Nalar epistemologi pendidikan anak dalam Alqur’an

الثلاثاء، 14 أبريل، 2009

Nalar epistemologi pendidikan anak dalam Alqur’an
oleh : Miftahul Huda


Bab ini merupakan pembahasan integral epistemologi pendidikan anak dalam Al-Qur’a>n. Temuan bab ini mengarah pada konstruksi epistemologi pendidikan anak. Konstruksi epistemologi memformulasikan tujuan pendidikan, materi dan metodenya. Demikian pula menguraikan karakter pendidik, etika anak didik dan pada akhirnya menegaskan konstruksi epistemologi pendidikan anak. Temuan epistemologi pendidikan anak yang ditelaah dari Al-Qur’a>n ini diuraikan sebagai berikut:

A. Tujuan dan materi pendidikan

Tujuan pendidikan anak dalam Al-Qur’a>n diformulasikan dari muatan materi yang diajarkan oleh masing-masing pelaku pendidikan (Luqma>n, Nu>h}, Ibra>hi>m, Ya’qu>b dan Maryam). Pada intinya, materi pendidikan anak dalam Al-Qur’a>n dapat dikelompokkan dalam tiga aspek yaitu 'aqi>dah, shari>‘ah dan akhla>q. Tidak semua kisah pendidikan anak yang dikaji dalam buku ini memuat ketiga materi tersebut. Pada kisah pendidikan Nu>h}} terhadap anaknya (Kan’a>n) menekankan aspek 'aqi>dah dan akhla>q. Pendidikan yang dilakukan Ibra>hi>m terhadap Isma>’i>l menekankan pada aspek 'aqi>dah dan shari>‘ah. Pendidikan yang dilakukan Ya’qu>b terhadap Yu>suf menekankan pada aspek 'aqi>dah dan akhla>q, dan pendidikan yang dilakukan Maryam kepada I>sa pada aspek 'aqi>dah, shari>’ah dan akhla>q. Demikian pula Pendidikan yang dilakukan Luqma>n terhadap anaknya meliputi ketiga aspek 'aqi>dah, shari>‘ah dan akhla>q.

Materi pendidikan Nu>h}} terhadap Kan’a>n berhubungan dengan pendidikan 'aqi>dah dan akhla>q (moral). Tujuan pendidikan 'aqi>dah untuk menanamkan keimanan dan membebaskan masyarakat dari sistem kepercayaan terhadap berhala. Pendidikan moral dilakukan Nu>h} dengan cara melarang Kan’a>n bergaul dengan orang kafir dan sekaligus meninggalkan praktek kekafiran bersama mereka. Nu>h} mengajak keluar dari tradisi kerajaan dan masyarakat pada umumnya yang tidak beragama.

Dibalik perintah penyembelihan Isma>‘i>l, terdapat materi pendidikan terkait yaitu aspek keimanan dan emosional. Pada aspek keimanan secara implisit berarti uji kepatuhan terhadap perintah Allah sekalipun nyawa menjadi taruhannya. Pada tahapan ini, Isma>‘i>l telah menunjukkan dedikasi yang tinggi dengan totalitas kesiapan emosioanalnya untuk melaksanakan prosesi kurban.

Pendidikan Ibra>hi>m terhadap Isma>‘i>l bertujuan untuk lebih memanusiakan manusia melalui jalan patuh kepada Allah. Dengan kata lain, pendidikan humanis ini berisi nilai-nilai keutamaan atau kebajikan yang dapat mengangkat kemuliaan manusia secara universal. Dalam kontek humanisasi inilah Ibra>hi>m mengajarkan kepada Isma>‘i>l bagaimana membangun harkat dan martabat manusia di sisi Allah. Tujuan ini direalisasikan dengan membangun citra manusia yang taat kepada nilai-nilai kemanusiaan yang diperintahkan oleh Allah. Nilai kemanusiaan ditegakkan di atas sifat-sifat luhur budaya manusia dengan membebaskan diri dari sifat-sifat kebinatangan.

Materi pendidikan Ya’qu>b terhadap Yu>suf dipahami dalam lingkup pendidikan 'aqi>dah dan akhla>q. Pada aspek 'aqi>dah Ya’qu>b mengenalkan konsep ketuhanan, ialah Allah yang telah memilih Yu>suf menjadi nabi dan mengajarakan ta’bir mimpi. Aspek pendidikan akhla>q, dilakukan untuk membangun hubungan baik Yu>suf dengan keluarganya (saudara-saudaranya) dengan merahasiakan nikmat yang dapat menyebabkan mereka hasud kepadanya.

Pendidikan 'aqi>dah bertujuan untuk meneguhkan hati Yu>suf dalam menghadapi permasalahan agar menjadikan Allah sebagai sumber kekuatan dan keimanan. Ya’qu>b meyakinkan Yu>suf bahwa Allah akan mengangkatnya menjadi nabi, sehingga tidak perlu khawatir dalam menghadapi kehidupan. Sedangkan pendidikan akhla>q dilakukan Ya’qu>b untuk membangun interaksi antar anggota keluarga yang kurang harmonis. Saudara-saudara Yu>suf merasa hasud terhadap perhatian lebih yang diberikan Ya’qu>b kepada Yu>suf. Permasalahan internal keluarga inilah yang ingin diatasi oleh Ya’qu>b.

Misi profetik menjadi karakteristik pendidikan yang dilakukan Maryam terhadap I>sa, di samping untuk solusi atas permasalahan yang menimpa ibunya, Misi perofetik (kerasulan) I>sa dikuatkan dengan diberi kitab yang memuat ajaran shari>‘ah (salat dan zakat) dan akhla>q (personal dan sosial) bagi manusia. Akhla>q personal ditujukan pada interaksi pribadi dengan keluarganya. Pada lingkup interaksi sosial, I>sa menebarkan nilai manfaat dan pembawa berkah bagi kehidupan manusia.


B. Metode pendidikan

Metode pendidikan di sini dipahami sebagai upaya sosialisasi pengetahuan pendidikan yang diperoleh para pendidik (Luqma>n, Nu>h}, Ibra>hi>m, Ya’qu>b dan Maryam) dari sumber pertama (Allah) kepada anak didik (manusia). Perolehan pengetahuan pendidikan diterima para pendidik tersebut melalui intuisi dan atau wahyu. Pada tahap berikutnya, ditemukan upaya sosialisasi pengetahuan pendidikan yang terformulasikan dalam metode pendidikan anak yang berbeda-beda dari berbagai kisah pendidikan yang dikemukakan pada buku ini. Metode-metode tersebut ialah dengan cara mauiz}ah ditemukan pada diri Luqma>n. Metode pendidikan dialogis dengan pendekatan rasionalis ditemukan pada Nu>h}. Pada Ibra>hi>m ditemukan metode dialogis-demokratis. Sedangkan metode dialogis dengan pendekatan psikologis ditemukan pada pribadi Ya’qu>b. Pendidikan Maryam atas I>sa menonjolkan metode dialogis-intuitif.

Metode mauiz}ah diterapkan Luqma>n kepada anaknya. Metode ini berfungsi untuk membangkitkan semangat spiritual untuk beriman kepada Allah. Dalam paparan data di muka ditemukan bahwa Luqma>n memiliki anak dan istri yang keduanya kafir. Oleh karenanya, Luqma>n menasehatinya sehingga mereka berfikir dan sadar akan kemungkarannya dan pada akhirnya keduanya beriman. Tidak ditemukan reaksi menentang yang dilakukan anak didik atas nasehat Luqma>n. Hal ini berarti pendidikan melalui mauiz}ah berjalan secara monolog (searah) dari pendidik kepada anak didik dan tidak memberi kesempatan pada anak didik untuk menginterfensi nasehat tersebut.

Metode pendidikan dengan dialogis diterapkan Nu>h} terhadap Kan’a>n dengan mengedepankan pendekatan rasional. Tatkala seruan beriman tidak dihiraukan, maka Nu>h} mendesak beriman karena factual-rasional akan terjadi banjir yang siap menenggelamkan semuanya. Reaksi Kan’a>n menunjukkan sikap keras kepala dan beralasan berdasarkan pada pertimbangan rasionalnya sendiri, yaitu akan menyelamatkan dirinya dengan naik di atas puncak gunung. Tawaran pendidikan Nu>h} secara dialogis dengan pendekatan rasional ini tidak berhasil, karena anak didik juga menggunakan nalar logisnya untuk menyelamatkan diri dari banjir dengan naik gunung. Sikap kritis anak didik tanpa bimbingan ilahi ini membentuk sikap keras kepala dan mengakibatkan gagalnya misi pendidikan.

Metode dialogis-demokratis terlihat pada model pendidikan Ibra>hi>m terhadap Isma>‘i>l. Dialog dipahami sebagai upaya untuk membuka jalur informasi antara pendidik dan anak didik. Dalam hal ini, Ibra>hi>m mendialogkan mimpinya tentang penyembelihan Isma>‘i>l . Dialog dilakukan untuk mengetahui persepsi psikologis Isma>‘i>l tentang permasalahan yang dihadapi. Disinilah Ibra>hi>m mengenalkan konsep ketauhidan, dengan menekankan bahwa perintah penyembelihan itu datang dari Allah.

Metode dialogis-psikologis dilakukan oleh Ya’qu>b terhadap Yu>suf. Ya’qu>b mendialogkan permasalahan mimpi Yu>suf, didahului dengan aksi Yu>suf yang secara proaktif menceritakannya. Reaksi Ya’qu>b dalam upaya problem solving seperti ini, menunjukkan bahwa pendidikan berusaha untuk membebaskan permasalahan psikologis anak didik.

Metode dialogis-intuitif disimpulkan dari pendidikan Maryam kepada I>sa. Metode ini menggambarkan dialog interaktif antara Maryam dan kaumnya yang pada akhirnya melibatkan I>sa. Kehadiran I>sa untuk memberi solusi atas kejumudan komunikasi Maryam dengan kaumnya terjadi karena intuisi dari Allah. Maryam menyadari tidak mungkin menyelesaikan permasalahan yang dituduhkan kaumnya secara ilmiah-alamiah. Maryam mengandalkan kekuatan transendental dari Allah dalam bentuk intuisi kepada I>sa.


C. Karakter pendidik dan etika anak didik

Sifat-sifat dasar (kompetensi) pendidik anak dalam Al-Qur’a>n meliputi bijak, sabar, demokratis, psikologis dan intuitif. Dalam perspektif pendidikan, karakteristik ini dipahami dari eksplorasi pemaknaan terhadap interaksi pendidikan anak yang dilakukan oleh Luqma>n, Nu>h}, Ibra>hi>m, Ya’qu>b dan Maryam.
Karakter bijak (h}ikmah) ditemukan dalam model interaksi pendidikan Luqma>n terhadap anaknya. Luqma>n menerapkan pendidikan anak akibat kompetensi h}ikmah yang diberikan Allah kepadanya. Dominasi sifat bijak ini melandasi interaksi pendidikan yang dilakukan kepada anaknya. Akibatnya, pendidikan anak yang dilakukan dengan skala prioritas dimulai dengan penguatan aspek 'aqi>dah. Penanaman keimanan menunjukkan konsep transendensi yang menjadi landasan awal pendidikan anak. Seleksi materi berikutnya pada penguatan aspek shari>‘ah dan akhla>q. Sikap bijak Luqma>n tertuju pada upaya pembentukan anak didik menjadi insa>n ka>mil dengan melalui tiga aspek materi tersebut.

Profil Nu>h} dalam perspektif pendidik menunjukkan karakter tanggung jawab dalam mendidik anaknya. Tanggung jawab ini ditunjukkan dalam mendidik anaknya agar memiliki kualitas iman dan meninggalkan pergaulan dengan orang-orang kafir. Meskipun tujuan pendidikan Nu>h} terhadap Kan’a>n tidak berhasil, namun wujud tanggung jawab Nu>h} sebagai orang tua dan pendidik tetap dilakuka. Realisasi tanggung jawab ini dalam bentuk pembelaan terhadap nasib Kan’a>n yang mati tenggelam bersama orang kafir. Pembelaan itu dilakukan dihadapan Allah, agar sebisa mungkin Nu>h} dapat memeberi syafa’at (pertolongan). Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan tidak bersifat transaksional, namun lebih mengarah pada tanggung jawab moral pendidik atas kesuksesan anak didiknya.

Pribadi Ibra>hi>m sebagai pendidik menunjukkan sikap demokratis dalam mendidik anaknya. Demokratisasi pendidikan diterapkan dengan sasaran memberikan pilihan anak didik dengan penuh pertimbangan dan tanggung jawab. Hal ini terjadi karena materi pendidikan Ibra>hi>m terhadap anaknya menyangkut masalah hak hidup pribadi (penyembelihan) yang melibatkan kesiapan emosional. Pendidikan dilakukan dengan memberikan hak asasi pada anak didik dalam menentukan sikapnya. Hal ini berarti pendidikan menghindari interaksi otoritatif-dogmatis karena menyangkut hak personal yang menuntut kesiapan emosioanal.

Pertimbangan psikologis anak didik menjadi inti pendidikan Ya’qu>b kepada anaknya. Artinya dalam proses pendidikan, Ya’qu>b berusaha untuk memahami permasalahan psikologi Yu>suf, kemudian berusaha mencarikan solusinya. Dalam hal ini, Yu>suf mengadukan kepada Ya’qu>b tentang mimpinya yang secara psikologis telah mengganggu kejiwaannya. Seandainya mimpi itu tidak mengganggunya, tentu tidak sampai dicurahkan kepada ayahnya. Ya’qu>b memahami permasalahan psikologis anaknya, sehingga memberikan pesan-pesan moral yang mengarah pada penanganan permasalahan yang dihadapi secara profesional dan kekeluargaan.

Pendidikan Maryam terhdap I>sa lebih menekankan pada karakteristik intuitif. Pendidikan intuitif terjadi karena pendidikan secara natural tidak mungkin dilakukan. Maryam menjadikan I>sa sebagai sarana mendidik umatnya. Maryam sendiri memposisikan I>sa mampu memperoleh pengetahuan secara transendental melalui intuisi. Tindakan Maryam ini didasari atas keyakinannya, bahwa I>sa akan mengemban misi profetik yang memiliki otoritas kepribadian berupa mu’jizat.

Pemaknaan secara implisit dari pendidikan anak dalam Al-Qur’a>n juga menunjukkan bahwa pelaku pendidikan anak didominasi oleh pihak ayah, kecuali pada kisah pendidikan Maryam terhadap I>sa. Hal ini berarti watak pendidikan dipengaruhi oleh jiwa patrilinial yang memiliki ketergantungan terhadap pihak laki-laki yang dalam hal ini ayah.

Sedangkan watak anak didik lebih mengikuti garis matrilinial. Artinya genetika sang ibu mendominasi perkembangan kejiwaan dan spiritual anak didik. Ada korelasi antara kegagalan pendidikan anak dengan genetika ibu. Kegagalan Nu>h} mendidik Kan’a>n karena Kan’a>n lebih memilih pola pergaulan dengan orang kafir, karena ibu Kan’a>n sendiri kafir. Anak meliki kecenderungan mengikuti garis keimanan kepada ibunya.

Pada kisah pendidikan Luqma>n, keimanan anaknya linier dengan posisi ibunya yang juga beriman, meskipun pada mulanya kafir. Pada kisah Isma>‘i>l dan I>sa, jelas sekali mereka keturunan dari ibu yang beriman. Fakta ini mengindikasikan bahwa garis keimanan anak dipengaruhi oleh garis keimanan ibu. Demikian pula dominasi tanggung jawab pendidikan anak tidak terlepas dari otorisasi ayah sebagai kepala keluarga.

Interaksi pendidikan dalam Al-Qur’a>n menggambarkan aksi dan reaksi antara pendidik dan anak didik. Dalam perspektif reaksi anak didik, ditemukan pola etis dan non etis. Pola etis dipahami dengan etika anak didik yang berimplikasi pada pencapaian tujuan pendidikan. Sedangkan pola non etis memiliki relevansi terhadap kegagalan misi pendidikan.

Dimensi etis ini ditunjukkan oleh sifat anak Luqma>n yang patuh dan sifat Isma>‘i>l yang responsif. Demikian pula sifat Yu>suf dan I>sa yang aktif dalam proses interaksi pendidikan. Adapun Kan’a>n lebih menunjukkan pada sifat non etis dalam arti tidak patuh terhadap sang pendidik.

Pendidikan Luqma>n dilakukan dalam bentuk perintah dan larangan. Etika anak didik tidak menunjukkan reaksi interaktif maupun dialogis. Juga tidak menunjukkan sikap menentang terhadap pendidik. Hal ini berarti pendidik berhasil mengkondisikan etika patuh terhadap anak didik. Demikian juga berarti anak didik telah menerapkan etika pendidikan.

Sikap responsif ditunjukkan oleh pribadi Isma>‘i>l ketika diminta pendapatnya oleh Ibra>hi>m tentang mimpinya. Responsibilitas menunjukkan kesiapan anak didik untuk mendialogkan materi yang dilontarkan oleh pendidik. Hal ini tidak akan terjadi jika anak didik tidak memahami permasalahan yang dilontarkan pendidik. Sikap tanggap terhadap permasalahan pendidikan seperti ini dilakukan Isma>‘i>l dengan penuh tanggung jawab. Ibra>hi>m telah memberikan ruang kebebasan kepada Isma>‘i>l untuk menentukan pilihannya, akan tetapi Isma>‘i>l merespon permintaan Ibra>hi>m secara positif.

Pribadi Yu>suf ketika menceritakan mimpinya kepada Ya’qu>b dipahami sebagai perolehan materi pendidikan dari anak didik. Ya’qu>b memposisikan diri sebagai pendidik yang berusaha untuk memecahkan permasalahan yang dihadapi anak didik. Problem solving menjadikan pendidik harus memahami kondisi kejiwaan anak didik. Dalam hal ini pendidikan terjadi untuk mencari solusi atas permasalahan anak didik. Sikap aktif Yu>suf untuk mengutarakan mimpinya kepada Ya’qu>b menunjukkan perolehan pendidikan dari anak didik. Dengan kata lain, pendidikan menjadi bagian penting untuk menyelesaikan permasalahan anak didik, sekaligus mempersiapkan masa depannya.

Perolehan pendidikan pada kisah I>sa dengan Maryam mengindikasikan pada pendidikan secara intuisi. Etika lsa yang tiba-tiba aktif melakukan interaksi pendidikan dengan kaumnya terjadi karena ada kekuatan transendental yang menggerakkannya. Indikasi ini memberikan makna pada perolehan pendidikan secara intuitif, yakni diperoleh dari wahyu.

Ketidakpatuhan Kan’a>n terhadap pendidikan Nu>h} ditunjukkan dengan sikap oposisi terhadap perintahnya. Ketika datang banjir, Kan’a>n diperintah untuk naik perahu dan meninggalkan pergaulan dengan komunitas kafir, seraya menolak ajakan itu. Kan’a>n dengan pertimbangan rasionalnya merasa dapat menyelamatkan diri dengan naik ke atas gunung. Sikap oposisi Kan’a>n ini juga dipengaruhi oleh temperament Kan’a>n yang mengikuti jalur genetika ibunya yang tidak beriman.

0 komentar:

إرسال تعليق

Comment here

My Famly

About This Blog

My Activity

Blog Archive

  © Blogger template The Professional Template II by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP