Tafsir tematik : Maryam dan Isa

الثلاثاء، 18 ربيع الآخر، 1430 هـ

Tafsir tematik : Maryam dan Isa
Oleh : Miftahul Huda


Nama Maryam dalam al-Qur’a>n terulang sebanyak 34 kali dalam 31 ayat dan menjadi nama surat yang ke 19. Sedangkan nama I>sa> terulang sebanyak 25 kali dalam 25 ayat. Garis besar penjelasan tentang Maryam dan I>sa> dalam al-Qur’a>n terangkum sebagai berikut; keutamaan Maryam binti ‘Imra>n (al-Qur’a>n: 3:37, 3:42, 3:43, 3:45, 5:75, 23:50, 66:12), kesucian dan kehormatan Maryam(3:47, 4:156, 19:20, 21:91, 66:12), dan keutamaan nabi I>sa> as. (2:136, 3:45, 3:48, 4:163, 4:172, 6:85, 19:19, 19:21, 19:30, 19:31, 19:32, 19:33, 19:34, 23:50, 43:59, 43:63, 57:27).

Kisah kandungan dan kelahiran nabi I>sa> as. (3:45, 3:47, 3:59, 21:91, 66:12), nabi I>sa> as. Kalimat Allah dan Rahmat-Nya (3:45, 4:171, 21:91), nabi I>sa> as. berbicara ketika masih bayi (3:46, 5:110, 19:29, 19:30, 19:31, 19:32, 19:33), Nabi I>sa> as. dibantu oleh Ru>h al-Quds (2:87, 2:253, 5:110), kemunculan nabi I>sa> as. dan mukjizatnya (3:46, 3:48, 3:49, 5:110), sifat dan tabi'at nabi I>sa> as. (3:45, 3:46), nabi I>sa> as. diutus kepada Bani Israel (3:49, 3:50, 5:46, 5:78, 5:110, 43:63, 43:64, 61:6, 61:14), pengikut-pengikut nabi I>sa> as. meminta hidangan (5:112, 5:113), dan rencana pembuNu>h}an I>sa> as. oleh Yahudi (4:157).

Nabi I>sa> as. diangkat ke langit (3:55, 4:158), nabi I>sa> as. akan turun di akhir zaman (4:159), nabi I>sa> as. dianggap tuhan oleh kaumnya (5:17, 5:72, 5:77, 5:116, 9:31, 43:58, 43:65), nabi I>sa> as. suci dari perbuatan kaumnya (5:72, 5:75, 5:116, 5:117, 43:59), anjuran tidak mengikuti orang-orang Kristen (1:7, 2:120, 2:145, 3:105, 5:51, 57:16, 58:9), kebencian orang Nasrani terhadap Yahudi (2:113, 2:145, 5:14), kitab Injil diturunkan kepada nabi I>sa> as. (2:87, 2:253, 3:3, 5:46), dan peyebutan kitab Injil terhadap I>sa> as. (3:3, 3:48, 3:65, 5:47, 5:66, 5:68, 5:110, 7:157, 9:111, 48:29, 57:27).

1. Pendidikan Maryam terhadap I>sa> as.

Tema ini mencermati interaksi Maryam terhadap I>sa> ketika masih kecil. Maryam dilahirkan dari keluarga terhormat memiliki keistemewaan dan sekaligus keajaiban. Yakni ketika harus mengandung bayi I>sa> atas seizin Allah. Pendidikan Maryam terhadap I>sa> dimulai sejak lahir dengan berupaya keras untuk menyelamatkan status sosialnya dari tuduhan kaumnya sebagai anak hasil perzinaan.

Di saat krisis identitas sosial menyangkut harga diri Maryam dan I>sa> itu, solusi datang dari I>sa> dengan izin Allah menyanggah semua tuduhan kaumnya. Bahkan menegaskan siapa jati dirinya dan misi dalam kehidupannya. Dari perspektif pendidikan, hal ini dipahami sebagai pemberdayaan sumber belajar dan anak didik.

2. Ayat-ayat berhubungan dengan pendidikan Maryam terhadap I>sa> as.

Pengutaraan kisah Maryam sebagai kejadian yang luar biasa dan ajaib dalam surat Maryam ini, diawali dengan kisah kejadian yang luar biasa dan ajaib pula, yaitu dikabulkannya doa Zakaria a.s. oleh Allah s.w.t., agar beliau dianugerahi seorang putera sebagai pewaris dan pelanjut cita-cita dan kepercayaan beliau, sedang usia beliau sudah sangat tua dan isteri beliau seorang yang mandul yang menurut ukuran ilmu biologi tidak mungkin akan terjadi.

Adapun interaksi pendidikan Maryam terhadap I>sa> dijelaskan dalam surat Maryam ayat 27 sampai 33. Ayat-ayat tersebut menjelaskan bagaimana Maryam menggendong I>sa> dibawa ke tengah kaumnya, tuduhan kaumnya atas prilaku perzinaan Maryam, I>sa> berbicara membawa fakta kebenaran yang pada akhirnya menyelesaikan segala permasalahan antara Maryam dan kaumnya.



3. Penafsiran ayat


27. Maka Maryam membawa anak itu kepada kaumnya dengan menggendongnya. kaumnya berkata: "Hai Maryam, Sesungguhnya kamu Telah melakukan sesuatu yang amat mungkar.



Penafsiran:

a) “Maka Maryam membawa anak itu kepada kaumnya dengan menggendongnya”.

Diriwayatkan dari Wahab bin Munabbih: “ketika Maryam mendengar Malaikat memberi berita gembira akan lahirnya I>sa>, maka ia tidak merasakan musibah yang akan menimpanya dari kaumnya. Terlebih lagi ketika I>sa> benar-benar dapat berbicara di waktu kecil, ketika itu dibawa berhadapan kepada umatnya. Reaksi kaumnya ketika melihat Maryam menggendong I>sa>, mereka berkata: wahai Maryam! Sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang amat mungkar”.[485]

Diriwayatkan pula bahwa ketika Maryam yakin dengan kekuasaan Allah maka hatinya menjadi tenang, karena Allah akan menyelesaikan permasalahannya. Karena itu, Maryam membawa anaknya keluar dari tempat persembunyiannya menuju kaumnya. Menurut Ibn ‘abba>s Maryam keluar dari tempatnya ketika pagi hari dan sampi kepada kaumnya siang hari dengan membawa anaknya. Menurut riwayat al-Kalbi>, Maryam melahirkan anaknya dan tidak ada yang mengetahuinya. Maryam berdiam diri selama 40 hari karena masa nifa>s. Selanjutnya membawa anaknya menuju kaumnya dan ketika kaumnya melihat hal itu, mereka susah, kenapa Maryam dari keluarga saleh tiba-tiba memiliki anak (tanpa ada ayahnya).[486]

b) “sesuatu yang amat mungkar” yakni sesuatu yang amat agung (‘adhib), atau sesuatu yang keji (fa>khis}ah).[487]


28. Hai saudara perempuan Harun, ayahmu sekali-kali bukanlah seorang yang jahat dan ibumu sekali-kali bukanlah seorang pezina",



a) “Hai saudara perempuan Harun”, maksudnya Maryam dinisbahkan kepada Ha>ru>n, karena kaumnya menyebut Ha>ru>n sebagai orang yang terkenal ahli kebaikan di zaman bani I>sa>rail, dan bukan yang dimaksudkan Ha>run saudara Musa. Menurut Qata>dah, keluarga orang saleh melahirkan generasi saleh. Sedangkan keluarga rusak (fasa>d) melahirkan generasi rusak. Ha>ru>n termasuk saleh dan dicintai oleh keluarganya, serta yang dimaksudkan bukan Ha>ru>n saudara Musa.[488]

b) “ayahmu sekali-kali bukanlah seorang yang jahat dan ibumu sekali-kali bukanlah seorang pezina", lalu dari mana anak ini, kejahatan apa yang kamu lakukan, padahal kedua orang tuamu orang saleh.[489]


29. Maka Maryam menunjuk kepada anaknya. mereka berkata: "Bagaimana kami akan berbicara dengan anak kecil yang masih di dalam ayunan?"

a) “Maka Maryam menunjuk kepada anaknya”, Maryam menyuruh kaumnya untuk bertanya kepada anaknya,[490] agar anaknya menjawab tuduhan kaumnya.[491] Maryam menunjuk kepada anaknya (tidak menjawab dengan kata-kata) karena ia sedang melakukan puasa tidak bicara. Reaksi kaumnya atas tindakan Maryam ini, mereka menganggap penghinaan yang luar biasa melebihi perbuatan zina yang dituduhkan kepadanya dan mereka marah.[492]

b) “mereka berkata: "Bagaimana kami akan berbicara dengan anak kecil yang masih di dalam ayunan?", yakni bagaimana kami berbicara dengan bayi yang masih harus ditidurkan dalam gendongan.[493]

Menurut riwayat Ibn Abi Shaibah, I>sa> termasuk tiga anak yang dapat berbicara selain Juraij dan S}ahib H}abashi>. Demikian pula menurut riwayat ‘Abd bin H}umaid, I>sa> termasuk salah satu empat anak yang berbicara selain S}ah}ib Yu>suf, S}ah}ib Juraij dan Ibn Ma>shit}ah Ibnat Fir’aun.[494]


30. Berkata I>sa>: "Sesungguhnya Aku Ini hamba Allah, dia memberiku Al Kitab (Injil) dan dia menjadikan Aku seorang nabi,



a) “Berkata I>sa>: "Sesungguhnya Aku Ini hamba Allah”, pada saat I>sa> masih menyusu kepada Maryam, ia mendengar perkataan kaumnya, seraya menghadap kepada mereka dengan menunjukan jarinya dan berkata “sesungguhnya Aku ini hamba Allah”.[495]

Menurut riwayat al-D}ah}a>k I>sa> hanya berbicara pada saat itu.[496] Kemudian berbicara lagi pada masanya mencapai usia anak-anak (ghilma>n).[497] Menurut al-Qurt}ubi> I>sa> berbicara untuk membebaskan ibunya dari tuduhan perzinaan. Bukan berbicara atas pertimbangan akalnya sendiri yang mana pada saat itu masih bayi. Oleh karenanya setelah peristiwa tersebut, I>sa> kembali lagi ke masa bayinya sebagaimana layaknya manusia.[498]

Kenapa dimulai dengan perkataan” aku ini hamba Allah”? Dimaksudkan untuk menyangkal pendapat yang mengatakan bahwa I>sa> adalah tuhan (rubbubiyah).[499]

b) “dia memberiku al Kitab (Injil) dan dia menjadikan Aku seorang nabi”, Allah akan memberiku kitab Injil dan menjadikanku nabi serta pengajar kebaikan.[500] Yakni, telah ditentukan di zaman azali bahwa aku akan diberi kitab dan kenabian meskipun sekarang kitab itu belum diberikan.[501]


31. Dan dia menjadikan Aku seorang yang diberkati di mana saja Aku berada, dan dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama Aku hidup;



a) Dan dia menjadikan Aku seorang yang diberkati di mana saja Aku berada, yakni memiliki barakah dan manfaat dalam agama, mengajari dan mengajak orang beragama. Menurut al-Tustari> yakni menjadikanku penyeru terhadap yang ma’ru>f dan pencegah dari mungkar, menunjukkan orang yang tersesat, dan menolong orang yang dizalimi.[502]

b) “dan dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama Aku hidup; yakni saya melakukan perintah shalat dan zakat tatkala sudah mampu (takli>f).[503] Maksudnya dengan menjaga waktu pelaksanaan shalat serta syarat rukuknnya. Demikian pula dengan membayar zakat untuk membersihkan diri dari dosa.[504]


32. Dan berbakti kepada ibuku, dan dia tidak menjadikan Aku seorang yang sombong lagi celaka.



a) “Dan berbakti kepada ibuku”, menurut Abi Nahik berbakti kepada ibunya ini termasuk rangkaian perintah Allah setelah shalat dan zakat.[505]

b) “dan dia tidak menjadikan Aku seorang yang sombong”, yakni Allah tidak menjadikanku sombong terhadap perintah-Nya. Tetapi aku tunduk dan patuh terhadap perintah-Nya.[506]

c) “lagi celaka”, yakni merugi karena tidak mendapatkan kebaikan atau bermakna durhaka kepada Allah. Dengan kata lain Allah tidak menjadikanku orang yang meninggalkan perintahnya sehingga menjadi celaka sebagaimana iblis celaka karena meninggalkan perintah-Nya.[507]


33. Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari Aku dilahirkan, pada hari Aku meninggal dan pada hari Aku dibangkitkan hidup kembali".



a) “Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari Aku dilahirkan”, yakni kesejahteraan dari Allah saat I>sa> dilahirkan di dunia dan diselamatkan dari gangguan syetan.[508]

b) “pada hari Aku meninggal dan pada hari Aku dibangkitkan hidup kembali", demikian pula keselamatanku ketika mati, dan nanti di akherat. Karena manusia mengalami tiga keadaan. Yaitu, pertama hidup di dunia. Kedua, mati di kubur. Ketiga, dibangkitkan di akherat.[509]



4. Tema ayat

Tema ayat 27 sampai 33 surat Maryam tersebut di atas secara garis besar sebagai berikut:

a) Maryam melahirkan I>sa> atas izin Allah.

b) Kaumnya menuduh Maryam berbuat zina.

c) Maryam mempersilahkan kaumnya bertanya langsung kepada I>sa>.

d) I>sa> berbicara menjawab tuduhan kaumnya.

e) Materi pembicaraan I>sa> meliputi penegasan bahwa dirinya hamba dan nabi Allah yang diberi kitab dan membawa syari’at salat, zakat dan akhlak.



5. Analisa

a) Materi pembicaraan I>sa> bertujuan untuk misi profetik

Di samping untuk solusi atas permasalahn ibunya, pembicaraan I>sa bertujuan untuk misi profetik, ialah pengokohan misi kerasulan yang diutus oleh Allah untuk manusia. Menurut al-Jauha>ri>, perkataan I>sa dimulai dengan penegasan bahwa dirinya adalah hamba Allah. Hal ini dimaksudkan untuk menyangkal pendapat yang mengatakan bahwa I>sa> adalah tuhan (rabb).

Misi kerasulan I>sa dikuatkan dengan diberi kitab yang memuat ajaran syari’ah dan akhlak bagi manusia. Aspek syari’ah meliputi perintah salat dan zakat, sedangkan akhlak meliputi akhlak personal dan akhlak sosial. Aklak personal ditujukan pada interaksi pribadi dengan keluarganya. Adapun interaksi sosial secara lebih luas termasuk dalam lingkup akhlak sosial. Pada lingkup sosial ini I>sa membawa nilai manfaat dan pembawa berkah bagi kehidupan manusia.

b) Pembicaraan I>sa> berisi materi profetik.

Meskipun I>sa hanya berbicara pada saat itu secara intuitif, menurut al-Qurt}ubi> pembicaraan I>sa bertujuan utamanya untuk membebaskan ibunya dari tuduhan perzinaan. Pembicaraan I>sa tidak didasarkan pada pertimbangan akalnya sendiri yang mana pada saat itu masih bayi. Oleh karenanya setelah peristiwa tersebut, I>sa> kembali lagi ke masa bayinya, kemudian berbicara lagi pada masanya mencapai usia anak-anak sebagaimana umumnya.

Materi profetik itu berisi penegasan tentang I>sa hamba Allah, diberi kitab dan dijadikan nabi dengan membawa syari’at salat, zakat dan akhlak. Akhlak ini meliputi tindakan yang selalu membawa berkah di masyarakat, berbakti kepada kedua orang tuanya dan menjadi pemimpin yang sukses dan tidak sombong. Kedamaian dan keselamatan selalu menyertai selama hidupnya.

c) Maryam memberdayakan sumber belajar.

Setelah Maryam melahirkan I>sa dan berdiam diri selama 40 hari masa nifa>s, selanjutnya membawa I>sa menuju kaumnya. Tujuan Maryam ini agar kehadiran I>sa dapat diterima dikalangan masyarakat. Namun apa yang terjadi, sebaliknya adalah penghinaan atas Maryam dan penolakan atas status I>sa yang tidak jelas ayahnya.

Pada kondisi sulit itu Maryam berusaha memberikan klarifikasi kepada umatnya atas apa yang terjadi pada dirinya. Namun di saat umat tidak dapat mengerti dengan penjelasan Maryam, maka Maryam berupaya untuk memberdayakan sumber informasi dari I>sa yang berada dalam gendongannya. Maryam memberdayakan sumber belajar semaksimal mungkin, karena fakta dan penjelasan yang dihadirkan pada umatnya tidak mengenai sasaran. Maryam menjadikan I>sa sebagai subyek pendidik. Sementara Maryam menjadi mediator atau fasilitator yang mengarahkan anak didik dapat mengembangkan kemampuan dirinya sesuai dengan minat dan bakat yang dimiliki.

Sampai saat ini proses pendidikan kita masih menjadikan anak didik sebagai obyek pendidikan, padahal sebagaimana ditunjukkan oleh pendidikan Maryam, seharusnya menjadikan anak didik sebagai subyek pendidikan. Seorang guru semestinya banyak memberi kesempatan kepada siswa untuk lebih kreatif dalam berfikir. Siswa diposisikan menjadi learner (pengajar bagi dirinya sendiri) sehingga menjadi subyek dalam proses belajar mengajar, dan guru memfungsikan diri sebagai motivator kepada siswa untuk lebih kreatif dan inovatif.

d) I>sa> berbicara secara obyektif.

Ketika Maryam dalam posisi terjepit karena pertanyaan-pertanyaan kaumnya, maka tanpa banyak kata-kata Maryam dengan bahasa isyarat menyuruh kaumnya untuk bertanya langsung kepada I>sa. Maryam menggunakan bahasa isyarat karena pada saat itu sedang melakukan puasa tidak berkata-kata. Umatnya sangat marah sebagai reaksi atas sikap Maryam yang cenderung mengejek kepadanya, bagaimana mungkin bayi yang masih dalam gendongan dapat ditanya.

Maryam berkeyakinan bahwa pendidikan harus dilakukan secara intuitif dengan melibatkan I>sa sebagai fakta dan data obyektif pendidikan untuk umatnya. Perolehan pendidikan secara intuitif diperlukan saat pendidikan secara natural tidak mungkin membawa hasil. Jalur keilmuan pendidikan diluar batas pengalaman empirik manusia diyakini sebagai fakta obyektif pendidikan. Disinilah obyektifitas perkataan I>sa dipandang sebagai pendidikan secara intuitif.

e) Metode pendidikan Maryam atas I>sa> dilakukan dengan intuisi.

Maryam secara alamiah tidak mungkin menyelesaikan permasalahan yang dituduhkan oleh umatnya, bahkan Maryam melakukan aksi puasa bicara. Pada saat itulah Maryam menghadirkan I>sa sebagai solusi atas permasalahannya. Sikap Maryam terhadap I>sa ini mengandalkan kekuatan transendental yang datang dari Allah dalam bentuk intuisi kepada I>sa.

Maryam tidak melakukan tindak mendidik kepada I>sa secara karena usianya masih bayi. Hanya saja Maryam memperlakukan I>sa sebagai mana layaknya bayi, dengan mengasuh dan merawatnya. Dalam keyakinanya, I>sa akan menyelesaikan permasalahan yang dihadapinya. Oleh karenanya Maryam berharap sesuatu kekuatan terjadi pada I>sa dalam bentuk mu’jizat.

Perolehan pendidikan melalui cara intuisi ini terjadi pada diri pendidik yang memiliki kualitas moral dan spritual yang tinggi. Dengan kualitas seperti itu mampu mendekatkan diri kepada Allah untuk menghadirkan kekuatan dalam mendidik anak melalui intuisi.

Pendidikan yang dilakukan maryam kepada I
Pengetahuan pendidikan yang diperoleh maryam diperoleh dari Allah. Pada suatu ketika maryam mendapat pendidikan dari Malaikat (jibril) yang menyerupai profil manusia (surat Mayam ayat 17) Malaikat ini memberitahu maryam akan mengandung dan melahirkan In ayat 47). Dari peristiwa ini dipahami bahwa terjadi proses dialogis –argumentatif dalam memperoleh pengetahuan. Dengan kata lain, kontek pendidikan mempengaruhi ketentuan pengetahuan teks.

Isa> sedang menyusu kepada Maryam, ia mendengar perkataan kaumnya yang menuduh ibunya berzina. Seraya I>sa menghadap kepada mereka dengan menunjukan jarinya dan berkata “sesungguhnya Aku ini hamba Allah”.[510] Menurut riwayat al-D}ah}a>k I>sa> hanya berbicara pada saat itu.[511] Kemudian berbicara lagi pada masanya mencapai usia anak-anak (ghilma>n).[512] I>sa> berbicara untuk membebaskan ibunya dari tuduhan perzinaan. Bukan berbicara atas pertimbangan akalnya sendiri yang mana pada saat itu masih bayi. Oleh karenanya setelah peristiwa tersebut, I>sa> kembali lagi ke masa bayinya sebagaimana layaknya manusia.[513]


===================================
[485]al-T}abari>, Ja>mi’ al-Baya>n, 76.

[486]al-Qurt}ubi>, al-Ja>mi’,99.

[487]al-T}abari>, Ja>mi’ al-Baya>n, 76.

[488]Ibid, 77.

[489]al-Jawha>ri>, al-Jawa>hir , vol. 10, 8.

[490]al-T}abari>, Ja>mi’ al-Baya>n, 79.

[491]al-Jawhari>, al-Jawa>hir , vol. 10, 8.

[492]al-Qurt}ubi>, al-Ja>mi’, 101.

[493]Ibid, 102.

[494]al-Suyu>t}i>, al-Durr al-Manthu>r , vol. 16, 508.

[495]al-Qurt}ubi>, al-Ja>mi’,102.

[496]al-T}abari>, Ja>mi’ al-Baya>n, 80.

[497]Fikri>, ah}san al-Qas}as} , vol. 2, 130.

[498]al-Qurt}ubi>, al-Ja>mi’,102.

[499]al-Jawhari>, al-Jawa>hir , vol. 10, 8.

[500]Ibid.

[501]al-Qurt}ubi>, al-Ja>mi’,103.

[502]Ibid.

[503]Ibid.

[504]al-T}abari>, Ja>mi’ al-Baya>n, 81.

[505]Ibid.

[506]Ibid.

[507]al-Qurt}ubi>, al-Ja>mi’, 103.

[508]Ibid., 104.

[509]Ibid.

[510]al-Qurt}ubi>, al-Ja>mi’,102.

[511]al-T}abari>, Ja>mi’ al-Baya>n, 80.

[512]Fikri>, ah}san al-Qas}as} , vol. 2, 130.

[513]al-Qurt}ubi>, al-Ja>mi’,102.

1 komentar:

Fathurin Zen 8 شوال، 1430 هـ 5:59 م  

Syukran ya Ustadz....saya baca banyak artikelnya dan mudah2an bermanfaat bagi para teman dai di Jakarta... Boleh dikopi kan ustadz?
Fathurin Zen dari JARINGAN DAI NUSANTARA (JARDAN)
www.fathurin-zen.com

إرسال تعليق

Comment here

My Famly

About This Blog

My Activity

Blog Archive

  © Blogger template The Professional Template II by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP