Tafsir Tematik: Interaksi Ya’qub as dan Yusuf as

الثلاثاء، 18 ربيع الآخر، 1430 هـ

Tafsir Tematik: Interaksi Ya’qub as dan Yusuf as
oleh : Miftahul Huda



Nama Ya’qu>b terulang 16 kali dalam al-Qur’a>n. Kisah nabi Ya’qu>b dalam ayat-ayat al-Qur’a>n dapat diklasifikasikan sebagai berikut; keutamaan nabi Ya’qu>b as., kenabian Ya’qu>b as. dakwah nabi Ya’qu>b as., gelar Israel untuk Ya’qu>b as. menolak sebagian jenis makanan, cintanya pada nabi Yu>suf as., sifat-sifat nabi Ya’qu>b as. dan keturunan nabi Ya’qu>b as.
Sedangkan nama Yu>suf tertera 27 kali sekaligus menjadi nama surat ke 12. Kisah-kisah Yu>suf ini pada poin berikut; mimpi nabi Yu>suf as. nabi Yu>suf as. dan saudara-saudaranya, dibuang ke dalam sumur, Allah menyelamatkan Yu>suf, Yu>suf dijual dengan harga murah, perjalanannya ke Mesir, fitnah istri pembesar Mesir (Zulaykha), masuk penjara, kenabian Yu>suf as., menafsirkan mimpi, dan dakwah nabi Yu>suf as.
Interaksi Yu>suf as. dengan raja mesir: mimpi raja Mesir, posisi nabi Yu>suf as. di sisi raja Mesir, Yu>suf as. terbukti tidak bersalah, dan Yu>suf mengurus baitul mal. Interaksi nabi Yu>suf as. dengan adiknya (Bunyamin); Tuntutan menghadirkan adiknya, membujuk nabi Ya’qu>b as. agar rela mengutus Bunyamin, siasat nabi Yu>suf as., pertemuan anak-anak Israel (Ya’qu>b), Yu>suf as. manusia termulia, dan sifat nabi Yu>suf as.
1. Pendidikan Nabi Ya’qu>b as. terhadap NabiYu>suf as.
Tema ini mentelaah interaksi komunikatif nabi Ya’qu>b dengan Yu>suf as. Interaksi yang dimaksudkan ialah komunikasi atas mimpi Yu>suf melihat bulan, bintang dan matahari bersujud kepadanya. Bermula dari peristiwa itu Ya’qu>b memberikan sikap dan perhatian khusus terhadap Yu>suf.
2. Ayat-ayat yang berhubungan dengan pendidikan nabi Ya’qu>b as. terhadap Nabi Yu>suf as.
Menurut Qutb kisah Yu>suf dalam surat Yu>suf merupakan model kisah ideal dalam al-Qur’a>n yang melibatkan unsur seni, emosi, akidah, pendidikan dan juga perjuangan. Spesifikasi tersebut di antaranya terlihat pada alur cerita, bermula dari mimpi Yu>suf, perjuangannya menghadapi berbagai cobaan (tipu daya saudara-saudaranya, dimasukkan dalam sumur, dijual, dipenjara, dirayu istri raja yang bernama Zulaikha) dan diakhiri dengan pena’wilan mimpi yang membawa pada akhir kisah. Dari perspektif pendidikan dapat dicermati aspek interaksi dialogis antara Ya’qu>b dan Yu>suf pada ayat 4 – 5 dan 99 – 100.
3. Tafsir ayat
4. (ingatlah), ketika Yu>suf Berkata kepada ayahnya: "Wahai ayahku, Sesungguhnya Aku bermimpi melihat sebelas bintang, matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku."

Penafsiran:
a) “Ayahku” maksudnya bapak Yu>suf a.s. ialah Ya’qu>b putera Ishak putera Ibra>hi>m a.s.
b) “Bermimpi” menurut hadis nabi Muhammad saw merupakan bagian dari 40 tanda kenabian (berdasar riwayat Ibn ‘Abba>s). Sabda Nabi: tidak ada setelahku orang yang memberi kabar gembira (mubashira>t) kecuali mimpi baik yang benar pada diri seorang saleh atau diperlihatkan padanya mimpi tersebut, maka yang paling benar mimpinya itulah yang paling benar perkataannya. Ketika bermimpi Yu>suf berusia 12 tahun. Lalu bagaimana validitas mimpi tersebut, padahal masih usia anak-anak? Pada dasarnya mimpi adalah pengetahuan tentang hakekat (idra>k haqi>qah) terhadap apa yang pernah dilihat waktu terjaga, maka tidak ada alasan untuk menolaknya.
c) “Sebelas bintang” maksudnya al-Ha}rthan, al-T}a>riq, al-Dhayya>l, Qa>bis, Mas}bah}, D}aru>h}, D}u al-Kanafa>t, D}u al-Qar’, Fali>q, Wathaq, dan ‘Amu>dain. Sedangkan menurut riwayat Ibn ‘Abba>s “Sebelas bintang” berarti saudaranya, “matahari” berarti ibunya, dan “ bintang” berarti ayahnya. Menurut Qata>dah “ matahari” berarti bibinya, karena ibunya telah meninggal. Semua keluarganya (ayah, ibu, saudara-saudaranya) bersujud kepada Yu>suf, termasuk bibinya.
d) “Sujud kepadaku” maksudnya sebelas bintang itu taat dengan bersujud kepada Yu>suf sebagaimana dilakukan oleh orang yang berakal.
5. Ayahnya berkata: "Hai anakku, janganlah kamu ceritakan mimpimu itu kepada saudara-saudaramu, Maka mereka membuat makar (untuk membinasakan) mu. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia."

a) “Ayahnya berkata: "Hai anakku, janganlah kamu ceritakan mimpimu itu kepada saudara-saudaramu,” berisi larangan menceritakan mimpi pada orang yang tidak baik dan tidak memahami ta’wilnya. Hal ini berdasar hadis nabi: mimpi merupakan bagian dari 40 tanda kenabian, jika seseorang memimpikan orang lain naik pesawat terbang pada saat itu belum terjadi dan pada suatu saat benar terjadi, maka janganlah hal itu diceritakan kecuali pada orang yang pandai (‘a>qil), atau orang yang disenangi (muh}ibb) atau orang yang menasehati (na>sih}).
Ya’qu>b melarang Yu>suf menceritakan mimpinya kepada saudaranya karena Ya’qu>b yakin mereka akan berbuat makar, dan perbuatan Ya’qu>b ini tidak termasuk ghi>bah. Menurut penjelasana Darwazah, alasan Ya’qu>b melarang Yu>suf menceritakan mimpinya pada saudaranya karena posisi Yu>suf sangat spesial di hadapan Ya’qu>b. Hal inilah yang menyebabkan saudara-saudara Yu>suf bertambah iri. Ayat tersebut berisi kewajiban menyembunyikan mimpi, khususnya yang dapat mendorong orang lain iri dan membenci.
Menurut al-Qurt}u>bi> bagaimana permasalahan hukum mimpi Yu>suf di saat masih kecil ini? Bagaimana hal itu memiliki kekuatan hukum, sehingga Ya’qu>b melarang untuk menceritakan kepada saudaranya? Jawabnya; bahwa mimpi adalah kekuatan menemukan hakekat (idra>k al-Haqi>qah) bI>sa terjadi pada anak kecil. Kekuatan hukum mimpi itu sendiri sebagaimana kekuatan hukum orang yang melihat dengan mata secara hakiki. Yu>suf pada saat mimpi itu berusia 12 tahun.
b) “Maka mereka membuat makar (untuk membinasakan) mu. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia”. Ayat ini menjelaskan perbuatan makar saudara-saudara Yu>suf yang disebabkan oleh rasa iri hati.
6. Dan Demikianlah Tuhanmu, memilih kamu (untuk menjadi Nabi) dan diajarkan-Nya kepadamu sebahagian dari ta'bir mimpi-mimpi dan disempurnakan-Nya nikmat-Nya kepadamu dan kepada keluarga Ya’qu>b, sebagaimana dia Telah menyempurnakan nikmat-Nya kepada dua orang bapakmu sebelum itu, (yaitu) Ibra>hi>m dan Ishak. Sesungguhnya Tuhanmu Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.

a) Dan Demikianlah Tuhanmu, memilih kamu (untuk menjadi Nabi), yakni dan demikianlah Allah memilihmu dengan memuliakanmu melalui ta’bir mimpi, melalui sujud (menurut pendapat Muqa>til), dan melalui kenabian (pendapat H}asan).
b) “dan diajarkan-Nya kepadamu sebahagian dari ta'bir mimpi-mimpi” maksudnya kejadian-kejadian yang akan terjadi pada umat, ajaran dalam kitab-kitab, dan bukti-bukti keesaan Allah, semua ini sebagai tanda kenabian. “dan disempurnakan-Nya nikmat-Nya kepadamu” maksudnya kenabian. Juga bermakna nikmat ketika dikirimnya saudaramu (Benyamin) kepadamu, dan diselamatkan kamu dari tipu daya saudara-saudaramu.
Maka tatkala mereka masuk ke (tempat) Yusuf: Yusuf merangkul ibu bapanya dan dia berkata: "Masuklah kamu ke negeri Mesir, insya Allah dalam keadaan aman".100. Dan ia menaikkan kedua ibu-bapanya ke atas singgasana.dan mereka (semuanya) merebahkan diri seraya sujud kepada Yusuf.dan Berkata Yusuf: "Wahai ayahku inilah ta'bir mimpiku yang dahulu itu; Sesungguhnya Tuhanku Telah menjadikannya suatu kenyataan. dan Sesungguhnya Tuhanku Telah berbuat baik kepadaku, ketika dia membebaskan Aku dari rumah penjara dan ketika membawa kamu dari dusun padang pasir, setelah syaitan merusakkan (hubungan) antaraku dan saudara-saudaraku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Lembut terhadap apa yang dia kehendaki. Sesungguhnya dialah yang Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.


4. Sabab nuzul ayat
Surat Yu>suf termasuk makkiyyah diturunkan setelah surat Hu>d -yang menurut Sayyid Qutb- pada saat Nabi Muhammad dalam masa-masa kesusahan (‘a>m al-H}uzn) karena ditinggal dua penopang perjuangannya, yaitu Abu T}a>lib dan Khadi>jah. Oleh karenanya kisah Yu>suf itu untuk menghibur Nabi dan umat Islam pada saat-saat berat seperti itu. Semua ayatnya turun di Makah kecuali ayat 1, 2, 3 dan 7 diturunkan di Madinah.
Menurut al-Tabari>, surat Yu>suf diturunkan pada nabi untuk memberi pelajaran kepada nabi tentang prilaku iri saudara-saudaranya, kemudian Allah memulyakannya, dan sekaligus untuk menghibur nabi Muhammad dari prilaku kaum Quraisy dan keluarganya yang musyrik. Pada riwayat yang didasarkan pada Ibn H}umaid, surat Yu>suf juga untuk menghibur nabi ketika menghadapi prilaku sama seperti yang dialami Yu>suf, sehingga nabi dapat mencontoh sikapnya.
5. Kandungan ayat
Kandungan ayat 4-5 dan 99 – 100 surat Yu>suf tersebut secara garis besar sebagai berikut:
a.) Mimpi Yu>suf melihat 11bintang, bulan dan matahari bersujud kepadanya.
b.) Yu>suf menceritakan mimpinya kepada Ya’qu>b.
c.) Larangan Ya’qu>b kepada Yu>suf agar tidak menceritakan mimpinya kepada saudara-saudaranya.
d.) Pertemuan Yu>suf dengan anggota keluarganya di istanannya.
e.) Ta’wil atas mimpi Yu>suf menjadi kenyataan.
6. Analisa
a) Tujuan pendidikan
Pendidikan akidah bertujuan untuk meneguhkan hati Yu>suf dalam menghadapi permasalahan agar menjadikan Allah sebagai sumber kekuatan. Pada diri Yu>suf ditanamkan keyakinan bahwa Allah akan menjadikannya sebagai nabi yang selalu melindungi dari segala bahaya. Allah juga mengajarkan ta’wil mimpi kepada Yu>suf yang pada akhirnya mengokohkan posisinya pada strata sosial tertinggi, yaitu dengan menjadi raja Mesir.
Pendidikan akhlak dilakukan Ya’qu>b untuk mengatasi permasalahan internal keluarganya. Interaksi antar anggota keluarga tidak harmonis, terbukti dengan adanya kubu yang mendukung terhadap sikap Ya’qu>b dan yang menentangnya. Yu>suf termasuk dalam pendukung sikap Ya’qu>b, berhadapan dengan saudara-saudaranya yang melawan Ya’qu>b. Konflik internal keluarga inilah yang ingin di atasi oleh Ya’qu>b.
b) Materi pendidikan
Permasalahan mimpi Yu>suf merupakan tema besar yang mendominasi alur cerita Yu>suf -bahkan sampai akhir hayatnya- diakhiri dengan kebenaran ta’wil mimpinya. Secara implisit materi pendidikan Ya’qu>b terhadap Yu>suf dapat dipahami dalam lingkup berikut, pertama: Pendidikan akidah, dengan mengenalkan konsep ketuhanan ialah Allah yang telah memilih Yu>suf menjadi nabi dan mengajarkan ta’bir mimpi. Kedua: pendidikan akhlak, dilakukan dengan mewaspadai perbuatan makar saudara-saudaranya dan merahasiakan nikmat dari orang yang menyebabkan hasud kepadanya.
c) Sikap Ya’qu>b
Ketika Yu>suf menceritakan mimpinya kepada Ya’qu>b, maka Ya’qu>b melarangnya untuk menceritakan kepada saudara-saudaranya. Larangan Ya’qu>b ini disebabkan beberapa alasan. Pertama: Yu>suf sangat spesial di hadapannya dibandingkan saudara-saudara lainnya. Kedua: saudara Yu>suf tidak mampu untuk memahami ta’wil mimpinya. Ketiga: saudara-saudara Yu>suf memiliki i’tikad tidak baik terhadap Yu>suf, sehingga khawatir akan menambah rasa benci untuk berbuat makar kepadanya. Keempat: mendidik Yu>suf untuk bersukur terhadap nikmat yang diterima, dengan menyembunyikan mimpinya agar tidak mengundang hasud saudara-saudaranya.
Ya’qu>b memahami bahwa rasa kasih sayangnya terhadap Yu>suf telah menyebabkan saudara lainnya membencinya. Oleh karena itu Ya’qu>b membatasi interaksi Yu>suf dengan saudara-saudaranya. Ya’qu>b menghendaki agar Yu>suf tumbuh dewasa dengan baik dengan meminimalisir pengaruh negatif lingkungan pergaulan yang mengancam keselamatannya.
Permasalahan interaksi sosial antara Yu>suf dan saudara-saudaranya dalam keluarga Ya’qu>b menggambarkan permasalahan pendidikan akhlak rumah tangga. Sikap sabar dan kebapakan Ya’qu>b pada akhirnya mampu menjadi solusi atas konflik keluarganya. Sikap sabar dilandasi dengan keimanan membentengi dari perbuatan makar anak-anaknya. Dengan sikap kebapakannya, Ya’qu>b mampu membaca karakteristik kejiwaan anak-anaknya yang baik dan yang jahat dan sekaligus dapat berinteraksi secara proporsional.
d) Sikap Yu>suf
Peristiwa mimpi Yu>suf terjadi pada usia 12 tahun. Meskipun scara psikologis mimpi itu tidak mengganggu dirinya, namun jiwa kanak-kanak itu tidak menghalangi untuk menuangkan permasalahan pribadinya terhadap Ya’qu>b. Hal ini dilakukan Yu>suf karena beberapa alasan. Pertama: Yu>suf ingin memperoleh penjelasan ta’wil mimpinya. Kedua: Yu>suf memposisikan Ya’qu>b sebagai sarana belajar. Ketiga: Yu>suf ingin memahami posisi sosialnya di lingkungan keluarganya.
Tampaknya Yu>suf ingin menjadikan pengalaman individualnya sebagai sumber belajar. Sikap terbuka Yu>suf untuk memperoleh jawaban atas permasalahan pribadinya ditemukan pada pribadi Ya’qu>b. Dari sinilah Ya’qu>b memberikan penjelasan tentang permasalahan yang dihadapi Yu>suf dan sekaligus memintanya untuk merahasiakan dari saudara-saudaranya. Yu>sufpun mematuhi permintaan Ya’qu>b.
e) Metode pendidikan
Bagaimana metode Ya’qu>b dalam mendidik Yu>su>f? Ya’qu>b menerapkan prinsip problem solving, ialah mengatasi permasalahan internal keluarganya dengan komunikasi intensif. Pendidikan diarahkan pada upaya memberi solusi atas permasalahan hidup, seperti kasus mimpi yang dihadapi Yu>suf. Dalam hal ini, yakub melarang Yu>suf mencertikan mimpinya kepada saudara-saudaranya. Tujuannya ialah agar saudara-audaranya tidak hasud sehingga mencelakainya.
Tampaknya Ya’qu>b sangat perhatian kepada Yu>suf melebihi saudara-saudara lainya. Hal ini sebagaimana diraskan oleh saudara-saudara Yu>suf, sehingga mereka sepakat untuk mencelakai Yu>suf. Mereka menyusun siasat yang pada akhirnya Yu>sufpun terperdaya dengan dimasukkan ke dalam sumur, namun selamat dan nantinya malah menjadi raja. Jauh hari sebelum kejadian itu, Ya’qu>b mendidik Yu>suf agar memiliki keyakinan perihal ta’wil mimpinya. Cara itu dilakukan dengan menanamkan konsep keimanan, bahwa Allah telah melebihkan Yu>suf atas saudara lainya dengan memberi pelajaran melalui mimpi.
Berdasarkan uraian di atas, maka tegaslah bahwa pendidikan anak pada kasus Yu>suf lebih bersifat antisipasi terhadap permasalahan psikis dan disharmonisasi di keluarga Ya’qu>b. Problem pendidikan berawal dari peristiwa Yu>suf pada usia 12 tahun menceritakan mimpinya kepada Ya’qu>b. Yu>suf sepertinya sangat terganggu dengan makna dan validitas mimpinya. Meskipun menurut satu pendapat meyakini bahwa pada dasarnya mimpi adalah pengetahuan tentang hakekat (idra>k haqi>qah) terhadap apa yang pernah dilihat waktu terjaga, sehingga tidak ada alasan untuk tidak menerimanya.
Pengetahuan Yu>suf melalui intuisi (mimpi) seperti ini memiliki kesamaan pola dengan mimpi Ibra>hi>m. Mimpi tersebut tidak segera diyakini datang dari sang ilahi yang mana kebenarannya atau ta’wilnya masih “misteri” sehingga perlu didialogkan dengan orang lain. Dalam hal ini Yu>suf perlu berkeluh kesah terhadap Ya’qu>b atas mimpinya (demikian pula Ibra>hi>m terhadap Isma’i>l). Atas kasus psikis Yu>suf ini, maka pendikan Ya’qu>b mengarah pada problem solving.

0 komentar:

إرسال تعليق

Comment here

My Famly

About This Blog

My Activity

Blog Archive

  © Blogger template The Professional Template II by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP