusi, Op. Cit., halaman 74

وأما قوله تعالى "ولقد أتينا لقمان الحكمة" فثبت أن الحكمة من المواهب لأمن المكاسب لأنها من الأقوال لامن المقامات. وفى هذا المعنى كانت الحكمة من فضل الله يؤتيه من يشاء وليست من نتائج الفكر اكتسبها الإنسان.

[64] Ibnu Hayyan, Op. Cit., halaman 412, Azzamakhsyari, Op. Cit., halaman 231

[65] Al-alusi, Op. Cit., halaman 84, Abi Hayyan, Op. Cit., halaman413

وما بعدها تفسير لايتاءالحكمة وفيه معنى القول دون حروفه سواء كان بالهام أووحى أو تعليم، وجعل الزجاج (أن مصدرية بتقدير اللام التعليلية ولايفوت معنى الأمر كما مر تحقيقه وجوزكونها مصدرية بلاتقدير على أن المصدر بدل إشتمال من الحكمة وهو بعيد.

[66] Assyaukani, Op. Cit., halaman 238

[67] Alqosimi, Op. Cit., halaman 4796

[68] Asshobuni, Op. Cit., halaman 491

أن من حكمة لقمان هى شكره لله تعالى إن كان أن بمعنى تفسيرية. ويمكن أن يقال أن شكره هى حكمه. وبجانب ذلك تعرف أن الشكر من واجبات بعد ايتاء نعمة أو حكمة. ومن ثم "أن اشكر لله" بمعنى أشكر لله على إنعامه وإفضاله عليك حيث خصك بالحكمة وجعلك على لسانك

[69] Ibnu Katsir, Op. Cit., halaman 444

[70] Al-Jauzi, Op. Cit., halaman 161

[71] Thonthowi Jauhari, Op. Cit., halaman

[72] Almawardi, Op. Cit., halaman 332

[73] Annasafi, Op. Cit., halaman 28

[74] Al-Marhoghi, Op. Cit., halaman 79

[75] Nashir bin Sulaiman, Al –Hikmah, halamalan 79-101

[76] Ibnu Qoyyim Aljauziyah, Madarikussalikin, halaman 480

[77] Nashir bin Sulaiman, Op. Cit., halaman 61-78

[78] Al-Qurthubi, op. Cit, Halaman 63, Al-Mawardi, op.cit, halaman 234

[79] Abdurrohman Annahlawi, op.cit, halaman 253

1 . النصح وهو بيان الحق والمصلحة. بقصد أن نجنب المنصوح الضرر وندله على ما يحقق سعادته وفائدته. ودليل النصح الصادق ألا يتواخى الناصح مصلحة شخصية دنيوية مادية لننفسه. ولذلك وجب على المربى الناصح أن يتنزه أثناء أداء واجبه التربوى عن كل رباء وعن كل ما يوحى للأخرين بأن له فى فعله مصلحة خاصة لئلا يشوب إخلاصه وسمعته فيفقد هيبته التربوية وتأثييره فى نفوس طلابه.2. التذكير : وهو أن يعيد الواعظ إلى الذاكرة معانى وذكريات، تستيقظ معها مشاعرو وجدانات وإنفعالات، تدفع للمبادرة إلى العمل الصالح، والمسارعة إلى كاعة الله وتنغيذا أو امره، وهذا يقتضى أن يكون فى ذكريات الموعوظ ووجدانه مايعتمد عليه الواعظ من إيمان بالله وخوف من الحساب، ورغبة فى الثواب. وللتذكير وسائل أهمها: التذكير بالموت التذكير بالمرض والتذكير بيوم الحساب.

[80] Al-Qurthubi, op. Cit, Halaman 63, Al-Mawardi, op.cit, halaman 234


0 komentar:

إرسال تعليق

Comment here

My Famly

About This Blog

My Activity

Blog Archive

  © Blogger template The Professional Template II by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP